Sekolah menengah St. Leon merupakan gambaran kecil kehidupan kalangan elite. Ada keluarga moderat, tentu saja ada pembantu keluarga moderat tersebut. Beberapa siswa biasa masuk ke sini, karena peraturan dinas pendidikan untuk mengurangi tingkat eksklusif dari sekolah ini. Siswa biasa masuk ke sekolah ini melalui jalur keterampilan khusus atau prestasi. Setiap tahun, mereka harus mempertahankan gelar juara umum kemudian mendapatkan beasiswa penuh demi membayar biaya sekolah yang supermahal itu.

Chanyeol dan Luhan adalah contoh siswa biasa. Mereka bersekolah sambil bekerja.

Di St. Leon, siswa biasa seperti ini tidak banyak, harus belajar dan bekerja tanpa libur, ditambah dengan perlakuan tidak sopan dari siswa-siswi berada yang lain. Sebagian siswa biasa tidak bisa bertahan sampai satu semester. Kalau mereka bisa lulus SMA dalam tiga tahun, St. Leon akan memberikan beasiswa penuh berkuliah di luar negeri. Setelah lulus kuliah, mereka juga bisa memilih bekerja di kantor cabang OSH Group yang tersebar di penjuru dunia.

Dengan kata lain, sewaktu SMA bersusah payah, setelah itu akan ada kesenangan yang tidak terbatas. Beberapa ada yang berhasil.

Keunggulan siswa biasa adalah low profile, otak encer, dan tidak suka mencari masalah.

Setelah mengumpulkan beberapa informasi, aku menemukan berbagai kesimpulan tentang hubungan segitiga Chanyeol, Luhan, dan Sehun. Aku telah mengerti 70 sampai 80 persen, ditambah dengan daya imajinasiku. Kusimpulkan sebagai berikut.

Awal mula cerita, seperti kebanyakan drama atau novel. Pemuda kaya jatuh cinta pada gadis miskin.

Pemuda kaya yang hidup dengan pujian orang-orang sekitarnya, ke mana pun dia pergi akan menjadi sorotan. Gara-gara gadis yang tidak sengaja mengacuhkannya atau tidak sengaja mempermainkannya, muncul pemikiran 'Wanita ini cukup berani melawanku, aku akan mengerjainya!' Targetnya adalah gadis biasa Luhan.

Lama-kelamaan, akhirnya mereka semakin dekat dan saling mencintai.

Tetapi, aku juga tidak boleh menyalahkan Luhan. Dengan wajah tampan dan bentuk tubuh yang bagus seperti Sehun, jangankan statusnya sebagai penerus OSH Group, kalaupun dia seorang pembunuh, pasti ada gadis yang tergila-gila dan rela melakukan apa saja untuknya.

Cinta antara pemuda dari keluarga kaya dan gadis dari keluarga miskin harus ada rintangan dan tantangannya. Tetapi ini ceritaku, Baekhyun, bukan cerita Cinderella Luhan. Aku tidak akan membiarkan Luhan melewatiku begitu saja. Kalau berminat, silahkan menonton kembali drama The Heirs.

Intinya, selama proses pendekatan, pelindung Cinderella muncul. Dia adalah kakak kelas Chanyeol yang lemah lembut.

Sebagai pemeran pembantu, tentu saja latar belakang keluarganya tidak sebagus pemeran utama, tapi dia punya keahlian. Wajahnya tidak kalah tampan dengan pemeran utama. Kesehariannya sangat dingin, tetapi bisa bersikap lembut terhadap gadis sehingga membuat hati gadis berbunga-bunga dan gadis itu bingung harus memilih yang mana.

Karena pangeran berkuda hitam muncul, pangeran yang bertemperamen tinggi itu berpikiran bahwa wanitanya akan direbut orang. Dia menyadari cintanya terhadap wanita itu.

Tunggu!

Cerita ini memang menyebalkan. Saat mereka sedang bersaing ketat, Chanyeol menghilang, cuti sekolah.

Seharusnya cerita ini sudah mencapai puncak seperti grafik yang naik, malah tiba-tiba menjadi garis lurus yang menurun tajam.

Tidak adanya pameran pembantu yang menanti untuk menyerang membuat drama ini menjadi kurang greget. Sehun dan Luhan terjebak dalam situasi 'Kau lari, aku kejar' atau 'Kau tidak kejar, aku tidak lari'. Sebuah lingkaran yang tidak ada akhirnya.

Pemuda kaya merupakan orang yang bodoh dalam percintaan, hanya tahu jurus anak SD—'Aku mengerjaimu, semakin kukerjai semakin kusuka' dan gadis biasa yang hanya bisa 'Semakin kau mengerjaiku, semakin aku tidak suka padamu'. Gadis berlagak sok suci, membuat kemarahan penonton memuncak.

Ceritanya berjalan hingga sekarang, kakak kelas Chanyeol kembali ke sekolah. Sehun juga menambahkan peran seorang calon istri—aku, Byun Baekhyun. Akhirnya, semuanya bertemu. Calon istri yang jahat dan pangeran kuda hitam yang baik hati akan memperkeruh suasana sehingga suasana sekolah St. Leon seakan-akan semakin mencekam.

