Aku melihat informasi tentang sekolah di brosur sambil mencari ruang kelasku.

Sekolah St. Leon terdiri atas tingkat SMP dan SMA. Karena mengadopsi kurikulum Eropa, sekolah yang lumayan luas ini hanya memiliki sedikit siswa. Jumlah keseluruhan siswa ditambah dengan guru dan staf office tidak lebih dari seribu orang. Sekolah ini berada di atas bukit. Tidak, kalau di atas bukit masih terlalu memandang rendah. Seluruh barisan bukit ini adalah sekolah St. Leon.

Tanah sekolah St. Leon benar-benar luas. Ada satu danau alami, dua danau buatan, tiga air mancur bergaya Yunani, landasan helikopter, taman bunga yang luas, dan lapangan hijau yang beribu-ribu hektare luasnya. Juga, sebuah panggung pertunjukan yang setara dengan gedung Opera di Amerika. Para guru dan siswa-siswi sering mengadakan pertunjukan musik atau drama di panggung itu.

Bagi anak-anak dari keluarga kaya yang tidak ada kerjaan, di sini seperti surga.

Lihatlah! Ada berbagai jenis lapangan olahraga, yang utama adalah basket, tenis, dan badminton. Fasilitas sekolah juga sangat lengkap. Yang lebih mengagumkan, ada lapangan sepak bola, kolam renang kelas dunia, lapangan kriket, arena panjat tebing, arena menunggang kuda, ruang kebugaran tingkat tinggi, lapangan golf, dan arena balap. Siswa SMA boleh balapan? Bahkan, ada arena hang gliding?!

Selain itu, demi menjaga kehidupan sehari-hari para tuan muda dan nona besar, malah ada peternakan dan ladang sendiri. Semua tersedia untuk menyuplai makan siang bergizi dengan bahan makanan paling fresh dan alami. Dengan adanya bahan alami kualitas tinggi, tentu saja ada chef dari hotel berbintang yang akan memasakkan berbagai menu makanan sehat, bahkan ada ahli gizi yang akan memperhitungkan kalori makanan, pelatih gym pribadi yang akan membuat siswa-siswi sehat dan bugar. Pantas saja, biaya sekolahnya mahal.

Kabarnya, di belakang gunung ada sebuah resor pemandian air panas. Para guru dan siswa bisa bersantai, berlibur, dan melakukan berbagai jenis kegiatan di sana.

Apa ini benar-benar sebuah sekolah? Ini lebih mirip sebuah kerajaan kecil.

Gedung utama terdiri atas tiga bangunan berlantai hijau dan berdinding merah. Dari luar seperti kastel Eropa, berdinding bata merah. Di samping lorong, terdapat pohon kayu manis yang lebat. Kelopak bunga berwarna putih perlahan-lahan jatuh ke tanah, Harum bunganya menyejukkan hati. Suasana sekeliling sangat indah. Bagiku, ini benar-benar seperti berjalan dalam labirin.

Setelah berjalan beberapa lama, tetap saja aku tidak menemukan kelasku. Aku mulai mengomel. "Sekolah yang begitu luas. Bukankah harus membuat mobil khusus untuk mengantarkan siswa-siswi ke tempat yang dituju?"

Tiba-tiba, seorang pemuda muncul dari jendela dan melambai kepadaku.

"Hei." Dia tersenyum lebar. Dia berambut cokelat dengan bibirnya yang pucat kemerahan. Kalau dilihat-lihat wajahnya agak kotak dan mengingatkan aku dengan wujud anak bebek.

"Heaven must be missing and Angel," Katanya.

Tidak dimungikiri. Pujian seperti ini cukup ampuh, apalagi dipuji oleh seorang pemuda tampan.

"Thank you." Aku menerima pujiannya dengan senang hati. "Nice to meet you. Bye bye." Aku sebenarnya ingin langsung pergi.

Dia mencegatku dengan terburu-buru. "Wait! But you owe me a coffe."

"What?!"

"Because when I looked at you from the window, I dropped mine." Dia berkata dengan sungguh-sungguh.

Aku tidak mengerti, kenapa seorang pemuda yang begitu tampan dalam sekejap bisa berubah menjadi sangat malang?

Aku mengerling, tidak menghiraukannya lalu pergi.

"Jangan buru-buru pergi. Namaku Kim Jongdae. Kalau boleh tahu, siapa nama nona cantik ini?" Dia melihat contekan di tangannya dan berbicara dengan aksen yang aneh. "Bertemu di sini adalah jodoh. Apa kita bisa berteman?"

"Apa kau sedang menggodaku?" Aku menatapnya dengan dingin.

Tertangkap basah maksudnya, dia hanya tertawa kecil, "Jadi, ini namanya 'menggoda', ya."

Aku terkejut.

Jongdae memelankan suaranya, memainkan matanya, dan berkata, "Nona cantik, sebenarnya begini. Aku sedang taruhan seribu euro dengan temanku. Kalau aku bisa mendapatkan nomor ponsel dan namamu."

Taruhannya bukan dengan dolar Amerika. Anak orang kaya ini taruhan dengan euro.

Aku melihat dari balik punggungnya, ternyata ada beberapa pemuda yang sedang berbisik dan cekikikan.

Pemuda itu mencondongkan wajahnya dan mendekat ke telingaku lalu berkata, "Bagaimana kalau kita bernegosiasi?"

