Aduh... Kenapa pria tertarik dengan gadis lemah seperti Luhan?

Setiap hari, melihat Sehun dan Chanyeol berkutat di sisi Luhan, membuatku iri sampai ke langit ke tujuh. Tak terasa satu semester ini telah berjalan setengahnya. Setelah ujian tengah semester, aku berbisik kepada teman akrabku.

"Jongdae..." Nada suaraku lembut.

"Kenapa?" Dia memandangku dengan siaga.

"Aku telah menemukan cara membuat Sehun membenci Luhan." Aku mendekat padanya. "Tapi, kau harus membantuku."

"Apa?"

"Rasanya sulit untuk dikatakan." Jarang-jarang aku kelihatan gugup.

"Kalau begitu, jangan katakan."

Bocah ini!

Aku tersenyum sinis. "Kau menganggu Luhan."

"Apa?!"

Aku menjelaskan, "Kau dorong Luhan ke tembok, berbuat sesuatu kepadanya. Biarkan aku mengambil beberapa foto kalian dan kuserahkan kepada Sehun. Harga diri Sehun begitu tinggi. Saat dia tahu Luhan berselingkuh, dia pasti akan membencinya."

Setelah mengungkapkan rencana jahat yang telah kupikirkan selama ini, aku merasa cukup bangga.

"Apa maksudmu berbuat sesuatu?" Jongdae tidak mengerti sama sekali.

"Caranya gampang. Kau memojokkannya ke dinding. Itu lho gaya yang sering muncul di komik kalau pria ingin mengejar gadis." Aku berdeham beberapa kali, lalu mulai mempraktikkannya. "Pertama, kau dorong Luhan ke tembok."

"Begini, ya?" Sepasang tangan Jongdae memegang bahuku, mendorongku ke tembok.

"Benar, kau memang hebat." Aku menyentuh kepalanya. "Pelan-pelan mendekatinya."

"Seperti ini?" Jongdae mendekatkan wajahnya, matanya menatapku lekat-lekat. Agak tidak berdosa, tapi juga agak kurang ajar.

"Lalu, kau dekatkan bibirmu pada bibirnya dan berhenti beberapa detik."

Sebentar. Kenapa aku mengajari orang asing berciuman?

Tiba-tiba pandanganku gelap. Bibir yang lembut pelan-pelan menempel di pipiku. Aku terkejut.

"He who lives by the sword shall die by the sword," katanya dalam bahasa Inggris yang tidak kumengerti artinya. Aku hanya bisa memandanginya.

Dia mengembuskan napas, mendekati telingaku dan berkata, "Jangan pernah bermain api."

Aku mengerti.

Suara derap langkah menyadarkanku. Aku memiringkan kepala, melihat sebuah bayangan yang melesat pergi.

Lalu, aku kembali menatap Jongdae. Kini, dia tersenyum ceria, mengulurkan tangannya menyeka pipiku dan berkata, "Just Kidding."

Aku memajukan bibirku mengulangi perkataannya. Aku tersadar. Saat aku ingin menendangnya, dia berhasil menghindar.

"Ampun, Tuan Putri." Dia mengepalkan tangannya di dada dan berkata, "Bagaimana kalau aku memberikan rencana yang lebih baik?"

"Silahkan."

Kami pun berdiskusi. Setelah itu, dengan hati puas kami keluar dari kelas.

.

.

Sebenarnya rencanaku dan Jongdae sangat sederhana. Kami bersekutu dengan Chanyeol, menciptakan hubungan palsu antara dirinya dan Luhan. Membuat Sehun kecewa padanya, lalu aku mengambil kesempatan ini.

Dalam kurun waktu yang tidak tentu, St. Leon selalu menyelenggarakan berbagai pertemuan. Beberapa minggu yang akan datang, ada pertemuan klub golf.

Sebagai master dari semua sekolah elite, kegiatan yang diselenggarakan St Leon bukan pertemuan antarklub yang biasa-biasa saja. Ada pertemuan klub antarsekolah seperti pertunjukan musik klasik. Sekolah St. Leon memiliki orkestra mini. Kabarnya, mereka sangat hebat, sering mendapat undangan untuk tampil di luar negeri. Ada juga pertemuan klub yang menyertakan beberapa syarat yang harus dipenuhi kalau ingin menjadi anggota, misalnya pertemuan klub anggar. Anggotanya harus berumur delapan belas tahun ke atas. Ada juga klub modifikasi mobil balap. Sebenarnya berapa uang jajan siswa-siswi ini? Selain itu, ada pertandingan olahraga antarkelas, seperti perlombaan menunggang kuda, anggar, dan golf. Hari ini diselenggarakan pertandingan golf antara kelas Chanyeol dan kelasku.