Langit telah mengutus Baekhyun dan Chanyeol untuk menghancurkan cinta Sehun dan Luhan.

Sampai di sini, aku tersenyum sinis pada cermin dan membulatkan tekadku untuk melaksanakan semua rencanaku.

Cermin oh cermin, siapa gadis tercantik di St. Leon?

Tentu saja Anda, Putri Baekhyun.

Cermin oh cermin, siapa yang Akhirnya akan berada di sisi Pangeran Sehun?

Lenyapkan Cinderella! Pangeran akan menjadi milikmu.

Jongdae berteriak dari luar kamar ganti ku, "Baekhyun, cepatlah. Pelatih bilang kalau kita terlambat, harus berlari keliling lapangan pacuan kuda tiga putaran."

Di St. Leon, kalau ada pin emas akan ada perlakuan khusus. Kalau ada perlakuan khusus, akan ada kamar ganti pribadi.

Area semak belukar di arena hang gliding itu belum seberapa. Kamar ganti Baekhyun adalah 'surga' untuk melihat pemandangan indah itu.

"Apa pelatih sudah pergi?"

"Belum." Jongdae menambahkan, "Tapi teman-teman telah pergi. Hanya tinggal kita berdua."

Kesempatan bagus!

Tidak peduli, aku belum selesai berganti baju dan hanya menyisakan bikini. Aku meraih kameraku.

Target: kamar ganti pribadi pelatih pacuan kuda.

Misi: Legenda BBT—'bintang berkaki tiga'.

Aku menempatkan kameraku di atas jendela, mengeluarkan lensanya, dan mengukur ketepatan gambar. Lalu, pemandangan yang semula kabur menjadi semakin jelas.

Ckckck... Sudah muncul... satu, dua... dua ekor binatang berkaki dua.

Yang satu seperti olahragawan, berkulit cokelat dan memiliki tubuh dengan sixpack sempurna. Bingo! Aku menelan ludah, langsung menekan tombol kamera beberapa kali.

Yang satu lagi kalah dengan yang pertama, berkulit agak putih. Kulitnya sedikit kemerahan. Tidak ada sixpack, mungkin fourpack dan two half pack. Ototnya sepertinya cukup kenyal. Entah bagaimana kalau disentuh?

Oh my God! Keringat di tulang selangka pemuda yang fourpack itu menambah daya tariknya. Perlahan, pandanganku melalui kamera melewati kacang kecil di depan dadanya. Seksi sekali! Lalu, melewati pinggangnya yang bertenaga.

Aku menelan liurku. Entah bagaimana tampang dari pemuda fourpack itu. Apakah sebanding dengan tubuhnya.

Lensa kamera kuperpanjang. "Ih?!" Pemuda berlesung Pipit yang berada di samping pemuda sixpack itu sepertinya kukenal.

"Come on." Jongdae masih berada di luar, berteriak. "Byun Baekhyun, hurry up!"

"Ribut sekali." Aku memunculkan kepalaku untuk mengusirnya. "Ssst, kau pergi duluan."

Mataku kembali melekat di depan kamera. Keduanya menghilang, menghilang secara bersama-sama! Dasar! Apa mereka sudah pergi duluan?

Aku terus mencari, lalu mendesah karena tidak menemukannya. Saat aku mau menyimpan kameraku, tiba-tiba... Brak! Aku terkejut, pintu kamar gantiku didobrak.

Bukan didorong, tapi didobrak—didobrak dengan paksa.

Aku segera melempar kameraku. Sepasang tanganku melindungi dadaku. Masih tidak percaya sambil menatap orang yang memaksa masuk ke kamar gantiku.

Orang yang muncul itu menatapku beberapa detik. Ekspresi wajahnya berubah dari hijau menjadi hitam, lalu bersemu merah. Terdengar bunyi pintu dibanting lagi, dan dia keluar dari kamar mandi. Gagang pintu jatuh berguling-guling di lantai.

Kali ini, giliranku mencemoohnya.

