Tittle : Bangtan Squad from Hell

Author : Jun_96

Genre : Crime/friendship/lil bit romance

Cast :

Namjoon Kim (Rapmon) 24 tahun

Seokjin Kim (Jin or Jinnie) 26 tahun

Yoongi Min (Suga ) 25 tahun

Hoseok Jung (J-hope) 24 tahun

Jimin Park ( Jimin or Baby J) 23 tahun

Taehyung Kim (V) 23 tahun

Jungkook Jeon (jungkook or… bts member call him Kookie) 21 tahun

Pairing :

Namjin

Yoonmin

Jikook

Taejin

Summary: Rapmon sang ketua geng mafia ingin mendirikan kelompok mafia yang tak terkalahkan. Namun dia butuh anggota yang kuat dan tak terkalahkan, karena itulah dia berada di Arkazam, untuk menjemput calon rekannya. (Namjin, Yoonmin, Jikook, Taejin,dll) (Jin & Jimin uke, Rapmon yonggi Taehyung Jungkook Jhope Seme)

.

.

Note: sebelumnya Jun minta maaf Updatenya rada lama, karena Jun ada keperluan akhir akhir ini. Sebagai gantinya Chapter ini Jun panjangin, walaupun Jun gak tau kalian suka apa enggak, karena jujur Jun lagi hilang mood akhir akhir ini. Bukan hilang mood buat nulis sih tapi hilang mood dalam kehidupan pribadi. Jadi maaf kalau tata bahasa dan lain-lain di FF ini jelek atau apa karena mood Jun lagi labil. Tolong maklumi orang labil yang berusaha menghilangkan kegalauannya dengan menulis FF tidak jelas ini.

.

.

.

.

Los Angles…

.

Gedung XXXX

.

Siang yang indah di condominium yang di huni para penjahat kita. Sudah terhitung lima hari sejak kaburnya mereka dari Arkazam dan kepindahan mereka ke sini. Suasana canggung antar anggota sudah tak begitu terasa karena duo korea Jhope dan V yang menjadi mood maker di antara mereka. Seperti saat ini, Jhope, dan V masih asyik mengganggu Jimin dan Jungkook yang sedang bermain game di ruang tengah, Jin sedang memainkan salah satu ponsel Rapmon yang di pinjamkan padanya sambil tiduran di pangkuan Suga, yang di jadikan bantal pun hanya mengelus ngelus pistol kesayangannya sambil melihat kebodohan anggota-anggota muda mereka. Kalau begitu di mana sang leader? Pagi tadi Rapmon bilang dia akan ada urusan sebentar, semua member pun tak ambil pusing dengan kemana perginya sang leader karena itu bukan urusan mereka.

.

.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara Rapmon yang memasuki condominium itu. Dari apa yang terlihat dia membawa beberapa barang yang terlihat rumayan berat.

.

"guys! Tolong perhatiannya sebentar" Rampon mendudukan diri di salah satu kursi di sofa, dan mengintrupsi member-membernya dengan nada serius. Yang lain pun dengan patuh mulai mendekat ke arah Rapmon.

"kita harus segera pergi dari tempat ini!" ujar Rapmon dengan nada yang serius bukan main.

"kenapa? Apa ada masalah? Bukankah tempat ini akan jadi base camp kita?" Tanya Jin yang tiba tiba was was.

"tentu saja kita akan dapat masalah jika terus berada di tempat ini. Cepat atau lambat kita pasti akan tertangkap jika berada di sini terus, tempat ini terlalu mencolok untuk penjahat seperti kita. Lagi pula di sini terlalu sempit untuk kita semua. Menempatkan dua orang dalam satu kamar itu ide yang buruk kalian butuh privasi" jelas Rapmon.

"iya kau sangat benar itu ide buruk. Jika di terus kan aku bisa gila setiap malam mendengar desah si jalang itu dan berakhir dengan aku menghamili bocah hacker itu" ucap Suga seketika yang membuatnya mendapat pukulan geratis di kepala dari Jin dan tundukan malu dari Jimin.

"heol! Ini baru pertemuan awal dan kalian sudah making love?" Jhope melihat ke arah Rapmon dan Jin dengan tatapan tidak percaya.

"lalu apa masalahnya? Kau mau? Tunggu giliran ya" Jin menjawab dengan santai.

"aku mau, Dan aku akan dengan sabar menunggu giliran" V menanggapi dengan nada menggoda.

"huh! Telinga ku sakit mendengar obrolan cabul kalian. Disini ini tidak ada bedanya dengan tempat prostitusi" Jungkook hanya menggeleng geleng frustasi.

"ekhem! Back to topic, untuk pindah dari sini kita butuh banyak uang. Dan yang ku maksud adalah sangat banyak. Karena kita harus membeli rumah baru, membeli perlenkapan dan persenjataan dan juga kendaraan. Untuk itu hari ini kita mulai oprasi" Rapmon menlanjutkan penjelasan yang sempat terputus oleh obrolan tak penting membernya.