Acara itu, selain memancarkan jiwa muda, secara tak langsung juga memancarkan kekayaan mereka.

Aku memakai kostum golf Burberry. Rok lipat pendek menampilkan kakiku yang jenjang. Seperti berjalan di catwalk, melewati barisan siswa-siswi yang memakai Nike, Adidas, PUMA, ASICS, Fila, dan Mizuno. Aku berhenti di samping seorang pria yang sedang berlatih mengayunkan tongkat golfnya. Dia memakai kostum golf berwarna biru yang membuatnya tampak semakin jenjang.

"Hai." Aku memandangnya dari atas sampai bawah, lalu tersenyum dengan manja, "Apa aku seharusnya memanggilmu Kitty, bartender yang paling terkenal di Genesis, atau kakak kelas Chanyeol?"

"Kau bisa membalikkan badan dan belok kiri, lalu lurus ke depan sekitar sepuluh meter. Di sana area istirahat siswa berpin emas. Godalah pria yang mengenakan kostum Bally Golf." Dia tidak menyangkal, hanya tersenyum lalu berkata lagi, "Lalu, berpura-puralah tidak mengenalku."

Aku juga menjawab dalam suasana hati yang baik, "Baiklah. Demi mengenang kita yang pernah senasib sepenanggungan, aku akan memanggilmu Kitty."

"Kitty, Kitty, Kitty." Aku sengaja mempermainkannya.

Akhirnya, dia agak marah. "Apa aku menyinggungmu?"

Aku hanya berdecak, menggoyangkan telunjukku di hadapannya, dan berkata dengan pelan, "Apa kau tidak merasa, aku yang sekarang sedang menyinggungmu?"

Ya ampun, Byun Baekhyun. Kau memang berbakat jadi preman.

Chanyeol terdiam sambil menatapku, mengembuskan napas, dan berkata, "Ada apa?"

Nada itu sangat familier, seperti sedang bertanya, "Apa kau sedang sakit?"

"Aku ingin memastikan sekali lagi, aku punya calon suami." Aku mengertakkan gigi, dan memaksakan senyuman. "Sehingga... Hal-hal yang pernah terjadi di antara kita... Bisakah kau anggap tidak pernah terjadi?"

"Yang mana?"

Chanyeol ternyata cukup bijaksana.

Aku mengangguk puas. "Kakak kelas memang hebat. Bagaimana kalau kita bekerja sama?"

Dia mengacuhkanku.

"Kau tahu, Sehun adalah calon suamiku."

Chanyeol memberikan pandangan 'tahu dan itu urusanmu'.

"Kalau dibicarakan memang agak memalukan, calon suamiku sepertinya suka pada Luhan "

Chanyeol sekali lagi memberikan pandangan 'tahu, dan itu bukan urusanku'.

Tentu saja itu urusanmu. Kau adalah pemeran pembantu yang tepat. Kau adalah sekutu dari calon istri yang jahat.

"Seharusnya kau lebih giat, lebih giat melindungi Cinderellamu itu. Kau harus selalu mengawasinya. Jangan biarkan calon suamiku merebutnya."

Aku memegang tangan Chanyeol dengan tulus dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Semua ini demi kebaikan Luhan. Kau pasti tidak berharap dia masuk dalam duniaku dan Sehun, berakhir dengan tragis, dan dicap sebagai orang ketiga, kan?"

"Kalau mereka berdua memang saling mencintai," Chanyeol tersenyum kecil, mengangkat kepala menatap langit sejenak, lalu berkata, "Kenapa bukan kau yang melepaskan Sehun dan merestui mereka berdua?"

Kenapa harus aku yang melepaskan Sehun dan merestui mereka?

Aku terguncang.

Benar juga. Kenapa bukan aku saja yang melepaskan Sehun?

Hei, hei, salah, salah. Byun Baekhyun tidak boleh melepaskan Sehun.

