Kabar tentang aku pacaran dengan Sehun sudah tersebar di seluruh St. Leon.

"Pangeran Sehun tidak suka dengan wanita miskin Luhan. Sekarang, dia bersama wanita Kaya Byun Baekhyun."

"Semua ini gara-gara Luhan."

"Luhan out. Sekarang dia berganti haluan mendekati kakak kelas Chanyeol."

Sejak hari itu, mimpi buruk Cinderella, Luhan, pun dimulai.

Sehun hanya menatap tanpa memberikan komentar. Entah karena kejadian hari itu dia takut membuatku marah, atau sedang kesal dengan Luhan. Pokoknya, Sehun tidak berniat melindungi Luhan sama sekali.

"Belakangan ini sepertinya... Terlalu tenang." Aku berbisik kepada Jongdae, Jongin, dan Sehun yang duduk di depan kami. Jongin sedang melahap ayam goreng dan Sehun sedang memainkan pisau di atas piringnya. Semangkuk salad telah dipotongnya hingga halus dan lumer.

"Siapa yang bilang tenang?" Jongdae membalas dengan nada rendah, "Kemarin lokernya dipenuhi sampah. Saat pelajaran berkuda, dia disuruh membersihkan kandang kuda. Semalam, dia terkunci di toilet wanita selama setengah hari."

Benar. Orang yang dikerjai dalam hal ini adalah Luhan.

Calon istri yang jahat belum turun tangan, tapi banyak orang yang mau mengerjainya. Sepertinya dia tidak terlalu diharapkan di sini.

Saat mengingat kembali bekas tangan di wajah Sehun, aku menatapnya curiga.

"Lihat apa? Bukan aku yang melakukan itu." Sehun berkata dengan sinis, "Aku tidak akan melakukan hal kekanakan seperti itu."

Iya, iya, iya. Aku tahu bukan kau yang melakukan itu. Tetapi, pembawaanmu terlalu dingin.

"Hari ini sekotak apel besar jatuh dari atas..."

Saat mendengar apel besar, air yang baruku minum langsung tersembur keluar.

"Hampir saja mengenai kepalanya. Untung saja kakak kelas Chanyeol menolongnya." Jongdae memandang jijik sayuran yang telah tersembur oleh minuman yang kumuntahkan, lalu dia menatap kejauhan dan berkata, "Untung saja semuanya masih takut pada Kakak kelas Chanyeol, Mereka yang mengerjainya pun masih dalam batasan."

Kakak kelas Chanyeol?

Aku menatap ke arah pandangan Jongdae, tempat duduk kami dan Chanyeol dipisahkan oleh sebuah pot bunga besar. Chanyeol duduk di sudut dekat jendela dan sedang makan siang. Lengan bajunya agak kemerahan, mungkin terkena cipratan saat menolong Luhan.

"Aduh, kapan bisa makan semeja dengan kakak kelas Chanyeol?" Jongdae berkata dengan nada yang tidak dapat dijelaskan artinya, "Dulu kami berempat sering bersama..."

"Aku sudah kenyang." Sehun menghentikan gerakannya memainkan sayuran dalam mangkuk salad, lalu beranjak pergi.

"Empat orang? Kau pikir, kalian F4?"

Jongin yang masih makan mengerling kepada Jongdae. "Makan saja. Jangan cerewet."

"Eh, Luhan datang." Jongdae menyikut tanganku.

Siswa VIP memang berbeda. Di kantin ada tempat khusus untuk mereka, yaitu ruang khusus di lantai 2. Aku melihat ke bawah, Luhan sedang memegang bekal makanan dan mencari tempat duduk. Dia mengangkat kepala melihat ke atas. Tempat duduk Chanyeol masih ada sisa tempat. Dengan girang, Luhan akan naik anak tangga ke Lantai 2.

Saat menapakkan kaki di anak tangga pertama, dia langsung diadang oleh tiga siswi.

"Trio wanita jahat." Jongdae tersenyum dan berharap terjadi sesuatu yang menghebohkan. "Baekhyun, kau punya saingan. Mereka bertiga adalah fans berat calon suamimu."

"Mereka?!" Aku melihat mereka dengan tatapan merendahkan. "Belum level."

"Kau pikir, kau bisa duduk di samping kakak kelas Chanyeol?" Wanita jahat bernama Jisoo berkata.

"Kau sudah mempermainkan Pangeran Sehun. Sekarang kau juga mau menggoda kakak kelas Chanyeol." Wanita jahat bernama Jennie berkacak pinggang. "Wanita miskin, tujuan utamamu masuk sekolah ini untuk mendapatkan pria kaya, kan? Sangat memalukan."