"tinggal merampok bank saja apa susah nya. Di sana tak hanya banyak uang tapi banyak emas dan benda berharga lainnya" ucap jhope enteng.

"aku juga memikirkan hal itu, dan aku juga sudah memikirkan bank mana yang akan kita jarah. Tapi masalahnya bank di Amerika dengan bank di korea tidak sama. Bank di Amerika kususnya bank incaran ku punya ke amanan tingkat dewa. Untuk kemampuan ku yang sekarang jujur aku tidak bisa memrampok di sana sendiri atau dengan anggota Rach yang lama. Aku bahkan tidak bisa membobol data base bank itu."

"kalau begitu cari bank lain yang lebih mudah bisa kan?" v menanggapi.

"aku mengincar sesuatu di bank itu. Di sana ada sertifikat kepemilikan jet pribadi salah satu pengusaha kaya. Jet nya sudah ada di tangan ku, tapi tanpa surat itu aku tidak bisa menerbangkannya yang artinya jetnya tidak bisa di pakai. "

"pakai jet pribadi segala memang kita akan pindah jauh?" Tanya Jin.

"ya! Kita akan pindah sedikit jauh. Kau tidak rindu dengan kampung halaman mu Jinie?" Rapmon tersenyum ke arah Jin. Jin hanya memutar mata menanggapi perkataan Rapmon. 'dari banyak tempat di dunia kenapa harus Paris' batin dongkol Jin. Bukan tidak suka, hanya saja Jin malas jika harus nostalgia dengan masa lalu nya di kota cinta tersebut.

"kapan mulainya?" Tanya Suga yang masih sibuk dengan pistol di tanganya.

"malam ini, maka dari itu sekarang kita harus buat rencana" jawab Rapmon.

"hyung! Intrupsi! Kita ini masih pake nama Rach? Maksudku kita ini di rekrut untuk melengkapi Rach atau kita ini gabung di grup baru" pertanyaan yang tidak terlalu penting tiba tiba di lontarkan V.

"oh Lord! Pertanyaan bodoh mu itu sungguh tidak penting!" Jungkook menyerah dengan group matte nya yang satu itu.

"aku tidak ingin menyebut kalian Rachs, karena aku tidak merekrut kalian untuk Rach bagi ku Rach sudah berakhir. Tapi aku ingin membentuk squad baru"

"kalau begitu kasih nama baru saja!" ujar ceria Jhope.

"bagaimana kalau Bangtan!" sahut V. "Bangtan artinya bulletproof dalam bahasa korea. Aku terpikir nama itu setelah melihat profile data kita semua di laptop yang Jimin pakai, dan ternyata kita semua keturunan korea. Maka dari itu aku pakai bahasa korea"langjutnya dengan antusias.

"Bangtan? Bangtan… nama yang cukup bagus!"ujar Rapmon.

"mudah di dengar dan terdengar keren, bisa bermakna tak terkalahkan. Aku suka!" sahut Jin.

"ada yang tidak setuju?" Tanya Rapmon sambil memandangi membernya satu persatu, dan dari ekspresi mereka tidak ada penolakan. "fix! Kita adalah Bangtan mulai sekarang!"

"kembali ke rencana, lalu bagaimana cara kita membobol system bank itu" omangan Jhope membuat semua member kembali focus ke masalah awal.

"nah itu yang akan ku bicarakan dengan kalian! Intinya kita bagi tim menjadi tiga. Satu tim bertugas membobol sIstem dari dalam, satu bertugas menjarah harta juga menebar bom dan satu tim untuk memantau dan mengahabisi saksi." Rapmon menggelar denah Bank incaran mereka di meja kopi yang ada di tengah tengah mereka.

"aku mulai paham. Kau bermaksud mengirim Jimin dengan satu anggota lagi untuk membobol sistem bank dari dalam. Tim berikutnya berisi tiga orang yang ber tugas menjarah harta adalah Jhope dan dua anggota lain. Sedang Suga kau pasang untuk berjaga dan membunuh saksi dari jauh" Jin mulai menyimpulkan sambil membuat tanda pada denah yang tergelar di depannya. Rapmon yang mendengarnya hanya mengangguk ngangguk setuju, karena memang yang jelaskan Jin sangat tepat.

"ternyata kau bukan jalang biasa" ujar Suga dengan nada merendahkan.

"sekarang kau tau kan kenapa aku memilihnya." Rapmon tersenyum dengan bangga, pilihannya memang tak pernah salah.

