Masa liburan telah berakhir. Sekarang sudah mulai masa sekolah.
"Nona, ayo bangun. Paman Kim akan masuk, ya." Paman Kim mengetuk beberapa kali, lalu masuk. Saat melihat situasi di dalam, beliau agak terkejut.
Aku tidak bermalas-malasan seperti biasanya. Aku sudah bangun dan siap berdandan di depan kaca rias, tetapi aku masih mengantuk. Aku menopang kepalaku di atas lengan untuk tidur sejenak.
"Nona..." Paman Kim memanggilku berkali-kali, tapi aku tidak bereaksi. Lalu, beliau mendorong lenganku sehingga dahiku membentur meja rias.
Sakit!
"Nona, anda tidak apa-apa?"
Aku langsung bangun, menghapus air liur di ujung bibirku dan berkata, "Sudah jam berapa? Apa aku terlambat? Apa Paman Changmin sudah pergi dan tidak menungguku?"
"Tidak. Waktunya masih sempat." Paman Kim menanggalkan kacamatanya, mengelap kacanya seolah-olah tidak percaya.
"Paman Changmin bilang, hari ini dia akan mengantarku ke sekolah." Aku berkata dengan manja.
Aku mengganti seragamku, melihat pantulan diriku dalam kaca besar. Seragam St. Leon yang diberikan oleh Paman Changmin sangat nyaman, seakan-akan dia tahu ukuran tubuhku.
Model seragam St. Leon kebarat-baratan. Sekolah itu sengaja mengundang perancang busana dari luar negeri untuk mendesainnya, kemudian menyerahkannya ke penjahit profesional untuk dijahit dengan tangan. Seragam setiap siswa disesuaikan dengan jenis kelamin. Siswi dengan kemeja putih dan rok lipat abu-abu motif burung. Siswa dengan kemeja putih dan celana panjang motif burung dipadukan dengan mantel lengan pendek kerah hitam corak tentara. Kancing mantelnya terbuat dari perak murni.
Aku salut dengan ide perancang busana itu. Seragam sekolah pada umumnya adalah seragam kemeja dipadukan setelan hitam, hanya seragam sekolah St. Leon yang menggunakan mantel corak tentara. Memang tidak seformal setelan hitam, tapi malah menambah kesan bahwa itu seragam sekolah dari kalangan elite. Selain itu, mantel motif tentara juga menjelaskan bahwa sekolah St. Leon terkenal dengan disiplin yang ketat.
Aku pernah mendengar cerita Paman Changmin bahwa seragam sekolah St. Leon mewakili kasta seseorang.
Yang bisa bersekolah di St. Leon bukan dari sembarang keluarga atau keluarga OKB (Orang Kaya Baru). Selain uang sekolah yang sangat mahal, biaya sampingan di sekolah ini juga sangat mengejutkan. Harga satu seragam sekolah hampir sama dengan harga bermerek kelas satu. Oleh karena itu, siswa yang bersekolah di St. Leon bukan hanya harus kaya, tapi juga harus punya nilai yang tinggi.
Lalu, bagaimana putra-putri keluarga kaya ini membedakan kasta mereka?
Perbedaannya ada di aksesoris seragam. Para siswa mengenakan dasi motif kotak abu-abu hitam, sedangkan para siswi mengenakan dasi model kupu-kupu motif kotak abu-abu hitam. Kalau aksesoris dasi disulami benang emas, menandakan sebuah kehormatan. Jumlah pemiliknya sangat sedikit, karena mereka adalah siswa berprestasi yang telah diakui talentanya, termasuk dalam kasta pemimpin di sekolah St. Leon. Mereka biasanya menduduki jabatan sebagai ketua OSIS atau pengurus inti OSIS. Siswa berprestasi yang masuk tiga besar juga memiliki aksesoris ini. Aksesoris tambahan ini mewakili pemenang dalam persaingan untuk menjadi yang terbaik.
Tentu saja ada sebagian kecil yang tidak memakai dasi laki-laki atau dasi kupu-kupu. Di dada sebelah kiri mereka tersemat pin emas sekolah. Mereka adalah orang-orang yang masuk ke sekolah dengan 'perlakuan khusus'. Bahkan, mereka punya hak untuk ikut andil dalam manajemen sekolah.
Apa saja perlakuan khusus itu? Mungkin karena latar belakang keluarga yang cukup terpandang, misalnya Oh Sehun dan Byun Baekhyun.
