Tittle : Bangtan Squad from Hell
Author : Jun_96
Genre : Crime/friendship/lil bit romance
Cast :
Namjoon Kim (Rapmon) 24 tahun
Seokjin Kim (Jin or Jinnie) 26 tahun
Yoongi Min (Suga ) 25 tahun
Hoseok Jung (J-hope) 24 tahun
Jimin Park ( Jimin or Baby J) 23 tahun
Taehyung Kim (V) 23 tahun
Jungkook Jeon (jungkook or… bts member call him Kookie) 21 tahun
Pairing :
Namjin
Yoonmin
Jikook
Taejin
Summary: Rapmon sang ketua geng mafia ingin mendirikan kelompok mafia yang tak terkalahkan. Namun dia butuh anggota yang kuat dan tak terkalahkan, karena itulah dia berada di Arkazam, untuk menjemput calon rekannya. (Namjin, Yoonmin, Jikook, Taejin,dll) (Jin & Jimin uke, Rapmon yonggi Taehyung Jungkook Jhope Seme)
.
.
Note: Untuk yang tanya gimana cara baca code angka yang di chapter sebelumnya, sekarang Jun jawab. Caranya gampang banget kok, kalian tinggal pisahkan setiap dua angka dari deretan angka itu dan setelah itu cari urutan alphabet yang sesuai sama angka itu. Contoh: 10051514 itu bisa kalian pisah jadi 10/05/15/14 setelah itu coba cari urutan alphabet ke 10 itu huruf apa (jawabannya huruf "J") dan seterusnya. Baca sampai bawah ya kalau bisa. oh ya sampe lupa, bakal ada cameo di chapter ini.
.
.
.
Paris
Bangtan Mansion
.
Sudah satu jam Suga memperhatikan Jimin tanpa henti. Perasaannya mengatakan Jimin jadi lebih pendiam sejak dia pulang dari pusat kota bersama Jin. Jimin masih perhatian pada semua orang dan masih tersenyum seperti biasa, tapi gerak gerik nya aneh dan terkesan pasif.
"hyung! Apa hyung gak bosen liatin aku terus gitu." Kata Jimin yang masih memfokuskan mata nya ke majalah Fashion yang dia baca.
"apa Dokter sinting itu habis mencuci otak mu?"
"hyung ini ngomong apa sih… mana mungkin Jin hyung mencuci otak ku ada ada saja hyung ini" Jimin tertawa kecil tanpa melihat Suga.
"kau aneh"
Jimin meletakan majalah itu ke meja kopi di depan sofa yang ia duduki. Dia lalu beranjak dan duduk tepat di samping Suga yang tadi berada di depannya.
"hyung… hyung yang aneh, kenapa tiba tiba bilang begitu?" Jimin memeluk satu lengan Suga dari samping.
"kau tidak seperti Jimin… kau tampak aneh dan bukan dirimu…" Suga menatap tajam ke arah Jimin yang sedang bergelayut manja di lengannya.
"aku tetap Jimin hyung, bedanya aku telah menyadari betapa naïf aku memandang dunia. Dan sekarang aku sudah sadar" Jimin menyentuh pipi kanan Suga. "aku tidak berubah, aku hanya akan lebih realistis mulai sekarang"
"jika begitu kau tentu tau jika mengejar bocah manja itu secara realistis tidak ada gunanya" Suga tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Jimin.
"aku tau… tapi secara realistis juga aku menginginkannya hyung. Aku ingin dia, aku ingin Jungkook" tatapan mata Jimin sedikit menyendu, dia menarik tangannya dari pipi Suga.
"lalu aku harus bagaimana? Membawakan Junkook pada mu?" ucap lirih dengan penuh penekanan Suga.
"jika kau bisa membawakan Jungkook pada ku aku akan memberikan diri ku pada mu hyung…"
"omong kosong"
"hyung…" Jimin mendekat dan mengecup singkat bibir Suga. "aku hanya bercanda!" Jimin tersenyum cerah. "kau serius sekali hyung, aku tadi cuman bercanda"
"apa apaan cium mu itu!"
"itu untuk menyadarkanmu yang terlarut dalam candaan ku hyung!"
"lelucon mu sama garingnya dengan Jhope dan Alien itu" Suga mengendus kesal kerena merasa di permainkan.
"hey apa bawa bawa nama ku segala!" Jhope yang baru datang mendengar selentingan namanya dari mulut pedas Suga.
"Suga hyung bilang lelucon mu garing hyung!" Jimin makin erat memeluk legan Suga, entahlah dia merasa sangat nyaman saja dengan posisinya sekarang.
"kalau mau tidak garing tinggal tambah kuah saja!" Jhope cemberut sebal.
"kau kira makan ramen, garing tambah kuah!" Suga melemparkan bantal sofa ke arah Jhope.
"Hope hyung! Yang lain kemana kok sepi banget?" Tanya Jimin yang masih setia bergelayut manja pada Suga.
"Leader dan permaisurinya sedang main(?), makanya aku pindah ke sini. Kamar Jin hyung gak kedap suara, mendengar suara mistis mereka membua kepala ku pening!" Jhope memasang wajah sebal sambil berusaha menyamankan diri duduk di sofa depan Jimin dan Suga.
