Tittle : Bangtan Squad from Hell
Author : Jun_96
Genre : Crime/friendship/lil bit romance
Cast :
Namjoon Kim (Rapmon) 24 tahun
Seokjin Kim (Jin or Jinnie) 26 tahun
Yoongi Min (Suga ) 25 tahun
Hoseok Jung (J-hope) 24 tahun
Jimin Park ( Jimin or Baby J) 23 tahun
Taehyung Kim (V) 23 tahun
Jungkook Jeon (jungkook or… bts member call him Kookie) 21 tahun
Pairing :
Namjin
Yoonmin
Jikook
Taejin
Summary: Rapmon sang ketua geng mafia ingin mendirikan kelompok mafia yang tak terkalahkan. Namun dia butuh anggota yang kuat dan tak terkalahkan, karena itulah dia berada di Arkazam, untuk menjemput calon rekannya. (Namjin, Yoonmin, Jikook, Taejin,dll) (Jin & Jimin uke, Rapmon yonggi Taehyung Jungkook Jhope Seme)
.
.
Note: kalau bisa baca sampai bawah ya! banyak typo dan gak terlalu merhatikan huruf capital, mohon di maklumi ngetiknya buru buru. jujur Jun sibuk jadi nyuri nyuri waktu luang buat ngetik ini FF.
.
Paris, Prancis
Mansion XXX
Kepindahan bangtan ke Paris memang sudah di rencanakan matang oleh sang leader. Dia membeli mansion besar di pinggiran kota paris yang memiliki pemandangan indah dan letaknya yang sepi dari keramaian, yah sesuai lah dengan jumlah nominal yang di keluarkan Rapmon untuk rumah itu. Mansion ini sangat luas, memiliki banyak ruangan di dalamnya dan segala fasilitas mewah seperti kolam renang, mini bar, helipad dan masih banyak lagi. Untuk saat ini semua member bangtan telah mendapat ruangan mereka masing masing, mereka juga mendapat kendaraan pribadi dan fasilitas yang mereka minta.
.
Hari ini, tepat tiga minggu setelah kepindahan mereka ke Paris member bangtan mulai di sibukan dengan aktifitas pribadi mereka. Aktifitas ini berkaitan dengan rencana bangtan untuk oprasi selanjutnya. Contohnya seperti Suga dan Jhope yang mempersiapkan persenjataan dan menyiapkan senjata baru kreasi mereka, yang sengaja mereka rancang untuk setiap member bangtan sesuai dengan karekteristik cara bertarungnya. V dan Jungkook mereka sibuk dengan latihan fisik dan bela diri untuk mempertajam kemampuan bertarung mereka. Rapmon sang leader sangat sibuk mencari informasi untuk sasaran berikutnya, dia juga sibuk mencari anak buah dan relasi bisnis di luar sana.
.
Sedangkan kedua uke cantik jelita kita ini tidak terlalu sibuk sebenarnya. Bukannya tidak ada tugas, hanya saja mereka menyelesaikan tugas mereka dengan cepat dan sempurna. Sebenarnya Jimin di beri tugas untuk membuatkan identitas palsu dengan meng hack data kependudukan untuk para member. Dia juga bertugas untuk mengurus kepemilikan mansion dan kendaraan yang bangtan miliki juga menggali beberapa informasi guna memperlancar rencana mereka kedepan tapi dia menyelesaikan itu semua dalam waktu kurang dari satu hari. Kalau Jin, dia di tugaskan untuk membuat rancangan rencana dan dan mencari info dari beberapa kenalannya di Paris juga memulai lagi perdagangan barang haramnya yang sempat terhenti selama dia di penjara, dia juga bertanggung jawab mempersiapkan mental member lain dengan memberi mereka konsultasi ke jiwaan atau lebih tepatnya cuci otak supaya mereka semua focus dengan tujuan mereka. Khusus nya untuk Jungkook, anak itu sudah tiga kali mendapat konsultasi karena semenjak Rapmon memperingatkannya dia yang awalnya memang pendiam sekarang menjadi lebih penjiam lagi, dia juga sering tidak focus dan kurang bersemangat dalam persiapan kegiatan selanjutnya. Selain tugas untuk memantau Jungkook sebenarnya Jin sudah menyelesaikan semua tugasnya, dia bahkan sudah melebihi ekspektasi Rapmon dengan memperluas relasi di bidang perdagangan senjata dan barang terlarang atas nama Bangtan.
.
