Padahal akhirnya aku ditemukan oleh seseorang
Dari gelapnya sebuah lubang besar tak berdasar hingga aku dapat melihat kakiku berpijak di tempat terang
Memang pada dasarnya orang baik itu menakutkan
Ia mengulurkan tangan untuk menggapaiku sementara hatinya tengah menggenggam nama orang lain
.
.
.
Nameless Past
By. callmetooru
.
.
.
"Tuan, celine-sama sudah selesai"
"Terima kasih Tomo-san, boleh aku masuk?"
"Tentu"
Dari celah pintu mahoni yang dicat putih, ia dapat dengan jelas melihat tubuh ringkih sang ibunda. Ibunya mengusap cepat-cepat tepi mulutnya dengan tangan ketika ia mengetuk pelan pintu lalu masuk, ibunya tersenyum seolah tak pernah ada sesuatu yang salah terjadi.
Gerak-gerik tersebut tak luput dari perhatiannya.
"Bagaimana kabar mama hari ini? Apa mama muntah lagi?"
"Tidak banyak. Kau sudah pulang? Bagaimana sekolahmu?"
"Hari ini teman-temanku banyak memberiku hadiah bahkan sensei"
Kim Yesung menghampiri ibunya yang duduk menyandar di tempat tidur, mencium pipinya sebentar sebelum berjalan ke arah jendela. Membuka lebar-lebar tirai yang menutupi sebagain besar pemandangan langit biru di luar sana.
"Sensei-ku bilang, pemandangan birunya langit bisa membantu seseorang yang sedang sakit sembuh lebih cepat. Mama harus lebih sering melihatnya"
Atmosfer canggung tiba-tiba saja mampir beberapa saat. Ini pertama kalinya untuk Yesung, ia tak pernah merasa sekaku ini jika bersama ibunya. Ada banyak hal yang ingin ia ketahui langsung dari sang ibu, namun ia terlalu tidak siap untuk megetahuinya.
"Yesung –"
" –aku akan bermain piano untuk mama, mama mau ku mainkan lagu apa?"
Hati celine melesak, Yesung seperti tahu apa yang akan ia katakan. "Apa saja yang putraku mainkan, mama menyukainya"
Selanjutnya yang Yesung lakukan adalah bermain piano dalam diam. Ini adalah aktivitas rutin untuk Yesung, ia biasa menemani ibunya yang sakit-sakitan dengan bermain piano. Namun entah kenapa, hari ini suasananya sedikit berbeda. Yesung merasa seperti ingin segera menyelesaikan permainan pianonya.
Tapi setelah mencapai coda, ia justru mengulanginya dari nada awal.
"Ma.."
"Tidak apa-apa ma.. kalau memang mama juga menginginkannya, aku tidak apa-apa"
Celine menatap punggung putra semata wayangnya tanpa menjawab. Air matanya ia tahan agar tidak melesak keluar, itu hanya akan membuat Yesung semakin sulit.
"Mama tidak salah, jadi jangan terlalu dipikirkan"
"Lagi pula, papa bilang aku akan mendapat guru vokal yang bagus. Aku bisa sedikit lebih dekat dengan mimpiku untuk menjadi seorang penyanyi"
Yesung menoleh sekilas sebelum kembali melanjutkan permainan pianonya. Ibunya dapat melihat senyum manis putranya agak memaksa. Pada akhirnya air mata Celine jatuh juga.
Banyak yang ingin ia katakan untuk putranya tapi semuanya seolah tak berarti, alibi apapun tetap saja tak membantah fakta bahwa ia adalah seorang ibu yang buruk.
"Ada Tomo-san dan bibi Heejin yang akan menjaga mama –"
"Yesung.."
"Ya ma?" Yesung menghentikan jemarinya di atas tuts piano, namun tak berani menatap mata ibunya.
"Selamat ulang tahun, kau sudah besar sayang.. Mama bangga sudah melahirkanmu"
Yesung bungkam.
Ucapan selamat itu tak mendapat jawaban. Bukan tidak mau, ia hanya tidak bisa menjawabnya. Di telinganya 'sudah besar' di sini memiliki arti lain.
Iya, ia sudah besar.
Cukup besar untuk mengerti situasi yang terjadi. Tapi terlalu dini untuk ia terima di usia ini.
"Ma.. sehat terus sampai aku kembali ya.."
.
.
Pertama kali yang ia lihat ketika membuka mata adalah warna putih dari cat langit-langit kamarnya. Setelah mengambil nafas beberapa detik untuk membuatnya tenang, ia melirik jam kecil di nakas samping tempat tidurnya. Pukul delapan pagi. Itu artinya ia masih punya waktu sekitar 2 jam untuk bersiap.
Syukurlah.. pagi ini ia sempat untuk sarapan.
Pemuda bermata gelap itu bangkit dari tidurnya, mendesah samar ketika mendapati bantalnya yang basah oleh keringat. Mungkin nanti saja ia menggantinya.
Mimpi itu lagi.
Bukan mimpi buruk sebenarnya. Hanya ingatan tentang salah satu hari ulang tahunnya yang sangat berkesan. Hari yang menjadi titik balik kehidupannya yang berubah secara drastis.
Ingatan ulang tahunnya yang ke-14, sembilan tahun yang lalu, dengan kado terindah –yaitu sebuah perpisahan.
"Kau pikir apa yang kau kerjakan?! Belajar dan ulangi lagi!"
Diantara orang-orang yang berlalu lalang, Yesung duduk sendirian di kursi salah satu café yang ia lewati ketika pulang dari kantor ibunya. Hanya ditemani iced Americano, ia membaca kembali laporan yang beberapa waktu yang lalu dilempar sang ibu tepat pada mukanya.