"ku pikir dia hanya akan menjadi penhangat ranjang mu" Suga berujar remeh

"berani bilang begitu lagi akan ku buat kau hilang kewarasan, lepas baju dan terjun dari atas gedung!" Jin mendekatkan wajahnya ke arah suga sambil memegangi dagu sniper itu. "lagi pula aku sudah tau kelemahan mu, akan ku buat semua fantasi liar mu menjadi nyata setelah itu ku ubah itu semua menjadi mimpi buruk yang perlahan membunuh mu" Suga menyingkirkan tangan Jin dengan kasar.

"ekhem! seperti yang Jin bilang, Jimin akan masuk menyelundup untuk membobol sistem bank dari dalam, dan Jungkook kau yang akan mengawalnya!" Rapmon melanjutkan penjelasan.

"kenapa aku? Bukan kah akan lebih baik kalau aku yang menjarah hartanya sepertinya tenagaku lebih berguna di sana!" Jungkook sedikit keberatan dengan keputusan leader itu.

"Harus ada yang menjaga Jimin saat dia merentas sistem, dan kurasa kau orang yang tepat untuk itu" tatapan mengerikan Rapmon membuat si maknae ini bungkam, satu hal yang di pelajarinya dari sini adalah jangan pernah membantah apa pun yang leader katakana atau kau akan tewas.

"Jhope, V dan Jin! Kalian bertugas mengambil uang dan menebar bom. Aku dan Suga hyung akan memantau dan juga mengambil tidakan saat hal buruk terjadi. Kalian mengerti?" anggukan dari semua member menjadi jawaban pertanyaan Rapmon.

"aku sudah menyiapkan semua peralatannya, kita akan mulai jam 1 dini hari" Rapmon mengeluarkan senyuman khas nya yang di sambut senyuman sejenis oleh member lain.

.

.

.

LA Central Bank

.

Rencana perampokan pun mulai di jalankan. Rapmon dan Suga sudah memilih tempat pemantauan mereka yang berada di gedung yang terletak di tepat di samping bank. Bangunan luar bank hanya di lapisi oleh kaca jadi sangat membantu pengintaian seperti ini, karena mereka bisa melihat dengan jelas aktifitas yang ada di dalam bank tersebut. Rapmon terlihat sibuk dengan beberapa monitor karena ia berusaha menyambungkan sisi tv dari ruang keamanan bank ke jajaran laptop yang ia bawa. Sedangkan Suga mempersiapkan Barret M82 miliknya dan tidak lupa memasang alat pengintai jarak jauh di matanya. Bagi Suga ini seperti nostalgia, sudah lama sekali ia tak menjamah M82 'anak' kesayangannya ini. Beberapa menit bergelut dengan peralatan pos pengintai pun sudah siap. Rapmon memberi tanda pada Jhope, Jin dan V yang berada di tempat terpisah untuk siaga di pintu pintu selain pintu utama. Sedangkan Jimin dan Jungkook yang menyamar sebagai orang dalam, akan lewat pintu khusus karyawan yg akan jaga malam, karena pintu utama akan di tutup saat malam.

.

.

Saat ini Jimin dan Jungkook mulai memasuki area pintu masuk bank. Dengan segala gadget canggih yang ia bawa Jimin berusaha agar ia dan Jungkook bisa lolos dari sistem ke amanan bank yang benar kata Rapmon sangat susah di tembus. Biasanya, Jimin hanya butuh 15 detik untuk menghack pintu masuk karyawan di museum atau bank di Jepang, namun di sini ia butuh waktu sekitar 1 menit untuk membuat system kemanan bank agar dapat menerima kartu pengenal palsunya. Untung saja dia bisa beralasan pada satpam disana kalau kartu tanda pengenal karyawanya sedikit error dan bodohnya satpam itu percaya.

.

.

Rapmon bisa melihat dari monitornya saat Jimin dan Jungkook mulai menuju bagian dalam bank. Di bagian dalam kantor bank masih ada beberapa pegawai yang bekerja, sejauh ini Jimin dan Jungkook belum di curigai. Rapmon memerintahkan Suga untuk menembak salah satu orang yang berada di dekat tempat Jimin dan Jungkook berada, tujuannya untuk membuat keributan sehingga perhatian orang dalam bank tersebut tertuju pada kegaduhan itu. Setelah tembakan suga menewaskan dua orang penjaga bank, keributan pun di mulai. Karyawan yang tadinya berada di kantor semua panic dan menuju pintu keluar. Melihat tanda itu, Jimin dan Jungkook menuju bagian kantor yang lebih dalam yaitu ruang tempat server dari semua sistem dan data base bank. Ruangan itu di lindungi dengan sistem yang sangat ketat, sistem pengaman nya di buat berlapis lapis dan sangat susah di rentas.

.

.

