A/N : ga berpikir bakalan mengupdate dlm waktu yg lama
Maaf :(
Thanks for review
Bab 3 : Sok pahlawan
Mengaku cemburu itu memalukan, tapi berbohong lebih menyedihkan
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mereka bertiga menari bersama. Saling menghentakkan tubuh mengikuti musik.
Sampai Sakura melihat sesosok pria yang sangat dibencinya, orang yang baru masuk itu adalah Sasuke. Pria itu memandang berkeliling seperti sedang mencari seseorang.
Mengetahui apa yang bakal terjadi jika dia menemukannya, terutama dalam keadaan mabuk dan gila seperti ini, Sakura langsung memanjat lantai atas dan bersembunyi di bilik toilet.
Dua orang wanita yang sedang berdandan di depan cermin menatapnya skeptis karena terganggu oleh suara pintu yang didobraknya. Membuatnya balik memelototi mereka berdua.
"Apa?" desisnya dingin, sinis, dengan aura gelap. Sontak mereka kembali melakukan aktivitas sebelumnya tanpa mengatakan apa-apa.
Sasuke yang masih berburu Sakura segera menemukan sosok pirang yang tak asing, dia menghampiri Ino dan menarik bagian belakang kemejanya, menarik perempuan itu ke sudut yang agak sepi.
"Hei! Apa kau sudah gila! Aku bukan anak kucing, berengsek!" Ino menepis tangan siempunya. Ia menyipitkan matanya dan ketika mengetahui sang pelaku adalah frienemy Sakura, ia langsung tersenyum lebar seperti orang sinting.
Mendekatkan wajahnya pada lelaki itu. "Aah Sasuke-chan ternyata. Ada apa kau kemari? Tidak biasanya datang ke pestaku," serunya, agak menggoda. Dia terkikik dalam hati karena sudah tahu apa yang diinginkan pria itu tapi toh bermain sedikit dengannya tidak akan sakit.
Tanpa mengindahkan panggilan menggelikan yang diberikan Ino, Sasuke menjauhkan kepalanya dan berdeham menyembunyikan rona merah di wajahnya. Tidak. Ia tidak malu melihat paras cantik Ino dari dekat, tapi karena alasan lain. Sejujurnya dia sedikit malu mengatakan ini. Harga dirinya dipertaruhkan.
"Dimana Sakura? Bibi Mebuki memanggilku dan bertanya tentangnya."
Kenapa bibi menghubungi Sasuke alih-alih Sakura sendiri? Apa dia sedang membual?!—pikir Ino curiga.
Ia sudah merasakan firasat buruk di perutnya setelah mendengar kabar mengenai pernikahan Mebuki. Dan firasatnya belum pernah salah.
Tapi, tak ada yang bisa dilakukannya mengingat Ino tidak ada hubungan apa pun mengenai masalah tersebut. Dia cuma sahabat Sakura, bukan saudaranya, walau secara teknis Ino menganggap Sakura sebagai anaknya sendiri.
Sebelum sempat menjawab, suara cempreng seseorang yang familier membuat perhatian keduanya teralihkan.
"Apa kau tidak bisa diam? Kenapa selalu mengikutiku seperti anak ayam?"
"Omong kosong, aku tidak mengikutimu sama sekali. Dasar wanita."
"APA? SIALAN, KAU MAU MERASAKAN TINJUKU, HAH?"
Pria bergigi tajam itu bersenandung santai, sama sekali tidak menanggapi ancaman Karin.
"Karin, Suigetsu, bisakah kalian satu kali saja tidak membuat keributan di pestaku?!" sindir Ino cemberut.
"Sasuke-kun!" Gadis merah itu memekik saat melihat laki-laki yang terkenal di sekolah tersebut. Ia hendak merangkul Sasuke, namun lelaki itu telah lebih dulu menghindar.
Ino mengulum bibirnya menahan tawa. Sedangkan Suigetsu memandang tak suka pada Sasuke.
