MY LITTLE PRINCESS

(REMAKE NOVEL "MY LITTLE PRINCESS" OLEH MACCHIATO)

.

.

.

CHAST :

BYUN BAEKHYUN

PARK CHANYEOL

OH SEHUN

XI LUHAN

Etc.

.

SUMMARY:

Byun Baekhyun bukan tipe gadis berwatak baik. Dia kaya, cantik, tapi sombong. Banyak pemuda yang mengejarnya, tetapi kehidupan cintanya tidak pernah berjalan sesuai harapannya. Dia berusaha keras mendapatkan hati tunangannya, Oh Sehun, meskipun dia sama sekali tidak menyukai pemuda itu. Namun, Oh Sehun hanya peduli pada Xi Luhan, gadis miskin yang tidak pantas untuk pemuda sekelas Oh Sehun. Segalanya menjadi semakin rumit saat Park Chanyeol, pemuda yang juga jatuh cinta pada Xi Luhan ikut ambil bagian dalam kehidupan Byun Baekhyun.

..

.

..

.

.

.

.

.

.

Setelah habis berbelanja. Aku merasa kelaparan. Aku melihat jam di tanganku, sudah hampir jam tujuh malam. Saat berbelanja dari pagi sampai sekarang, aku belum meminum setetes air pun demi harga diri, benar-benar menyiksa diri.

"Nona Baekhyun, apakah anda mau di temani makan?" pramuniaga itu bertanya sambil tersenyum.

"Tidak perlu. Aku akan kehilangan selera makan saat melihatmu." Aku memberinya tip agar dia pergi dariku.

Akhirnya, aku mencari tempat makan sambil menenteng barang belanjaanku.

Tempat makan dipinggir jalan itu tidak cocok dengan statusku. Aku lebih baik mati kelaparan. Lalu, aku teringat ada rumah makan Jepang di sekitar area ini, lalu aku naik taksi menuju ke sana.

Sesampainya disana, aku mengerutkan dahi. Aku memotong antrean dan berdiri di depan resepsionis.

"Selamat datang." Seorang pelayan berkimono membungkukkan badan 90 derajat dan berkata, "Apakah anda sudah pesan tempat?"

"Belum." Aku menjawab dengan jujur.

Pelayan wanita itu berkata, "Maaf, kami tidak menerima tamu yang belum pesan tempat terlebih dahulu. Mungkin anda bisa kembali lain kali."

"Apa kau tahu siapa aku? Aku adalah putri pemilik Byun Group." Aku menjawabnya dengan kesal.

"Maaf, restoran kami menyajikan makanan bermutu tinggi dan pelayanan kelas satu sehingga mengharuskan setiap tamu untuk memesan tempat terlebih dahulu." Pelayan itu meminta maaf dengan membungkukkan badan. "Mohon pengertian anda."

"Aku mau makan disini berarti aku mengangap restoranmu termasuk lumayan. Sekarang kau menyuruhku untuk datang lain kali?!" aku menatapnya, lalu berkata lagi. "Suruh manager restoran ini menemuiku."

"Sekalipun pemilik dari Wei Wei Group, Nona Seohyun harus pesan tempat dulu kalau mau datang ke restoran ini. Kau pikir siapa dirimu?" seorang wanita dengan baju tanpa lengan dan belahan dada rendah berkacak pinggang sambil menatapku. Rambutnya yang bewarna cokelat membuatnya tampak seperti anjing pudel. "Restoran mewah ini memang begitu prosedurnya. Apa kau tidak mengerti?"

"Aku hanya mengerti perkataan manusia." Aku tertawa dengan riang. "Yang lain hanyalah gonggongan anjing."

"Kau… kau memang gila." Wanita itu menghentakkan kakinya.

"Sudahlah. Aku tidak jadi makan. Aku tidak mau makan di tempat rendahan seperti ini."

Harus kemana lagi mencari tempat makan? Apa pulang saja?

Lupakan.

Hari ini malam minggu, Nyonya Jung dan temannya pasti tidak ada di rumah dan ibu tiri telah menganggap rumah mewah itu seperti hotel, hanya tinggal selama sepuluh hari atau setengah bulan, setelah itu dia kembali pergi.

Satu-satunya orang yang memperhatikanku hanyalah Paman Kim. Tetapi, pagi ini beliau sakit lambung. Sebenarnya beliau tidak ingin berobat kerumah sakit, tapi aku berhasil membujuknya. Kalau pulang sekarang dan beliau tahu aku belum makan, pasti beliau akan khawatir dan sibuk memasak untukku. Beliau pasti tidak bisa beristirahat.

Aku duduk termenung di starbucks sambil memegang segelas kopi dingin. Tiba-tiba ponsel ku bergetar.

[Nona.] Paman Kim memanggil di ujung telepon.

"Paman Kim, apa sudah membaik? Bagaimana dengan lambung paman? Apa masih sakit?"

[Tidak apa-apa ini hanyalah penyakit lama.] Paman Kim tertawa kecil, [Oya, Nona, Apa sudah makan? Nona mau makan apa? Pulanglah, paman akan buatkan makanan untukmu.]

"Sedang makan."

[Benarkah? Jangan bohongi paman, ya. Anak gadis itu harus makan banyak agar tampak lebih berisi.]

"Iya, Paman."

[Setelah makan, apa mau dijemput?]

"Tidak perlu. Sehun bilang dia akan mengantarkanku pulang. Paman tidak perlu khawatir."

[Begitu ya. Jangan pulang terlalu malam. Seorang gadis tidak boleh berduaan terlalu lama dengan pemuda. Walaupun kalian akan bertunangan, tetap saja tidak boleh. Pemuda itu berdarah panas. Jangan bilang Paman Kim kolot. Nona sangat berharga, tidak boleh kena masalah. Kalau terjadi apa-apa dengan Nona paman akan merasa sedih.]

"Ah… paman mulai lagi. Aku mau tutup telepon, ya."

[Tunggu, Nona." Paman Kim teringat sesuatu, lalu dia berkata untuk mengingatkanku. [Harus makan makanan yang hangat. Tidak boleh hanya minum kopi dingin dan itu sudah dianggap sebagai makan malam.]

Aku melihat segelas kopi dingin di genggamanku. Lalu tertawa hambar, "Baiklah, aku akan makan."

