MY LITTLE PRINCESS
(REMAKE NOVEL "MY LITTLE PRINCESS" OLEH MACCHIATO)
.
.
.
CHAST :
BYUN BAEKHYUN
PARK CHANYEOL
OH SEHUN
XI LUHAN
JESSICA JUNG *ex-snsd*
VICTORIA SONG *f(x)*
Etc.
.
SUMMARY:
Byun Baekhyun bukan tipe gadis berwatak baik. Dia kaya, cantik, tapi sombong. Banyak pemuda yang mengejarnya, tetapi kehidupan cintanya tidak pernah berjalan sesuai harapannya. Dia berusaha keras mendapatkan hati tunangannya, Oh Sehun, meskipun dia sama sekali tidak menyukai pemuda itu. Namun, Oh Sehun hanya peduli pada Xi Luhan, gadis miskin yang tidak pantas untuk pemuda sekelas Oh Sehun. Segalanya menjadi semakin rumit saat Park Chanyeol, pemuda yang juga jatuh cinta pada Xi Luhan ikut ambil bagian dalam kehidupan Byun Baekhyun.
…..
….
…
..
.
.
.
Pada malam hari yang hangat, pesta kolam renang yang mewah sedang berlangsung di lantai atas sebuah hotel bintang lima.
Angin malam bertiup sepoi-sepoi dan alunan musik terdengar pelan. Di samping kolam dihiasi 9.999 tangkai bunga mawar Damascus yang khusus diimpor dari Prancis. Harum bunga membuat suasana seakan menjadi gemerlap.
Pelayan pria dan wanita yang mengenakan jas berekor mondar-mandir melayani tamu.
Di atas meja Kristal yang bernilai ratusan juta, berbagai menu masakan dihidangkan oleh chef restoran Michelin untuk memenuhi selera tinggi para tamu.
Menurut kabar, hari ini adalah acara pertunangan Nona Besar Byun Group dan Tuan Muda OSH Group. Dua perusahaan besar akan bersatu. Banyak orang yang turut memperhitungkan keuntungan di balik acara ini.
Tiba-tiba musik berhenti , cahaya dalam ruangan menjadi temaram, dan hanya tinggal lampu sorot yang menyinari area pintu masuk. Semua orang sedang menunggu kejadian selanjutnya dari balik pintu itu.
Lalu, muncullah sosok yang memang menjadi pusat perhatian malam ini.
Aku mengenakan gaun Dior dengan belahan dada rendah, berwarna merah muda yang seakan transparan dan berbahan halus, gaun itu seakan menambah keanggunanku. Wajah yang cantik ini diulas make up agar tampak menawan. Rambut yang menjuntai di bahu dijepit dengan jepit rambut impor yang memancar kilau butiran berlian, membuatnya semakin anggun dan memesona.
Kehadiranku membuat orang terdiam.
Pandangan mata itu seakan memuji, mencibir, dan juga iri. Serta berbagai raut wajah yang mengekspresikan kehadiranku. Aku hanya tersenyum menghadapi mereka.
Seorang pelayan tegap melewatiku sambil memegang nampan. Aku hanya melihatnya sekilas. Sepertinya pelayan-pelayan hotel berbintang ini telah melewati proses seleksi yang ketat. Semua pelayan itu tampan dan cantik.
Aku menghadang salah satunya, mengambil segelas anggur, lalu mengedipkan mata kepadanya. Pelayan itu hanya melongo melihatku.
Aku meminumnya seteguk, mengembalikannya dengan bekas lipstick di sisi gelas, lalu berkata kepadanya dengan seksi, "Thank you."
Wajah pelayan itu memerah.
Kalau saja aku masih terdampar di masa lalu, aku pasti tidak akan mendapatkan makanan. Dengan modal wajah cantik dan gaya anggun seperti ini, aku juga pasti bisa hidup dan menjadi nomor satu di rumah bordil.
Orang sepertiku tentu saja tidak perlu berbasa-basi dengan para tamu. Walaupun hanya berdiri diam di pojok, pasti akan ada segerombolan 'lebah' mendatangiku.
"Bukankah itu Baekhyun?"