"Aku tidak bermaksud begitu." Luhan mundur dengan gugup.

"Sehun punya calon istri dan kakak kelas Chanyeol tidak cocok untukmu. Jangan bermimpi menjadi Cinderella!" Gadis jahat bernama Chaeyeong berkata dengan sinis dan menunjuk jidatnya.

"Pas sekali perkataannya, tapi..." Aku mengerutkan dahi, "Seharusnya itu dialogku."

Sesuai dengan adegan novel atau drama, saat pemeran wanita di-bully, kalau tidak ada pemeran pria, seharusnya ada pemeran pembantu yang menolongnya.

Tempat duduk Chanyeol agak terpencil, jadi dia tidak tahu Cinderella sedang tertimpa 'musibah'. Aku menatap Chanyeol lama sekali, mengisyaratkan dengan mata, tapi dia malah membalasku dengan tatapan mata membesar, lalu menundukkan kepala untuk makan lagi.

Dia masih saja makan. Pangeran penolong ini sepertinya tidak profesional, sama dengan Sehun. Yang satu angkuh, yang satu plinplan.

Aku mengangkat gelasku dan menatap isinya, tinggal setengah, lalu aku berdiri dan berkata, "Aku mau isi air."

Trio gadis jahat masih berdiri dekat tangga dan mem-bully Luhan. Mereka mengadang jalanku untuk turun. Aku memaksa untuk lewat, dari arah belakang bertabrakan dengan punggung wanita jahat Chaeyeong. Gelas di tanganku terlempar keluar dan airnya mengenai Luhan.

Chaeyeong berteriak, "Aaa..." Dengan perasaan marah dia membalikkan badan. Melihat orang yang dibelakangnya adalah aku, dia tidak bisa melampiaskan kekesalannya, hanya bisa menatap wanita jahat Jisoo dan Jennie.

"Numpang lewat." Aku menatap mereka. "Anjing yang baik tidak akan menghalagi jalan majikannya."

"Byun Baekhyun, kau..." Tangan Chaeyeong bergetar menunjukku, "Apa yang kau bilang tadi?"

"Anjing yang baik tidak akan menghalagi jalan majikannya." Aku mengulangi perkataanku dengan tidak sabar, "Kau tuli, ya?"

"Baekhyun, apa yang kau sombongkan? Kalau saja kau bukan putri dari Byun Group, Sehun bahkan tidak akan memedulikanmu." Jennie membela temannya. "Semuanya tahu pernikahan kalian adalah bisnis. Dia tidak sungguh-sungguh mencintaimu."

Tepat di sasaran!

"Oya?!" Aku menaikkan alisku sambil menatap wajah wanita itu, dan tersenyum. "Sepertinya aku mengenalmu. Ternyata putri dari salah satu perusahaan kecil Byun Group. Pantas saja kau sangat perhatian dengan urusan pernikahanku dan Sehun." Dia dan aku bagaikan langit dan bumi. "Tapi tenang saja. Kalaupun Sehun tidak akan menikahiku, tentu saja dia juga tidak akan menikahi salah satu dari kalian."

"Kau..." Jennie tidak sanggup berkata lagi.

"Jangan membahas soal pria. Aku baru pindah kemari, bisa bertemu dengan orang yang kukenal rasanya cukup senang." Aku memegang tangan Jennie dan menggoyangkannya seakan sangat akrab dengannya. "Oya, aku pernah mendengar kabar dari Ibu bahwa perputaran modal ayahmu sedang mengalami kesulitan. Ibuku sedang menanganinya."

Aku menoleh kepada Jisoo dan Chaeyeong. "Persaingan agen pabrik cukup ketat. Banyak yang langsung mencari Byun Group untuk mendapatkan pesanan. Beberapa hari lalu, kedua orangtua kalian mengantarkan hadiah untukku. Aku sebagai orang yang lebih muda sangat berat hati. Tolong sampaikan salamku untuk kedua orangtua kalian."

Wajah Jisoo dan Chaeyeong berubah.

"Oya." Aku mendekati mereka dan berkata dengan pelan, "Aku paling tidak suka orang lain merebut dialogku. Pekerjaan mem-bully wanita miskin, aku yang melakukannya sendiri!"

"Aku sudah selesai bicara." Tanganku mengibas ke arah luar mengisyaratkan mereka segera pergi.

