Chapter 11
Kelopak mata yang tertutup dengan erat perlahan terbuka, menampakkan sepasang iris kelam yang tersorot tajam. Binar mata yang sempat melemah kini dia dapatkan kembali setelah kondisi tubuhnya berujung baik.
Chanyeol mengedarkan pandang menatap sisi kosong yang tadi malam terisi. Hatinya sedikit kecewa saat tak menemukan kehadiran Baekhyun dan hanya selembar kertas yang tergeletak pasrah di sisi kosong menemani dirinya.
'Maaf, Chanyeol. Aku harus pergi saat fajar menyingsing. Kesadaranku cukup menyentakku untuk bergegas pergi dari paviliunmu sebelum menemukan salah seorang Goguryeo tak sadarkan diri sebab kehadiranku di tempat tidurmu.'
Chanyeol tertawa kecil, kepalanya menggeleng pelan begitu usai membaca untaian kalimat konyol dalam guratan hangul itu. "Dasar." Chanyeol bergumam.
Matanya terpejam lantas tangan kanan terulur menekan kening. Suhu tubuhnya benar-benar telah kembali normal menuai lekuk tulus di sepanjang garis bibirnya.
"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu," ujar Chanyeol sebelum suara pintu geser mengalihkan pandangannya.
Jaejoong melangkah tergesa menghampiri Chanyeol yang menatap lembut kehadirannya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski usia telah menggilas rona mudanya bergerak bersimpuh di sisi Chanyeol.
Menatap lekat wajah putranya. "Nak ...- " Jaejoong terkesima, tangannya terhempas mengusap wajah Chanyeol. "Oh Dewa, sungguh ini sebuah keajaiban!" seru Jaejoong semangat nyaris terpekik sebab terlampau bahagia atas kondisi Chanyeol yang membaik.
Chanyeol tersenyum, ia meraih tangan ibunya.
"Ya, Ibunda. Aku berhasil. Akhirnya aku dapat mewujudkan janjiku padamu."
Jaejoong kemudian merengkuh tubuh Chanyeol. Terisak bahagia di dada sang putra. Lantunan doa yang senantiasa menemani malam gelisahnya tak terkira akan terjawab secepat ini.
Detak jantung yang bertalu perih saat kaki melangkah ke paviliun Chanyeol kini tergantikan dengan debaran lega yang menyesakkan dada hingga menuai tangis haru.
Pintu paviliun Chanyeol kembali bergeser, seorang Tabib bersama tiga dayang pembantunya berdiam diri di ambang pintu.
Jaejoong menjauhkan diri, seulas lekuk indah senantiasa terukir di wajahnya. Salah satu tangannya mengusap sisi wajah Chanyeol sambil mempersilakan Tabib Lee beserta dayangnya untuk beringsut mendekat.
"Cepat kemari Tabib Lee, lihat tidak terkira sebuah keajaiban berkunjung di Kerajaan kita," seru Jaejoong sambil tersenyum bahagia.
Tabib Lee merunduk memberi hormat, ia meminta izin untuk memeriksa keadaan Chanyeol. Tidak berselang lama, raut terkejut menghinggapi Tabib Lee beserta tiga dayang tersebut. Mereka sekilas saling pandang, kemudian menunduk menyerukan kelegaan hati.
"Oh Dewa, sungguh ini sebuah keajaiban, Mama. Saya sungguh kacau dalam perjalanan kemari sebab belum berhasil mendapatkan ramuan tersebut. Akan tetapi, rupanya Dewa sangat mencintai, Wang seja."
"Aku pun tidak mengira akan seperti ini, Tabib Lee. Ya Dewa terima kasih. Engkau telah mengabulkan doaku secepat ini."
Jaejoong menangkup wajah, sungguh ia sangat bahagia pagi ini. Nyaris terlonjak senang bila tidak mengingat usia dan identitas yang menggelayutinya.
Chanyeol yang sejak tadi hanya terdiam menatap romansa bahagia itu mendadak mengeryitkan kening saat perutnya terasa teraduk, sesuatu seolah ingin menyentak keluar. Tubuhnya sontak beranjak bangun sambil membungkam bibir. Jaejoong yang melihat gerak putranya yang terkesan menahan rasa sakit mendadak kembali panik.
"Chanyeol! Ada apa, nak? Tabib Lee!"
Tabib Lee tersentak setelah mendapat teriakan Ratunya. Dia bergegas kembali berderap ke kamar Chanyeol kala hendak keluar mengambil ramuan pemulih kesehatan. Tabib Lee kemudian menganggukkan kepala seolah mengerti dengan kondisi Chanyeol.
Bergegas ia menitahkan ketiga dayangnya untuk mempersiapkan sebuah cawan setelahnya memberikan cawan tersebut pada Chanyeol. Chanyeol meraih cawan tersebut terlampau kasar saat desakan serasa dipangkal tenggorokan.
Segera ia memuntahkan isinya, Jaejoong terpekik keras. Tangannya membungkam bibir saat linang darah segar yang begitu kental dan berwarna kehitaman meluncur bebas dari celah bibir Chanyeol.
"Chanyeol ..."
Jaejoong bergetar takut, ia menatap Tabib Lee meminta penjelasan. "Chanyeol, baik-baik saja bukan? Mengapa dia kembali berdarah?! Tabib Lee!" racau Jaejoong cemas.
Tabib Lee menggelengkan kepala, seulas senyum lembut terulas di wajah bayanya. "Mama, tenanglah. Wang seja tengah memuntahkan racun tersebut. Kini racun itu benar-benar menghilang dari tubuh Wang seja. Beberapa hari lagi, saya pastikan kondisi Wang seja akan kembali seperti semula."
Jaejoong mengerling Chanyeol, pria tampan itu tergolek lemas usai memuntahkan darah yang mendesak kerongkongan. Sebuah cawan porselin yang tergenggam tangan terulur ke arah dayang yang dengan sigap meraih cawan tersebut dari tangan Chanyeol. Chanyeol menarik napas berat, tubuhnya terasa ringan serta pandangannya kini terlihat lebih jelas.
