MY LITTLE PRINCESS

(REMAKE NOVEL "MY LITTLE PRINCESS" OLEH MACCHIATO)

.

.

.

CHAST :

BYUN BAEKHYUN

PARK CHANYEOL

OH SEHUN

XI LUHAN

Etc.

.

SUMMARY:

Byun Baekhyun bukan tipe gadis berwatak baik. Dia kaya, cantik, tapi sombong. Banyak pemuda yang mengejarnya, tetapi kehidupan cintanya tidak pernah berjalan sesuai harapannya. Dia berusaha keras mendapatkan hati tunangannya, Oh Sehun, meskipun dia sama sekali tidak menyukai pemuda itu. Namun, Oh Sehun hanya peduli pada Xi Luhan, gadis miskin yang tidak pantas untuk pemuda sekelas Oh Sehun. Segalanya menjadi semakin rumit saat Park Chanyeol, pemuda yang juga jatuh cinta pada Xi Luhan ikut ambil bagian dalam kehidupan Byun Baekhyun.

..

.

..

.

.

.

.

.

.

"Apa? kamar biasa? Aku tidak mau menginap di kamar biasa. Tidak mau, tidak sudi, dan tidak akan bersedia!" aku memegangi tengkukku. Aku tidak akan menyerah. "Aku bersedia membayar tiga kali lipat. Sekarang, aku mau kamar VIP!"

Pria itu sebenarnya mau menolongku atau malah mau membunuhku? Kenapa dia tega seperti ini.

"Nona, bukan masalah uang." Dokter muda dan lemah lembut itu menatapku serbasalah. "Semua kamar VIP sudah terisi pasien."

"Sudah terisi. Apa itu masalahku?" Tengkukku kembali berdenyut dan membuatku harus mengerutkan dahi untuk menahan rasa sakit. "Apa kau bodoh? Apa kau tidak bisa menyuruh orang yang hampir sembuh itu pindah ke kamar biasa?!"

"Tapi…"

"Tidak ada tapi-tapi, kau tahu siapa aku?"

Dia menatap data pasien yang ada di tangannya dengan serius, lalu mengangguk dan berkata, "Iya, tahu."

"Aku ini adalah…" Masih menahan rasa sakitku, aku menaikkan dagu. Walaupun sudah terluka, aku harus bersikap angkuh. Itulah sikap seorang Nona Besar.

Tetapi, sikapku 'dipatahkan' oleh perkataan dokter ini.

"Korban tenggelam yang baru saja diantarkan dari hotel W…" Dia menjelaskan secara detail waktu dan penyebabnya. "Sudah dilakukan pertolongan pertama sehingga air yang ada pada saluran pernapasan, paru-paru, dan perut telah dikeluarkan…"

Saat teringat pria yang menolongku dan pertolongan yang dilakukan pria itu di tepi kolam, aku merasa ingin mati saja.

Pria itu tanpa rasa iba menarikku seperti sedang menarik karung. Dia menarik pinggangku dari arah belakang, menahanku dengan pahanya, menekan kuat punggungku, dan membuatku mengeluarkan air. Akhirnya, aku muntah tidak keruan.

"Pertolongan pertama setelah tenggelam berhasil dilakukan. Seharusnya kau berterima kasih kepada orang yang menolongmu."

Aku terkejut. Aku memotong pembicaraan dokter muda itu. "Cukup! Cukup! Siapa kau? Pada usiamu ini, kau pasti sedang magang, ya. Aku tidak mau bicara denganmu. Panggil pimpinan tertinggi rumah sakit ini untuk bicara denganku."

"Aku Kim Joonmyeon. Kepala Dokter Chief Resident." Perkataannya membuatku terkejut, lalu menambahkan. "Saat ini, aku piket. Akulah yang berkuasa disini."

"Kalau kau pimpinan dokter di sini, pikirkan caranya agar aku bisa menginap di kamar VIP." Aku tergeletak di atas ranjang, "Kalau tidak, aku tidak akan pergi dari ruang gawat darurat ini."

"Apakah kau percaya aku tidak mau menerima pasien sepertimu?" Nada biacara dokter ini meninggi. Sepertinya dia mulai marah.

Hng! Kelihatannya saja baik, ternyata dia juga pemarah.

"Kau berani?! Aku akan menuntutmu!" Aku tidak mau kalah.

Dia malas berdebat denganku. Dia membalikkan badannya, lalu bicara dengan perawat yang ada di sana. "Miss He, panggil sanak keluarga dari nona ini."

Saat melihat Oh Changmin masuk bersamaan dengan perawat itu, aku menegakkan badanku, "Paman Changmin."

"Maafkan dia, Dokter Kim. Anak ini sudah menyusahkan anda."

"Sejak tadi dia ribut ingin menginap di kamar VIP." Dokter itu mengerutkan dahi.

"Baekhyun sejak kecil memang manja." Paman Changim menatapku sekilas, lalu menarik dokter muda itu dariku dan berbicara empat mata.

Kedua orang itu mengobrol, lalu tertawa terbahak-bahak. Bahkan, mereka saling bertukar kartu nama. Mereka mengabaikkanku sekarang.

