Bapjuseyo proudly present
This Is Gospel
NCT JaeDo / DoJae
Jung Jaehyun x Kim Doyoung
Yaoi, boys love, Mpreg
.
.
Disclaimer! Semua cast milik Tuhan, orang tua dan agency mereka. Kecuali Jeno punya saya [aw mlu bnget] Cerita ini hanya fiktif.
Enjoy!
.
.
.
This is gospel for the fallen ones
Locked away in permanent slumber
Assembling their philosophies
From pieces of broken memories
.
Malam yang tadinya dingin karena turunnya hujan tak berlaku di ruangan yang kini ditempati dua insan yang tengah bercumbu. Sang dominan tak henti-hentinya mengecupi bibir, leher, hingga bahu lelaki manis di bawahnya yang tak tertutup sehelai benangpun.
Tangan kanannya ia arahkan untuk mengambil sebuah botol pelumas dan memakaikannya di bagian yang seharusnya. Sedetik kemudian nyawa botol itu sudah hilang karena dilempar ke sembarang arah.
Dengan perlahan, sang dominan membawa miliknya ke depan lubang surga milik kekasihnya yang sudah sangat siap untuk dimasuki.
"Jaehyun, no –hh. You need to use that."
Lelaki manis itu dengan susah payah mendorong dada Jaehyun –sang dominan untuk menjauh. Memberi isyarat kalau ia tidak mau melakukan 'itu' tanpa pengaman.
Jaehyun berdecak sebal dan kembali merapatkan tubuhnya dengan tubuh lelaki itu. Menciumi lagi lehernya secara berulang-ulang dengan sesekali menggigitnya kecil. Membuat si manis kembali mendesah.
"I like it raw, baby."
Lelaki manis itu hanya bisa mendesah pasrah ketika Jaehyun mulai mendobrak masuk ke dalamnya. Mengerang tak berdaya ketika Jaehyun tak membiarkan dirinya beradaptasi dengan benda asing di bagian tubuh bawahnya.
Tak lama, desahan frustasi namun penuh ekstasi itu memenuhi tiap sudut ruangan itu. Kedua tangan lelaki manis itu ia gunakan untuk meremas bicep Jaehyun yang tak henti-henti memompanya di bawah sana.
"J –Jaehyun. There –hh. Oh God, there."
Merasa bahwa ia telah menemukan spot tepat milik kekasihnya, Jaehyun berada di atas angin. Ia mengeluarkan miliknya perlahan dan memasukkannya secara cepat. Membuat lelaki di bawahnya mendesah keras.
"AHH JAEHYUN."
Lelaki itu mencengkram erat sprei yang sudah berantakan itu ketika merasa dirinya akan sampai. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri menikmati permainan Jaehyun. Menggigit bibirnya sendiri keras untuk menahan desahan yang siap meluncur kapan saja.
Jaehyun yang melihat itu tidak suka. Ia menangkup pipi lelaki manis itu, mengusap bibir semanis gula-gula itu dengan ibu jari sebelum mengecupnya.
"Moan my name, baby. Let me hear those beautiful sounds."
Sang dominan tersenyum puas saat indra pendengarannya kembali mendengar alunan merdu yang keluar dari mulut lelaki di bawahnya.
Lelaki manis itu mengerang keras ketika ia sampai pada puncaknya, diikuti dengan Jaehyun yang sampai 2 menit setelahnya.
Jaehyun masih setia berada di atas lelaki itu. Menggunakan kedua lengannya yang berada di kanan dan kiri kekasihnya sebagai tumpuan. Mereka sibuk mengucapkan kalimat-kalimat cinta melalui tatapan mata.
Keduanya berlomba untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Seakan tidak ada lagi stok oksigen di muka bumi ini.
Jaehyun menatap lelaki manis itu dengan lembut sebelum mengecup sekilas bibir basahnya.
"Another round, Kim Doyoung?"
.
.
.
.
.
Tepi sungai Han. Di sinilah Doyoung sekarang. Tak henti-hentinya berlari mengejar Jeno yang begitu antusias bermain di tempat terbuka nan luas ini.
Sesekali Doyoung membetulkan posisi tali tas ransel yang berisi peralatan lengkap mengurus Jeno yang turun karena ia terus berlari.
"Jeno, tunggu!"
Yang dipanggil tidak menoleh. Malah semakin semangat untuk berlari menjauhi sang ibu.
"Ayo mom kejar aku!" serunya diselingi tawa.