Seperti yang di bilang tadi, karena Jin senggang dan merasa bosan di mansion besar ini, dia memutuskan akan keluar untuk mengurus beberapa kepentingan dan pergi jalan-jalan di pusat kota.
"Jimin-ah, sibuk? Hyung masuk ya" ujar Jin yang baru memasuki kamar Jimin.
"aku gak sibuk kok hyung, cuman lagi maen game. Emang ada apa hyung?" Jimin mem Pause game nya dan perpaling menghadap Jin yang tengah duduk di kasurnya.
"hyung akan ke pusat kota, kau mau ikut?"
"ke kota? Ngapain hyung? Ketemu klien?
"enggak sih… hyung mau ambil sesuatu di apartemen hyung yang lama dan sekalian jalan-jalan, emang kamu gak bosen di sini terus?"
"bosen sih hyung, aku udah gak ada kerjaan. Iya deh aku mau ikut hyung!" Jimin mendudukan diri di samping Jin. "sekalian ajak Jimin muter muter Paris ya hyung, Jimin gak pernah ke sini sebelumnya" Jin hanya menjawab Jimin dengan anggukan dan senyuman.
.
Setelah ganti baju dan membawa beberapa uang, Jin dan Jimin pamit ke pada yang lainnya takutnya nanti Rapmon mencari mereka berdua.
.
"Suga hyung, V, Hope hyung! Aku dan Jin hyung mau keluar sebentar, nanti kalau kami belum pulang tolong sampaikan ke Rapmon hyung ya!" Jimin dan Jin masuk ke salah satu ruangan di mansion itu yang merupakan ruang persenjataan dan pengembangan alat.
"mau kemana emangnya?" Tanya Jhope
"aku ada perlu di Paris sebentar, dan aku mau mengajak Jimin jalan-jalan. Tugas kami sudah beres dan kami butuh penyegaran otak!" jawab Jin santai.
"bawa ini!" Suga memberi Jin dan Jimin masing masing sebuah pistol.
"untuk apa hyung? Bukan kah mengerikan jika jalan jalan membawa ini?" Jimin membolak balik senjata yang di berikan Suga.
"untuk jaga jaga Jimin, pertahanan diri" sahut Jin.
"tapi…. Hyung… seriusan deh, aku gak pernah pake beginian, dan aku juga gak tau cara pakenya" ucapan polos Jimin langsung membuat semua yang ada di ruangan itu ber Jaw drop ria.
"heol! Yang benar saja! Kau ini penjahat bukan sih Jim, lalu selama ini dengan apa kau membunuh orang?" Tanya V yang heran setengah mati.
"sebenarnya aku tidak suka membunuh orang, hanya kalau sedang benar benar berada dalam hidup dan mati saja aku membunuh, dan itu pun dengan racun atau tangan kosong"
"itu malah semakin terdengar lebih mengerikan! Tapi seriusan kamu gak tau cara pakenya?" sahut Jhope yang di jawab gelengan imut dari Jimin.
"kau cukup arahkan pistol itu ke sasaran mu dan tarik pelatuknya!" kata Suga sambil menunjuk pelatuk pistol di tangannya.
.
Jimin melihat pelatuk pistol yang ada di tangannya dan secara tidak sadar dia mengarahkannya ke V dan masih tanpa sadar menarik pelatuknya sambil berkata "seperti ini?". Jhope yang ada di sebelah V reflek menarik V agar menghindar dari tembakan Jimin, terlambat seper sekian detik saja pasti peluru itu sudah menebus kepala V. Jimin yang kaget dengan perbuatannya sendiri langsung melempar pistol itu ke lantai.
"Ya Tuhan! Apa yang ku perbuat!" ujar Jimin histeris.
"wow! kau punya Balance stroke yang cukup bagus!" Suga tersenyum bangga.
"aku setuju dengan Suga hyung, tapi tidak kepala teman mu juga yang kau jadikan percobaan Park Jimin" Jhope masih mengusap ngusap kepala V yang tadi hampir menjadi sasaran empuk peluru Jimin.
"maaf kan aku V… aku gak sengaja tadi… aduh maaf ya…!" Jimin menhampiri V dan memeluknya. Jujur V masih Shock bung. Di tidak menyangka Jimin akan menembaknya tadi. Walaupun Penjahat V juga manusia, dia bisa lengah juga.
"Jimin-ah…" V memanggil Jimin dengan memasang wajah blanknya.