Meski pening masih terasa membentur kepala sebab rasa mualnya tadi, namun sekarang jauh lebih baik.
Tabib Lee mengulurkan cangkir minum yang telah terisi cairan ramuan kehijuan pada Chanyeol. Ramuan pemulih kesehatan. Usai meminum ramuannya, Chanyeol kembali merebahkan tubuh pada futon.
Jaejoong mengusap puncak kepala Chanyeol sambil menatap Tabib Lee.
"Bagaimana, Tabib?"
"Wang sejanim hanya perlu memperbanyak waktu istirahatnya demi memulihkan kondisinya, Mama. Mungkin membutuhkan waktu kurang lebih 4 hari," jelas Tabib Lee yang menuai desahan lega dari Jaejoong.
"Syukurlah. Baik, Tabib Lee kau boleh pergi."
"Ye, Mama. Saya mohon undur diri."
Usai kepergian Tabib Lee serta tiga dayang pengobatan itu, Jaejoong mengalihkan pandang ke arah Chanyeol setelah dirinya tanpa sengaja melihat sebuah cawan kayu tergeletak tidak berguna di belakang tubuhnya.
Jaejoong merundukkan kepala, menatap lekat wajah rupawan putranya. "Ibunda dengar tadi malam ada seorang penyusup memasuki pavilunmu?" tanya Jaejoong mengintimidasi sambil menaikkan alis.
Chanyeol tertawa pelan, kepalanya menggeleng samar.
"Ibunda .." keluh Chanyeol merasa heran dengan tingkah aneh ibunya.
"Apakah penyusup itu yang memberikan penawar racun ini, Wang sejanim."
Chanyeol menatap Jaejoong. Hela panjang terlontar pelan dari celah bibirnya. "Apa Ibunda akan terkejut bila aku mengatakan 'iya'?"
Jaejoong terdiam, sorot matanya meneliti perubahan rona wajah Chanyeol yang terkesan lebih hidup. Setelahnya lekuk hangat terukir di sudut bibir wanita baya itu. "Rupanya putra Ibunda sudah bertemu dengan belahan hatinya," tebak Jaejoong sambil meletakkan cawan kayu itu di samping tubuhnya.
"Belahan hati?" tanya Chanyeol berpura bingung.
Jaejoong menganggukkan kepala, seresah dedaunan kering yang menempel di dinding cawan membaluti jemarinya. "Kau tahu betapa sulitnya mencari ramuan ini, sayang. Bila kalian tidak terlibat suatu hubungan serius, tidak mungkin penyusup itu rela menyelinap masuk ke dalam Istana hanya demi memberikan ramuan ini pada orang asing dan mustahil dia rela membahayakan keselamatan dirinya demi mendapatkannya."
Penjelasan Jaejoong sontak membungkam bibir Chanyeol, iris matanya beralih mengerling langit-langit paviliunnya. Pertemuannya dengan Baekhyun semalam tiba-tiba berputar di otak.
Masih terngiang dalam ingatan bila Baekhyun bergegas menyembunyikan sepasang tangannya saat dia tanpa sengaja menatap koyakan samar di sepasang telapak tangan halus kekasihnya.
"Siapa dia?"
Chanyeol tersentak dari lamunannya. Kening berkerut mendengar lontaran pertanyaan tersebut. "Siapa?" ulang Chanyeol memastikan.
Jaejoong menumpu dagu. "Siapa penyusup itu, Chanyeol Wangnim?"
Chanyeol terdiam untuk sementara waktu, pikirannya melayang. Kilasan tentang Baekhyun silih berganti menghantui pandangannya.
"Seperti yang Ibunda katakan. Belahan jiwa."
Iris tajam Chanyeol berbayang. Jaejoong terkesima, seumur hidunya dia belum pernah mendapati tatapan sejuk itu dari Chanyeol sekalipun saat bertatapan dengannya.
"Kau mencintainya?"
Chanyeol tersenyum, kelopak matanya terpejam sesaat. "Sangat-..." Sorot mata yang berkilat lembut penuh kesungguhan sekejap membubgkam Jaejoong. "-... sangat Ibunda."
"Aku sangat mencintainya."
Jaejoong termangu, nada lembut yang terembus berat telah mampu mendefinisikan betapa besar perasaan putranya untuk orang asing tersebut. Tanpa sadar penglihatan Jaejoong berbayang, saat mengetahui bila sang putra telah menemukan belahan jiwanya; membuat jantungnya berdetak keras sebab gemuruh bahagia yang membumbung tinggi.
"Sepertinya dia sosok yang begitu sempurna hingga mampu membuat Putra mahkota seperti ini."
Jaejoong tertawa kecil, tangannya bergerak mengusap puncak kepala Chanyeol.
"Ibunda ingin bertemu dengannya," bisiknya yang kemudian menuai binar sendu dari sorot tajam Chanyeol.
"Ibunda pasti akan bertemu dengannya."
Chanyeol menelan ludah, terkesan berat berirngan dengan lesatan gemuruh sesak di dada. "Bila kami mampu melewati garis takdir yang terukir kejam di antara tautan jemari kami."
Jaejoong terdiam untaian kalimat itu berbisik lirih, terasa berat dan mengoyak hati. Tidak mengerti dengan hubungan yang terjalin, namun melalui untaian tersebut Jaejoong dapat menyimpulkan.
Asmara mereka tidaklah terjalin dengan mudah.
*Rose*
Kangin menghentikan sejenak kegiatannya mengukir tinta di selembar kain keemasan itu. Iris matanya menatap pengawalnya dalam diam. Pengawal itu menunduk rendah.
"Wang geonnim, kami mendapat kabar bila Kerajaan Baekje tengah bertandang kemari."