"Chanyeol! Kau memang bangsat!" Jeritanku menyebar ke seluruh St. Leon.

~~~MLP~~~

Beberapa menit kemudian, aku mengenakan jaket berkuda hitam dengan baju dalamnya kemeja belahan rendah. Aku padukan baju itu dengan celana kulit hitam yang superpendek dan sepatu bot rivet berhak tinggi. Tangan kiriku mengenakan gelang kulit rivet, sedangkan tangan kananku memegang pecutan. Lalu, aku pergi ke lapangan pacuan dengan gagah.

Dengan penampilanku yang seperti ini, pasti mengundang banyak like kalau diunduh ke akun Instagram. Itu hanya imajinasiku.

Pada kenyataannya, aku benar-benar tidak di pedulikan. Semua mata tertuju kepada pelatih yang macho dan siswa yang ada di sebelahnya.

"Kalian pasti sudah tahu siapa dia. Mari tepuk tangan untuknya, Park Chanyeol."

Para siswi bersorak-sorai. Sementara, para siswa hanya memandang dengan iri. Chanyeol membawa seekor kuda berdiri di samping pelatih. Baju berkuda warna merah yang pas di badan membuatnya tampak berwibawa.

"Semester ini, Chanyeol baru kembali sekolah. Dia termasuk kakak kelas kalian. Saat SMA kelas 2 dia pernah mewakili sekolah pergi ke Spanyol untuk mengikuti kejuaraan berkuda. Hari ini, saya sengaja mengundangnya untuk menjadi asisten pelatih kalian."

"Aa... Kakak kelas Chanyeol." Semua siswi bersorak riang.

Aku menepuk-nepuk pipiku. Pandangan mataku tertuju kepada pin emas yang menyemat di baju berkudanya. Hm, kenapa posisi pin emas itu sepertinya cukup 'menggiurkan' ya?

"Baju berkuda merah?! Huh, kecentilan!" Aku bergumam lalu menyikut Jongdae dan berkata, "Kenapa kau tidak memakai baju warna merah? Kulitmu putih, pasti akan lebih keren darinya."

"Baju berkuda merah itu hanya pantas dikenakan oleh orang yang pernah menjadi juara satu dalam berkuda." Mata Jongdae berbinar-binar. "Kakak kelas Chanyeol memang hebat."

Ada yang mendengus di belakang, aku menoleh. Ternyata Sehun sedang memeluk dadanya, memalingkan wajahnya dengan angkuh. Dia juga memakai baju berkuda warna merah, tetapi kehebatannya telah dikalahkan, jadi dia tidak merasa senang.

"Huh, sombong. Gadis-gadis itu hanya ingin 'memangsa' Chanyeol." Aku berbisik kepada Jongdae dan melewatkan bahwa salah satu gadis itu juga termasuk diriku.

Jongdae memegang dahinya. "Baekhyun, bisakah kau berkata dengan lebih sopan?"

"Kalau aku sopan, siapa yang akan menjadi wanita jahat?"

"Baekhyun, maju tiga langkah!" Wajah pelatih macho itu mengerut. "Sudah terlambat, masih banyak bicara. Katakan, kenapa terlambat?"

Aku maju tiga langkah dan berkata, "Pak, saya punya alasan."

"Apa alasanmu?" Mata pelatih macho itu menyipit, "Kalau tidak bisa dijelaskan, kau harus keliling lapangan berkuda ini sebanyak tiga putaran."

"Alasannya adalah..." Aku menghimpun seluruh keberanianku dan memelototi Chanyeol.

Dia mengulum bibir bawahnya dan perlahan memalingkan wajahnya.

Hei, hei, hei... Ekspresi macam apa itu? Dia sudah melihat tubuhku. Kenapa dia yang merasa teraniaya? Lagi pula, bukan aku yang berbuat kasar kepadanya.

Tetapi... Akhirnya aku menjadi iba.

Aku berjalan mendekati pelatih yang tinggi tegap itu. Dengan isyarat tangan menyuruhnya membungkuk.

"Pelatih..." Aku berhenti sejenak, lalu melirik Chanyeol.

"Ada apa?"

"Sebenarnya saat di ruang ganti tadi..."

Belum sempat kujelaskan, Chanyeol sudah membekap mulutku dan berkata, "Pak pelatih, tadi Baekhyun pingsan di kamar ganti. Dia sepertinya sakit." Dia langsung menarikku menjauh dari lapangan pacuan kuda.

"Uh, uh... Lepaskan!" Aku meronta-ronta.

Dia berteriak di samping telingaku. "Orang sakit tidak perlu ikut berkuda. Istirahat di sini saja."

"Aku tidak sakit!"

"Iya, kau sakit!"

Seorang gadis cantik dalam keadaan baik dituduh sakit, aku tidak akan memaafkannya.

Aku berteriak, "Aku tidak sakit! Aku sangat sehat! Coba lihat, bentuk tubuhku masih bagus. Semua ini karena aku rajin melakukan aerobika setiap hari." Aku ingin mengangkat bajuku memperlihatkan bentuk tubuhku, tapi sepertinya kurang etis, jadi kubatalkan niatku.

Aduh, kenapa aku harus membuktikan ini kepadanya? Tiba-tiba kurasakan wajahku menghangat.

"Tidak perlu dibuka, tadi sudah kulihat." Dia berkata dengan dingin, "Pokoknya hari ini kau tidak usah ikut kelas berkuda!"

"Kenapa tidak?"

"Dengan pakaian seperti ini?" Chanyeol kelihatan marah.

Aku melepaskan kacamata hitam, lalu melihatnya. Ternyata jaket Chanel yang aku kenakan terbuka lebar. Baju dalam belahan rendah itu telah basah karena keringat. Bra warna merah lumayan kelihatan. Celana kulit pendek dan sepatu bot hak tinggi menampilkan sepasang kakiku yang jenjang.

Apanya yang salah dengan penampilan seperti ini?

Aku menyibakkan rambut panjangku, tertawa dengan manja. "Seksi, kan? Ini adalah penampilan yang paling disukai netizen."

"Ikat rambutmu. Pakai jubah pelindung. Kemeja harus polos dan berleher tinggi, celana juga harus celana kuda yang elastis. Tidak boleh pakai hak tinggi. Tinggalkan semua aksesorismu!" Dia mengertakkan gigi. "Dan tidak boleh pakai parfum. Kalau tidak, seumur hidupmu tidak usah menunggang kuda!"

Tidak boleh hak tinggi! Perhiasan juga tidak boleh! Parfum tidak boleh! Harus pakai baju pelindung yang jelek itu!

Aku mengamuk. "Kenapa tidak boleh?"

"Karena aku tidak ingin menjaga seorang wanita dengan princess syndrome!" Dia balik berteriak.

"Aku bukan princess syndrome!" Aku melayangkan pecut yang ada di tanganku.

Ternyata gerakannya lebih cepat dariku. Dia mencengkram erat pergelangan tanganku.

"Lepaskan!" Aku memelototinya. "Kenapa kalau aku princess syndrome? Untuk apa menjagaku? Chanyeol, biar kuberi tahu, aku punya calon suami. Kau jangan terlalu Kegeeran!"

"Aku terlalu geer?!" Tatapannya semakin dingin dan tidak terbaca, membuatku seakan salah bicara.

Aku sedang mengamuk, tidak ingin berpikir yang tidak-tidak dan berteriak lagi, "Memangnya kau siapa? Untuk apa mengurusiku? Aku tetap mau pakai sepatu berhak tinggi, pakai celana pendek, pakai aksesoris. Aku mau diriku tampil cantik saat menunggang kuda."

Saat dia lengah, aku merebut pecutku dan memecut tubuhnya.

Dia kesakitan, kaki dan tangannya bersamaan mengunci diriku, aku meronta keras, tapi tetap saja dikuncinya di bawah. Saat aku mencoba mengangkat kaki untuk menendangnya, dia mengunciku dengan pahanya, pergelangan tanganku dicengkeram dengan erat sehingga aku kesakitan dan sama sekali tidak bisa bergerak.

Saat aku mulai kembali berpikir rasional, ternyata kami telah sama-sama terjatuh di atas hamparan rumput. Wangi rumput yang samar-samar membuat otakku tidak mampu berpikir jernih. Dia menegakkan lengannya menggantung di atas tubuhku. Napasnya sangat teratur, mata kami beradu, jarak kami cukup dekat, sedekat...

Dia perlahan menundukkan kepalanya. Bayanganku yang berada di bola matanya semakin membesar. Aku merasa grogi, tanpa sadar aku memejamkan mata. Bibirku terasa sakit.

Suara rendah Chanyeol mendekat di telingaku sambil tertawa kecil, "Sebenarnya siapa yang kegeeran?"

Dia melepaskanku dan menarikku untuk berdiri.

Aku? Aku yang terlalu geer?!

