MY LITTLE PRINCESS
(REMAKE NOVEL "MY LITTLE PRINCESS" OLEH MACCHIATO)
.
.
.
CHAST :
BYUN BAEKHYUN
PARK CHANYEOL
OH SEHUN
XI LUHAN
Etc.
.
SUMMARY:
Byun Baekhyun bukan tipe gadis berwatak baik. Dia kaya, cantik, tapi sombong. Banyak pemuda yang mengejarnya, tetapi kehidupan cintanya tidak pernah berjalan sesuai harapannya. Dia berusaha keras mendapatkan hati tunangannya, Oh Sehun, meskipun dia sama sekali tidak menyukai pemuda itu. Namun, Oh Sehun hanya peduli pada Xi Luhan, gadis miskin yang tidak pantas untuk pemuda sekelas Oh Sehun. Segalanya menjadi semakin rumit saat Park Chanyeol, pemuda yang juga jatuh cinta pada Xi Luhan ikut ambil bagian dalam kehidupan Byun Baekhyun.
…..
….
…
..
.
.
.
.
.
.
Sekarang jam berapa?
Aku menepuk kepalaku yang sakit karena terlalu banyak minum. Saat aku mulai sadar, aku mengucek mataku seperti tidak percaya.
"Argh!"
Sebuah kepala boneka yang kotor ada di depan mataku dengan pita merah muda yang berantakan di sekitar telinganya. Dan yang paling menakutkan adalah sebelah bola matanya hilang. Sebelah lainnya tergantung seperti mau putus. Aku berteriak sekuat tenaga.
"Argh!"
"Tenanglah." Suara pemuda terdengar di atas kepalaku.
B-bisa bicara?
"Argh!" Teriakanku semakin kuat.
"Diamlah. Aku…" Sebuah tangan boneka membekap mulutku hingga hidungku pun tertutupi. Aku tidak bisa bernapas. Aku menendang perut bulatnya. Dia menahan rasa sakit. Agar aku tidak sembarangan menendang, dia semakin mempererat pelukannya.
Aku meronta-ronta, menariknya dengan kedua tanganku, lalu sekuat tenaga mendorongnya. Tiba-tiba kepala boneka itu jatuh kelantai.
Ah! Aku telah membunuh kucing siluman!
"Kalian sudah bangun?"
Akhirnya, seorang manusia muncul. Seorang yang berpenampilan seperti polisi. Oh bukan, seorang polisi memang mendekati kami.
"Itu… aku… dia…" Aku gemetar. Tanganku menunjuk ke arah boneka yang sudah tidak berkepala. "Dia…"
"Oh, dia…" Pak Polisi mendorong bahu kucing itu. "Hei, Anak Muda. Ayo, bangun."
Dia tidak bereaksi, hanya dadanya naik turun.
Pak Polisi menggeleng lemah, lalu menaikkan volume suaranya dan mengguncang bahu pemuda itu. "Hei, Anak Muda. Jangan tidur lagi. Kami ingin kalian membuat pernyataan."
Kucing siluman itu bergerak seperti sedang melakukan peregangan. Lalu secara ajaib, kepala pemuda muncul dari leher si kucing. Dia menguap, dengan telapak tangan kucingnya mengucek mata, baru pelan-pelan membuka mata. Sepertinya dia masih mengantuk.
Dia memperhatikan sekelilingnya, lalu dia melihatku seolah-olah bertanya, "Kenapa kita ada di sini?"
Oya, kenapa kami ada di sini?
Aku memegang pipiku dan berusah mengingat kejadian semalam.
Bersamaan dengan itu terdengar bunyi pintu terbuka, seorang Polisi botak membawa segelas susu dan berkata, "Kalian pasti lapar, kan? Minumlah ini."
Cahaya matahari pagi memasuki ruangan melalui celah pintu dan jatuh ke tubuh pemuda itu. Dia menerima susu dan berterimakasih dengan sopan, lalu menundukkan kepala meminumnya, samar-samar lesung pipitnya muncul, seperti kucing yang lucu.
"Semalam benar-benar gawat. Untung saja mobil patroli lewat. Kalau tidak, kalian pasti sudah kehilangan nyawa." Pak Polisi itu berkata dengan serius.
Kehilangan nyawa?
Aku hampir memuntahkan susu itu. Otakku kembali mengulang peristiwa menegangkan yang terjadi semalam. Di gang sempit, panjang, dan berkelok-kelok, suara pria asing, barter, suara yang menegangkan, dan berlari sekuat tenaga. Akhirnya, aku mengerti. Aku jadi berkeringat dingin.
Benar-benar hampir kehilangan nyawa.
"Kalian mentang-mentang masih muda tidak tahu aturan. Malam hari, masih keluyuran di luar. Sangat berbahaya!" Pak Polisi menasihati kami, lalu mengeluarkan sebuah catatan dan alat perekam yang di letakkan di hadapan kami. "Sepertinya kalian sudah sadar sepenuhnya. Mari kita membuat berita acara. Setelah ini, kalian boleh pulang."
"Melihat kalian sudah sadar sepenuhnya." Aku melirik ke arah samping. Pemuda itu memiringkan kepalanya di bangku panjang dan kembali tertidur.
Huh… yang sadar sepertinya hanya aku.
