Tittle : Find Me
Fandom : Naruto
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku
Warning : Terdapat sumpah serapah, konflik keluarga, permasalahan seputar remaja (lebih tepatnya bullying), dan barangkali akan ada adegan berdarah.
Bab 1 : Perubahan
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dalam dua tahun terakhir, Haruno Sakura tinggal bersama sang ibu setelah bercerai dengan suaminya–Kizashi. Selama itu pula Mebuki mengalami perubahan sikap. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor perusahaan yang merupakan peninggalan orang tuanya, mengembangkan usaha tersebut sampai jarang pulang ke rumah.
Dulu Sakura akan berulang kali membujuk ibunya tentang hal-hal sederhana seperti mengajaknya makan bersama atau pergi berbelanja dikala waktu senggang–walaupun itu mustahil mengingat pekerjaan Mebuki sebagai pendiri perusahaan sendiri.
Namun segala upaya yang dia lakukan sia-sia, Mebuki cukup keras kepala dan bertahan pada sikapnya yang diam tanpa memberi jawaban seolah-olah anaknya tak lebih dari segelintir angin lalu.
Sampai perlahan-lahan akhirnya Sakura menyerah akibat ketidakpedulian ibu kandungnya yang seakan menganggap gadis itu sebagai alasan mereka bercerai. Heck, bahkan sampai sekarang Sakura tidak tahu dan tak mau tahu mengenai itu.
Perhatian penuh kasih sayang dan lembut Mebuki sudah tidak ada lagi. Dan barangkali orang luar berpikir ini semua disebabkan oleh kasus perceraian, kendati beberapa kali Sakura diam-diam menganggap sang ibu sudah tidak ingin melihat kehadirannya di rumah.
Beliau akan bangun pagi-pagi buta, bersiap ke tempat kerja, sarapan seadanya di rumah atau kadang di luar, kemudian pergi tanpa meninggalkan apa pun selain wangi bunga lembut yang khas, membuat perempuan itu merindukan pelukan ibunya. Setidaknya Mebuki masih tetap wanita yang itu, sekalipun dari kepribadian tegas nan dingin tampak berbeda.
Dan tanpa sadar kepribadian Sakura pun berubah seiring waktu. Tidak ada lagi gadis manis yang dikenal teman-temannya, yang tersisa dari dirinya hanyalah seorang perempuan kasar bertemperamen buruk yang tanpa belas kasih menyiksa orang lain jika berani mengusik ketenangannya.
Pagi ini Mebuki mengantar Sakura berangkat sekolah untuk pertama kali setelah dua tahun total mengabaikannya. Ada rapat orang tua di sekolah yang mengakibatkan mereka berangkat sama-sama.
Sakura turun dari mobil dengan gerakan yang cukup kasar tanpa melirik atau mengucapkan sepatah kata pun kepada sang ibu. Yang ironisnya dibalas serupa oleh wanita empat puluh dua tahun itu.
Keduanya masih terlihat tidak akur persis sebelum perceraian terjadi. Mungkin akan sulit bagi keduanya untuk menata pikiran serta hati masing-masing sehingga hidup bersama di rumah yang penuh dengan kehangatan akrab seperti masa lalu. Mereka lebih banyak diam meskipun berada dalam satu mobil yang sama, seolah ibu dan anak tersebut satu sama lain saling menganggap tidak ada.
Kesabaran Sakura telah habis, ia muak atas sikap kekanak-kanakkan Mebuki, tak ingin peduli lagi.
Setelah memperbaiki tali tas ransel di punggungnya, Sakura memasuki gedung sekolah elite Noboru High School. Air muka sedingin es khasnya membuat anak-anak yang berpapasan dengan perempuan itu enggan menatap dua kali, melirik saja mereka terlalu takut. Aura gelap di sekeliling Sakura sungguh menyeramkan kendati tidak ada tanda-tanda kemarahan di wajah cantiknya.
Ketika tiba di depan loker, tanpa membuang-buang waktu dia bergegas menyimpan beberapa barang yang tak dibutuhkannya ke dalam sana. Isi lokernya sederhana, hanya peralatan tulis dan ada poster foto dirinya bersama Ino dan Karin–sahabat Sakura–ketika menghabiskan akhir pekan di sebuah café yang tertempel di bagian tengah kotak penyimpanan berbentuk panjang tersebut. Ukurannya 4x6, berada tersembunyi oleh buku-buku paket besar yang ditata berdiri menyamping dengan rapi, orang yang sekilas lewat di belakangnya mungkin takkan dapat menangkap hal itu.