Dia adalah tempatku mengais rezeki. Uang makan jangka panjang dan pohon uang bagi Byun Group. Sekali pohon itu digoyangkan, akan ada banyak sekali modal investasi yang mengalir ke Byun Group. Bagaimana bisa aku melepaskan begitu saja pohon emas ini?

"Yang penting, kau berusaha. Kalau nanti gadis idamanmu pergi dengan Sehun, kau pakai saja kostum Hello Kitty itu dan menangis sepuasnya." Aku sembarang bicara dan langsung pergi menuju ruang ganti.

Untuk memudahkan aktivitas siswa St. Leon, setiap siswa memiliki ruang ganti sendiri. Perbedaannya, pemilik pin emas memiliki ruang ganti siswa yang lebih luas, cermin yang besar, tempat baju, sofa, televisi kristal, dan bar mini, seperti ruang istirahat artis papan atas. Kalau siswa ingin berdandan, akan ada penata rias yang akan membantu memulas makeup.

Aku menuju ruang gantiku, Paman Kim dan beberapa pelayan membungkuk hormat kepadaku. Paman Kim berkata, "Seperti pesan Nona Besar, Paman bawakan semua pakaian olahraga Nona."

"Terima kasih, Paman." Aku melambaikan tangan.

Saat Paman Kim pergi, aku segera berganti baju dengan kostum Bally Golf. Baju couple.

Seminggu yang lalu, aku terus memaksa Sehun mengatakan kostum yang ingin dikenakannya saat acara pertemuan klub. Aku ingin sekali memakai baju yang sama dengannya.

Tetapi, bocah itu sama sekali tidak mau memberitahuku. Dia pasti tidak menyangka sama sekali, aku membawa semua baju olahragaku.

Saat aku keluar dari ruang ganti, terdengar suara rintihan. Suara itu pelan seakan menggambarkan hatinya yang terluka begitu dalam.

Aku sebenarnya penakut. Bulu romaku berdiri.

"Siapa? Siapa kau?" Aku bertanya sambil gemetar. Aku bukannya tidak ingin lari, hanya saja aku ketakutan dan tidak sanggup lari lagi.

Suara tangisan pun berhenti. Aku berjalan pelan menyusuri dinding ruang ganti. Di sudut ruangan, aku melihat Luhan sedang menangis. Tangannya memegang baju dan menangis sejadi-jadinya.

Jangan-jangan sedang itu...

"Kenapa kau?" Aku bertanya dengan hati-hati.

"Pakaianku digunting orang."

Ternyata, pakaiannya koyak moyak.

Aku menatapnya dengan tidak berdaya, hanya sepotong baju saja. Kupikir, dia dikerjai orang. Sebenarnya aku ingin meninggalkannya, tapi saat melihatnya begitu sedih, hatiku tidak tega.

Bantu atau tidak, ya?

Malaikat dan Iblis berkecamuk dalam otakku.

Iblis berkacak pinggang, [Hahaha, mampus saja. Biarkan dia menangis sampai acara selesai.]

Malaikat melipat tangannya di depan dada, [Bantu dia. Orang baik pasti akan mendapatkan kebaikan. Bukankah kau membawa banyak baju olahraga?]

Aku bingung, [Tapi dia adalah sainganku.]

Malaikat tersenyum, [Dasar bodoh. Dia menangis di sini. Mana bisa dia melihat baju couple milikmu dengan Sehun?]

Benar juga.

Malaikat pun menang telak.

"Aku masih punya satu baju. Akan kupinjamkan kepadamu." Aku mengembuskan napas.

"Benarkah?" Luhan menatapku tidak percaya, lalu kuberikan kostum rok lipat itu kepadanya, "Benarkah aku boleh memakai baju ini?"

Aku menggertakan gigi dan mengangguk, "Ya."

"Byun Baekhyun, terima kasih. Kau sangat baik hati."

Baik hati?!

Aku bingung, menatap Luhan yang memegang tanganku dan berkata dengan tulus, "Setelah kupakai, akan kucuci dan kukembalikan kepadamu."

"Tidak perlu." Aku menarik tanganku, ekspresi wajahku berubah. "Burberry harus laundry drywash."

Luhan berganti pakaian, lalu dengan perasaan senang pergi ke acara pertemuan itu.

Aneh sekali. Seharusnya aku adalah ibu tiri yang mencegahnya pergi ke acara itu. Kenapa aku jadi ibu peri yang menghadiahkan baju untuknya?