"Baekhyun, minta maaflah kepada Dokter Kim." Seru Paman Changmin dengan nada datar.

"Kenapa aku harus minta maaf?" Aku seperti maling yang tertangkap basah. "Aku… tidak bersalah."

"Semuanya salah. Cepat minta maaf!"

"Dokter Kim, ma-maaf." Kata-kata itu sulit keluar dari mulutku. Aku berkata pelan sambil memalingkan wajahku.

"Sudahlah. Sepertinya kau tidak apa-apa. Kau bawa saja dia ke kamar pasien." Dokter Kim menepuk pundak paman Changmin lalu meninggalkan kami.

"Ke kamar VIP?"

"Ya."

Aku tersenyum lebar. "Paman Changmin memang hebat."

Tetapi, kegembiraanku tidak berlangsung lama.

Aku melihat kamar itu dengan tatapan datar. Dinding kamar ditempel dengan wallpaper berwarna merah muda bergambar Hello Kitty. Di atas ranjang, ada selimut merah muda yang juga bergambar Hello Kitty, bantal merah muda Hello Kitty, dan baju pasien yang sangat kecil saat di pakai. Apa aku terdampar di pulau anak-anak?

Di luar kamar, terdengar suara gaduh anak-anak dan perawat yang mengatakan, "Jangan berlarian di koridor rumah sakit!"

Satu demi satu suara tangisan anak menembus tembok kamarku.

"Ibu, aku tidak mau disuntik." Seorang anak berkata sambil menangis.

"Ayah, aku tidak mau minum obat." Seorang anak lainnya berkata sambil menangis.

"Aku tidak mau di rumah sakit, aku mau pulang." Seorang anak lainnya juga berkata sambil menangis.

Suara tangisan itu benar-benar menguji kesabaran orang yang mendengarnya.

"Ini kamar anak-anak?" Aku bengong.

"Ya." Paman Changmin tersenyum tanpa rasa bersalah, "Kata Dokter Kim, hanya kamar VIP ini saja yang masih tersedia. Kamar VIP Hello Kitty."

Aku terdiam.

Saat berada di lingkungan anak-anak yang ribut, aku hanya bisa berkata kepada diriku, Harus sabar, sangat sabar, amat sangat sabar.

Bagus! Aku dijaili!

"Wajahmu sangat pucat. Apa kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa." Aku menekan kedua pelipisku, lalu tertawa hambar, "Hello Kitty sangat imut, aku suka Hello Kitty."

"Baguslah, oya, beberapa hari kedepan, paman akan mengurus dokumen sekolah untukmu."

"Berkas sekolah?" Aku mengerutkan dahi.

"Semua sudah diatur. Setelah liburan, kau tidak akan kembali ke Jepang. Kau akan tinggal di Korea untuk menamatkan pendidikan SMA. Setelah bertunangan dengan Sehun, kalian akan berkuliah di luar negeri."

"Dari pernikahan ini, apa yang akan di dapatkan oleh kedua keluarga?" Aku bertanya dengan nada datar.

"Keluarga Byun akan mendapatkan modal yang tidak terbatas dan keluarga Oh akan memperoleh saham dan tanah."

"Jadi, apa ini adalah misimu?"

"Ya."

"Kedengarannya sangat murahan." Kataku. Entah sejak kapan, tangan ini memeluk bantal. Aku meremasnya kuat-kuat. Setelah bisa mengendalikan emosiku, aku mengembuskan napas dan berkata. "Baiklah, aku sudah tahu."

Saat hendak pergi, paman Changmin berkata. "Ibumu akan datang sebentar lagi."

Ibu? Ibu yang mana?! Ah, sudahlah. Aku sama sekali tidak ingin bertemu keduanya.