"KAU MEMANG TIDAK TAHU MALU!"
Suara tamparan terdengar sebelum teriakan membahana yang berasal tak jauh dari tempatnya berdiri berhasil mengagetkannya. Diam-diam mengutuk suara familier yang nyaris membuat jantungnya melompat ke perut.
Dia memalingkan kepala ke arah kanan. Sesuai dugaannya, itu adalah suara Karin.
Sahabat merahnya tengah berdiri di depan seorang gadis berambut cokelat yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Dia melakukannya lagi. Sakura menghela napas pelan. Seakan sudah terbiasa melihat kelakuan Karin.
Setiap hari ia menindas Kurama Yakumo yang terkenal sebagai perempuan pemalu, berasal dari keluarga kaya, juga dianggap istimewa oleh guru-guru. Yakumo merupakan siswi teladan yang hampir tak pernah melakukan pelanggaran. Sekali lagi. Hampir.
Sakura meragukan itu, bagaimana pun Yakumo juga remaja labil yang pasti merasa tertekan oleh sesuatu. Lagipula ia punya firasat Yakumo orang bermuka dua. Bukannya bermaksud menuduh, ia cuma mengutarakan perasaannya, sekalipun Sakura tak pernah menceritakannya pada siapa pun.
Tiap kali gadis itu bertemu pandang dengannya ia merasakan ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Sakura agak terganggu. Dia seakan menyembunyikan perasaan yang entah baik atau buruk terhadapnya. Namun selama Yakumo tidak benar-benar mengusiknya, terlebih lagi Karin akan melakukan 'penyiksaan kecil-kecilan' demi dirinya sendiri atau bahkan sahabatnya.
Maka dari itu Sakura lebih memilih menghenyakkan pikiran buruk tersebut.
Sekilas Sakura menangkap setetes air yang terjatuh dari wajahnya, tapi ia sama sekali tidak merasa iba sedikit pun. Tidak. Bukan disebabkan oleh setitik emosi kebencian yang tertera di dalam hatinya, tapi ia telah membuang rasa kemanusiaannya sejak lama.
Mengandalkan diri sendiri adalah pilihan terbaik yang ia miliki sebagai pertahanan diri di sekolah ini.
Karin mendorong bahu Yakumo hingga menabrak loker besi yang keras. Ringisan yang tak lebih dari cicitan seekor tikus menyembur dari mulut Yakumo.
"Apa kau merasa dirimu hebat, hah?" gertaknya sambil mengelus pipinya yang panas akibat tamparan perempuan kurang ajar di depannya. "Berani sekali kau menyentuh wajahku dengan tangan kotormu itu."
Walaupun tubuh mungilnya meringkuk gemetar, Yakumo balas memandang Karin, matanya berkaca-kaca. Terlihat sangat menyedihkan. Sayangnya tak ada yang merasa prihatin atas keadaan perempuan remaja itu. Anak-anak di sekolah ini tidak menyukainya hanya karena dia selalu diperlakukan istimewa.
Terkadang mereka akan melakukan suatu tindakan yang tidak terlalu ekstrem seperti mengganti kursinya dengan yang rusak, mencoret-coret kalimat jahat di mejanya, atau pun meninggalkan sampah makanan ringan ke tempat duduknya setelah ia kembali dari kafetaria.
Sekalipun rasa takut seakan-akan berniat menghabisi sisa keberaniannya yang tak seberapa, bibirnya yang gemetar terbuka, merangkaikan seuntai kalimat tak seberapa yang sialnya makin memperburuk keadaan.
"Jika menurutmu sentuhanku menjijikkan karena menamparmu, bukankah kau juga sama kotornya seperti aku? Tidak. Sebenarnya kau lebih menggelikan dariku. Karin, orang yang lebih banyak menyakitiku adalah kau." Meraih segala kemarahan yang terkumpul dalam benaknya, ia tersenyum miring, mengejek.
Untuk sesaat Karin tampak shock, mungkin tidak memperkirakan adanya kata-kata berani sekaligus nekat yang keluar dari gadis cokelat itu.
"Kau yang sial!" Posisi mereka semakin dekat, wajah Karin merah padam sampai ke telinga. "Orang rendahan sepertimu pantas mendapatkan semua ini."