"iya iya V maaf kan aku! Tadi aku tidak sengaja!" Jimin masih memeluk dan mengusapi kepala V.
"iya aku mau jadi pacar mu…" mendengar ucapan absurd V Jimin langsung melepas pelukannya.
"hah? Kau bilang apa? V" Jimin masih belum paham dengan teman alien nya yang satu ini.
"kau tadi menembak ku kan, iya… aku menerima mu Jimin" muka blank masih belum hilang dari wajah V. dan mendengar ucapan V barusan membuat semua orang yang ada di ruangan itu sweat drop ria. 'Tuhan! Dia itu manusia bukan sih!' batin Jin, Jimin, Suga dan Jhope.
"bodoh! Kau tadi di tembak secara harfiah, bukan kiasan! Kurang sedikit saja kau akan pergi ke neraka lebih cepat dari jadwal Tuhan" Jhope menjitak kepala V agar anak itu sadar dari delusi anehnya.
"Sudah! Sudah! Yang penting V tidak apa apa!" sahut Jin.
"Jimin-ah! sementara kau bawa pistol yang ku berikan tadi. Setelah ini akan ku buatkan pistol yang cocok untuk mu agar kau juga nyaman memakainya!" suga memberikan pistol yang sempat di buang Jimin ke pada pemiliknya.
"tidak hyung, aku gak mau pakai benda itu lagi!, nanti kalau aku salah tembak lagi gimana?" Jimin menjauh dari Suga yang sedang menyodorkan pistol padanya.
"tembakan mu bagus! Kau punya bakat dalam hal itu. Aku yakin 'kau tidak akan salah sasaran lagi'. Latihan bersama ku mulai besok dan ku pastikan kurang dari seminggu kau akan pro dalam hal menembak!" Suga berusaha meyakin kan Jimin.
"kenapa kau sangat yakin Hyung? Aku saja tidak yakin aku bisa memakai benda itu. Lagi pula itu menakutkan hyung!"
"bakat tidak bisa di sembunyikan Jimin-ah! selain punya kemampuan dalam mengutak-atik bilangan biner dalam pemrograman, kau juga punya bakat dalam hal akurasi, dan tidak semua orang bisa langsung membidik kepala saat dia baru pertama memegang pistol. Anggap saja aku berlebihan tapi kau memang paling berpotensi untuk menjadi penjahat ulung di antara kita bertuju" Suga menarik tangan Jimin dan memberikan pistol itu padanya.
"dia benar, kita ber tujuh memang punya kelebihan masing masing, tapi yang paling fleksible itu kau Jimin. Kau punya otak yang cerdas, badan yang cukup kuat, kelincahan, kecepatan, adaptasi yang bagus, kau bisa belajar sesuatu dengan sangat cepat dan yang pasti wajah polos mu itu point plus karena kau tidak terlihat seperti penjahat sama sekali. Kalau saja kau punya hati busuk seperti ku, kau pasti sudah bisa menguasai dunia Jimin-ah" ucap jujur Jin. Bukannya Jin iri, hanya saja kadang dia gemas sendiri dengan Jimin karena dengan semua kemampuan yang ada dalam dirinya, Jimin cenderung membatasi diri dan tidak memanfaatkan bakatnya.
"baiklah akan ku simpan ini! Tapi kau tidak janji akan memakainya nanti karena aku masih belum terbiasa. Aku akan memakainya saat aku sudah lulus dari latihan mu hyung!" Jimin tersenyum manis kea rah Suga.
"jadi aku dan Jimin tidak jadi pacaran?" V sungguh merusak suasana.
"ih… siapa yang mau pacaran dengan alien aneh seperti mu! Pacaran saja sama peluru yang akan menembus otak mu!" setelah menhadiahi V dengan jitakan mesra, Jimin langsung meninggalkan ruangan itu sambil menggandeng Jin.
.
.
…...
.
.
Other side….
.
Setelah melihat mobil Jin dan Jimin keluar dari garasi, Jungkook langsung melesat menuju kamar Jimin yang letaknya berhadapan dengan kamarnya hanya di batasi oleh tangga menuju lantai bawah. Sebelum masuk, dia memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Dia tidak ingin di tegur Suga yang menurutnya kelewat perhatian pada Jimin.
.
