Bab 2 : Pesta

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku akan menikah dalam dunia bulan kedepan."

Mebuki merasa heran atas sikap diamnya Sakura.

Kalimat itu sederhana, namun perempuan berambut pink terus menatap televisi yang telah menampilkan iklan produk susu dalam hening. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Seakan-akan kata-kata itu tercampur aduk, bersarang di dekat permukaan tenggorokannya dan terganjal oleh sesuatu.

"Sakura," panggil Mebuki monoton.

Yang disebut menatap sepasang mata ibunya lekat-lekat. Tubuhnya gemetar oleh api kemarahan yang mencapai ubun-ubunnya dan mendidih.

"Siapa dia? Apa dia berasal dari keluarga konglomerat? Seseorang berdarah biru?" Sakura secara otomatis memberondong Mebuki dengan pertanyaan. Kalimatnya agak sulit dipahami karena dia terlalu cepat berbicara.

Dia bisa merasakan penghinaan terang-terangan dalam nada bicara putrinya, yang agak tidak biasa karena sebagian besar waktu belum pernah melihat Sakura bersikap seperti itu.

Haruno Mebuki menghela napas panjang, berdiri. Mau tak mau Sakura ikut bangkit, menyejajarkan dirinya di depan sang ibu.

Setelah keheningan yang mematikan cukup lama, akhirnya wanita single parent itu angkat bicara.

"Aku hanya akan memberitahumu ini ... dia punya anak perempuan seusiamu."

"AKU MENENTANGNYA," sela Sakura skeptis.

Mebuki melipat tangan di depan dada, mengambil selangkah mendekati anaknya. Ekspresi wanita itu tampak santai, persis setenang air mengalir.

"Apa masalahnya? Aku memberikanmu seorang ayah yang sangat kau butuhkan. Sungguh-sungguh seorang ayah yang akan menyayangimu, Sakura." Penekanan kalimat terakhir tampaknya merujuk pada Kizashi.

"JANGAN PURA-PURA MELAKUKAN INI DEMI AKU!" bentak Sakura. Matanya membeliak, dan rasanya susah sekali mengeluarkan sesuatu yang tertahan di benaknya selama ini.

Mebuki meradang mendengar nada keras Sakura. Ketenangannya tiba-tiba hilang, ia balas melototi gadis muda di depannya.

Sakura terengah-engah. "Aku tidak pernah menginginkannya. Setelah dua tahun mengabaikan aku kenapa Ibu tiba-tiba peduli padaku?" Seringaian sedih terpampang di wajah merah Sakura.

Seketika itu pula Mebuki menyandarkan tubuhnya ke dinding, menghela napas frustasi, anehnya tampak tertekan oleh perkataan Sakura. Tangannya menutupi keningnya yang dihiasi kerutan dalam. "Sakura, berhentilah mencari perkara!"

Sakura memiringkan kepalanya bingung. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Ibunya bisa segusar itu.

"Aku tidak peduli bagaimana pendapatmu mengenai pernikahan ini. Keputusan Ibu sudah bulat."

Meskipun Sakura masih tidak bisa menahan amarahnya, dia memutuskan untuk membiarkan semua ini dulu. Terlepas dari betapa ia ingin memiliki keluarga utuh, bukan berarti punya ayah tiri ada dalam rencananya.

"Semoga Ibu menikah bukan demi uang," desis Sakura sinis, seolah kalimat itu racun di mulutnya.

Kemudian, Sakura segera pergi meninggalkan sang Ibu dengan tatapan tajam. Membiarkan Mebuki meresap kata-katanya yang sarkastik.


Berkat Ino yang mengadakan party di kediamannya, Sakura bisa melepas lelah bersama teman-temannya tanpa diganggu oleh rutinitas.

Dari kegelapan malam di bulan Maret, Sakura melangkah masuk ke dalam mansion dengan interiornya yang menawan. Yamanaka memiliki perusahan parfum dan bunga yang tersebar di beberapa kota, kesuksesan bisnis mereka hampir sekaya Hyuuga dan Uzumaki meskipun Uchiha tetap nomor 1 di negara ini.

Pesta-pesta remaja yang sesekali diadakan di sini, tapi acara itu diatur sesuai keinginan kedua sahabatnya, Karin dan Sakura.

Untungnya orang tua Ino sedang ada perjalanan bisnis di Yokohama, mengurus perusahaan cabang di kota tersebut.

Sakura mengambil kaleng bir yang disodorkan Ino padanya.

Mereka melintasi ruang tamu tempat meja-meja telah disajikan saat tengah malam bagi para undangan. Dan sepertinya makanan akan dihidangkan sebentar lagi.

Dia bisa mendengar hentakan kaki tarian yang sedang berlangsung persis di ujung lorong yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang rekreasi. Melewati para pelayan yang mondar-mandir, keduanya sampai di depan tangga yang menuju lantai dua.

Alih-alih berjalan lurus menuju lorong yang remang-remang dan ikut bergabung ke acara kemeriahan pesta, Sakura dan Ino justru menaiki tangga berhiaskan marmer. Lalu mereka berhenti di sebuah pintu dan memasuki kamar yang sangat luas.

Persis saat kaki Sakura yang ditutupi sandal rumahan menyentuh dinginnya lantai keramik, Uzumaki Karin muncul menerjangnya tanpa pertanda sama sekali.

"Sakura, aku merindukanmu beib."

Perempuan itu tertawa ringan, balas menepuk punggung Karin yang lebih tinggi 2 centi darinya.