Aku mengepalkan tangan, ingin kutarik kerah bajunya dan melemparnya ke lantai. Aku menarik napas dalam beberapa kali agar tidak terlalu emosional.

"Negosiasi apa?"

"Kau berikan saja nomor dan nama palsu. Nanti kita bagi dua seribu euro itu."

Sebenarnya aku ingin berkata, "Bagaimana kalau kukasih kau seribu euro untuk menghilang dari hadapanku."

Saat aku menunduk, aku melihat pin emas yang tersemat di seragam bagian dada kirinya. Oh, jadi dia juga siswa 'perlakuan khusus'. Daripada menambah musuh, lebih baik menambah teman. Aku memiringkan tubuhku, mendekatinya, dan tersenyum. "Kau menang. Namaku Byun Baekhyun, mana ponselmu?"

Pemuda itu bersorak, lalu mengeluarkan ponselnya.

Aku menggunakan ponselnya untuk menghubungi ponselku sendiri, lalu berkata, "Sudah. Sekarang, kita sudah punya nomor masing-masing."

"Nona Byun Baekhyun, apa kabar? Sekarang aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi." Dia menyibak rambut cokelatnya. "Namaku, Kim Jongdae." Dia berkata sambil menarik tanganku. Dia menulis namanya di telapak tanganku, "Kata peramal, nasibku kekurangan air, tapi kau juga bisa memanggilku Chen. Ibuku orang China dan ayahku orang Korea. Oya, bahasa Inggrisku lumayan, kan? Ini karena nenekku orang Inggris. Oleh karena itu, seperempat darahku mengalir darah orang Inggris. Kami sekeluarga sangat menyukai budaya Korea. Kalau kau memanggilku Jongdae, aku akan sangat senang."

Beberapa menit kemudian, Jongdae tetap saja bercerita, "Keluargaku adalah distributor perabot rumah tangga ala Eropa. Tebakanmu benar, Yi Jia Jia Ju adalah nama toko kami. Tapi, aku lebih tertarik merancang busana. Aku juga menjadi model majalah. Hobiku sangat banyak. Aku suka memasak, membaca, menyanyi—"

"Jongdae, nanti kita sama-sama makan siang, ya." Aku menyela kalimatnya, "Tapi, bisakah kau membawaku mencari kelasku dulu?"

"Kau siswa pindahan?!" Jongdae baru sadar pin emas yang ada di dada kiriku. Seakan baru sadar dari lamunannya dia menepuk dahinya dan berkata, "Oh my God!" Dia memelototiku dan berkata lagi, "Kau calon istri Sehun."

Aku mengangguk. Dengan satu tangan di bingkai jendela, Jongdae melompat ke luar dan berkata, "Rupanya kakak ipar, ya."

Dipanggil begitu membuat aku bergidik, aku langsung mencegahnya, "Jangan panggil aku kakak ipar. Kau memanggilku Baekhyun dan aku memanggilmu Jongdae."

"Kalau begitu, apa aku boleh memanggilmu Baekkong?"

"Tidak boleh!" Aku memelototinya. "Kecuali kau ingin kupukul sampai impoten!"

Saat Jongdae membawaku ke kelas, keadaan sangat riuh berubah menjadi diam. Semua mata memandang kearah kami.

Ada yang penasaran menatap pin emas di dada kiriku dan menerka artinya.

"Siswa pin emas kelima akhirnya muncul."

Siswa pin emas kelima?!

Jadi, selain aku, Sehun, dan Jongdae, berarti masih ada dua lagi?

Aku mengerti, rasanya tidak mungkin bersikap dan low profile di sekolah ini. Lagipula aku juga tidak ingin melakukan itu. Aku tersenyum sewajarnya dan berusaha tidak canggung sambil melambaikan tanganku lalu berkata, "Hai, semuanya. Aku siswa pindahan. Namaku Byun Baekhyun. Senang berkenalan dengan kalian."

Jongdae menunjuk tempat duduk baris terdepan dekat jendela dan berkata, "Itu tempat duduk Sehun. Aku duduk di sampingnya."

"Dimana Sehun?" Teringat dia mengejar Luhan membuatku heran, tapi aku seakan tidak peduli dan berkata, "Bukankah dia mau belajar mandiri?"

Sekolah St. Leon mengharuskan setiap siswa sampai sekolah jam delapan pagi, tapi waktu belajar mengikuti kurikulum Eropa, dimulai jam sembilan pagi sampai jam setengah empat sore. Oleh karena itu, sebelum pelajaran dimulai, siswa masih sempat melakukan senam pagi atau ikut belajar mandiri di pagi hari. Sepulang sekolah, para siswa juga bebas ikut kegiatan klub.

"Tidak mungkin!" Mata Jongdae membesar seolah-olah tidak percaya. "Dia tidak pernah ikut belajar mandiri."

Jangan-jangan... Pasti sedang mencari Luhan.

Sudahlah. Waktuku masih panjang. Ini adalah hari pertama sekolah. Kalau aku sudah hafal situasi dan keadaan sekolah ini, aku akan membereskan sepasang kekasih yang malang itu.

"Lalu, aku duduk dimana?" Aku bertanya.

"Aku Krystal, duduk di sini saja Baekhyun." Seorang gadis melambaikan tangannya untukku. Aku mengenalnya. Dia gadis yang berkata "Pangeran Sehun-ku".