Dari kejauhan, Sakura bisa membayangkan asap keluar dari kepalanya bila dia terus seperti itu.
Sejujurnya agak mengejutkan, sebab Kurama Yakumo tak pernah memiliki keberanian membalas perlakuan orang-orang yang menindasnya. Dia tidak punya teman. Selalu sendirian. Dan amat sangat menyedihkan.
Meski sesekali beberapa dari siswa akan bersikap baik agar Yakumo bersedia membantu mereka dalam hal lain, semacam pelajaran sulit. Selanjutnya, mereka bersikap biasa.
Tanpa menonton lebih banyak drama, Sakura mengunci loker lalu berjalan menuju kelas, buku tulis tampak berada di pelukannya, sebelum tangan seseorang buru-buru mengambil alih.
Ekspresi kesal muncul di wajahnya saat ia mendongak ke samping demi bertemu sepasang mata hitam yang ia kenali.
"Tidakkah buku ini terlalu berat untuk perempuan bertubuh kecil sepertimu?"
Itu bukan pertanyaan, tentu saja. Jelas tersirat ejekan yang kental dalam suara berat Sasuke.
Sakura mendengus. "Bukankah seharusnya kau menempel pada orang tuamu seperti kera di ruang rapat? Ah, aku lupa kalau mereka sangat menyayangimu sampai pernah mengusirmu dari rumah."
Tak lama setelah itu decihan terdengar, dibarengi sumpah serapah yang mampu sebagian dari dirinya tersenyum.
Walau menurut orang lain topik itu sensitif karena melibatkan masalah 'pengusiran', tapi tidak seseram kedengarannya.
Kejadian itu berlangsung sekitar seminggu lalu, Itachi sedang sakit di rumahnya, hanya ditemani Sasuke dan asisten rumah tangga. Mikoto dan Fugaku sedang bantu-bantu melangsungkan acara pernikahan Shisui di Fukuoka.
Itachi meminta sang adik membelikan obat penurun demam serta flu, namun ketidaktahuan Sasuke malah hampir mencelakakan kakaknya. Itu bukan untuk mengatasi penyakitnya, tapi obat datang bulan dan pil tidur.
Apa Sasuke memiliki kelainan tidak bisa baca secara tiba-tiba sampai seceroboh itu? Dia bilang asal mengambil obat-obatan karena sangat panik. Alhasil sang ibu nyaris menendangnya dari rumah.
Dasar bodoh.
"Oh, kau menyeringai di atas penderitaanku." Perkataan Sasuke kembali menggugah lamunan Sakura. Sekonyong-konyong pemuda bertubuh tinggi itu menarik pundak Sakura dan menggosokkan kepala merah mudanya dengan kepalan tangan yang bebas dari buku.
"He-hei kau ... sialan Sasuke! Lepaskan aku!"
"Tidak sebelum kau minta maaf padaku."
Berikutnya terdengar tawa puas dari Sasuke begitu melihat Sakura tidak sudi melakukan hal serendah itu.
Dia diam-diam menikmati tubuhnya sendiri bersandar pada gadis itu, bila mana ia mempertimbangkan mendekapnya lebih erat maka Sasuke dapat menutupi badan Sakura yang lebih kecil dan rapuh.
Itu kedengarannya menggoda. Akan tetapi, Sasuke ingin mengandalkan waktu yang tepat, saat ini Sakura masih terbebani oleh masalah keluarganya yang berantakan.
Tak jauh dari tempat kedua pasangan tersebut saling bercanda dan tampak romantis, seseorang memandangi keduanya. Hati perih, mata bengkak yang berkaca-kaca, penampilannya sangat jauh dari sebelum ia datang kemari.
Aku menyukaimu, Sasuke. Setidaknya ini belum berakhir hingga kita dapat bersama.
Mebuki berkutat dengan pekerjaannya di kantor. Pemandangan yang menampilkan keindahan sinar oranye matahari terbenam di luar sana ia abaikan demi mendapatkan istirahat yang cukup.
Belakangan ini wanita itu mengalami sakit kepala, mungkin disebabkan oleh aktivitas berat yang menguras otak serta mengorbankan waktu tidurnya. Menjadi seorang komisaris tidaklah mudah. Terlebih ia hanya bekerja sendiri–suami brengseknya malah selingkuh di belakangnya.