Setelah trio gadis jahat itu pergi, aku menatap Cinderella yang sedang kebasahan. "Kenapa kau masih berdiri di situ?"

Luhan kebingungan dan menatapku, tidak tahu harus berbuat apa. Bajunya basah akibat tumpahan airku, membuat lengket di tubuhnya dan menampakkan bentuk tubuhnya.

Aku mengerutkan dahi. Aku mengambil saputangan Anna Sui, memberikannya kepada Luhan. Dia masih ragu untuk mengambilnya. Aku berkata dengan tidak sabar, "Ambillah. Bersihkan dirimu. Apa aku harus minta maaf kepadamu?"

Keributan ini membuat Chanyeol muncul. Dia melepaskan mantelnya dan mengenakannya kepada Luhan dan berkata dengan lembut, "Di dalamnya ada saputangan yang bersih."

Aku mendengus kepada Chanyeol. Saat tatapan kami bertemu, dia langsung memegang bahu Luhan.

Aku mendengus kesal, lalu naik kembali ke atas.

Baru saja duduk, Jongdae langsung bertanya, "Tadi kau sedang menolong Luhan?"

"Bagaimana mungkin aku menolongnya?!" Aku mencibir. "Aku tidak bodoh."

Chanyeol dan Luhan berjalan menuju pintu keluar kantin. Chanyeol berbalik menatapku, tersenyum. Tatapan matanya sangat misterius.

Apa yang telah dilihat oleh Chanyeol? Apa maksud tatapan matanya yang misterius itu?

Kehebohan kembali terjadi. Sehun yang telah pergi, muncul kembali di kantin dengan membawa buket mawar, lalu berpapasan dengan Chanyeol dan Luhan yang mau keluar.

Di tengah tatapan iri siswa-siswi, Sehun menyerahkan buket bunga itu kepadaku.

"Mawar merah muda. Bahasa bunganya cinta pertama. Sebanyak 365 tangkai, mencintaimu setiap hari." Dia mendekati telingaku, berbicara dengan nada yang hanya didengar oleh kami berdua, "Maaf..."

Dalam hatiku berkobar-kobar, ingin rasanya kuinjak-injak senyumnya yang palsu dan semua bunga itu.

"Baekhyun, apa kau bersedia menerima niat baikku?" Dia tetap tersenyum.

Aku mengertakkan gigi, ekspresi yang kaku berubah menjadi senyum semanis malaikat dan berkata, "Lihat bagaimana dirimu dulu..."

Kalau aku tidak tahu orang yang sebenarnya dicintainya adalah Luhan, mungkin momen ini yang paling kutunggu.

Aku mengulurkan tangan menerima buket bunga itu, berjinjit, dan mendekati telinganya. Aku bicara dengan nada yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, "Kali ini kau kumaafkan. Lain kali, kalau kau menghadiahiku 365 tangkai mawar lagi, semuanya akan kulempar ke wajahmu."

Aku benar-benar tidak menyangka anak orang kaya akan menggunakan cara berlebihan seperti itu untuk minta maaf.

.

.

Esok hari, aku memandangi buket mawar champagne yang berdiameter 120 cm dan berbalut pita merah muda. Buket itu membuat kepalaku pegal. Aku memaksa diri untuk tersenyum. Aku harus membuat semua siswi, khususnya Luhan, merasa iri, tapi tetap saja tidak bisa. Dengan tangan memegang pipi, aku memaksakan sebuah senyum palsu yang mengekspresikan kaget sekaligus terharu.

"Sebanyak 999 mawar, bersamamu selama-lamanya." Lekuk senyum Sehun sepertinya telah diaturnya.

Apa-apaan, sih? Siapa yang mau bersamamu selamanya.

Buket bunga yang besar tersebut hampir membuatku tidak bisa berdiri. Beratnya hampir dua puluh kiloan. Jangankan melemparnya ke wajah tampan Sehun, memeganginya saja telah membuat tanganku pegal dan bergetar.

"Baekhyun, apa kau mau menerima niat baikku?"

"Hatch, Hatchi, Hatchi." Aku bersin tiga kali, tak terasa air mataku mengalir.

"Kau menangis? Jangan terlalu terharu..." Dia mengeluarkan saputangan membersihkan air mata dan ingusku. Perhatiannya membuat para siswi berteriak histeris.

"Aku alergi mawar." Aku mengertakkan gigi dan berkata.

"Maaf, aku tidak tahu, lain kali..." Dia mengulum bibir. Wajahnya menunjukkan perasaan bersalah. Aku memelototinya dan berharap dengan kalimat lanjutannya. Dia malah berkata, "Lain kali, tidak akan kuhadiahkan mawar. Bagaimana kalau tulip atau bunga lily?"

