Hayooo yang lupa jalan ceritanya silakan baca ulang ya dari awal hehe
Pengambilan gambar produk Byun Group dengan modal dari OSH Group akhirnya selesai. Tidak lama kemudian, televisi, internet, majalah, dan papan iklan outdoor secara serentak mengiklankan produk ini. Seperti negeri dongeng, semua orang sedang menebak, kerja sama bisnis antara Keluarga Oh dan Byun akan berakhir dengan pernikahan atau tidak. Hal ini menciptakan perdebatan yang menghebohkan.
Ada juga orang-orang yang bersedih atas kejadian ini.
Hari ini adalah akhir pekan. Aku baru saja selesai shopping dan menunggu Sehun menjemput. Hanya sekali melihat sekeliling, aku langsung mengenali si Cinderella. Luhan, berdiri di tengah alun-alun. Sepertinya dia sedang menatap ke arah papan iklan besar yang menempelkan gambarku dan Sehun dengan wajah sedih. Di wajahnya ada bekas air mata. Tidak jauh dari sana, ada boneka Hello Kitty yang juga sedang menatap papan iklan itu.
Karena Sehun datang terlambat, aku menjadi jenuh. Aku ingin mencari sesuatu.
Setelah menghipnotis diriku sendiri, kuputuskan membuat suatu adegan calon istri yang menghina Cinderella. Dengan begitu, aku bisa membuat Luhan dan Chanyeol bersatu, dan secepatnya mengakhiri hubungan rumit antara kami berempat. Itu baru bagus.
Aku menelepon Chanyeol terlebih dahulu. Ponselnya berbunyi, tapi tidak diangkatnya. Hello Kitty mengambil ponsel dari kantongnya, melihat sekilas, lalu memasukkannya kembali. Sepertinya dia tidak ingin menghiraukanku.
Aku mengambil batu dari tanah dan melemparkannya ke boneka Hello Kitty itu. Dia pelan-pelan melepaskan kepala boneka, lalu mengambil ponselnya.
"Kenapa tidak menjawab teleponku?" Aku memajukan bibirku.
"Ribet." Suaranya seakan menyunggingkan senyuman. "Ada apa?"
"Jangan bilang aku tidak baik kepadamu," Aku tersenyum kecil. "Lima belas menit lagi, datanglah untuk menolong bidadarimu."
Tanpa menunggu Chanyeol, aku langsung menutup sambungan telepon. Aku berjalan ke arah Luhan dengan angkuh. Dia melihatku ingin menghampirinya. Dia segera melarikan diri, tapi aku langsung mengadangnya.
"Hai, kebetulan sekali." Aku mengembangkan senyuman. "Apa kau juga mau shopping?"
Luhan tersenyum kaku. "Aku bekerja."
"Aduh, maaf. Aku tidak tahu akhir pekan adalah waktumu bekerja. Semangat, ya."
Luhan menunduk.
"Tadi aku melihatmu tertegun melihat papan iklan kami. Aku dan Sehun pertama kali shooting iklan. Sangat menarik dan fresh. Prosesnya lumayan oke," Aku mengembangkan senyumanku lagi. "Bagaimana menurutmu?"
"Sangat... sangat bagus."
"Tentu saja. Banyak yang bilang aku dan Sehun seperti sepasang kekasih."
"Mmm... " Air mata mulai menggenang di pelupuknya. "Kalian sangat serasi."
"Terima kasih atas perkataan baikmu. Aku mau menghadiahimu sepatu. Berapa ukuran sepatumu?" Aku tersenyum semanis mungkin.
"Tidak... tidak perlu."
"Jangan menolaknya. Anggap saja, aku perwakilan Sehun memberimu hadiah perpisahan." Nadaku langsung berubah. "Luhan, jangan terlalu takut padaku. Aku tidak ingin menganggapmu sebagai saingan. Aku menganggapmu sebagai teman sekolah, teman baik. Aku berkata seperti ini kepadamu... "
"Apa yang kau ingin katakan sebenarnya?" Dia menggigit bibirnya.
"Jujur saja. Apa kau tertarik pada Sehun?"