~~~MLP~~~

Chanyeol mengusirku dari lapangan pacuan kuda. Bahkan aku tidak boleh berada dekat kandang kuda. Akhirnya, aku hanya bisa berada di luar arena, menatap para siswa mencoba menunggang kuda.

Pemuda yang baru berkuda akan digandeng oleh pelatih, mengitari arena pacuan untuk belajar tahap dasar.

Kalau kedua pemuda berbaju merah itu, secara bergantian menunggang kuda dengan para siswi, seperti yang ada di film-film. Dua orang di atas satu kuda.

Ckckck... Lihatlah para siswi gila itu tersenyum sampai tidak tahu diri lagi. Bahkan, mereka kadang menyentuh dada Chanyeol. Hal ini semakin membuatku geram.

Saat pelajaran selesai, teman akrabku menyadari keberadaanku yang berjongkok di luar arena berkuda. Dia tahu tekadku, kalau tidak menunggang kuda, aku tidak akan pergi dari arena pacuan kuda.

"Baekhyun, apa kau ingin menunggang kuda?" Jongdae bertanya.

"Ingin sekali." Aku mengerjapkan mata. Kenapa mataku tidak seperti Luhan yang gampang menangis. Aku hanya tersenyum pasrah dan bertanya, "Bolehkah?"

"Mari kupinjamkan Meng Meng untukmu. Dia sangat jinak."

Meng Meng?! Aku hampir tertawa terbahak-bahak.

Jongdae menatapku. "Bisakah kau bersihkan liurmu dulu?"

"Sorry!" Aku menyeka liurku. "Jadi kudamu bernama Meng Meng, ya"

"Meng Meng adalah kuda yang hebat! Induk jantan dan betina, tiga besar juara dunia. Induk tertuanya, juara dunia," Seru Jongdae dengan bangga.

"Oya?!" Aku menatap sekilas kuda yang berada di belakang punggungnya, Tampak seperti kuda lemah. "Jadi, dia begitu hebat, ya."