Setelah selesai sarapan seadanya, aku masih memiliki waktu tiga menit. Paman Kim memberitahuku bahwa mobil Keluarga Oh sudah tiba. Aku mengambil tas, mengembangkan senyum selebar-lebarnya, lalu berjalan dengan cepat keluar rumah. Saat melihat mobil hitam itu, suasana hati langsung buyar.
Aku menatap pemuda yang sedang memejamkan mata di dalam mobil. "Kenapa kau yang datang?"
Sehun menatapku dengan tatapan 'jadi kau pikir siapa yang akan datang', dia melihat jam di tangannya, berdeham lalu berkata, "Ayo, kita berangkat."
Gambaran saat dia menggandeng tangan Luhan masuk ke mobil kembali muncul dalam benakku. Sebagai calon istrinya, bukankah aku juga berhak mendapat perhatian seperti itu?
Aku mengembuskan napas dan berkata dengan angkuh, "Apa kau tidak mau membuka pintu untukku?"
Saat kalimatku terlontar, aku sangat yakin Sehun akan mencibir. Membuatnya kesal adalah keahlianku.
Alis mata Sehun merapat. Ini adalah pertanda bahwa dia akan mengamuk.
Aku menyilang kan tangan di dada dan berkata, "Kalau mau jadi gentleman, seharusnya melakukan semuanya dengan baik, kan?!"
Dengan kata-kataku ditambah dengan ekspresi Sehun yang sudah masam, aku yakin dia akan menyuruh sopir pergi meninggalkanku, tapi terjadi keajaiban. Ternyata, dia turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.
Walaupun dengan wajah yang masam dan acuh tak acuh, paling tidak ini adalah suatu kemajuan. Kemajuan yang baik adalah awal keberhasilan. Apakah kalau aku lebih giat, aku bisa mengatasi si pemarah ini?
~~~MLP~~~
Mobil berjalan dengan cepat. Pepohonan di luar mundur dengan cepat. Diam-diam aku meliriknya. Sinar matahari menembus dedaunan dan menerpa wajah pemuda di sampingku. Alisnya mengerut, bibir tipisnya terkatup sambil tersenyum samar-samar. Gaya duduknya sangat tegak, sepertinya dia agak kesal, tidak tahu apa sedang kesal terhadap dirinya sendiri atau sedang kesal kepadaku. Aku merasa ekspresi seperti ini sangat imut.
Apakah kalau aku lebih berusaha, aku bisa jatuh cinta padanya?
Sehun tiba-tiba menatapku. Pandangan kami beradu. Aku sedikit malu dan memberi senyuman kepadanya. Dia panik sejenak, merasa canggung, lalu memalingkan wajahnya kembali menatap keluar jendela.
"Ada yang ingin kau katakan?"
"Seragam sekolah St. Leon." Suaranya nyaris tanpa ekspresi. "Sangat cocok untukmu. Kau sangat cocok dengan seragam itu."
Pujian yang datang tiba-tiba membuatku serbasalah. Seketika semua keangkuhanku buyar. Aku pun bergumam, "Benarkah?" Tanpa terasa tanganku mempermainkan ujung rok lipatku, telapak tanganku berkeringat.
Di dalam mobil hanya terdengar desahan nafasku dan Sehun.
Sunyi.
Tidak ada suasana pertikaian. Kami berdua sama-sama merasa kikuk dan menatap keluar jendela.
Kalau bukan karena seragam SMA ini, aku bahkan lupa kalau kami hanya anak muda berumur delapan belas tahun.
Anak muda biasa yang berumur 17 atau 18 tahun, mungkin sedang menikmati cinta monyet, kadang mereka resah dengan ujian, atau mungkin saling bercerita tentang pelajaran di sekolah, dan menyisihkan uang jajan untuk membeli hadiah bagi pasangan mereka. Mereka juga membicarakan masa depan, mengisi formulir impian.
Saat dua orang saling mencintai, di mata mereka hanya ada pasangan mereka dan cinta mereka. Itu sudah cukup.
Sementara, aku dan Sehun... Kebersamaan kami berhubungan dengan strategi bisnis dua perusahaan raksasa. Di belakang kami, ada berapa orang yang peduli? Ada berapa orang yang benar-benar merestui kami? Mungkin tidak ada, karena mereka hanya menunggu pembagian keuntungan.