Luhan menatapku kaget. Tangannya gemetar memegang roknya dengan kuat. Tidak tahu bagaimana menjawabku.
Aku juga tidak butuh jawabannya. Melihatnya diam-diam menatap poster kami sambil berlinang air mata membuatku yakin akan jawabannya.
Aduh, aku memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai. Dosaku tidak terampuni.
"Lebih baik kau cepat-cepat melupakannya agar tidak terluka lebih dalam." Nadaku terdengar sangat kejam, "Walaupun Sehun istimewa bagimu, itu karena kau wanita biasa. Jadi, baginya kau sangat menarik. Waktu akan cepat berlalu. Saat dia merasa ketertarikannya padamu memudar, apalagi yang bisa kau berikan kepadanya?"
Luhan terdiam. Wajahnya pucat. Dia memeluk tubuhnya. Sepertinya, kalau tidak begitu dia akan terjatuh.
"Walaupun kalian bersikeras bersama, kau pikir orang tua Sehun akan membiarkan kalian semena-mena? Apa kau berpikir mereka akan menerima seorang anak dari pedagang kedai mi menjadi menantu mereka? Kalau mereka mengerjaimu, apa Sehun sanggup melindungimu dan keluargamu?" Ya, ampun. Sepertinya, aku berlebihan tentang Keluarga Sehun. Korea Selatan adalah negara hukum. Aku secepatnya mengubah nada ancamanku berubah menjadi bujukan, "Walaupun mereka terpaksa menerimamu, Sehun akan menjadi penerus OSH Group. Kau tidak punya kuasa, tidak punya uang, tidak punya kencantikan, dan tidak punya talenta. Dengan apa kau membantunya mengelola grup sebesar itu?"
Aku membuatnya malu agar dia tahu diri dan segera mundur.
Aku berlaku profesional sebagai calon istri yang jahat. Aku berakting sejahat dan sekejam mungkin, serta mengatakan hal-hal yang paling kejam. Tetapi, beberapa menit kemudian aku sudah kehilangan kata-kata.
Saat aku tengah berpikir keras, aku tidak menemukan sosok Hello Kitty. Hatiku berkecamuk. Kurang ajar. Chanyeol, ke mana dia? Kenapa dia tidak datang menolong bidadarinya? Aku sudah kehilangan kata-kata.
Tubuh Luhan gemetar. Dia terus berjalan mundur. Tanpa disadarinya, ada anak tangga. Saat aku mau memberitahukannya, kakinya keseleo dan jatuh terduduk di lantai. Aku ingin menariknya berdiri, bermaksud ingin menolongnya, tapi dia tidak mau, malahan mulai menangis.
Aku kebingungan melihat situasi yang tidak terkendali. Hanya bisa mengulurkan tangan, menyentuh bahunya dan berkata, "Hei, jangan menangis lagi."
"Byun Baekhyun apa yang kau lakukan pada Luhan?!" Sehun muncul dengan wajah seram. Dia tidak menunggu jawabanku, langsung memapah Luhan untuk berdiri.
"Dia jatuh sendiri." Aku mengangkat kedua tanganku.
Luhan terus memukul Sehun yang sedang merangkul pinggangnya. Dengan tersedu-sedu, dia berkat, "Jangan menyentuhku."
Sehun tidak mau melepaskan tangannya. Kerumunan di sekitar kami mulai berbisik-bisik. Dengan nada rendah, aku mengingatkannya, "Sehun, tolong jaga sikapmu. Jangan lupa... "
Dia tersadar dan melonggarkan rangkulannya. Luhan langsung mendorongnya menjauh. Saat Sehun ingin mengejarnya, dia membalikkan badan dengan wajah penuh air mata.
"Sehun, aku membencimu. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" Luhan mengepalkan tangannya, "Jangan mengejarku. Temani saja calon istrimu yang kaya itu!"
Langkah Sehun terhenti, seolah-olah terpukul karena kata-kata itu. Setelah terdiam beberapa saat, dia membalikkan badan sambil menatap tajam kepadaku, dan kembali mengejar Luhan.