Saat Jimin mulai terlarut dan focus akan kegiatan meng hack nya, ada dua orang penjaga yang datang. Tak tinggal diam Jungkook langsung membereskan dua orang itu dengan mudahnya, tapi beberapa detik setelah itu terdengar suara segerombolan penjaga datang. Rupanya Jimin dan Jungkook sudah di waspadai sejak mereka masuk. Jujur saja, Jungkook juga pikir pikir kalau harus membunuh orang sebanyak itu, bisa bisa dia yang habis karena dari suaranya sepertinya ada sekitar 25 orang, dan jangan remehkan penjaga bank karena mereka sama profesionalnya dengan polisi, lagi pula mereka pasti membawa senjata semua bisa habis Jungkook pastinya. Jimin mulai panic mendengar suara itu, saat dia menoleh pada Jungkook, Jungkook sudah hilang entah kenama.

.

"Jungkook-kun? Jungkook-kun kau di mana? Ya Tuhan aku harus bagaimana?" muncul suatu ide saat Jimin melihat mayat dua penjaga yang baru di bunuh Jungkook. "Tuhan… aku tau ini dosa tapi tolong selamatkan nyawa ku kali ini!" Jimin menggigit bibirnya hingga berdarah, mengacak rambut nya sampai berantakan dan menyobek sebagian dari kemeja yang ia pakai, lalu dengan belati yang di bawa mayat petugas itu dia menusukannya pada sang pemilik. 'aku tidak membunuh kok Tuhan, mereka sudah mati di bunuh Jungkook' batin Jimin dalam hati.

.

Tak lama kemudian segerombolan penjaga itu datang dan mendapati Jimin tengah menangis dalam ke adaan kacau sambil membawa belati yang penuh dengan noda darah.

.

"Jangan bergerak! Apa yang sudah kau lakukan!" kata salah satu penjaga bank.

"Hisk! aa-aku! Ddu-dua orang itu mau memperkosa ku…hisk! Dan.. tanpa sengaja aku membunuh mereka! Hisk! Ssu-ssungguh… aku tak bermaksud… aku..aku tidak sengaja! Hisk!" keadaan Jimin yang terlihat sangat memperhatin kan di tampah tangisannya yang semakin pilu mumbuat hati para penjaga itu sedikit terenyuh.

.

Bagaimana tidak terenyuh saat kau melihat sesosok berparas malaikat kini tengah menangis sendu dengan darah mengalir di sudut bibirnya, rambut dan pakaian acak acakan dan belum lagi tubuh mulusnya yang terekspos sempurnah karena bajunya telah terkoyak parah. Oke yang terakhir itu harus di di beri tanda kutip karena selain merasa kasihan mereka semua yang ada di situ juga mulai tergoda keindahan yang di suguhkan di hadapan mereka. Salah satu penjaga yang kelihatannya seperti ketua dari para penjaga itu, memerintahkan yang lain untuk pergi dan mengurus mayat dua penjaga itu, dia berkata jika dia sendiri yang akan mengurus Jimin. Dan sebenarnya tujuan ketua penjaga itu menyuruh yang lain pergi, tak lain dan tak bukan adalah untuk memonopoli mahluk indah di depannya ini. Sebelum membawa jimin ke kantor polisi si penjaga itu berniat untuk mencicipi tubuh jimin terlebih dahulu. Penjaga itu mendekati Jimin dan mengambil belati yang ada di tangan Jimin.

.

"tenang… kau sudah aman!" kata petugas itu sambil menghapus air mata Jimin.

"hisk! Benarkah aku sudah aman?hisk!

"tentu! Setelah ini ikut dengan ku sebentar ya!" petugas itu membantu Jimin berdiri, namun Jimin tiba tiba memeluknya.

"terimakasih…. Dan maaf…" Jimin menusukan jarum dengan obat bius di dalamnya kepada penjagaitu.

.

Penjaga itu merasa ada yang menusuknya bagian lehernya dengan jarum kecil, dia baru sadar jika Jimin yang melakukannya dan ketika dia ingin melakukan perlawanan kepada Jimin kesadarannya mulai hilang. Jimin mendorong tubuh penjaga yang sudah tidak sadarkan diri itu hingga tergeletak lemas di lantai. Setelah itu Jimin bergegas melanjutkan kegiatannya merentas sistem keamanan ruang pusat itu. Tepat setelah pintu terbuka Jimin merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya.

.

"AAA! Jungkook-kun kau membuat ku kaget!" teriak Jimin kaget. "kau kemana saja tadi, kanapa tiba –tiba hilang? Ah sekarang itu tidak penting, yang penting kita masuk dulu" Jimin menarik Jungkook masuk ke ruang itu, yang membuat Jungkook terheran-heran. 'hatinya terbuat dari apa? Dia tidak marah sama sekali tadi ku tinggal menghadapi penjaga-penjaga itu' batin Jungkook.

.