Ini bukan hasil yang bisa kami terima.
Kami hidup dalam perlindungan keluarga. Kami memiliki segalanya, tapi itu berarti kami juga akan kehilangan sangat banyak.
Saat aku memikirkan hal itu, mungkin aku bisa paham kenapa Sehun sangat tidak setuju untuk bertunangan denganku. Itu bentuk pemberontakan yang pasif.
Mobil berhenti saat lampu merah. Aku melihat sepasang siswa-siswi di jalan. Mereka memakai seragam biasa dari sekolah negeri. Mereka berjalan sambil tertawa, siswa itu tiba-tiba menarik rambut ekor kuda siswi itu. Siswi itu juga tidak mau kalah, dia mendorongnya. Salah satu kaki siswa masuk ke selokan. Siswi itu hanya tertawa dan tidak berniat menolongnya, malah memfotonya dan melakukan sesuatu dengan ponselnya, mungkin mengunduh foto itu ke akun media sosial miliknya.
Tiba-tiba aku merasa sangat iri dengan mereka. Mungkin aku dan Sehun tidak akan pernah ada di masa seperti itu.
Suhu udara dalam mobil meninggi, Sehun melepaskan mantel motif tentaranya dan meletakkannya di area paha. Aku menatap pin emas yang ada di dada kirinya. Aku menunduk, ternyata aku juga memiliki pin serupa. Aku tersadar akan masuk sekolah asing itu dengan status 'calon istri dari penerus OSH Group'.
Kalau tidak gugup, itu mustahil. Sekarang aku gugup dan tidak tahu harus berbuat apa.
Dengan status seperti ini, perlakuan istimewa apa yang akan kudapatkan? Apakah akan ada orang yang benar-benar tulus mau menjadi sahabatku?
Perasaan tidak tenang ini tidak boleh kuperlihatkan. Aku harus melindungi diriku sendiri, sekalipun itu hanya menggertak.
Saat mobil kembali berjalan, aku mulai bicara, "Sehun."
"Hmm?"
"Apakah kau benar-benar menyukainya?" Aku tidak menyebut nama, tapi aku tahu dia pasti mengerti orang yang sedang kubicarakan adalah Luhan.
Sehun terdiam, leherku terasa tercekik oleh kesunyian, tidak bisa bernapas.
"Ah sudahlah. Kalau kau tidak mau bilang juga tidak apa-apa."
"Tidak tahu." Dia mengembuskan napas.
"Baiklah. Kalau begitu, menurutmu dia itu seperti apa?" Aku mengembuskan napas, tidak bermaksud mengorek informasi darinya. Hanya sedikit penasaran, bagaimana gadis itu bisa membuat penerus OSH Group peduli terhadapnya?
"Dia dan kita dari dunia yang berbeda. Keluarganya sangat miskin, tapi dia giat bekerja, tidak ingin bergantung kepada orang lain."
Aku tidak menyela pembicaraannya, hanya menggerutu dalam hati. Di luar sana, banyak gadis seperti itu. Di jalan, banyak gadis yang giat bekerja. Apakah kau suka mereka semua?
Bibir Sehun mengembangkan senyum tipis. "Dia sangat polos, sangat alami. Kalau ingin menangis, pasti menangis. Kalau ingin tertawa, bisa langsung tertawa. Di hadapannya, aku tidak perlu berpura-pura. Aku bisa menjadi diriku sendiri."
Ya ampun, aku tidak sanggup mendengarnya lagi.
Aku hanya menjawab, "Oh." Dan aku berkata lagi, "Begitu ya..."
Tetapi, senyumnya secara tidak langsung menyiksaku.
Benar. Aku tidak polos. Semua perilakuku selalu dibuat-buat, bahkan watakku sangat jahat, mata duitan, tapi di hadapanku kau juga tidak perlu berpura-pura, kau tetap bisa menjadi dirimu apa adanya.
Belum sempat kukatakan semua itu, dia sudah menyambungnya, "Baekhyun."
"Ya?"
"Iklan produk Salir, aku setuju untuk menjadi bintangnya."
"Hah?" Aku terkejut sambil mengangkat wajahku.
"Ibumu mengusulkannya kepada Paman Changmin. Byun Group meluncurkan produk baru dan memerlukan banyak foto untuk promosi. Aku bersedia ikut pemotretan." Dia berkata dengan tenang.