Aku menaiki kuda itu sesuai dengan instruksinya. Kuda yang tadinya tampak jinak tiba-tiba saja mengamuk, melompat-lompat. Hidungnya mengeluarkan napas yang dalam. Aku terkejut dan langsung memeluk leher kuda itu.

Ya ampun, sungguh menakutkan! Bisakah aku tidak bermain kuda-kudaan lagi?!

Aku telungkup di atas punggung kuda. Suaraku bergetar seolah-olah baru ditendang kuda, "Apa kau yakin dia jinak?"

"Aku juga tidak tahu kenapa bisa begini. Bertahan, ya. Jangan jatuh!" Jongdae kebingungan. Dia meninggalkanku dengan kuda dan pergi mencari pelatih untuk meminta bantuan.

Tak berapa lama, rambutku mulai acak-acakan, makeup ku mulai luntur. Ditambah dengan teriakan minta tolong. Sama sekali tidak ada gaya anggun nona besar lagi.

Kebetulan Chanyeol lewat. Dia menoleh, senyumnya mengembang seolah-olah sedang melihat sesuatu yang menarik.

"Lihat apa kau? Tidak pernah melihat wanita cantik menunggang kuda? Pergi sana." Aku mengerlingkan mata.

"Apa kau butuh bantuan?"

Bukankah tadi bilang, tidak mau menjaga seorang princess syndrome?

Aku bersikeras, "Tidak perlu!"

"Kalau begitu, aku pergi ya."

"Kakak kelas, tolong aku!" Aku mengembuskan napas, menyadari ketidakteguhanku

"Kuda itu sangat sensitif. Jangan pakai parfum dan jangan pakai aksesoris apa pun. Kalau tidak, dia gampang naik darah dan tidak terkendali."

Dia berbisik di telinga Meng Meng, lalu menepuk lehernya dan menenangkannya. Akhirnya Meng Meng mulai tenang, dia bersedia digandeng Chanyeol.

"Akan kubawa kau berkeliling."

Ah? Membawaku berkeliling? Berarti aku boleh menunggang kuda.

Di dalam otakku muncul gambaran dua orang sedang berada di atas satu kuda. Satu di depan, satu lainnya di belakang.

Aku kegeeran sendiri sambil menutup wajahku saat terlintas otot fourpack Chanyeol mendekat dengan punggungku. Aku merasa jantungku berdetak tidak beraturan.

...

Setengah jam kemudian—

Aku melihat Sehun dan Luhan melintas di depan mataku. Senyum mereka begitu menjijikkan, benar-benar pasangan yang menjengkelkan.

Berkuda memang cocok untuk pasangan yang menjengkelkan.

"Hei, Chanyeol. Kenapa kau hanya membawaku berkeliling?" Aku sangat tidak puas, "Paling tidak harus seperti mereka yang menje... Er, maksudku paling tidak aku merasakan kecepatan kuda ini."

