Kau Milikku! Camkan itu! first published at AO3, October 10 2019 #happyearlybirthdaycommandersir
ditulis untuk Ka-nyan tersayang. sehat selalu di sana
selain plot, semua cuman dipinjam. spoiler singkatnya mereka tukaran posisi. tapi ini smut practice jadi maap kalo asemnya kurang. semoga syuwka~~
Erwin meminta kesediaan Levi menghadiri rapat besar di Ibukota Mitras, belum lama setelah pria mungil itu menjadi kapten di pasukan pengintai.
Komandan Smith tentu tidak bisa menolak permintaan para petinggi yang memintanya untuk mengenalkan pada mereka seperti apa sosok prajurit terkuat umat manusia itu.
Levi awalnya menolak karena tidak pernah ada niat menghadiri acara formal, apalagi pesta. Lebih suka menyelinap ke kamar Erwin untuk main-main di kasurnya jika orang yang paling dipercayainya itu punya tugas di luar kota—yang sudah menjadi kebiasaannya dan tidak pernah dipermasalahkan Erwin.
Di dalam ruangan yang dipenuhi bangsawan dan orang-orang terpandang, bukannya bosan, Levi malah marah karena pesona Tuan Smith Agung. Apalagi wanita-wanita jalang yang mencoba merebut Erwinnya. Jika mengalihkan pandangan barang satu detik saja, Erwin pasti sudah dimangsa.
Prajurit terkuat itu selalu mendelik ganas pada siapa saja yang mendekatinya untuk sesegera mungkin menjauh. Tidak boleh melepas pandangannya dari Erwin! Levi takut. Kalau-kalau Erwin diculik dan diperkosa. Kalau-kalau Erwin bilang lebih suka vagina dibanding penis dan berpaling mencampakkannya.
Yang kini membuat Levi resah adalah saat dimana komandan penuh pesona itu tiba-tiba diajak oleh seorang wanita ke dalam sebuah ruangan, yang mana Erwin menurut saja, membuat Levi semakin cemas bilamana semua yang dipikirnya benar terjadi.
Beberapa menit berlalu, saking cemasnya, Levi memaksa masuk.
Pandangan apa yang menguguhkan matanya?
Dua orang itu memang berdiri berhadapan tapi cukup berjauhan. Mereka tidak terlihat seperti sedang membicarakan hal-hal rahasia—atau melakukan yang tidak-tidak.
Levi kembali lega. Namun tetap saja marah. Berani-beraninya Erwin berduaan dengan orang lain di tempat tertutup!
Kapten muda tanpa peduli situasi serta pembicaraan penting yang sedang dibicarakan, menegaskan bahwa sudah saatnya untuk pulang.
Komandan Erwin mengiyakan dan memohon izin membiarkan mereka pergi.
Dalam perjalanan pulang, Levi tidak menyahut apa-apa ketika Erwin menceritakan kembali pembicaraannya dengan si wanita. Erwin lantas mengganti topik. Memastikan apa betul Levi tidak enak badan sehingga minta untuk pulang lebih awal, dan tetap tidak ada jawaban dari kekasih mungilnya itu.
Sayangnya, Erwin Smith tidak mudah ditipu. Dia tahu Levi berusaha menjauhkannya dari wanita-wanita yang mencoba mendekatinya tadi. Tidak disangka saja Levi akan secemburu ini, apalagi menunjukkan rasa pedulinya di tempat umum.
Erwinpun memberikan satu kecupan di kening untuk menenangkan dan satu kecupan mesra di bibir sebagai permintaan maaf.
Dan perlakuan lembut itu sukses membuat Levi tersentuh dan memaafkannya.
Sepanjang perjalanan kembali ke markas, di dalam kereta, Levi terus bersandar manja pada Erwin. Berkat dada bidang yang menurutnya―kenyal, berisi penuh, berbentuk, sangat padat―lebih seperti bantal empuk untuk kepalanya membuatnya hampir terlelap.
Setibanya di markas, mereka kembali disambut oleh prajurit-prajurit pasukan pengintai. Tentunya karena sudah diberi izin berpesta selama komandan dan kapten mereka keluar.
Sementara komandan dan yang lainnya menikmati acara, Levi memilih tempat di pojok ruangan. Terpisah dari kerumunan untuk bisa tidur sebentar.
Baru saja ingin duduk, jantungnya kembali berdegup oleh suara Hanji, yang terlihat setengah mabuk, yang bangkit dari bangku dan bersuara, "Perhatian semuanya! Apa kalian tahu aku pernah dengar dari Nile kalau dulunya komandan tersayang kita ini berebut satu wanita dengannya! Menarik bukan? Siapa yang penasaran?"