Sudah ia duga, menjadi penerus dari salah satu perusahaan yang bergerak di bidang travel dan pariwisata di South Korea memang sama sekali bukan passionnya. Sang ibunda mempercayakan salah satu hotel ternama yang berada di ibu kota –Seoul untuk ia pelajari, namun ini sudah menjadi kegagalannya yang ketiga untuk menstabilkan kondisi internal hotel paska scandal tak sedap yang selalu menghantui hotel-hotel ternama di Seoul.
Yesung menghela nafas panjang lalu menghembuskannya sekaligus.
Jadi teringat seseorang, batinnya.
Lantas, ia beranjak dari duduknya dan menyempatkan diri menaruh kumpulan kertas berisi laporan –yang sudah berusaha ia kerjakan semalaman –ke tempat sampah terdekat.
Tujuannya kali ini adalah mencari hiburan untuk jiwanya yang penat –apartemen pacarnya yang tampan.
Sebungkus cookies sudah ditangan, Yesung mulai menekan passcode yang sudah dihafalnya di luar kepala. Ketika membuka pintu, ia melihat jejeran sepatu mahal –tanda bahwa orang yang ingin ia kunjungi sedang berada di tempat. Yesung juga mendengar suara yang begitu tak asing tengah berbicara lewat line ponsel.
"Aku bodoh jika percaya alasanmu berpisah denganku hanya karena kau seorang public figure, kenapa tidak jujur saja?"
"ayo bertemu!"
"Ku bilang, aku ingin –yah! Aku belum selesai bicara, Kim Heechul!!"
Yesung yakin, sambungan telepon itu terputus ketika ia mendengar suara benda yang hancur karena dibanting. Ia masih diam di tempat, satu langkah tepat di depan pintu.
Padahal ia belum melihat pria yang sangat ingin ditemuinya, tapi Yesung sudah bisa membayangkan wajahnya sekarang. Pasti marah sekali –mungkin akan bertambah sangat marah jika tiba-tiba ia datang lalu mengeluh soal ibunya.
Ditaruhnya cookies yang dibawanya tadi tak jauh dari tempatnya berdiri –sebelum ia memutuskan untuk keluar dari sana dan pergi.
.
.
.
Open the door, here I am
Why don't you know?
(Yesung – Here I am)
.
.
.
Dari jauh ia bisa melihat bahu lebar lelaki yang sempat ia akui sebagai kekasihnya tengah menyandari pagar jembatan.
Iya, memang bukan. Status itu murni hanya ia akui secara sepihak. Menyedihkan bukan?
Yesung pikir, selama Choi Siwon –lelaki itu tidak melarangnya secara verbal, sah-sah saja.
Sekitar satu jam yang lalu, Siwon meneleponnya dan memintanya untuk bertemu. Bahkan Yesung tidak tahu harus merasa senang atau takut. Sekarang ini saja, semakin ia berjalan mendekati Siwon, semakin perasaan Yesung tak karuan. Entah momen ini akan menjadi sakit hatinya yang keberapa.
"Kau yang tadi meninggalkan cookies di depan pintu?"
"Ya"
"Terima kasih"
"Untuk apa?"
"Untuk mengerti dan membiarkanku sendiri"
Satu.
Yesung tertawa –dipaksakan. "Apa-apaan kau ini, kau tidak senang pacarmu datang, huh?"
"Aku.." jeda, "putus dengan Heechul"
Dua.
Tawa –pura-pura –Yesung langsung lenyap. Merasa bodoh karena usahanya –untuk tidak merujuk ke pembicaraan yang serius –gagal. Suara Siwon terdengar begitu putus asa.
"Kau menerimanya begitu saja?"
Nada serius Yesung membuat Siwon menoleh sekilas. Tidak tahu saja, Yesung kini tengah masuk ke dalam perannya yang paling Yesung sendiri benci, peran Kim Yesung sebagai sahabat baik Choi Siwon.
"Menurutmu?"
"Kenapa tidak menemuinya langsung? Bahkan aku saja bisa tahu, ada yang sedang ia sembunyikan"
"Menurutku juga begitu"
"Lalu tunggu apa lagi? Ini seperti bukan Choi Siwon yang biasanya saja" Yesung menepuk pundak Siwon jenaka, seperti memberi dukungan.
"Kau benar. Terima kasih. Aku merasa lebih baik setelah berbicara dengan sahabatku, mungkin aku akan ke kantor agensinya"
Tiga.
Seulas senyum milik Siwon tak luput dari perhatian Yesung. Ia bergeming saat Siwon memeluknya sekilas sebelum pergi. Kata-kata 'nanti ku hubungi lagi' dari Siwon seolah melewatinya begitu saja.
Setidaknya hari ini ia bisa melihat senyum Siwon, itu cukup untuk melupakan masalahnya dengan sang ibu, meskipun ia justru mendapat luka yang lain –yang lebih fatal.
Yesung tidak langsung beranjak, ia memutuskan untuk tinggal beberapa saat di sana sampai matahari tenggelam. Ternyata banyak hal yang terjadi diluar apa yang sudah ia usahakan. Apalagi jika berbicara soal perasaan manusia.
Hari ini ia mendapat tiga kali pukulan beruntun.
Semoga hatinya baik-baik saja.
.
.
.
If you ever feel lonely, just turn around and look.
If you're alone and sad right now, turn around and look.
Because there might be someone standing there who knows only you.
And sees only you.
(Jang Hye Jin Yesung – I Am Behind You)
.
.
.
To Be Continue..