Aku berkata kepada Paman Kim bahwa hari ini aku menginap di rumah Nyonya Jung. Calon suamiku akan mengantar dengan selamat sampai tujuan. Aku juga menyuruh paman untuk tidak menunggu kepulanganku. Setelah itu, aku menutup telepon.

Byun Baekhyun, kalau kau terus memupuk kemampuan berbohongmu, kau bisa menjadi seorang artis.

Aku memanggil taksi, lalu masuk dan duduk di kursi belakang. Sopir taksi bertanya tujuanku. Aku menjadi kooperatif dan berkata, "Carikan tempat makan yang bersih." Aku pun menambahkan, "Makanannya harus enak. Suasananya harus nyaman dan tidak berisik."

Sopir taksi itu menatapku dari kaca depan dengan pandangan 'ya ampun, aku bertemu dengan orang gila'. Beliau pun mengantarkan ku ke restoran shabu-shabu di sekitar shopping mall.

"Ambil saja kembaliannya." Kemudian, aku keluar dari taksi sambil menenteng barang belanjaan. Aku berjalan mendekati restoran itu dan langsung di sambut oleh seorang pelayan wanita. "Selamat datang. Apakah anda sendiri?"

Aku menatapnya lekat-lekat. Pelayan wanita itu menyentuh hidungnya, lalu berkata. "Apakah anda datang berdua?"

Aku membalikkan badan dan melihat ke belakang, tidak ada siapa-siapa.

Aku tidak menghiraukannya, langsung mencari tempat dekat jendela, lalu mulai melihat menu makanan. Semakin dilihat, wajahku semakin muram.

Semua menu itu adalah menu couple, sedang menghina diriku yang sedang sendirian?

"Nona, apakah untuk porsi dua orang?"

"Kau lihat sendiri, sekarang seorang atau dua orang?"

Aku mengalihkan pandanganku dari menu ke gadis itu, melihat pelayan wanita dengan rambut berponi dan kuncir kuda. Wajahnya yang imut sepertinya pernah kulihat. Jangan-jangan dia adalah…

"Apa kita saling kenal?" Aku mengangkat alisku.

"T-tidak, tidak kenal." Dia menundukkan kepala, menatapku dari balik poninya.

Aku hanya mendengus sekilas dan tidak memedulikannya sambil membolak-balik menu lalu berkata, "Apa menu andalan di restoran ini?"

"Menu andalan di restoran kami adalah shabu-shabu ala Mongolia. Supnya pedas dan terasa ada ramuan herbal. Selain itu, ada shabu-shabu seafood. Supnya dengan acar daging dan seafood." Nadanya datar seperti sedang membaca.

"Kenapa semuanya shabu-shabu couple." Aku berteriak.

Luhan yang sedang memegang menu tampak gemetaran dan berkata, "Maaf. Restoran ini memang menyediakan porsi shabu-shabu untuk dua orang." Tubuhnya gemetar.

Aku bersumpah, sebenarnya aku tidak ingin menyusahkannya. Tetapi karena dia dilindungi Sehun dengan segala cara, kalau aku tidak galak kepadanya sama saja membuatku tidak berwibawa di hadapannya.

"Aku ingin makan untuk porsi satu orang. Apa itu tidak bisa?"

"Maaf." Nada suaranya seperti tidak ikhlas.

"Aku hanya seorang diri. Kau menyuruhku memesan porsi makanan untuk dua orang. Apa kau mau membayar sisanya?"

"Maaf. Anda tetap harus membayar harga penuh."

"Kalau begitu, kenapa harus membayar untuk porsi dua orang kalau aku hanya seorang diri?" Aku terus memaksanya.

"Maaf." Xi Luhan melihat sekeliling restoran. Sepertinya dia sedang mencari penyelamat.

Di ujung restoran, segerombolan siswa sedang bersiut. Setelah beberapa kali, akhirnya muncul seorang penyelamat.

Penyelamat Cinderella itu adalah pemuda gemuk pendek dengan model rambut batok kelapa. Dia pun berkata, "Maaf. Restoran ini hanya menjual shabu-shabu couple. Kalau hanya satu orang yang makan, tetap harus membayar untuk porsi dua orang. Kalau Nona tidak ingin membayar, mungkin anda makan di tempat lain saja." Pemuda gemuk itu membetulkan letak kacamatanya dan menarik Luhan ke belakang punggungnya.

"Aku bukan tidak sanggup membayar untuk shabu-shabu couple. Kalau aku mau, aku bisa memesan seluruh makanan di restoran ini." Aku berkata dengan dingin. "Tapi, kalian memaksakan tamu yang datang sendirian untuk membayar double. Itu tidak bisa diterima. Aku tidak suka dengan hal yang tidak bisa diterima. Aku mau menuntut kalian!"

"Kami hanya siswa pekerja paruh waktu. Tolong, jangan persulit kami." Pemuda gemuk itu mundur beberapa langkah.

Aku mendengus, "Sekarang, siapa yang mempersulit siapa?"

Seorang pria paruh baya muncul dari dapur, lalu menggengam tanganku, "Kalau tidak ingin dipersulit, jangan makan disini. Restoran ini tidak ingin memiliki tamu seperti dirimu."

Aku menghindarinya, lalu berkata. "Apa seperti ini pelayanan restoran untuk tamu sekarang?" aku tersenyum sinis. "Jangan menyentuhku. Kalau kau menyentuhku, aku akan menuntutmu melakukan pelecehan terhadapku."

"Kakak, jangan gegabah. Kita tidak bisa melawan perempuan ini." Luhan menarik pria paruh baya itu dan menggelengkan kepala kepadanya, lalu membisikkan sesuatu. Pasti sesuatu yang buruk tentang diriku. Pria paruh baya itu menepuk-nepuk bahunya dan menatap tajam kepadaku, lalu balik ke dapur.

Sepertinya penyelamat Cinderella sangat banyak.

Setelah pria paruh baya itu pergi, Luhan berkata kepadaku, "Byun Baekhyun, jangan keterlaluan. Pelayan juga punya harga diri."

"Akhirnya kau ingat aku, lumayan juga." Aku menatap papan nama di seragamnya. "Namamu Xi Luhan, kan? Ternyata kau juga bekerja disini, kenapa? Gaji di Hotel W tidak cukup? Nanti kusuruh Sehun untuk menaikkan gajimu."