Doyoung semakin mempercepat langkahnya sebelum akhirnya berhasil menggenggam tangan mungil itu.
"Gotcha!"
Yang digandeng hanya diam saja –menurut. Mengikuti langkah yang lebih tua. Menikmati semilir angin serta pemandangan yang menyejukkan.
Langkah mereka pelan, sesekali tertawa bersama saat ada topik lucu yang muncul di sela perbincangan mereka.
Keduanya memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman yang dilengkapi dengan meja untuk istirahat dan mengisi energi mereka.
Doyoung mengeluarkan dua buah kotak makan, membuka tutupnya dan meletakkannya tepat di depan Jeno.
Mata Jeno berbinar melihat susunan rapih kimbab buatan Doyoung dan buah berwarna-warni pada kotak makan yang satunya.
Dengan cepat, ia mengarahkan kedua telapak tangannya ke depan Doyoung sambil tersenyum manis. "Mom. Help me, please?"
Doyoung tertawa. Tangannya bergerak mengambil selembar tisu basah dan langsung menyapukannya pada tangan anaknya perlahan.
"Selamat makan!" seru yang lebih muda sebelum memasukan sepotong kimbab ke dalam mulutnya. Mengunyahnya perlahan seakan ingin menikmati butir demi butir nasi berselimut rumput laut itu selama mungkin.
"Enak tidak?" tanya Doyoung dengan sepotong apel di tangan kanannya.
Jeno tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sambil mengacungkan kedua ibu jarinya kepada Doyoung.
Lagi-lagi Doyoung tertawa. Anaknya ini memang selalu bisa membuat hari-harinya semakin menyenangkan. Tak peduli segelap apapun kehidupannya, Jeno selalu mampu memberikan berbagai macam warna di dalamnya.
Jeno mengambil sepotong kimbab lagi dan mengarahkannya ke yang lebih tua, "Mom, aaa~"
Dengan senyum cerah di wajahnya, Doyoung langsung melahap kimbab itu dan mengusak pelan rambut Jeno.
"Terima kasih, sayang."
Jeno terkekeh pelan sembari kembali menyuap kimbab untuk dirinya sendiri. Ia bangga. Ia bersumpah dalam hati akan terus membuat ibunya tersenyum.
"Kasihan sekali appa tidak bisa melihat senyum cantik mom karena sibuk sekali dengan laptopnya di rumah."
Mata Jeno mengarah ke kotak makan yang berisi buah. Berpikir buah mana yang akan ia makan terlebih dahulu.
Namun tatapannya beralih pada sebuah anggur yang berada di tangan Doyoung. Memperhatikan dengan seksama lihainya jemari Doyoung mengupas kulit buah berbentuk bundar itu.
Tanpa bicara apa-apa, Doyoung langsung menyuapi anggur itu kepada Jeno. Membuat yang lebih muda menari-nari di tempat –karena senang memakan buah kesukaannya.
Hari ini, Doyoung benar-benar dibombardir dengan ledakan kelucuan dan keluguan Jeno. Ia benar-benar bersyukur Tuhan memberikannya malaikat kecil dalam hidupnya.
Ia terlalu sibuk menikmati tarian polos Jeno sampai tak menyadari bahwa ada sepasang mata memperhatikan gerak-gerik mereka. Berjalan mendekati keduanya yang tengah berada di dunianya sendiri.
"Kim Dongyoung!"
Merasa terpanggil, dengan spontan Doyoung menoleh ke sumber suara. Menelan ludahnya gugup ketika melihat sesosok lelaki yang sangat dikenalnya.
"G –Gongmyung hyung?"
.
.
.
.
.
Suasana mencekam meliputi ketiga orang yang tengah duduk di ruang makan. Yang paling muda tak henti-hentinya meremas ujung kausnya sembari terus menunduk. Tak berani untuk menunjukkan wajahnya kepada dua orang di dekatnya. Terutama yang tertua.
Sedangkan yang tertua –Gongmyung mengusap kasar wajahnya sebelum akhirnya menghela nafas berat.
"Jadi selama ini kau merahasiakannya dariku dan eomma appa dengan tinggal di sini bersama Taeyong?"
Yang ditanya tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan kakaknya.
"Dan kau Lee Taeyong ikut membantu Doyoung merahasiakannya?"
"I –iya hyung." Berbeda dengan Doyoung, Taeyong lebih memilih untuk menjawab pertanyaan sang tertua dengan lisan.
Lagi, Gongmyung mengusap wajahnya. Seakan masih tak percaya cerita yang baru saja didengarnya sekitar empat puluh menit lalu.