Kangin mengerutkan kening sekilas kemudian menganggukkan kepala.
"Baik pergilah serta beritahu Kasim Hye untuk menemuiku sekarang."
"Ye, Wang geonnim. Saya mohon undur diri."
Pengawal itu melangkah mundur lalu melenyapkan diri di balik pintu ruangannya. Tidak berselang lama, seorang pria paruh baya berbalutkan dangui berwarna giok hijau tua menampakkan diri usai menggeser pintu.
Kasim Hye menghampiri meja Kangin, tubuhnya sedikit merendah memberi salam hormat. "Anda memanggil saya, Wang geon?" tanya Kasim Hye sopan.
Kangin menumpu dagu, memaku wajah Kasim Hye. "Ye, Kasim Hye. Apa kau mendapat surat pemberitahuan dari Kerajaan Baekje tentang kunjungan mereka?"
Kasim Hye terdiam, sekilas raut wajahnya terlihat berpikir sebelum bergerak menggelengkan kepala.
"Maaf, Wang geonnim. Saya berkata yang sesungguhnya bahwasana Kerajaan Baekje sama sekali tidak mengirimkan berita apapun tentang kunjungan mereka kepada saya maupun kepada pihak sekretariat Kerajaan."
Kangin mengusap dagu, penjelasan Kasim Hye semakin membuat pikiranya mengerucut bingung tentang kunjungan mendadak Kerajaan Baekje tanpa sepatah pun kabar pemberitahuan.
Mengingat dirinya tidak pernah terlibat suatu urusan penting dengan Kerajaan Baekje sebelumnya kecuali saat perang melawan Kerajaan Goguryeo beberapa hari lalu, menyebabkan roman bingung serta kecurigaan yang begitu kental di wajah bayanya. Untuk apa Kerajaan Baekje berkunjung ke Kerajaannya, secara mendadak pula.
Hela napas panjang menguap dari celah bibirnya dengan pergerakan jemari mengurut kening yang tiba-tiba berdenyut pening.
"Baik, bila pihak Baekje telah sampai persilakan mereka ke ruangaku."
"Ye, Wang geonnim."
"Hn, pergilah." Kangin meraih tintanya, berniat kembali meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda.
"Ye, Wang geonnim. Saya mohon undur diri."
Kangin mengangguk tanpa mengucap kata, sementara Kasim Hye bergegas melangkah mundur melenyapkan diri dari ruangan junjungannya.
Selang beberapa menit setelah kepergian Kasim Hye dan bertepatan dengan usainya kegiatan Kangin. Pintu ruangannya bergeser, menorehkan seorang pria tampan berbalutkan gonryongpo merah gelap keunguan dengan lambang naga lima jari di sepasang bahu, dada dan punggung. Melangkah tegas, menghampiri meja Kangin kemudian membungkukkan tubuh memberi salam.
Kangin bangkit dari singgasananya, ia turut melakukan hal serupa.
"Maaf bila kunjungan saya terkesan terburu-buru, Kangin Sanggam," ujarnya tak enak hati.
Kangin menganggukkan kepala, tangan kanannya terulur mempersilakan tamunya untuk menyamankan tubuh di kursi seberang meja miliknya.
"Ya, tidak masalah, Jaehyun Sanggam. Saya hanya sedikit terkesima dengan kedatangan anda tanpa mengucap sepatah pemberitahuan terlebih dahulu. Ya, sekalipun anda adalah teman kecil putra bungsu kami sewaktu menempa ilmu pengobatan. Seharusnya, tata krama Kerajaan tetaplah sebuah tata krama, bukan," kata Kangin sedikit terkekeh kecil sebelum menyamankan tubuh usai menepuk bahu kiri lelaki tampan itu.
Jaehyun tersenyum canggung mendengar sindiran telak yang teruntai dari bibir penguasa Silla itu. Hela napas ringan terajut sesaat mengangkat kepala, menatap lekat wajah Kangin.
"Tidak seperti itu sebenarnya. Maaf, sebab saya pikir kunjungan saya kali ini terlihat pribadi. Maka, saya tidak mengirimkan pemberitahuan terlebih dahulu kepada anda," sahut Jaehyun memberi alasan sekaligus mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang akibat tindakan lancangnya.
Pintu geser tiba-tiba berderak, sepasang dayang dengan nampan yang berisi kudapan serta cangkir teh hijau berjalan mendekat usai membungkukkan tubuh meminta izin.
Usai menyelesaikan kegiatannya, sepasang dayang itu kembali membungkuk hormat meminta izin undur diri.
Kangin mengalihkan pandang, tangannya bergerak mempersilakan Jaehyun untuk mencicipi kudapan yang tersaji di meja. "Silakan Jaehyun Sanggam,"tawar Kangin dengan ramah.
"Ye, Kangin Sanggam. Terima kasih."
Jaehyun meraih cangkir teh lalu menyesapnya dengan gerakan terpandang.
"Kunjungan anda masih terhitung satu kali sejak 15 tahun silam, anda berkunjung kemari guna belajar bersama dengan Baekhyun Daegam. Lantas sekarang anda menyebutnya sebagai kunjungan pribadi?" tanya Kangin sambil meraih satu potong kue yang terbuat dari buah kurma.
Jaehyun meletakkan cangkir teh ke meja. "Apakah terlihat tidak sopan? Maafkan saya, Kangin Sanggam. Saya sudah menyalahgunakan pertemanan masa kecil kami. Namun, menurut saya akan tampak mengganggu hati saya, bila saya diharuskan mengutarakan niat saya berkunjung kemari di depan ketiga putra anda serta para petinggi Kerajaan melalui surat tertulis," jelas Jaehyun menggunakan konsonan kalimat membingungkan yang menuai kerutan tidak mengerti di kening Kangin.
"Apa maksud anda? Saya pikir kunjungan anda kali ini hanya ingin kembali menjalin sapa seperti 15 tahun silam."