"Hai, Baekhyun. Apa kau masih mengenaliku? Aku Allen," kata pria A yang pendek dan kaya.
Terima kasih kau masih mengingat bahwa aku Baekhyun, tapi aku hanya mengenal Helen, bukan Allen.
"Baekhyun, hari ini kau sangat cantik. Sampai-sampai artis korea pun tidak bisa mengalahkanmu. Kalau kau berjalan diluar rumah, pasti akan ada pengikutmu." Pria B yang gemuk dan kaya menambahkan.
Terimah kasih. Jangankan berjalan-jalan biasa. Meski aku berjalan-jalan di Prancis, pasti akan banyak orang yang mengikutiku.
"Baekhyun, sejak mengenalmu, kakak tidak pernah melirik cewek lain," kata pria C yang botak dan kaya.
Aku hanya tertawa sinis. Banyak gadis yang berjalan-jalan diluar sana. Kalau kau tidak melihatnya, mungkin matamu bermasalah.
"Baekhyun." Ibu tiri muncul di hadapanku.
Bukannya aku cerewet, ya. Ibu tiri termasuk wanita karier, tapi kadang-kadang aku bingung dengan cara berpakaiannya. Hari ini dia memakai cheongsam warna emas dan sepatu hak tinggi warna emas. Dia persis seperti sawi berjalan.
Aku menahan mulutku untuk tidak langsung menceletuk.
"Kau terlambat." Dia berpura-pura seperti Ibu yang baik dengan merapikan rambutku.
Aku mengibaskan tangannya dan berkata. "Aku adalah bintang utama."
Ibu tiri menggandeng tanganku. Orang lain pasti akan mengira kami seperti Ibu dan Anak yang harmonis. Tetapi, kenyataannya Ibu tiri takut kalau aku melarikan diri, sehingga dia menggandengku ke ruang VIP untuk bertemu dengan Tuan Oh.
Tuan Oh yang biasanya sangat tegas, begitu melihatku langsung tersenyum dan berkata. "Bocah itu sangat beruntung. Calon istrinya cantik seperti model."
Terima kasih. Semua itu berkat operasi kelopak mata dan memancungkan hidung. Ternyata semua itu ada gunanya.
Sebagian orang yang kukenal dan tidak kukenal mengelilingku dan Ibu tiri untuk berbasa-basi.
"Sungguh pasangan yang serasi."
"Benar-benar diciptakan untuk bersama."
Gila. Siapa yang serasi dan siapa yang diciptakan untuk bersama?
"Baekhyun, kau suka makan apa? Masuklah jangan sungkan-sungkan."
"Aku bukan orang yang pemilih, tapi terima kasih. Aku sudah kenyang." Yang benar saja. Demi memakai gaun Dior ini, aku rela tidak makan dari pagi sampai sekarang.
"Kabarnya Baekhyun sekolah di Tokyo. Sudah ke mana saja? Apa ada rekomendasi tempat yang indah di sana?" seorang nyonya yang memakai gaun Issey Miyake dengan hangat menarik tanganku. "Selama ini aku selalu berada di Eropa, tidak pernah ke Jepang. Lain kali kalau ingin pergi ke Jepang kau saja yang menjadi guide-nya, ya." Sambil bicara, dagunya yang bulat pun bergetar.
"Aku tidak begitu senang bepergian." Aku berpura-pura. "Aku lebih suka tinggal di rumah untuk menggambar, membaca buku, hiking, atau kadang-kadang pergi ke galeri seni."
"Baekhyun sangat pendiam. Sejak kecil sudah punya bakat seni." Ibu tiri mencoba mencairkan suasana.
Aku tersenyum manja. Sebuah senyum yang jarang kuperlihatkan.
Siapa yang tahu aku membaca apa? Menggambar apa? Hiking kemana? Galeri yang mana?
Membaca buku komik, hiking di atas bantal, dan galeri fashion show yang sering aku tonton.
"Aku ingin pergi mencari Oh Sehun. Siapa tahu kami memiliki chemistry baru." Aku yang akan mencari bocah itu hanya sebuah alasan. Sebenarnya, aku ingin mencari makanan.