"Aku memang orang miskin. Aku perlu beberapa pekerjaan untuk menghidupi keluargaku. Tidak ada waktu bermain dengan nona besar seperti dirimu." Wajahnya yang pucat tiba-tiba memerah. Dia mengepalkan tangannya sambil menatap lurus kepadaku. "Nona Besar Baekhyun, sebaiknya kau dengar baik-baik. Sehun yang datang mencariku, bukan aku yang mencarinya. Daripada kau memarahiku, lebih baik kau urus calon suamimu itu!"

Sehun yang mencari Luhan?

Aku terkejut. Tidak disangka Sehun suka dengan gadis yang seperti ini. Berarti aku sudah salah paham dengan Luhan?!

"Kau pikir aku akan percaya padamu. Mana mungkin penerus OSH Grup tertarik dengan gadis miskin seperti dirimu." Aku berkacak pinggang. "Mana buktinya?"

"Bukti apa?"

"Itu urusanmu. Kalau tidak ada bukti, aku tidak akan percaya!"

"Byun Baekhyun, kau… Apa maumu?" Luhan ketakutan karena para penyelamatnya pergi. Dia menggigit bibirnya. "Aku sudah berhenti dari Hotel W. Apa lagi yang harus kulakukan agar kau mau melepaskanku?"

"Aku ingin kau bersumpah untuk tidak berhubungan lagi dengan calon suamiku!"

"Hah?" Karena tercengang, mulut Luhan ternganga. "A-aku…"

"Kenapa tidak berani bersumpah? Kalian memang memiliki hubungan khusus, kan." Aku mengamuk. "Apa kau masih memikirkan cara untuk menggoda calon suamiku?"

"Tidak, aku tidak…" Air mata menetes dari ujung matanya, "Jangan berkata kasar seperti itu. Aku tidak menggoda calon suamimu."

Aku belum berkata lebih kasar lagi!

Sikapnya yang lemah lembut itu membuatku naik darah. Aku meneriakinya lagi, "Kalau kau memang tidak bermaksud seperti itu, mulai sekarang lebih baik kau menghilang dari dunia kami!"

"Baekhyun, kau memang keterlaluan." Akhirnya, Luhan menangis.

Menangis? Apa secepat itu dia menangis?

Apa aku memang keterlaluan?

Rasa bersalahku hanya bertahan beberapa detik. Aku terkejut karena air tiba-tiba tersiram ke tubuhku. Aku melihat orang yang menyiramku. Dia sedang menggenggam erat sebuah gelas, jari tangannya yang menggenggam terlalu erat tampak pucat.

Ternyata, Sehun begitu membenciku.

"Ayo kita pergi." Tanpa memedulikanku, dia menarik Luhan pergi.

Adegan wanita kaya yang bertemu dengan gadis miskin, lalu muncul pemeran pria yang menyiram si wanita kaya, akhirnya adengan ini selesai.

Kalau aku Luhan yang menyaksikan adegan ini, aku pasti senang hingga terbang ke angkasa.

Tetapi, aku bukan Cinderella Luhan. Aku gadis kaya Byun Baekhyun, gadis kaya yang di benci dan ditinggalkan oleh pemeran pria. Gadis yang menyebalkan, Byun Baekhyun.

Dari jendela restoran yang lebar, aku melihat mobil keluarga Oh sedang menunggu di tepi jalan. Sopir membukakan pintu untuk keduanya, Sehun yang masuk ke mobil masih menggenggam erat tangan Luhan. Saat mobil mulai jalan, Luhan pelan-pelan mengembangkan senyumnya sambil melihatku, seolah-olah pamer dan menyombongkan dirinya yang sekarang mendapat perlindungan.

Memamerkan kemenangan Cinderella!

Setelah semua yang terjadi, aku berdiri mematung. Entah berapa lama pendingin ruangan mengeringkan rambutku. Mataku terasa perih, dua tetes air mata mengalir. Aku mengambil sapu tangan Anna Sui untuk menyekanya hingga tidak meninggalkan jejak.

Pulasan eyeliner masih utuh, kan? Aku segera mengambil kaca Coach, memeriksa makeup yang luntur atau masih utuh.

Pemuda pendek gemuk pekerja paruh waktu itu masih di tempatnya dan berkata kepadaku, "Nona, apa masih mau makan shabu-shabu?"

Ya ampun, aku kan datang untuk makan.

"Saat berjalan seharian, aku belum makan apa-apa." Aku memasukkan kaca dan saputangan ke tas, lalu mengelus lenganku yang kedinginan. Aku tidak mampu berjalan ke tempat lain, makan di sini saja.

"Untuk porsi berapa orang, ya?"

Aku menatap pelayan itu. Aku merasa semua orang di restoran itu seperti sengaja mengulang pertanyaan.

Pemeran pria dan wanita telah pergi. Aku tidak perlu lagi berlaku antagonis. Aku memaksakan sebuah senyuman dan berkata, "Aku akan mengajak temanku makan bersama. Apa boleh?"

Pandanganku tertuju keluar. Sosok orang yang mengenakan kostum Hello Kitty yang sedang menyandang ranselnya tiba-tiba muncul di hadapanku. Bukankah ini jodoh?

"Sebentar, ya. Temanku datang." Aku segera berlari keluar dan menghampiri si Hello Kitty.

Sepuluh menit kemudian, di dalam restoran sudah ada seorang gadis dan sesosok boneka yang duduk berseberangan tanpa bicara satu sama lain.

"Hello Kitty—" Aku menopang dagu dan menahannya di meja.

Hello Kitty yang hidup. Sekarang, salah satu karakter kartun yang terkenal di dunia sedang duduk di hadapanku untuk makan shabu-shabu bersama.

"Ini adalah temanku. Tidak perlu di perkenalkan lagi, kan?" aku memanggil pelayan dan meminta membawanya sepoci teh hangat yang baru untukku. Aku meminum seteguk tes kualitas rendah ini.

Aku mengerutkan dahi, lalu meletakkan gelas di meja dan mengambil menu.

Semoga saja makanan di restoran ini tidak seperti pelayanannya yang memuakkan. Kalau tidak, akan kutuntut restoran ini.

"Aku ingin pesan shabu-shabu seafood, daging sapi, dan kepiting impor dari Jepang. Aku juga mau ini. Cepatlah! aku sangat lapar."

Pemuda gemuk pendek itu menatapku tidak percaya. Setelah mengambil menunya, dia langsung pergi.