Ino mendekat setelah menutup pintu di belakangnya. "Yah, bisakah kita menghentikan lovey dovey scene ini? Aku sudah lelah menonton drama sahabat kita di sekolah. Well, saking rajinnya si gadis kacamata ini mem-bully Yakumo, bukan berarti aku terbiasa menghadapinya," celetuk Ino sinis.

Karin mencebikan bibirnya sebal. Dia segera menarik dan mendudukan Sakura di sofa yang terletak di depan balkon sebelum mengambil tempat di sebelahnya. Sementara Ino berdiri di dekat jendela.

Menyingkirkan tas kecil di pangkuannya, Sakura membuka kaleng bir dan menyesap minuman itu perlahan.

Tak memedulikan lontaran candaan mereka, Sakura menatap kosong hamparan langit malam. "Aku tak tahu apa yang harus kulakukan," ujarnya memulai.

Kedua temannya menatap Sakura terkejut dan mereka berdua saling bertukar pandang.

"Bibi Mebuki membuatmu marah lagi?" tanya Ino hati-hati.

"Kalau memang benar, jangan cemas! Kita bisa meyakinkannya untukmu," timpal Karin serius.

Sakura terdiam sesaat, berusaha menenangkan diri atas reaksi sahabatnya. "Ibu ingin menikah."

"Apa?"

"Ya Tuhan."

"Dengan siapa dia menikah?"

"Apa ini semacam lelucon? Ini tidak lucu sama sekali," protes Ino, "kenapa dia memilih untuk menikah lagi?"

"Sakura, kau tidak serius 'kan?"

"Aku serius." Ia tersenyum dingin, tapi tetap diam saat mereka berusaha mengeluarkan kata-kata supaya menenangkan Sakura.

Karin menghela napas gusar. "Kupikir bibi Mebuki tidak pernah berkencan. Bagaimana dia bisa memutuskan untuk menikah?"

Gadis itu menghempaskan punggungnya. "Dalam dua bulan dia akan menikahi seorang konglomerat. Betapa menyebalkannya hidupku," desah Sakura gusar.

Sedepresi apa pun Sakura, mereka tahu ia bukan orang yang mudah tercubit perasaannya. Gadis merah muda itu lebih sering melampiaskan kesedihannya pada alkohol atau menganggu orang yang tidak disukainya.

Ino dan Karin saling berpandangan sebelum Ino memaksa Sakura berdiri dan menyeretnya ke lantai dansa.

"Ino," rengek Sakura.

Ino berdecak acuh tak acuh. "Diamlah! Kau akan berterima kasih pada kami setelah ini."

Lampu laser berwarna-warni menerangi ruangan dari setiap sudut. Semua orang bersorak dan menari dengan teman-teman mereka. Sejujurnya Sakura tidak terlalu suka keramaian. Dibandingkan pesta seperti ini, ia lebih suka pesta kecil-kecilan yang diadakan hanya bersama Ino dan Karin. Seperti pesta ulang tahunnya. Tapi kali ini dia datang untuk menghargai Ino.

Gadis berambut panjang yang digerai asal itu bisa mendengar musik yang semakin keras bergema melalui lorong sempit. Dia melayangkan pandangan ke setiap pelosok ruangan dan mereka berhenti di sudut yang lebih sepi.

Bantal-bantal bulu berwarna merah tua tersedia di setiap sofa cokelat pekat yang diletakkan jauh dari speaker dan tempat DJ memainkan musik sehingga tak terlalu mengganggu percakapan. Dan di situlah mereka duduk.

Sakura menghempaskan punggungnya, minum bir kalengan dalam sekali teguk. "Aku sama sekali tidak menginginkan pengganti ayah." Ia terhenti, memilin rambutnya yang pink bergelombang. "apa kalian pikir ibuku menyukainya?"

Karin dan Ino saling mengerling dalam diam, tak tahu harus menjawab bagaimana.

"Aku benci ibu, tapi di sisi lain aku juga menyayanginya. Ibu orang yang paling kubutuhkan sekalipun dia tidak mampu memberikannya padaku." Sakura tersenyum pahit. "Ah, lebih tepatnya dia masih merangkak di lubang bernama kesedihan atas pernikahannya yang gagal. Dunia berputar dan dia berada di bawahnya, merenungkan sesuatu yang tidak aku pahami. Seperti biasa ibu suka sekali mengorbankan orang lain demi dirinya sendiri."

Perempuan malang itu masih mengoceh tentang hidupnya yang hambar bersama Mebuki.

Ino memainkan gelasnya sambil menatap iba, sementara Karin menggenggam tangan sahabatnya yang dingin. Pasti Sakura sudah mabuk. Banyak bicara sama sekali bukan gayanya.

"Akan semakin buruk jika dibiarkan. Aku akan mengantarnya pulang." Ino mengumumkan. Dia khawatir gadis itu berbuat sesuatu yang tidak diinginkan tanpa sadar.

Semburan tawa Karin mengundang tatapan heran dari si pirang.

"Tidak bisa. Kita kemari untuk bersenang-senang, bukan mengeluhkan hidup kita yang penuh bullshit!" desis Karin sarkastik.

"Kalau begitu, apa kau punya ide untuk menyembuhkan hatiku?" tanya Sakura sambil menggoyangkan kedua alisnya.

Ino mengerang. Ini pasti merepotkan.

Berbanding terbalik dengan Karin yang balas menyeringai setan.

Ia bersumpah, bisa melihat tanduk di atas kepala merah Karin.

.

A/N : makasih yg udah rnr

Yukocham : Bosen soalnya liat Sakura yg jd lemah mulu wkwkwk makanya di sini Sakura kubuat rada galak. Kalo Yakumo, dia emg muka dua. Tp blm keliatan di awal2

Tulangkering : Trim's banyak :)