"Pak Polisi, semalam ka-kami bertemu…" Aku terdiam sejenak, lalu dengan suara pelan berkata, "Semalam, kami bertemu orang berbaju hitam seperti pada serial Detektif Conan."
Kejadian semalam di gang sempit itu benar-benar nyata. Kami seperti berada di sebuah kejadian kriminal.
Aku menceritakan percakapan yang ku dengar dari orang-orang berbaju hitam. Tentu saja, melewatkan kejadian antara aku dan si Kitty itu.
Pak polisi terdiam sejenak lalu berkata, "Mungkin kalian bertemu dengan anggota jaringan narkoba. Nama barang bermerek mungkin kode mereka. 'Tidak enak dipakai' berarti benda itu berkualitas buruk."
Jaringan narkoba? Benar-benar kebetulan! Pantas saja mereka mau membunuh kami.
"Mungkin sarang mereka ada di balik pintu besi itu." Saat berpikir aku hampir tertarik masuk ke sana, hal itu membuatku bergidik.
"Apa kau masih ingat wajah mereka? Atau, tempat spesifik saat mereka melakukan transaksi?"
Aku menggeleng lemah. Aku tidak kenal daerah itu. Kalau aku tidak naik bus bersama si Kitty ini, aku tidak akan sampai ke sana.
Si Kitty terbangun dan berkata, "Aku ingat…" Sekitar matanya penuh dengan garis merah, tapi bola matanya hitam dan jernih.
Karena pembuatan berita acara, akhirnya aku tahu nama si Kitty ini bukanlah Kitty. Dia punya nama yang tidak begitu sesuai dengan penampilannya. Namanya Park Chanyeol, umur Sembilan belas tahun.
Setelah berita acara selesai dibuat, pak polisi menggenggam tanganku dan tangan Park Chanyeol lalu berkata, "Sindikat jaringan itu sebenarnya telah lama menghilang. Tidak disangka, mereka bersembunyi di pemukiman penduduk gang sempit itu. Terima kasih atas kerjasama kalian. Keterangan dari kalian sangat membantu dalam memecahkan kasus ini."
"Sama-sama. Kami kebetulan juga bertemu dengan hal-hal seperti itu." Aku mengulum senyum dan berkata, "Bisa membantu polisi merupakan kebanggan kami. Semoga pihak polisi bisa menuntaskan kasus ini dan menangkap para pengedar narkoba itu."
"Tentu saja." Pak polisi yang berpengalaman ini pun melontarkan pertanyaan inti dari kejadian itu, "Kenapa kalian bisa berada di gang itu?"
Senyumku tiba-tiba kaku.
Chanyeol menatapku dengan ujung matanya, dengan santai berkata, "Kebetulan kami punya masalah pribadi yang harus di bahas."
"Apa hubungan kalian berdua?" Pak polisi itu bertanya lagi.
"Tidak kenal." Jawabku.
"Pacaran." Jawabnya.
Kami kompak menjawabnya secara bersamaan, tapi jawabannya malah berbeda.
Aku menarik lengan Chanyeol, dan dia menatapku tanpa rasa bersalah.
"Rupanya kalian sedang bertengkar." Pak polisi itu hanya tersenyum. "Lain kali, jangan keluar malam-malam."
Aku dan Chanyeol saling berpandangan dan membisu.
"Kalian tunggu di sini sebentar. Aku akan membuat laporan ke atasan. Setelah tanda tangan, kalian boleh menelepon orang rumah untuk menjemput kalian." Pak polisi itu menepuk pundak Chanyeol dan menatapku sambil berkata, "Kenapa nona muda ini malu? Semalam pemuda ini melindungimu dan kau juga memeluknya dengan erat. Kalau bukan sedang pacaran, apa lagi namanya?"
Aku tersenyum dengan kikuk. Chanyeol melirikku seolah-olah sedang tersenyum.
Saat pak polisi itu pergi, dia mengulurkan tangannya kepadaku. "Tas ranselku?"
Aku memeriksa tubuhku, baru sadar ternyata sejak tadi aku sedang menduduki ranselnya. Aku langsung mengembalikannya.
"Kenapa kau bilang aku adalah pacarmu?" Aku menyibak rambutku sambil berlagak dan berkata, "Aku tahu aku sangat menarik, tapi kita baru kenal satu hari. Jangan-jangan kau langsung jatuh cinta padaku?"
"Lalu, mau bilang apa? Apa bilang kau sedang melecehkanku dan menarikku ke gang gelap, begitu?" Dia langsung memupuskan lagakku.
Baiklah, anggap saja aku tidak bertanya.
Chanyeol mengambil baju bersih dari ranselnya, meletakkan di atas bangku panjang. Satu tangan sedang memegang punggungnya, tapi sepertinya di sedang kesulitan mencari sesuatu di punggugnya. Dia tahu aku sedang memperhatikannya lalu berkata, "Kemari. Bantu aku menarik ritsleting ini."
"Hah?!"
Aku baru sadar ternyata dia mau berganti pakaian di sini.
Aku menelan ludah. Aku bisa menikmati pemandangan gratis ini.
Saat kostum boneka terlepas, terlihat tubuh Chanyeol yang kurus tapi berotot. Ada bagian fourpack di perutnya, bentuk tubuh dari punggung sampai pinggang sangat menarik. Saat terlihat bagian bawahnya, aku memalingkan wajahku agar tidak mimisan.