Dia hanya mengerling, "Kalau kau ribut lagi, akan kusuruh kau membersihkan kandang kuda."

~~~MLP~~~

Salah satu setting dalam novel atau drama adalah mengutamakan proses gadis miskin menjadi Cinderella yang akan melewati banyak cobaan. Misalnya, loker Cinderella yang dipenuhi sampah, banyak coretan pada buku bacaannya, ditimpuk bola saat dia berjalan, atau dikurung di toilet atau ruang ganti. Bahkan, yang lebih parah, saat bermesraan dengan pemeran pembantu, dia tertangkap basah oleh pemeran utama. Ya, kira-kira seperti itu.

Yang paling menarik adalah tidak peduli itu dalam novel atau drama, Cinderella ini selalu dikerjai, dimarahi, dipukuli, atau bahkan difitnah. Meskipun diperlakukan seperti itu, mereka tidak boleh melawan. Kalau melawan, mereka tidak menjadi gadis pujaan pangeran lagi. Malahan, mereka memaksakan diri untuk menerima segala siksaan.

Gambaran yang selalu tertindas lama-kelamaan akan membuat penonton bosan. Kalau tertindas, dia harus melawan. Itu baru benar.

Menurutku, semua itu taktik mereka mendapatkan perhatian orang lain.

Pangeran dan penolong selalu tertipu dengan keadaan lemah Cinderella.

Kejadian yang terjadi sore ini memperkuat dugaanku.

Lokasi kejadian adalah kantin sekolah. Bagaimanapun, St. Leon adalah sebuah sekolah yang sangat luas. Satu-satunya tempat yang bisa menampung semua siswa, ya di kantin ini.

Di kantin, aku sedang bersama dengan... Bisa dibilang F3—Sehun, Jongin, dan Jongdae. Kami duduk di area VIP Lantai 2.

Seperti biasanya, setelah makan, Sehun langsung pergi.

Chanyeol entah berada di mana. Sejak tadi dia tidak menampakkan diri.

Setengah jam kemudian setelah selesai makan, para siswi belum ingin beranjak dari kursi karena mereka sedang menunggu gadis miskin, Luhan, muncul.

Sepertinya akan terjadi sesuatu.

Menu makan di kantin St. Leon bisa disetarakan dengan makanan hotel bintang lima. Harganya tentu saja cukup sulit dijangkau oleh orang biasa. Satu porsi makan siang ala Prancis termasuk roti buatan tangan, appetizer, salad sayur, sup, dan es serut. Menu utama, pencuci mulut, dan minuman bisa mencapai ribuan dolar. Oleh karena itu, orang biasa yang tidak berkantong tebal selalu membawa bekal dari rumah, lalu memanaskannya di asrama. Saat mau dimakan, biasanya waktu makan siang sudah habis setengahnya.

Adegan pertama—Beberapa siswi yang sekelas dengan Luhan saling berpandangan. Mereka berdiri sambil ingin pergi. Seakan telah diprediksi, pintu kantin terbuka, Cinderella yang ditunggu-tunggu pun muncul.

"Wow, bau apa ini?" Siswi jail pertama sengaja menutup hidungnya. "Seperti bau nasi basi."

"Kalau mencium bau sayur murahan ini, berati wanita miskin di kelas kita sudah muncul." Siswi jail kedua berkata.

"Hei, Luhan. Seharusnya kau makan di asrama saja. Untuk apa makan di sini? Apa kau ingin semua orang tahu, kau tidak sanggup membeli makanan di sini?" Siswi jail ketiga menimpali.

Luhan tidak memedulikan semua perkataan itu. Dia memegang bekal makanannya, berjalan selangkah demi selangkah. Beberapa siswi jail itu saling berbisik. Ada yang sengaja memanggilnya. Saat Luhan berhenti, seseorang mengulurkan kakinya.

Semua orang tertawa tanpa merasa kasihan, karena melihat Luhan terjatuh. Bekal makanan di tangan pun berhamburan keluar, mengenai seorang siswi berdasi sulaman emas. Siswi itu refleks mengangkat tas bermerek nya untuk melindungi dirinya. Nasi kari yang masih hangat itu langsung berserakan di lantai. Beberapa buah kentang melekat di tasnya.

"Dia Im Nayeon, nona besar dari perusahaan Im's Group. Dia juga wakil ketua OSIS." Jongdae menggunakan siku menyikutku. "Nayeon suka dengan kakak kelas Chanyeol. Sudah lama tidak suka dengan Luhan. Kali ini, dia pasti tidak akan melepaskannya."

"Dia rupanya." Aku pernah bertengkar hebat dengannya.

"Apa kau kenal dengan Nayeon?"

"Pernah bertemu sekali." Kataku. Jongdae mengulangi kalimatku. Aku meraih tangannya dan menuliskan kalimat yang diucapkan tadi lalu menjelaskan artinya.

"Aku mengerti." Dia tersipu malu.

"Kau seorang pria. Baru dipegang tangannya saja sudah memerah." Aku bergumam sendiri.

"Aku bukan pria." Katanya pelan.

Aku memuntahkan minuman yang ada di dalam mulut. Jangan-jangan aku salah menafsirkan jenis kelamin Jongdae selama ini.

Dia mengeluarkan saputangan dengan tenang, menyeka wajahnya dan berkata, "Aku seorang gentleman."

"Iya, iya, Pangeran. Hamba bersalah." Apa dia tidak bisa tidak begitu sombong?

Saat aku sedang bercanda dengan Jongdae, suasana di bawah sudah memanas.

"Luhan!" Nayeon menjerit, "Kau sengaja, ya!"

Luhan menggeleng sekuat tenaga, "Tidak, tidak... Aku tidak sengaja."