Aku tersenyum kepada teman baruku dan berkata, "Kitty, bolehkah aku berfoto denganmu?"

Hello Kitty menggeleng dan berkata, "Setelah berfoto, apa aku boleh pergi?" suara itu muncul dari dalam kostum, sepertinya sedang kesal.

"Oo… tentu saja, tentu saja…" Tidak Boleh.

Satu tanganku mengambil ranselnya, dan satunya lagi mengambil ponsel untuk berfoto. "Kau harus lebih dekat. Kalau tidak, kau tidak akan kelihatan."

Hello Kitty itu sepertinya tidak begitu rela menyodorkan wajahnya mendekatiku. Aku memajukkan bibirku, "Satu, dua, tiga, say cheese…"

"Tolong kembalikan ranselku." Setelah berfoto, dia meminta ranselnya.

"Kenapa?" Aku memeriksa ranselnya. Di dalamnya ada dompet, ponsel, dan baju laki-laki. Mungkin ini baju gantinya.

Tiba-tiba, aku ingin mempermainkannya. Aku menduduki ranselnya, menyibak rambutku, mengerjapkan mata dan berkata dengan suara centil yang aku sendiri merasa mau muntah mendengarnya, "Aku telah memesan shabu-shabu couple. Kalau makan sendiri, akan mubadzir. Kitty, temani aku makan, ya."

Boneka Hello Kitty itu memalingkan wajahnya. Bahasa tubuhnya menunjukkan dia sedang malu.

"Aku perhatikan kau berdiri seharian di mal membagikan balon dan tisu. Kau pasti belum makan, kan? Bahkan, aku telah menyuruhmu masuk." Sebenarnya aku mengambil ranselnya agar dia ikut masuk ke restoran. "Aku mentraktirmu sebagai tanda terima kasih karena telah memberiku tisu."

Sebuah tisu di balas dengan traktir makan. Aku memang sangat royal.

Akhirnya, shabu-shabu di hidangkan. Sebuah wadah pelat memisahkan panci menjadi dua bagian, menyajikan sup putih dan sup merah. Dengan api sedang, sup itu mendidih. Wanginya langsung menyeruak. Aku melihat leher Kitty bergerak-gerak.

"Apa kau ingin menambah menu tahu atau darah bebek? Atau nasi putih? Atau mi?" aku bertanya sambil tersenyum.

"Tidak perlu." Dia memalingkan wajahnya, menatap jendela. Hati dan mulut tidak sejalan, sangat manis.

Aku berbalik dan berkata kepada pelayan laki-laki itu. "Tolong tambahkan seporsi tahu, seporsi darah bebek, dan semangkok nasi."

"Kitty, kalau kau terus memakai kostum itu, kau tidak akan bisa makan." Aku merengut kepadanya.

Si Hello Kitty melepaskan kostum tangan dan kostum kepala dan meletakkan di samping kursi, "Jangan panggil aku Kitty."

"Kitty." Aku tersenyum, lalu memakan sepotong darah bebek. "Ini enak sekali. Kau juga harus makan." Aku menyodorkan satu suapan kepadanya.

Darah bebek yang agak pedas membuatnya terbatuk-batuk. Wajahnya memerah. Dia menundukkan kepalanya sambil memakan nasi putih.

Ternyata yang memakai kostum Hello Kitty adalah pemuda yang menggemaskan.

Byun Baekhyun, kau memang hebat.

Pemuda yang ada di depanku umurnya kira-kira tujuh belas atau delapan belas tahun. Alisnya tebal. Di sebelah pipi kiri, ada lesung pipi. Hidungnya mancung. Telinganya sedikit lebar, terkesan lucu. Bibirnya tebal dengan bentuk yang indah. Bibir atas lebih tipis daripada bibir bawah. Ujung bibirnya terangkat naik seperti sedang tersenyum. Ini adalah wajah yang bisa menggoda orang.

Otakku terlintas satu kata, G-A-N-T-E-N-G

Merasa di perhatikkan, si Kitty mengangkat wajahnya dan memelototiku seolah-olah bertanya, "Lihat apa kau?"

Di pelototi seperti itu, membuat jantungku berdegup kencang. Sekarang wajahku pasti bersemu merah. Untuk mengalihkannya, aku berkata. "Lihat apa kau? Makanlah."

Alisnya terangkat. "Bukannya kau yang lebih dulu memelototiku?"

Ketahuan!

Aku berdeham. "Jangan makan nasi putih saja…" Aku mengambil beberapa potong daging, fillet ikan, dan beberapa sayur shabu-shabu lalu aku taruh di mangkok nasinya. "Karena kita makan shabu-shabu couple, di temani sup merah baru asyik."

Si Kitty itu tidak hentinya mengembuskan napas. "Pedas." Bibirnya memerah. Dia terlihat semakin manis.

"Enak, kan. Nah, Kepiting jumbo ini untukmu." Aku mengambil seekor kepiting jumbo yang berminyak dan meletakannya di piring, lalu menyodorkannya ke hadapannya dan berkata, "Membuang makanan adalah tindakan tercela. Jadi kau harus menghabiskannya."

Si Kitty yang terus-menerus makan akhirnya bertanya, "Kenapa kau tidak makan?"

"Ini bagianku." Aku mengambil fillet ikan dari sup putih, mengembuskan uapnya, lalu memasukannya ke mulutku dan berkata, "Hm… tidak pedas."

"Kalau beli satu sake ini, gratis satu lagi. Apa anda berdua mau mencobanya?" salah satu pelayan wanita mempromosikan sake sambil mendorong kereta sake itu.

Pemuda yang ada di depanku ini sangat manis. Aku takut kalau aku mabuk akan sembarangan 'menyentuhnya'. Jadi, aku menolak tawaran pelayan wanita itu , tapi si Kitty malah menantangku, "Apa kau berani meminum sake?"

"Berani." Aku mengulum senyum. Kau ingin membuatku mabuk, lalu melarikan diri dari ku, ya? Tidak semudah itu.

Sup shabu-shabu membuat tubuhku terasa panas dan mengeluarkan keringat. Tetapi, seteguk sake dingin membuat lambungku merasa nyaman. Setelah menghabiskan dua botol sake, dan ditambah lagi dua botol, kemudian aku terus minum hingga tidak tahu lagi telah menghabiskan berapa botol sake.