Karin tak ambil pusing, ia pura-pura mengambil dua potong kue di atas meja, memberikannya satu pada si pirang. "Omong-omong, untuk apa kau di sini? Tidak biasa ketika Uchiha Sasuke yang tidak suka acara seperti ini datang kemari."
Walaupun tersinggung, Sasuke hanya mencebikkan bibirnya.
"Bukankah sudah jelas?" celetuk Ino sambil menunjuk Sasuke menggunakan garpu plastiknya, menyebabkan mereka memandangnya bingung. "dia ingin menyeret Sakura dan menjadikannya sebagai tahanan di rumahnya." Dia mengatakan itu seolah itu hal yang biasa baginya, tapi lain dengan sahabat merahnya, gadis itu tersedak kuenya sendiri karena tidak menyangka Ino akan mengungkapkan hal yang vulgar di depan orang seperti Sasuke.
Berbuat baik, Suigetsu segera mengambilkan air untuknya.
Wajah Sasuke definisi dari ceri busuk, saking malunya tanpa sadar ia bertanya dengan nada tinggi. "Dimana Sakura? Ibunya meneleponku karena dia belum pulang."
"OH MY GOD! TIDAK! BAYIKU HILANG ... SAKURA-KYUN" Tanpa diduga Ino berteriak histeris—mengejutkan dua orang yang melihat tingkah gilanya—mencari sekeliling dan pergi untuk mendorong kerumunan acak orang-orang di lantai dansa. Persis seperti mama bear yang kehilangan baby bear.
"Yah ... itu dramatis. Jangan anggap aku kenal dia," Karin facepalm, sedikit malu terhadap sikap menyedihkan Ino.
Berkat gadis itu yang pergi tiba-tiba, Sasuke mengarahkan kemarahannya pada Karin. "Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi?" bentak Sasuke.
Yang dimarahi sibuk terpana, sama sekali belum memproses apa yang sedang terjadi.
Sasuke bergegas mencari keberadaan Sakura di dalam klub yang sangat ramai.
Dengan gerakan yang sengaja dilambat-lambatkan, gadis merah muda merapikan rambutnya yang berantakan dan memoles lipstik di bibirnya. Kedua perempuan menyebalkan tadi sudah pergi, kini tinggal dirinya sendiri di sini. Ia melirik jam yang bertengger cantik di pergelangan tangannya.
"Baru sepuluh menit. Haruskah aku keluar dan menemui mereka?" gumam Sakura pada dirinya sendiri.
Suara dobrakan pintu sontak mengejutkan Sakura yang tengah sibuk membereskan peralatan make up-nya.
"Berengsek, kenapa kau bertingkah seperti hyena!"
Ia tak henti memaki orang sinting itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari barang berharga miliknya. Selagi ia mengoceh, bahunya ditarik dan ia langsung melihat sosok Sasuke di hadapannya.
Matanya sontak membulat. "Ka-kau sedang apa di sini?"
Namun Sasuke malah balik bertanya. "Seharusnya aku yang tanya begitu. Kau sedang apa di tempat seperti ini?" Kemarahan semakin menggelapkan matanya yang hitam.
"Darimana kau tahu aku ada di sini? Siapa yang memberitahumu?" tanya Sakura kaku. Entah hanya perasaannya atau aura Sasuke tiba-tiba agak menyeramkan.
Sasuke menghela napas, mengusap rambut bagian depannya untuk berjuang tidak mengeluarkan emosinya melalui kata-kata. "Itu bukan masalah, yang penting sekarang kita harus bicara, berdua."
Sakura hendak melarikan diri, namun Sasuke terlampau mendahuluinya, mengunci pintu dan memojokkan Sakura di dinding toilet. Tinggi tubuhnya yang mengesankan praktis menjulang di atas perempuan yang lebih kecil.
Gadis itu menundukkan wajahnya gugup, hingga Sasuke mengangkat dagu Sakura agar bertatapan dengan bola matanya yang sukses membuat perempuan merah muda itu sesak napas.