Garis lurus membentuk sebuah lekuk sopan di bibir merahnya. Sorot mata Jaehyun terukir kelam, menatap tajam dengan kilat gairah yang terselubungi binar tenangnya.
"Bila saya menggunakan pemberitahuan terlebih dahulu, berita tentang kunjungan saya ke Kerajaan anda akan tersebar. Jelas, itu mengganggu niat saya."
Jaehyun meletakkan salah satu tangannya ke meja beriringan dengan suara deham rendah sebelum kembali melanjutkan untaian kalimatnya.
"Sesungguhnya sudah sejak bulan lalu saya berniat bertandang ke Kerajaan Silla untuk merealisasikan niat saya, Kangin Sanggam. Akan tetapi, rupanya Kerajaan Joseon lebih cekatan ketimbang saya. Saya pikir waktu lalu saya tidak akan mendapatkan kesempatan tersebut sebab kabar yang berlalu lalang menyatakan bahwasana mendiang Changmin Sanggam hendak meminang Baekhyun Daegam. Tetapi, rupanya takdir berkata lain."
"Lantas?" tanya Kangin tidak sabar setelah mendapat setitik pencerahan tentang kunjungan Jaehyun yang terbilang mencurigakan meskipun pria tampan di depannya ini ialah salah satu teman baik daripada putranya.
Lekuk pinggir cangkir teh sejenak menyapa bibir Jaehyun, hisapannya terlantun lembut dan bertahap sembari menyesap aroma yang menguar menenangkan jiwa setelahnya meletakkan cangkir ke tatakan.
"Seperti halnya niatan mendiang Changmin Sanggam saat bertandang kemari, Kangin Sanggam."
Jaehyun mengangkat wajah menghiraukan cairan hijau bening yang sempat menarik perhatiannya. "Saya pun tidak terkira ingin menyimpul ikatan benang merah dengan Gun daegam. Tidak sekadar berkunjung guna menjalin sapa seperti 20 tahun silam, Kangin Sanggam," jelasnya dengan bibir mengukir lekuk menawan menghiraukan raut terkejut yang terpancar jelas di gurat wajah baya Kangin.
Sementara, Leeteuk sekejap mematung di ambang pintu ketika suara Jaehyun memenuhi indera pendengarnya. Dia yang hendak mengunjungi paviliun sang suami sebab merasa curiga dengan kunjungan mendadak Kerajaan Baekje yang selintas terdengar dari celah bibir 'ibu' dari para dayang miliknya, tentu saja mematung tidak percaya.
Bukan bermaksud bertindak tidak sopan atau pun berusaha menentang adab Kerajaan yang menitahkan bagi para Ratu untuk tidak terlalu mengikutsertakan diri pada urusan sang Raja, akan tetapi jantung yang bertalu resah setidaknya sedikit banyak memberikan nyali berlebih pada Leeteuk untuk sejenak mengindahkan tata moralnya.
Dan rupanya Leeteuk kini mampu mendefinisikan debaran resah yang menghujam jantung sesaat telinga mendengar sebaris kalimat yang tidak terasa sekilas menyumbat aliran pernapasannya.
Leeteuk meraih garis pintu, raut wajah tampak kesal dengan sorot mata tidak terima. Cukup sekali dirinya kecolongan dengan tindakan mendiang Changmin yang mendadak ingin meminang putranya tanpa persetujuan dirinya terlebih dahulu dan sekarang Leeteuk tidak akan tinggal diam. Sekalipun pria di dalam sana cukup dekat dengan putranya. Tetap saja, dia tidak ingin kembali melihat putranya merenung sedih sebab paksaan sang ayah.
Hati Leeteuk terlampau lapuk bila harus melihat sang putra bungsu terus terdiam tunduk dengan titah Kerajaan yang sekalipun tidak pernah mempedulikan pendapatnya. Leeteuk tidak bisa menerima hal tersebut.
Pada akhirnya dirinya menghambur masuk ke dalam ruangan Kangin mengikutsertakan diri ke dalam perdebatan kecil antara ketidakpersetujuannya atas tutur kata Kangin yang terkesan menerima niat kunjungan Jaehyun.
*Rose*
Jemari lentiknya menekan kening. Denyut pening sejak kepulangannya dari paviliun Chanyeol terus menggerogoti kepalanya. Tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan dirinya, Baekhyun pun tiba-tiba memerintahkan dayang untuk mengantarkan makanan sebab berpikir bila pening yang merajam kepalanya akibat perutnya yang belum terisi.
Akan tetapi, keheranan lantas menghinggapi rona wajahnya ketika rasa mual menyerbu perutnya saat lubang hidung menerima aroma sedap dari makanan tersebut.
Pada akhirnya Baekhyun memerintahkan dayangnya untuk menyingkirkan semua makanan yang belum tersentuh sama sekali itu dari hadapannya.
Jemari yang mengurut kening mendadak berpindah ke bibir saat rasa mual kembali mengaduk perut. Baekhyun merundukkan tubuh, desisan samar terlontar dari celah bibirnya yang mengerat gigi berusaha menahan buncahan mual yang terpangkal di kerongkongan.
Baekhyun tidak mampu menahannya, ia bergegas bangkit menguak jendela lalu memuntahkan isi perutnya usai melongokkan kepala ke luar jendela. Deru napasnya terdengar tersenggal, sementara kerutan samar menghinggapi kening tatkala merasa heran dengan keadaannya saat ini.
Hanya cairan bening yang terasa hambar keluar dari mulutnya, tetapi mengapa begitu memutar perutnya.
"Suhu tubuhku normal." Baekhyun bergumam sambil menatap lekat cairan bening yang membasahi paving.
Suara pintu geser menyentak Baekhyun dari lamunannya, lengan tangannya yang terbaluti dalryongpo bergegas membasuh bibir bersama keratan gigi, berupaya menahan lonjakan mual yang tidak kunjung sirna.
