Bapjuseyo proudly present
This Is Gospel
NCT JaeDo / DoJae
Jung Jaehyun x Kim Doyoung
Yaoi, boys love, Mpreg
.
.
Disclaimer! Semua cast milik Tuhan, orang tua dan agency mereka. Kecuali Jeno punya saya [aw mlu bnget] Cerita ini hanya fiktif.
Enjoy!
.
.
This is gospel for the fallen ones
Locked away in permanent slumber
Assembling their philosophies
From pieces of broken memories
"Mom!"
Lamunan lelaki manis itu tersadar setelah mendengar seruan seorang bocah berusia sekitar 5 tahun yang kini duduk di sebelahnya.
Sontak lelaki manis itu menoleh dan tersenyum kecil.
"Mom melamun?" Tanpa harus bersusah payah menunggu jawaban, bocah itu membawa tubuh kecilnya untuk beralih duduk di paha Kim Doyoung –lelaki manis yang tengah tersenyum.
Doyoung menggeleng pelan, "Tidak. Mom tidak melamun."
Bocah itu mendengus. Merapatkan tubuhnya ke tubuh Doyoung, menyandarkan kepalanya nyaman di dada Doyoung. "Mom jangan sedih lagi. Aku kan sudah jadi anak baik."
Doyoung tertegun. Memang belakangan ini ia sering melamun. Bahkan terkadang menangis tanpa sadar. Sepertinya putra lelakinya sempat memergokinya tanpa ia sadari.
Ia kemudian melingkarkan lengannya pada tubuh kecil putranya, tak membiarkan jarak satu sentipun memisahkan mereka.
"Mom tidak sedih kok. Jeno jangan pernah tinggalkan mom ya?"
Pelukannya semakin erat. Yang lebih muda hanya mengangguk pelan sebelum akhirnya membuka suara, "Aku sayang mom. Aku janji akan selalu jadi anak baik dan menjaga mom seperti yang appa lakukan!"
Doyoung hanya terkekeh pelan sembari mengecupi puncak kepala Jeno berulang kali. Sesekali ia mengusap lembut surai kehitaman milik putranya.
Keduanya terlalu fokus berbagi kasih sayang sehingga tak menyadari sesosok pria baru saja masuk ke dalam apartement mereka. Sepasang matanya terus mengamati Doyoung dan Jeno, bibirnya tertarik membentuk seulas senyum kecil.
"Asik sekali ya mesra-mesraan sama mom sampai appa dicuekin."
Taeyong –pria itu mendaratkan tubuhnya tepat di sebelah Doyoung dan langsung dihadiahi tatapan oleh Doyoung dan Jeno.
"Kok mom saja yang dipeluk. Bagian appa mana?" Taeyong mengerucutkan bibirnya.
Jeno dengan cepat menggeleng dan menutup hidung dengan tangan kirinya, "Tidak mau. Appa bau!"
Dengan cepat, tangan Taeyong terulur untuk menggelitiki bocah itu tanpa ampun. Tidak memperdulikan Jeno yang sudah meraung-raung meminta perlindungan dari Doyoung. Sedangkan Doyoung hanya tertawa melihat dua orang yang sangat ia sayangi bercengkrama satu sama lain.
"Sudah hampir jam sepuluh kok jagoan appa belum tidur?" Taeyong akhirnya membuka suaranya setelah puas menyerang bocah itu. "Atau mau video game-nya appa sita?"
Jeno menatap Doyoung manja. Berharap lelaki manis itu membelanya dari ancaman sang ayah.
"Sita saja appa. Jeno sudah nakal sekarang."
Jeno mendengus. Bukan respon itu yang ia harapkan dari ibunya. Ia menggembungkan pipinya sebal sedangkan Doyoung hanya tertawa.
Tak butuh waktu lama untuk Jeno pergi ke kamarnya seorang diri dengan sebelumnya mencium pipi kedua orang tuanya dan mengucapkan salam selamat malam.
"Tidak perlu mom temani?" tanya Doyoung saat melihat Jeno melangkah meninggalkannya dan Taeyong.
"Aku kan sudah besar, mom! Selamat tidur. Aku sayang kalian."
Omongan Jeno mengudara begitu saja. Meninggalkan dua insan yang kini hanya terdiam takjub. Terlebih lagi Doyoung yang tanpa sadar menitikkan air matanya. Rasanya baru kemarin malaikat kecilnya lahir. Tapi ternyata kini ia sudah tumbuh menjadi anak yang mandiri dan penurut.
Sosok Jeno merupakan satu satunya hal paling berharga yang pernah ia dapatkan seumur hidup. Ia sungguh tidak mau kehilangan Jeno. Anak laki-laki yang selalu membuat harinya dipenuhi dengan kebahagiaan. Harta yang tak tergantikan oleh apapun.