"Perempuan miskin sepertimu memang berhati iblis. Tidak bisa melihat orang senang. Kau melihat Nayeon membawa tas baru hari ini, kau sengaja menumpahkan makananmu di tasnya."

Air mata Luhan mengenang di pelupuk matanya. Dengan sekuat tenaga, dia menahannya agar tidak jatuh ke pipi. Aktingnya sudah mengalami kemajuan, ya. "Maaf. Biar kubersihkan."

"Membersihkannya? Mau pakai apa membersihkannya? Ini adalah limited edition merek LV. Apa kau tahu apa itu LV? Apa kau tahu berapa harganya? Kalau rusak, apa kau sanggup menggantinya?"

Aku mengembuskan napas. Aku tidak sabar dengan adegan selanjutnya. Tetapi, tas di tangan Nayeon itu menarik perhatianku. Setelah kuamati dengan saksama, aku pun berkata, "Palsu."

"Apanya yang palsu?"

"Tasnya."

Kemana Chanyeol dan Sehun sekarang? Apakah mereka tega melihat Cinderella dalam kesulitan?

Adegan kedua—Saat pemeran utama dan pemeran pembantu tidak ada untuk membantu Cinderella, akan muncul orang ketiga dan keempat yang akan membantunya.

Aku memberi isyarat kepada Jongin dan berkata, "Hei, saatnya menunjukkan sikap gentleman. Tolonglah wanita yang sedang kesusahan itu."

"Apa hubungannya denganku?" Jongin menolak dengan tegas. "Bahkan, aku tidak suka padanya."

"Suka atau tidak itu bukan masalah." Aku memelototinya dan memelankan suaraku, "Ini namanya saling membantu tanpa mengharapkan imbalan."

"Kau saja yang menolongnya." Jongin mengangkat bahunya. "Jangan lupa, dia adalah sainganmu."

Aku menggigit bibir, ragu sejenak, lalu melihat kebawah. Luhan sudah dikerubungi oleh para siswi kaya itu. Mereka seakan mau menelannya bulat-bulat.

Mau ditolong? Sepertinya memang bukan urusanku.

Tidak mau menolong? Tas palsu di tangan Nayeon sangat mmenjijikkan.

Tentu saja, aku sadar Luhan adalah sainganku. Tetapi, yang tidak bisa kumaafkan ada orang yang membawa barang palsu dan tanpa rasa bersalah mengakuinya sebagai barang asli.

Aku berdiri, dan menepuk bahu Jongdae. "Aku mau pergi. Tolong bereskan meja untukku, ya."

Jongdae bergumam, "Yang berani memerintahku membersihkan meja di seluruh dunia ini memang hanya kau, Baekhyun."

"Ini namanya menderita kerugian akan mendapat keuntungan dari cara yang tidak sehat."

"Sepertinya aku yang selalu menderita kerugian."

Aku tersenyum dan berkata, "Makanya kau mencari keuntungan dengan cara yang tidak sehat saja."

Jongin berdeham, "Er, Baekhyun. Apa rencanamu untuk menolongnya?"

"Aku tidak berencana menolongnya." Aku merenggangkan jemari tanganku. "Aku hanya tidak bisa memaafkan wanita bodoh itu menganggap barang palsu sebagai barang asli."

Aku meminjam pemantik api Jongin. Aku turun diikuti tatapan mereka, lalu berdiri di antara Luhan dan Nayeon. Aku mengangkat satu tangan mengisyaratkan agar mereka berhenti.

"Kau?!" Nayeon menatapku dengan ujung matanya, "Apa yang kau tertawakan?"

"Aku mentertawakan..." Aku mengembangkan senyumku, "LV milikmu ini barang palsu! Apa masih berani pamer di sini?"

"Tidak mungkin! Aku menghabiskan puluhan ribu dolar menyuruh orang membelinya di Italia. Mana mungkin palsu?" Ekspresi wajah Nayeon berubah.

"Corak LV yang asli lebih detail. Sedangkan corak LV milikmu ini hanya kilapan dan tidak jernih. Jahitannya miring. Warna kancing tembaga yang terlalu mengkilap juga tidak bagus."

"Apa yang tidak jernih? Mana jahitan yang miring? Kenapa warna kancingnya tidak bagus?" Nayeon marah. Dia mengeluarkan seluruh isi tasnya, mengeluarkan kartu garansinya. "Tas LV milikku ini, ada kartu garansinya!"

"Kartu garansi juga bisa dibuat!" Aku berkata dengan dingin. Aku merebut tasnya, mengambil pemantik, dan menyalakannya, seolah-olah ingin membakarnya. Aku berkata lagi, "Apa kau berani membakarnya? Kalau kulit palsu, sekali terbakar akan tercium bau yang menyengat, seperti bau nasi basi."

Nayeon merebut kembali tasnya, memeluknya sambil menangis, "Aku tidak percaya! Aku tidak percaya! Kau bohong! Aku telah mengeluarkan puluhan ribu. Tidak mungkin ini barang palsu."

"Ini membuktikan kau memang bodoh. Sia-sia saja uangmu." Aku mengibas tangan dengan tidak sabar. "Ribut sekali di sini. Bawalah tas palsumu dan menyingkir dari sini!"

Suasana langsung heboh. Semua siswi di kantin membicarakan tas palsu itu.

"Masih berani bilang mengeluarkan uang puluhan ribu dan membeli langsung dari Italia, ternyata barang palsu!"

"Putri dari perusahaan permata Im's Group tidak bisa membedakan antara LV yang asli dan yang palsu. Jangan-jangan permata yang asli dan buatan tangan pun tidak bisa dibedakannya. Benar-benar menggelikan. Siapa yang berani membeli permata darinya?"

Menakutkan, kan?! Masyarakat kelas atas memang seperti itu. Orang yang sebenarnya memujimu, suatu saat mereka tidak akan segan-segan menghinamu saat tahu kau berada dalam kesulitan.