Di dalam kamar Jimin, Jungkook melihat sederet set computer dan perangkat lainnya terpasang rapi di sisi ruangan dan ranjang queen size juga deretan lemari di sisi yang berlawanan. Jujur ini baru pertama kali semenjak mereka pindah Jungkook masuk ke kamar atau lebih tepat di sebut ruangan Jimin Karena kamar member bangtan itu tidak ada yang sempit, ukurannya sama dengan luas apartemen. Mungkin Jungkook sering ke ruangan V dan Jhope untuk bermain, Ke ruangan Suga dan Rapmon untuk mendapat pengarahan dan ke ruangan Jin untuk konsultasi, tapi untuk ruangan Jimin bagi Jungkook tempat ini sungguh asing.
.
Sebenarnya, tujuannya kemari adalah untuk menyelidiki siapa sebenarnya Park Jimin itu. Jungkook seperti familiar dengan wajah Jimin tapi seingatnya dia tidak pernah mengenal Jimin sebelumnya selain dari artikel dan surat kabar yang memuat namanya, itu pun hanya nama samaran saja.
.
Selama di Bangtan Jimin sangat baik padanya, bisa di bilang kelewat baik malahan. Bagaimana pun sikap kasar yang di berikannya pada Jimin, lelaki manis itu tidak pernah marah dan benci padanya. Jungkook selalu membentak dan berbuat kasar pada Jimin bahkan dia pernah meninggalkannya saat tugas, namun Jimin selalu bertingkah seolah tidak terjadi apapun dan malah terlalu perhatian dengannya. Perhatian sungguh tidak wajar bagi Jungkook, Jimin selalu membawakannya makanan jika lupa makan, membawakan minum dan handuk saat usai latihan, membawakan bantal dan selimut jika Jungkook tertidur di sofa atau di tempat lainnya di mansion, Jimin selalu mengistalkan game keluaran terbaru yang bahkan belum di rilis perusahaan yang Jungkook inginkan, membereskan ruangan Jungkook saat Jungkook tidak ada dan banyak lagi. Heol! Ibu kandung nya saja tidak sampai seperti itu merawatnya.
.
Jungkook tidak yakin dia bisa menemukan petunjuk di sini, karena seingatnya waktu masuk ke Arkazam, narapidana tidak di perbolehkan membawa benda apapun, dan seingatnya mereka keluar dari sana pun juga tidak membawa apapun kecuali baju yang melekat di badan.
.
Jungkook mencoba melihat isi laci dan lemari Jimin, namun ia tidak menemukan barang yang bisa di jadikan petunjuk. Saat hampir putus asa, Jungkook melihat sederet gadget Jimin yang ada di meja kerja Jimin tepatnya di antara perangkat-perangkat computer yang ada di meja Jimin. Jangan kaget jika melihat gadget Jimin yang jumlahnya bisa di bilang sangat banyak karena itu semua untuk mempermudah pekerjaannya dan juga sarana yang di berikan Rapmon padanya karena Rapmon memang memanjakan membernya dengan fasilitas mewah yang mereka minta tak terkecuali gadget sampai dengan kendaraan. Tapi sepertinya yang di minta Jimin tidak aneh aneh, hanya beberapa tablet PC dan Smartphone saja selain set computer yang berjajar indah di kamarnya.
.
Di antara kumpulan gadget itu, perhatian Jungkook tertuju pada hp berwarna putih dengan merek Ap*e yang dia yakini pasti ada sesuatu di sana. Kalian semua salah jika mengira Jungkook tidak memperhatikan Jimin sama sekali, justru sebaliknya Jungkook sangat memperhatikan Jimin bahkan sejak pertama kali bertemu. Entahlah, insting Jungkook mengatakan ada sesuatu antara dia dan Jimin sebelumnya yang sialnya dia tidak ingat sama sekali. Jungkook sangat hafal dengan kebiasaan Jimin dan apa pun yang dia bawa selama mereka menjadi anggota bangtan. Jimin selalu membawa setidak nya satu gadget bersamanya kemanapun dia pergi. Gadget yang di bawa pun di sesuai kan dengan aktifitas apa yang dia lakukan, dan yang aneh adalah hp dengan case berwarna putih itu tak pernah ia lihat sebelumnya. Katakana saja jika Jungkook maniak tapi dia benar benar hafal dengan apa pun barang yang di bawa Jimin apalagi gadget milik Jimin, karena V selalu bertanya pada Jimin setiap kali Jimin membawa gadget baru, tapi untuk smartphone yang satu itu sangat mencurigakan.
.