Aku mau duduk di mana pun, itu bukan urusanmu.

Aku melirik dingin terhadapnya, langsung menolak ajakannya. Aku melihat sekeliling, akhirnya aku memutuskan duduk di depan Sehun.

Sehun, kau selalu meninggalkanku, membuatku selalu menatap punggungmu, hampir membuatku menjadi wanita penunggu suami. Aku sengaja mau duduk di depanmu agar setiap di kelas kau menatap punggungku sambil melamun. Kau juga harus merasakan bagaimana perasaanku saat menatap punggungmu.

Seorang pemuda berkulit cokelat sedang duduk di depan tempat duduk Sehun. Dia menunduk sambil makan mi dan melihat iPad, sama sekali tidak tahu aku sedang mengincar kursinya.

Aku mendekatinya, menepuk pundaknya, dan berkata dengan datar, "Bangun! Aku ingin duduk di sini."

Jongdae menelan ludah, lalu menarik ujung bajuku, "Baekhyun, tidak ada orang yang boleh sembarangan merebut tempat duduk orang lain."

Pemuda berkulit cokelat itu sama sekali tidak mengangkat kepalanya, terus saja makan mi, melihat iPad, lalu berkata dengan santai, "Sehun bilang sampai tamat SMA, aku harus tetap duduk di sini. Tidak boleh lepas dari pandangannya."

Ternyata, sainganku tidak ada bedanya baik pemuda maupun gadis.

"Diamlah! Aku mau duduk di sini," kataku tidak sabar.

"Hmmm?" Pemuda berkulit cokelat itu berdiri. Postur tubuhnya benar-benar luar biasa, dia juga cukup tinggi, membuatku seperti burung kecil. Aku langsung menghindar dan mundur kebelakang.

Pemuda berkulit cokelat itu menatapku, mungkin tingginya sekitar 182 cm. Dia berdiri di hadapanku seperti sebuah gunung. Seragam St. Leon sangat cocok untuknya, kemejanya hanya dikancing beberapa buah, lengan baju dilipat sampai batas siku tangan, dan bagian kemejanya yang terbuka menyembulkan otot tubuhnya yang kecokelatan. Jiwa maskulin terpancar. Tidak kusangka, Sehun suka yang seperti ini.

"Jangan kira kau besar, aku akan takut padamu." Aku berkata dengan sombong. "Aku adalah calon istri yang diakui oleh keluarganya. Keluarganya sangat konservatif. Kalian tidak mungkin bersama!"

Yang belum terkatakan, "Kalau kalian saling mencintai, Sehun harus datang memohon kepadaku. Mungkin aku akan menutup sebelah mataku dan membiarkan kalian bersama."

Pemuda berkulit cokelat itu menatapku dari kiri ke kanan. Alisnya menyatu, tangannya naik ke atas.

Aku pikir dia akan memukulku. Aku gemetar sampai kedua kakiku tidak bisa digerakkan, hanya bisa mengangkat dagu sambil memelototinya dan berkata, "Jangan menyentuhku! Kalau aku terluka, aku akan habis-habisan denganmu!".

Pemuda berkulit cokelat itu termangu, lalu tertawa terbahak-bahak. Telapak tangannya menyentuh rambutku, lalu membuang kelopak bunga yang tersangkut, "Kau sangat lucu. Lebih lucu daripada Luhan."

Aku terdiam sambil memelototinya dengan masih ketakutan.

"Kim Jongin."

Bengong beberapa detik, ternyata dia sedang menyebutkan namanya.

Hanya saja, kenapa nama semua teman Sehun begitu aneh? Mereka memiliki nama yang hampir sama dengan marga yang sama. Jongdae dan Jongin?

Aku memutuskan untuk memanggil namanya. "Halo Jongin, senang berkenalan denganmu."

"Silahkan saja kalau mau duduk di sini." Setelah bicara, dia memasukkan iPad ke tas. Dia menyandangkan tasnya, lalu keluar dari kelas.

"Jongin, kau pergi begitu saja. Bagaimana dengan Sehun?" Jongdae merengut dan berkata dengan manja, "Lalu, bagaimana denganku?"

"Kalian lakukan saja sendiri."

Kalian... Lakukan... Sendiri?!

"Jongin, kau mau ke mana?" Jongdae bertanya.

Dia tidak membalikkan badan, hanya mengibas tangannya dan berkata, "Bolos."

Begitu dia pergi, aku terduduk lemas di bangku, memegang dada dan berkata, "Jongdae, cepat katakan! Kau, Jongin, dan calon suamiku. Apa hubungan kalian?"

Aku harus tahu kebenarannya. Kalau tidak aku akan berpikir macam-macam.

"Kami senasib sepenanggungan." Jongdae menatap kepergian Jongin, dan berkata dengan penuh perasaan, "Itu 'perjanjian antar pria', ke mana-mana tidak akan terpisahkan."

"Cukup, cukup! To the point agar aku mengerti. Oke."

"Saat masa liburan, Tuan Kepala Sekolah memberikan kami sebuah tugas, dan akan dikumpulkan saat masuk sekolah." Jongdae menghela napas, "Tugas Jongin telah selesai. Aku menunggu untuk menyontek darinya."

"Hanya tugas liburan saja. Untuk apa dirisaukan?" Aku heran. "Biarkan guru privat yang menyelesaikannya."

Aku telah belajar begitu lama, tidak pernah membuat PR sendiri.