Ia mengarahkan pandangannya pada Doyoung yang masih setia menundukkan kepalanya. Rasanya ingin sekali memeluk adik kecilnya itu, mengusap kepalanya dan melontarkan kalimat-kalimat penenang.
Tapi entah kenapa tubuhnya seolah menolak melakukan itu. Ia terlalu kecewa, sedih, marah, namun senang dapat bertemu kembali dengan adiknya. Perasaannya campur aduk sekarang.
"Maafkan aku, hyung."
Setelah sepuluh menit tanpa percakapan, yang paling muda memberanikan diri untuk membuka mulutnya. Menatap takut-takut kakak kandungnya sekilas dan kembali menundukkan kepalanya.
Tahu suasana akan berubah, Taeyong beranjak dari kursinya menuju kamar Jeno yang tengah terlelap sejak sampai rumah tadi.
Gongmyung menggeser kursinya ke dekat Doyoung. Merubah posisi duduknya dan adiknya menjadi berhadapan.
Tangisan yang sudah ditahan begitu lama akhirnya pecah. Air mata turun tanpa perintah. Mengalir begitu saja melewati pipi tirus seorang Kim Doyoung.
"Aku selalu saja mengecewakan hyung." Ucapnya pelan. "Aku benar-benar minta maaf."
Tangan kanan Gongmyung terulur untuk mengusap surai itu lembut. Sesekali menepuknya pelan, bermaksud untuk menenangkan.
"Ini sudah terjadi dan kau tidak akan pernah bisa memutar balik waktu." Ucap Gongmyung. "Aku mungkin kecewa. Tapi aku tidak mungkin kecewa pada keputusan Tuhan, kan?"
Doyoung mengangkat wajahnya. Menatap kakak kandungnya yang kini tersenyum lembut.
"Tuhan mempercayakanmu untuk menjaga Jeno dari dunia ini."
Jemari Gongmyung menghapus jejak-jejak air mata di pipi Doyoung. Sementara Doyoung sibuk mengatur nafasnya yang sesegukan sambil terus menatap kakaknya.
"Hyung –"
"Kau terlalu banyak merepotkan Taeyong. Bereskan barang-barangmu dan Jeno dan pindah ke apartemen baru bersamaku."
Doyoung rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya sekarang. Bagaimana bisa kakaknya begitu cepat memaafkan kesalahannya yang sangat besar ini. Doyoung bahkan belum bisa memaafkan dirinya sendiri karena begitu bodoh.
Ia menatap Gongmyung ragu-ragu, "Tapi hyung –"
"Cepat atau lambat, Jeno pasti tahu kalau Taeyong bukan ayahnya." Seakan bisa membaca pikiran, dengan cepat Gongmyung menjawab pertanyaan yang bahkan belum Doyoung lontarkan.
Doyoung tertegun. Memikirkan pernyataan Gongmyung tadi. Ya. Cepat atau lambat, Jeno pasti mempertanyakan hal-hal yang berhubungan dengan ayahnya.
Dilihatnya kembali wajah kakak kandungnya sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Doyoung yakin Jeno pasti paham seiring berjalannya waktu.
.
.
.
.
Jaehyun berjalan menyusuri koridor taman kanak-kanak. Sesekali memfokuskan pandangannya jika ada objek yang menarik perhatian matanya.
Terkadang berdiam diri untuk mengamati foto anak-anak kecil yang berbaris rapih yang di tempel di depan masing-masing ruang kelas.
Ia sangat suka dengan anak kecil. Menurutnya, berinteraksi dengan anak kecil dapat menghilangkan stress karena tingkah lugu anak kecil selalu sukses membuatnya terhibur.
Pandanganya tertuju pada ruang kelas yang ia yakini adalah kelas keponakannya, Park Siyeon. Ia kemudian mengintip dari jendela kelas, menyaksikan belasan anak sedang bercengkrama dengan orang yang Jaehyun yakini adalah guru mereka.
Ujung bibirnya tertarik membentuk seulas senyum kecil ketika matanya berhasil menangkap sosok anak perempuan yang cantik dan sangat familiar –keponakannya.
Ruangan itu tidak kedap suara. Tentu samar-samar Jaehyun bisa mendengar suara canda tawa khas anak kecil dari ruang kelas tersebut.
"Ayo sebelum pulang, duduk yang manis dulu." Samar-samar Jaehyun mendengar suara dari dalam kelas. "Yang paling rapih, boleh keluar duluan."