"Terima kasih, tapi aku alergi semua jenis bunga." Aku berurai air mata.

"Baiklah, aku sudah tahu." Dia tersenyum tipis.

Kenapa seorang gadis harus menerima buket yang mengatasnamakan cinta seorang pria, tapi pada dasarnya si pria sedang pamer?

Aku mengira kesusahanku akan segera berakhir, tapi ternyata aku salah. Esok hari, saat makan siang, Sehun memegang sebongkah bunga yang bersinar keemasan menuju kantin. Buk! Otakku langsung kosong dan mundur beberapa langkah.

Bongkahan itu. Benar-benar sebongkah, bukan sebuket.

"Ferrero Rocher!"

Semua orang berteriak secara bersamaan. Sehun menyerahkan buket bunga dari rangkaian cokelat Ferrero Rocher—merek cokelat yang berasal dari Italia—ke hadapanku. Kertas emasnya memancarkan cahaya yang menyilaukan, sangat tepat menutupi wajahnya yang sedang mencuri pandang dengan Luhan.

Tentu saja wajah Cinderella langsung kecewa.

"Ada sebanyak 1.314 butir Ferrero Rocher. Artinya aku mencintaimu seumur hidupku." Pangeran Sehun tersenyum dengan tatapan tanpa ekspresi, lalu berkata kepadaku, "Byun Baekhyun, maukah kau menerima maksud hatiku?"

Sebanyak 1.314... itu 1.314 butir cokelat.

Aku menatap keringat yang ada di dahi Sehun. Urat nadinya samar-samar muncul di lengannya, lalu kulihat tangan kecilku. Dasar Llama. Aku seorang gadis lemah. Kalau kuterima bongkahan cokelat ini, aku pasti mati tertimpa.

"Sebanyak 365, 999, 1.314. Lain kali, pasti 10.000 tangkai. Mencintaimu sampai puluhan ribu tahun!" Jongdae berdecak kagum. "Baekhyun, biarkan kami melihat kemampuan ekonomi dari pewaris tunggal OSH Group ini."

Sepuluh ribu?!

Oh, tidak!

Aku membulatkan mulutku. Aku mulai membayangkan mati tenggelam dalam lautan cokelat, tidak bisa bereinkarnasi.

"Aku bersedia, bersedia, bersedia." Aku menangis terharu, memeluknya dan berpura-pura malu, lalu menjauhinya.

Siswa-siswi St. Leon kembali mendapat bahan obrolan baru. Pangeran Sehun tiga hari berturut-turut memberikan hadiah mahal, akhirnya putri yang angkuh—Byun Baekhyun itu pun ditaklukkannya.

Mungkin EQ Sehun nol, tapi IQ-nya cukup tinggi. Sikapnya yang berlainan luar dan dalam membuatku cukup terkesan. Dia sengaja memamerkan cintanya padaku, dan sengaja memilih tempat yang banyak orang. Bukankah dia sedang mendemonstrasikannya untuk Chanyeol dan Luhan?

"Nona Baekhyun, cokelat ini..." Sepulang sekolah supirku datang menjemputku. Saat dia melihat bongkahan buket besar, dia terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Aku mengurut dahiku dan memintanya mencarikan karung besar.

Menyia-nyiakan makanan adalah perbuatan yang memalukan, tidak boleh dibuang. Cokelat tidak bisa disamakan dengan bunga yang bisa dimanfaatkan kelopaknya untuk mandi kembang.

"Apa sudah terpikirkan cara mengurus cokelat ini?" Chanyeol, entah kapan dia muncul. "Aku bisa membantumu."

"Membantuku memakan semuanya?" Aku mencibir.

Dia memasukkan seluruh cokelat ke sebuah karung besar, lalu mengikatnya di belakang motor besarnya.

"Ayo, pergi. Kita bereskan maksud hati calon suamimu ini."

Chanyeol memboncengku ke area Sungai Han. Kami berhenti di sana, membuka karungnya, membongkar buket cokelat, lalu menyatukan tiap tiga buah cokelat. Dia memberikan beberapa ikatan untukku.

"Pegang."

"Untuk apa?" Aku menatapnya curiga.

Satu tangannya menarik karung, satu tangan lagi menarik diriku berjalan di tengah kerumunan. "Ayo, kita teriak bersama."

"Teriak apa?"

"Bunga Ferrero Rocher. Satu ikat 39 won."