"Tapi, PR itu tidak sanggup dikerjakan oleh guru privat kami bertiga."

"Mana mungkin? Apa tema tugas kalian?"

"Model pertumbuhan ekonomi nonlinear negara Asia."

Model pertumbuhan ekonomi nonlinear negara Asia. Apa itu? Apa itu tugas siswa SMA?

Melihatku kebingungan, Jongdae mengucapkan judulnya sekali lagi dalam bahasa Inggris, dan menambahkan, "Kata Kepala Sekolah harus ada contoh nyata, lalu aku menulis tentang ekonomi Tiongkok, Sehun tentang ekonomi Jepang, dan Jongin tentang ekonomi Korea. Selama liburan, masing-masing dari kami menemui pakar ekonomi menanyakan keadaan, lalu janjian hari ini untuk membahas kesimpulannya."

Ruang kelas tiba-tiba sunyi senyap. Semua pandangan beralih ke pintu masuk. Aku diam sejenak, lalu perlahan membalikkan badan.

"Lihat apa?" Sehun membanting tasnya ke atas meja, membuat siswa-siswi di sekitar tempat duduknya terkejut.

"Pelajaran akan dimulai. Mau ke mana kalian?" Nada suara yang tegas membuat siswa yang sejak tadi berdiri, kembali ke tempat duduknya.

Wow! Rupanya bocah ini juga galak di kelas.

Sehun tidak terkejut aku bisa muncul di sini. Dia melirikku sekilas tanpa berkata apa pun, memeluk tasnya, dan membenamkan kepalanya di atas meja, pura-pura tidur. Tetapi, aku tahu di kalah perang tadi pagi.

"Hei, Sehun." Jongdae mengulurkan tangannya menyentuh bahunya. "Tugas laporan dari kepala sekolah. Apa kau sudah mengerjakannya?"

"Sudah siap," jawabnya datar.

"Benarkah?" Jongdae tersenyum. "Pinjam, dong."

Sehun merogoh tasnya, lalu mengeluarkan laporan yang sudah terjilid rapi dan dilemparkannya ke tempat duduk Jongdae. Dia kembali pura-pura tidur.

Jongdae berseru gembira, "Terima kasih, Kaisar. Semoga kaisar selalu panjang umur."

Laporannya cukup tebal, sepertinya cukup berbobot. Kover jilid bertinta emas cukup menjanjikan. Jongdae memegangnya dengan penuh perasaan dan membuka lembarannya dengan penuh hati-hati. Aku penasaran dan ikut melihat isi laporannya. Isinya ternyata—

Aku – sudah – selesai.

Aku sudah selesai. Begitu saja. Habis.

Jongdae mematung.