Baekhyun termangu, tanpa sadar dia melupakan rasa mualnya saat mendapati sang kakak mematung di ambang pintu dengan sorot bingung sekaligus sesal.
"Hyungnim!" seru Baekhyun terlampau semangat, bermaksud mengentak kebisuan mereka sekaligus memberitahukan bahwa perasaan rindu akan kehadiran dua kakak tampannya itu di kamarnya sudah sangat menggebu, mengingat mereka belum saling menyapa sejak perang berakhir seminggu yang lalu.
Jongin dan Sehun berdeham pelan, mereka terlihat ragu melangkah masuk ke dalam ruangan Baekhyun.
"Hey, ada apa? Mengapa berdiam diri di sana? Kalian tidak merindukanku?"
Bibir Baekhyun terlipat sedih seiring kepala yang menunduk, mengekspresikan sebuah kekecewaan hati yang sontak menuai gerak bersalah dari sepasang pria tampan di ambang pintu itu.
Jongin menyenggol lengan Sehun, mereka saling berpandangan melalui ekor mata. "Minta maaf," bisik Jongin menyorot tajam mata Sehun. Sehun berdecak pelan, lengannya balas menyenggol Jongin.
"Kau yang tertua di sini. Mulai lebih dulu!" titah Sehun tidak sopan.
Jongin menggertakkan gigi berniat mengancam sang adik. "Kau dulu. Cepat minta maaf," geram Jongin sedikit keras.
Baekhyun mengangkat kepala menatap dalam diam kegiatan dua saudaranya yang terlihat jenaka. Setelah mengetahui persoalan ambigu yang tengah melanda sepasang kakaknya. Bibirnya terkulum ke dalam, menahan tawa.
"Mengapa berdebat tentang meminta maaf? Aku pikir, hyungnim tidak pernah berbuat salah padaku," ujar Baekhyun lembut.
Jongin dan Sehun kemudian mengalihkan pandang, menatap Baekhyun dengan rona wajah terkejut.
"Baekhyun, kami telah membuatmu menghilang malam lalu dan kau masih bisa berkata kami tidak pernah berbuat salah?"
Bibir yang semula terkulum demi meredam tawa yang sempat ingin memeberontak keluar, beralih menjadi sebuah ukiran indah di tengah sepasang kaki berderap menghampiri tempat kakaknya.
Baekhyun meletakkan tangannya di masing-masing bahu Jongin dan Sehun lalu mengusapnya.
"Semua sudah berlalu, hyungnim. Tidak perlu meminta maaf, hanya perlu dijadikan pelajaran. Lagipula itu bukan keinginan kalian, aku tidak percaya bila hyungku memiliki sifat sekeji itu," kata Baekhyun menenangkan.
Jongin mengusap kepala Baekhyun. "Mengapa semudah itu memaafkan kami? Kesalahan kami begitu besar, Baek-ah. Setidaknya berikan kami sedikit hukuman."
"Bagiku penyesalan kalian sudah lebih dari cukup. Jikalau ingin meminta maaf, seharusnya hyungnim lontarkan pada Goryeo Wang seja."
Jongin dan Sehun terdiam mendengar penuturan bijak adik mereka. Sorot mata yang sempat berbinar resah dengan gurat bersalah perlahan mengabur ke dalam kelembutan yang menghangatkan hati Baekhyun.
"Aish. Dasar kau ini!" pekik gemas Jongin dan Sehun sambil bergerak mengambil tubuh mungil Baekhyun ke dalam rengkuhan hangat dan usapan acak di kepala.
Baekhyun tertawa kecil menerima perlakuan hangat kakaknya, setelahnya merapatkan diri menyamankan tubuh dalam rengkuhan hangat kakaknya. Akhirnya rasa rindu yang menggebu terbayar sudah. Sesaat suasana terlihat nyaman dan tenang sebelum sebuah pekikan tertahan merenggangkan rengkuhan mereka.
Jongin dan Sehun yang melihat hal tersebut mendadak panik kala mendengar suara tertahan Baekhyun dari sisi jendela setelah sebelumnya berlari menjauhi mereka. Sepasang pria tampan itu kemudian berderap menghampiri Baekhyun lantas merengkuh tubuh lemas adiknya yang nyaris limbung.
"Aku akan memanggil Tabib," ucap Jongin cepat dengan getar takut yang tidak dapat ia sembunyikan.
Sehun mengangguk, ia mengeratkan rengkuhannya. Jemarinya terulur mengusap bulir keringat di sepanjang pahatan garis wajah Baekhyun. "Aku mohon bertahanlah. Bertahanlah Baekhyun," bisik Sehun tidak kalah cemas.
Usai teriakan membabi buta Jongin di balik pintu paviliun Baekhyun, serentak seorang Tabib beserta dua dayang pembantunya menghambur masuk ke dalam kamar Baekhyun.
Baekhyun mengalihkan pandang, iris matanya menatap sang Tabib lekat-lekat. "Dimana Tabib Choi? Mengapa bukan dirinya yang menanganiku?"
Wanita paruh baya itu menunduk, terdiam beberapa menit hingga usai meletakkan peralatan medisnya di sisi tubuh Baekhyun, kemudian bersimpuh di samping Baekhyun begitupula dengan dua dayang serta Jongin dan Sehun. "Maaf, Gun daegam. Pagi-pagi sekali, kami sudah tidak mendapati Tabib Choi di ruangannya," jawab Tabib Im penuh sesal.
Iris bulat Baekhyun melebar, terkejut dengan pandangan tidak yakin bahkan dirinya nyaris bangkit bila Jongin tidak bergegas menahan tubuhnya.
"Kau bercanda. Kau bercanda, Tabib Im. Tidak mungkin Tabib Choi meninggalkan istana tanpa sepengetahuanku. Kau berbohong. Katakan semua ini tidak benar!"