Sepertinya dia juga merasakan kejanggalan, lalu membalikkan badan secepat kilat memakai baju dan celananya.
"Hei, Park Chanyeol." Aku melihat bekas luka di tubuhnya, mengingat kejadian semalam saat kami sedang melarikan diri. Beberapa kali aku terjatuh dan menariknya menjadi perisaiku. Di dalam hatiku merasa tidak enak, belum sempat berpikit lagi, dua kata telah meluncur dari bibirku. "Terima kasih."
Aku menutup mulutku. Terkejut dengan diri sendiri yang dengan gampangnya mengucapkan terima kasih. Kalau aku yang dulu, daripada mengucapkan terima kasih, aku lebih suka memberikannya uang.
"Sama-sama." Dia membalikkan badan sambil tersenyum kecil.
Saat keluar dari kantor polisi, langit pagi perlahan-lahan muncul. Hujan sudah berhenti, tercium bau tanah dan seekor burung pipit bertengger di atas tiang listrik.
Paman Kim datang menjemputku dengan mobil. Beliau mengomel kepadaku, tapi aku tidak begitu mendengarnya, hanya menjawab dengan singkat. Melalui kaca mobil aku melihat sosok orang berkaus putih sedang bersandar di tembok depan kantor polisi.
Park Chanyeol, sepertinya dia sedang menunggu seseorang menjemputnya.
"Chanyeol."
Terdengar suara merdu seorang gadis. Senyum kecil di wajah pemuda itu langsung mengembang, membuat lesung pipitnya semakin jelas terlihat.
Aku melihat ke arah suara itu berasal. Dia, seorang gadis dengan rambut berponi di kuncir kuda. Xi Luhan. Saat itu, hatiku tercabik-cabik.
Aku merasa sangat kecewa, "Paman Kim, ayo kita pergi."
~~~MLP~~~
Saat sampai di rumah, aku tidak menghiraukan panggilan Paman Kim dan langsung masuk kamar dan tidur.
Aku sangat lelah. Aku terjaga, lalu seperti bermimpi. Mimpi dan kenyataan seakan saling berhubungan. Aku agak bingung… seperti kembali ke masa kecilku. Sebelum berumur enam tahun, aku bukan Princess Baekhyun. Aku masih si anak haram, Byun Baekhyun.
Nyonya Jung juga bukan istri kedua dari keluarga kaya. Dia hanya orang yang telah didustai cintanya oleh tuan muda dari keluarga kaya. Wanita tidak beruntung yang kemudian hamil dan melahirkan anak haram.
Tidak ada latar pendidikan tinggi dan membawa sebuah tanggungan, tentu saja ibu tidak bisa menemukan pekerjaan yang bagus. Paman dan Bibi yang menjual ayam goreng di ujung gang mengasihani kami. Mereka mempekerjakan ibu untuk mengatur menu agar dia mendapatkan gaji walau hanya sedikit.
Terkadang, Paman dan Bibi meminta Ibu ke pasar untuk membeli bahan makanan. Dia berjalan di depanku. Aku yang masih kecil tidak mampu mengikuti langkahnya sehingga sering tidak sengaja aku terjatuh ke selokan.
Ibu melihatku dengan iba, tapi mulutnya malah berkata, "Cepatlah. Kalau terlambat, kita akan kehabisan bahan-bahan diskon."
Oleh Karena itu, sebelum menjadi putri, aku telah belajar hidup susah. Walaupun keadaan sekarang sangat berat, aku harus memiliki keinginan untuk maju.
Saat itu, aku dan Ibu tinggal di atas gudang toko penjual ayam goreng. Aku lupa seperti apa bangunannya, tapi yang kuingat kalau hujan atapnya pasti bocor, dan bau bangunan lama yang bercampur dengan bau ayam goreng. Hingga sekarang, bau seperti itu masih terasa di hidung.
Saat tengah malam, ada orang yang mengetuk pintu. Kelihatannya sangat mendesak. Aku gemetar sambil memeluk Ibu, tidak bisa membedakan antara sedang lapar atau ketakutan.
Ibu membuka pintu, sedangkan aku bersembunyi dalam selimut, tidak berani muncul. Tetapi, samar-samar tercium bau yang sangat wangi. Wangi yang tidak dimiliki oleh kaum miskin seperti kami.
Lalu Ibu mendekatiku, aku melompat keluar dari selimut dan segera memegang erat tangannya, tapi yang kudapat hanya tangan Ibu yang dingin.
"Baekhyun, Ibu akan membawamu mencari Ayah."
"Ayah? Baekhyun punya Ayah?" Aku kebingungan.
"Punya, Baekhyun punya Ayah." Dia bergumam seakan sedang menceritakan sebuah dogeng yang tidak nyata, "Ayah Baekhyun adalah orang kaya, tinggal di sebuah rumah yang memiliki taman yang sangat indah. Di rumah Ayah, banyak makanan enak. Ayah juga akan membelikan Baekhyun banyak baju yang bagus."
"Apa ayah seorang raja? Kalau tidak, kenapa dia sangat kaya?"
"Iya."
"Kalau begitu, apa Baekhyun seorang putri?"