Tidak tahu ini yang keberapa kali, dia selalu meninggalkan calon istri.
Sungguh keterlaluan! Aku menggertakkan gigi.
"Byun Baekhyun."
Sebuah suara yang merdu terdengar di telinga. Kemarahanku langsung tersulut lagi.
"Menolong bidadari?" Chanyeol sudah berganti pakaian menjadi T-shirt putih dan celana jins. Sepasang tangan masuk ke kantong celana. Dia berdiri di hadapanku. Nada bicaranya seakan sedang menggodaku, "Pahlawan sudah datang, di mana bidadarinya?"
"Sudah pergi." Aku menjawab dengan kesal, "Seharusnya, kau lebih lama lagi saja!"
"Bukannya kau bilang lima belas menit? Aku on time, lho." Telunjuknya mengetuk jam tangan. Senyumnya perlahan mengembang hingga lesung pipitnya muncul.
"Salahkan saja aku." Aduh, tentu saja aku yang harus disalahkan karena terlalu sedikit membaca novel. Kata-kata dari calon istri jahat kurang banyak sehingga baru beberapa menit aku sudah kehilangan kata-kata. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Jadi, aku sudah tidak diperlukan lagi?"
"Tidak perlu." Aku sedang kesal.
Langit mulai gelap. Berbagai lampu neon berwarna-warni menyinari papan iklan yang menampilkan gambarku dan Sehun, membuat kami seolah-olah pasangan serasi dari negeri dongeng. Pangeran setengah berlutut dengan tatapan serius, bergaya seperti akan melamar. Dia mengangkat kaki sang putri, lalu memakaikannya sepatu.
Siapapun yang melihatnya pasti akan langsung percaya bahwa pangeran dan putri akan hidup bahagia selamanya.
Aku yang melihat iklan seperti ini, merasa gambar iklan itu sedang menyindir diriku sendiri.
Chanyeol belum pergi, hanya berdiri diam di sampingku.
"Kenapa kau belum pergi?"
"Aku sedang menunggu bus."
"Oh... " Aku melihat kendaraan yang lalu-lalang. "Aku tidak menunggu bus. Sopir akan datang menjemputku."
"Aku tahu." Dia tersenyum, memandangiku sekilas, "Kau adalah nona besar."
Aku berpikir dengan serius. Sebenarnya, aku bukan nona besar.
Aku berusaha membuang jauh pemikiran itu, menunjuk papan iklan dan berkata, "Bagus, kan iklannya? Kabarnya, iklan ini sangat menarik perhatian publik dan mereka bilang wanita dalam iklan itu kelihatan bahagia."
Chanyeol tidak menyambung ucapanku, aku meneruskan bicaraku, "Apa kau tahu? Saat pemotretan, sepatu sampel yang disediakan terlalu kecil untukku. Aku memakainya seharian, lho. Kakiku sampai bengkak dan lecet. Saat fotografer bilang sudah selesai, aku senang sekali. Iklan ini adalah iklan yang dilakukan pada hari terakhir. Fotografer bilang senyumku sangat alami. Ironis, kan? Orang-orang berpikir bahwa aku tersenyum karena bahagia, padahal aku tersenyum karena pekerjaan ini akan segera selesai."
Aku mengembangkan senyum seperti senyum dalam iklan itu dan memiringkan kepala menatap Chanyeol. "Lihatlah senyum ini. Palsu, kan?"
"Ya, dan sangat dibuat-buat." Chanyeol memang tidak bisa membujuk orang.
Saat aku mau membalas ucapannya, dia menurunkan pandangannya ke kakiku. Dia setengah berjongkok dan menarik salah satu kakiku. Aku terpaksa menggunakan satu tangan bersandar di bahunya. Dia melepaskan sepatu hak tinggiku. Kedua kakiku yang lecet langsung dilapisinya dengan plester.
Sebenarnya aku ingin berterima kasih padanya, tapi kata-kata yang keluar malah mengolok-oloknya, "Chanyeol, kau pikir kau pangeran berkuda hitam? Ketagihan menolong bidadari? Plester ini untuk Luhan saja."