Mebuki yakin setelah perceraian Kizashi menikahi perempuan murahan busuk itu. Bukankah dia bilang berasal dari sebuah klub malam? Betapa menjijikkannya orang yang telah merebut mantan suaminya. Tidak. Mereka bahkan lebih pantas disebut sebagai hewan ternak karena mengandalkan nafsu semata.
Denyutan di bagian belakang lehernya membuat Mebuki memejamkan mata, meringis lirih, kemudian merilekskan punggungnya ke kursi putar yang empuk.
Memikirkan mereka tak ada habisnya. Selalu berakhir menyakitkan seperti malam ini.
Jauh dari lubuk hatinya, meski luka tertutupi oleh tirai kebencian yang tebal, ada sebuah lubang kecil yang senantiasa menguarkan rasa cinta yang masih membekas di sana. Batinnya tersiksa, begitu pula tubuhnya.
Ingat sosok pria berengsek itu mendadak terlintas seseorang yang selama kurang lebih dua tahun ia abaikan. Bukan berarti Mebuki sudah tak menyayangi Sakura. Namun gadis itu entah bagaimana selalu mengingatkannya kepada sang mantan suami, berlaku sebaliknya.
Namun, sesuatu yang lain membuat bibirnya membentuk senyuman simpul. Ia akan segera menikah lagi.
Dering telepon langsung membuyarkan lamunannya.
"Iya?"
Hening.
"Biarkan dia masuk!"
Telepon ditutup, bersamaan dengan itu pintu ganda ruangan direktur terbuka lebar. Menampilkan sesosok pria paruh baya berambut cepak hitam yang tampak berkilau, kumis berwarna serupa menutupi bawah hidungnya, memiliki tatapan mata tajam sekaligus cerah.
Aura penuh keramah tamahan melekat ketika ia menunjukkan senyum hangat kepada Mebuki. Yang dibalas perempuan itu dengan bentuk yang sama.
Orang itu merupakan calon suami barunya, dan baru di antara mereka berdua yang mengetahui kabar ini, Sakura bisa menyusul. Terlepas dari statusnya sebagai ibu kandung gadis itu, ia tidak menerima ketidaksetujuan dalam cara apa pun.
Bukti tumpukan kertas yang disusun di atas meja particle board tempat ibu satu anak itu secara tak langsung memberitahu dia bahwa Mebuki masih belum dapat momen yang tepat menentukan jam pola tidur yang sehat. Begadang kali ini mungkin bakalan berakhir sekarang.
Ia merasa cemas pada kondisi Mebuki yang keras kepala memaksakan diri mengelola perusahan sendiri.
"Sayang," sapa wanita pirang antusias seraya menunjuk sofa panjang di samping pintu. Raut kelelahan sekitar lima belas detik lalu telah hilang sepenuhnya.
Murakumo memperlebar senyum. "Sebaiknya kita makan malam sekarang. Kau terlihat kurus akhir-akhir ini," candanya sambil tertawa kecil.
Mebuki hanya mendengus, alih-alih seringaian terpampang di wajah putihnya.
Mengabaikan sengatan pegal yang merembesi seluruh tubuhnya, terlebih dahulu dia membereskan kekacauan di meja. Selanjutnya berdiri menyambar mantel di belakang kursi, mengajak calon suaminya untuk mengikuti.
Bebatuan yang berfungsi sebagai jalan setapak terhampar di hadapan mereka. Kolam pancuran sederhana berdiri kokoh di sisi pohon willow, seorang pelayan muda berseragam rapi dengan senyum ramah menunjukkan keduanya kursi yang masih kosong.
"Bagaimana keadaan Sakura?"
Pertanyaan itu tampak ringan, tapi bagi Mebuki sedikit tak nyaman ketika membuka percakapan mengenai anak semata wayangnya.
"Dia baik-baik saja." Memaksakan senyum enggan.
Pria berambut hitam meringis. Masih belum. Entah bagaimana cara meyakinkan Mebuki kalau Sakura tidak seperti Kizashi.
Selama mengenal Kizashi, demi sopan santun terhadap sahabat masa SMA dia tidak bermaksud membuat penilaian secara sembarangan. Tetapi pria itu memang terkenal punya kepribadian rada bar-bar sejak mereka mulai berteman.