"Bilang kepadanya tidak perlu. Aku ingin istirahat." Aku memeluk kembali bantal yang kuremas tadi, lalu berbaring memunggunginya.

~~~MLP~~~

Beberapa hari ini, aku tidak tidur dengan baik sampai-sampai krim wajah yang biasa kupakai untuk menutupi lingkar mata yang menghitam tidak berguna lagi.

Akhirnya, aku menerapkan makeup smokey dan memerahkan bibirku. Aku memakai rok mini MSGM. Gambar bunga merah yang ada di rok mini itu membuatku memilih sepatu hak tinggi warna sepadan.

Makeup smokey, nail art hitam, dan sepatu hak tinggi berwarna merah. Aksesoris yang kupilih adalah jam tangan bergambar tengkorak. Hari ini, aku berdandan ala punk. Aku mengangkat ponsel setinggi 45 derajat, agak memiringkan kepala, dan melakukan selfie sebanyak sepuluh kali dengan pose yang berbeda, lalu meng-upload foto ke Facebook. Ayo berikan like sebanyak-banyaknya kepadaku.

Komentar pun memenuhi kolom di bawahnya. Aku tersenyum puas.

"Nona Baekhyun." Pengurus rumah tangga mengetuk pintu kamarku, "Tinggal tiga menit lagi."

Aku menatap ponsel sambil berkata,"Masih tiga menit lagi, ya."

"Tapi, Tuan muda Sehun sudah di bawah." Ya, hari ini, aku, Sehun dan Paman Changmin akan makan siang bersama.

"Biarkan dia menunggu sebentar di ruang tamu," jawabku sambil membalas komentar di Facebook.

Aku juga menghapus beberapa permintaan pertemanan yang tidak jelas. Setelah aku puas memainkan ponsel, tanpa terasa waktu telah berlalu tiga puluh menit.

"Dimana Sehun? Bukankah dia mau menjemputku?" aku merasa ditinggalkan sekaligus kesal. "Dasar pembohong."

"Paman Kim, antarkan aku kesana."

"Baik, Nona."

Paman pengurus rumah mengantarku ke sebuah restoran elite ala Prancis. Saat turun dari mobil beliau mengingatkanku agar menghubunginya untuk menjemputku kalau sudah selesai urusanku di sini.

Pengurus rumah tangga, Paman Kim, berasal dari luar kota. Setengah abad, beliau menjadi tentara. Setelah pensiun dari tentara, beliau menjadi pengurus rumah tangga di rumah ini selama dua puluh tahun. Beliau yang melihatku dewasa. Saat ayah meninggal, ibu tiriku sibuk bekerja dan ibu kandungku sibuk belanja. Pama Kim lah yang merawatku selama ini. Aku lebih akrab dengannya dibandingkan dengan orang rumah lainnya.

Aku mendekatkan wajah ke Paman Kim lalu berkata, "Baiklah, Paman. Paman sudah seperti Ayah bagi Baekhyun."

"Dengan usia seperti ini, Paman Kim bisa menjadi kakek bagi Nona."

"Aku tidak mau tahu. Aku sudah punya kakek, tapi tidak punya Ayah. Baekhyun ingin Paman Kim menjadi Ayah." Aku mengedipkan mataku.

Paman Kim tersenyum. Ujung matanya penuh kerutan. "Pergilah, Nona. Jangan biarkan Tuan Muda Keluarga Oh menunggu terlalu lama."

Melihatnya menutup pintu mobil, tiba-tiba aku merasa pilu. Paman Kim memang sudah tua.

Aku menggeleng mengusir perasaan ini, lalu menegakkan kepala dan memasuki restoran mewah itu.

Di pintu masuk restoran, seorang pelayan sudah menunggu. Dekorasi warna hitam keemasan membuatnya tampak mewah tapi tidak norak. Dilangit- langit ruangan, lampu Kristal terjuntai. Sinar lampu menerangi langit-langit restoran dan menyilaukan mataku. Beberapa lama, aku baru bisa membiasakan diri.

Restoran ala Prancis ini mengusung nama chef restoran Michelin. Semua bahan makanan langsung diimpor ke Korea. Tentu saja, harganya cukup mahal. Orang-orang yang memesan tempat di restoran pun menunggu sampai tahun depan, tapi Paman Changmin malah mendapatkannya hanya dalam waktu tiga hari. Pantas saja dia menjadi calon penerus yang ditunjuk langsung oleh presiden direktur OSH Grup.

Di ruangan VIP restoran itu, Paman Changmin dan Sehun sudah menunggu lama.

Sekarang hatiku sedang senang. Aku tidak mempermasalahkan Sehun yang ingkar janji untuk menjemputku. Aku duduk dengan manis. Kedua tanganku di atas lutut dan berkata. "Bonjour."

Sehun mendengus, tidak berekspresi dan sedang mengamati ponselnya. Dia tidak membalas sapaanku. Dia benar-benar menganggapku tidak ada.

"Baekhyun, pasti lapar." Paman Changmin membuka pembicaraan.

Sebagai gadis dari keluarga kaya, mengatur kebugaraan tubuh sama pentingnya dengan mengatur keuangan. Kalau tidak ada kecantikan, tidak akan ada kekayaan, dan akan sama saja dengan gadis biasa.