Pertama, Jimin tidak pernah terlihat membawanya tapi terlihat jelas jika silicone case putih yang melekat di handphone itu sudah terlihat kotor, menandakan jika handphone itu sering di gunakan. Kedua di antara gadget lain, hanya handphone itu yang memiliki Kunci keamanan berlapis dan tidak bisa di buka saat Jungkook mencoba membukanya. Yang ketiga adalah gambar pada layar kunci di handphone itu seperti pola yang sangat tidak asing bagi jungkook.
.
Dengan dasar coba coba, Jungkook mengetikan sederet angka yang ada di kepalanya yang sebenarnya dia tidak yakin pola yang ada di handphone itu berhubungan atau tidak dengan angka yang ia pikirkan. '10051514' adalah angka yang tanpa di duga dapat membuka kunci pertama dari hp itu, selanjutnya dia menuliskan angka '021011' dan ternyata password itu juga benar. Dan untuk kunci yang ketiga, Jungkook berpikir sejenak. Sebenarnya dia agak ragu dengan semua kebetulan ini tapi tidak ada salahnya mencoba. Dan yang mengejutkan setelah dia mengatikan '071512040212151504' kunci keamanan handphone itu terbuka dan menampilkan sibol seperti di awal tadi hanya saja lebih jelas.
.
"Heol! Ada hubungan apa Jimin dengan keluarga ku? Ini tidak mungkin cuma kebetulan, jelas jelas dia memakai code dalam keluarga ku, dan yang jelas itu code ku. Argh…. Aku yakin aku tidak pernah bertemu dengannya tapi kenapa wajahnya sangat familiar, dia juga bertingkah seolah mengenalku sejak lama. Park Jimin sebenarnya kau itu siapa" Jungkook mengacak rambutnya frustasi.
.
Jungkook mencoba mengutak atik handphone itu. Dia membuka galeri dan dia hanya menemukan tiga foto di dalamnya. Foto pertama adalah symbol yang sama dengan wallpaper, yang kedua adalah gambar Lotus putih dan yang ketiga adalah gambar tampak belakang dari anak laki laki berumur sekitar 7 atau 8 tahun. Jungkook masih belum paham apa arti dari ketiga foto tersebut, dia akan mencari tahu nanti pasti dia harus kirimkan ketiga foto itu ke hp nya sendiri, setelah itu dia menghapus riwayat transfer datanya dan mengembalikan hp Jimin ke tempat semula.
.
.
…...
.
.
Gedung XXX, Paris
.
Setelah memberikan tour singkat keliling paris untuk Jimin, Jin mengajak adik kesayangannya itu untuk mampir ke apartemen lamanya yang telah ia tinggalkan cukup lama. Apartemen Jin terlihat tertata sangat rapi tapi banyak debu yang melapisi semua perabotan di sana, maklum saja selama dia di penjara tidak ada yang membereskan tempat ini. Jangankan di bereskan, polisi tidak menyita tempat ini saja sudah keberuntungan bagi Jin, karena jujur di rumah ini banyak harta dan benda benda penting miliknya.
"hyung! Bagaimana bisa rumah ini tidak di sita polisi? Maksud ku kau tahu kan, saat seorang penjahat di tangkap pasti semua hartanya di sita!" Jimin membuka semua jendela yang ada di apartemen itu.
"rumah ini langsung di balik nama atas nama salah satu teman ku. Saat mendengar ku tertangkap teman ku langsung mengambil alih semua harta ku yang masih bisa dia selamatkan. Aku tidak menyangka dia masih sempat menyelamatkan rumah ini dan beberapa asset ku yang lain" Jin menuju ke suatu ruangan yang di yakini itu ruang kerjanya di ikuti jimin di belakangnya.
"lalu sekarang teman mu dimana? Apa dia tidak terseret masalah hyung?" Jimin keliling melihat isi ruangan Jin.
"dia sekarang di Korea dan untung nya dia tidak terseret masalah. Toh dia memang orang biasa, bukan penjahat seperti ku. Aku hanya beruntung saja memiliki teman seperti dia. Setelah kita keluar dari penjara, aku berusaha menghubunginya untuk memberitahukan jika aku sudah bebas, dan tak kusangka dia bilang jika dia menyimpan beberapa asset ku" Jin membuka salah satu lemari yang ada di ruang kerjanya dan berusaha mencari sesuatu.
"hyung lagi cari apa sih?" Jimin menhampiri Jin.
"aku mencari ini" Jin menunjukan ijazah nya dan beberapa file penting lainnya.