"Iya. Baekhyun seorang putri, putri kecil Ayah." Kata Ibu lagi, "Kau juga adalah putri semata wayang penerus Byun Group."
"Baiklah. Baekhyun mau pergi mencari Ayah." Aku begitu gembira mendengar kalimat pertama itu.
"Tapi setelah sampai di rumah Ayah, Baekhyun tidak bisa tinggal bersama Ibu lagi, dan tidak boleh memanggil Ibu dengan sebutan 'Ibu'." Wajah Ibu sepertinya menunjukkan kesedihan, mungkin ada, hanya saja waktu itu aku masih kecil. Jadi, aku tidak bisa membedakan itu raut wajah sedih atau bukan.
"Kenapa tidak bisa memanggil Ibu lagi?"
"Karena Baekhyun memiliki seorang Ibu baru yang cantik."
"Ibu baru? Jadi Baekhyun akan tinggal dengan Ibu baru?" Aku memiringkan kepala sambil berpikir, "Kalau begitu, Ibu juga tinggal bersama kami. Kata guru, setiap anak kecil harus tinggal bersama orangtuanya."
Ibu menggeleng. "Tidak bisa. Karena Ibu tidak menikah dengan Ayahmu."
"Kenapa Ibu tidak menikah dengan Ayah? Apakah Ibu dan Ayah bertengkar? Atau, Ibu tidak suka pada Ayah?" Aku mengerutkan dahi, tidak mengerti. "Tapi, Paman dan Bibi penjual ayam goreng sering bertengkar setiap hari. Bibi sering memarahi Paman pemalas, tapi mereka masih tinggal serumah."
"Ayah dan Ibu tidak bertengkar. Ibu juga bukannya tidak suka pada Ayahmu." Ibu terdiam sejenak. Ibu mengulurkan tangannya dan menyentuh dahiku yang berkerut dan berkata, "Itu karena Ayahmu yang terlebih dulu mencampakkan kita, dan menikah dengan wanita lain."
Aku bingung dan menatap langit-langit rumah yang rendah. Dia langit-langit itu, ada bekas lumut seperti mawar hitam yang tumbuh di atas kepala. Lalu aku berkata kepada Ibu.
"Baekhyun tidak mau Ibu baru dan tidak mau menjadi seorang putri." Kata Baekhyun.
"Tidak Boleh." Kata Ibunya.
Ibu berkata "tidak boleh" dan berkata lagi, "Baekhyun, Ibu juga mau hidup lebih baik sekarang. Ini adalah utang Ayahmu. Sekarang, dia ingin menebusnya."
Esok harinya, Ibu mendandaniku, membawaku ke keluarga Byun, dan memberitahuku bahwa ini adalah Ayah, ini adalah Istri Ayah, ini adalah Kakek, ini adalah Nenek, ini adalah adik perempuan Ayah dan suaminya, serta ini adalah adik laki-laki ayah dan istrinya.
Orang ini dan itu memakai busana yang berbeda, tapi memiliki satu ekspresi yang sama. Mereka memiliki hubungan darah denganku.
Akhirnya, aku bertemu Ayah kandungku dan Ibu tiriku.
Saat itu, aku tidak tahu dan tidak bisa berbahasa Inggris, tapi hanya tahu kosakata bahasa Inggris, illegitimate child.
"Illegitimate child." Ibu tiri mengambil tanganku, menulis di atas telapak tanganku, dan mengeja satu per satu kata itu. Tangannya yang bercat kuku indah dengan kasar menyentuh telapak tangan kecilku. Aku tidak berani menarik tanganku. Saat aku bertanya apa artinya, dia hanya tersenyum dan berkata, "Diingat saja. Kalau sudah besar, kau bisa mencari artinya di kamus."
Illegitimate child adalah anak yang lahir di luar nikah atau lebih di kenal dengan sebutan anak haram.
Dalam waktu semalam, anak haram yang hidup di pasar berubah menjadi nona besar.
Mereka mengadakan pesta besar-besaran untuk menyambutku. Aku memakai gaun merah muda, didandani sebagai seorang putri kecil, dan makan makanan yang belum pernah kutemui sebelumnya.
Saat pesta akan selesai, aku dibawa ke taman mawar yang sangat indah. Bunga-bunga yang bermekaran hampir menutupi seluruh taman. Para sepupu yang tidak bisa kusebutkan namanya mendorongku, lalu mengulurkan telunjuk sambil mentertawaiku.
Ternyata, kenangan masa lalu yang pahit sangat melekat. Bagaimanapun, aku ingin melupakannya, tetap saja tidak bisa terlupakan.
Dalam cerita dongeng, putri yang baik hati akan bertemu dengan pangeran yang akan menyelamatkannya. Di kehidupan nyata ini, adakah pangeran yang akan datang menolongku?
Menolong 'putri palsu' ini.
~~~MLP~~~
Aku tidak tahu telah tertidur berapa lama. Sampai akhirnya, Nyonya Jung masuk ke kamarku. Teriakkannya membangunkanku dengan paksa.
"Ibu kenapa? Apa kau kalah bermain mahyong lagi? Atau tas Burberry limited edition incaranmu itu telah dibeli orang?" Aku mengucek mataku.