"Ya, pergilah. Anak muda memang perlu banyak mengobrol agar lebih akrab." Ibu tiri mengangguk, menepuk tanganku lalu berbisik, "Selamat, Baekhyun. Ternyata Tuan Oh menyukaimu. Pernikahan ini pasti jadi." Pandangan matanya yang berbinar seolah-olah bukan sedang menatapku tetapi sedang menatap sebuah 'pohon rezeki'.
Pernikahan keluarga kaya biasanya selalu diatur oleh orang tua. Perasaan anak–anak sering menjadi korban. Menyadari nasib ini, aku mengasihani diriku sendiri.
Sambil memegang segelas anggur dan sepiring buah-buahan, aku duduk di samping kolam. Aku bersiap menikmat makanan pertama hari ini.
Kabar burung memang beredar dengan cepat. Sebuah status calon istri cucu penerus OSH Group langsung membuat para pria yang menggangu tadi hilang seperti ditelan bumi. Sementara, para gadis menunjukkan rasa iri atau kagum, tapi hanya bisa berbisik-bisik dari kejauhan. Untuk sementara, aku bisa tenang.
"Mau makan lagi?"
Seberkas bayangan muncul di hadapanku, menutup semua cahaya yang ada di depan mata. "Paman Changmin."
Rambut hitam lebat menjuntai miring di dahinya. Walaupun dia memakai kacamata tanpa gagang, tetap saja itu tudak mampu menutupi matanya yang punya tatapan dalam. Wajahnya selalu memajang senyuman yang hangat, tapi kadang terkesan dingin. Ini adalah ekspresi yang kukenal.
Aku tidak bisa melupakan saat aku memberanikan diri untuk 'menembak'-nya. Saat itu, jawabannya adalah—
"Baekhyun." Dia menghembuskan napas, "Paman mau menikah. Kau jadi penabur bunga,ya."
Penabur bunga?!
Lihat, lihatlah. Hanya penabur bunga, bukan pengiring pengantinnya.
Tidak menjawab 'tembakan'-ku, ya sudah. Dia malah menganggapku sebagai anak yang masih bau kencur. Itu benar-benar menyakitkan.
Saat gadis penabur bunga melihat pria idamannya menikah dengan wanita lain, perasaan sakit hati itu seperti saat kau melihat tas bermerek. Kau tidak mau makan, saat melihat tas itu tidak jadi milikmu. Saat kau ingin memeluknya dalam tidur, ternyata dia berkata, "Maaf, aku sudah dibeli oleh orang lain."
Wanita itu berlagak seperti 'siapa cepat dia dapat'dan malah menyombongkan diri seakan berkata, "Kalau kau bernyali, rebutlah dia dariku."
Tentu saja aku bernyali.
Lalu aku pun berteriak kepada pengantin wanita,"Atas dasar apa kau merebut paman Changmin-ku?! Aku lebih kaya darimu, lebih muda, lebih cantik, lebih baik darimu seribu kali! Atas dasar apa? Atas dasar apa?!" Ditambah dengan teriakan dan tangisan untuk menyatakan protes atas pernikahan itu.
Tambahan: saat itu, aku berusia sepuluh tahun.
Kalau dipikir-pikir, mungkin julukan Nona Keras Kepala berasal dari kejadian itu.
Setelah aku membuat kerusuhan di pernikahan Paman Changmin, aku dipukul di pantat, menangis dengan hebat, serta mengakhiri kisah cinta pertama dan cinta bertepuk sebelah tangan.
"Kapan Paman Changmin akan bercerai?"
Dia terkejut, lalu tertawa terbahak-bahak. "Kau sangat lucu," sahut paman Changmin. Dia tidak menjawabku.
"Paman Changmin!" aku menatapnya dengan geram.
"Ha?"
"Aku tidak akan memanggilmu 'Paman' lagi, aku akan memanggil namamu saja. Changmin. Oh Changmin."
"Kenapa?"
"Kita tidak bersaudara. Lagi pula kau bukan paman kandungku."
"O, ya? Bagaimana kalau… " dia menatapku dan senyum tersungging di bibirnya, "Kita akan menjadi satu keluarga. Jadi jangan terlalu cepat mengubah panggilan kepadaku."