Sekilas seisi ruangan langsung gaduh.
Ada yang ingin memastikan, "Komandan Erwin, apa itu benar?"
Ada yang tidak percaya, "Mungkin cuma bercanda. Kau lihat Komandan Erwin tidak merespon apa-apa!"
Ada pula yang tertarik, "Kalau itu benar, kira-kira seperti apa ya orangnya? Pasti mirip bidadari! Ketua Regu Hanji, kami penasaran!"
Sementara Komandan Erwin, yang digoda hanya menyesap anggur merahnya tanpa menunjukkan perubahan wajah. Lirikan matanya jatuh pada sosok kapten di sudut ruangan—takut kalau-kalau pria itu ngambek lagi.
Hanji dengan kacamata yang bersinar kembali bersuara, "Ini bukan saja cerita lama tapi masih misteri yang belum terpecahkan! Seperti apa wanita yang pernah dicintai komandan kita ini? Bukannya kalian ingin tahu?"
Mike menambah, "Memang cerita lama! Aku masih ingat betul semuanya!"
"Ah, Erwin teganya kau! Mike saja tahu tapi kenapa tidak memberitahuku?!" Hanji terlihat kecewa. "Untungnya aku tidak membuang kesempatan saat Nile mabuk jadi kupastikan dia jujur!"
"Seperti katamu tadi, itu hanya cerita lama." Erwin menjawab singkat. Matanya masih melirik Levi.
Mikepun ikut bersuara, "Dulu, komandan agung kita ini dijuluki si lady killer, masih sampai sekarang." Ucapnya sambil menepuk pundak Erwin. "Aku kenal siapa wanita itu. Namanya Marie. Yang sekarang adalah istri Nile."
"…" Erwin kembali diam. Tidak ada respon yang ditunjukkan.
Hanji menambah, "Nile bilang, 'Erwin lebih memilih titan dibanding orang yang dia cintai! Padahal sudah jelas Marie memilihnya! Akhirnya aku yang menikahinya! Bukankah itu lucu?' Hei Levi, bagaimana—"
Bukannya jawaban, melainkan bunyi deritan keras bangku yang terdengar sebelum Hanji menyelesaikan kalimatnya, yang turut menghentikan kegaduhan isi ruangan.
"BUBAR!" Dengan suara bariton khasnya Levi menegaskan kemudian berlalu.
Hanji yang kacamatanya masih bersinar, setelah Levi menghilang berujar, "—Padahal aku baru ingin menanyainya. Kurasa dia sedang bad mood!"
"Dia terlihat gusar semenjak pulang tadi. Sesuatumungkin terjadi." Goda Mike sambil menyikut Erwin. Penciumannya memang selalu tepat sasaran!
Erwin lalu menyesap sisa anggurnya dan memberi perintah, "Semua bubar! Pastikan tempat ini dibersihkan sebelum kembali ke tempat masing-masing!" kemudian berlalu mengejar Levi.
Begitulah acara minum-minum mereka dibubarkan dan semua kembali ke tempat mereka tanpa tahu seperti apa sosok 'Marie' wanita yang pernah dicintai Erwin Smith itu.
Dengan langkah cepat, Levi bukannya menuju kamarnya, melainkan menuju kamar Erwin.
Dilepasnya jas militer panjang serta sepatunya dan langsung meringkuk di bawah selimut tanpa menunggu sang pemilik kamar.
Inginnya ngambek—lagi—tapi wangi tubuh Erwin di kasur dan selimut malah menenangkannya.
Beberapa menit kemudian, terdengar bunyi pintu terbuka diikuti dengan suara yang berucap, "Itu tidak seperti yang Nile katakan! Aku tidak sedekat itu dengan Marie!"
Levi tidak ingin menjawab tapi menjawab juga, "Kedengarannya seperti sebaliknya."
Erwin melepas sepatunya sambil menjelaskan, "Baiklah aku akan jujur!" Diikuti dengan membuka jas militer panjangnya. "Aku memang jatuh cinta padanya. Tapi itu dulu. Saat masih rekrut dulu."
"Dulu…" Jawaban Levi lebih terdengar seperti sindiran. Dari tebakannya, dia tahu Erwin masih peduli dan perasaannya belum berubah.
Bukan lagi cemburu, melainkan sakit hati. Apalagi saat tahu perasaan Erwin masih sama pada wanita bernama Marie, yang bahkan dia sendiri tidak tahu seperti apa orang ataupun rupanya. "Baiklah kalau kau bilang begitu." Dari balik selimut Levi meremas dadanya yang berdetak tak karuan.