"Maaf. Aku mau ke toilet sebentar." Aku menyeka bibirku dengan tisu basah. Sikap anggun hanya sampai di pintu toilet. Setelah di toilet, aku memutahkan semuanya. Kemudian, aku kembali ke tempat duduk tadi. Saat itu, si Kitty itu sudah tidak ada, dan tentu saja ransel hitamnya sudah menghilang.

"Pergi begitu saja tanpa permisi. Sangat tidak sopan." Aku bergumam, lalu mengangkat barang belanjaanku. Saat hendak membayar tagihan, aku tidak melihat bill-nya di meja.

Saat aku mencarinya di meja dan hendak membalikkan meja kerena tidak dapat menemukan bill tagihan, pelayan laki-laki itu buru-buru berkata. "Hello Kitty itu… uh, maksudku teman anda sudah membayarnya."

"Begitu, ya. Tapi aku yang traktir." Aku terhuyung-huyung saat melihat keluar jendela, tampak kepala kucing yang ku kenal.

Karena terburu-buru aku langsung menerjang keluar.

Tidak tahu nama dan membiarkannya pergi sama saja melepaskan ikan besar kembali ke laut. Kalau dia menghilang, tidak mungkin aku pergi ke kantor polisi dan mengatakan aku ingin mencari Hello Kitty. Aku akan dianggap gila.

"Hei, Kitty. Jangan lari, tunggu aku!" Aku berteriak kepadanya yang berdiri di seberang jalan. Suasana sangat ramai, mobil-mobil berseliweran.

Dia yang belum melepaskan kostum Hello Kitty, memalingkan wajah dan terkejut melihatku, lalu dia berjalan lagi. Aku terus menatap rambu lalu lintas untuk pejalan kaki. Kapan lampu merah itu berubah menjadi hijau, sepuluh detik lagi? Aku tidak sabar. Aku menerobos, dan akhirnya aku mengejarnya sampai di halte bus.

"Be-berhenti!" Napasku tersengal-sengal. Aku membungkuk sampai kedua tanganku memegang lutut.

"Kau mau mati, ya?!" Pemuda itu marah.

"Kalau tidak begini, kau pasti sudah kabur." Aku lebih marah lagi.

"Apa kau punya masalah?" Nadanya malah seolah-olah bertanya, "Apa kau sakit?"

"Aku ingin mengembalikkan uangmu." Kataku dengan tulus. "Aku tidak suka berhutang kepada orang lain."

"Aku juga tidak pernah mau di bayari makanan oleh cewek." Nadanya menjadi tinggi.

Saat kami berdua berdebat, sebuah bus berhenti persis di depan kami. Orang-orang yang telah menunggu di halte, menyerbu ke dalam bus. Kami terpisah beberapa meter. Aku pun memaksakan diri untuk masuk ke sana dan berdiri di belakangnya. Beberapa orang di belakangnku pun mengeluh. "Hei, Nona. Jangan menyerobot, dong."

Bukan aku yang menyerobot. Apa kalian tidak lihat di depanku ada boneka raksasa Hello Kitty?

Aku menatap mereka dengan dingin, dan akhirnya mereka terdiam.

Aku mengangkat daguku, Lalu lanjut masuk ke bus. Barang belanjaanku yang besar membuatku tersangkut antara tempat duduk sopir dan pintu naik ke dalam bus. Aku tidak bisa bergerak. Tanganku memegang sandaran kursi. Aku melihat si Kitty bersusah payah menggapai tempat duduk paling belakang. Saat aku melangkah, sopir bus berteriak, "Hei, Nona. Kau belum menggesek kartumu."

Gesek kartu?

Aku bingung. Aku melihatnya menunjuk ke sebuah mesin yang berada tidak jauh dari tempat duduk sopir.

Aku membulatkan bibir, lalu mengambil sebuah kartu dan meletakkannya di depan mesin untuk di pindai, tapi mesin mengeluarkan suara yang membuatku malu, "Gesek kartu gagal."

Setelah mengganti beberapa kartu, hasilnya sama. Akhirnya kesabaranku habis, "Hei, Pak Sopir. Mesin ini sudah rusak!"

"Kau menggesek dengan kartu apa? Kartu kredit?" sopir itu menatapku dan bertanya, "Apa kau tidak pernah naik bus? Kartu khusus untuk bus."

Ditanya seperti itu, aku jadi mengingat-ingat. Sejak kecil hingga sekarang, aku tidak pernah naik angkutan umum. Begitu juga saat aku berada d Jepang. Walaupun di Jepang ada trem, bus, dan MRT, nona besar sepertiku keluar masuk selalu di antar mobil mewah oleh supir pribadi, tentu saja, aku tidak pernah naik angkutan umum seperti ini.

"Siapa yang tidak pernah naik angkutan umum? Tentu saja aku pernah naik angkutan umum." Aku tertawa sambil mengibaskan rambutku, "Tapi, apa itu kartu khusus bus? Kartu itu bahkan lebih hebat dari kartu diamond gold milikku."

Wajah sopir itu langsung berubah. "Ya, sudah. Bayar pakai uang receh saja." Dia menunjuk ke kotak transparan. Di kotak itu, tertulis 'silahkan masukkan uang receh'. Didalamnya juga sudah ada beberapa uang receh.

Lampu di dalam bus remang-remang. Aku lumayan lama merogoh dompetku, dan akhirnya aku mengambil sebuah uang ribuan.

"Apa seribu cukup?"

Sopir itu hanya mengerling seakan menunjuk baris kalimat kecil di atas kotak trasnparan itu, "Maaf tidak ada kembalian."

"Tidak masalah. Yang penting uangnya cukup. Tidak perlu kembalian." Uang kembalian hanya seharga segelas tes. Aku tidak akan keberatan.

Saat aku memasukkan uang kertas ke dalam kotak, tiba-tiba pergelangan tanganku dicegat seseorang. Aku berteriak kesakitan, uang ribuan itu melayang, lalu terdengar suara beberapa uang receh masuk ke kotak.

"Uangmu kebanyakan." Entah sejak kapan, si Kitty berada di belakangku. Suara di dalamnya terkesan dingin.

"Kau tahu, ya." Aku sebenarnya ingin terlihat low profile, ternyata tidak bisa.

Hello Kitty itu hanya diam. Karena dia memakai kepala kostum Hello Kitty, aku tidak bisa melihat ekspresinya.