Aku memegang dahiku. Sebenarnya aku... sebenarnya aku berada di mana?

~~~MLP~~~

Akhirnya, pelajaran hari ini akan selesai. Pelajaran terakhir adalah bahasa. Guru bahasa mengambil beberapa materi dari Pandangan Prosa Klasik, lalu menugasi kami membuat kesimpulan dari hasil bacaan. Setelah itu, dia dan guru bahasa Inggris kelas sebelah pergi menuju kelas.

Semua siswa berharap lonceng tanda pulang cepat berbunyi, kecuali sebagian kecil yang serius mengerjakannya. Sebagian besar—kalau tidak berbisik –Sedang berkirim pesan via kertas.

"Hei, Jongdae."

Jongdae tidak tahu, namanya selalu kupelesetkan dengan bunyi yang tidak jelas. Sebenarnya, dia teman akrab pertama selama aku bersekolah di St. Leon.

Dia tidak menghiraukannya. Dia duduk dengan tegak, sebentar-sebentar menggeleng sambil mengernyitkan dahinya.

"Kerjakan saja saat sampai di rumah." Aku menutup buku latihannya, "Temani aku jalan-jalan."

Dia tidak berdaya dan mengerling, "Kalau tidak kuselesaikan sekarang, bagaimana aku meminjamkannya kepadamu."

"Baiklah. Kalau begitu, kau bersemangat, ya." Tanpa merasa malu aku menyemangatinya, lalu mengeluarkan iPad untuk browsing situs kecantikan.

"Baekhyun, kalau tidak mengerti bahasa Inggris, ya sudahlah. Tapi, ini pelajaran bahasa Korea. Sebagai orang Korea, apa kau harus menyontek PR yang ditulis oleh orang yang bertahun-tahun tinggal di Inggris dan baru beberapa tahun ini pindah ke Korea?"

Entah itu hanya perasaanku atau tidak. Sepertinya aku didiskriminasi oleh Jongin.

"Aku hanya tidak ingin menghabiskan tenagaku untuk memahami pelajaran kuno ini." Aku mendengus. "Hanya beberapa soal saja. Sebentar juga bisa kuselesaikan."

Aku membuka buku, sembarang menulis sekitar tiga menit. Semuanya sudah kuselesaikan. Aku meletakkan buku di depan Jongdae dan berkata, "Hei, Pelajar. Catat ini!"

"Jawaban ini, apa bisa dijamin kebenarannya?" Jongdae mengernyitkan dahinya, membuka buku latihannya, buku Jongin, lalu membandingkannya dengan jawabanku, "Kenapa tidak ada satu pun jawaban yang sama?"

Jongin penasaran, melihat buku-buku latihan itu, lalu dia tertawa, "Arti dari 'kejahatan melilit tubuh, amarah meliputi' adalah 'sudah lama tidak mandi sehingga dikomplain orang karena bau badan'?"

"Siapa yang bilang tidak benar?" Aku merebut kembali buku latihanku. "Ini cara penyelesaian prosa kuno yang sudah turun temurun di wariskan."

"Kalau begitu, silahkan putri menjelaskannya." Jongdae membalikkan telapak tangannya seakan 'menyilakan', siswa-siswi lainnya juga ikut nimbrung.

"Dengar,ya." Aku berdeham. Dengan gaya seorang profesor, mengambil pena dan menunjuk ke arah buku latihan, "Pilihan yang ada, yaitu tiga panjang satu pendek. Jadi, pilihlah yang pendek. Tiga pendek satu panjang, pilih yang panjang. Dua panjang dua pendek, pilihlah B. Kalau tidak ada pilihan lagi, pilihlah C."

"Kurasa wajahmu yang muka tembok." Sehun yang ada di belakang berkata, "Ujian ratusan tahun lalu mana ada pilihan bergandanya?"

Dasar bocah tengil, selalu membuatku malu. Prestasinya pasti sama denganku, tidak ada bedanya.

Aku menghinanya dan berkata, "Jangan bilang aku muka tembok karena terlalu mengandalkan mu. Hari ini kau pulang sendiri, tidak perlu menungguku."

Untuk membuatku dan Sehun cepat akrab, orangtua selalu mengharapkan kami selalu bersama setiap saat. Setiap hari selalu mengirim mobil agar kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama-sama.

"Dengan senang hati."Sehun segera membereskan tasnya, lalu pergi.

"Lalu jawaban dari Baekhyun sebenarnya benar atau salah?" Jongdae menggaruk kepalanya.

"Lebih baik kukerjakan sendiri di rumah." Kata Jongin sambil tersenyum pada Jongdae, "Sampai jumpa besok."

Jongdae membereskan tasnya, aku langsung menariknya. "Aku sudah datang kemari. Bawa aku ke tempat legendaris—taman belakang."

"Taman belakang ?!" Bulu matanya berkedip, matanya berbinar.

"Er... tempat yang bisa melihat 'pemandangan indah' itu, lho." Aku melanjutkan.

Beberapa hari bersekolah di sini, guru pria sekolah St. Leon seperti yang diberitakan orang luar memang orang-orang yang paling berkualitas di antara yang berkualitas. Hanya saja, saat di kelas mereka jarang tersenyum, selalu memasang wajah serius.

"Pemandangan indah? Yang kau maksud itu 'taman belakang'?"

Aku mengangguk seperti burung perkutut.

"Sejak kejadian dimasuki oleh orang asing, taman itu termasuk daerah yang dilarang sekarang. Tidak ada identitas jelas, tidak boleh masuk."

"Kalau kubayar, apa aku boleh masuk?" Aku tidak punya apa-apa, tapi uangku banyak.

Jongdae kembali mengerling, "Kalau dengan uang boleh masuk, taman belakang itu sudah pasti rata dengan tanah."

Aku terus merengek di telinga Jongdae, "Aku ingin lihat, aku ingin lihat..."

Akhirnya dia bosan, lalu dia berkata, "Aku tahu tempat yang dekat dengan taman belakang, yang pemandangannya juga tidak kalah indah."

"Di mana?" Aku sangat bersemangat dan mengeluarkan kamera dari dalam tasku.

"Area sekitar hang gliding." Jongdae melirik kameraku. Urat nadinya bergerak-gerak seakan mencurigaiku sebagai seorang maniak. "Apa kau bisa fotografi?"

Dengan malu-malu, aku berkata, "Iya. Selain mata duitan, ini hobiku yang lebih merakyat."

Daripada menunggu kesempatan tiba, lebih baik sekarang melakukan yang selama ini aku idamkan. Lebih cepat, lebih baik.

Aku memaksa Jongdae membawaku ke sana. Kami melewati jalan setapak. Setengah jam kemudian, kami sampai di sana.

Saat senja, ujung langit bersinar cahaya kemerahan. Hamparan rumput hijau yang rapi menutupi seluruh bukit, ditemani cahaya merah temaram.

"Di mana semak-semaknya?" Aku bertanya dengan tergesa-gesa.

"Ada di bagian belakang ruang perlengkapan. Di situ, tempat yang paling bagus di sekolah St. Leon. Kita bisa melihat matahari terbenam. Kabarnya setiap hari pasti ada orang yang menembak—"

Tanpa menunggunya selesai bicara, aku langsung berteriak kepadanya, "Cepat bawa aku ke sana!"

Jongdae ketakutan. Dia menatapku sejenak.

Aku memegang daguku, tersenyum kecil, dan berkata, "Maksudku kita harus cepat. Kalau matahari terbenam, kita tidak akan bisa melihat apa-apa."

Ekspresi wajahnya kembali normal. "Benar juga. Cahaya adalah unsur utama dalam berfoto."

Kami berdua mengitari semak belukar dan pepohonan. Di depan kami masih ada pepohonan yang tingginya melebihi kami. Sayup-sayup terdengar suara yang tidak jelas, jantungku berdebar kencang.

Ada 'perang'. Luar biasa!

Aku merendahkan pinganggku, memasang kuda-kuda, tubuh bagian samping menempel di tembok ruang perlengkapan, perlahan-lahan memunculkan kepalaku. Aku sedang melakukan tugas pengintaian.

Tali kamera yang tergantung di leher seperti di tarik seseorang. Saat itu aku sedang fokus dengan kameraku dan mengatur letak lensanya. Tidak lama kemudian, tali kameraku ditarik lagi, beberapa kali sehingga membuatku tidak sabar. Akhirnya, aku membalikkan badan sambil berkata, "Ssst...", tapi yang kulihat bukan Jongdae.

Setetes keringat dingin mengalir dari punggungku. Ya ampun. Park Chanyeol, kenapa dia bisa berada di sini?

"Apa yang sedang kau lihat?" Dia bertanya dengan suara yang tidak kuat, tapi juga tidak dikecilkan.

Aku menoleh ke belakang, melihat semak yang bergerak dengan cepat, lalu memandanginya. Aku bingung, apakah harus menyuruhnya diam atau menariknya pergi dari sana?

Dia melihat tanganku memegang erat kamera, membuatnya semakin penasaran. "Apa yang mau kau foto?"

Tentu saja aku tidak boleh bilang apa yang ingin aku foto.

Chanyeol menarik tali kameraku. Dengan gigih kupertahankan kameraku. Dengan sekuat tenaga dia menariknya lagi. Tali kamera itu tersangkut di leherku, tanpa sadar aku berjinjit dan menengadahkan wajahku.

Memang waktu yang tepat, dengan begitu bibirku bertemu dengan... giginya.

Bibirku menyentuh giginya, bertepatan dengan itu aku langsung mencium bibirnya.

Seperti petir yang menyambar di siang bolong. Otakku langsung kosong. Aku memelotot, bibirnya perlahan menyapu bibirku.

Waktu seperti terhenti, hanya tinggal cahaya kecil yang perlahan-lahan masuk ke ufuk barat.

Tiba-tiba terdengar suara binatang yang aneh, diikuti dengan suara aneh lainnya yang tidak pernah terdengar saling bersahutan. Aku tersadar, dan mendorong Chanyeol.

"Aku, aku sedang mengamati kehidupan alam. Kau tahu, mengambil foto tentang alam, bersama dengan..." Aku tidak berani menatapnya, mataku terus mencari Jongdae yang tega meninggalkanku sendirian. "Dengan Jongdae."

Kehidupan alam? Kehidupan macam apa yang sedang aku amati?

Dua ekor anjing liar muncul dari balik semak. Anjing betina menggonggong dengan riangnya melewati kaki kami.

Walaupun bukan kupu-kupu, kodok juga tidak apa-apa. Kenapa harus anjing liar?

Seperti ditampar seseorang, aku berdiri mematung.

Chanyeol melihat ke arah semak belukar, anjing liar yang baru berlalu, kamera di tanganku, lalu mengambil kesimpulan di wajahku, ditambah dengan track record yang tidak baik sebelumnya. Wajahnya penuh dengan tanda tanya. Bahkan, aku bisa membaca pikirannya—Byun Baekhyun, kau memang gadis maniak!

Aku memang maniak!

Demi anjing liar yang tidak jelas, bahkan aku telah menyerahkan bibirku. Aku memang maniak kelas satu!

Aku pun pingsan.

