Kalau tidak ada Luhan di antara aku dan Sehun, kami pasti akan mendengarkan perkataan orang tua. Menikah dan menjadi pasangan yang serasi. Tetapi karena Luhan, rencana pernikahan kami mulai bermasalah.

Semuanya seperti yang diharapkan orangtua dari kedua belah pihak. Kesan putri dan pangeran pada pemotretan iklan, pertunjukan kembang api, dan berita yang dibesar-besarkan melalui media, mulai memengaruhi banyak orang. Tetapi Luhan menjadi terpukul dan Sehun semakin membenciku.

Saat orangtua Sehun mengetahui hubungan anaknya dengan Luhan, mereka marah besar. Mereka bersikeras membuat keluarga Luhan tidak mampu hidup di dunia ini. Untuk melindungi Luhan sekeluarga, Sehun terpaksa sesekali pergi keluar bersamaku, berpura-pura seakan telah melupakan Luhan.

Aku juga menjadi terbebani. Untuk menghindari pertemuan yang tidak berguna, aku selalu menjadi relawan di rumah sakit. Tindakan yang bisa mengangkat image perusahaan ini tentu saja tidak dilarang orangtuaku. Bahkan, mereka sengaja mengundang wartawan untuk memberitakan semua 'kebaikanku'.

Yang sebenarnya, aku hanya tidak ingin keluar dengan orang menyebalkan itu, Sehun.

Aduh, Chanyeol. Dia juga menjadi salah satu alasanku.

Kalau tidak terikat janji pertunangan dengan keluarga Sehun, siapa orang yang akan kusukai, Sehun atau Chanyeol?

Aku tidak tahu sejak kapan Chanyeol ada di dalam hatiku. Saat aku menyadari keadaan yang sebenarnya, aku baru merasakan bahwa sebenarnya aku haus akan kelembutannya dan sepertinya tidak bisa dimungkiri lagi.

Aku tekejut karena punya pandangan seperti itu. Hati kecilku memperingatkanku. Bagaimana perasaan Chanyeol terhadap diriku? Apa dia juga punya perasaan yang sama? Atau jangan-jangan aku yang kegeeran.

Aku berusaha meyakinkan diriku.

Kepedulianku pada Chanyeol ini hanya sebuah alat untuk melancarkan maksudku. Kalau dia bisa menyukai Luhan, mungkin Sehun akan meninggalkannya dan bersamaku.

.

.

My Little Princess

Chapter 12

Chanyeol x Baekhyun

.

.

"Baekhyun, silakan menuju ke kantor kepala sekolah." Saat lonceng berbunyi, sekretaris Paman Changmin telah menunggu di luar.

Saat menyusuri koridor panjang yang terhubung ke kantor kepala sekolah, aku melihat Chanyeol berdiri mematung di sana. Aku sedikit panik.

Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di sana. Dia hanya terlihat menatap pohon maple yang ada di luar koridor. Bulu mata yang ada di belakang kacamata hitamnya sedikit menurun. Tatapannya yang dalam membuat orang tidak tahu apa yang dipikirkannya. Mendengar suara langkah kaki, dia memiringkan wajahnya dan menatapku, terbentuklah lesung pipitnya yang mendalam.

Ekspresi ini terlalu dalam. Bahkan, aku tidak tahu apakah itu sebuah senyuman atau bukan. Dia berjalan kearahku dan melewatiku.

Sebuah sapaan tercekat di kerongkongan, bahkan basa-basi pun tidak terkatakan. Aku hanya bisa melewatinya. Dalam hatiku, Apa dia datang mencari Paman Changmin?

Aku mendorong pintu kepala sekolah. Saat berada di bagian depan kantor, aku merasakan sebuah kekuatan besar. Aku melihat ke bagian samping. Ada beberapa lukisan cat minyak berukuran besar, tiruan benda antik bersejarah, meja cokelat dengan ukuran yang indah, rak buku kayu yang memuat banyak buku, dan lampu hias meja warna-warni. Selain itu, ditambah dengan lampu gantung kristal yang unik, memancarkan cahaya ke seluruh ruangan. Cahayanya membuat ruangan itu terasa tenang dan damai.

Sekretaris menghidangkan minum untukku, dan mengatakan bahwa kepala sekolah sedang rapat dengan para pengurus dan menyuruhku menunggu sebentar.