"Hah?!"

"Tiga ikat, 100 won."

"Hah?!"

"Ayo teriak." Dia terus mempromosikan, "Bunga Ferrero Rocher. Satu ikat 39 won. Tiga ikat, 100 won."

"Apa kau mau aku ikut berjualan sepertimu?" Aku menggoyangkan tanganku. "Aku tidak mau! Aku adalah..."

"Sudah tahu, sudah tahu. Kau adalah nona besar kan?" Dia memakaikan helm bergambar babi ke kepalaku, "Pakai ini. Tidak akan ada yang mengenalimu."

"Bunga Ferrero Rocher... Satu ikat 39 won." Aku berteriak pelan. "Tiga ikat 100 won." Suaraku seperti suara kucing.

"Kuat sedikit." Dia menepuk-nepuk helmku, "Lebih kuat, adik Piggy."

"Kau boneka Hello Kitty." Aku marah dan berteriak keras "Siapa yang kau sebut adik Piggy?!"

"Ya, seperti itu teriakannya."

Orang-orang mulai berkerumun. Dengan modal wajah tampan dan senyum'mematikan' dari Chanyeol, dagangan kami laku.

Dari 1.314 butir cokelat Ferrero Rocher, kami berhasil menjual 200 ikat lebih di hari pertama. Kami berpikir, hari kedua akan lebih baik, tapi kami bertemu dengan polisi patroli. Jadi, kami bermain kucing-kucingan dengan mereka.

Ternyata sudah tengah malam. Teringat belum makan malam, aku menarik Chanyeol, "Hei, aku lapar."

"Mau makan apa?"

"Ke restoran yang lebih bersih saja." Aku tidak bermimpi dia akan membawaku ke restoran mewah. Asalkan aku jangan dibawa ke tempat kumuh saja. Bisa pingsan aku di sana.

Kami berdua duduk di kursi yang disediakan di toserba. Kami makan dua mangkuk kanto—sup yang disajikan di mangkuk dengan berbagai makanan yang ditusuk seperti sate—yang masih panas. Aku mengambil setangkai bakso ikan mas, mengigitnya sedikit, lalu membubuhinya saus, membuatnya terasa sangat nikmat.

Aku makan punyaku, tapi aku penasaran dengan isi kanto milik Chanyeol.

"Lagi makan apa?"

"Udang gulung kulit tahu."

"Lalu, sekarang makan apa?"

"Sosis ikan."

"Sosismu kelihatan lebih besar." Aku menatap sosis di tangannya. "Aku mau coba."

Wajahnya memerah. "Bukannya sama saja."

"Tidak kusangka, di dunia ini ada makanan murah yang enak." Aku meminum semua supnya dan bersendawa, "Hei, kuberi tahu ya. Ini pertama kali aku makan kanto di toserba. Sepertinya banyak sesuatu yang aku alami pertama kali saat bersamamu."

Banyak hal yang kulakukan pertama kali saat bersama Chanyeol. Pertama naik motor besar, pertama kali memakai helm, pertama kali berjualan di pinggir jalan, pertama kali makan di toserba, pertama kali naik bus, pertama kali dikejar penjahat, pertama kali menginap di kantor polisi, dan pertama kali menyentuh... hmm.

Teringat momen yang memalukan itu, aku menunduk sambil makan jagung.

"Oh..." Chanyeol menjawab dengan singkat dan tertawa, "Baekhyun, momen kali pertamamu banyak, ya."

Senja di hari ketiga, hujan turun rintik-rintik. Karena takut cokelat yang kami bawa meleleh, kami berteduh di bawah jembatan. Setelah bersusah payah selama beberapa jam, akhirnya cokelat terjual habis.

"Kakak, kami ingin membeli seikat bunga cokelat. Apa bisa lebih murah?" Sekumpulan siswi SMP yang baru selesai les tambahan, mengerubungi Chanyeol.

Saat itu aku sedang beristirahat di bawah jembatan. Saat aku ingin menolong Chanyeol keluar dari 'kesusahan', aku melihat Chanyeol berkata kepada mereka cokelatnya telah habis terjual. Siswi SMP itu merasa kecewa.

Untuk mengobati rasa kecewa mereka, mereka memaksa Chanyeol selfie bersama mereka, barulah Chanyeol bisa 'mengusir' mereka pergi.

Aku melihat ke dalam karung. Ternyata masih ada satu, "Kenapa tidak dijual saja kepada mereka?"

Bukannya menjawab, Chanyeol malah membuka cokelat itu dan memasukkannya ke mulutku. "Byun Baekhyun, selamat ulang tahun."