"Kau memang putri tidak beguna! Lihatlah berita ini." Nyonya Jung melempar sebuah majalah gosip ke hadapanku.
Aku melihat majalah itu sebentar. Pada judulnya tertulis, "Gadis Kaya Delapan Belas Tahun yang Pemboros".
Isinya pasti tentang kegilaanku berbelanja, ditambah dengan gambar wajah yang tidak jelas.
Tulisan yang lebih detail adalah seorang nona besar berinsial B berfoya-foya tanpa merasa takut tidak punya uang. Pagi hari, dia telah menghabiskan uang untuk menata dirinya. Uang sebesar itu bisa digunakan untuk sarapan pagi anak-anak kurang mampu selama setahun. Bahkan tercantum foto struk belanjaanku yang sekaligus mempromosikan toko itu. Malam hari, dia mencari masalah di restoran mewah ala Jepang. Di bawah tulisan itu, terdapat sebaris pepatah 'Rumah orang kaya tercium aroma wangi, orang miskin mati kelaparan di jalanan' yang memprotes kelakuanku yang sombong.
"Hanya begini? Apa tidak ada kelanjutannya?"
Aku menyipit, membolak-balik halaman majalah. Berita itu hanya menulis sampai aku mencari masalah dengan Luhan dan tidak ada kelanjutannya.
Kejadian selanjutnya, saat aku di siram air oleh Sehun, menarik paksa si Kitty menemaniku makan, pelecehan di atas bus, dan kejadian di gang gelap. Semua itu tidak masuk dalam berita ini.
Kejadian bersama si Kitty yang tidak di beritakan membuatku lega, tapi mengingat waktu terjadinya aku agak kecewa, paparazzi telah mengikutiku sampai ke restoran shabu-shabu. Kenapa mereka tidak memberitakan bahwa Sehun menyiramiku dengan air?
Aku menyibakkan rambutku, melempar majalah gosip keranjang, lalu mengambil remote control menyalakan televisi dan menonton siaran secara acak. Ada sebuah berita yang menarik perhatianku—
"Jaringan narkoba ini menggunakan merek barang-barang terkenal seperti LV dan YSL sebagai kode komunikasi. Polisi berhasil menangkap pengedar narkoba ini."
Berita itu menunjukkan gambar tiga pria tegap menggunakan penutup kepala untuk melindungi wajah mereka. Mereka menunduk saat digiring polisi masuk ke mobil tahanan.
Tiga orang? Kenapa hanya tiga orang?
Aku bergidik.
Aku bisa memastikan, saat itu mendengar suara empat orang. Kalau begitu, pasti satu orang lagi berhasil lolos.
Nyonya Jung sedang mengobrak-abrik lemari pakaianku, karena terdengar suara ribut-ribut lalu bertanya, "Di mana barang bermerek Coach, LV, Chanel, Gucci, Prada, Agnes B, dan Miu Miu yang kau beli kemarin?"
Aku sedang melarikan diri, siapa peduli dengan barang bermerek itu?
Aku memelototi layar televisi dan menjawab seenaknya, "Sudah kubuang."
"Sudah dibuang?!" Nyonya Jung tiba-tiba muncul dihadapanku, seakan tidak percaya dia berkata lagi, "Sudah kau buang?! Yang benar saja!"
"Aku merasa sudah tidak bagus. Jadi sambil jalan, kubuang barang-barang itu. Terserah siapa yang mau memungutnya." Aku mengibas tanganku bermaksud untuk tidak melanjutkan percakapan ini, lalu menekan bel yang ada di samping ranjangku.
Ibu yang mengurus dapur masuk. Kedua tangan di bersihkannya dengan celemek, lalu berkata kepadaku, "Apa yang Nona Besar perlukan?"
"Aku ingin makan."
"Nona ingin makan apa?"
"Aku mau steik sapi panggang dan ikan salem goreng manis. Aku juga mau minum fresh juice sayuran dan buah. Jangan tambah gula."
"Apa nona mau makanan pencuci mulut? Tadi pagi, Paman Kim membuat pai apel."
"Ya. Sepotong pai apel." Aku menatap Nyonya Jung yang berdiri mematung. "Sekalian bawakan untuk Bibi ini agar dia tidak marah-marah lagi."
"Byun Baekhyun, kau memang gadis mata duitan." Nyonya Jung masih merasa sayang dengan barang bermerek yang kubuang. "Kau tahu, berapa harga barang-barang itu?"
"Gadis mata duitan?!" Aku tersenyum dingin. "Bukankah tujuan awalmu adalah menyuruhku untuk menghabiskan uang Keluarga Byun?"
"Baekhyun, Ibu juga ingin hidup yang nyaman."
"Ingatlah! Ini adalah utang Ayahmu kepada kita. Dia ingin menebusnya. Kalau kita menghabiskan uangnya, dia bisa melenyapkan rasa bersalahnya."
Nyonya Jung membisu. Aku tahu dia teringat dengan perkataannya dulu.
Akhirnya, penebusan dosa Ayah untuk Ibu semata-mata hanya pemenuhan materi.
Saat aku tamat SD, ayah meninggal. Upacara kematian tersebut panjang dan rumit, suara tangisan memenuhi seluruh ruangan. Saat itu, aku sama sekali tidak mengenal kerabat yang datang berganti-ganti. Aku berlutut di depan ruangan, menunduk dengan rendah. Dengan begitu, orang-orang tidak akan menyadari bahwa aku tidak merasa sedih sama sekali.