Di atas meja kerja, ada beberapa bingkai foto berlapis logam. Semuanya adalah foto Paman Changmin dengan para siswa dalam berbagai kegiatan. Wisuda, olahraga, penyerahan piagam, dan makan bersama siswa asing. Melihat foto ini membuatku sadar bahwa Paman Changmin memang memiliki image sebagai kepala sekolah.

Pintu kantor tiba-tiba terbuka sehingga membuatku terkejut. Tanganku yang ku tarik tidak sengaja menjatuhkan sebuah bingkai foto, efek domino pun terjadi. Sebaris bingkai pun jatuh bertindih satu sama lain.

Aku tertawa kaku, segera membereskan bingkai foto itu.

Paman Changmin tidak berkata apa-apa, hanya membantuku mendirikan semua bingkai foto itu.

Sekretaris mengantar seperangkat alat menyeduh teh, lalu dia duduk di sofa dan bertanya, "Mau minum teh?" Tanpa menunggu jawabanku, dia mulai menyeduh teh, mendidihkan poci, menaruh daun teh, menghangatkan gelas, menyeduh, dan mencium aromanya. Gerakannya sangat halus dan anggun, sepertinya sudah sering melakukannya.

Ada sedikit perasaan untuk tetap waspada, mungkin aku tidak menyangka akan bertemu empat mata dengan Paman Changmin. Aku menyibak poniku dan duduk dengan tegak, tapi rasanya tidak nyaman. Aku hanya bisa bersandar pada bantal dan mencari posisi duduk yang nyaman. Lalu, aku menatapnya, hanya melihatnya seolah-olah menertawai tingkah lakuku.

Aku memalingkan wajah, menghindari tatapannya. Di hadapannya, aku seakan kembali menjadi anak kecil yang pernah membuat onar di pesta pernikahannya dulu.

"Bagaimana dengan kehidupan sekolah?" Dia bertanya.

"Mmh, lumayan." Aku mengangkat bahu dan menghabiskan teh dalam sekali tegukan. Saat ditanya apa mau tambah, aku hanya menggeleng sambil menatap poci teh.

Tidak lagi memaksaku, dia mengangkat gelas dan berjalan menuju jendela. Dengan nyaman, dia menikmati tehnya.

Pandangan Paman Changmin tidak beranjak dari jendela, tapi dia merasakan aku memandanginya dengan tatapan penuh tanya, "Tanyalah apa yang ingin kau tanyakan." Akhirnya, dia bersuara.

"Aku sangat penasaran. Paman menikah dengan istri Paman karena saling mencintai? Atau, karena keuntungan keluarga?"

Dia tidak marah mendengar pertanyaanku yang terlalu berterus terang. Dia balik bertanya, "Apa itu penting?"

Aku terdiam.

Benar juga, apa itu penting?

"Dengan begitu, apa kalian akan bahagia?"

Dia hanya diam sambil menatap ke luar. Dia luar sana, ada sebuah pohon maple yang tinggi. Matahari menembus dedaunan berbentuk lima jari itu dan memantul di jendela.

"Pohon maple di St. Leon adalah kerja keras kakekku menanamnya satu per satu. Saat musim gugur, daun yang hijau akan berubah menjadi merah, diterbangkan angin. Sangat indah." Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah memberitahukan alasannya menikah, "Mungkin ada sesuatu yang inginku lindungi, itu saja sudah cukup."

Sesuatu yang ingin dilindungi.

Aku tidak sabar dan bertanya, "Apa yang ingin Paman lindungi?" Setelah selesai bicara, aku sadar dia pasti tidak akan menjawabnya.

Dia terdiam beberapa menit, lalu menjawab, "Tempat ini."

Aku bingung, melihatnya tetap tersenyum dengan tenang.

"Dulu, sekolah St. Leon menghadapi masalah kepemilikan saham. Sebagai cucu dari perintis sekolah ini, asalkan ada keluarga yang bersedia memberikan saham miliknya, aku akan menikahi cucu dari keluarga itu." Suaranya menghilang, "Dan kebetulan, orang itu sekarang telah menjadi istriku."

Aku menatap kosong padanya.

"Baekhyun, nasib kita sama."

Tidak, aku berbeda dengan dirimu.

Aku ingin mengingkarinya, tapi kata-kata itu tersangkut di kerongkongan.

Aku dan Paman Changmin bernasib sama. Dia melakukannya demi menjaga sekolah St. Leon, sedangkan aku demi menjaga Byun Group. Sejak ayah meninggal dan kalau OSH Group tidak mengucurkan dana, mungkin sekarang Byun Group hanya tinggal kerangkanya.