~~~MLP~~~

Keesokan harinya saat tiba di sekolah, aku langsung menarik Jongdae ke toilet wanita.

"Dasar Jongdae jelek! Kau memang keterlaluan! Meninggalkanku sendirian!"

"Yang benar saja, Nona besar Byun. Hobimu yang merakyat itu sangat mengerikan. Kalau aku tidak lari, aku juga akan menjadi tersangka." Jongdae mengibaskan tanganku, mengeluarkan sapu tangan, dan membersihkan tubuhnya, "Ckckck... Membuatku melihat hal yang memuakkan. Mencemari hatiku yang masih suci ini."

"Hati kecilmu? Dasar kau..." Aku menginjak kakinya sekuat tenaga. "Sekali lagi kau berani mencoba meninggalkanku, kau akan merasakan akibatnya!"

"Masih ada lain kali?" Jongdae seakan hendak menangis. "Lain kali kau pergi sendiri saja."

...

Takdir memang selalu mempermainkan orang. Bagaimanapun aku menghindar, tetap saja tak bisa meghindari untuk berpapasan dengan Chanyeol di koridor.

Saat bertemu dengan Chanyeol, napasku sesak, jantungku berdegup kencang, dan darahku memanas.

Apakah karena kami sudah ada 'sentuhan intim'? Bersentuhan, berpegangan tangan, berpelukan, atau berciuman?

Ya ampun, menggangu sekali. Kenapa perasaan ini sangat menggangu?

Walaupun Chanyeol sudah berlaku sesederhana mungkin dan mengenakan kacamata untuk berbaur dengan para siswa di sekolah, wajahnya yang rupawan selalu menarik perhatian para siswi.

Sejak dia kembali ke sekolah, posisi Sehun sebagai yang tertampan mulai goyah.

Jongdae yang berjalan di depanku sepertinya melihat sesuatu yang aneh dari Chanyeol, "Hei, hei, hei bibir kakak kelas Chanyeol sepertinya terluka." Lalu, dia berbalik menatapku, "Baekhyun, kau juga..."

Jongdae! Kalau kau tidak menutup mulutmu, akan kuhajar kau sampai impoten.