Oleh karena itu, aku sekilas melirik gambar di menu, menelan ludah, lalu mengingkari hati dan berkata, "Tidak begitu lapar."

"Tidak merasa lapar juga harus makan. Pesanlah makanan." Paman Changmin tersenyum, lalu tangannya melambai ke arah pelayan yang bersiaga. Pelayan tersebut langsung memberikannya menu. "Baekhyun, kau mau makan apa?" Paman Changmin kembali berbicara.

"Hng… aku mau steik rib eye yang dimasak sepertiga matang."

Makan bersama ini benar-benar terasa dingin. Sehun memasang wajah masam. Aku merasa tidak senang. Kami berdua pun saling mendiamkan.

Di restoran, musik yang pelan mengiringi makan bersama kami, tapi aku malah sakit kepala mendengar musik itu. Tidak hanya itu, aku menjadi tidak berselera dengan makanan yang ada di hadapanku.

"Seragam sekolah menengah St. Leon akan dikirim ke rumahmu. Seragam itu dibuat berdasarkan ukuranmu. Cobalah dulu. Kalau tidak muat…" Paman Changmin menatapku. "Baekhyun?!"

"Sekolah menengah St. Leon?!" Aku tersedak saat paman bicara, lalu membalasnya, "Bukankah jadwal penerimaan siswa disana sudah lama ditutup?"

Sekolah menengah St. Leon adalah sekolah khusus keluarga yang berkecukupan. Sekolah menegah tersebut terdiri atas tingkat SMP dan SMA. Kualitas guru disana juga bagus. Lingkungan sekolah pun sangat nyaman. Tentu saja, biaya sekolah di sana sangat mahal. Meskipun begitu, tetap saja para orangtua berminat mengeluarkan uang banyak untuk menyekolahkan putra-putri mereka di sana. Bahkan, muncul anggapan bahwa kalau siswa bisa bersekolah di St. Leon, keluarganya pasti sangat kaya.

Untuk melayani siswa-siswi dari keluarga berada ini, sekolah St. Leon menerapkan peraturan yang ketat. Orang luar tidak boleh sembarang masuk ke area sekolah, sehingga sekolah ini dijuluki 'sekolah menengah yang paling misterius'.

Tetapi kalau kau berpikir hanya karena keluargamu kaya dan kau bisa dengan mudah masuk ke sekolah ini, kau salah besar. Setiap tahun, sekolah itu menerima siswa-siswi dengan seleksi yang ketat demi mempertahankan kualitas sekolah. Calon siswa-siswi harus melewati tahap ujian masuk dan wawancara.

Walaupun IQ-ku 180, belajar bukan sesuatu yang kusukai. Dibandingkan menyuruhku belajar untuk ujian masuk sekolah, lebih baik aku meneliti fashion style yang menjadi tren bulan depan.

Lalu aku berkata, "Aku tidak ingin bersekolah yang menghasilkan kutu buku seperti itu." Sehun menatapku dengan dingin.

"Rupanya Baekhyun tidak suka sekolah St. Leon." Paman Changmin membetulkan letak kacamatanya, lalu menatapku, "Tapi kepala sekolah St. Leon telah bersedia menerimamu sebagai siswa. Tanpa ujian!"

Tanpa ujian.

Aku sedikit tergoda. Kabarnya guru pria di sekolah itu juga melewati tahap seleksi yang sangat ketat. Fisik mereka seperti model.

Aku menelan ludah. Dalam otakku sedang menggambarkan adegan khusus dewasa.

"Bagaimana?" Paman Changmin bertanya.

"Aku menolak keras masuk sekolah dengan jalan belakang seperti ini." Kataku dengan angkuh.

"Tidak mau sekolah?"

"Tidak mau."

Kabarnya, di sekolah St. Leon terdapat taman khusus untuk para pelajar dan guru. Setelah jam sekolah, para guru pria yang tampan dan memesona itu biasanya berkumpul disana sambil bercakap-cakap tentang masalah sekolah atau mereka berolahraga. Aku mengingat kembali komentar-komentar di forum cerpen yang menceritakan bahwa cinta antara guru dan siswa selalu berlatar di taman yang indah.

Aku menyentuh hidungku agar tidak mimisan.

"Setiap tahun, sekolah St. Leon selalu menjadi sekolah yang diimpikan pada survei dengan partisipan para siswa. Kalau kau menolak masuk ke sekolah itu, ini akan menjadi sejarah bahwa sekolah itu ternyata bisa ditolak oleh siswa." Paman Changmin tersenyum. "Kalau Tuan Kepala Sekolah tahu pasti dia sangat sedih."

Tuan Kepala Sekolah?

Aku mengajukan pertanyaan bodoh kepada Paman Changmin,"Kenapa Tuan kepala Sekolah sangat bermurah hati dan berharap aku sekolah di sana?"

"Paman adalah Tuan Kepala Sekolah St. Leon." Sehun menatapku sekilas, lalu menjawab pertanyaanku.

Paman Changmin adalah Kepala Sekolah St. Leon?!

Aaa… Byun Baekhyun kau menang lotre!

Aku berdeham beberapa kali, lalu berkata, "Karena Paman Changmin sudah bersusah payah, mengingat jasa ini, aku akan mencoba untuk bersekolah di sana."