Sehun mungkin mengetahui ini, karenanya dia sering bersikap angkuh kepadaku.

Aku harus berterus terang. Aku amat takut, takut kami berbuat kesalahan yang sama. Kami berdua sadar bahwa Sehun menyukai Luhan, tapi masih saja memaksanya menikah denganku.

"Sehun pernah bilang, dia tidak akan pernah menyukaiku. Dia juga bilang, aku tidak mengerti bagaimana perasaan dicintai." Hal itu membuatku pedih. "Aku juga gadis biasa. Kalau merasakan cinta yang murni tanpa banyak tuntutan, apakah sangat sulit?"

"Sangat sulit." Nada bicara Paman Changmin sangat datar, "Hidup ini tidak bisa diprediksi. Kau lahir di keluarga kaya. Seharusnya, kau tahu tidak bisa berbuat sesuatu dengan kemauanmu."

Berbuat sesuatu tanpa kemauan sendiri?!

Para pemegang saham Keluarga Byun sedang tidak sabar untuk mengantarku ke Keluarga Oh. Dengan begitu, mereka bisa menutup pabrik yang berada di daerah utara Seoul dan mengalihkan semua produksi ke negara dengan sumber daya manusia dan alam yang lebih murah. Tanah bekas pabrik akan diberikan kepada keluarga Oh untuk dibangun mal, tempat rekreasi, dan gedung perkantoran. Proyek yang begitu besar pasti telah membuat orangtua dari kedua belah pihak berpikir dengan matang.

Kalau aku tidak bersama dengan Sehun, Ibu tiri pasti akan mencari 'Oh Sehun' yang lain. Begitu juga dengan Sehun. Kalau tidak bersamaku, keluarganya akan mencarikannya 'Byun Baekhyun' yang baru.

Kalau kami melarikan diri, apa yang akan terjadi?

Aku tidak tahu.

"Apa orang-orang seperti kita ditakdirkan tidak bisa mendapatkan cinta?"

"Kejamnya nasib bukan membuatmu tidak bisa mendapatkan cinta, tapi dengan sengaja mengantarkan cinta itu kepadamu. Membuatmu terjerumus ke dalamnya. Membuatmu kehilangan sesuatu demi dirinya. Menggodamu untuk lari ke arahnya. Pada akhirnya, memberitahumu bahwa semua itu adalah khayalanmu semata." Paman Changmin tertawa, di dalam tawanya ada kepedihan, "Daripada hanya sebuah khayalan, bukankah lebih baik tidak pernah memiliki?"

"Kenapa memberitahuku semua ini?"

"Kau boleh menganggap ini sebagai nasihat."

"Nasihat? Tidak." Aku berpikir sejenak, lalu mengangkat kepala dan menatap langsung mata Paman Changmin. Lalu, aku berkata, "Bukan, ini bukan nasihat. Paman sebenarnya sedang memberitahuku. Kalau kita telah mencintai seseorang, kita harus rela berkorban untuknya."

Dia terkejut.

Aku tidak tahu kenapa aku begitu terus terang, mungkin karena aku terguncang sehingga aku tidak berpikir panjang untuk berkata-kata.

"Paman Changmin. Paman tidak jujur padaku." Aku menatap matanya, "Yang ingin Paman lindungi bukan sekolah St. Leon! Orang ini yang ingin Paman lindungi. Demi dia Paman bersedia menikahi perempuan yang tidak Paman cintai. Walaupun seumur hidup ini tidak akan pernah mencintai lagi, juga tidak masalah."

"Kau memang pintar." Tatapannya rumit, senyumannya seakan menyiratkan maksud lain. "Bagaimana denganmu? Demi orang yang kau lindungi, apa yang bisa kau korbankan?"