Sehun setuju untuk pemotretan, aku sangat terkejut.
"Tapi..." Dia meluruskan alisnya. "Lepaskan Luhan."
Aku terdiam.
"Apa kau sedang memohon kepadaku?" Aku menatapnya, orang angkuh seperti dia tidak mungkin akan begitu mudah memohon kepada orang lain.
"Aku sedang bertransaksi denganmu. Aku setuju dengan pemotretan dan kau lepaskan Luhan. Jangan ganggu dia lagi."
"Transaksi?" Aku merasa sangat lucu. "Apa maksudnya 'aku melepaskan Luhan dan jangan mengganggunya' aku bahkan tidak pernah bermasalah dengannya. Untuk apa transaksi seperti ini?"
"Jangan berpura-pura! Apa kau tidak melakukan hal itu?"
"Hal apa?" Aku bingung. Sehun menjadi tidak sabar. Saat itu, aku merasa walaupun aku tidak bersalah, bagi Sehun itu hanya pura-pura.
Setelah paham hal itu, aku tersenyum sinis, "Hal yang pernah kulakukan sangat banyak. Entah hal mana yang dimaksud Tuan Sehun?"
"Aku mengakui bahwa aku salah telah menyirammu, tapi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Luhan. Kau tidak boleh memanfaatkan foto itu untuk bertengkar dengannya, memaksanya berhenti bekerja dari hotel W, dan memaksanya berhenti sekolah."
Aku memaksa Luhan berhenti bekerja di hotel W? Aku memaksa Luhan berhenti sekolah? Apa aku tidak punya kerjaan, ya?!
"Aku akan membereskan Keluarga Oh."
Saat akan berkata lagi, aku teringat perkataan Ibu Tiri. Semua ini pasti perbuatan Ibu Tiri—Nyonya Victoria Song
Entah darimana dia bisa tahu hal itu. Saat itu Sehun menyiramku lalu membawa Luhan pergi. Dengan masalah ini, dia mengancam keluarga Oh.
Orangtua Sehun sangat mementingkan harga diri. Saat tahu anaknya dan karyawan hotel memiliki hubungan, mereka pasti sangat murka, pasti menggunakan segala cara memaksa mereka berpisah.
Dari tuduhannya, aku tahu beberapa hal. Tidak disangka, saat aku menikmati liburanku dengan santai, Sehun dan Luhan malah kocar-kacir akibat 'ulahku'.
Nyonya Victoria memang sangat 'perhatian' dengan anaknya, membuat Sehun menganggap ini semua adalah perbuatanku. Kalau begitu, aku tidak boleh menyia-nyiakan 'niat baik' Ibu.
Aku memeluk dada dan menyilangkan kakiku, seperti istri tua yang yang sedang mendapati suaminya berselingkuh. Aku tersenyum sinis.
"Kau ingin aku melepaskannya? Boleh saja. Kita lihat bagaimana tingkah lakumu, Calon suamiku."
Pagar dengan ukiran 'St. Leon School' ada di depan mata. Slogan sekolah bergambar singa yang berwarna keemasan bersinar cerah diterpa cahaya matahari. Sebuah taman bunga seukuran lapangan sepak bola terhampar luas. Di ujung sana, tampak bangunan merah bergaya Eropa.
Mobil keluarga Oh bergerak kedalaman sekolah, berhenti di samping air mancur yang berbentuk bulat. Sehun membukakan pintu untukku, lalu aku turun dengan perasaan bangga seperti seekor merak yang cantik.
Pemuda tampan, gadis cantik, dan mobil mewah membuat banyak siswa merasa iri.
"Hei, lihat. Pangeran Sehun sudah tiba di sekolah."
"Siapa gadis di sebelahnya? Tampangnya begitu sombong, tidak pakai dasi, tapi malah dibukakan pintu oleh Pangeran Sehun."
"Apa kau tidak tahu? Sehun akan bertunangan dengan putri dari Byun Group. Mungkin dia orangnya."
"Apa? Pangeran Sehun-ku akan bertunangan? Bohong, bohong." Salah satu siswi tersedu-sedu.
"Kalau begitu, Luhan sudah out. Pangeran Sehun pasti sudah bosan dengannya. Aku sudah bilang mereka tidak akan bertahan lama."
"Itu artinya kita bisa mengerjai Luhan, dong?"
Luhan?