Setelah masuk, Jimin langsung berkutat dengan computer server yang ada di sana dan memberi tanda pada yang lain kalau dia sudah membuka semua akses masuk bank. Setelah itu Jhope, Jin dan V mulai beraksi. Jhope menuju beberapa ruangan yang di tunjuk rapmon saat rapat untuk meletakan bom, Jin bertugas membuka brangkas bank dan V bertugas melindunginya.

.

"guys! Aku sudah buka semua aksesnya kalian bisa masuk! Area Brangkas juga sudah aku matikan system pengamannya, tinggal kalian buka kuncinya!" jimin menghubungi rekannya lewat alat komunikasi yang mereka bawa.

.

Dan di sini lah Jin di depan brangkas utama Bank. Brangkas Bank ini sangat besar, ukurannya sekitar 20x15 meter. Pintunya seperti pintu berangkas biasa hanya saja sangat besar. Ada kunci pengaman angka classic dan kunci pengaman digital yang melindungi pintu itu. Dan inilah alasannya mengapa Jin di tugaskan untuk menjarah harta, karena hanya dia dan Jimin yang bisa memecahkan kode ke amanan Bank yang menggunakan perhitungan matematis yang sangat rumit. Sebenarnya Rapmon juga bisa hanya saja dia ada tugas lain setelah ini.

.

.

Sudah sekitar 2 menit Jin berkutat dengan kunci digital brangkas itu dan akhirnya kunci pertama terbuka. Yang selanjutanya adalah kunci kombinasi angka pelindung brangkas model classic. Dengan berbekal alat yang menyerupai stetoskop berukuran besar, Jin mulai mencoba membuka brangkas itu. V yang berjaga tak jauh dari Jin kini sedang sibuk menghabisi para penjaga yang semakin banyak berdatangan kea rah mereka.

.

Di tempat ruang pusat server bank, kini Jimin sedang menutup semua akses bank agar tidak ada bantuan baik penjaga atau polisi dari luar yang bisa masuk. Jimin mengaktifkan sistem keamanan darurat bank sehingga semua akses masuk bank tertutup dan terhalang teralis besi. Dia juga mematikan saluran telpon dan saluran komunikasi lain di bank, jadi otomatis orang luar tidak bisa berbuat apa apa. Sedangkan Jungkook sudah di perintahkan untuk membantu V di area dekat berangkas.

.

Dari luar Suga mulai mengeksekusi para penjaga yang ada di luar dan yang dapat ia jangkau dengan senapannya. Dia telah membunuh sekitar 20 penjaga dan 5 pegawai bank yang baru saja keluar dari gedung, termasuk setiap orang yang berusaha menghubungi pihak luar.

.

Setelah 10 menit berlalu, V dan Jungkook berhasil membunuh semua penjaga yang ada di dalam degung, jumlahnya sekitar 15 orang, dan tak lama setelah itu Jhope datang. Mereka berempat masuk ke brangkas yang telah di buka Jin sekitar 5 menit yang lalu. Di dalamnya kita bisa melihat banyak sekali tumpukan uang, emas dan benda berharga lain. Tak perlu membuang waktu V, Jhope dan Jungkook pun segera menggasak harta sebanyak mungkin dari sana, sedangkan Jin berusaha mencari surat kepemilikan dan izin terbang pesawat jet pribadi yang di maksud Rapmon dan juga surat penting lain yang mungkin berguna.

.

.

Dan setelah puas dengan barang jarahan yang mereka ambil mereka pun keluar dari brangkas itu.

"Jin hyung! Aku sudah membuka akses ke atap gedung. Segeralah kesana Rapmon hyung menggu kalian!" ujar Jimin melalui alat komunikasi yang terpasang pada semua member bangtan.

.

"bagus! Guys kita ke atap!" seru Jin pada Jhope, V dan Jungkook. Mereka semua berbahu tangan mendorong sebuah alat mirip troli hotel namun lebih besar yang berisi uang, emas, permata dan lainnya ini kea rah lift menuju bagian paling atas gedung.

.

Setelah sampai di atap, mereka sudah di sambut dengan tangan terbuka oleh Jimin, Suga dan Rapmon yang berada di kemudi helicopter. Harta jarahan mereka di angkut ke dalam helicopter dan setelah beres semuanya mereka pun masuk dan mulai lepas landas. Beberapa detik setelah lepas landas, bangunan Bank itu hancur lebur karena ledakan dari bom yang Jhope pasang.

.

"Kerja bagus guys! Kita pulang membawa keberhasilan besar!" kata Rapmon dari kursi kemudi Helicopter lengkap dengan senyuman khas nya.

.

.

.

Condominium Gedung XXXX

.

"hey bocah kemari kau" ucap Suga setelah memasuki apartemen mereka.

"aku?" Jungkook menunjuk dirinya sendiri dan setelah itu dia mendekat ke Suga. Tapi setelah mendekat Suga langsung memukul wajahnya dengan sangat keras.