"Do?" Taeyong memecah keheningan. "Kau menangis?"
Gelagapan, Doyoung buru-buru mengusap air matanya sembari menggeleng. Bohong. Dan Taeyong tau itu.
Sedetik kemudian, tangisan itu pecah meski tanpa suara. Dengan cepat Taeyong membawa Doyoung ke dalam dekapannya. Mengusap lembut surai hitam itu secara konstan.
Kalimat-kalimat manis yang keluar dari mulut Taeyong seakan tak mampu untuk menenangkan lelaki manis yang kini semakin terisak.
Taeyong merasakan kemejanya semakin basah karena air mata yang tak henti-hentinya turun. Semakin Jeno tumbuh besar, semakin besar pula rasa takut Doyoung akan Jeno yang suatu saat mungkin akan meninggalkannya.
Doyoung tidak mau itu terjadi. Ia butuh Jeno.
Sangat butuh.
Lebih dari apapun.
"Do. Kekhawatiranmu itu tidak akan terjadi. Percaya padaku."
Cengkraman tangan Doyoung pada kemejanya mulai melonggar. Doyoung menarik nafas panjang yang membuat Taeyong tersenyum kecil.
Taeyong mengusap pelan punggung yang lebih muda. "Aku bersumpah akan mengutuk siapapun yang berani menyakitimu termasuk diriku sendiri."
Punggung Doyoung berhenti bergetar –sudah berhenti menangis. Sekali lagi ia menarik nafas panjang dan ia hembuskan perlahan.
"Hyung kumohon jangan pernah tinggalkan aku."
.
.
.
.
Teriakan cempreng dan suara gelak tawa menggema di lingkungan taman kanak-kanak yang dipenuhi dengan anak-anak kecil –tentunya.
Jaehyun yang baru tiba di sana, melangkahkan kakinya menuju satu satunya bangku yang kosong di pinggir lapangan. Dengan sekejap, ia mendudukkan tubuhnya di bangku itu. Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman kanak-kanak. Sesekali memusatkan pandangannya jika ada anak yang menarik perhatian matanya.
Hari ini, ia ditugaskan untuk menjemput keponakannya dikarenakan kebetulan kakak perempuannya sedang ada urusan mendadak di luar kota. Mau tak mau, ialah yang diberi amanah oleh kakaknya.
Tanpa Jaehyun sadari, seorang anak kecil berdiri di sebelah bangku yang ia duduki. Merasa diperhatikan, secara refleks Jaehyun menolehkan pandangannya. Mereka bertemu mata sebelum akhirnya anak itu membuka suaranya.
"Permisi, paman. Boleh aku duduk di sini?"
Suaranya pelan dan sopan. Tangan kanannya menunjuk bangku sebelah Jaehyun ragu-ragu. Anak itu terus menatap Jaehyun, menunggu sampai yang lebih tua memberikan respon.
Canggung. Jaehyun segera mempersilahkan anak itu untuk duduk di sebelahnya. Tak butuh waktu lama untuk anak itu mendudukkan bokongnya di bangku kosong sebelah Jaehyun.
Sopan sekali. Jaehyun membatin. Pasti orang tuanya mendidiknya dengan benar dan bagus. Ia jadi tertarik untuk mengajak anak itu mengobrol.
Anak itu hanya diam menatap sepatunya. Sedangkan Jaehyun mulai menggeser duduknya ke arah anak itu yang semula sangat berjauhan.
"Kau tidak ikut main bersama teman-temanmu?"
Merasa diajak bicara, anak itu menoleh ke arah Jaehyun dan menggeleng pelan. "Tidak paman."
Jaehyun menangguk mengerti sebagai respon. Hening. Sepertinya anak ini pendiam. Atau mungkin ia diajarkan untuk tidak berbicara dengan orang lain. Begitu pikir Jaehyun.
"Eh Jeno! Bersama ayahmu ya?" suara cempreng kembali memecah keheningan yang melanda keduanya. "Baru kali ini aku melihat ayahmu."
"Bukan." Dengan cepat anak itu –Jeno menggeleng lalu menoleh ke arah Jaehyun. "Maaf ya paman. Temanku emang suka ngawur."
Jaehyun hanya tertawa kecil ke arah kedua anak itu. "Iya tidak apa-apa."
Jeno menggerakan tangannya seakan memberi gestur mengusir temannya. Merasa tidak enak pada om om di sebelahnya ini. Temannya hanya mencibir lalu pergi bergabung dengan anak-anak lain yang sedang bermain di area jungkat jungkit.
Tak selang berapa lama, sapaan seorang lelaki sampai ke telinga mereka berdua.