~~~MLP~~~

Setelah mengantar kepergian Paman Changmin, Sehun berbalik ke arahku. Mata indah Sehun menatap ku sejenak dengan tajam. Setelah itu dia pergi meninggalkanku.

"Hei, Oh Sehun!" Aku berteriak, "Kau mau kemana?" dia tidak membutuhkan banyak waktu untuk pergi jauh karena langkahnya yang panjang. Aku memakai sepatu berhak tinggi, mengejarnya dari belakang. Beberapa kali, aku ingin melempar sepatu ini ke arahnya. Akhirnya, aku berhasil menarik ujung bajunya di suatu belokan di jalanan.

Sehun membalikkan badan, mengerutkan dahi, lalu dengan galaknya berkata, "Byun Baekhyun, apa sih maumu?"

Galak sekali. Tetapi, aku suka dengan sesuatu yang sulit. Dengan begitu, aku merasa tertantang.

Aku membalas tatapannya sambil tersenyum dan berkata. "Kau tidak tahu apa mauku?"

"Tidak tahu! Kalau kau mau memukulku atau memberi tahu orangtuaku, terserah kau! Tentang kejadian hari itu, aku tidak mau berkomentar banyak!"

Ternyata untuk melindungi Luhan. Cukup menarik!

"Aku tidak mau memukulmu dan tidak mau mengadukanmu. Aku juga tidak mau penjelasan tentang kejadian itu."

"Lalu apa maumu? Cepatlah bicara, aku tidak punya banyak waktu."

Melihat emosi Sehun yang sangat jelek, aku ingin menghadiahinya sebuah tamparan peringatan.

Aku menarik napas panjang, mengatur emosiku, spontan menggengam tangannya, lalu berkata, "Bagaimana kalau kita nonton dulu? Sepertinya ini kali pertama kita keluar hanya berdua."

Sehun melontarkan kata "gila", lalu melepaskan tanganku dan meninggalkanku.

Melihat dia akan pergi, aku tidak ingin bicara. Aku langsung memeluknya dari belakang dan membenamkan wajahku di punggungnya.

"Aku tidak salah bicara, kan? Kita hampir bertunangan. Kalau kita tidak jalan-jalan berdua, sepertinya agak aneh, kan?" aku dan dia hanya dipisahkan oleh kemejanya. Wajahku melekat di punggungnya yang agak berkeringat, membuatnya tertegun. Dia tidak langsung menjauhiku.

"Aku tidak mencintaimu." Dia menolak dengan sangat tegas.

"Kata ibuku, perasaan bisa dipupuk."

Sehun tidak membalasku. Suasana tiba-tiba sedingin kutub utara.

Pria selalu pemalu. Akhirnya, aku yang tidak tahu malu ini menyemangatinya. "Mungkin suatu saat aku akan jatuh cinta padamu."

Sepertinya aku mendengar suara gemeletuk giginya. Dia sedang menahan sesuatu. Akhirnya, dia mengembuskan napas dan berkata, "Byun Baekhyun, kau sama sekali tidak tahu cara mencintai orang."

Aku tidak tahu cara mencintai orang? Aku bingung.

Sehun tidak membalikkan badan. Dia tetap saja memunggungiku. Aku tidak melihat ekspresinya, hanya bisa berkata pada punggungnya. "Aku tidak tahu kenapa kau bisa berpikiran seperti itu. Sehun, jujur saja, aku sama sekali tidak membencimu."

Dia mengembuskan napas, "Kalau tidak ada cinta, pernikahan ini hanya sebuah taruhan. Apa kau tidak keberatan?"

Tidak ada cinta. Hanya ada uang yang mengendalikan pernikahan ini. Apa seperti ini yang kumau?

Suara ibu tiri seakan tergiang—

"Pernikahan siapa yang bukan taruhan? Pria mempertaruhkan uang dan status. Wanita mempertaruhkan masa muda dan staminanya."

"Tidak peduli harus bagaimana. Kalau bisa mendapatkan yang lebih baik, kenapa tidak?"

Aku memikirkan perkataan ibu tiri. Tanpa rasa malu, aku tetap saja setuju dengan pendapat ibu tiriku.

Aku menggeleng. Kupikir dia tidak melihatku karena aku berada dibelakangnya. Aku menjawabnya, "Aku tidak keberatan."

"Kau tidak keberatan? Apa hanya karena keluargaku kaya?" Sehun membalikkan badan, mencengkram tanganku, mendorongku kuat, lalu memojokkanku di dinding etalase di dekat kami. "Walaupun aku berlaku kasar seperti ini kepadamu?"

"Sehun, kita sedang di tempat umum, jangan seperti ini." Aku terkejut dengan gerakannya. Punggungku sakit karena dia mendorongku dengan sangat kuat. Aku berusaha meronta dan berkata, "Bicaralah baik-baik."

"Jangan bergerak!" Suaranya berubah.

Dia membungkukkan badan, memiringkan kepalanya, dan mendekati wajahku. Dengan jarak sedekat ini, aku bisa melihat dengan jelas garis bibirnya.

Aku memiringkan wajahku ke arah berlawan. Tubuh ini bergetar dan aku menahan diriku sendiri untuk mendorongnya menjauh.

Tiba-tiba daguku terangkat. Bibir yang dingin terasa menyapu bibirku dengan kasar. Saat terasa sakit, aku sadar bahwa Sehun sedang menciumku.

Ya ampun Ciuman pertama yang kujaga selama delapan belas tahun ini direnggut oleh Sehun.

Saraf otakku seperti terputus! Karena marah, tenagaku berangsur-angsur pulih. Aku meronta-ronta, melepaskan diri, lalu menamparnya dengan keras.

Plak!

Minta maaf Byun Baekhyun. Cepat minta maaf kepada Sehun.

Aku mengulum bibirku yang sakit karena ciuman kasarnya. Aku sedang berpikir apakah aku harus meminta maaf atau tidak, tapi perkataannya membuatku menelan kembali keinginanku.

"Byun Baekhyun, dengar baik baik. Aku benci kau!"

Byun Baekhyun, aku benci kau.

Aku mengangkat kepala karena terkejut. Aku menjadi kaku bagai disambar petir.

"Kau membenciku?"

"Sangat benci."