"hei hei hei! Ribut ribut apa ini! Suga! Kenapa kau memukul Jungkook!" Jin datang dan menengahi mereka berdua.

"hey bocah! Apa kau sebodoh itu sampai tidak paham apa tugas mu!" Suga kembali melayangkan pukulan pada Jungkook hingga pipi dan dahinya lebam.

"hyung!" Jimin mendekat pada Suga.

"tugas mu melindungi Jimin jika dia tertangkap bukan malah sembunyi bangsat!" Suga akan memukul Jungkook lagi namun di cegah oleh Jimin.

"hyung sudah! Aku gak papa kok!" ujar Jimin sambil memegangi lengan Suga.

"berhenti bersikap sok baik, kurang sedikit saja kau akan kembali mendekam di penjara, dan itu karena bocah tidak berguna ini!" Suga menatap tajam kea rah Jimin.

"apa yang terjadi?" Tanya V, yang hanya di jawab sendikan bahu oleh Jhope.

"Jeon Jungkook!" nada mengerikan keluar dari mulut sang Leader. Rapmon yang baru saja masuk apartement mereka langsung paham kemana arah pertengkaran ini.

"aku akan memberi mu peringatan Jungkook. Hari ini kau tidak melaksana kan tugas mu." Ucap Rapmon dengan tegas dan tatapan mengerikan belum lepas di wajahnya. Seluruh member yang melihat rapmon di buat bungkam seribu bahasa.

"peduli setan, kita semua penjahat dan harus nya kita bisa melindungi diri sendiri tidak merepotkan orang lain untuk menjaganya" emosi Jungkook juga mulai tersulut karena semua seolah memojokannya. Rapmon menarik dan menhempaskan tubuh Jungkook ke dinding dengan sangat brutal.

"kau dengar baik baik bocah sialan! Kau sudah setuju menjadi anggota ku, berarti kau harus mengikuti semua peraturan ku. Kau dan keegoisan mu hampir membahayakan Jimin, aku menyuruh mu melindungi Jimin bukan karena dia lemah dan tidak bisa menjaga diri, Jimin bahkan bisa saja membunuh mu jika dia mau, tapi aku ingin dia focus dalam membobol sistem keamanan yang rumit dan butuh konsentrasi tinggi itu dan tugas mu untuk menyingkirkan siapa pun yang mengganggu Jimin buka meninggalkannya dan sembunyi." Rapmon mengambil pisau lipat dari saku nya dan dengan cepat megarahkannya ke leher Jungkook.

"camkan ini di otak mu itu bocah! Jangan hanya karena kau itu pembunuh bayaran terkenal maka kau bisa seenaknya dan menganggap yang lain lebih rendah dari mu. Kau memang sudah jadi pembunuh lebih lama dari semua yang ada di sini, tapi kau itu belum pernah melihat dunia yang sesungguhnya. Ayah mu menyuruh mu keluar hanya untuk membunuh target mu dan setelah itu kau di kurung lagi di kediaman Jeon. Kau tak ubahnya seperti anjing pemburu yang hanya keluar untuk menunaikan tugas majikannya dan setelah itu di kurung. semua yang ada di sini kecuali kau sudah pernah merasakan apa yang namanya neraka." Rapmon menggoreskan sedikit pisau nya pada leher Jungkook hingga darah segar sedikit mengalir di lehernya.

"ini peringatan terakhir untuk mu. Jika kau sampai berbuat bodoh lagi aku tak segan segan membunuh mu!" Rapmon menambah luka goresan di leher Jungkook kemudian pergi meninggalkannya.

.

Semua memberpun menuju peradaban masing masing, dan menyisakan Jungkook yang penuh luka dan Jimin yang menatapnya khawatir.

.

"kau tidak papa? Duduklah dulu, aku akan mencari sesuatu untuk mengobati mu" Jimin membawa Jungkook untuk duduk di sofa ruang tengah setelah itu ia meninggalkan jungkook sebentar untuk mencari kotak obat.

.

Setelah mengelilingi condominium dalam beberapa menit barulah Jimin bisa menemukan kotak obat yang ia cari. Dia pun mendekat ke arah Jungkook dan duduk di samping si pembunuh bayaran itu. Dengan telaten Jimin membersihkan luka di leher, pipi dan dahi Jungkook.

.

"Pergi! Tidak usah sok baik pada ku. Kau senang kan aku di salah kan seperti tadi" Jungkook menyingkirkan tangan Jimin dari wajahnya dengan kasar.

"Biarkan aku mengobati luka mu setelah itu aku tak akan mengganggu mu!" Jimin masih terus mengobati Jungkook walaupun sesekali Jungkook menghempaskan tangannya dengan kasar.

"sebenarnya kau itu siapa?" Jungkook menatap dalam Jimin.