Aku terkejut. Tiba-tiba teringat rencana pernikahanku dengan Sehun. Di dalam hati kecilku, seperti ada suara yang pecah.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di dekat punggungku. Ada perasaan yang sulit di ucapkan. Saat aku memalingkan wajahku, pemeran pria lain Oh Sehun muncul entah sejak kapan.
Dia melipat kedua tangan di dada dan memandangi kami. Bola matanya hitam dan bercahaya, alisnya naik. Kalau dia tidak tersenyum, terkesan galak.
Dia memakai kemeja polos dengan garis kerah kemeja yang terbuat dari bahan kain berbeda. Pakaiannya dipadu dengan celana panjang putih, yang membuatnya tampak tinggi. Kalau ditambah dengan senyuman, akan terlihat seperti model Dolce & Gabbana.
Tetapi, ekspresi Sehun sekarang lebih mirip dengan pemeran pria yang disuruh tampil mendadak, ekspresinya seperti ingin membunuh orang saja.
Oh Sehun dengan dingin berkata, "Maaf mengganggu." Kata ini sepertinya tidak ditunjukan untukku, tapi untuk paman Changmin.
"Tidak masalah. Kau datang untung mencari Baekhyun kan?"
Sehun menatapku sekilas. Aku seperti di sengat lebah, rasanya tidak enak.
"Aku lelah. Aku pergi dulu." Aku berdiri, lalu pergi meninggalkan mereka dengan gaya yang angkuh.
Maju selangkah, tidak bisa bergerak.
Maju dua langkah, masih ditempat.
Maju tiga langkah, mundur dua langkah.
"Lepaskan! Oh Sehun, apa yang kau lakukan?" Aku melihat pergelangan tanganku memerah. Aku menatapnya sambil mengerutkan dahi, "Kau menyakitiku."
Cengkeraman Sehun sangat kuat seperti ingin mematahkan tanganku.
"Hei, Oh Sehun! Aku mau dibawa kemana?"
Dia tidak menjawab, terus menarikku pergi. Aku tidak dapat melawan, terpaksa ikut dengannya. Beberapa kali aku hampir terjatuh karena diseret dan sepatuku berhak tinggi. Aku berteriak, tapi dia diam saja. Tidak ada rasa kasihan sedikit pun diwajahnya.
Sampai di ujung kolam renang, tempat yang agak jauh dari kerumunan, aku menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada orang. Aku siap mengayunkan tas tanganku ke belakang kepalanya, tapi tiba-tiba dia berhenti dan mengempaskan tanganku.
"Ada yang ingin kukatakan."
"Tidak mau dengar!"
"Kalau begitu, ayo bicara!" Dia merapatkan alisnya dan berkata dengan dingin.
"Bicara apa?" Aku menyilangkan tangan di dada.
"Pernikahan kita, batalkan saja." Sehun berkata dengan dingin, "Aku tidak mencintaimu."
Aku menatapnya di ujung mata, lalu tersenyum sinis.
Aku bukan hanya gila, bahkan mungkin sudah sakit.
Aku merasa bahwa semua pria seharusnya menyukaiku.
Oh Changmin tidak mencintaiku, bukan tidak cinta, tapi dia tidak bisa. Dia lebih tua enam belas tahun dariku. Hubunganku dengannya adalah paman dan keponakan. Lagi pula dia sudah menikah.
Oh Sehun bilang dia tidak mencintaiku. Kalau tidak mencintaiku, untuk apa setiap tahun selalu menyuruh orang mengirimkan hadiah ulang tahun yang mahal untukku. Dia hanya tidak sedang dipaksa orangtuanya dalam urusan pernikahan. Hanya ada satu kata. Angkuh.
"Tidak masalah." Aku mengembangkan senyum. "Aku pasti bisa membuatmu mencintaiku."
Setelah itu, aku menggandeng tangannya, merapatkan tubuh ke lengannya, dan bersikap manja. Aku tahu ini adalah kelemahan para pria.
"Bagaimana kalau nanti malam kita…" Tanpa rasa malu aku menggodanya dan mengembuskan napas di telinganya.
Nasi sudah menjadi periuk. Bagaimana kalau kita sekalian membuat buburnya?