Aku langsung menyesal berkata seperti itu, karena Chanyeol malah menekan lukaku. Aku berteriak kesakitan.
Dia berdiri. Tanpa belas kasihan, dia berkata, "Kalau tahu sakit, lain kali jangan coba-coba memakai sepatu yang bukan ukuranmu."
Aku kesal dan memukulnya dengan tas tangan. Dia seperti akan mencengkram pergelangan tanganku. Entah bagaimana tangannya berhenti di udara. Aku memukul tubuhnya. Di tidak bergerak sama sekali. Karena aku tidak bisa mengontrol diriku dan terinjak sepatu hak tinggi, aku langsung membentur dadanya.
Aduh, hidungku.
"Kau sudah tahu apa yang menolong bidadari, kan?" Terdengar suara ejekan Chanyeol di telingaku. "Kalau aku tidak menahanmu, hidungmu akan berbenturan dengan tanah."
Huh. Kalau berhadapan dengannya aku hanya bisa kalah dan terus kalah.
Aku mengelus hidungku. Rasa sakitnya membuatku mengeluarkan air mata.
Tiba-tiba saja Chanyeol mengambil sebungkus tisu Hello Kitty dari tasnya. Tanpa menunggunya memberikan kepadaku, aku langsung merebut dari tangannya.
"Semuanya untukku."
"Itu masih harus dibagikan."
"Berapa harganya? Aku mau beli."
"Ini tidak diperjualbelikan."
Suara klakson berbunyi. Sebuah mobil mewah berhenti di hadapan kami. Sopirku, Pak Kim, turun dari mobil dan membukakan pintu belakang untukku. Aku merebut semua tisu dan masuk ke mobil. Aku memberinya ekspresi mengejek.
Aku melihat senyum tak berdaya Chanyeol, lalu bilang pada Pak Kim, "Ayo jalan, Pak Kim."
Malam hari saat mau tidur, ku keluarkan tisu Hello Kitty yang berhasil kuambil dari Chanyeol. Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan berlari ke arah lemari dan mengambil mantel Marc Jacobs, mantel milik seseorang yang sudah menolongku saat hampir tenggelam. Aku membongkar saku mantel itu. Ternyata aku melihat sebungkus tisu Hello Kittu yang sudah hampir habis. Tisu itu sudah basah kena air, lalu kering kena matahari. Sekarang tisu itu malah telah mengeras.
Hari itu di hotel W, orang yang menolongku adalah Chanyeol?
Ternyata, jodoh kami dimulai sebelum kami berkenalan.
~MLP~
Jam pulang sekolah, semua siswa telah pulang. Aku baru menuruni anak tangga, langsung melihat sebuah mobil sport warna perak terparkir di samping kolam air mancur.
Sehun belum pulang? Apa sedang menungguku?
Aku langsung tahu, ternyata bukan.
Luhan yang baru selesai piket, berjalan dari arah yang berlawanan untuk menghindari Sehun. Mobil sport warna perak dengan cepat berganti arah dan berhenti tepat di depannya.
Sehun turun dari mobil. Keduanya tampak sedang bertengkar.
Karena penasaran, aku perlahan mendekat ke arah mereka, tapi lenganku langsung ditarik seseorang dari belakang. Belum sempat berteriak, mulutku dibekap dan langsung diseret ke tiang penyangga.
Chanyeol mengisyaratkanku untuk diam, aku mengangguk. Dia baru melepaskan tangannya dari mulutku, tetapi dia tidak percaya padaku sehingga tetap menahan bibirku dan tidak mau melepaskannya.
Saat aku mau membuka mulut, dengan gerak cepat dia menempelkan bibirnya di telingaku dan berkata, "Diamlah, kalau tidak, hanya tinggal mulutku yang bisa membuatmu diam." Aku langsung menutup mulut.
Aku memfokuskan pikiranku. Telingaku mendengar percakapan mereka. Sehun mempertanyakan Luhan yang belakangan ini selalu menghindarinya. Luhan menangis sambil berkata, "Cinderella dalam dongeng dan kehidupan nyata tidak akan sama, karena calon istri yang jahat membuatnya sadar akan keberadaanya."