Byun Baekhyun, selamat ulang tahun.

Aku lupa beberapa hari lagi adalah ulang tahunku.

Jari tangannya tidak sengaja menyentuh bibirku. Aku tersipu malu dan berkata, "Terima kasih."

"Bagimana pembagian uang ini? 50-50? Atau, 60-40? Ah, sudahlah. Untukmu saja." Uangnya tidak banyak, juga tidak sedikit. Tidak sampai 20.000 won. Bahkan, tidak cukup membeli tas bermerek kesukaanku.

"Ayo, kita habiskan semuanya!"

"Apa?"

Kalau mau menghabiskan uang, langkahku terasa ringan. Tapi, tidak disangka dia malah membawaku ke rumah sakit, dan menyumbangkan semua penghasilan kami selama tiga hari ini ke bagian yayasan penyakit kronis anak-anak.

"Ternyata, sebentar saja uangnya sudah habis." Aku tertawa hambar.

Setelah hujan, suhu malam hari semakin turun. Saat keluar dari rumah sakit, angin malam membuatku gemetar. Chanyeol melepaskan salah satu sarung tangannya dan memakaikannya ke tanganku. Tanganku yang tidak memakai sarung tangan langsung digenggamnya dan dimasukkan ke saku mantelnya.

Karena perbuatannya sangat cepat dan sangat alami, aku tidak sempat mencegahnya melakukan tindakan intim seperti ini.

Berjalan di jalan yang agak sepi, langkah kami berat seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati. Kalau terus diam seperti ini, pasti akan salah tingkah. Aku membuka pembicaraan, "Kenapa kau terpikirkan menyumbang uang ke rumah sakit?"

Tidak kusangka bahan pembicaraan ini malah membuat senyum Chanyeol menghilang. Dia diam sangat lama, lalu membuka mulutnya. "Adikku mengidap penyakit lupus. Dia dirawat di rumah sakit ini."

"Lalu di mana dia sekarang?" Suaraku sangat pelan, bahkan aku bisa menebak jawaban yang akan diberikannya.

"Dia sudah meninggal."

Walaupun jawaban itu sudah dapat diprediksi, aku tetap merasa sedih.

"Setelah dia divonis penyakit itu, dia pernah membaik karena menjalani pengobatan medis. Kami pikir dia akan segera sehat. Tidak disangka penyakitnya kambuh. Bahkan, dia pernah di rawat selama satu tahun di ICU dengan menggunakan ECMO. Karena terjangkit bakteri, dia tetap saja meninggal dunia." Matanya menunjukkan keputusasaan.

"Kapan itu terjadi?"

"Tahun lalu."

Aku berpikir, ternyata ini alasan sebenarnya Chanyeol cuti sekolah selama satu tahun.

Aku tidak tahu bagaimana menghiburnya, jadi aku hanya mempererat genggaman tangannya. "Hubunganmu dengan adikmu pasti sangat akrab."

"Kenapa berpikir begitu?"

"Kau adalah kakak yang sangat baik." Kataku dengan jujur. "Chanyeol, kau memang sangat hebat dalam menjaga orang."

"Tapi, aku tidak bisa menjaga adikku lagi." Ujung bibirnya terangkat membentuk senyum yang sangat tipis, lesung pipitnya juga tampak samar.

Senyum ini lagi!

Dulu, aku selalu merasa senyumnya dibarengi dengan rasa kesepian. Sekarang setelah tahu rahasianya, senyumnya sebenarnya dibarengi dengan kesedihan yang mendalam.

Aku tidak ingin melihat kesedihan di wajahnya. Aku ingin melihat wajahnya dengan senyum yang tulus, ingin sekali membantunya mengatasi kesedihan ini, ingin sekali memeluknya

"Seperti apa adikmu? Dia pasti sangat manis. Kau begitu menyayanginya."

"Dia..." Chanyeol mengingat kembali kenangannya dan tersenyum kecil. "Kekanak-kanakan, manja, dan keras kepala. Bicaranya tidak sopan. Dia tidak manis sedikit pun, malah sangat menyebalkan dan sering membuat masalah. Bahkan, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya."

Aku terkejut, karakter adik Chanyeol sama sekali tidak ada bedanya denganku.

"Sangat keras kepala. Saat terluka, tidak tahu cara menangis. Saat tertawa, malah suaranya lebih kuat dari orang lain." Dia berhenti sejenak.