Akhirnya, bus pun berjalan. Aku tetap tidak lupa tujuanku naik bus adalah untuk mengembalikan uang kepada Hello Kitty. Aku adalah nona besar dan tidak biasa di traktir oleh orang lain, rasanya seperti berhutang kepada seseorang.

"Mentraktirmu bukan masalah besar bagiku. Sementara, kau yang bekerja memakai kostum ini dan membagikan brosur, berapa lama harus bekerja agar bisa mendapatkan uang sebanyak itu?" aku teringat kata-kata Luhan saat bekerjadi Hotel W. Selama satu jam, dia baru mengumpulkan uang sebesar 150 won. Dia bekerja keras dan harus menahan amarah saat bertemu tamu yang keras kepala sepertiku. Aku merasa sedikit malu.

"…"

"Kitty, anak muda yang punya prinsip itu hal yang bagus. Tapi, prinsip itu tidak bisa di makan." Hari ini, aku sangat berbaik hati, "Kalau aku bilang mau mentraktirmu, biarkan aku yang mentraktirmu. Jangan menolak uangku ini."

"Tidak perlu." Dia menjawab dengan dingin, "Dan jangan panggil aku Kitty."

Aku tidak memedulikkan kata terakhirnya. Pemuda biasanya menjaga gengsinya. Lalu, aku berkata dengan penuh perhatian, "Kalau kau merasa di traktir cewek itu memalukan, anggap saja kau sedang menemaniku makan dan aku membayarmu."

Eh… salah. Kata-kata itu seperti menggangapnya sebagai… aku berpikir sejenak. Beberapa lama, aku tidak bisa mencari kata-kata selanjutnya. Aku berpikir, kenapa pemuda ini sangat plinplan? Dikasih uang, dia tidak mau. Ditraktir, dia tidak mau. Dia sangat sulit dihadapi.

Semakin dipikir, aku semakin marah. Akhirnya, aku mengulurkan tanganku dan sembarangan menggerayangi tubuhnya. Dia terkejut dan berkata, "Sedang apa kau?"

"Ini uang untukmu." Aku meliriknya, "Kalau tidak mau menerimanya, akan ku masukkan ke kantongmu."

"Sudah kubilang tidak usah!"

"Tidak mau. Aku bilang tidak boleh." Byun Baekhyun, selain suka barang-barang bermerek juga suka memaksakan sesuatu. Sekali aku memutuskan, harus dilaksanakan sampai tuntas.

Saat dia meronta-ronta, akhirnya aku berhasil memasukkan tanganku ke kostum bonekanya. Aku meraba-raba dan merasakan sesuatu seperti kantong. Langsung saja kumasukkan uang itu ke dalamnya.

Tiba-tiba, punggung pemuda itu menjadi tegak.

Sesuatu yang lembut dan hangat. Sekarang menjadi keras, lalu bergerak-gerak.

Apa yang sedang kupegang ini?

Tiba-tiba wajahku memerah. Walaupun dilapisi bahan tipis, benda yang terpegang olehku itu benar-benar nyata, mengingatkanku bahwa boneka Hello Kitty juga memiliki jenis kelamin.

"Sebenarnya, aku sangat penasaran. Dengan memakai kostum boneka yang berat ini, bagaimana kau buang air di toilet?" Ekspresiku tenang dan berkata dengan nada datar, "Rupanya ada di sini."

"Singkirkan… tangan… kotormu itu." Suaranya muncul seolah-olah dari giginya yang terkatup, "Sekarang, segera menyingkir!" Teriaknya.

"Iya… iya."

Karena diteriaki, aku menjadi kikuk. Aku melihat sekelilingku. Walaupun kostum Hello Kitty ini menarik perhatian, beberapa siswi SMA yang memakai rok mini juga menarik perhatian. Mata sebagian penumpang pria tertuju pada pemandangan di bawah lutut siswi-siswi itu. Yang lainnya sedang sibuk dengan ponsel masing-masing. Ada juga yang sedang mengantuk atau sedang mengobrol. Tidak ada yang sedang memperhatikanku sedang berbuat tidak senonoh terhadap seorang pemuda.

Berbuat tidak senonoh? Kenapa aku merasa seperti seorang maniak?

Tenang, tenang. Byun Baekhyun, segera singkirkan pikiran kotor itu dari otakmu. Kau adalah nona besar. Tidak boleh punya pikiran serendah itu.

"Kakak, kenapa kau memasukkan tanganmu ke kostum Hello Kitty itu?"

Kami berdua sama-sama membeku.

Ternyata, seorang bocah melihat perbuatan kami.

Menghilanglah, menghilanglah! Siapa yang bisa membantuku membuang boneka Hello Kitty ini ke dalam lubang hitam. Kalau boneka ini menghilang selamanya dari bumi, aku akan memberikan semua tas bermerek milikku padanya.

Tapi, Boneka Hello Kitty tidak menghilang. Tanganku masih tersangkut di dalam kostumnya. Bocah itu mengerjap-ngerjap sambil menunggu jawaban kami.

"Adik kecil, apa kau tau Doraemon memiliki kantong ajaib?" Saat pikiran kalut, muncul sebuah ide genius, "Di dalamnya, banyak sekali benda yang bisa dipakai untuk menolong Nobita yang kesusahan."

"Tahu." Bocah itu mengangguk.

"Di dalam celana Hello Kitty, juga ada kantong ajaib. Di dalamnya, ada mainan, lho."

Bocah itu tertarik, "Oya?! ada mainan apa?"

Mainan apa? Aku hampir tersedak oleh air liurku sendiri. Apa yang bisa dikeluarkan oleh kantong celana Hello Kitty?

"Ada mainan. Ehm… sebuah pistol." Aku menjelaskan dengan pelan, tiba-tiba pinggangku seperti disentuh, "Yang bisa dipakai untuk membunuh orang jahat dan menyelamatkan bumi."

"Wow!" Mata bocah itu berbinar-binar memandang kami.

"Ini adalah rahasia kakak denganmu." Aku menggunakan telunjuk kiri dan meletakkan di depan bibirku. "Tidak boleh bilang siapa-siapa, ya."

Bocah itu mengangguk girang dan meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, lalu dia kembali kepada ibunya.

Setelah bocah itu pergi, aku bernapas lega. Kemudian, aku berkata kepada pemuda yang sejak tadi mematung itu, "Tahan sedikit. Aku akan menggerakan tanganku."

"Cepat sedikit." Dia berkata dengan lemah.