Bibir Baekhyun bergetar, ingatan tentang malam lalu ketika Tabib Choi bersimpuh di hadapannya memohon perhatiannya menyentak ulang bagaikan rantai film.
Sungguh dirinya begitu terpukul dan tidak rela dengan kepergian Tabib kepercayaannya yang telah ia anggap sebagai ayah sendiri. Tabib yang begitu dia teladani sikapnya hingga kejadian malam lalu sedikit banyak membuat dirinya mengerung kecewa, namun tidak pernah terbesit sedikitpun dipikiran untuk mendepak Tabib Choi keluar dari istana.
Baekhyun tahu, begitu paham dengan posisi Tabib Choi yang hendak patuh dengan titah Raja. Itu pula bukan sebab keinginan Tabib Choi, sama halnya dengan kesalahan yang kedua kakaknya lakukan.
Baekhyun sama sekali tidak membenci Tabib Choi, malam lalu dirinya hanya sangat kalut. Begitu takut dengan kondisi Chanyeol hingga menghiraukan keberadaan Tabib Choi.
Hanya sebatas itu.
Sehun mengusap sisi wajah Baekhyun, menyadarkan adik tersayangnya dari lamunan yang tanpa sadar mendorong satu bulir air mata dari balik iris teduhnya.
"Sebaiknya periksakan dulu kondisimu, Baekhyun," kata Sehun lembut sembari mengusap bulir air mata yang melinangi pipi adiknya.
"Tabib Choi tengah menenangkan diri. Memang terlalu menyakitkan Baek-ah, bila mendapati seseorang yang begitu mempercayai kita menderu kecewa karena kesalahan yang telah kita perbuat. Begitu pula dengan Tabib Choi, dia hanya sekadar menyesali perbuatannya. Suatu saat nanti dia pasti kembali. Kalian pasti akan bertemu lagi," sambung Jongin menenangkan.
Baekhyun menatap dua kakaknya secara bergantian, kemudian memejamkan mata sambil mengangguk pelan.
Jongin mengerling Tabib Im, mempersilakan sang tabib untuk memeriksa kondisi Baekhyun. Tabib Im mengangguk patuh, tidak berselang lama roman wajah Tabib Im terlihat menegang, begitu pula dengan sepasang dayang yang saling pandang tidak mengerti.
Sehun mengernyitkan kening, merasa janggal dengan perubahan sikap Tabib Im. "Ada apa, Tabib? Bukan penyakit yang serius bukan?" tanya Sehun awas.
Baekhyun memaku wajah Tabib Im yang kini berubah gusar, kepalanya kemudian menunduk dalam.
"Mohon maaf, Wang seja, Gun daegam. Anda dapat menghukum saya setelah ini sebab kekeliruan saya dalam memeriksa kondisi Baekhyun Daegam."
Tabib Im semakin menunduk dalam ketika merasakan aura mencekam dari tatapan Jongin.
"Apa maksudmu, Tabib Im?! Jangan berbelit-belit. Katakan yang sebenarnya!" geram Jongin nyaris membentak bila Baekhyun tidak bergerak mengusap lengannya.
Tabib Im meneguk ludah lamat, begitu berat seolah sebongkah batu tengah mengganjal kerongkongannya.
"Baekhyun Daegam ... Gun daegamnim- tengah mengandung, Wang seja," bisik Tabib Im dengan nada suara yang kian melirih takut.
Baekhyun mematung, lengan yang menumpu berat tubuh tiba-tiba melemas membuat tubuhnya terjerembap ke belakang. Sementara, tatapan matanya berbinar kosong sekaligus tidak percaya.
Sementara Jongin dan Sehun seolah kehilangan pita suara mereka, hanya terdiam dengan sorot mata yang terpaku tidak tentu arah. Jongin menggelengkan kepala, ia beralih menatap Baekhyun.
"Baekhyun ..." panggil Jongin gamang. Baekhyun menundukkan kepala, ia mengerat bibir bawahnya dengan kuat. Tidak mampu menatap paras dua kakaknya.
"Hubungan kalian sudah sejauh itu?" tanya Jongin meragu, secercah harapan ia tanamkan dalam hati. Berharap bila kepala yang menunduk itu menggeleng, tidak membenarkan pertanyaannya.
Baekhyun perlahan mengangkat wajah menatap nanar wajah Jongin. "Hyung ..."
Baekhyun terisak pelan, getar suaranya sekejap melemaskan tubuh Jongin dan Sehun. Sehun membekap bibir, pikirannya kosong melanglangbuana tidak tentu arah sementara hatinya bergemuruh kacau akan malapetaka yang sebentar lagi menghinggapi Kerajaannya.
"Katakan semua itu tidak benar! Lekas, katakan semua itu tidak benar Baekhyun Daegam!"
Jongin merengkuh bahu Baekhyun, menghentaknya berulang kali seolah kesetanan. Lelaki tampan itu bahkan menghiraukan isak tangis Baekhyun yang tersedak lirih.
"Hyung sudah! Hyung, tenanglah!"
Sehun menyentak lengan Jongin yang kemudian menuai geraman marah dari putra mahkota Silla itu.
"Kau bilang tenang! Bagaimana bisa aku bersikap tenang bila mendapati adikku tengah mengandung benih Goguryeo?! Katakan bagaimana caraku untuk tenang, Sehun Daegam! Bila malapetaka seolah berbayang di depan mata! Katakan!" teriak Jongin kalut.
"Kau menyakitinya, hyung!" balas Sehun berteriak. "Lihat!" tegas Sehun sekali lagi sambil menjulurkan jari telunjuk ke arah Baekhyun. "Dia juga terkejut! Baekhyun juga tertekan, tidak terkira akan mendapat takdir serumit ini! Tidak bisakah kau mengerti akan perasaannya saat ini, Wang seja!" geram Sehun tidak habis pikir.