Sedetik setelah kalimat itu diucapkan, Jaehyun dapat mendengar ributnya suara bangku yang digeret dan bertabrakan satu dengan yang lainnya. Tak berapa lama, kelas menjadi hening. Semua anak-anak di dalam ruang kelas sedang berlomba menjadi anak dengan duduk yang paling rapih.
Jaehyun tertawa kecil. Lihat? Bahkan dengan kelakuan sepele pun anak kecil mampu membuat Jaehyun terhibur.
"Huang Renjun kamu boleh keluar lebih dulu." Terdengar teriakan gembira yang Jaehyun yakin adalah suara kegirangan dari anak bernama Huang Renjun. Tak lama, Jaehyun bisa melihatnya keluar dari kelas.
Jaehyun sendiri sedikit antusias karena ia penasaran. Apakah keponakan cantiknya itu bisa masuk dalam kandidat anak-anak yang duduk rapih atau tidak.
"Jung Jeno, kamu selanjutnya ya." Whoops. Masih bukan Park Siyeon. Jaehyun membatin.
Senyuman Jaehyun seketika luntur ketika melihat sosok anak laki-laki yang baru saja keluar.
"Jeno?" ucapannya pelan tapi mampu membuat si empunya nama menoleh lalu tersenyum girang.
"Loh? Paman yang waktu itu!" Jeno berlari kecil menghampiri yang lebih tua.
Jaehyun tersenyum canggung ketika anak itu sampai di depannya. Ia sedikit mengerutkan keningnya. Sedikit tidak percaya dan meyakinkan diri sendiri bahwa ia tadi salah dengar.
"Jadi namamu Jeno?" anak itu mengangguk semangat.
Jaehyun melirik ke arah pintu kelas ketika ada yang keluar, memastikan itu keponakannya atau bukan.
"Kau anak Taeyong hyung kan?" kali ini Jeno menggeleng pelan namun tak ada rasa ragu.
Yang lebih tua menelan ludahnya, "L –alu margamu?"
"Jung!" seru Jeno yakin. Ia sangat hafal namanya karena saat ia bandel, pasti ibunya selalu memanggilnya dengan nama lengkapnya.
Jaehyun terdiam –sedikit melamun menatap anak laki-laki itu. marganya bukan Lee. Tapi Jung. sekali lagi, Jung.
Lamunan itu tak bertahan lama ketika anak perempuan menubruk kaki Jaehyun. Spontan, Jaehyun langsung menoleh dan menemukan keponakan tersayangnya di sana.
"Wah Siyeon. Ini ayahmu ternyata?" tanya Jeno penasaran.
Yang ditanya hanya mencibir. "Bukan. Ini pamanku yang sangat menyebalkan." Ia tertawa kemudian.
Mau tak mau Jaehyun ikut tertawa garing sembari berjongkok. Menyamakan tingginya dengan 2 anak kecil itu, lalu menatap Jeno penuh tanda tanya.
"Boleh aku tau orang tuamu?" tanya Jaehyun penasaran. Karena menurut ingatannya, ia hampir kenal semua teman Taeyong bahkan sampai mantan kekasihnya Jaehyun hafal.
Baru saja menarik nafas untuk menjawab pertanyaan Jaehyun, matanya menangkap sosok yang sangat dikenal melambaikan tangan kepadanya.
"Mom!"
Seru Jeno keras. Membuat kedua orang lainnya –Jaehyun dan Siyeon menoleh mengikuti arah pandangan Jeno.
Menemukan sosok lelaki manis yang kini menunjukkan ekspresi terkejut bukan main.
Tak jauh beda dengan Jaehyun yang kini membelalakkan kedua matanya seolah tak percaya dengan pemandangan yang ia saksikan sekarang.
"Doyoung hyung?"
.
.
.
.
.
to be continued.
.
.
.
Hai!
Sejujurnya aku gak pede banget sama tulisanku T_T takut gak rapih, alur kecepetan, dan kurang berkesan buat kalian yang baca. Tapi terima kasih buat review, favs, dan follow kalian ya. Aku sangat hargain itu. I love you, guys!
Ohiya. Any JohnTen or Noren shipper here? Aku berencana bikin ff mereka setelah ini.
Doa ku saat ini cuma semoga ff ini bisa selesai sebelum bulan maret. Mesti rajin—rajin update deh HAHAHA.
Oke sekian dulu dari aku, selamat valentine dan selamat ulang tahun Jaehyun!
With love,
Nia.