Tubuh Sehun menjadi kaku. Dadanya naik turun, napasnya pun naik turun. Dia memelototi ku, mendorongku dengan kuat, lalu memalingkan wajahnya, tapi aku melihat telinganya memerah.
Ternyata, jurus ini memang ampuh.
"Byun Baekhyun, apakah kau tidak berpikir kalau yang kau lakukan ini sama sekali tidak berarti dan sangat membosankan?"
"Tidak juga." Aku tersenyum manis, menarik pelan kerah kemejanya. "Oh Sehun, kau akan menjadi calon suamiku. Aku saja tidak keberatan, kenapa kau keberatan?"
Akhirnya, Sehun mengurangi ekspresi galak di wajahnya. Aku maju selangkah, sedangkan dia mundur selangkah. Keadaan berbalik seperti aku yang sedang memaksanya.
"Cukup, Byun Baekhyun!" Dia menghardikku. "Kau yang tidak mencintaiku."
Ketahuan?!
Aku terkejut. Telingaku terasa panas. Aku hanya tersenyum untuk menutupi kecanggunganku, "Ini bukan urusanmu."
"Byun Baekhyun, lebih baik kau menyerah. Aku tidak akan bertunangan denganmu. Semua itu hanya pemikiran sepihak dari orangtua." Dia kembali mengempaskan tanganku.
"Kalau tidak bertunangan denganku, lalu dengan siapa?" Aku bertanya kepadanya seakan memaksa, "Bukankah awalnya kau bilang tidak apa-apa? Pernikahan keluarga kaya memang seperti itu, berpasangan dengan siapa pun tidak ada masalah, atau… apa kau suka orang lain?"
Sehun terkejut.
Tebakanku ternyata benar. Tubuh pria ini lebih jujur daripada mulutnya.
"Benarkah kau memiliki wanita idaman? Makanya kau tidak bisa ku kontrol lagi?"
Sepertinya dia hampir gila karena terus kupaksa. Dia mengetatkan geraham, lalu menjawabku, "Memang benar, aku sudah punya wanita idaman."
"Siapa dia?" Aku bertanya seenaknya, "Nona dari keluarga mana? Coba perkenalkan kepadaku agar bisa kulihat? Kalau mau menjadi sainganku harus lebih baik dariku. Kalau kau tidak bilang, biar kutebak."
Sambil berkata begitu, aku mengulurkan tangan menarik dasinya, dan mendekatkannya kepadaku. Gaun yang kupakai ini adalah rancangan Dior dan berbelahan dada rendah.
Prang! Terdengar sebuah pecahan gelas dan piring, membuat kami berdua terkejut dan dan mengalihkan pandangan ke arah suara itu berasal.
Tak jauh dari sana, seorang gadis berpenampilan seperti pelayan sedang jongkok sambil membersihkan pecahan kaca.
"Luhan? Xi Luhan." Akhirnya, Sehun mengatakan nama itu, lalu menjauhiku.
Xi Luhan?
Aku mengerutkan dahi. Nama aneh macam apa itu?
"Maaf Sehun, aku tidak tahu kau ada di sini. Aku tidak melihat apa-apa."
Bohong! Padahal sudah terlihat jelas.
Aku mencibir. Gadis itu langsung menundukkan kepala, "M-maaf."
Sehun menatapku dengan dingin, berjalan mendekati Xi Luhan, lalu menggenggam tangannya dan berkata dengan lembut, "Jangan diambil lagi, nanti tanganmu terluka."
Rupanya Oh Sehun juga tahu cara mengasihani seorang gadis.
Gadis itu sepertinya berumur tujuh atau delapan belas tahun. Tampangnya biasa saja, rambut sebahu yang diikat ekor kuda, boleh dibilang lumayan cantik, dan sepasang mata yang berbinar-binar. Kalau bentuk tubuhnya kurus dan tidak berisi. Dia kalah kalau dibandingkan denganku.
Mungkin aku tidak tahu melihat orang, melihat dari atas, bawah, kiri, dan kanan pun, aku tidak bisa menemukan keistimewaan gadis itu, tapi Sehun malah menganggapnya sebagai sesuatu yang harus di sayangi.
Aku menatap Sehun, lalu menatap gadis itu. Aku langsung tahu di antara mereka ada sesuatu yang tidak beres.