Paman Changmin sepertinya sedang menebak sesuatu. Tiba-tiba, aku mematung. Ekspresi sedih muncul di mataku.

~~~MLP~~~

Waktu yang sangat menyebalkan tiba, saat-saat ujian.

Sebagian siswa St. Leon tidak khawatir dengan masalah lanjut kuliah. Bukan karena kecerdasan mereka, melainkan karena anak-anak dari keluarga kaya biasanya setelah tamat SMA akan memilih berkuliah di luar negeri. Asalkan bersedia membayar, titel dari luar akan membuat orang semakin segan. Setelah dikirim ke luar negeri akan berkuliah di jurusan apa pun, siswa-siswi dari keluarga miskin tidak akan sanggup membayangkannnya.

Sejak awal, Sehun, Jongin, dan Jongdae sudah mendaftar ke Universitas di luar negeri. Mereka hanya tinggal menunggu ijazah SMA.

Entah karena putus cinta atau alasan lain, prestasi Luhan menurun drastis dan hanya bisa berkuliah di universitas swasta. Baginya ini adalah hal yang tidak memungkinkan karena universitas swasta cukup mahal.

Prestasi Chanyeol sangat bagus. Semua pelajaran mendapatkan nilai memuaskan, ingin kuliah di manapun tidak masalah.

Dan prestasiku, tentu saja...

"Dulu, tidak pernah ada orang seperti ini, dan kelak juga tidak akan ada." Chanyeol menghembuskan napas. "Siswa paling bodoh di St. Leon."

"Aku hanya akan ikut ujian. Jadi, tenang saja." Aku merebut rapor milikku. "Jangan terlalu cemas, Chanyeol."

"Siapa yang seharusnya cemas?" Dia menepuk keningnya. "Apa kau akan mengikuti ujian ulangan bulan Juli?"

Aku menggeleng, "Saat itu aku sudah ke luar negeri."

Dengan memejamkan mata, aku sudah bisa membayangkan masa depanku. Setelah tamat SMA, langsung bertunangan dengan penerus OSH Group, lalu dikirim ke luar negeri. Aku akan berkuliah di jurusan apa saja, lalu menunggu saat yang tepat, aku akan memakai gaun pengantin. Tidak peduli bersedia atau tidak, yang penting bilang saja "Yes, I do". Setelah menikah beberapa tahun, suami sibuk dengan karier, aku menjadi nyonya besar. Beberapa tahun kemudian, suami memiliki orang ketiga, dan aku menjadi nyonya tukang iri. Beberapa tahun kemudian lagi, suami memiliki orang ketiga, keempat, dan kelima, aku akan menjadi nyonya yang ditinggalkan. Saat membayangkan semua ini, aku bergidik sendiri.

"Apa kau mau seperti itu seumur hidupmu?" Chanyeol mencemoohku.

"Apa yang tidak bagus dari semua itu?" Aku tersenyum nakal, "Aku memang perempuan mata duitan.'

Chanyeol terdiam. Aku bisa merasakan, Chanyeol sedang berusaha menenangkan dirinya.

"Bagaimana denganmu? Di mana kau ingin kuliah? Ambil jurusan apa? Walaupun kau bisa masuk kedokteran, aku hanya merasa dokter sekarang sangat susah dan melelahkan. Permasalahan di bidang medis juga banyak." Aku sebenarnya penasaran dengan masa depannya. Aku kemudian melihat penjelasan tentang berbagai jurusan dan universitas. "Mesin elektro... Er, tidak bagus. Kabarnya, kalau sudah lulus akan menjadi pria rumahan. Jurusan kehutanan, tanah, dan kayu, kedengarannya tidak bagus. Bagaimana kalau arsitektur? Rumah yang kau bangun pasti akan kubeli."

"Bukan urusanmu." Chanyeol meninggalkanku sendiri.

Dia sedang marah?!

Kenapa dia tiba-tiba marah?

Aku menatap kepergiannya, entah mengapa aku merasa hatiku perlahan hancur.

~~~MLP~~~

Sudah bulan Maret. Musim semi telah tiba, tapi musim dingin di St. Leon seolah-olah tidak ada akhirnya.

Aku menunggang kuda di arena pacuan. Angin dingin perlahan menusuk kulitku, pelan-pelan membuat rasa sakit hatiku menjadi tidak terasa.

"Baekhyun."

Aku menoleh. Ternyata Luhan. Dia perlahan mendekat, aku menatapnya dengan angkuh.

Alisnya bersatu, wajahnya pucat pasi. Dia memakai mantel yang tipis. Tubuh kurus yang diterpa angin musim dingin itu sedang gemetar.

Saat itu, aku merasa sangat kasihan padanya.

"Kabarnya, kau mau bertunangan dengan Sehun." Nadanya terdengar sangat aneh, mengembangkan sebuah senyum yang terkesan dipaksakan. "Selamat."

"Kalau kau datang hanya untuk omong kosong ini, cukup sampai di sini." Walaupun aku merasa kasihan padanya, mulutku tetap saja mengatakan sesuatu yang kejam. "Kalau dari awal kau menyerah, bukankah itu lebih bagus? Gadis miskin sepertimu bukan sainganku."