Nayeon membuang tasnya di lantai, menginjaknya dengan sekuat tenaga sambil melepaskan kekesalannya. "Tidak mungkin tas LV milikku ini palsu. Lihatlah! Lihatlah! Betapa bagusnya kualitas tas ini. Sudah kuijak beberapa kali, bentuknya tidak berubah dan jahitannya tidak terlepas."

"Barang palsu tetap barang palsu. Seberapa pun bagus kualitasnya, tetap saja barang palsu," kataku dengan tenang.

"Atas dasar apa, kau mengatakan tasku palsu? Kau yang palsu! Hidungmu palsu, payudaramu palsu. Semuanya palsu!" Nayeon melampiaskan kekesalannya. "Bahkan, pernikahanmu palsu. Pangeran Sehun tidak akan menikahimu! Baekhyun, ingatlah! Aku tidak akan melepaskanmu!"

"Tidak akan melepaskanku?! Kau yang tidak bisa membedakan LV asli atau palsu, mau mengancamku?" Aku menatapnya sekilas, "Untuk membantu memegang tasku saja kau tidak pantas!"

Perkataan ini benar-benar menusuk Nayeon. Dia berteriak histeris. Dia jadi tidak terkendali, menyambar piring keramik dari meja dan melemparkannya ke arahku. Semua orang segera menariknya pergi.

Dari koridor, masih terdengar jeritan Nayeon, "Awas kau!"

Untung saja aku menghindar dengan cepat. Serpihan piring keramik jatuh di samping kakiku, hanya ujung rok yang terkena cipratan sup dari piring itu.

Setelah semuanya berakhir, aku menoleh ke Luhan. "Kau tidak tahu cara membela diri, ya?"

"Hah?!" Luhan kebingungan.

"Apa kau tidak ingin berkata sesuatu?"

"Baekhyun, terima kasih banyak. Kalau tidak ada dirimu, aku pasti tidak tahu harus bagaimana." Luhan menggenggam tanganku.

Ya, ampun! Dari mana datangnya gadis bodoh ini? Kepalaku terasa sakit. Kenapa Chanyeol dan Sehun bisa tertarik dengan gadis seperti ini?

"Terima kasih apa?" Aku menatapnya dengan tajam. "Dan jangan menyentuhku! Kita belum seakrab itu!"

Luhan terkejut dan melepaskan tangannya, "Aku.. aku tidak bermaksud seperti itu." Nada suaranya pelan seolah-olah takut membuatku kesal.

Aku membalikkan badan, ingin pergi. Luhan meneriakiku, "Baekhyun, bagian belakang rokmu kotor, biar kubersihkan."

"Tidak perlu." Aku menolaknya dengan kasar.

Tetapi, dia bersihkeras mengeluarkan tisu. Aku mendorongnya. Karena terlalu kuat, dia pun terjatuh. Kebetulan sekali, dia terjatuh di atas serpihan piring keramik, pahanya tergores.

Saat ini, kalau aku bilang "aku tidak sengaja", apa tidak berlebihan?

Belum sempat aku menariknya untuk berdiri, dari arah pintu terdengar teriakan, "Ada apa ini?"

Adegan ketiga—Saat calon istri yang jahat mengerjai Cinderella, pasti pangeran akan muncul tepat waktu.

"Sehun, jangan salah paham. Ini bukan salah Baekhyun." Luhan berusaha bangkit, tangannya berdarah.

Tangan Sehun mengepal terlalu erat. Jemarinya tampak putih. Dia membantu Luhan untuk bangkit, menatapku dengan dingin dan bertanya, "Baekhyun, aku hanya bertanya satu hal kepadamu. Apa kau yang mendorong Luhan?"

Kalau dia bertanya apa yang terjadi, mungkin aku akan menjelaskan dari awal. Tetapi, dia hanya bertanya apa aku yang mendorong Luhan?

Jawaban yang bisa kuberikan hanya ada satu—

"Ya." Benar, aku yang mendorong Luhan.

"Apa kau sakit? Apa enaknya selalu mengerjai dia?"

Sebenarnya aku ingin menjelaskan, tapi sikap Sehun membuatku kecewa. Apa pun yang akan ku katakan, dia pasti tidak akan percaya.

Oleh karena itu, aku pun menantangnya. "Memang kenapa? Aku tidak tahan dengan sikapnya yang lemah seperti itu. Untuk siapa dia berpura-pura seperti itu?"

Aku bukan putri salju, karena identitasku yang sebenarnya bukan orang kaya. Aku mendapatkan kehidupan yang menguntungkan. Oleh karena itu, aku juga bukan Cinderella dan aku tidak akan menjadi pemeran utama dalam novel, dongeng, atau drama. Tetapi aku menyadari bahwa tidak peduli apa aku memang sengaja atau tidak, semua orang tetap menganggapku tokoh antagonis. Tindakanku yang menyulitkan, tidak berbelas kasihan, dan sering berbuat jahat, kebetulan sekali memang kontras dengan sikap gadis baik yang lemah lembut, baik hati, dan polos.

Semua orang merasa kasihan dengan Luhan, tetapi tidak ada orang yang kasihan padaku.

Pandangan Sehun mengisyaratkan seolah-olah aku sudah tidak tertolong lagi. Dia membopong Luhan keluar dari kantin. Saat mereka baru pergi, Chanyeol tiba.

"Mau menolong wanita lugumu?" Aku tersenyum sinis. "Kau terlambat."

"Oya? Tapi, aku merasa datang pada waktu yang tepat." Dia tersenyum tipis, tangannya memeluk dada seolah-olah ingin melihat keramaian.

Datang pada waktu yang tepat untuk melihat kesialanku?

Aku memelototinya. Dengan angkuh, aku membalikkan badan dan keluar dari kantin.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.