Saat para kerabat ikut berlutut dan memelukku sambil berkata, "Anak yang malang." Aku melihat ekspresi mereka yang kebetulan sama.
Berpura-pura.
Aku mengangkat kepala perlahan, memperhatikan para kerabat yang berpura-pura sedih. Aku melihat Ibu kandungku mondar-mandir di depan pintu masuk ruangan upacara. Saat aku ingin bangun dan membawanya masuk, pundakku ditekan. Aku hanya bisa menatapnya sambil memohon kepada orang-orang untuk mengizinkannya masuk untuk menghormati Ayah terakhir kalinya.
"Jangan membuat malu. Ingat statusmu sekarang." Ibu tiri mengingatkanku, lalu menyuruh bagian keamanan mengusir Ibuku seperti sedang mengusir seekor anak anjing.
Aku ingin hidup dengan terang-terangan. Aku juga ingin Ibu kandungku hidup tanpa berpura-pura.
"Ibu, Ibu tenanglah." Akhirnya aku mengalah, berdesah. "Aku tidak akan membiarkan Ibu hidup seperti dulu. Selalu hidup dalam bayang-bayang orang."
"Baekhyun." Ibu tidak berkata apa-apa lagi. Ekspresi wajahnya menyisahkan rasa bersalah yang mendalam.
Setelah makan, aku langsung mandi. Saat keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi, aku melirik sekilas ponselku. Ada puluhan panggilan tidak terjawab. Rentang waktu panggilan adalah sejak kejadian itu sampai hari ini. Selain nomor yang tidak kukenal, Nyonya Jung sudah menelepon puluhan kali, Paman Changmin tiga kali, Sehun satu kali. Baru-baru ini, miscall dari ibu tiri.
Saat aku memoles krim kondisioner ke rambutku, ponselku kembali berbunyi.
Itu dari Ibu Tiri.
Aku menekan pengeras suara. Sambil mengeringkan rambut, aku berkata, "Aku baru selesai mandi…"
[Mandi?! Baekhyun, apa siang dan malammu terbalik? Pagi-pagi sekali, untuk apa kau mandi?]
Aku hanya membulatkan bibirku dan menjawabnya, "Apa Ibu tidak tahu? Orang barat mandi di pagi hari."
[Banyak alasan!] suara Ibu tiri datar dan dingin. [Kali ini, Byun Group akan meluncurkan produk baru. Aku berencana mencarimu dan Sehun untuk menjadi bintang iklannya.]
"Aku?! Main iklan?" Dengan sikapku yang keras kepala dan image sebagai gadis mata duitan? Wanita ini mungkin terlalu banyak uang dan tidak tahu cara menghabiskannya.
[Aku telah berdiskusi dengan bagian marketing. Produk baru kali ini adalah sepatu sport salir. Pangsa pasarnya adalah anak muda yang masih sekolah, yang gemar jalan-jalan dan yang gemar berolahraga.] Ibu tiri berbicara dengan nada seorang yang professional. [Para direksi juga sudah membuat survei. Dengan image, usia dan watak kalian ditambah dengan rasa ingin tahu anak muda sekarang tentang kehidupan para nona besar dan tuan muda dari keluarga kaya, dan propaganda dari media massa, semuanya akan berjalan lancar.]
"Stop! Stop! Kenapa tidak mencari artis dari media sosial?" Aku menolak keras, "Seperti artis muda film "Tiny Time" yang baru melejit itu. Bukankah image itu juga bagus?" Kalau dibandingkan dengan watak Sehun, artis itu lebih baik seribu kali lipat.
[Orang luar tidak gampang dikendalikan.] Ibu tiri memotong pembicaraanku. [Artis itu hanya baik di depan. Kalau di belakang kita tidak tahu. Kalau mereka bergosip, semua image produk dan Byun Group akan kena imbasnya.]
"Kalau Ibu tidak bisa mengendalikan situasi, itu urusan Ibu. Jangan sangkut pautkan dengan diriku. Lagi pula aku tidak setuju main iklan!"
[Apa aku minta persetujuanmu?] Ibu tiri tersenyum ketus, [Aku hanya sedang memberitahumu.]
Aku mengetatkan gerahamku, "Lagi pula Sehun juga tidak akan setuju."
[Dia pasti akan setuju.] Ibu tiri berkata dengan datar, [Aku akan membereskan Keluarga Oh.]
Aku terdiam sejenak, dengan perlahan mencerna pembicaraan kami. Aku merasakan sesuatu yang tidak enak.
Ibu Tiri berbicara dengan begitu datar dan tenang. Jangan-jangan dia memiliki rahasia Sehun yang sama sekali tidak diketahui oleh keluarganya sendiri.
[Ada lagi. Jangan kira aku tidak tahu kau pernah berurusan dengan polisi. Aku telah membuat semuanya tenang. Jadi lebih baik, jangan keluar rumah beberapa hari ini. Jangan banyak ulah!]
Sudahlah, aku saja sudah di ujung tanduk. Untuk apa mengkhawatirkan Sehun?