Sehun kemudian bangkit dari posisinya, berpindah ke sisi Baekhyun lantas merengkuh tubuh yang tengah bergetar hebat itu. Baekhyun tersenggal, tidak pernah mengira akan mendengar dua kabar yang sekejap meruntuhkan hidupnya dalam sekali waktu.
Belum sembuh keterkejutannya akan kepergian Tabib Choi kini kabar lain sejenak menghentikan denyut jantungnya. Hati Baekhyun merintih, menarik ulur debaran hangat yang berseling dengan detakan takut akan kemarahan sang penguasa Silla.
"Ulangi."
Baekhyun membeku dalam rengkuhan Sehun, isakannya mendadak sunyi sementara genggaman tangan pada dalryongpo yang dikenakan Sehun kian mengerat ketika suara dingin yang begitu berat menembus romansa kelam di kamar tersebut.
Jongin bergegas menghampiri Baekhyun, melakukan hal yang serupa dengan Sehun. Rona wajah yang tampak tenang itu sedikit banyak mengancam mereka, terlebih Baekhyun.
Kangin tengah berusaha menahan buncahan emosinya, ia bahkan kini telah menilik tubuh Baekhyun di balik rengkuhan Sehun dan Jongin.
"Ulangi perkataanmu, Tabib Im!" tekan Kangin di setiap bait kata.
Aura di sekitar kamar Baekhyun terasa kian mencekam, ingin rasanya Tabib Im bergegas melangkah keluar. Jiwanya merasa terancam bila dirinya terus berdiam diri di paviliun Pangeran bungsu. Tabib Im mengangguk patuh, ia berupaya meredakan getaran tubuhnya.
"Gu-Gun daegam ... tengah mengandung ..."
Kangin memejamkan mata, telapak tangan yang mengepal di sisi tubuh terlihat mengerat. Leeteuk yang sejak tadi hanya termangu di balik tubuh Kangin berubah awas sesaat menangkap gerakan dada yang tersenggal.
"KELUAR!" teriak Kangin geram yang seketika menghamburkan Tabib Im dan sepasang dayang itu untuk melangkah pergi dari ruangan Baekhyun.
Niat hati yang terselip di kepala tentang pembicaraannya bersama Jaehyun yang hendak dia utarakan pada Baekhyun lenyap sudah bersama untaian kalimat yang sungguh dalam sekilas mampu mendidihkan gemuruh emosinya.
Nyaris limbung dan mendadak tuli disaat sampai di ambang pintu indera pendengarnya mendengar semua kegaduhan yang menekan dada serta pernapasannya.
Bagaimana bisa, seorang Pangeran Bungsu yang begitu ia percayai akan kepatuhannya menikam dirinya dari belakang dengan menjalin hubungan terlarang dengan seorang musuh? Sontak saja hal tersebut lantas menginjak harga dirinya.
Kangin mendekat, emosi yang telah menguar di permukaan rupanya telah membutakan nalurinya sebagai seorang ayah. Tangannya bergerak kasar menepis perlawanan Jongin dan Sehun yang bersikeras melindungi Baekhyun dari jangkauannya.
Kangin mendapatkan pergelangan tangan Baekhyun, bergegas ia menarik lengan ringkih itu dari kungkungan Jongin dan Sehun kemudian menyeret putra bungsunya keluar dari kamar dan menghempaskan tubuhnya ke lantai.
Tubuh Baekhyun terjerembap dengan keras, Leeteuk terpekik menangkap pemandangan mengerikan tersebut, ia kemudian bergegas menghampiri tubuh terpaku Baekhyun yang tengkurap di lantai. Namun, lengan Kangin bergerak cepat menghempas tubuhnya ke sisi kanan dan nyaris membentur kayu ukiran pemisah ruangan dan kamar bila Jongin tidak sigap merengkuh tubuh ibunya.
Kangin tengah murka, dirinya benar-benar menggelap hingga sebuah rajam yang terletak di lemari penyimpanan senjata; mengundang dirinya untuk meraih benda tersebut.
"Tak mengira seorang Pangeran Bungsu sepertimu bisa mencoreng harkat martabat Kerajaan dengan menjalin hubungan dengan seorang musuh!" geram Kangin sambil melayangkan tali rajam ke punggung Baekhyun.
Baekhyun menangis dalam diam, jemari tangannya mengerat lantai tidak berniat melawan maupun menatap Kangin bahkan pekik sakit akibat gelenyar rasa panas dan ngilu di sekujur tubuhnya tak sepatahpun terlontar dari celah bibirnya yang mulai berdarah akibat rengkuhan gigi di bibir bawah.
"Katakan semua itu tidak benar! Tegakkan wajahmu dan katakan kalian tidak pernah berhubungan sebelumnya! Katakan bahwa kau tidak pernah mengenal Putra mahkota Goguryeo, BAEKHYUN DAEGAM!"
Kangin menghentikan hujaman rajamnya, iris tajamnya memerah berkilat tajam dengan semua rasa kecewa yang bertumpah ruah.
Baekhyun menggelengkan kepala, ia memaksakan diri untuk bangkit. Menghiraukan rasa perih yang menyayat kulit di sela gerak yang berusaha menegakkan posisi di hadapan Kangin.
"Maaf, Ayahanda. Maafkan aku. Aku mencintainya."
"DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI!"
Kangin semakin kalap. Tangannya bahkan beralih melayangkan sebuah tamparan telak di wajah Baekhyun, begitu keras hingga membuat tubuhnya kembali terantuk lantai. Darah segar kemudian merangsak dari celah hidung dan bibirnya.
"KANGIN!"
Leeteuk berteriak murka. Ia melepaskan rengkuhan Jongin dari tubuhnya bergerak kacau menghampiri Baekhyun, namun sekali lagi Kangin menghempas tubuhnya.