Tidak boleh. Aku harus memutarbalikkan keadaan. Aku harus mencegah Cinderella bertemu dengan Pangeran.

Ternyata, orang baik akan dilimpahi kebaikan. Dewi Fortuna sedang berbaik hati kepadaku. Akhirnya, aku mendapatkan kesempatan bagus.

Aku mengangguk puas, dengan percaya diri aku mendekati Sehun.

"Eh, kakak kelas Chanyeol sedang mengajari Luhan bermain golf. Kakak kelas Chanyeol memang baik hati." Aku takut dia tidak melihatnya. Dengan sengaja aku menunjuk ke tempat latihan mereka yang letaknya agak jauh dari keramaian.

Dada Chanyeol bersentuhan punggung Luhan, memegang tangannya sambil mengajari. Tidak tahu apa memang cuaca panas, wajah keduanya memerah.

"Gerakan mereka semakin intim saja. Lihatlah, entah apa yang dikatakan Chanyeol kepada Luhan, wajah Luhan memerah dan mengangguk. Mungkin saja si pria bertanya kepada si wanita 'maukah kau menjadi pacarku?' dan si wanita pun berkata 'mau'." Aku meniru paparazi, bercerita sesuai dengan apa yang kulihat tanpa mencari tahu dan menyikut Sehun sambil berkata, "Bukankah mereka sangat serasi?"

"Ya, sangat serasi." Wajah Sehun memperlihatkan ekspresi tidak senang. "Pria bodoh dan wanita pemarah." Nada suaranya menunjukkan seratus persen rasa cemburu.

"Kau menyuruhku tidak menyentuh Luhan. Kau juga sudah berkorban banyak untuknya, sedangkan Luhan..." Aku mendekati telinganya. "Apa Luhan tahu perasaanmu padanya?"

Sehun hanya terdiam.

Aku berpura-pura terkejut padahal dalam hatiku sangat senang. "Jangan-jangan kau mencintainya diam-diam? Tak kusangka kau sangat polos, Sehun."

"Apanya yang mencintai diam-diam?" Suaranya meninggi, membuat orang-orang menatapnya, yang tentu saja menarik perhatian dua orang yang sedang asyik latihan golf di pojok sana.

Hah, sudah kuduga. Orang sombong seperti Sehun tidak mungkin mau mengakui bahwa dia sedang jatuh cinta.

"Oya?! Luhan pernah mengatakan bahwa kau yang sering mengganggunya." Aku berusaha mengadu domba. "Ternyata kau yang kegeeran, ya."

"Aku mengganggunya?! Dia sendiri yang datang menggangguku." Sehun mulai marah. Dia hampir melompat ke dalam perangkap yang kubuat. "Aku tidak mungkin suka dengan wanita miskin itu."

"Kau yang bilang lho, kau tidak mungkin suka dengan wanita miskin itu." Aku mengayunkan tongkat golf dengan anggun. Bola terlempar ke udara, semakin lama semakin tinggi, lalu menghilang di ujung langit.

Sehun sangat tidak gentleman. Dia melempar tongkat golf, lalu pergi meninggalkanku.

Secara diam-diam, aku mengancungkan tangan tanda kemenangankepada Chanyeol. Dia hanya tersenyum pahit dan menggeleng.

Aku tidak perlu melihat ekspresi Luhan. Aku tahu rencana jahatku telah berhasil—mengadu domba mereka berdua.

Licik sekali, kan?

Byun Baekhyun, kau memang penuh perhitungan.

Tetapi, melihat Chanyeol memeluk Luhan, kenapa hatiku terasa tidak senang?

Aku sudah menang, tapi kenapa mataku terasa kabur?

.

.

Sehun yang tidak tahan melihat Chanyeol dan Luhan, langsung pergi berenang sebelum pertemuan klub golf selesai. Sepanjang sore, dia tidak menunjukkan batang hidungnya. Ponselnya pun tidak aktif. Sekarang aku harus menunggu berapa lama lagi? Dia memang sengaja.

Semua siswa sudah pulang. Aku menatap langit. Sudah senja, langit berwarna biru kemerahan.

Di depan sekolah, sebuah bus sekolah sedang berhenti, di bagian atas bus yang berwarna merah maroon itu ada lambang sekolah yang bewarna emas. Kalau aku tidak salah ingat, ini bus sekolah jurusan terakhir. Siswa biasa yang telah selesai piket pasti akan naik bus ini untuk pulang ke kota.