~~~MLP~~~
Ibu tiri telah menyiapkan berbagai macam kegiatan pembelajaran dengan alasan demi mengubah image-ku yang sudah berantakan menjadi lebih bagus dan lebih enerjik, tapi sebenarnya semua itu bertujuan untuk mengendalikanku.
Sayangnya, aku telah bersumpah bahwa aku harus tetap mata duitan seperti ini. Saat belajar, selalu saja bermalas-malasan. Kalau tidak tidur, pasti melamun, lebih parah lagi berpura-pura sakit kepala, sakit rambut, sakit mata, sakit telinga, sakit mulut, dan sakit gigi. Aku selalu berusaha menghindar.
Satu-satunya yang membuatku serius adalah 'peninjauan barang bermerek'. Karena barang-barangku sangat banyak aku membuat blog, berisi tentang barang-barang bermerek dan aksesoris. Tujuanku adalah mencuci otak para pemuda lugu dan gadis Cinderella agar mereka bisa membeli barang bermerek dengan cara yang tepat. Juga, menceritakan tentang menu mahal yang pernah kucicipi, ikut dalam pesta besar, dan foto-foto yang vulgar agar para follower semakin tertarik.
Terus terang, sebagian besar adalah memamerkan kekayaanku.
Mungkin ada benarnya juga kata Ibu Tiri, orang awam selalu memimpikan hidup seperti orang-orang dari keluarga kaya. Ternyata gambar posting-anku itu menarik perhatian juga. Dalam sekejap, jumlah follower sudah ratusan. Bahkan, beberapa majalah fashion dan acara kecantikan di televisi mengundangku untuk tampil.
Belakangan ini aku banyak mengalami masalah dalam hidupku sehingga saat aku tersadar, rasanya sudah hampir dua bulan lamanya aku tidak mendengar kabar dari Sehun.
Saat itu, saat Sehun menarik tangan Luhan keluar dari restoran, aku tidak tahu mereka pergi ke mana.
Lalu, Luhan menjemput Chanyeol. Suara lembutnya memanggil 'Chanyeol' membuatku penasaran tentang hubungan di antara mereka.
Selain nama dan saat dia berkostum Hello Kitty, aku tidak tahu apa-apa tentang dirinya.
Park Chanyeol, apa aku bisa bertemu denganmu lagi?
Aku sembarang menarik rak aksesorisku. aku ingin memilih aksesoris yang akan dipadukan dengan gaun Zara hitam. Saat mencari aksesoris, "Ih…?!"
Saat pesta pertunangan, mahkota Swarovski yang kupakai hari itu ternyata hilang.
Apakah hilang saat terjatuh ke kolam? Hilangnya di dalam kolam apa di tempat pesta? Atau, sudah di ambil orang?
Saat kucari sebentar, kemudian aku membatalkan niatku. Aku merasa suatu saat nanti mahkota itu akan kembali ke sisiku. Entah kenapa aku bisa seyakin itu.
~~~MLP~~~
Menjadi nona besar yang taat sudah membuatku merasa bosan.
Akhir pecan ini, Ibu Tiri menghadiri acara yang sangat penting dengan membawa pergi banyak pengawal. Paman Kim dan Ibu pengurus dapur juga sudah tertidur. Kesempatan bagus!
Aku puas dengan dandananku setelah menerapkan penyamaran dengan baik. Rambut pendek palsu, makeup merah muda, di padukan dengan celana pendek Moschino. Hari ini, gaya makeup techno.
Saat ingin keluar kamar, aku teringat tidak boleh meninggalkan jejak kartu kreditku. Nanti saat Ibu Tiri melunasi tagihan, akan ketahuan kalau aku pernah keluar malam. Akhirnya, aku membawa beberapa lembar uang kertas dan kumasukkan ke tas tangan YSL. Saat satpam sedang pergantian shift, aku langsung kabur dan mencegat taksi lalu pergi.
Tujuanku adalah kelab malam Genesis.
Saat aku ingin masuk kesana, seorang penjaga mengulurkan lengannya mencegatku.
"Nona, tolong identitas anda."
"Tidak bawa." Aku membetulkan kacamata hitam Gucci yang hampir menutupi seluruh wajahku, "Aku hanya punya uang."
"Identitas diri."
"Aku punya banyak uang." Kataku sambil memberinya syarat.
"Identitas." Penjaga itu bergeming.
"Aku membawa banyak uang untuk memesan kelab malam ini." Aku mengamuk, "Suruh orang yang paling di gemari di sini untuk menyambutku."
"Identitas." Penjaga itu tidak mau mengalah.
"Aku mau memesan. Apa masih perlu identitas diri?!" Aku berteriak.
"Peraturan menetapkan keluar masuk kelab malam harus memiliki identitas diri." Penjaga itu berkata tegas.
Identitas diri?! Sekalian kasih tahu saja bahwa sosialita Byun Baekhyun ada di sini.
Aku berpikir ingin memuji penjaga kelab malam yang bertanggung jawab dengan tugasnya ini dan langsung pergi, atau memberinya sejumlah uang berharap demi membeli barang pokok, dia memperbolehkanku masuk. Tiba-tiba, aku melihat sosok yang kukenal di sana.
Park Chanyeol memakai jaket putih bertopi, berlalu disampingku, melirikku sekilas, lalu tanpa ekspresi masuk seolah-olah tidak mengenaliku.