Kenapa di sekolah elite ini bisa terdengar nama Luhan? Aku mengernyitkan dahi, tiba-tiba ada perasaan tidak enak.
Aku menarik Sehun yang berjalan di depanku, sekalian meletakkan tasku ke pundaknya.
Biarkan saja. Lebih baik aku mendeklarasikan kedaulatanku dulu.
"Apa kau tidak membawaku jalan-jalan? Hari ini adalah hari pertama aku sekolah. Mungkin kau bisa mengenalkan suasana sekitar dulu." Aku berkata dengan manja, seolah-olah mengingatkan Sehun dengan 'sikapnya'.
"Belajar mandiri sudah mau di mulai." Dia menolakku. Tubuhnya mengelak sehingga tasku kembali ke pundakku.
"Permisi, permisi." Seorang gadis berlari dari kejauhan. Rambut ekor kudanya bergerak dengan cepat. Itu dia.
Yang benar saja?!
Gadis miskin di sekolah elite. Ini pasti drama "The Heirs".
Searah dengan tujuan Luhan, tatapanku terhenti. Seorang pemuda berdiri di tiang marmer, tubuhnya tinggi. Dia mengenakan kaus oblong putih dan topi baseball. Topinya dipakai sangat rendah sehingga tidak begitu menunjukkan matanya. Sebuah kacamata gagang hitam tidak mampu menyembunyikan tatapan matanya yang tajam. Walaupun bibirnya menyunggingkan senyum tipis, auranya menolak adanya pertemanan.
Yang terpenting, lesung Pipit itu tidak asing.
Chanyeol, jangan kira dengan berkacamata, aku tidak mengenalimu yang pernah berkostum boneka.
"Kakak kelas Chanyeol, ini kopi dinginmu." Dia memasukkan sedotan ke minuman itu, lalu menyerahkannya. Pelayanan yang sangat baik.
"Terima kasih." Lesung Pipitnya semakin dalam. "Enak."
Luhan pun tersenyum.
Kenapa Chanyeol berada di sekolah St. Leon? Dia tidak mengenakkan seragam, tidak seperti siswa yang bersekolah.
Sapa dia atau tidak, ya?
Sudahlah, lebih baik jangan menambah masalah.
Saat aku ingin pergi diam-diam, aku sempat melihat ekspresi wajah Sehun begitu serius, tangannya tidak henti-hentinya mengepal lalu meregang seakan sedang bertemu dengan musuh bebuyutan.
Siswi-siswi itu berteriak, "Ya ampun. Itu kakak kelas Chanyeol."
"Kakak kelas Chanyeol tampan sekali. Tidak kusangka, aku bisa bertemu lagi dengannya. Kalau aku mati hari ini, aku tidak akan menyesal."
"Legenda St. Leon, Park Chanyeol. Tahun lalu setelah mengikuti pertandingan menunggang kuda, dia cuti sekolah. Hari ini, dia muncul di sini. Apakah dia berencana lanjut sekolah?"
Saat Luhan bertemu mata dengan Sehun, ekspresi wajahnya menjadi kaku. Chanyeol yang berada di sampingnya, merasakan kejanggalan dan memandang ke arah tatapannya.
Kami berempat saling bertemu muka.
Senyumku pun kaku, karena kembali bertemu dengan Chanyeol.
Aku, Sehun, Luhan, dan Chanyeol. Pandangan empat orang yang saling bertemu, menghasilkan Medan magnet tersendiri.
Roda takdir berputar perlahan. Adegan dramatis seakan bermain dihadapanku.
Sehun dengan langkah lebar mendekati mereka, sangat jelas dia sedang menahan kemarahannya.
Dia menatap Luhan sejenak, lalu berkata kepada Chanyeol, "Apa kabar, kak? Tidak terasa sudah satu tahun."
Chanyeol menjawab dengan singkat dan mengembangkan senyum yang penuh arti, "Oya? Sudah setahun, ya? Memang sudah lama kita tidak bertemu?"
Setelah itu, Chanyeol menatapku seolah-olah antara ada dan tiada, dan kata "lama tidak bertemu" seakan ditunjukkan untukku.
"Apakah selama ini kakak baik-baik saja?" Sehun berkata lagi.
Aku bisa mendengar dengan jelas bahwa kedua pemuda itu memang saling menyapa, tapi dalam hati mereka pasti sedang bergejolak.