"Nona Baekhyun, apa anda mau menunggu di dalam mobil?" Sopir keluarga Oh bertanya.

"Tidak perlu."

Udara di pengunungan memang turun dengan cepat. Sekarang rasanya semakin dingin. Karena tadi saat acara olahraga rambutku diikat kuda, udara yang berembus mengenai leher membuatku bergidik. Aku melompat-lompat di tempat, mondar-mandir untuk mengusir rasa dingin itu.

Berbeda denganku yang sedang menunggu sampai kedinginan, pria itu bersandar di dinding sambil tersenyum kecil menatapku, sepasang tangannya di dalam kantong celana. Mungkin sama sepertiku, dia juga sedang menunggu seseorang.

Apa Chanyeol sedang menunggu Luhan?

Aku membuang muka. Kurapihkan rambutku sesaat, akhirnya Sehun pun keluar dari sekolah.

"Ayo pergi." Sehun berjalan ke arahku sembari melirik Chanyeol sekilas.

Aku melihat jam tangan dan menyindirnya, "Kupikir kau mati tenggelam."

Tidak ada nada marah seperti biasanya. Nada rendahnya berkata, "Kau sangat berharap aku mati?"

"Apa kau minum-minum?" Aku mengerutkan dahi, mencium bahu alkohol pada tubuhnya.

"Jangan tanya. Hari ini aku sangat lelah."

Saat aku ingin bertanya lagi, Sehun menarikku dalam pelukannya dan berkata, "Ayo, kita pacaran."

"Hah?" Aku mengira sedang berhalusinasi. "Apa?"

Sehun hanya terdiam, mengulurkan tangannya menarik ikatan rambutku sehingga rambutku terurai ditiup angin.

Dia menyentuh rambutku, menahan kepalaku dengan perlahan dan mendekatkannya ke dadanya. Saat aku tahu dia mau berbuat apa, aku sedikit memberontak.

Saat dia mau menciumiku, aku memiringkan wajah untuk menghindarinya, "Sehun, apa kau sadar dengan apa yang sedang kau lakukan dan apa yang sedang kau katakan?"

"Ya... Aku tahu." Dia setengah memejamkan mata, sepertinya sangat kelelahan sambil membenamkan kepalanya ke bahuku. "Byun Baekhyun, ayo kita pacaran."

Sehun berkata bahwa dia ingin berpacaran denganku?

Kenapa aku tidak merasa senang?

Tidak dimungkiri, suara Sehun saat mabuk sangat enak didengar. Nada rendah serak menjadi semacam daya tarik yang tidak bisa ditolak. Aku hampir tertipu.

"Kau tahu, aku ini siapa?" Aku menarik napas panjang, mengatur semua perasaanku.

"Tahu..." Suaranya samar-samar. "Kau adalah Byun Baekhyun."

Aku mengangkat kepalaku. Dari arah bus sekolah, aku melihat bayangan seorang gadis dengan rambut diikat ke belakang. Wajahnya didekatkan di jendela bus. Ekspresinya seperti sangat terluka. Dia pasti melihat kami berpelukan.

Sebenarnya, Sehun sudah tahu dia ada di dalam bus itu.

Keterlaluan! Dia memanfaatkanku!

Saat bus sekolah berangkat, aku memapah Sehun masuk ke dalam mobil. Dia memejamkan mata dan mulutnya berkata dengan tidak jelas. Dia melonggarkan kerah bajunya. Liontin kalungnya menjuntai keluar. Aku melihatnya memakai kalung itu setiap hari.

Kali ini, aku melihat dengan jelas huruf yang terpantri di sana—S&L

S&L—Sehun dan Luhan?

Mataku terasa sangat pedih. Aku memajukan badanku dan berkata kepada sopir keluarga Oh, "Tuan Muda mabuk. Buat dia sadar dulu, lalu antar ke rumah. Kalau tidak, dia pasti akan dihukum."

"Nona Byun, apa anda tidak ikut pulang?"

"Sopirku akan datang menjemputmu." Aku mengembuskan napas. Aku ini termasuk calon istri yang terlalu baik hati atau bagaimana, ya?

Bus terakhir telah pergi, Sehun juga telah pergi.