Aku berusaha menyusutkan diriku, membuat diriku tidak terlihat. Karena Chanyeol semakin mendekat, setiap derap langkahnya seperti sedang menginjak luka bibirku. Aku kehabisan akal, hanya bisa membalikkan badan menyembunyikan wajahku dalam dekapan Sehun.

Sehun yang tidak mengerti kegelisahanku merasa keberatan dengan tindakanku. Dengan sekuat tenaga melepaskanku, kedua tangannya memegang wajahku dan melihatnya dengan jelas. Dengan marah, dia bertanya, "Bagaimana bibirmu bisa terluka?"

Hahaha! Bukan urusanmu! Untuk apa teriak-teriak!

Chanyeol menyimpan senyumnya, matanya perlahan menyipit dan melirik kami berdua.

Suasana menjadi aneh. Semua siswa terpencar menjadi dua bagian seolah-olah membukakan jalan dari arah Chanyeol menunju tempatku. Seperti sedang menunggu sebuah jawaban.

Bagaimana caranya meredakan sebuah gosip? Caranya adalah menciptakan sebuah gosip yang lebih menghebohkan. Sekalian mengumumkan bahwa Byun Baekhyun sudah ada yang punya.

Aku berjinjit, menghentakkan kepalaku ke dahi Sehun, lalu mendekatkan bibirku mengancamnya. "Digigit anjing gila! Kenapa? Kau juga ingin sama sepertiku?" Lalu, kugigit bibirnya dengan kuat.

Sehun merasakan kesakitan, matanya memancarkan kemarahan, lalu membalas mengigitku, "Kaulah si anjing gila itu!"

Pertarunganku dengan Sehun berlangsung selama satu menit. Gambaran yang terlihat adalah pemuda yang memegang wajah seorang gadis, dahi mereka saling bersentuhan. Dengan wajah memerah, kami saling menggigit.

Tapi dari sisi orang lain, gambaran ini adalah gambaran yang sangat romantis.

"Kakak kelas Chanyeol, kopi panasmu. Hari ini tokonya baru buka. Jadi, beli satu gratis satu..."

Luhan muncul diantara kerumunan, baru selesai bicara dia sudah melihat pemandangan seperti itu sehingga membuat dirinya syokdan berdiri mematung.

Saat adegan mencapai klimaksnya, ada sesuatu yang membuat Luhan sampai terhuyung-huyung. Kopi panas di tangannya terjatuh dan menggelinding sampai ke kaki pangeran Sehun. Beberapa tetes kopi mengenai sepatu bermerek pangeran.

Selain aku yang terkejut, semua orang berusaha menahan napasnya.

Luhan akan ketiban sial.

Luhan dengan gugup mempermainkan tangannya, "Maaf..."

Sehun menatap sepatunya yang terkena percikan kopi, lalu mengangkat kepalanya melihat gadis yang menangis berurai air mata. Saat itu, dirinya langsung lesu.

Aku benar-benar tidak sabar, ingin rasanya kupukul kepalanya dan berkata, "Hei! Sadarlah! Sadar! Kau adalah pemuda tergalak di St. Leon. Seharusnya kau lebih tegas."

Aku berdeham. Sehun tersadar. Alisnya naik dan berkata, "Kalau meminta maaf ada gunanya, untuk apa ada polisi. Untuk apa ada hukum?"

Kalau minta maaf ada gunanya, untuk apa ada polisi!

Wajah Cinderella Luhan langsung pucat Pasih.

Gadis jahat Baekhyun tersenyum senang.

Orang-orang disekitar pun langsung heboh. Inilah kata-kata yang ditunggu selama ini.

"Lalu, kau ingin bagaimana?" Tubuh Luhan bergetar hebat.

"Aku ingin bagaimana?" Sehun sedang dalam puncak kemarahan.

"Dia tidak sengaja." Chanyeol bergerak maju dan memunggungi Luhan, mengeluarkan sapu tangan putih dan menutupi tangan Luhan yang tersiram kopi panas. "Pergi dan siramlah tanganmu. Kalau tidak, kau akan kena luka bakar."

Pangeran berkuda sukses melakukan misi penyelamatan, meninggalkan pangeran yang sedang marah dan calon istrinya yang jahat mematung di tempat.

"Jangan dilihat lagi. Mereka sudah pergi." Jongdae dan Jongin masing-masing menarik kami yang masih mematung di tempat untuk masuk ke kelas.

Sehun marah besar. Dia menendang gelas kopi dekat kakinya, mengambil ponsel, dan tidak keruan berkata, "Mengapa St. Leon punya Starbucks? Apa baru masuk hari ini? Suruh dia keluar sekarang juga!"