"Aku tahu apa yang kau coba lakukan." Suara pria itu serak dan rendah, sedikit condong ke arahnya. Karena tindakannya, dia bisa mencium aroma cologne-nya, yang berbau begitu diinginkan dan bagus.
"Dan apa itu?" Dia takut kehadirannya yang mengintimidasi dan tatapan tajamnya digabungkan. Matanya tampak seolah-olah bersinar di kegelapan ruangan, dan fokus tepat ke arahnya.
Rahangnya mengeras ketika dia mengamati penampilan Sakura. "Apakah kau sudah gila? Banyak laki-laki di sini dan kau benar-benar berjalan-jalan seperti—"
"Seperti apa? Makanan ringan" tantang gadis itu, menukik alisnya, dia tidak suka kemana arah pembicaraan ini.
Pada saat itu, Sasuke tidak bisa menahan diri. "Ya. Harimau yang akan mencabik-cabik dan memakanmu, lalu menikmati melakukannya."
Yang dimarahi jelas telah terpengaruh dengan ini. Sakura paling benci jika ada yang mengaturnya tanpa tahu kondisinya. Siapa dia sehingga dia harus menuruti perintahnya? Apakah bahkan dia tahu apa yang terjadi pada rumah tangga keluarganya?
"Memangnya apa hakmu berkata ini dan itu? Kau tidak tahu apa-apa. Kau selalu tidak, bukan?" desis Sakura dengan napas terengah-engah menahan gelombang amarah yang memenuhi dadanya.
Seringai terbentang di wajah pemuda itu, tapi Sakura tidak tahu bahwa rasanya sakit ketika kenyataan bahwa orang yang dia sayangi ternyata tidak mempercayainya. "Tidak heran kau seperti ini, kau menggunakan kesempatan pesta kotor ini untuk tidur dengan pria asing."
"Jangan bicara seolah-olah kau tahu semuanya, Sasuke." Wajah Sakura memerah marah saat dia melemparkan tangannya darinya. "karena itu akan membunuhmu," ancam Sakura dengan racun di ujung lidahnya.
Yakumo mengambil bukunya di bawah laci, ia terlihat lesu dan muram. Wajahnya pucat dan pipinya sedikit tirus. Selama seminggu terakhir dia menjalani diet ringan, meskipun tubuhnya terlihat baik-baik saja, entah sudah keberapa kalinya Sara dan antek-anteknya memanggilnya babi.
Sampai datang tiga orang siswi yang tak ingin dia lihat tiba-tiba masuk menghampirinya. Sara, Hotaru, dan Kin.
Tanpa aba-aba, Sara melompat duduk ke meja Yakumo.
Sambil memelintir ujung rambut merahnya, seperti biasa gadis itu mengunyah permen karet dan menatap rendah Yakumo yang mulai gemetaran di tempat duduknya. Bahkan seakan takut untuk menarik napas.
"Girls, bukankah dia terlalu rajin untuk seekor anak kucing?" sindir Sara, mulai provokasi.
Kin terkekeh menanggapi. Bibirnya yang diwarnai lipstik merah muda menyeringai lebar. Sementara Hotaru hanya memperhatikan teman-temannya dalam diam, dia tidak terlalu tertarik menyerang secara verbal, Hotaru lebih suka menerkam mangsa yang dibencinya tanpa banyak bicara.
Kesal karena tidak ditanggapi, Sara mengambil buku yang sedang dibaca Yakumo, gadis cokelat itu hendak mengambilnya, namun Sara semakin menjauhkan tangannya dan membaca.
Dia mendengus menahan tawa meskipun sorot matanya terlihat kesal, memperlihatkan pada teman-temannya yang lain apa yang membuatnya geram.
Persis di bagian belakang bukunya, tertulis sebuah kalimat:
Sasuke,
Tolong temui aku di atap setelah pulang sekolah. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.
Kin mendengus kasar begitu melihat nama orang yang akrab, terutama Yakumo mengajukan sebuah tawaran yang sangat klise.