"Mungkin... Dia ingin menarik perhatian kalian, tapi dia juga takut kalian khawatir dengannya." Aku menyambung dengan suara pelan.

"Ya, dia memang pembuat onar."

"Dia suka apa?"

"Dia suka... Hello Kitty." Suara Chanyeol tercekat, lalu dengan suara pelan melanjutkan, "Aku bahkan telah berjanji kepadanya. Kalau dia sembuh, akan membawanya melihat boneka Hello Kitty."

Aku terkejut. Sekarang aku mengerti kenapa Chanyeol mau memakai kostum Hello Kitty.

"Besok hari libur. Kita jadi relawan di rumah sakit, yuk." Aku tersenyum dan memberikan ide, "Bukankah kau punya kostum Hello Kitty, pakailah agar bisa dilihat bocah... Er, anak-anak itu. Bacakan cerita untuk mereka. Mereka akan senang sekali."

Dia menatapku seakan tidak percaya, lalu lesung pipitnya semakin dalam. "Baiklah."

.

.

Beberapa hari kemudian, aku menerima kartu ucapan selamat ulang tahun dari anak-anak, pasien rumah sakit. Mereka membuatkan satu kartu ucapan untukku. Melihat tulisan dan lukisan yang tidak beraturan itu membuatku tersenyum.

Untuk kakak Baekkie dan Kakak Chanchan,

Selamat ulang tahun, kakak Baekkie.

Kata penguasa langit, kakak Baekkie dan Kakak Chanchan tinggal di atas langit. Oleh karena itu, kalian harus saling bersama, ya.

Kakak Baekkie, kakak sangat cantik. Kalau sudah dewasa, apa aku boleh menikahi kakak?

Kakak Baekkie, jangan memukul kakak Chanchan, ya. Nanti dia kesakitan.

Semoga kakak Baekkie panjang umur dan cepat dikaruniai anak.

"Anak-anak ini sangat lucu." Aku memberikan kartu ucapan itu kepada Chanyeol dan berkata dengan semangat, "Bagaimana kalo kuhadiahkan mereka masing-masing satu boneka Hello Kitty? Atau, aku menyuruh chef hotel berbintang memasakkan makanan enak untuk mereka? Atau, aku memesan taman bermain selama sehari agar mereka bisa bermain sepuasnya."

"Baekhyun." Chanyeol mengerutkan dahinya dan berkata dengan nada ejekan, "Apa kau juga pertama kali mendapatkan kartu ucapan?"

Pertama kali mendapatkan kartu ucapan?

Aku mencoba mengingat kembali. "Temanku tidak mungkin menuliskan kartu ucapan yang begitu menggelikan. Mereka biasanya menghadiahiku barang bermerek—"

"Jadi kau sangat senang?" Dia segera memotong pembicaraanku.

"Mmm, lumayan." Aku berlagak sombong sejenak. Akhirnya, aku mengangguk. "Sangat senang."

"Kalau kau merasa dicintai, ucapkan terima kasih. Saat gembira dan senang, tertawalah. Saat sedih, menangislah." Tatapan Chanyeol membuatku malu. "Kau tidak perlu menggunakan uang untuk mewakili perasaanmu."

Kalau Chanyeol tidak bilang, aku bahkan tidak menyadarinya. Beberapa tahun ini, aku selalu menggunakan uang untuk mewakili perasaanku. Saat gembira, aku pergi berbelanja. Saat sedih, aku juga pergi berbelanja.

Tahun lalu, hadiah ulang tahunku barang bermerek atau perhiasan mahal. Tahun ini, aku menerima hadiah yang sangat berarti. Ada seorang pria yang lembut mengajariku bagaimana mencari uang sendiri, bagaimana harus berkorban, bagaimana harus mencintai, dan bagaimana harus... dicintai.

Kalau saja dia juga mengajariku bagaimana tersenyum dan menangis.

.

.

Ulang tahun ke-19 seorang Byun Baekhyun diadakan di atas kapal pesiar mewah milik OSH Group.

Sehun tidak menghadiahkan 10.000 kuntum bunga mawar untukku, tapi dia menghadiahiku sebuah pertunjukkan kembang api yang begitu indah.

Saat meluncur, kembang api tersebut langsung terpencar ke segala arah, mengeluarkan banyak percikan kembang api yang indah. Setelah itu, langit kembali gelap. Sehun mengeluarkan banyak uang hanya untuk pertunjukan sesaat dan bau yang menyengat hidung.

Orang-orang berpakaian mewah mengangkat gelasnya dan mendoakanku. Saat yang bersamaan dengan momen paling mewah ini, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku merasa sesak, membuatku tidak mampu bernapas.