Melihat Chanyeol naik ke atas motor besarnya lalu sedang bersiap-siap pergi, aku langsung mengandangnya dengan membentangkan kedua tanganku, "Berhenti, berhenti!"

"Apa harus dengan cara seperti ini menghentikanku?" Dia membuka kaca helmnya dan tersenyum.

"Hari ini, terima kasih atas segalanya." Aku berkata dengan luar biasa lembutnya.

"Untuk apa berterima kasih?"

"Sehun bilang dia bersedia berpacaran denganku." Kalau tahu rencana ini akan berhasil, aku tidak perlu mengubah penampilanku untuk menarik perhatiannya.

"Mm..." Dia menjawab tanpa ekspresi, lalu kembali menyalakan motornya itu.

"Kali ini, aktingmu sangat bagus. Berusahalah, siapa tahu suatu saat nanti dia bersedia tidur denganku."

Chanyeol berdeham keras, "Apa kata-katamu bisa lebih sopan?"

"Sopan bukan karakterku."

Chanyeol terdiam.

"Untuk membalas kebaikanmu, aku akan mentraktir kau makan."

"Tidak perlu."

"Jangan sungkan." Aku naik di belakangnya, seperti seekor monyet menggantung di pundaknya, "Seberapa cepat kau bisa melaju?"

Dia menatapku heran. Aku menjulurkan lidah sambil menunjuk mobil Mercedes-Benz yang datang dari arah berlawanan.

Orang yang ada di dalam mobil melihatku naik ke motor besar orang asing. Dia langsung menghentikan mobilnya dan berlari ke arah kami, "Nona Baekhyun, anda mau ke mana?"

Aku mendesak Chanyeol, "Ayo, cepat. Sopirku sudah datang."

"Baekhyun, jangan mencekik leherku!"

"Aku tidak tahu tanganku harus di... Ar!" Belum sempat aku selesai bicara, motor besar ini sudah bergerak ke depan. Aku langsung memeluknya.

Aku tidak memakai helm. Wajahku menempel erat di punggung Chanyeol. Karena baju olahraganya terbuka, aku langsung memeluk pinggangnya.

Motor besar ini akhirnya melaju di jalanan menanjak, meninggalkan semua kendaraan di belakang. Aku beteriak girang, "Chanyeol, selamat! Kau telah berhasil menculikku!"

Angin senja berembus, suaraku yang menggema ditelan angin. Daun yang berguguran di tanah beterbangan seperti gulungan tornado.

"Salah." Suaranya rendah dan ringan. "Yang benar, kau yang menculikku."

Motor besar masuk ke kota. Chanyeol memperlambat lajunya, melewati beberapa jalanan dan gang, lalu berhenti di depan showroom sepeda motor.

"Di sini ada yang menjual makanan?" Aku merapikan rambutku yang hampir kusut.

"Di dalam kota ada polisi." Chanyeol memberiku sebuah helm. "Tangkap."

Aku memiringkan kepala sambil menatap helm yang ada di tanganku. Aku sedang berpikir keras bagaimana memasukkan kepalaku di dalamnya. Chanyeol menatapku dengan tatapan 'apa kau bodoh?'

"Aku tidak pernah pakai helm," jelasku. "Sebenarnya ini kali pertama aku naik sepeda motor."

Aku tersenyum bodoh. Dia hanya mengembuskan napas. Dia memasangkan helm di kepalaku, dan tangannya sedang mengencangkan tali pengaman di sekitar leherku.

"Ngapain, sih?" Aku takut geli. Aku menggerakkan leherku untuk menghindar.

"Mengencangkan tali pengaman." Dia mengangkat daguku, mataku langsung beradu pandang dengan matanya yang teduh. Aku merasa pipiku terasa hangat dan segera memejamkan mata.

Aku tidak dapat melihat bayanganku di matanya, juga pura-pura tidak melihat wajahnya yang bersemu merah saat memandangku.

"Sudah belum?"

"Belum."

"Sudah belum?"

"Sebenarnya..."

"Sudah."

Helmku dipukul. Saat membuka mata, aku melihat pandangan matanya menyiratkan sesuatu dan lesung Pipit sebelah kanannya begitu dalam, membuatku curiga.

Aku melepaskan helmku. Lalu, aku berteriak sekuat tenaga. "Chanyeol, kau memang babi!"