"Byun Baekhyun, kalau kau marah, lampiaskan kepadaku. Jangan sentuh keluargaku!"

Tidak disangka orang yang lemah seperti dia, bisa juga mengamuk.

Sekilas aku bingung dengan perkataannya, namun sepertinya Keluarga Oh telah melakukan sesuatu yang besar. Mereka menginginkan hasil langsung tampak hanya dengan satu tindakan.

"Kalau tidak begitu, apa kau bisa sadar?" Aku tersenyum sinis. "Dari awal aku sudah memperingatkanmu, kau yang tidak mau dengar. Selalu memaksa bertemu dengan Sehun."

"Apa kau tidak takut kena karma?"

"Karma? Aku merebut kembali calon suamiku. Apa perlu dikenai karma?" Aku mendengus. "Orangtuamu selalu sibuk menjual mi. Apa mereka tidak mengajarimu bahwa merebut suami orang yang akan kena karma?"

"Byun Baekhyun, kau boleh menghinaku. Tapi, jangan hina orangtuaku!"

Bunga kecil yang sedang marah juga bisa menjadi bunga pemakan manusia. Dia mengulurkan tangannya yang memegang pecut dan mengarahkannya kepadaku. Aku terkejut dan menghindar. Tapi kekang terlepas dari tanganku, pecut Luhan langsung menghantam kudaku. Kuda itu langsung kesakitan dan memberontak. Aku segera memeluk leher kuda agar tidak terjatuh.

Suara teriakan Luhan membuat kuda-kuda terpacu dan langsung berlari. Aku tidak bisa meraih tali kekang, tidak bisa menenangkan kudaku. Aku hanya bisa bertahan melihatnya membawaku berlari keluar arena pacuan kuda menuju arena hang gliding.

Siapa yang akan menolongku?

Tanganku mencengkeram kuat bulu tengkuknya. Beberapa kali guncangan hampir membuatku terjatuh. Tiba-tiba ada yang muncul, tangannya menarik tali kekang. Kuda itu masih terus berlari sehingga dia juga ikut terseret beberapa meter. Pada akhirnya, kuda itu berhenti.

Aku turun dari punggung kuda. Aku ketakutan. Seluruh tubuhku lemah tidak bertenaga, malah mendengar teriakan Chanyeol, "Baekhyun, kau main mati ya! Sudah kubilang jangan gertak kudanya!"

Aku menundukkan kepala, melihat telapak tangan Chanyeol yang berdarah akibat bergesekan dengan tali kekang.

"Kau yang mau cari mati!" Aku mengangkat tangannya, pandanganku tiba-tiba kabur, "Tanganmu sudah berdarah, masih juga memarahiku."

Aku menemukan kotak P3K di ruang perlengkapan arena hang gliding. Chanyeol terlentang di atas hamparan rumput. Aku setengah duduk di sampingnya, menuangkan alkohol di tangannya. Rasa pedih membuatnya meringis kesakitan. Dia mengerutkan dahi, "Pelan sedikit. Bisa tidak?"

Aku memerban telapak tangannya. Sepasang telapaknya kuperban seperti bola, lalu mencengkeramnya kuat-kuat. Dia berteriak kesakitan.

"Biar saja kau sakit! Lain kali, jangan sok jadi pahlawan." Mulutku mengejeknya, tapi air mata malah tidak bisa kukontrol, terus mengucur keluar membasahi kain kasa.

"Aku tidak berpikir panjang." Dia mengulurkan tangan bolanya, menyentuh wajahku. "Jangan menangis."

Kain kasa yang kasar membuatku merasa tidak nyaman. Aku berdiri, mengangkat tangannya, dan menempelkan tangannya di kepalanya. Dia menghembuskan napas, tidak memprotes, hanya lurus menatapku.

"Orang yang terluka, jangan bergerak!" Aku meceramahinya.

"Apa yang ingin kau lakukan?" Alisnya mengembang. Ujung bibirnya mengembangkan sebuah senyuman sehingga membuat lesung pipit kirinya muncul.

Ekspresi ini, tatapan mata yang menggoda, ditambah dengan posisiku yang sedang menimpanya.

Aku menatap pemuda yang berada di bawahku. Mungkin karena tadi terkena guncangan, otakku tidak mampu berpikir jernih. Aku jadi mudah terpancing.