Cahaya kembang api menerangi wajah Sehun. Dari samping dia kelihatan begitu tampan. Hari ini dia memakai jas putih Armani.

"Kau membuat semua ini dengan rencana yang matang, Sehun." Nada suaraku benar-benar datar. "Apa kau benar-benar mencintaiku?"

Pangeran memalingkan wajahnya dan mengembuskan napas. "Baekhyun, kau menang."

Byun Baekhyun, kau menang.

Yang tidak boleh disentuh di keluarga kaya raya adalah cinta.

Aku membuka cokelat Ferrero Rocher dan memasukkannya ke mulut. Yang terasa bukan manis, tapi malah pahit.

Saat pesta usai, hujan pun turun. Air hujan sambung-menyambung membentuk suatu benang panjang menerpa jendela. Kalau saat itu aku melihat jendela, pemandangan di luar pun semakin lama semakin kabur.

Bintang dan hujan berada di atas langit. Saat hujan turun, bintang pasti tidak akan tampak.

Aku berbaring di atas ranjang, tidak bisa tidur. Suara hujan di luar cukup menggelegar. Tangan ini malah menelpon seseorang.

"Hei, Chanyeol."

[Mmm?] Suaranya tidak jelas seperti sedang tidur.

"Kau lupa memberiku hadiah ulang tahun."

[Apa yang kau inginkan?]

Aku terdiam. Apa yang aku inginkan? Yang aku inginkan semuanya sudah ada. Dia tidak mampu memberikanku hadiah mahal.

"Bernyanyilah untukku."

[Nyanyi lagu apa?] Antara sadar atau tidak, Chanyeol menjadi penurut. Seperti kucing yang imut.

"Nyanyi lagu Barat."

[Twinkle, twinkle.]

"Chanyeol, kau sangat asal-asalan."

Tanpa menghiraukan protesku, terdengar suara desahan napas yang pelan, lalu terdengar suara serak rendah.

[Twinkle, twinkle little star.]

[How I wonder what you are.]

[Up above the world so high.]

[Like a diamond ini the sky.]

[Twinkle twinkle little star.]

[How I wonder what you are.]

Saat suara nyanyian berakhir, aku dan dia tidak bersuara. Suasana benar-benar senyap.

"Suaramu jelek," kataku sembarang.

[Makanya jangan suruh aku bernyanyi lagi.] Dia tidak marah, lalu dengan pelan berkata, [Selamat malam, Nona Princess Syndrome.]

Twinkle, twinkle little star. How I wonder what you are.

Bintang-bintang berkelip-kelip. Aku ingin melihatmu dengan jelas.

Di dalam hatiku, banyak perasaan yang tidak kumengerti. Seperti spons yang menyerap air, berat dan basah—kalau disentuh orang, akan berubah menjadi air mata dan mengalir dari ujung mata.

Aku menatap ponsel yang telah diputuskan sambungan teleponnya, menghapus air mataku, dan bergumam, "Terima kasih."

"Selamat malam, Nona Princess Syndrome."

.

.

"Hanya ulang tahun saja. Kenapa harus ada kembang api? Seperti parade kemerdekaan saja." Aku memprotes perilaku boros Sehun kepada Nyonya Jung.

"Punya calon suami kaya raya adalah impian para gadis. Apa kau masih tidak puas?!" Dia menanyaiku.

Masalahnya, aku tidak mau seorang pangeran yang tidak mencintaiku sama sekali.

Alur cerita masih berlangsung sampai sekarang. Sepertinya, semakin lama semakin rumit.

Ibu tiri mendapat kabar bahwa Sehun dan Luhan memiliki hubungan khusus. Dia mengancam Paman Changmin untuk memaksa Luhan mengundurkan diri dari sekolah. Untuk mengatasi masalah dan menenangkan kondisi, Paman Changmin memaksa Sehun untuk tidak bertemu dengan Luhan lagi dan harus lebih baik kepadaku.

Walau begitu, aku tidak terlalu gembira. Sikap mengalah Sehun semakin membuktikan bahwa Luhan masih sangat penting di hatinya.

Aku berusaha menghibur diriku sendiri. Demi keuntungan keluarga, jangan pernah meninggalkan Sehun.

Harus kuakui, prinsip yang selama ini kupegang teguh perlahan menjadi retak, membuat sebuah hati yang lembut masuk ke duniaku.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Uwuu~

Fast apdet banget 'kan, aku? wqwqwq