Hmm, affair.
Sehun tanpa sengaja menyentuh ujung kukunya. Gadis itu langsung mundur dan berkata, "Aku… aku tidak apa-apa."
Mukanya bilang tidak apa-apa, tapi tangannya masih dalam genggaman Sehun.
Aku berdeham. Luhan tersadar dan hendak menarik tangannya. Entah dia tidak menariknya dengan kuat atau Sehun yang menggengam tangannya terlalu kuat, dia tidak bisa menarik tangannya, membuatku seolah-olah ingin berteriak, "Lepaskan Cewek itu!"
Xi Luhan tersipu malu, mengangkat kepalanya, lalu menatap Sehun dan berkata dengan pelan, "Jangan seperti ini, lepaskan aku." Mata besar yang berbinar dan ekspresi tersipu itu sebenarnya mengatakan yang sebaliknya, "Jangan lepaskan aku."
Astaga! Kalau aku seorang laki-laki dan mendengar kalimat seperti itu, pasti akan luluh.
Tetapi, aku adalah perempuan yang hanya bisa menghadiahinya sebuah kata, "Manja."
Sehun seorang laki-laki, jadi dia pasti luluh. Dia hanya terdiam sambil memandangi Luhan. Mereka saling berpandangan dalam kebisuan. Di antara mereka seperti ada pancaran energi listrik yang mencapai ribuan watt sehingga membuatku bergidik.
Kedua pasangan liar ini sedang larut dalam 'dunia milik berdua' dan tidak menganggap keberadaanku—calon istrinya.
"Apa dia pacarmu?" Luhan yang menatapku sekilas lalu berkata lagi, "Dia sangat cantik."
"Bukan."
Mendengar bantahan Sehun membuatku memelotot, lalu bergegas mendekati mereka dan mendorong Luhan.
"Aku bukan pacar Sehun." Aku tersenyum manis, "Aku adalah calon Istrinya."
Gadis itu terkejut. Bagai petir di siang hari. Peribahasa itu sangat cocok menggambarkan keadaannya sekarang.
Aku menatapnya lekat-lekat dari atas sampai bawah, "Sepertinya kau kenal dengan calon suamiku. Bagaimana kalian bisa kenal?"
Luhan seperti binatang yang terluka mundur dengan perlahan, menjawab dengan terbata-bata, "Aku… aku bekerja… di hotel ini."
Gadis itu tidak bisa bicara dengan baik. Kenapa harus bertele-tele? Apa aku terlalu galak?
"Byun Baekhyun!" Sehun meneriakiku dan menarik Luhan ke belakang punggungnya.
Romantis sekali!
Tapi, bagaimana ya? Aku yang berpengalaman di kehidupan kelas atas telah di juluki Putri Keras Kepala dan Pemburu Orang Ketiga. Orang ketiga seperti apa pun akan menyerah kepadaku, dan hanya bisa berkata, "Kalau bukan jodoh, apa boleh buat."
"Rupanya siswa yang bekerja paruh waktu, ya?" Aku sengaja mempertegas kata-kata itu, "Oya, Nona Pekerja Paruh Waktu, apa sekarang adalah jam kerjamu?"
Luhan mengulum bibirnya. Dia tidak menjawab. Ternyata lebih sombong di bandingkan denganku.
"Kalau aku sedang bertanya, sebaiknya kau menjawabnya." Aku tidak sabar untuk mengulangi pertanyaanku, "Nona Pekerja Paruh Waktu, apa sekarang adalah jam kerjamu?"
"Ya." Dia mengangguk.
"Sebaiknya bekerjalah yang rajin. Kenapa malah menguping pembicaraan kami? Sekarang tarik-menarik dengan calon suamiku. Apa seperti ini sikapmu dalam bekerja?"
"Aku… aku… aku tidak sengaja."
Dia bilang tidak sengaja, sudah jelas tangannya sedang menggenggam erat ujung baju Sehun.
"Baekhyun, apa yang ingin kau katakan!" Sehun menatapku supaya aku diam.
Aku Byun Baekhyun. Kalau aku takut padanya, namaku akan ditulis dari belakang.