Baru sekolah beberapa hari saja, adegan pertemuan kami begitu dramatis. Aku hampir tidak mempercayainya.

~~~MLP~~~

Melihat Chanyeol yang berlalu dari hadapanku. Dalam hatiku muncul berbagai pertanyaan.

Siswa yang baru selesai cuti yang kemudian masuk kembali ini, di dada kirinya juga tersemat pin emas, tapi bukankah seluruh pemilik pin emas di sekolah ini adalah anak orang kaya?

Lalu, kenapa dia harus memakai baju boneka di mal dan bekerja di kelab malam?

Antara Chanyeol dan Sehun, kenapa mereka bisa bermusuhan?

Saat jam makan siang, aku menyepak kaki Jongdae. "Hei kenapa kakak kelas Chanyeol bisa cuti sekolah?"

"Dasar wanita ini. Apa setiap mulai bicara, kau harus menyepak orang dulu?" Jongdae berseru kesakitan, "Sekolah tidak sampai sebulan, muncul tabiat aslimu. Kupikir kau nona besar yang manja. Ternyata kau sangat kasar. Pantas saja Sehun tidak mau menikahimu."

"Kau tidak mengerti." Aku sedikit membangakan diri. "Ini namanya gigi dibalas gigi."

"Menurutku, orang jahat dijahati orang jahat." Jongin menggeleng.

"Tepat sekali." Aku memotong lobster dengan pisau menjadi bagian kecil, lalu memasukkannya ke mulutku dengan anggun, mengunyahnya dengan pelan dan menelannya. Setelah itu, aku menyeka bibirku dengan serbet, tersenyum, dan berkata, "Aku akan mengasah Sehun dari besi menjadi jarum."

Jongin merendahkanku dan berkata, "Baekhyun, jangan kau berkata seperti itu."

"Baiklah." Aku menyimpan senyumku dan berkata, "Sekarang aku mau mendengar gosip! Apa yang terjadi di antara mereka berdua?"

"Hmm, mungkin karena wanita." Jongdae mengembuskan napas panjang, "Dari dulu begitulah wanita... Wanita apa itu?"

"Wanita pembawa bencana." Tambahku.

"Betul sekali."

"Luhan?" Aku mencoba menebaknya.

"Kok tahu." Jongdae terkejut.

Ya, ampun. Awal semua cerita sinetron seperti itu. Dasar tidak pernah menonton televisi.

Sebagai nona besar dari keluarga kaya, wajahku dan latar belakangku selalu lebih unggul dibandingkan dengan Cinderella. Kenapa pangeran malah lebih menyukai Cinderella?

"Sebenarnya apa kekuranganku?" Aku bingung.

"Kau pemarah, arogan, tidak bermoral, tidak bisa diajak susah, dan mem-bully." Jongin berkata dengan tenang.

"Singkatnya princess syndrome. Penyakit ini dijauhi oleh semua pria."

Aku berkata dengan angkuh, "Aku memang princess."

"Baekhyun, jangan sedih ya. Walaupun kau terkena princess syndrome, aku yakin kau bisa mengalahkan Luhan."Jongdae memegang tanganku, matanya berbinar. "Aku bertaruh seribu euro, kau pasti menang."

"Terima kasih, ya." Aku menarik tanganku dan mengerlingkan mata.

"Chanyeol juga menyematkan pin emas? Apa dia juga punya latar belakang yang unik?"

"Setahuku, ayah kakak kelas Chanyeol sudah lama meninggal. Lalu, ibunya menikah lagi. Dia masuk sekolah dengan prestasi gemilang." Jongin menjawab rasa penasaranku, "Saat SMP selama tiga tahun berturut-turut, dia juara satu. Dia memperoleh beasiswa penuh masuk ke SMA. Saat SMA, dia juga tetap juara satu."

"Tahun lalu, kakak kelas Chanyeol seharusnya mendapatkan tiket masuk ke sekolah favorit di luar negeri." Jongdae mendesah, "Tapi dia tidak menerimanya, malah cuti sekolah. Tidak ada yang tahu alasannya."

Tiba-tiba semuanya senyap. Tidak ada lagi yang berbicara, sepertinya telah mengungkit sesuatu yang tidak pantas dibicarakan.

Mungkin Luhan tahu sebabnya, karena kelihatannya mereka begitu akrab.

"Kalau begitu, berapa jumlah siswa yang punya pin emas di St. Leon?" Aku sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Tidak banyak. Selain kakak kelas Chanyeol dan Sehun, sisanya..." Jongdae menunjuk diriku, dirinya, dan Jongin, "Ya, di sini."

"Apa syaratmu memperoleh pin emas?" Aku bertanya kepada Jongdae.

Jongdae kembali terdiam. Seperti telah memutuskan sesuatu, dia pun membuka mulut, "In fact my grandma is a British princess."

Aku dan Jongin terkejut menatapnya.

"Jangan menatapku dengan pandangan hormat seperti itu. Karena aku tidak suka pandangan seperti itu, aku tidak mau mengatakan latar belakangku." Dagunya ditopang dengan tangan. "Walaupun aku dari keluarga kerajaan, aku tidak pilih-pilih teman. Aku bersedia berteman dengan orang awam seperti kalian."

Pandangan hormat?! Ya, ya, ya, dasar prince syndrome. Tidak ada obatnya.

"Jangan membahas tentangku lagi. Aku malu." Dia menunjuk Jongin dengan bibirnya. "Sebenarnya bocah ini juga cukup misterius."

"Kalau begitu, kau ini siapa?" Aku penasaran dengan latar belakang Jongin. "Pangeran dari Timur Tengah? Penerus kelompok mafia? Anak haram dari artis? Atau—"

Jongin mengembuskan napas. "Jangan tanyakan latar belakangku."

"Kenapa?"

"Nanti kalian akan terluka."

"Dasar..." Aku dan Jongdae mencibirnya.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Wah, makasih buat kalian semua yang masih setia sama cerita ini. Makasih juga buat yang udah buang-buang waktunya buat komen, hehe. Love u.

Aku sayang kalean~ heh