Kesimpulannya adalah mengadukan kebiasaan buruk Byun Baekhyun kepada calon suaminya.
Fitnah! Semua itu fitnah! Aku memang pernah menjatuhkan apel ke arahnya. Tapi aku bersumpah, aku tidak sengaja. Saat itu, aku sedang memakan apel di dekat jendela, karena tanganku licin apel itu langsung terjatuh mengenai Luhan yang kebetulan sekali berada tepat di tempat mendaratnya apel milikku. Kejahatan yang lain bukan aku yang melakukan.
Anyway, karena aku gadis jahat. Jadi, semua perbuatan jahat diarahkan kepadaku.
"Sehun lepaskan aku. Aku sangat lelah, sangat lelah." Luhan kemudian menangis tersedu-sedu.
Dia berpura-pura untuk dikasihani. Tidak, bisa kumaafkan. Aku meronta sekuat tenaga dan bersiap memberi Luhan tamparan. Namun, suara tangis Luhan tiba-tiba berhenti.
Dipikir dengan lutut pun akan tahu kenapa suara tangisan Luhan tiba-tiba berhenti. Apa yang sedang Sehun lakukan pada Luhan, membuatku semakin mengamuk. Aku meronta lebih kuat lagi. Chanyeol merasakan sesuatu yang tidak beres. Langsung saja satu tangannya mencengkeram pergelanganku, satu tangan lainnya merangkul erat pinggangku dan merapatkan pada dadanya. Kakinya diselipkan antara kedua kakiku, mencegah agar aku tidak menghampiri kedua orang tersebut dan mengamuk hebat.
Tubuh Chanyeol seolah-olah mengimpitku, memaksaku mundur ke dinding.
Dekat... dekat sekali. Otakku mulai tidak bisa berpikir. Seluruh saraf tubuhku seiring dengan detak jantung yang cepat langsung membuatku bergidik.
"Lepas... Ah..." Pandanganku langsung gelap. Wajahnya semakin mendekatiku. Bahkan bibirnya hanya tersisa jarak beberapa milimeter dari bibirku.
"Diamlah. Kalau tidak hanya tinggal mulutku yang bisa membuatmu diam."
Terlintas kata-kata yang baru diucapkannya.
Tidak bisa dipercaya! Mataku membesar. Untuk melindungi Luhan, Chanyeol mau melakukan ancamannya.
Yang lebih memalukan, aku berhenti meronta dan memejamkan mataku erat-erat.
Waktu berlalu beberapa detik.
Di dalam hati, muncul sebuah harapan.
Tapi, harapan apa?
Tidak tahu berapa lama kemudian, tidak tahu kapan Sehun dan Luhan pergi, aku hanya merasakan desahan napas di wajah pelan-pelan menghilang.
"Baekhyun."
"Mmm?" Aku tidak berani membuka mata.
"Byun Baekhyun~"
Aku menjilat bibirku sambil menutup mata dan bertanya, "Apa sudah pergi?"
"Sudah."
"Oh... " Nadaku kecewa.
Sangat dekat, tapi dia tetap tidak menciumku.
Apa aku sedang mengharapkan ciuman Chanyeol?
Hoho, tentu saja tidak.
Aku menghela napas dalam-dalam, membuka mataku pelan-pelan, dan melihat Chanyeol sedang tersenyum menggoda.
Setelah lepas dari Chanyeol, aku merasa malu dan ingin menyepaknya. Ternyata dia berhasil menghindar.
"Maaf, tadi kulihat kau sepertinya ingin sekali kucium."
Ya, ampun. Bisakan jangan menghinaku?
~MLP~
Angin sepoi-sepoi berembus, daun maple yang telah menguning menghiasi seluruh halaman sekolah. Musim gugur telah tiba.
Sebuah daun yang tertiup angin seakan menari-nari di udara. Angin berhenti, daun pun terjatuh. Saat angin datang lagi, daun kembali terbang sesuai dengan arah angin, dipermainkan oleh angin seperti tidak mempunyai pendirian.
"Aku tidak melakukan hal buruk untuk mencelakai Luhan."