"Nona pekerja paruh waktu, kalau boleh tahu berapa hourly wage yang kau peroleh?"
"Ah?!" Dia bingung sambil mengerjapkan mata.
Kosakata seperti hourly wage saja dia tidak mengerti, sangat berbeda dengan diriku.
"Hourly wage. Upah perjam." Aku sengaja berbahasa Inggris, "How much are you an hour?"
Ujung mataku melihat Sehun yang perlahan mengoreksi bahasa Inggris-ku, "How much do you earn per hour?"
Bukankah sama saja. Aku mendengus lalu berkata lagi, "Yang penting sedang menanyakan jumlah gaji per jam."
"Seratus lima puluh."
"Won?"
"Hmm…"
"Kalau begitu, apa kau tahu harga baju yang sedang kau tarik itu?"
Dia menggeleng.
"Baju yang dipakai Sehun bermerak Dolce & Gabbana buatan Italia. Harganya $2.000. Kalau dalam Won harganya sekitar enam jutaan." Aku menepis tangan Luhan yang masih menarik ujung baju Sehun. "Jangan menariknya terlalu kuat. Kalau rusak, setidaknya kau harus puasa selama tiga bulan untuk mengganti baju itu."
Gadis itu terdiam. Dia menegakkan punggungnya dan tubuhnya gemetar.
"Gaun Dior yang kupakai ini adalah pesanan khusus. Tidak mahal, hanya 170.000 Won." Sambil memegang gaunku aku berjalan mendekatinya dengan tatapan dingin, seperti menembus gadis yang sedang bersembunyi di belakang punggung Sehun. "Lihatlah kami dan lihatlah dirimu. Apa kau tahu perbedaan antara kita? Nona pekerja dengan upah perjam hanya 150 Won, kau seharusnya becermin. Dengan keadaanmu sekarang, apa kau ingin menggoda calon suamiku?"
"Kau salah paham, aku tidak bermaksud begitu." Sekujur tubuhnya gemetar, "Aku tidak menyukai Sehun. Dia sangat baik. Aku tahu aku tidak pantas untuknya."
"Baguslah kalau kau tahu." Aku mengangguk puas dan tersenyum.
Bah. Saingan yang satu ini digertak sedikit saja sudah mundur. Tidak seru.
Senyum kemenangan menutupi instingku. Aku tidak sadar wajah Sehun yang 'menghitam'.
Orang-orang disekitar kami mulai berkerumun, saling berbisik dan menunggu kejadian selanjutnya.
Sama seperti peran utama pria pada sinetron atau novel romantis, Sehun membela wanita yang lemah lalu berteriak kepadaku, "Sudah cukup, Byun Baekhyun! Sudah cukup!" dia menarik tangan Luhan dan meninggalkan tempat itu, lalu mengakhiri percekcokan yang biasanya terjadi di sinetron.
"Tunggu. Aku belum selesai bicara, jangan pergi Sehun." Aku mengejar mereka. Belum sempat meneriaki mereka, tiba-tiba aku terpeleset. Seluruh tubuhku condong ke depan. Saat wajahku hendak jatuh ke tanah, aku berpikir untuk mengabaikan rasa sakit yang bakal kualami nanti. Dalam otakku, terbayang hidungku yang baru selesai operasi.
Saat ingin menarik Luhan yang lebih dekat denganku, aku malah menginjak ujung gaunku sehingga membuatku langsung terjatuh ke arah Luhan.
Tubuh kurus gadis itu tidak mampu menahan tubuhku yang jatuh tiba-tiba. Aku berteriak dan terjatuh mengenai Sehun. Sehun berbalik untuk menangkap Luhan, tapi dia malah mundur dan terpeleset.
Seperti adegan dalam film action. Di depan para penonton, kami bertiga jatuh ke kolam renang.
Huhuhu… aku tidak bisa berenang.
Saat terjatuh ke kolam, aku melihat barisan berita yang mengatakan bahwa, [Pernikahan mewah batal! Perundingan antara calon istri dan pihak ketiga berakhir tanpa solusi. Akhirnya mereka bertiga pun berkorban bersama.]
Wartawan bertanya kepada saksi mata, [Kalau boleh tahu, apakah ada pertikaian di antara mereka bertiga?]