"wah! Ini ijazah mu hyung? Tapi… tunggu, selain lulusan psikolagi kau juga lulusan kedokteran umum dan spesialis bedah? Wah… daebak…" Jimin terkagum sambil mengambil alih dokumen dokumen dari tangan Jin. "hyung bisa lulus tiga bidang kedokteran di umur semuda ini? Apa kau benar benar manusia Hyung?"
"jangan berlebihan Jimin. Kau dan Rapmon bahkan lebih pintar dari ku"
"tapi aku tidak punya ijazah sekeren ini hyung. Aku saja tidak kuliah, hanya tamatan SMA" wajah Jimin berubah sedikit murung.
"kau pasti bercanda, hanya tamatan SMA tapi kau bisa meng hack semua data yang ada di dunia ini. Tanpa kuliah saja kau sudah sepintar ini, apalagi jika kau kuliah pasti kau akan semakin pintar. Hah… secara tidak langsung harga diri ku terluka"
"bukan gitu hyung…. Aish! Pokoknya kau lebih keren dari ku dan rapmon hyung!"
.
Jin berjalan menuju meja kerja nya dan membuka laci yang ada di meja itu. Dia mengambil sebuah foto dari laci meja kerjanya.
.
"foto siapa itu hyung?" Jimin yang ada di belakang Jin berjinjit berusaha melihat foto yang di bawa Jin. Foto itu menampakan potret seorang pria muda dengan baju dokter dan anak kecil di yang tersenyum manis di gendongannya.
"dia… cinta pertama ku…" Jin tersenyum getir.
"hah? Yang benar hyung? Lalu?" Jimin sedikit terkejut, pasalnya selama ini Jin terlihat sangat sempurna bagaikan malaikat, malaikat yang tak pernah tersentuh dan terjangkau siapapun. Mungkin selama ini Jin terlihat sangat mesra dengan Rapmon dan V tapi Jimin sangat mengerti jika Jin tidak pernah bermain dengan hatinya di sana. Jimin bukanlah orang yang tidak peka sapai sampai dia tidak bisa melihat mana nafsu dan mana cinta.
"kenapa kau sekaget itu Jimin? Apa aneh jika aku mencintai seseorang?"
"bukan begitu hyung? Tapi… kurasa laki-laki itu sangat beruntung bisa mendapatkan hati mu hyung!"
"tidak juga… Justru dia orang paling sial di dunia karena menolong orang tak tau diri seperti ku" wajah Jin terlihat seperti akan menangis.
"maksudnya? Jika hyung tidak keberatan hyung bisa cerita pada ku" Jimin menggengam tangan Jin.
"aku tidak keberatan Jimin… toh dia juga sudah tiada…" setetes air mata jatuh dari mata indah Jin.
"hyung… uljima…" Jimin memeluk Jin. "kalau hyung gak siap cerita gak papa kok…" Jin menggeleng pelan.
"aku membawamu kesini juga karena aku ingin cerita padamu Jim. Aku ingin berbagi masalalu ku padamu…! Dia… dia adalah ayah angkat ku. Anak kecil yang ada di foto itu adalah aku" Jin menghela nafas sebentar mencoba neneangkan dirinya, sementara Jimin masih memeluknya dari samping dan mengusap-usap lengan Jin.
"aku adalah anak pembawa sial yang di buang keluarganya karena dia sakit-sakitan dan tidak berguna. Wajah ku yang seperti perempuan ini membuat orang tua malu karena banyak cemoohan yang berkata keluarga ku di kutuk mendapat anak ber gender tidak jelas seperti ku. Kata mereka aku lahir dari dosa dan akan membawa dosa sepanjang hidupku, dank u rasa itu benar… sepanjang hidup aku di kutuk oleh dosa yang ku bawa" Jimin menyandarkan kepalanya pada bahu Jin sambil masih mendengarkan cerita Jin.
"sampai ketika pria di foto ini… ayah angkat ku menolongku yang sedang sekarat di jalanan dan membawaku ke Inggris untuk berobat. Dia menawarkan diri menjadi orang tua angkat ku dan aku pun menyetujuinya. Kami tinggal dengan damai di inggris karena aku tidak mau pulang ke korea, mengingat orang tua ku seperti mimpi buruk bagi ku. Kehidupan kami tidak lah mewah, justru terkesan susah dan penuh perjuangan, kami tinggal berpindah pindah negara karena tuntutan pekerjaan, tapi kami menjalani itu semua dengan perasaan damai dan bahagia. Dia meyangi ku seakan aku putra kandungnya sendiri, tapi aku terlalu salah mengartikan kasih sayangnya. Aku mencintainya… bahkan terlalu mencintainya…" Jin kembali menitihkan air mata.