Erwin yang melepas dasi bolo menatap Levi yang tidur memunggunginya. "Levi, percaya padaku! Seandainya masihpun aku tidak mungkin bergabung dengan pasukan pengintai dan menjadi komandanmu! Kita tidak mungkin bertemu kalau aku tidak di sini!"
Alih-alih membalikkan badan, Levi juga tidak kehilangan kata-kata untuk terus menyambung ucapan Erwin. "Kenapa tidak kau jawab seperti itu saat mereka menggodamu tadi?"
"Karena…" Erwinpun berlutut di depan tempat tidurnya seraya mencium belakang kepala Levi yang masih memunggunginya. "Semua itu sudah tidak penting lagi! Aku tidak pernah menyesal merelakannya dan memilih bergabung dengan pasukan pengintai! Karena di sini aku menemukanmu! Aku yang menemukanmu! Aku sudah menemukanmu! Kau yang terpenting, Levi!"
Pada akhirnya, debaran di dada Levi bukan lagi tersakiti, melainkan tersentuh. Dia segera berbalik menatap wajah Erwin. Wajah yang memang ingin dia lihat sedari tadi. Wajah Erwin Smith yang menginginkannya—penuh kepastian tanpa dusta. "Tunjukkan wajah seperti itu pada orang lain, aku akan langsung membunuhmu!"
Jawaban Levi sukses membuat Erwin tersenyum. Wajahnya sedikit memerah. "Jarang sekali melihatmu cemburu! Kau mempesona, Levi!"
"Siapa yang—mphh!" Belum sempat melanjutkan, Erwin sudah membawanya dalam ciuman lembut dengan menyatukan bibir mereka.
Levi yang memperdalam ciuman itu dengan menarik paksa tubuh besar Erwin untuk berbaring. Bunyi tempat tidur berdenyit cukup keras terdengar setelahnya.
"Levi, pelan-pelan…" Erwin berucap di sela-sela ciuman panas mereka. "…Tempat tidurnya… bisa rusak…" Tangannya dia gerakan untuk membuka satu persatu kancing kemeja Levi.
"Kita masih bisa melakukannya di lantai, atau meja kerjamu! Kau selalu tidak mempermasalahkan dimana kita akan bercinta 'bukan?" Levi mencoba mendominasi dengan mulai menyerang leher jenjang Erwin, turun ke bagian dada dengan ciuman basah dari balik kemeja.
Erwin suka saat Levi bertindak agresif tapi dia juga tidak ingin Levi terganggu dengan tubuhnya yang kotor karena keringat. "Levi… setidaknya… biarkan aku mandi dulu... Aku berkeringat..."
"Tidak ada waktu! Wangimu yang seperti ini justru membuatku semakin bergairah!" Timpal Levi dan langsung bergerak ke bagian bawah tubuh Erwin, menggoda sesuatu yang setengah keras dari balik celana dengan lidahnya. "Kau menyukai wanita tapi sudah sekeras ini saat disentuh pria! Erwin, tidakkah kau rakus sekali?" Levi kembali menggoda area pribadi Erwin dengan gigitan-gigitan kecil yang sukses membuat pria pirang itu mengerang.
"Le-Levi… Jangan menggoda lagi…" Erwin sudah tahan oleh sentuhan dan godaan yang disengajai itu. Dia bergerak melepas celana panjangnya lengkap dengan dalamannya yang membuat Levi menelan ludah karena ukuran benda yang terekspos sempurna di hadapannya itu.
'Sudah kulihat beberapa kalipun dia tetap terlalu besar! Bahkan setengah ereksipun sudah sebesar ini!' Sambil mengagumi ukuran Erwin, Levi ingin menggoda sang komandan sedikit lagi. "Kau tetap penuh dengan kejutan bahkan di bawah sini!" Dia memainkan lidahnya pada ujung kemaluan Erwin yang mulai sepenuhnya ereksi di tangannya.
"…Levi… Gunakan mulutmu…"
Perintah Erwin tidak digubris. Levi dengan seenaknya menghentikan kegiatannya dan melotot geram. "Kau itu milikku, hanya milikku seorang! Camkan itu!"
Membuat Erwin dengan suara serak menjawab, "Aku milikmu, Levi! Sampai kapanpun itu!"
Tidak cukup dengan tuntutan itu, Levi kembali berucap dengan nada dan tatapan intens yang sama, "Akan kupastikan kau juga ingat rasanya jadi wanita pada posisi ini! Siapkan dirimu, Erwin Smith!"