Pemuda yang berada di kostum Hello Kitty mengerutkan tubuhnya, menahan napasnya, dan tidak berani bergerak. Tanganku bergerak pelan dari kantong celananya, dan hati-hati agar tidak mengenai area terlarang. Saat ingin di keluarkan, tanganku tersangkut sesuatu. Aku menarik tanganku sekuat tenaga.

Dada pemuda itu naik turun, "Cepatlah sedikit." Kesabarannya sudah mencapai batas.

"Aku juga ingin cepat." Aku berusaha menarik tanganku lagi tapi tetap tersangkut. Aku menggerakkan pergelangan tanganku beberapa kali. Sesuatu yang menyangkut itu semakin lama semakin kuat. Aku hampir menangis lalu berkata, "Jam Bvlgari milikku sepertinya tersangkut."

Jam Bvlgari itu adalah jam tangan kesayanganku, yang dilapisi emas 18 karat dan di sekitar jam dikelilingi mutiara salju. Harganya 10.000 dollar. Jam itu lebih bernilai daripada nyawaku.

Bukan karena harganya yang mahal, tapi jam itu adalah hadiah ulang tahun dari Ayah. Hanya itu satu-satunya hadiah yang pernah Ayah berikan kepadaku.

"Bagaimana ini?" Aku bertanya kepada Kitty.

"Putuskan saja," Jawab pemuda itu.

"Tidak mau," Aku menatapnya tajam, "Aku tidak mau Bvlgari milikku cacat."

"Shit!" Dia mengumpat. "Kalau begitu, kuputuskan saja tanganmu."

"Putuskan saja! Siapa takut!" Rupanya dia bisa marah. Kenapa di depan anak kecil tadi, dia tidak bersuara? "Di dalam bus, di depan semua orang, kau tidak akan berani."

Akhirnya, Kitty itu membunyikan bel berhenti. Dia setengah menarikku turun.

Pada kostum Hello Kitty, tangan seorang gadis tersangkut. Begitulah, seorang manusia dan sebuah boneka seperti bayi berdempet dan berjalan di jalan raya. Tangan kiriku memegang barang belanjaan sesekali kuangkat untuk menyembunyikan wajahku dari pandangan aneh pejalan kaki yang lain.

Aku menahan rasa malu dan bertanya kepadanya, "Ke mana kita pergi?"

"Toilet umum."

"Toilet pria atau wanita?"

"Terserah." Wajahnya menatap ke depan. Dia melihat huruf M besar di seberang jalan. "McDonald's?"

"Jangan, jangan." Aku menggeleng cepat. Dia sedang memakai kostum Hello Kitty, tidak akan ada yang mengenalinya. Tetapi aku adalah sosialita kelas atas. Suatu saat nanti aku akan menjadi cucu menantu dari OSH Group. Kalau ketahuan orang terlibat dalam kejadian seperti ini, wajahku mau di taruh di mana? Apa aku masih bisa mengalahkan pemilik Wei Wei Group, Nona Seohyun, menjadi juara sosialita kelas atas?

"Jangan, jangan. Cari tempat yang tidak ada orang saja." Aku menggeleng cepat. Soal kantong ajaib, hanya bisa mengelabui anak kecil. Kalau bertemu dengan paparazi, nama baikku pasti akan hancur.

Huh…

Walaupun dia sedang memakai kostum, aku bisa merasakan bahwa dia sedang menatapku dengan tajam.

"Bagaimana kalau di sana?" Tangan kiriku menunjuk sebuah gang yang agak gelap di seberang.

"…"

Kami berdua terdiam sejenak. Si Kitty kembali mengumpat. Kalau terdengar anak kecil, mereka pasti akan sedih. Akhirnya dia menyerah, membiarkanku menariknya ke ujung gang gelap itu.

Dia tidak bisa tidak menyerah. Siapa suruh 'sesuatu'nya ada di tanganku.

Gang itu gelap, sempit, dan sangat panjang. Sepertinya hasil tumpang tindih gedung lama dan gedung baru. Setelah kami berbelok beberapa kali, suara orang-orang dan kendaraan semakin tidak terdengar. Kami tiba di jalan buntu, ujungnya di batasi sebuah pagar. Kami tidak tahu itu pintu belakang rumah siapa.

Aku terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Berdasarkan pengalamanku menonton kartun "Detektif Conan", gang yang gelap apalagi buntu adalah tempat terjadinya tindakan kriminal.

Dia berkata dengan pelan, "Apakah tidak akan ada orang yang muncul di sini?"

Aku menjawab singkat. Tempat ini adalah hasil pencarianku. Aku juga tidak bisa berkata banyak.

Pemuda itu melepaskan kostum kepala dan tangan Hello Kitty, lalu di letakkannya di samping. Dia memeriksa area gang hanya dengan sinar yang remang-remang.

Aku memalingkan wajah karena merasa malu.

Dia mengerutkan dahinya. Matanya pelan-pelan melihat ke bawah bersamaan dengan wajahnya, badannya pelan-pelan di condongkan ke depan. Untuk mengikuti gerakannya, tanpa disadari tubuhku condong ke belakang, mundur hingga punggungku mengenai tembok semen yang dingin.

Napasnya yang hangat mengenai bagian leherku yang sensitif. Rasa panas dalam dadaku naik ke ubun-ubun. Aku mengetatkan gerahamku, bertahan untuk tidak mnggerayangi pemuda yang ada di hadapanku ini.

"Sudah cukup kau melihatnya. Cepat sedikit." Gigiku gemeletuk, "Lakukan sesuatu!"

Pemuda itu mundur sedikit dan mengeluarkan sebuah cutter.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Aku ketakutan dan berkata, "Apa kau ingin membunuhku?"

Apa karena aku memegang 'sesuatu'-nya?

"Diam!" Alisnya naik, bibirnya juga bergerak naik. Dia membuatku merinding. "Kalau tidak, akan kubuat kau tidak bisa bicara selamanya!"

Aku terdiam.

Dia bergulat dengan cutter cukup lama. Aku jadi mengantuk, dan menyandarkan kepalaku di bahunya dan tertidur. Antara tidur atau tidak, tiba-tiba terdengar sebuah pagar terbuka.

Sebuah suara serak berkata, "Barang apa yang masuk hari ini?"

Suaranya yang lain berkata, "Louis Vuitton, YSL, Sylvia."