Yakumo hendak mengirimkan note tersebut hari ini, setelah sekian lama ia menunggu mentalnya siap untuk menyatakan perasaannya. Dan seperti kata ramalan di televisi, hari ini hari keberuntungannya.
Namun lamunannya buyar ketika gadis berambut hitam tertentu mendorong pundaknya. "Apa hakmu menyukai Sasuke? Dia tidak cocok dengan perempuan bermuka dua sepertimu."
Yakumo menelan ludah kasar begitu suasana bertambah menegangkan. Dia melirik ke sekeliling kelas karena takut ada yang mendengarkan, namun ia bisa bernapas lega karena teman sekelas sepertinya sedang makan siang di kantin.
Ia dengan tergagap membela diri. "Me-memangnya kalian tidak berbeda denganku? Apa karena ayahmu jaksa, kau selalu mencampuri urusanku?"
Kin, Sara, bahkan Hotaru menghela napas tidak percaya.
Akhirnya kedok seorang Kurama Yakumo terungkap. Mereka bertiga sama sekali tak menyangka perempuan sok lemah itu bakalan membalas. Tapi, setelah diingat-ingat, tempo hari juga dia melawan balik Karin.
Kali ini giliran Hotaru yang maju menggertaknya. Dia tidak tahan lagi dan langsung mendorong bahu Yakumo yang masih terdiam di bangkunya.
"APA? BILANG APA KAU TADI?" teriakan amukannya mengisi kesunyian ruang kelas yang sepi.
Bibir Yakumo menipis, keringat dingin muncul di pelipisnya, jika dia sekali lagi melakukan perlawanan, kepalanya akan hilang. Dia tahu Hotaru tidak menyukai Sasuke, namun Hotaru sangat benci keberadaannya di sekolah ini. Karena seperti alasan semua orang di sini, Yakumo terlalu dianggap istimewa oleh para guru, sehingga selalu dibela oleh mereka. Sedangkan yang lain tidak.
Lagipula, Hotaru adalah orang yang tak pernah main-main dengan kata-katanya.
Tiba-tiba pintu terbuka, serentak mereka semua menoleh dan mendapati Sakura bersama kedua sahabatnya masuk ke dalam kelas.
Yakumo setidaknya berharap Sakura akan membelanya karena gadis itu tidak pernah mengganggu orang lain. Walaupun ia kasar sehingga tidak ada yang berani menggertaknya, Sakura tak seperti teman-temannya yang sering menindas orang lemah di sekolah.
Akan tetapi, yang terjadi justru membuatnya kecewa. Sakura hanya meliriknya sekilas, lalu berjalan menuju bangkunya sendiri. Wajahnya dingin seperti biasa, aura gelap terpancar dari dirinya yang kian membuat suasana makin tegang.
Bertindak masa bodoh, Ino merangkul bahu Sakura, namun gadis merah muda itu segera menamparnya.
Membuat gadis pirang tersebut mengelus tangannya yang agak nyeri. "Kau kenapa sih? Sejak tadi marah-marah terus!" gerutu Ino manyun.
Karin mengiyakan. "Apa kau sedang datang bulan? Atau Naruto mencuri celana dalammu lagi?"
Mendengar kalimat tak masuk akal Karin, Ino tanpa segan memukul belakang kepala merahnya.
"HEI! SAKIT TAHU!"
"Terima kasih, kau benar-benar tidak membantu," sindirnya menatap sinis.
Melihat situasi kembali hening, Sara kembali mengganggu Yakumo.
"Hei, pecundang!"
Ia berteriak cukup keras hingga mengalihkan perhatian Sakura dan yang lain.
"Apa kau masih berniat melakukannya?" tanya Kin tajam. Telunjuk lentiknya kali ini menunjuk dahi di antara mata Yakumo yang masih melihat ke meja. Tidak berani mengatakan apa-apa, terutama kini kehadiran Karin yang membuatnya semakin gemetaran.