Hal selanjutnya yang Erwin tahu dia sudah mendesah, mengerang, merintih, merengek—dan suara lainnya saat dipuaskan—layaknya seorang perempuan karena perbuatan Levi.
Ah… malam ini sungguh malam yang panjang!
Keesokan harinya, Erwin bangun dengan rasa sakit dari daerah pinggang ke bawah.
Jadi beginikah rasa sakit yang harus Levi tahan setelah mereka bercinta? Seperti kakek-kakek saja keadaannya sekarang!
Setelah mandi dan berganti seragam, sepasang kekasih itu berjalan menuju ruang makan untuk sarapan pagi.
Prajurit yang berpapasan menanyai keadaan sang komandan karena langkahnya yang tertatih.
Komandan yang memang kesulitan berjalan beralasan belakangnya sakit karena kurang minum air.
Di ruang makan,
Levi menyakinkan, "Sakitnya baru akan hilang dua minggu."
"Dua minggu?!" Erwin hampir menumpahkan sup sayurnya karena terkejut. Pria beralis tebal itu dengan susah payah berusaha menelan roti yang sedang dikunyahnya.
"Itu balasanmu karena membuatku cemburu!" Levi menjawab enteng seraya menyerahkan segelas air putih untuk belahan hatinya yang tersedak makanannya sendiri.
"Ah, aku mengerti…" Erwin dengan cepat meneguk air putih pemberian Levi. "Lain kali aku akan lebih lembut!"
"Aku lebih suka saat kau lepas kendali dan menyerangku dengan liar! Seperti semalam aku menyodomimu!"
Mendengar pengakuan itu membuat sang komandan diam sebentar, kemudian menampilkan senyuman penuh arti. "Levi, kau jadi banyak bicara saat kau cemburu! Sikapmupun berubah! Sepertinya aku harus sering-sering membuatmu cemburu!"
Yang mana ucapan dan senyuman itu membuat Levi kesal dan dengan keras membanting satu tangannya di atas permukaan meja. "Jangan membuatku memperkosamu saat ini juga di tempat ini!"
Erwin sempat terkejut namun tetap memasang senyuman penuh artinya. "Aku tidak keberatan."
Levi melotot geram. Dia menendang kaki Erwin cukup keras sampai yang ditendang meringis kesakitan dan menjatuhkan sendok makannya.
"Bercanda! Bercanda, Levi! Tolong jangan mulai keributan!" Pinta Erwin karena perhatian seisi ruangan tertuju pada mereka. "Tenang dan makanlah! Nanti dingin!"
"Cih!" Kapten Levi dengan umpatan andalannya meraih gelas yang sama dengan yang tadi diminum Erwin dan meneguk isinya sampai habis dengan satu tegukan. Dia juga menyerahkan sendok makannya pada komandan tercintanya dengan alasan, "Aku sudah selesai makan! Pakai punyaku! Punyamu kotor!" Walaupun sup sayurnya masih separuh bagian belum dihabiskan.
Setelah kejadian semalam, Levi jadi lebih perhatian dan banyak bicara. Erwin tidak menyangka kaptennya yang tanpa ekspresi itu bisa semanis ini. Hal ini membuatnya senang. Levi sebenarnya peduli dan sayang padanya, walaupun tidak pernah ditunjukkan.
Namun sang komandan muda sedikit cemas mendapati tatapan sang kapten yang begitu tajam tanpa berkedip. "Levi, ada apa?"
Sambil bersilang dada, Levi berujar, "Mau kau ceritakan siapa itu Marie?"
"Ya, tentu!" Erwin terbata sambil tertawa canggung. "Dari mana aku harus mulai? Jadi, Marie itu…" Sambil menghabiskan sarapannya, Erwinpin memulai ceritanya. Seperti apa pujaan hatinya dulu yang ditanggapi dengan serius oleh yang bertanya.
Selesai dengan sarapannya, saat menatap Levi, Erwin langsung menelan ludah. Rasanya ada yang berdesir aneh dalam tulang belakangnya. 'Celaka! Jangan tatapan itu lagi!'
Erwin tidak sempat melanjutkan ceritanya karena lengannya sudah ditarik paksa ke luar ruangan, menuju kamarnya, yang sudah dia yakini apa-yang-akan-terjadi-selanjutnya.
Dia sungguh sudah salah bicara! Yang mengharuskannya menyiapkan hati-dan-tubuhnya untuk menahan rasa sakit yang sepertinya akan sembuh dalam waktu yang lama.
February 15 2020, Reuploaded
AoT/SnK © Isayama Hajime-sensei
lemon gagal obviously! tapi sudah janji akan ada sekuel tapi yang sabar ya menanti. stay tuned! terima kasih!