"saat umurku menginjak 15, tepat saat aku lulus dari program percepatan masa studi ku di SMA aku menemukannya sedang bercumbu dengan seorang gadis di kamarnya. Saat itu dunia ku terasa gelap, aku hancur, dengan segala kekalutan di diriku, aku membakar seisi rumah tak tercuali ayah angkatku dan pacarnya…di saat kebakaran itu terjadi dia… ayah angkatku… masih berusaha mencari ku dan ingin menyelamatkan ku… tapi aku… yang ku lakukan malah memukul kepala nya dan pacarnya itu sampai pingsan dan meninggalkan mereka terbakar di rumah itu… buruk… aku memang yang paling buruk. Pembawa sial yang tidak tau diri."
"hyung… kau sangat mencintainya… kau buta akan cinta, itu tidak salah…" Jimin berusaha menenangkan Jin yang semakin terisak.
"salah…cara ku yang salah Jim. Dan aku tidak ingin kesalahan itu terjadi padamu" Jin berhenti menangis dan memandang tegas ke arah Jimin.
"hh-hyung?" jujur Jimin takut sekarang. Jin beberapa detik yang lalu terlihat sangat ringkih dan rapuh sekarang malah terlihat sangat mengintimidasi. Jimin melepaskan pelukannya dari Jin dan mengambil langkah mundur.
"aku tau Jim, kau punya masa lalu dengan Jungkook. Walaupun Jungkook tidak mengingatnya tapi dia mulai merasakannya. Sejak kejadian di operasi terakhir sikapnya makin dingin padamu dan kau pun semakin aneh dengan segala perhatian mu padanya. Yang ingin ku katakana di sini adalah, lupakan masa lalu mu dengannya. Kau sadarkan jika bayangan masa lalu mu itu seakan mengekang lehermu sehingga kau tidak bisa bebas dan focus dengan pekerjaan mu sekarang. Kau sendiri yang bilang jika cinta itu buta, dan orang bisa melakukan semu hal terduga karena cinta, aku tidak ingin karena alasan cinta kau dan Jungkook bertingkah bodoh dan tidak professional." Kata kata Jin membuat Jimin semakin terintimidasi dan tertekan. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.
"aku menceritakan masa lalu ku agar kau bisa berkaca jika mencintai seseorang tidaklah selalu memiliki akhir yang bahagia dan justru akan merusak segalanya. Mencintai itu sakit Jimin, cinta hanya akan menimbulkan luka dan akan membunmu perlahan" Jimin sadar apa yang di katakana Jin tepat seratus persen padanya. Dia paham kemana arah pembicaraan Jin, ini antara dia dengan Jungkook.
"aku tau hyung… hanya saja…"
"hanya saja apa? Kau tidak bisa menghilangkan perasaan mu? Aku tidak menyuruhmu berhenti suka dengan Jungkook Jimin, aku hanya ingin bilang berhenti melihat masa lalu dan berpikir realistis. Jungkook ada di dekat mu sekarang, dia tidak mengingat mu dan rasa tertariknya hanya sebatas penasaran dan rasa dejavu tidak lebih dari itu."
"aku sangat mengerti tentang itu hyung, aku juga tidak berharap lebih"
"Jimin, aku tidak bodoh! Kau menginginkan Jungkook dan itu sangat terlihat jelas. Jika kau bersikap seperti ini terus, kau dan dia bisa menghambat Bangtan Jim"
"lalu aku harus bagaimana hyung!" Jimin sedikit meninggikan intonasi bicaranya.
"Jimin dengarkan aku!" Jin menangkup pipi Jimin agar menatapnya. "kau tau profesi apa yang kita kerjakan sekarang kan? Kau tau kebahagiaan itu adalah hal semu yang mustahil kita dapatkan."
"apa aku se hina itu sampai tidak pantas mendapat kebahagiaan hyung?" JImin mulai terisak pelan.
"jika definisi kebahagian bagimu adalah Jungkook kau bisa mendapatkannya jimin-ah! tapi…" Jimin mendongak menatap Jin penuh harap. "jangan biarkan dia memiliki hati mu, atau kalian akan sama sama terluka nantinya…" Jin menghela nafas berat 'Dan kau tau Jimin-ah, jika kau bersama Jungkook kau juga akan menyakiti seseorang yang lebih tulus menyayangimu lebih dari apapun' batin Jin dalam hati.