"Kenapa dia tidak perlu identitas?" Aku menunjuk bayangannya, "Pelayanannya sangat berbeda."
"Dia staf di sini." Penjaga itu berkata dengan nada membanggakan, "Dia adalah bertender yang paling terkenal di Genesis."
"Oya?! Dia adalah pacarku. Aku datang mencarinya." Saat penjaga itu lengah dan bingung akan perkataanku, aku langsung masuk.
Di dalam kelab, suara dentuman membuat telingaku ikut bergentar hebat. Aku mengerjapkan mata, belum sempat menyesuaikan diri dengan suasana di dalam, lenganku ditarik seseorang.
"Untuk apa datang ke sini?"
"Aku datang untuk bersenang-senang." Aku tersenyum sambil melepas kacamata hitam, "Ternyata kau bisa mengenaliku. Kelihatannya penyamaranku tidak berhasil."
Pandangan Chanyeol menatap pakaianku yang agak terbuka, lalu dia melepaskan tanganku. Wajahnya memerah dan berkata, "Tempat ini bukan tempat yang pantas kau kunjungi."
"Aku tidak boleh datang, kau boleh datang." Aku bertanya kepadanya.
"Aku bekerja di sini."
"Aku tahu." Aku tertawa kecil. Saat dia akan pergi, aku menarik lengannya, "Hei, kabarnya kau yang paling terkenal di sini. Bagaimana kalau kau ku-booking semalam?"
"Tidak bisa!"
"Kenapa tidak bisa?!" Saat kami sedang tarik-menarik, tiba-tiba terdengar suara desas-desus.
"Hei, bukankah itu putri dari Byun Group—Byun Baekhyun?"
"Gawat. Paparazzi." Ekspresi wajahku berubah, aku gemetar.
Chanyeol menatap ke depan dari balik punggungku.
"Gawat! Aku tidak boleh ketahuan keluyuran di kelab malam. Kalau Ibu Tiri tahu, aku akan dihabisinya." Aku bingung dan ingin melarikan diri.
"Jangan bergerak." Chanyeol berkata dengan datar.
Dia mendekatkan diri ke telingaku. Desahan napasnya membuat seluruh wajahku memerah.
"Jangan menoleh ke belakang. Mereka sedang berjalan ke arah kita. Kalau kau menoleh ke belakang, habislah kau."
"Lalu, aku harus bagaimana?" Aku membenamkan kepalaku di bahunya.
Chanyeol dengan lembut menekan kepalaku dalam dekapannya. "Di sini saja."
"Di sini saja?"
Di sini adalah dekapannya. Di sini, aku bisa dengan jelas mendengar detak jantungnya. Hanya saja agak kencang.
"Apakah kau Nyonya Byun Baekhyun? Bisakah kita mengobrol sebentar."
"Kalian salah orang. Dia adalah pacarku." Kata Chanyeol semakin mempererat dekapannya, "Bukan putri dari Keluarga kaya."
Aku membenamkan wajahku lebih dalam lagi. Sangat beruntung, hari ini aku memakai rambut palsu.
"Kalau bukan, untuk apa sembunyi-sembunyi?" Pria itu tidak mau menyerah.
"Genesis bukan tempat kalian para paparazi mencari berita. Mohon sopan sedikit! Kalau tidak, kami akan mempersilahkan kalian keluar." Chanyeol menjawab dengan tegas. Pria itu mendengus lalu berlalu pergi.
"Apa sudah pergi?"
"Ya."
Aku sedikit meronta, Chanyeol melepaskan dekapannya.
Aku kembali memakai kacamataku, tidak bisa melihat ekspresi wajah Chanyeol dengan jelas.
"Kau menolongku lagi."
Aku tersenyum kecil, tapi dia mengacuhkanku. Untung saja, aku sudah kebal dengan sifatnya yang seperti itu.
Chanyeol mendorongku sampai di pintu keluar kelab malam. "Pergilah! Jangan datang lagi!"
~~~MLP~~~
Dengan rambut yang masih basah dan langkah berat, aku keluar dari kamar mandi. Aku telentang di tempat tidur, memejamkan mata. Detak jantung yang teratur itu masih terngiang di telingaku.
"Jangan menoleh! Jika takut, lihat saja aku."
"Tenanglah, sudah tidak apa-apa… ada aku di sini…"
"Di sini saja."
"Kalian salah orang. Dia adalah pacarku. Bukan putri dari keluarga kaya."
Byun Baekhyun, kau memang orang yang tidak berguna. Dekapan dari orang yang tidak kau kenal membuatmu insomnia.
Aku bangkit dengan perasaan gundah, memeluk bantal bentuk kepala Hello Kitty, lalu memukulnya sekuat tenaga. Aku berkata kepada diri sendiri, "Tidak boleh ada pemikiran untuk bertemu dengan Chanyeol!"
Dia dan Luhan seharusnya tidak boleh masuk ke duniaku dan Sehun.
Begitu juga denganku, yang tidak boleh ada dalam dunianya.
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
.
CHAP 5 FINISH!
Huh… fast update kan, nih wkwk
Jangan lupa pendapat kalian tentang chap ini, yaaa^^ jangan langsung di close dund wkwk
See you^^