"Kenapa kau membenciku? A-aku…" Aku terbata-bata. Dalam hatiku, aku membenci diri sendiri karena begitu lemah, "Demi dirimu, aku… aku akan berubah!"

"Matamu, hidungmu, bibirmu, rambutmu, pakaianmu, semua tingkah lakumu." Dia terdiam sejenak, lalu mendorongku dan berkata, "Semua tentang dirimu. Aku membencinya!"

Aku memelotot, lalu menarik napas dalam-dalam agar emosiku tidak meledak.

Tak jauh dari sana, dari arah pintu masuk shopping mall terdengar suara kegaduhan anak-anak. Seseorang memakai kostum Hello Kitty sedang membagikan balon kepada anak-anak itu. Semua orang berkerumun, tidak ada yang memperhatikan aku dan juga Sehun yang sedang berada di sudut jalan.

Pria yang telah merebut ciuman pertamaku sekaligus yang akan menjadi calon suamiku, mengatakan bahwa dia membenci semua tentang diriku.

Apa yang telah kulakukan sehingga harus berada di lingkaran pernikahan karena bisnis? Aku juga merupakan korban. Kenapa aku bisa serendah ini?

Setiap ingin bertemu dengannya, aku selalu berusaha tampil maksimal. Aku berusaha membuat diriku tampak anggun agar sepadan saat berdiri di sampingnya. Kita bisa menjadi pasangan serasi yang membuat iri semua orang. Atas dasar apa dia membenciku?

Tidak boleh kalah! Tidak akan kalah!

Oh Sehun kau keparat! Aku, Byun Baekhyun, pasti akan membuatmu tergila-gila padaku. Aku akan membuatmu menyesal karena telah berkata seperti itu kepadaku.

Aku menggembangkan senyum yang paling sempurna, mengangkat kepala dengan angkuh, "Oh Sehun, kau dengar baik-baik! Semakin kau menolak, semakin kau terjerat didalamnya. Inilah yang dinamakan takdir!"

"Dan takdirmu," Kataku sambil tersenyum. "Adalah aku, Byun Baekhyun!"

Aku menunggu balasan darinya, tapi ternyata dia tidak marah. Matanya memancarkan suasana hati yang dingin.

Dia menatapku dalam-dalam sesaat, lalu memalingkan wajah dan pergi meninggalkanku.

Bagus sekali, meninggalkan wanita sendirian di tempat umum. Tipe pria yang keras kepala.

Setelah Sehun pergi, kemarahanku menyusut menjadi rasa malu dan sakit hati yang mencapai puncaknya seperti balon yang bocor. Amarah, rasa malu dan sakit hati perlahan mengempis. Semuanya berkecamuk menjadi satu dalam hati. Aku mengatur emosiku dan menelan semuanya, termasuk air mataku.

Aku melihat bayangannya yang hilang dikeramaian, "Itu ciuman pertamaku. Apa kau tahu, Oh Sehun?"

Kau pikir aku gadis lemah, bersembunyi di sudut jalan dan menangisi nasibku?! Tidak! Itu bukan aku!

Menangis dengan cara menyedihkan adalah ulah anak kecil berumur tiga tahun.

Aku membusungkan dada, mengangkat tas YSL, lalu dengan langkah anggun dihiasi sepatu hak tinggi warna merah aku melenggak masuk kembali ke pusat perbelanjaan dan berencana untuk belanja sepuasnya.

Beberapa anak sedang main di pintu putar depan pintu masuk mal. Mereka berteriak dengan suara nyaring, membuatku tanpa sadar memengang keningku. Dalam hati, aku berpikir anak itu tidak diajari orangtuanya. Saat menghindari mereka dengan hati-hati, tiba-tiba… blup… pahaku terciprat es krim. Oh Shit—

Aku menarik napas dan menatap ke bagian rokku. Sebuah lingkaran berwarna cokelat tercetak di rokku. Es krim yang telah meleleh perlahan-lahan menetes ke bawah mengenai kakiku. Kerucut es krim jatuh terbalik dekat kakiku.

Tanpa berpikir panjang, aku menginjak es krim itu.

"Ah, es krimku."

Pemilik es krim kaget, mengulurkan tangannya yang kotor hendak memegang kakiku. Aku terkejut dan menjerit, "Anak nakal, jangan menyentuhku!" aku menepis tangannya dengan keras hingga memerah.

"Ibu!" Si anak menangis, lalu memanggil Ibunya.

Aku kaget.

Sekelilingku menjadi heboh. Ibu-ibu mengerumuniku. Mereka saling berbisik dan menyalahkanku.

"Kau memukul anak kecil."

Aku tidak memukulnya. Hanya 'agak kuat' menepis tangannya.

"Tidak baik memukul anak kecil, lho."

Lalu kenapa? Yang membuat masalah adalah anak kecil ini. Masa aku harus bilang "Terimakasih, tidak apa-apa." Apakah harus begitu?!

"Ayo, minta maaf kepada anak kecil itu. Kalau tidak, nanti saat dia besar dia akan trauma."

Dia trauma. Bagaimana denganku? Bajuku yang mahal malah jadi korban.