"Menurutmu?" Chanyeol malah balik bertanya.
"Sepertinya kakak sangat sibuk. Selama satu tahun ini, tidak ada kabar sama sekali." Pandangan Sehun berubah tajam. Dia sedang menahan sesuatu. Dia menghindar dariku dan menatap Chanyeol.
"Semua itu memang salahku." Chanyeol membalas tatapannya sambil tersenyum. "Bagaimanapun, aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi."
Setelah itu, Chanyeol mengulurkan tangannya.
"Tapi..." Sehun menatap kosong tangan Chanyeol. "Bagaimana, ya? Aku tidak menginginkan kakak kembali ke sekolah St. Leon."
Perkataan Sehun membuat semua orang terdiam. Tangan Chanyeol terjulur kaku.
Luhan dengan cepat menurunkan tangan Chanyeol, bermaksud membuat suasana menjadi lebih tenang, tapi siapa sangka perbuatannya malah memancing kecemburuan Sehun. Diam-diam, dia mengepalkan tangannya lagi.
Adegan seperti ini sangat klasik dalam sebuah drama. Dua pemeran pria sedang merebutkan wanita cantik.
Tiba-tiba, mataku berbinar.
"Kakak kelas, ayo aku temani mengurus prosedur masuk sekolah." Luhan mencibir. "Jangan hiraukan dia. Dia memang kekanak-kanakan dan tidak sopan. Ayo, kita pergi."
Akhirnya, perkataan Luhan pun membuat kesabaran Sehun habis.
Dia bertanya, "Apa yang kau bilang Luhan?"
Luhan mencibir, "Aku bilang kau kekanak-kanakan dan tidak sopan." Dia menatapku sekilas, lalu menarik Chanyeol pergi dari sana.
Sehun mengulurkan satu tangan sambil menarik Luhan. Gadis yang tidak memiliki pertahanan diri itu, langsung jatuh dalam dekapan Sehun. Sehun memeluk pinggangnya. Mereka berpelukan dengan mesra.
Satu detik, dua detik, tiga detik.
Saat itu, waktu seperti terhenti. Di dalam hatiku, seperti ada suara langkah kuda.
Aku menatap Chanyeol. Dia hanya tersenyum sambil menyipit, tersenyum dengan tulus lalu menatapku. Aku berdeham dan mengalihkan pandanganku menatap Sehun dan Luhan. Yang pemuda napasnya memburu, yang gadis wajahnya memerah.
"Sehun, lepaskan aku." Akhirnya, Luhan tersadar. Dia meliuk-liukkan badannya seakan ingin melepaskan diri dari Sehun.
Dia menatapku dengan gugup. Dia takut, aku salah paham. Dia dengan cepat menjelaskan, "Baekhyun, kau jangan salah paham."
Belum sempat aku berkata, Sehun sudah membuka mulutnya, "Kakak Kelas, maaf. Luhan sepertinya salah paham denganku. Kami ingin bicara empat mata."
Chanyeol bingung, lalu tersenyum dengan lesung Pipitnya dan berkata, "Kalian bicara saja. Aku harus mengurus administrasi sekolah." Dia pergi meninggalkan kami.
Wajah Luhan tampak kecewa. Dia menatap punggung Chanyeol. Dia ingin memanggilnya, lalu berbalik menatap Sehun seolah-olah tersenyum merayakan kemenangannya, kemudian sekuat tenaga melepaskan diri darinya dan mengejar Chanyeol.
Saat Sehun tahu Luhan akan pergi, dia tanpa merasa bersalah kepadaku malah hendak mengejar gadis pujaannya itu.
"Berhenti!" Aku membuka tanganku dan mengadang Sehun. "Jangan kau berani mengejarnya!" Aku berkata dengan serius.
Kalau dipikir-pikir, tidak mungkin Sehun akan mendengarkanku. Kalau dia mau mendengarkanku, dia terlalu murahan.
Akhirnya, aku ditinggalkan.
Bersamaan dengan itu, lonceng berbunyi tanda pelajaran pertama dimulai. Aku berdiri di koridor yang luas, mendengarkan suara lonceng. Hati ini terasa sangat kosong.
Di sini terjadi banyak hal. Tidak peduli hal yang telah berlalu atau yang sedang terjadi. Semua itu tidak ada bagianku, bahkan untuk hal yang akan terjadi. Aku sama sekali tidak bisa menebaknya. Perasaan ini membuatku merasa gagal.