Hotaru menarik rambut cokelat Yakumo, memaksanya untuk mendongak dan melihat pancaran kebencian yang amat sangat dari mata mereka. Jika tatapan bisa membunuh, perempuan malang itu akan mati seketika.
Kemarahan Sara sudah diujung tanduk, bila mana ia menyiksa lebih ekstrim, maka dirinya bisa ada dalam masalah. Terutama gadis manja yang dia bully saat ini. Tapi, hanya kali ini Sara membiarkannya lolos.
"Jika sekali lagi kau membalas perkataanku, aku takkan segan-segan membunuhmu." Suaranya rendah dan penuh ancaman, emosinya mencapai batas maksimal ketika tangannya yang menggenggam buku Yakumo bergetar berbahaya.
Dengan sekali hentakan Sara mencabut kertas, menyobeknya menjadi potongan yang kecil-kecil lalu melempar confetti tersebut di atas kepala Yakumo.
Kin melipat tangannya di depan dada, mendengus menahan tawa puas saat mengawasi napas gadis itu bertambah cepat karena ketakutan yang menenggelamkannya.
"Kenapa kau keras kepala sekali? Sudah kukatakan, kau tidak bisa, tidak boleh, berkencan dengan Sasuke."
"APA?!" pekik dua siswi di sisi lain secara bersamaan, mengejutkan Sara dan antek-anteknya.
Mereka segera menghampiri meja Yakumo.
"Apa dia bilang? Kau menyukai Sasuke?" Karin mengernyit jijik sambil menjiwir rambut cokelat Yakumo. Sara hanya mengangkat dagunya angkuh ke arah Yakumo, tidak repot-repot menanggapi pertanyaan retoris Karin.
Ino mengambil bagian kali ini. Dia berdiri di antara Kin dan Sara, memandang rendah pada gadis yang sedang terpojok.
Dia menepuk sebelah pipi Yakumo sambil tersenyum angkuh. "Huh? Anak buangan sepertinya menyukai Uchiha Sasuke? Kau sama sekali tidak pantas untuknya. Anak buangan ..." Logat british-nya keluar tanpa ia sadari, lagipula Ino memang blasteran Inggris dan Jepang.
Tubuh Yakumo menegang, nada suara Ino terdengar tidak seperti Ino yang dia kenal. Kepalanya mendongak untuk bertemu matanya yang memancarkan emosi tenang dan agak meremehkan. Selama ini Ino selalu diam, hanya berdiri di belakang Karin sama halnya Hotaru. Tapi kini dia tidak yakin apa akan tetap seperti itu.
Sara yang tidak tahan atas heningnya Yakumo, lantas habis kesabaran, dia membentaknya sambil mendorong kening Yakumo berkali-kali.
"Sadarlah! Kau tidak pantas bersanding bersama orang sepertinya. Yang pantas itu orang seperti aku. Bahkan kau sama sekali tidak bisa membela dirimu sendiri."
Merasakan tekanan depresi yang tumbuh, perutnya terasa melilit menghadapi begitu banyak penindas secara bersamaan.
Sakura menghela napas. Dia sudah lelah untuk mengamati teman-temannya bekerja sama dengan Sara—sebenarnya Karin dan Sara adalah saingan sekaligus mantan teman—lucunya membully korban yang sama, bahkan gadis merah muda tersebut tidak peduli bilamana Yakumo menangis atau bahkan bunuh diri. Yang dia inginkan hanya tidur di kasur empuknya, melupakan kata-kata kejam Sasuke, pernikahan ibunya, dan hanya kehidupannya yang membosankan.
Dia ingin sesuatu yang menarik.
"Oh, Sasuke!" pekik Sara sambil bangkit dari posisinya dan menghampiri seorang laki-laki yang sedang berjalan menuju tempat duduknya sendiri. Secara terang-terangan tak mengacuhkan dua orang gadis yang mulai mengerumuninya, meneriakkan sesuatu yang tidak jelas dan membuat kepalanya makin sakit.