"aku? Aku Park Jimin" tawab Jimin yang masih sibuk dengan kegiatan mengobatinya.

"apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?"

"menurut mu?"

"aku tidak pernah sekalipun melihat mu, tau nama mu saja dari artikel"

"begitu ya… berarti kita tidak pernah bertemu…" raut kecewa mulai terlukis di wajah manis Jimin walau ia merusaha menyembunyikannya dengan senyuman.

"lalu kenapa kau bersikap sok baik pada ku?" perkataan Jungkook membuat Jimin tersenyum kecil.

"apakah perbuatan baik selalu harus ada maksudnya? Jika yang lain melakukan hal buruk pada ku aku juga hanya bisa menerimanya. Tidak ada yang aneh tentang sikap ku pada mu sekarang" Jimin melanjutkan kegiatan mengobati nya.

"dasar orang aneh, apa kau ini benar benar penjahat. Kau terlalu baik untuk jadi penjahat"

"kau salah besar jika menggap ku orang baik Jungkook-kun… karena orang baik tidak akan membunuh dan mencuri apa yang bukan milik nya" Jimin melilitkan perban ke leher Jungkook.

"tinggal kan sufiks Jepang itu. Kau terdengar norak dan kampungan."

"baiklah jika itu yang kau mau." Jimin tersenyum sangat manis.

"kau juga terluka…" Jungkook memperhatikan bibir plum berisi Jimin lalu mengusap sudut bibir Jimin yang ternodai oleh darah yang mengering.

"hanya luka kecil, nanti juga sembuh sendiri" wajah Jimin sedikit merona. 'shit! Kenapa dia imut sekali' batin jungkook dalam hati.

.

Entah Jungkook hilang kesadaran atau apa, tapi yang jelas kini ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jimin. Tepat saat jarak mereka tidak lebih dari 5cm Jimin mulai memejamkan matanya. Seperti mendapat persetujuan Jungkook pun makin memperpendek jarak di antara mereka. Dan di detik berikutnya Jungkook malah mendorong tubuh Jimin sangat keras hingga Jimin terjungkal ke sisi pinggir sofa.

.

"dasar jalang! Apa kau selalu menyerahkan diri pada semua lelaki yang ada di depan mu? Kau benar tentang aku yang yang salah besar telah menganggap mu orang baik, karena jalang seperti mu lebih menjijikan dari pada pembunuh keji" Jungkook beranjak meninggalkan Jimin yang tertunduk dan mulai terisak.

.

Tangisan Jimin makin menjadi. Hantinya sangat terluka mendengar perkataan kasar yang di lontarkan Jungkook untuknya. Saat Jimin masih tenggelam akan ke sedihannya tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang tersampir di bahunya. Ketika Jimin mendongakan kepala ia melihat Suga di depannya sedang memasangkan jaket ke tubuhnya.

"baju mu sobek, kau harus ganti baju" ujar Suga dengan tenang.

"hyung…hisk!" Jimin tidak bisa bicara lagi, tangisan membuat suaranya susah keluar.

"pikirkan diri mu sendiri sebelum memikirkan anak bodoh itu" Suga mengusap-ngusap kepala Jimin. Melihat Jimin sudah mulai tenang, Suga lalu menggendong Jimin dan meletakannya di ranjang kamar mereka. "tidur, dan tenangkan pikiran mu!" Suga keluar dari kamarnya dan Jimin.

.

Jimin menggelung tubuhnya di atas kasur sambil melanjutkan tangisnya hingga dia terlelap. Di luar kamar Suga menyandar kan diri di pintu kamarnya. 'aku tak mengerti kenapa aku begitu perduli dengan mu' monolog Suga dalam hati.

.

.

.

Keesokan harinya…

.

Seperti pagi pagi sebelumnya, Jin selalu bangun pagi untuk menyiapkan sarapan untuk member Bangtan lainnya. Entahlah, semenjak pindah menjadi anggota Bangtan ia merasa memiliki tanggung jawab untuk merawat yang lainnya karena dia paling tua. Walaupun dia tidak pernah memberitau member lain tentang umurnya, dia bahkan membiarkan Suga dan Rapmon memanggil namanya tanpa embel embel hyung agar tidak ada yang menyadari dia yang paling tua.

.

"Morning Sunshine!" V memeluk Jin dari belakang.

"Morning Tae! Tidur nyenyak semalam?" jawab Jin yang masih sibuk dengan masakannya. Jangan tanya dari mana Jin tau nama asli V karena V sendiri yang menyuruh memanggil nama aslinya ketika mereka hanya berdua.

"pastinya! Setelah mendapat uang banyak seperti semalam tidak mungkin aku tidak tidur nyenyak" V menyusukan kepalanya ke tengkung Jin dan menghirup dalam aroma khas si cantik itu.