"Jadi orang itu harus mengerti situasi dan kondisi." Aku berusaha tetap sadar. Jangan tergoda dengan wajah yang menggiurkan ini. "Kalau dibandingkan dengan Sehun, kau hanya pemeran pembantu pria. Pemeran pembantu pria seharusnya melindungi pemeran utama wanita miskin saja. Untuk apa kau selalu muncul di sekelilingku?"

"Baekhyun, apa kau terlalu banyak baca novel? Apa maksudnya pemeran pembantu pria dan pemeran utama wanita miskin?" Dia tidak mengerti sama sekali.

"Kau adalah pemeran pembantu pria. Pemeran pembantu yang setia kepada pemeran utama wanita miskin. Aku adalah pemeran pembantu wanita, calon istri yang jahat yang harus menikah dengan pemeran utama pria."

"Kalau begitu, siapa yang menjadi pemeran utama pria dan wanita?"

"Sehun adalah pemeran utama pria dan Luhan adalah pemeran utama wanita. Judul film kita adalah "Pangeran Jatuh Cinta pada Cinderella"."

"Oh? Jadi, aku bukan pemeran utamanya?" Kelihatan, dia agak bingung.

"Walaupun pemeran pria pertama terkadang lebih menjengkelkan dibandingkan dengan pemeran pria kedua, pemeran pembantu tetap pemeran pembantu. Dia tetap menjadi pilihan kedua bagi pemeran wanita."

"Benarkah?" Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.

Karena aku sudah berterus terang, sekalian saja aku berkata. "Chanyeol, apa kau tahu, kau selalu menggodaku?"

Dia terdiam.

"Tidak etis menggoda wanita yang sudah memiliki calon suami."

Ekspresinya seolah-olah hendak tertawa. Tatapannya yang dalam tidak mampu kuprediksi. "Aku menggodamu?"

"Seperti ini." Aku menurunkan tubuhku. Dia tidak mengelak, bibirnya sedikit terbuka, aku seakan-akan hendak menggigitnya. "Seolah-olah ingin menciumku, tapi tidak menciumku sama sekali."

"Aku baru tahu, ternyata kau punya fantasi liar seperti itu tentang diriku." Dia mengembangkan senyum, menahan tawanya. "Lain kali, kalau kau memang ingin kucium, bilang saja. Itu urusan mudah."

Wajahku memerah. Aku begitu serius menjelaskan logika 'pemeran pembantu pria tidak boleh menggoda pemeran pembantu wanita', tapi dia malah menganggapnya sebagai lelucon.

Sungguh keterlaluan!

Akhirnya, aku tidak sabar dan menarik kerah bajunya sambil berteriak, "Cepat katakan kepadaku, kau tidak menyukaiku dan katakan orang yang kau sukai adalah Luhan!"

Chanyeol dengan santai memanggilku, "Byun Baekhyun."

"Mmh?"

Saat memandang matanya, seperti ada kilatan cahaya yang tampak di sana. Tiba-tiba berubah menjadi cahaya yang menyilaukan. Tanpa sadar aku memejamkan mata, bersamaan dengan itu tangannya mempererat genggamannya pada bahuku. Belum sempat aku bicara, bibirku terasa hangat.

Suara debar jantungku semakin kuat seperti memekakkan telinga. Tekadku langsung melemah.

Rasa hangat itu terus ada seolah-olah ingin berlama-lama di bibirku. Dengan lembut tapi tegas berulang-ulang mengulum bibirku, membuatku susah bernapas. Ada suara kecil dari dalam hatiku, tidak boleh... tidak boleh dilanjutkan.

Pangeran berkuda hitam Cinderella tidak boleh mencintai calon istri pangeran.

Aku ingin mendorongnya, tapi tidak berdaya.

"Aku rasa kau tidak bodoh. Sampai sekarang, belum tahu yang sebenarnya." Rasa hangat itu akhirnya menjauh dari bibirku. Chanyeol mendekati telingaku. Dengan nada rendah yang menggoda, dia berkata, "Orang yang kusukai adalah-"

"Jangan bicara!" Tubuhku gemetar. "Jangan katakan! Aku tidak ingin dengar!"

...

to be continued

...

Terharu masih ada yang nungguin cerita ini. Makasih banyaak 。・:*:・(✿◕3◕)❤ Terutama yang udah meluangkan waktunya buat review di chap kemarin (^з^)- Chu! Sesuai janji aku post chap 12 di hari minggu~!

Aku akan fast apdet lagi kalau banyak peminat di chap ini. Jadi jangan lupa review ya, makasih (≧∇≦)/