Keduanya kontras. Dirinya seorang laki-laki yang kaku dan tak terlalu mengumbar senyum sebanyak sekarang, sedangkan Kizashi bisa bergaul dengan siapa saja tanpa pandang bulu dikarenakan pribadinya yang sering mengeluarkan candaan ringan dan bersemangat.
Membutuhkan waktu sebentar untuk menjernihkan pikirannya sebelum menyantap hidangan. Di bawah meja, wanita single parent itu menyandarkan satu kakinya ke kaki yang lain.
"Setelah lulus, aku bermaksud menyekolahkan Sakura ke luar negeri. Dia pintar dan akan sia-sia jika hanya belajar di sini," ujar Mebuki santai.
Murakumo melirik khawatir, alisnya berkerut dalam. "Kenapa tiba-tiba? Kupikir Sakura tak akan suka ide ini. Lebih baik kau pertimbangkan masak-masak, bicarakan terlebih dulu padanya."
Semburan tawa halus berasal dari Mebuki. "Tentu saja aku akan membicarakannya dengan Sakura. Tapi dia gadis yang rajin belajar asal kau tahu." Melambaikan tangan sebagai isyarat agar lelaki itu tak usah khawatir terhadap anaknya. "Makanya Sakura pasti menerima penawaran ini."
Gigitan terakhir hampir selesai, namun dia meletakkan garpunya di atas meja dengan bantingan kecil. Pengunjung di dekat mereka langsung menatap sekilas dengan sentakan kaget.
"Aku meragukannya. Dia mencintai Jepang, dan barangkali menginginkan pekerjaan di sini juga." Dia berkata melalui gigi yang terkatup.
Murakumo menggelengkan kepalanya dengan tatapan cemas sekaligus kesal. Kedua tangannya terkepal dan dadanya terasa agak berat menahan emosi. Agak menjengkelkan melihat Mebuki bersikap acuh tak acuh pada putrinya sendiri.
Atmosfir di antara keduanya berubah drastis. Hening yang memuakkan tidak membantu sama sekali meredakan ketegangan.
Wanita berambut pirang mendengus, upaya terakhir mengalihkan alur percakapan yang baginya tidak menyenangkan untuk diangkat saat makan seperti sekarang.
Membicarakan topik Sakura selalu berakhir buruk, entah kenapa calon pendamping hidupnya membela anaknya dibanding kekasihnya sendiri. Jadi, untuk mengantisipasi sebelum terjadinya pertengkaran tak penting, ia memutar otak untuk membawa suatu hal pembicaraan lain.
"Bagaimana dengan acara pernikahan kita?" Saat itu pula juga Mebuki bertanya.
Murakumo mengembuskan napas panjang sebelum bahunya kembali rileks, tak terlalu bernafsu menyelesaikan makan malam.
"Undangan, biaya catering, hampir semuanya sudah siap. Kita tinggal memesan pakaian pernikahan." Jeda sejenak, duda empat puluh lima tahun itu melipat tangannya di atas meja. Keningnya yang terdapat kerutan tipis semakin menajam ketika ekspresinya berubah serius. "sebaiknya jangan beritahukan dulu kabar gembira ini pada anak-anak kita."
Mebuki dengan tegas menggeleng. "Aku tidak setuju denganmu, sayang. Lebih cepat lebih baik. Lagipula tanggat pernikahan kita sebentar lagi." Kemudian seringaian bahagia terpatri di wajahnya. "Kita akan segera menjadi keluarga."
Untuk kesekian kalinya, Murakumo menghela napas tanpa banyak bicara. Tampaknya ayah beranak satu tersebut kehilangan kata-kata.
Pukul enam tepat.
Minggu pagi yang dingin bagi Sakura sama seperti hari lainnya, tapi yang berbeda adalah tidak ada sekolah. Sedikit menyenangkan, kecuali kenyataan bahwa dia jarang sekali menghabiskan akhir pekan bersama ibunya. Bahkan barangkali tidak sama sekali, tidak setelah dua tahun kehidupannya yang monoton berlalu.
Sakura mengumpulkan rambut panjangnya dan mengikatnya pony tail agar tidak mengganggu kegiatannya. Dia tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk fokus pada masa lalu, biasanya berakhir dengan dirinya melamun berjam-jam tak ada habisnya.
Sebaliknya, dia pergi jauh ke dalam dapur dan menyiapkan sarapan untuknya sendiri.
Membuka lemari kecil di atas kepala, ia menyisihkan makanan ke sudut dan tampaknya apa yang dia cari berada di tempat paling belakang.