Bagian depan helm dilukis hidung. Bagian belakang helm dilukis ekor yang bergelombang.

Dia tertawa sekuat tenaga. "Tidak tahu naik bus, tidak tahu memakai helm. Byun Baekhyun memang bodoh seperti babi kecil."

"Kau cari mati, ya!" Aku menggulung lengan bajuku, bersiap-siap berkelahi. Dia langsung melarikan diri.

Aku mengejar Chanyeol melewati beberapa jalan, berlari dengan terengah-engah. Jantungku berdebar dengan kencang. Hawa panas langsung membuat wajahku memerah, tapi dia malah masih segar bugar. Aku melambaikan tangan pertanda menyerah. "Aku tidak sanggup lari lagi. Aku menyerah."

Saat dia memastikanku tidak punya tenaga untuk mengejarnya lagi, dia mendekatiku dengan pelan.

Aku membungkuk. Satu tangan bertahan di lutut, satu tangan lainnya mengipasi diri sendiri, "Hari ini aku mengampunimu. Lain kali, kau pasti akan kuhabisi."

"Baiklah, aku akan menunggunya." Dia tertawa ringan seperti angin. "Baekhyun si babi kecil."

Karena sudah dipanggil dengan sebutan babi, aku menuntut hakku. "Aku lapar, di mana tempat makannya?"

"Di situ." Tangannya menunjuk sebuah kedai mi kecil yang kumuh.

"Hah?!" Aku terkejut menatap kedai itu. Kedai itu terletak di mulut gang, di sebuah ruko dua lantai, tidak ada renovasi. Sebuah terpal besar digunakan untuk menghindari hujan sekaligus menjadi papan nama toko. Di samping toko, terdapat pagar-pagar agar bisa meletakkan gas, Periuk, mangkuk, dan beberapa kursi.

Kedai mi itu berhadapan dengan jalan besar. Kalau truk besar melewatinya, debu-debu akan berterbangan lalu masuk ke kedai mi ini. Meja itu berminyak, kalau dibersihkan pasti akan terlihat nodanya yang sangat tebal.

Kalau makan di sini, sepulang dari sini pasti aku akan sakit perut seharian.

Tanpa sadar aku mengernyitkan alis, "Chanyeol, uangku tidak perlu dihemat seperti ini."

Chanyeol tidak menghiraukan protesku, langsung menarikku ke kedai mi itu.

Pemiliknya adalah seorang pria paruh baya yang kurus. Saat dia melihatku, tangannya yang sedang masak mi, menjadi terhenti.

"Chanyeol, kau sudah datang, ya." Pemilik kedai mi itu menyapa, "Hari ini mau makan mi pangsit?"

"Ya. Dua mangkuk mie pangsit, ditambah dengan daging rebus kecap." Chanyeol memesan menu. Melihat alisku yang semakin ketat, dia berkata. "Ditambah dengan sup sayur."

"Anak muda tampan dan gadis cantik, mari duduk di sini. Mi akan segera siap." Istri pemilik sembarang membersihkan meja dan mempersilahkan kami duduk.

Setelah duduk, Chanyeol melihatku dan menatap kursinya. Dia hanya mengembuskan napas, berdiri, lalu menarikkan sebuah kursi untukku. "Silahkan duduk, nona besar."

"Mmm..." Aku mengalasi kursiku dengan saputangan, lalu duduk. Chanyeol menyodorkan sepasang sumpit, aku menerimanya dengan ragu-ragu.

Aku bersabar hati menatap noda yang ada di sumpit bambu itu.

Melihat bawang goreng yang melayang di atas sup sayur, aku juga sabar.

Saat melihat bagian pinggir piring saji daging rebus kecap ada noda minyak, aku juga sabar.

Tetapi, kesabaranku habis saat istri pemilik kedai mengantarkan dua mangkuk mi.

Tangan yang sedang memegang mangkuk itu, salah satu jarinya malah tercelup ke dalam mi.

Aku seakan mau muntah. Saat ingin berdiri untuk pergi, Chanyeol menahan bahuku, "Kalau kau pergi sekarang, kau tidak bisa melihat calon suamimu."

Calon suamiku?! Sehun tidak mungkin datang ke tempat kumuh seperti ini.