Dia bersikeras untuk tidak pernah melihat ke arah Sakura yang berdiri mematung tanpa ekspresi, gadis berambut merah muda sibuk memperhatikan Kurama yang memandang lelaki itu.
Ino menatap antara sahabatnya serta Sasuke bolak-balik. Sedikit heran saat mereka bertingkah seakan tidak saling kenal. Biasanya tiap kali melihat Sakura bersama wajah cemberutnya yang biasa, Sasuke akan terus mengganggu hingga membuatnya marah padanya dan masa bodoh jika gadis itu memukulinya.
Itu pemandangan yang hangat untuk diingat. Makanya, aneh rasanya melihat Sasuke bersikap begini. Lain lagi dengan Sakura yang masih keras kepala, dia tidak mau mengampuni pria itu begitu mudah.
Ino mendesis, dia pikir dia tahu semuanya, tapi nyatanya Sakura masih tertutup pada mereka.
Ia memikirkan sebuah ide yang bakalan membuat mereka berdua berbaikan.
"Hei, bagaimana kalau kalian berdua berkencan?"
Karin dan Sakura menatap Ino bingung oleh sarannya yang tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Karin.
Gadis berambut pirang tersenyum miring, dia memindahkan kakinya hingga berhadapan lurus dengan Sakura. "Kau dan Sasuke ... berkencan. Kalian berdua terlihat cocok bersama. Selain itu, kau tidak pernah peduli soal 'cinta atau hal-hal romantis' lainnya." Menjentikkan kedua jarinya di antara wajah mereka.
Alih-alih terkesan, Sakura justru memutar matanya sinis. "Jika aku tidak peduli semua omong kosong itu, kenapa kau menghubungkan aku dengannya?"
Meski begitu, bukan hanya Yakumo yang mendengarkan, bocah laki-laki yang jadi bahan pembicaraan pun ikut menguping.
"Lagipula aku tidak punya waktu untuk melakukan hal bodoh." Sakura kembali ke tempat duduknya dengan langkah yang anggun dan arogan, tidak terlihat dibuat-buat.
Sasuke menyembunyikan mulutnya yang menyeringai tipis. Langsung menemukan pemikiran itu menyenangkan.
Ino sama sekali tidak terpengaruh oleh sindiran Sakura. Malahan, dia dan Karin kini gencar membujuk sahabat pink mereka.
"Apa terjadi sesuatu antara kau dan Sasuke? Dia terus menatapmu seakan-akan punya dosa padamu."
"Berisik, Ino bitch! Aku bersumpah kau lama-lama seperti babi yang melahirkan gajah!"
Ino terengah-engah dipanggil babi sementara dia punya tubuh yang langsing oleh Sakura. Tapi alih-alih marah, dia justru memeluk gadis itu dan memeriksa wajahnya. "Apa yang salah denganmu? Kenapa akhir-akhir ini kau sering mengumpat? Bayiku yang polos sudah tidak suci lagi."
Karin ikut bermain. Sambil menaikkan kacamata ke jembatan hidungnya, dia berdeham dan memalsukan suara detektif palsu. "Sepertinya ada iblis yang mempengaruhi tubuhnya. Kita harus melakukan pengusiran setan."
"APA? IBLIS? APA ITU SEBASTIAN MICHAELIS?"
"WAH! IDE BAGUS, AKU AKAN MEMASUKKAN KANEKI KEN SEBAGAI MUSUH!"
"KEN-KUN, SELAMATKAN ANAKKU YANG MALANG INI!" pekik Ino seraya menekan kedua pipi Sakura hingga membuat mulutnya seperti ikan. Dan segera gadis merah muda itu menampar tangan Ino, meninggalkan mereka berdua bermain drama sambil mengejarnya.
"SAKURA TUNGGU AKU!"
"ANAKKU, JANGAN TINGGALKAN IBUMU TERSAYANG!"
"Astaga ... apa yang kulakukan sampai punya teman seidiot ini."
A/N : aku akan membalas review lewat pm ya