"baguslah kalau begitu, kita akan pindahan jadi hari ini akan sangat melelahkan. " Jin mematikan kompornya dan membalikan badan menghadap V.

"Morning Kiss?" V melingkarkan tangannya pada pinggang Jin.

.

Jin mengalungkan tangannya ke leher V dan mulai menciumnya. Tapi jangan kira jika ini hanya kecupan biasa, karena jika V dan Jin sudah mulai bercumbu maka lumatan, jilatan dan desahan tidak pernah absen dari rutinitas mereka ini. Saat level kegiatan panas mereka semakin intens, saat itu juga Jimin keluar dari kamar dengan wajah kusut khas gadis yang semalam suntuk menangisi cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Jimin memekik cukup keras saat melihat adegan dewasa di depannya, yang benar saja ini masih pagi dan dia di suguhi pemandangan saling melumat V dan Jin di tambah dengan tangan V yang sudah ada di dalam baju yang di kenakan Jin, Heol. Jin yang sadar akan kedatangan Jimin langsung mendorong V menjauh dari nya.

.

"oh Jiminie!" Jin sedikit salah tingkah karena tertangkap basah, namun sedetik kemudian raut khawatir terpancar di wajah cantiknya. "Jiminie ada apa? kau habis menangis semalaman?" Jin menghampiri Jimin dan memeluknya. V juga mendekat kea rah Jimin karena penasaran.

"hyung…" Jimin balas memeluk Jin. Dia bingung harus cerita pada Jin atau tidak.

"cerita sama hyung ada apa, siapa yang membuat mu menangis!"

"tidak apa apa hyung" Jimin makin menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Jin.

"itu tidak menjawab pertanyaan" sahut V yang ada di samping Jin.

"apa kau habis bertengkar dengan Jungkook?" tebak Jin yang tidak mendapat respon apa apa dari Jimin.

"berarti benar kau ada masalah dengannya. Jimin… kau tau kan Jungkook itu masih sangat muda, dia masih sering bersikap kekanak kanakan jadi maklumi dia ya" Jin mengusap-usap Punggung Jimin mencoba menengkan dongsaeng manisnya ini.

"dia membenci ku hyung" gumam Jimin.

"percaya pada hyung, dia tidak akan sanggup membenci mu selamanya."

"ku harap begitu hyung" Jimin mendongakan kepalanya menatap Jin.

"Aigoo… imutnya adik ku ini!" Jin makin erat memeluk Jimin sampai Jimin susah napas.

"hey hey Jin kau mau membunuh Jimin!" Suga baru keluar dari tempat persenjataan dan melihat Jimin di aniaya Jin.

"siapa bilang aku membunuhnya, aku gemas padanya!" Jin melepaskan pelukannya. "kau tidur di ruang senjata semalam?" pertanyaan Jin di balas gumaman malas oleh Suga.

"kenapa kau tidur di sana Hyung?" Tanya V.

"hanya ingin" jawab singkat Suga yang kini menuju dapur untuk mengambil minum.

"oke karena kalian sudah bangun sarapanlah dulu, aku akan membangunkan yang lain" ujar Jin.

"Jungkook tadi malam tidur di mana? Aku tidak lihat dia di ruang tengah?" Tanya Jimin pada Jin yang hanya di jawab sendikan bahu karena Jin memang tidak tau kemana Maknae itu.

.

Suga yang mendengar hal itu hanya menatap Jimin dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, dan seolah sangat peka Jimin mendekat pada Suga setelah itu menggenggam tangan Suga dan tersenyum sangat manis pada sniper itu. 'tak akan ku biarkan ka uterus terluka karena mengejar bocah manja itu Jimin' batin Suga saat melihat senyuman Jimin yang sangat indah dan menenagkan.

.

.

TBC

.

.

.

Oke oke akhirnya selesai juga chapter ini…..

Fiuh… Jun gak nyangka ni Chapter kelar juga, karena Jun ada Job mendadak jadi tiba tiba sibuk gitu dan gak bisa cepet Update.

Jun gak pernah bosen buat ngucapin terimakasih sama semua yang udah baca FF ini, terutama buat yang rivew, kalian special banget di hati Jun #ecie…#

Untuk chapter selanjutnya Jun gak janji bisa update cepet, karena Jun masih ada Job panggilan lagi untuk dua hari kedepan.

Bersyukur sih dapet rejeki tapi jadi gak bisa nyalurin hobi…hehehe

Jun masih belum bisa bales Review satu satu ya. Tapi Jun baca semua kok, Jun pengen banget bales tapi gak ada waktu. Jadi mungkin chapter depan.

Dan buat yang baca dan ngikuti FF ini tolong… tolong Review biar Jun juga semangat ngelanjutin. Jun itu suka banget baca review kalian dan suka ketawa ketawa sendiri pas baca.

Sampai Jumpa Chapter depan

.

XOXO

Junra