Chanyeol tidak mau menjawab. Aku terpaksa duduk kembali, lalu aku makan dengan pelan. Ternyata rasanya juga lumayan enak, hanya saja kebersihannya agak mengkhawatirkan. Saat aku sedang komplain dalam hati, telingaku juga tidak sengaja mendengar percakapan bisik-bisik antara pemilik kedai dan istrinya.

"Chanyeol tidak pernah membawa wanita kemari. Apakah dia adalah pacarnya?"

"Dasar bodoh! Kalau memang pacarnya, seharusnya membawanya ke restoran mewah, tidak mungkin makan di kedai kita."

"Istriku, kau benar juga, ya. Aku sempat khawatir. Kalau begitu, anak kita seharusnya masih punya kesempatan."

Pasangan suami istri pemilik kedai ini rupanya berencana menjadikan Chanyeol sebagai menantu mereka. Aku menyepak Chanyeol. Dia mengangkat bahu seolah-olah tidak peduli dan bertanya apakah aku mau makan atau tidak. Aku hanya tersenyum kaku, akhirnya dia juga menghabiskan bagianku.

Kedai kecil ini lumayan ramai, sebentar saja sudah padat. Aku dan Chanyeol duduk di samping kedai itu. Saat ada orang lewat, mereka pasti akan menatap kami.

Ada tante-tante yang sepertinya tahu identitasku sedang berbisik-bisik, bahkan Chanyeol tidak luput dari omongan mereka.

"Cepat habiskan dan kita pergi." Aku mulai tidak tenang.

"Sepertinya kau sangat peduli dengan perkataan orang lain." Chanyeol tersenyum dan mengambilkan beberapa potong daging yang diletakkannya dalam mangkukku, "Pernah makan daging rebus?"

"Aku tidak makan kulit tahu yang hitam, telur juga hanya kumakan bagian putihnya." Seperti biasa aku pemilih dalam hal makanan, kukecilkan suaraku, "Aku ini sosialita Byun Baekhyun. Kalau orang lain tahu aku makan di kedai kumuh ini, apa jadinya diriku?"

"Sosialita..." Dia terdiam sejenak, mengulurkan tangannya dan diletakkannya di dahiku, "Mmm, sakitmu lumayan parah."

"Dasar!" Aku mau menendangnya, tapi malah kena kaki meja, menimbulkan suara ribut membuat sup dalam mangkuk berhamburan keluar. Semua orang memandangi kami.

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa." Istri pemilik kedai tersenyum dan membersihkan meja kami.

Sebuah mobil berhenti di depan kedai, sosok bayangan kurus masuk ke kedai.

"Anakku! Lihatlah siapa yang datang." Istri pemilik kedai berteriak.

Saat Luhan menatapku, ekspresinya sama dengan ibunya yang kali pertama melihatku, langsung lesu.

"Hai." Aku menyapanya.

Matanya memerah, seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah. Sekilas dia menggangguk dan berkata, "Aku ganti baju dulu." Dia langsung melesat pergi.

Rupanya Luhan putri dari pemilik kedai mi. Tanpa sadar aku kembali menatap sekeliling kedai. Ada perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Luhan dan aku memang dari dunia yang berbeda.

Beberapa detik kemudian, seseorang yang tinggi pun masuk ke kedai. Karena masuk dengan terburu-buru, dia hampir saja menabrak meja kami.

"Sehun?" Aku menjerit kecil. Di bawah lampu temaram, di pipinya tampak bersarang bekas tangan.

Sehun ditampar Luhan?

Dia lebih terkejut dibandingkan denganku, membuka matanya lebar-lebar dan menggeleng dengan kuat, seperti melihat halusinasi.

Pria ini keterlaluan. Di depanku bilang mau jadi pacarku, ternyata di belakang dia malah mengejar Luhan.

Aku bangkit dengan marah, meraih sup yang ada di meja dan hendak menyiramkannya ke wajahnya.

Chanyeol lebih sigap dariku dan menahan tanganku sambil berkata, "Sehun, kau datang untuk menjemput Baekhyun, kan?"

"Betul." Sehun seperti orang yang kalah telak, menjawab dengan sangat terpaksa.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Maaf banget karena baru bisa dilanjut sekarang, aku baru berani lanjut ini pas tugas-tugas kuliahku udah selesai hehe :")

Oya, aku baru aja ganti username wqwq, tadinya Izumi Miiko sekarang jadi skyizumi (^^)

Salam, CHANBAEK IS REAL fufufu uwuu~