Mendengar macam-macam merek, aku tersadar. Aku mengintip dari balik bahunya, ada empat orang yang berbicara di sana.

"Ada berapa jumlahnya?"

"Seratus gram setiap benda."

Gram?! Unit pengukuran ini membuatku merasa aneh. Si Kitty juga sepertinya merasa penasaran. Tangannya berhenti dan telinganya ikut mendengar percakapan itu.

Si suara serak berkata lagi, "Bagaimana dengan nilainya?"

Suara yang lain yang agak berat berkata, "Sylvia tidak enak di pakai."

"Lain kali bawa sedikit saja." Suara yang agak berwibawa itu pun berkata. Sepertinya dia adalah pemimpin kelompok itu, "Lain kali, suruh mereka membawa YSL untuk barter."

"Baik"

Sylvia Toledano adalah seorang seniman yang mengeluarkan merek atas namanya. Setiap tas tangan berbalut Swarovski kristal dengan tema dan motif yang berbeda, dibuat dengan jahitan tangan dan limetid edition. Barang mewah di atas barang mewah. Sosialita kelas atas Negara barat selalu berebut untuk membelinya, tapi mendengar percakapan mereka, seolah mereka meremehkan merek Sylvia. Jangan-jangan, apa mereka menjual barang curian?

Tetapi, para penjual itu sepertinya tidak tahu banyak tentang barang bermerek. Sylvia adalah merek tas tangan. Sejak kapan mereka memproduksi pakaian? Malahan, tidak enak dipakai.

Akhirnya, tangan kananku terbebas dari kostum Hello Kiity. Aku bernapas lega. Pemuda itu pelan-pelan menjauhi tubuhku, lalu menggerakan tangannya memberiku tanda untuk mundur dari sana. Tetapi, aku masih mau mendengar percakapan mereka. Aku menggeleng, tidak mau.

Ekspresi wajah pemuda itu berubah ketat. Dia mengulurkan tangannya dan menarikku dengan paksa. Aku berteriak kecil "Ah!" Saat dia ingin membekap mulutku, semuanya sudah terlambat.

Gawat!

"Siapa?!"

Pemuda itu mengambil sebatang kayu. Dengan refleks cepat, kayu itu menghantam pintu pagar. Bersamaan dengan itu, pintu dipaksa terbuka dari arah yang berlawanan. Teralis pagar itu melengkung. Sebuah tangan kekar muncul dari sana dan menarik rambutku.

"Ah!" Aku berteriak sekeras-kerasnya. Pemuda itu mengambil kepala boneka yang ada di lantai dan dipukulkannya ke arah tangan itu, memaksanya mengendurkan cengkramannya, lalu berteriak kepadaku, "Cepat pergi!"

Dengan sepatu berhak tinggi, aku berlari tergopoh-gopoh ke depan. Aku berpikir kalau meninggalkannya sepertinya tidak adil, lalu aku melepaskan sepatu dan kembali ke pemuda itu. Aku menghantam tangan yang muncul dari pagar itu dengan hak sepatuku hingga berdarah. Suara hantaman di balik pagar semakin kuat. Mereka ingin menyerbu keluar.

"Lari!" Pemuda itu menggenggam erat tanganku. Kami segera berlari meninggalkan tempat itu.

Saat melarikan diri, aku sempat menoleh kebelakang. Lampu remang-remang menyinari beberapa bayangan tubuh kekar yang sedang mengejar kami. Salah satunya bahkan memegang senjata api.

Itu senjata api asli.

Aku hampir terjatuh. Seluruh tubuhku berkeringat dingin.

"Senjata." Aku gemetar, bahkan suaraku menjadi tidak jelas. "M-mereka p-punya senjata. K-kita akan dibunuhnya."

"Jangan melihat kebelakang!" Pemuda itu semakin menguatkan genggamannya, lalu tersenyum tipis dan berkata. "Kalau takut, lihat saja aku!"

Kami berdiri di gang yang sempit. Suara deru angin melewati telinga. Saat itu juga, dada dan jantung seperti terbakar. Di depan kami masih tampak gelap, seolah-olah tidak ada jalan keluar. Kami tidak tahu harus berlari berapa jauh dan berapa lama agar bisa melepaskan diri dari kejaran orang-orang itu.

Seperti mimpi buruk yang tidak bisa lepas darinya.

Anehnya, aku tidak terlalu takut karena ada sebuah tangan yang menggenggamku erat-erat, seakan darah dan nadinya bersatu denganku.

"Jika takut, lihat saja aku."

Ya! Aku hanya melihatnya. Karena melihat senyumannya, aku tidak takut lagi.

Tiba-tiba sinar cahaya merah biru masuk ke dalam pandanganku, aku mengecilkan mataku, karena mata ini belum sempat beradaptasi dengan silaunya cahaya. Pemuda itu langsung berteriak, "Polisi!"

Dia melepaskan tanganku. Kedua tangannya memberi aba-aba kepada mobil polisi agar mendekat. Akhirnya, mobil polisi itu berhenti di depan kami.

Aku terduduk lemas. Seluruh tenagaku terkuras. Aku mengurut kakiku. Saat itu, ada tetesan hangat yang menetes di kakiku. Setetes-dua tetes darah, akhirnya mengalir tanpa henti.

Seseorang menggendongku sambil memelukku erat. Aku menangis tersedu-sedu. Dia menyeka air mataku dengan kikuk. Tubuhnya juga bergetar, seolah-olah memberitahukan bahwa dia juga sedang berusaha mengendalikan semua ketakutannya.

Tangannya dengan lembut menepuk punggungku dan berkata dengan pelan, "Sudah… sudah tidak apa-apa." Suara rendah yang berat seperti mata air yang segar mengalir dalam telingaku, secara ajaib menenangkanku.

Suara ini sepertinya kukenal. Sepertinya aku pernah mendengarnya, tapi entah dimana. Aku mulai merasa tenang. Semua saraf ku mengendur. Mataku mulai berat dan akhirnya aku terlelap.

Kejadian setelah itu, aku lupa semua.

Suasana kejar-kejaran seolah-olah bersambung dalam mimpi. Beberapa kali aku berteriak. Sebelum sempat membuka mata, ada seseorang yang merangkul pundakku dan bergumam.

"Jangan takut. Sudah tidak apa-apa. Ada aku."

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

.

Jangan lupa ripyunyaa, yaaaaa:v

See you^^