Aku mengambil ponsel, ingin menelepon kepala sekolah dan menceritakan kejadian tadi. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Dari Ibu Tiri.
[Apa kau suka hadiah yang kuberikan?] Nada bicara Ibu Tiri seakan sedang menyindirku. [Dijemput oleh calon suami ke sekolah. Bagaimana perasaanmu? Dia cukup penurut, kan?]
"Apa yang telah Ibu lakukan kepada Sehun dan Luhan?"
[Aku melakukan apa? Baekhyun, sebaiknya kau perhatikan nada bicaramu. Apa kau sedang menyalahkannya?]
"Oke. Nyonya Victoria yang anggun, kalau boleh tahu apa yang telah anda lakukan kepada calon suamiku?" Aku tidak marah, karena merasa marah itu sangat melelahkan, hanya saja tidak berdaya.
[Tidak apa-apa. Hanya sedikit pelajaran saja.] Ibu tiri menyindirku. [Dia cukup beruntung. Aku cukup kenal dengan paparazi itu. Aku yang menyuruhnya tidak memublikasikan foto-foto itu. Kalau masuk headline, ckckck... mungkin judulnya dibuat 'Demi Otang Ketiga, Tuan Muda Kaya Mengorbankan Calon Istrinya' atau 'Gadis Miskin Menggoda Pemuda Keluarga Kaya?']
"Kenapa Ibu melakukan semua itu?"
[Tentu saja demi membuat calon menantuku membantuku dalam mempromosikan produk baru perusahanku.] Nada Ibu Tiri meninggi, tidak mampu menyembunyikan rasa gembiranya setelah mempermainkan kami. [Kalau meminta bantuan orang harus ada balasannya. Aku berpikir bahwa Sehun tidak perlu diberi uang. Kalau foto-foto itu, dia akan berminat.]
Ibu tiri melakukan penyiksaan sekaligus bantuan untukku. Aku tidak tahu, mana yang benar.
Aku menggigit bibir bawah. "Tapi Ibu tidak boleh melibatkan Luhan untuk mengancamnya."
[Kenapa tidak boleh? Semua itu demi keadilan untuk putriku. Belum menikah saja sudah punya orang ketiga. Ini tidak boleh terjadi. Karena kau adalah mutiara Keluarga Byun.] Nada Ibu Tiri seakan menari di atas penderitaan orang lain. [Lagi pula aku cukup berbelas kasih, tidak memperbesar masalahnya.]
"Ibu tidak perlu ikut campur." Kepalaku terasa sakit. "Soal dia dan wanita itu akan kuselesaikan sendiri."
[Kalau perlu bantuanku, jangan sungkan memberitahuku. Karena kau adalah satu-satunya putri dari suamiku yang telah meninggal.]
Menyebalkan!
"Bye." Aku menutup telepon darinya. Beberapa menit kemudian, ponselku berbunyi lagi. Dalam keadaan marah, aku langsung menjawab, "Apa lagi, sih? Kalau ada masalah, cepat katakan. Aku sibuk."
Lawan bicaraku terdiam beberapa detik, [Baekhyun?] Suaranya terdengar ragu-ragu.
Aku terkejut, lalu melihat nama yang muncul di layar ponsel, Changmin, cepatlah bercerai
Ya ampun, gaya bicaraku.
"Paman Changmin... Er..." Aku berkeringat dingin. "Apa kabar, kepala sekolah?"
[Baekhyun.] Nada suaranya agak rendah, sepertinya dia merasa bersalah. [Tadi pagi, Paman meeting mendadak. Jadi, Paman menyuruh Sehun menjemputmu. Kau tidak marah, kan?]
"Tidak apa-apa." Apa yang bisa kukatakan? "Paman, jangan merasa bersalah."
[Sekolah St. Leon sangat luas. Ada beberapa tempat kegiatan ekskul yang lumayan jauh letaknya. Paman akan menyuruh Sehun mengantarmu ke kelas terlebih dulu.]
Menyuruh Sehun mengantarku ke kelas? Entah, dia ada dimana sekarang. Lebih baik aku mencari sendiri saja.
"Paman, jangan khawatir." Aku menatap bayanganku yang kesepian. "Sehun sangat 'membantu'-ku."
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
Adakah yang masih menunggu cerita ini? Hehe