"Mmh, aku tahu."
Aku menangkap sebuah daun yang terbang di udara. Aku langsung mendekatkannya ke hidung. Merasa daun yang sudah layu tidak lagi beraroma segar, diam-diam aku memarahi diri sendiri, bodoh. Daun kering menyentuh hidungku, menimbulkan rasa gatal. Aku bersin, Chanyeol menganggapku kedinginan. Dia melepaskan mantelnya dan memakaikannya kepadaku. Tingkah lakunya sangat alami, seperti pernah melakukan sebelumnya.
Kenapa begitu perhatian padaku? Sampai-sampai aku harus menelan kembali kata-kataku. "Tapi maaf kejadian apel pagi itu memang salahku."
"Apa boleh aku bertanya sesuatu?" Aku kembali bersuara.
"Mmh."
"Apa kau menyukai Luhan?"
"Kalau kau? Apa kau menyukai Sehun?" Dia malah bertanya balik.
Aku tidak menyukainya. Kata hatiku berteriak. Tetapi tidak sanggup kuucapkan, hanya bisa berkata, "Kenapa tadi kau mencegahku keluar?"
"Tadi kau terlalu emosional. Aku takut kau akan memukul orang."
"Aku difitnah Luhan. Tentu saja aku marah!"
Chanyeol terdiam beberapa detik lalu berkata, "Jadi, kau marah bukan karena Sehun mencium Luhan?'
Haruskah aku marah? Aku baru teringat ada kejadian seperti itu.
"Benar juga. Aku juga marah karena itu. Dan kau, kenapa kau tidak mencegah mereka?"
"Aku pikir Luhan dan Sehun harus berbicara baik-baik untuk memastikan hati masing-masing." Ujung bibir Chanyeol membentuk lekukan yang sempurna.
"Kau mau seorang pria memantapkan hatinya dengan pihak ketiga di depan calon istrinya sendiri?!" Aku marah dan menyepaknya dengan keras.
Dia berhasil menghindar lagi, lalu tertawa terbahak-bahak. "Segala sesuatu ada yang datang pertama dan terakhir. Apakah kau bisa memastikan pihak ketiga itu bukan dirimu sendiri?"
Perkataan Chanyeol membuatku tersadar.
Aku hanya memikirkan bagaimana menjauhkan Luhan, memukul mundur semua sainganku. Tetapi, aku lupa sebenarnya aku orang yang terakhir datang.
Juga, lupa bertanya kepada diri sendiri. Siapa yang sebenarnya kusukai?
Saat aku sedang berpikir keras, dia menyentuh sikuku, "Mau kuantar pulang?" Ternyata, kami sudah sampai di depan gerbang sekolah.
Aku menggeleng. Tanganku menunjuk pada sebuah mobil mewah yang berhenti tidak jauh dari sana. Sopir yang melihatku keluar langsung membukakan pintu untukku.
"Mau kuantar pulang?" Aku juga menyentuh sikunya.
Dia menggeleng, menunjuk ke seberang tiang lampu. Ada motor besar yang terparkir di sana.
Aku mengucapkan salam perpisahan kepadanya, lalu masuk ke mobil. Tetapi, aku merasakan suatu kejanggalan, lalu turun dan mengadangnya, "Tunggu. Ada yang salah. Kenapa kau tidak sakit hati?"
"Kenapa aku harus sakit hati?"
"Wanita yang kau sukai telah dicium orang. Kenapa kau begitu tenang? Kenapa tidak menghajar Sehun?" Kalau pemeran pria pertama dan kedua berkelahi demi seorang wanita, hal itu akan menaikkan rating sebuah drama.
Chanyeol tersenyum. "Sejak kapan aku pernah bilang suka dengan Luhan?"
"Hah?" Aku menatapnya dengan bingung. Dia memang tidak pernah bilang, tapi bukankah dia senang menjadi pangeran penolong?
...
to be continued
...
/
Siapa yang kaget ini apdet?
Chapter selanjutnya aku post hari sabtu atau minggu, asal chapter ini banyak peminatnya ya.
[Kamis, 13 Februari 2020]