Aku melihat sekelilingku. Aku menerka apa yang bisa kuberikan kepadanya agar dia tidak menangis lagi. Seorang anak perempuan yang sedang menonton keramaian, sedang memegang permen.

"Adik kecil, ini uang untuk membeli permenmu." Anak perempuan itu terdiam. Aku menunggu reaksinya, tangannya telah memegang uang kertas dan permennya telah kuambil lalu kuberikan kepada anak kecil yang menangis itu.

"Jangan menangis lagi." Aku mencoba membujuknya. "Kalau kau menangis lagi, akan kumasukkan permen ini ke pantatmu."

Bocah itu langsung berhenti menangis, memasukkan permen ke mulutnya dan segera pergi dari hadapanku.

"Aku tidak mau uang. Aku mau permen." Sekarang anak perempuan itu yang menangis. "Ibu, aku mau permen."

Hei, dengan uang itu kau bisa membeli banyak permen. Dikasih hati, malah minta jantung.

Ibu dari anak itu muncul sambil membawa belanjaannya, lalu dia mengulurkan tangannya dan memengangi tangan anaknya, "Jangan menangis, ya. Nanti ibu belikan satu lagi."

Anak perempuan itu tersedu-sedu dan berkata, "Tante itu galak sekali."

Apa?! Tante?! Aku ini kakak! KA-KAK!

Aku terdiam.

Sabar! Aku mengatakan kepada diriku sendiri. Jangan perhitungan kepada anak kecil yang tidak tahu diri. Itu hanya akan menurunkan martabatku.

Aku adalah Byun Baekhyun. Nona besar yang anggun.

Setelah kejadian itu, aku harus membersihkan bekas es krim yang menempel di pahaku. Tanganku merogoh ke dalam tas: ada ponsel, segala jenis kartu kredit, uang tunai, tapi tidak ada tisu.

Membersihkan bekas es krim dengan uang kertas tampak seperti perbuatan bodoh yang dilakukan oleh orang kaya baru untuk menunjukkan kekayaannya, tapi aku juga sempat berpikiran seperti itu.

Tiba-tiba di depanku muncul bayangan besar. Seorang berkostum Hello Kitty mengulurkan tangannya kepadaku. Tanpa melihatnya lebih lama, aku berkata, "Pergi sana! Aku tidak perlu balon."

Hello Kitty itu membuka tangannya, aku melihat ada tisu di atas tangannya. Belum sempat aku menolaknya, dia telah memberikannya kepadaku lalu pergi. Aku melihat tulisan di bungkusan tisu itu, Toko Hello Kitty sedang dibuka, semua barang sedang diskon.

Aku terkejut, ternyata tisu 'iklan'.