"Berhenti membelanya, Jung soo Mama! Pantaskan seorang pengkhianat seperti dirinya mendapat pembelaan! Bahkan aku tidak lagi mendapati darahku di dalam tubuhnya!" tegas Kangin yang sontak melenyapkan pikiran Baekhyun.
Dalam sekejap dirinya berubah menjadi orang asing. Hanya dalam satu waktu Kangin menolak kehadirannya, mengaburkan identitasnya. Baekhyun memejamkan mata, hatinya remuk melebur bersama tikaman duri yang berbondong mengoyak hatinya.
Rajaman kembali menyapa tubuh Baekhyun, bergerak kian membabi buta dengan racauan kecewa Kangin. Akan tetapi, Baekhyun terbungkam; mengindahkan rasa perih dan nyeri yang meyayat kulit. Apa yang ia rasakan di sepanjang tubuh tidaklah lebih remuk dihati.
"Apa kau membenciku?! Apa kau lelah dengan semua identitasmu?! Sehingga kau dengan berani mencoreng nama leluhur kita! Apa didikanku selama ini salah?! Jawab aku Baekhyun! Mengapa kau menentang titah Ayahandamu sendiri?! Dimana sosok Pangeran bungsuku yang selalu patuh terhadap adab Kerajaan?! Apa Putra mahkota brengsek itu yang telah meracuni otakmu?! Apa dia yang membuatmu menjadi seperti ini?!" racau Kangin emosi bercampur sedih.
Leeteuk menatap Jongin dan Sehun yang tidak berkutik di tempatnya dengan pandangan nanar, mendapati amarah Kangin yang terus memuncak menyebabkan Leeteuk bergerak gusar.
Pandangan nanar sekaligus memohon itu serentak mengalihkan kesadaran Jongin dan Sehun akan kondisi tubuh Baekhyun yang kian memburuk. Tentu saja, sepasang kakak itu bergegas menahan tubuh Kangin.
Alih-alih menenang, Kangin justru hendak menghajar kedua putranya. "Ayahanda aku mohon tenanglah. Kau bisa membunuh, Baekhyun. Ayahanda!" pekik Jongin menenangkan sembari menahan pergerakan rajamam Kangin.
Leeteuk bersimpuh, ia menarik Baekhyun ke dalam rengkuhanya. "Sudah, Kangin. Aku mohon. Baekhyun masih putra kita, putra bungsu kita. Jangan menghukumnya seperti ini. Dia tidak bersalah," pinta Leeteuk mengiba sambil menangis tergugu. Sepasang lengan melingkupi tubuh bergetar Baekhyun dengan perlindungan penuh.
Kangin terdiam, menatap nanar getar samar tubuh Baekhyun yang sekilas mengobrak-abrik nalurinya sebagai seorang ayah. Bukan bermaksud menyakiti putranya, ia pun bergumam penuh sesal dalam hati sebab tidak mampu mengendalikan emosinya. Akan tetapi, ingatan tentang untaian yang terlontar dari belah bibir Tabib Im memudarkan sikap lembut Kangin.
"Gugurkan janin itu!"
Baekhyun menegang dibalik rengkuhan Leeteuk. Sehun dan Jongin terpaku sementara Leeteuk menatap Kangin dengan sorot tajam tidak percaya.
"Apa kau terlahir sebagai manusia tidak memiliki hati nulari, Wang geonnim?! Kau ingin putramu menjadi seorang iblis dengan membunuh janin yang bahkan masih berbentuk gumpalan darah!"
"Aku tidak peduli!" sergah Kangin cepat membungkam teriakan frustasi Leeteuk.
Leeteuk menangis dalam diam, ia menatap Kangin dengan sorot terluka. Kangin mengindahkan tatapan Leeteuk dengan sorot dingin bagai sebongkah es.
"Aku tidak menghendaki kelahiran anak itu. Sebuah aib yang sungguh memalukan bila putra bungsu Silla melahirkan benih Goguryeo, benih seorang musuh."
Kangin berbalik, bersiap melangkah pergi tetapi tertahan sesaat Baekhyun secara tiba-tiba merengkuh kakinya.
Kepalanya merunduk nyaris menyentuh punggung kaki Kangin. "Aku mohon. Izinkan aku mempertahankan anak ini, Ayahanda. Aku berjanji akan menuruti semua perkataanmu. Aku mohon, jangan bunuh anak ini," racau Baekhyun tersenggal dengan napas satu-satu.
Isakannya berdentang pedih menyayat hati, Leeteuk mengalihkan pandang tidak mampu menatap putra kesayangannya merintih seperti itu begitupula dengan sepasang pria tampan yang terdiam bisu dengan tatapan sendu. Sekali lagi tidak mengira takdir Baekhyun bagaikan perahu yang terombang ambing di tengah lautan lepas.
Kangin menatap puncak kepala Baekhyun, ia berdecih keras ketika merasakan ketulusan kasih Baekhyun atas keberadaan janin tersebut membuat dirinya semakin bergidik keji.
"Baik. Aku mengizinkanmu untuk mempertahankan anak itu dengan satu syarat. Jangan pernah sekalipun memberitahukan siapa pengukir jiwanya pada anak itu. Aku tidak sudi membawa nama Goguryeo dalam istanaku dan segera lupakan Putra mahkota Goguryeo sebab 4 hari lagi pernikahanmu dan Jaehyun Sanggam akan segera digelar."
To be continue...
Muehehe ada simon say /plak/ oke, tetiba saya kepikiran ma ni palentin boy gegara dia pernah bilang mo jadi kek baekhyun waks ntar ada yg lain loh, coba ayo tebak sapaa klunya anak WayV hahaha :v
Oke, ikuti aja yaa dan yeah, thanks atas dukungan kalian semua thanks yg masih bersedia membaca fict gaje ini, memberikan ripyuu dan cintaa muach :*
Ah ya, saya sedang mengerjakan skripsi, mohon doanya supaya lancar yaa. Okee, see you di chap selanjutnya. Love you all 3