"apa itu juga alasan mengapa kau tidak bisa memberikan hati mu pada Rapmon hyung atau V?"
"resiko kematian kita semua sangat besar Jimin, dengan pekerjaan ini kita bisa mati kapan pun. Mencintai hanya membuat kita terluka karena kehilangan dan membuyarkan focus kita dalam pekerjaan. Aku sangat meyayangi Rapmon… aku menyerahkan hidup ku padanya, jiwa raga ku serahkan seutuhnya padanya, tapi jujur aku tidak siap untuk mencintainya, kenapa? Karena suatu saat bisa saja kita terpisah, tidak ada yang menjamin kita akan terus bersama. Dunia kita sangat kejam Jimin, tidak ada akhir yang bahagia dalam kehidupan yang kita jalani" seiring penjelasan Jin, mata Jimin mulai berubah menegas.
"ajari aku bagaimana jadi orang seperti itu hyung… katakana bagaimana cara mendapatkan Jungkook tanpa melibatkan hati di dalamnya" Jin melihat kemantapan di mata Jimin. Inilah yang Jin inginkan, tujuannya membawa Jimin ke apartemennya dan menceritakan masa lalunya adalah agar Jimin membekukan hati nya, penjahat seperti mereka tidak seharusnya memiliki hati malaikat seperti Jimin.
.
Bukan maksud Jin untuk merusak ke tulusan Jimin, hanya saja jika Jimin setengah setangah seperti sekarang Jin takut itu akan membuat Jimin goyah dan berakhir tersingkir dari dunia kejam ini. Jin sangat sayang dengan Jimin, dia sudah menganggap Jimin seperti adik kandungnya sendiri begitupun dengan yang lainnya. Jin sadar akan cinta segitiga di antara Jimin, Jungkook, Suga saat sesi konsultasi anggota di mulai Jin sudah sangat menyadarinya, tapi Jin tidak ingin focus kelompok mereka goyah gara gara cinta dan persaingan antar anggota. Dia tidak ingin juga Rapmon membunuh Jimin, Jungkook dan Suga karena konflik internal, Jin paham betul Rapmon sangat benci konflik internal dan anggota yang tidak menjalankan perintahnya dengan baik, itu berarti Rapmon tidak segan segan membunuh anggotanya sendiri yang mengacau dan tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Jin sangat takut kehilangan orang orang yang sudah di anggap saudaranya sendiri, maka dari itu dengan cara apapun Jin akan melindungi mereka, walaupun itu berarti harus membunuh jiwa malaikat Park Jimin.
"tentu saja Jim… hyung akan mengajari mu… hyung akan selalu di sampingmu Jim…"
.
.
TBC
.
.
Akhirnya update juga…. Jun kangen ngetik FF tapi jujur Jun lagi sibuk sibuknya….
Makasih untuk kalian semua yang udah nunggu FF ini, dan maaf karena lama update nya…
Ceritanya Jun itu lagi sibuk ada kerjaan pas liburan, dan karena gak sempet buka laptop sampe lupa jalan cerita FF ini dan harus ngumpulin feel dulu karena bingung musti ngetik apa. Dan malah sekarang Jun udah masuk kuliah…. Yah jadi tambah sibuk deh…
Tapi..tapi..tapi Jun tetep bakal berusaha sebisa mungkin nyelesaiin FF ini, yang sabar nunggu ya….
Bakal selesai tapi gak janji bisa cepet juga, pokoknya tetep review dan kasih masukan biar Jun juga semangat ngetik FF nya dan juga biar Jun dapet ide, Fav dan Follow nya juga jangan lupa.
Kalau ada yang mau di tanya tentang FF ini jangan pernah sungkan Tanya ke Jun. Jun seneng banget kok bisa ngobrol ngobrol dan jawab pertanyaan dari kalian.
Dan untuk kode yang ada di ff ini kalau kalian Tanya Jun, nanti Jun jawab gimana cara baca kode nya.
Maaf kalau banyak typo dan bahasanya amburadul, karena Jun udah mulai harus wajib pake bahasa asing yang Jun pelajari… jadi grammar nya kadang ngikut bahasa asing itu, mohon di maklumin ya….
Udah deh kebanyakan ngomong gue nya di sini….
Sampai ketemu di chapter selanjutnya…
XOXO
Junra