Karena kejadian itu, aku membatalkan niatku untuk shopping. Akhirnya, aku naik taksi dan pulang.

~~~MLP~~~

Saat ini, aku sedang berbaring di atas ranjang sambil memikirkan kata-kata Sehun.

Dia bilang dia tidak suka mataku, hidungku, mulutku, rambutku, busanaku, dan tingkah lakuku. Dia tidak suka semua tentangku.

Selain latar belakang keluarga yang tidak bisa diperbaikki, memperbaiki yang lain adalah hal yang mudah. Pria seperti Sehun suka gadis sederhana seperti Xi Luhan.

Aku menatap cermin, melihat diriku dengan dandanan yang norak, persis wanita penggoda.

Dandanan yang norak ini memang membuatku sedikit lebih tua. Pantas saja, bocah-bocah itu mengataiku "Tante!"

Karena telah mendapatkan jalan keluar, aku ceria kembali.

Karena masalah telah di selesaikan, selanjutnya penerapannya.

Esok harinya, aku pergi ke salon. Aku meminta penata rias professional untuk membuatkan gaya baru.

"Aku ingin mengubah penampilanku." Aku berpikir sejenak. "Aku ingin tampil polos dan agak seksi, ingin sederhana tapi tidak kampungan, ingin bersahaja tapi tidak ingin mengurangi image-ku sebagai nona besar."

Setelah mendengar perkataanku, penata rias itu merasa bingung.

"Bisakah lebih detail?"

Apakah seperti itu tidak cukup detail?

Aku mengeluarkan dompet LV lalu berkata, "Kalau aku puas, akan kuberikan tip yang banyak."

Mata perias itu berbinar-binar, mereka berdiskusi dulu, lalu bekerja.

Beberapa jam kemudian, aku menatap gadis yang ada di balik cermin. Sesaat, aku terlena dan bertanya kepada penata rias, "Apa ini benar-benar aku? Kenapa aku merasa bahwa ini sangat berbeda dengan penampilanku yang sebelumnya."

"Aduh… mungkin karena anda belum terbiasa. Penampilan seperti ini sangat polos dan alami. Anda benar-benar seperti gadis muda."

Aku masih berumur delapan belas tahun. Tentu saja aku masih muda, aku mengerutkan dahi.

Penata rias itu menyemprotkan cairan agar makeup di wajahku tahan lama. "Ayo, tertawa. Gadis manis ini akan tertawa."

Tertawa?

Aku menaikkan sedikit bibirku, penata rias itu berkata, "Cantik, cantik sekali! Lebih cantik dibandingkan dengan model yang ada di poster itu."

Saat membayar tagihan, penata rias bertanya, "Nona Baekhyun, kenapa kali ini anda mengubah penampilan?"

"Demi menggoda laki-laki." Aku menjawab seenaknya.

Penata rias itu terdiam.

Tanpa makan siang terlebih dahulu, aku langsung pergi ke shopping mall area baju perempuan.

"Rok berenda polkadot ini adalah rancangan yang paling di gemari sekarang. Gaun sifon dengan renda di bagian lengan ini juga sangat di gemari." Pramuniaga itu menawarkan semua yang dilihatnya.

Saat di kamar pass, aku menatap diriku yang ada di balik cermin. Kemeja sifon putih dengan rok lipat biru muda, kerah bulatnya dilingkari dengan pita. Aku ragu dan berkata, "Apa kau yakin, ini dandanan yang di sukai cowok zaman sekarang?"

"Tentu saja, cowok tidak menyukai cewek yang berdandan norak." Pramuniaga itu berkata dengan percaya diri. "Rok lipat ini memberi kesan seperti anak sekolah. Para cowok paling suka itu."

Rok lipat bewarna biru ini, kalau ditambahkan tali akan menjadi seragam anak TK. Jangan-jangan Sehun suka tipe yang kekanak-kanakan.

"Adik kecil, kalau memakai baju ini dan pergi berkencan dengan cowokmu, pasti pas sekali."

Ah, adik kecil? Aku ya?!

"Kau masih mahasiswa, kan?" Pramuniaga itu mulai bicara lagi, "Melihat kesanmu yang begitu anggun, pasti kau kuliah di Universitas terkenal."

Universitas? Aku masih siswa SMA.

Aku melihatnya dengan ujung mata dan tanganku mengepal. Karena menyadari ekspresi wajahku mulai berubah, dia segera membawakan belasan baju kepadaku, "Yang ini juga cocok untukmu, adik kecil. Ayo, cobalah."

Bagaimanapun, panggilan adik kecil membuatku senang.

"Yang ini, dan yang ini." Setelah aku selesai mencoba semua baju, aku mengeluarkan kartu kreditku.

Walaupun ada peraturan harus berumur di atas dua puluh tahun baru boleh memiliki kartu kredit utama sendiri, ibu tiriku tetap saja memberikanku kartu kelas dua. Kabarnya kartu utama adalah kartu jenis black diamond yang tidak ada batas penggunaannya. Walaupun kartu ditanganku ini jenis kelas dua, kekuatannya juga dahsyat. Tak berapa lama kemudian, dimana saat ku berjalan, ada saja pramuniaga yang selalu tersenyum dan siap melayaniku.

Aku senang dengan pepatah yang mengatakan, uang bukanlah segalanya, tetapi jika tidak ada uang, kau bukan apa-apa.

Dimanakah surga itu? Surga itu ada di tanganmu kalau kau memiliki kartu kredit unlimited, dimana saja kau berada, di situlah surga.

Saat aku berlagak sombong, orang-orang di sekitarku pun mulai bergosip. Aku merasa terganggu karenanya.

Dari ujung mataku, aku melihat si Hello Kitty yang sedang membagikan balon kepada anak-anak. Anak-anak itu mengerumuninya dengan riang dan minta berfoto bersama. Dia tidak menolaknya, lalu dia mengulurkan tangan kiri untuk menggadeng anak laki-laki dan tangan kanan menggendong anak perempuan. Si Hello Kitty memang tidak punya mulut dan tidak berekspresi, tetapi sepertinya dia sedang tersenyum dengan tulus.

Aku pasti sudah gila! Kalau tidak, kenapa aku bisa menebak orang yang sedang memakai baju boneka itu sedang tersenyum?

Tiba-tiba Hello Kitty itu mengangkat kepalanya, pandangan matanya melewati ratusan orang dan beradu pandang denganku, bersamaan dengan itu aku menatap bola mata hitamnya.

Aku berdiri terpaku di depan toko mewah itu. Suasana sekelilingku seakan sedang berhenti, aku seperti sedang terhipnotis, pelan-pelan mengembangkan senyum. Hello Kitty!

Terima kasih untuk tisunya.

[Tidak masalah] seolah-olah terdengar balasannya.

Ya ampun! Aku pasti sudah gila! Kenapa aku tersenyum kepada Hello Kitty yang tidak jelas jenis kelaminnya?

Kucing ini pasti bisa sihir. Pasti! Aku baru saja melihatnya sekali, lalu sekarang aku menjadi seperti ini!

Alur cerita macam apa ini?

Cerita romantis yang berubah menjadi cerita fiksi.

Apa aku yang berpindah dari dunia nyata ke dunia kartun?

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

.

Chap depan bakal ada moment ChanBaek ya gaes. Hiwhiw.

And, terimakasih buat yang udah ripyu di chap sebelumnya… sayang banget deh sama kalian –jarang-jarang kan kalian di bilang sayang, ngaku aja—:v

Yuk, tulis pendapat kalian tentang chap ini di kolom review:* jangan langsung di close ya wkwkwk

See you^^