Saksi mata berkata, [Tentu saja ada, dua wanita memperebutkan seorang pria. Mereka saling menampar dan menjambak. Luar biasa.]
Batinku, apa?
Wartawan bertanya lagi, [Bagaimana mereka bisa terjatuh ke kolam renang?"
Saksi mata menjawab, [Calon istri mendorong mereka hingga terjatuh. Ini namanya pembunuhan. Pembunuhan.]
Bicara sembarangan, batinku lagi.
Wartawan itu melaporkannya kepada publik. [Langsung dari tempat kejadian. Sekarang saya sedang bersama penerus OSH Group, Tuan Oh Sehun. Kalau boleh tahu, bagaimana pendapat anda tentang kejadian hari ini?]
Oh Sehun berkata, [Wanita iblis itu lebih baik mati saja.]
Gambaran di depanku tampak jasad seseorang yang terbaring di lantai. Wajahnya dibuat samar. Gaunnya, gaun Dior bewarna merah muda yang begitu familier bagiku.
Baiklah. Aku memang selalu berhalusinasi.
Kedua tanganku menepuk-nepuk air kolam. Walaupun air di kolam ini tidak begitu dalam, gaun malam yang terkena air ini menempel ketat di tubuhku, seperti tali yang mengikat kuat kedua kakiku. Aku meronta-ronta dalam air.
Aku hanya bisa melihat sang pangeran menggendong wanita pujaannya meninggalkanku.
Pemandangan itu sebenarnya yang kuimpikan selama ini. Bagaimana denganku?
Aku berusaha mengulurkan tanganku yang gemetar lalu berteriak, "Oh Sehun, tolong aku." Saat itu, air kolam masuk ke mulut dan hidungku. Bau kaporit pada air membuatku ingin muntah
Oh Sehun berbalik menatapku. Bibirnya yang seksi bergerak-gerak seakan tersenyum dan menertawaiku!
Aku akan mati tenggelam. Bahkan, aku membayangkan jasad seseorang bergaun Dior sedang tergeletak di pinggir kolam.
Pandanganku semakin buram, tetapi otakku masih jernih. Di antara suara riak air, aku mendengar ada sesuatu yang terjun ke dalamnya. Ternyata seseorang melompat ke dalam kolam, lalu berenang ke belakangku.
Aku merasakan lengan kuat yang menarikku melalui bawah ketiak. Aku terkejut dan berteriak dalam hati, Pria hidung belang!
Lengan kuat itu mendekap kedua payudaraku. Tidak ada orang yang pernah berbuat itu kepadaku!
Aku tersadar. Aku berteriak dan meronta-ronta. Kakiku sembarang menendang. Entah apa yang tertendang. Pria itu menahan napas sesaat. Lengannya semakin kuat mencengkeramku. Punggungku berada pada dadanya yang empuk.
"Maaf." Napas yang tidak beraturan terdengar di telingaku.
Dia sedang minta maaf!
"Kau… kau…" Saat aku membuka mulut, air kembali masuk ke mulut dan hidungku. Aku tersedak dan terus mengomel dalam hati, jangan berpikir minta maaf akan membuat semuanya menjadi beres.
"Maaf." Dia mengulanginya lagi.
Bersamaan dengan itu, aku merasakan sesuatu yang sakit di tengkuk.
Pria ini membuatku pingsan.
Akhirnya, aku tahu kenapa dia meminta maaf dua kali.
Katakan kepadaku! Apa ada orang yang ingin sekali menolong orang lain?!
.
.
.
To be continued
.
.
.
.
.
HUAA CHAPTER 2 FINISH!
CHAP 2 berakhir dengan Mamih Baek yang tenggelem wkwkw. Tapi kalian pasti tau dong ya siapa yang nolongin mamih Baek hehe…
Gimana nih kalian masuk #TimBaikHatiLuhan atau #TimSombongDanNyebelinBaekhyun ? wkwk
Aku harap cerita ini bisa menghibur kalian ya, dan please Review nya dong qaqa:V aku mau tau gimana pendapat kalian tentang cerita ini:p
And, Lopyuu, makasih yang kemarin sudah meripyuuu:*