Tak lama kemudian, sebuah kotak muncul sebelum diletakkan di dekat kompor. Menunya hari ini adalah pancake dengan sirup maple.
Dia sekarang mengoleskan mentega pada teflon tepat di atas kompor. Ketika menuangkan satu sendok sayur kue dadar ke atasnya, tiba-tiba bayangan seseorang hadir dalam benak Sakura.
Tengah malam ia mendengar langkah kaki ringan di lantai bawah, namun gadis itu masih terlalu ngantuk untuk sekadar memeriksa ke bawah. Atau itu hanya imajinasinya saja?
Kediaman yang tidak terlalu megah ini selalu sepi dan hampa. Terutama Mebuki selalu pulang larut, terkadang menginap di kantor dan kembali keesokkan paginya, tertidur sampai siang, meskipun jarang sekali dilakukan. Dia seringkali mendapati ibunya telah pergi lagi entah kemana setelah baru sebentar memasuki rumah.
Ketika panekuk ketiga selesai dimasak, ia mematikan kompor, mengangkat pegangan teflon. Lalu meletakkan kue dadar ke piring dan mulai menuangkan sirup maple di atasnya, menambahkan potongan buah beri beku sebelum dia meletakkan garpu di sisi kanan piring.
Sakura meninggalkan dapur, menuju ruang tamu yang berfungsi sekaligus sebagai ruang keluarga. Piring porcelain mengeluarkan bunyi ringan ketika ia meletakkannya di atas meja kopi. Dia segera menjatuhkan pantat ke sofa.
Gadis itu menyalakan televisi tanpa repot mengganti channel, yang ia butuhkan saat ini hanya mengisi perutnya yang terus berbunyi. Nyaris menubrukkan garpu di tangan kanannya ke dahi, Sakura baru ingat kalau ia melewatkan makan malam kemarin. Entah kenapa begitu sampai di rumah, tanpa pertanda sama sekali perasaan tidak nyaman langsung mengusiknya.
Dengan musikal sebagai latar belakang, suara dentingan piring mengisi kesunyian ruangan luas itu. Memang dia menikmati film meski faktanya ia tidak begitu menyukai anak-anak, yang bagi sebagaian besar orang dewasa menganggap mereka lucu. Hanya saja, lain menurut pandangan Sakura, anak kecil sangat berisik dan terkadang menyebalkan.
Persis ketika perempuan itu mendekati suapan terakhirnya, telinganya menangkap bunyi gemerincing dan klik lembut sebelum pintu depan terbuka dari luar.
Yang membuat kontak mata terlebih dahulu adalah Mebuki. Mata hijaunya menangkap sekilas cairan kental berwarna cokelat di atas piring sebelum kembali menatap Sakura dengan pandangan yang sukar diartikan.
Alih-alih menuju kamar di belakang dapur, wanita berambut pirang berjalan santai menghampiri Sakura, lalu mengambil tempat di sebelahnya.
Dahi Sakura membentuk kerutan heran. Ia yakin sekali ada sesuatu yang salah dengan sang ibu.
Suara anak-anak yang bernyanyi memenuhi ruang tamu, sama sekali tidak cocok dengan suasana canggung.
Mebuki melirik putri semata wayangnya enggan. "Aku punya sesuatu yang harus kuberitahukan padamu." Seperti biasa, suaranya terdengar sinis ketika dia berbicara dengan anaknya.
Sakura menahan dirinya untuk meninggalkan ruangan karena baru kali ini wanitu itu mendatangi Sakura sendiri.
"Apa?" Mata emerald-nya terpaku pada televisi. Tidak mau repot-repot bertemu pandangan tak suka Mebuki.
"Aku akan menikah."
Wajah Sakura langsung pucat pasi.
Ada keheningan kecil, Sakura tercengang pada pernyataan sang ibu. Untuk pertama kali, gadis itu berharap telinganya salah menangkap dengar.
Namun pengulangan kalimat sebelumnya yang seakan menggema di indera pendengarannya mau tak mau menyeret Sakura dari lamunan.
Saat itu pula ia menyadari sesuatu. Kehidupannya yang kacau akan bertambah suram dan sulit.
Tuhan senang sekali mempermainkan aku.
To be continued
A/N : Terima kasih untuk yang bersedia membaca. Semoga kalian menikmati cerita baru ini.