"Jeno!"
Kedua insan berbeda nama dan umur itu sontak menoleh ke sumber suara.
"Appa!" seru yang paling muda.
"Loh Taeyong hyung?" Jaehyun berdiri dari duduknya. "Ini anakmu?"
Yang ditanya diam saja. Melempar senyum sambil berjalan ke arah mereka dan disambut oleh pelukan erat Jeno di kakinya. Taeyong pun langsung membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
"Kata wali kelasmu, kau demam?" Taeyong menempelkan dahinya dengan dahi Jeno. Tak perlu mendengar respon dari Jeno, Taeyong sudah tau jawaban atas pertanyaannya itu.
Jeno hanya menggumam sambil menyenderkan kepalanya di bahu sang appa. Sesekali bergerak tak nyaman karena merasa ada yang salah dengan tubuhnya.
"A –aku baru tahu kau sudah punya anak hyung." Jaehyun yang semula diam mematung akhirnya membuka suara. Sedikit mengutuk dirinya sendiri karena gugup di depan orang yang sudah lama tak ia jumpai.
"Long time no see, Jeffrey." Tangan kanan Taeyong sibuk membelai rambut Jeno yang kini semakin nyaman di gendongannya.
Jaehyun menjawabnya dengan tawa singkat. "Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, hyung. Bahkan aku bertemu dengan anakmu."
Yang lebih tua menelan ludahnya. Ia memang sudah sekitar enam tahun tidak bertemu dengan sahabatnya ini. Atau mungkin lebih tepatnya mantan sahabat karena adanya perselisihan besar enam tahun lalu itu.
"Maaf tak bisa mengobrol denganmu lebih lama. Jeno harus segera minum obat dan istirahat."
Si empunya nama –Jeno menoleh ke arah Jaehyun dan tersenyum. Menampilkan deretan gigi susunya yang rapih.
"Sampai bertemu lagi, paman!" Serunya.
Taeyong berbalik arah dan berjalan. Membiarkan Jeno melambaikan tangan kepada orang yang baru saja ia kenal beberapa menit lalu. Dengan semangat, Jaehyun membalas lambaian itu. Berharap dapat bertemu lagi dengan anak manis itu.
Dalam sekejap, Taeyong mendudukan Jeno di kursi sebelah kemudi dan memasangkan seatbeltnya.
"Kamu mengobrol apa saja dengan paman itu, Jeno?" Tanya Taeyong lembut sembari menyiapkan dirinya untuk mengemudi.
Kaki bocah itu bergerak pelan seakan mengikuti irama lagu yang diputar untuk menemani perjalanan pulang mereka. "Tidak ada. Paman itu hanya bertanya karena aku tidak bermain dengan teman-teman."
Taeyong mengangguk sebagai jawaban. Matanya fokus pada jalanan. Sesekali bersenandung seiringan dengan lantunan lagu yang memenuhi ruang kecil itu.
"Tumben appa yang menjemputku? Mom kemana?" Jeno menoleh ke arah Taeyong meminta jawaban. Sedangkan yang ditanya hanya menengok sekilas lalu kembali fokus pada kemudinya.
"Mom sedang ada urusan pekerjaan sayang. Makanya appa yang menjemputmu." Jawabnya. "Kenapa? Kamu tidak suka ya kalau appa yang jemput?" lanjut Taeyong pura-pura kecewa.
Dengan cepat bocah itu menggeleng sekuat tenaga. "Tidak! Aku senang sekali appa bisa menjemputku seperti teman-temanku yang lain. Mereka selalu pamer kalau dijemput appa-nya."
Taeyong tertawa. Dalam hati meringis. Rasa bersalah mendadak menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia sekilas melirik Jeno yang masih tersenyum riang meskipun suhu tubuhnya sedang naik.
"Kalau begitu, appa akan lebih sering menjemputmu, oke?"
Kalimat itu disambut teriakan gembira Jeno. Kedua tangannya bertepuk antusias. "Yeay! Aku sayang appa!"
"Appa juga sayang Jeno!" Balas Taeyong tak kalah antusias.
Meskipun dalam hati, ia terus menerus melontarkan permintaan maaf yang tak ada akhirnya.
Maafkan aku dan Doyoung, Jeno.
.
.
.
.
.
to be continued.
.
Hello! Setelah cukup lama hiatus, akhirnya aku kembali membawa ff dengan cast NCT yang kedua. maafkan kalau bahasa dan penulisannya berantakan karena aku udah lama banget gak menulis hehehe.
Terima kasih sudah mampir dan membaca ff ini. Aku sangat mengharapkan kritik, saran, dan semangat dari kalian!
With love,
Nia.