"Alien dan Bocah itu?" Tanya Suga.
"mereka ada misi dari leader" jawab santai Jhope.
"misi? Misi apa hyung? Kok aku gak tau ya? V gak cerita ke aku" Tanya Jimin.
"mereka ada tugas dadakan menggali informasi dan membunuh orang, makanya yang di kirim mereka berdua" Jhope membaringkan dirinya di sofa dan mulai membuka gadgetnya.
"menggali informasi? Kenapa tidak minta tolong aku saja? Aku bisa meng hack data yang di butuhkan."
"data itu tidak akan bisa kau hack Jim, data itu tersimpan secara manual oleh orang yang membawanya" Suga menjawab pertanyaan Jimin.
"apa ini berhubungan dengan operasi selanjutnya?"
"begitulah, Rapmon bilang jika operasi selanjutnya adalah project yang sangat besar. Jika berhasil kita akan menguasai dunia, tapi jika gagal kita akan mati di tangan penguasa dunia." Jhope mendudukan diri dan dari raut wajahnya sangat terlihat dia tengah serius dengan perkataannya.
"memangnya berapa presentase keberhasilannya?" Jimin juga mulai menegakan posisi duduknya.
"tidak ada yang tau presentasi ke berhasilannya, karena misi ini hampir mustahil di lakukan." Suga menimpali pertanyaan Jimin.
"kenapa?"
"mungkin Rapmon belum membicarakannya dengan member selain ku dan Suga hyung karena hal ini. Misi itu… entahlah… aku juga tidak yakin kita bisa mengerjakannya apa tidak, jujur saja dengan kekuatan kita yang sekarang aku sangat yakin jika kita akan gagal." Jhope memasang wajah putus asa.
"hyung bicara yang jelas, aku gak ngerti deh!"
"kau tau tentang perlelangan dunia di New York yang di adakan 10 tahun sekali?" Tanya Jhope.
"aku pernah mendengarnya saat aku masih SMP, itu perlelangan terbesar di dunia yang di ikuti oleh jajaran orang terkaya di dunia kan?. Apa kita akan terlibat dalam acara itu?"
"tepatnya kita akan mengacau di acara itu." Suga menjawab dengan nada serius.
"hyung kalian pasti bercanda! Acara itu acara besar para God Father, mereka yang mengendalikan dunia ini hyung! Jika kita macam macam mereka akan memusnahkan kita." Jimin menarik narik lengan Suga.
"aku tau Jim, tapi kau juga pasti tau jika pelelangan itu adalah tempat berkumpulnya hampir 50% uang yang ada di dunia ini, tidak hanya uang tapi semua benda langka yang harganya dapat menyentuh langit. Jika kita bisa mengambil alih perlelangan itu maka dunia akan ada di bawah telapak kaki kita, dan itulah yang di inginkan oleh pemimpin kita Rapmon" Jhope menghela nafas berat. "kau pasti mengerti Jim, jika saat Rapmon membebaskan kita dari Arkazam itu berarti dia seperti sudah memberikan kita kesempatan untuk hidup lagi, dan untuk membalas budi yang bisa lakukan adalah mendukung apapun tujuannya."
"aku ngerti hyung… aku juga sudah berjanji pada diri ku sendiri untuk mengabdi pada Rapmon hyung. Sekalipun aku mati, aku juga siap, yang aku tidak siap jika aku kehilangan salah satu dari kita hyung. Kita sudah seperti keluarga, dan akan sangat menyakitkan jika kehilangan orang yang ku anggap sebagai keluarga."
"maka dari itu aku, Suga hyung dan Rapmon masih mempertimbangkannya. Informasi yang di cari V dan Jungkook akan sangat berguna untuk memutuskan apa kita ambil peluang itu atau tidak."
"apa V dan Jungkook tau tentang ini?" Tanya Jimin.
"tidak, mereka tidak tau, atau lebih tepatnya belum tau. mereka hanya di perintahkan untuk mencari informasi" jawab Jhope.
"semoga mereka berdua berhasil…" gumam pelan Jimin.
.
.
.
.
Hotel XXXX, Paris
Kamar no.1214
.
V tengah asyik mematahkan tulang belulang dari mayat yang di bantainya semenit yang lalu. Jungkook yang tegah membaca data yang mereka caripun menjadi terganggu dengan suara gemeretak tulang patah dari korban V.
"hey! Bisakah kau diam sebentar, aku sedang konsentrasi! Lagi pula orang itu sudah mati, untuk apa lagi kau meremukan tulang tulangnya." Jungkook melemparkan tatapan kesal pada V.
"bisa di katakana ini hobi. Ayolah… bukankah suara ini terdengar merdu di telinga! Ini juga bisa jadi ciri khas ku dalam membunuh." Jawab V sambil masih asyik mematahkan tulang mayat di pegangnya.
"dasar orang sinting, mana ada hobi mematahkan tulang!" Jungkook memberesakan semua berkas yang ada dan memasukannya ke dalam tas yang ia bawa. Jungkook memutuskan untuk membaca data itu di rumah saja dengan yang lainnya, karena membaca dengan BGM suara tulang yang hancur sama sekali bukan pilihan yang baik. Jungkook hanya tau kalau data yang ada di tangannya saat ini berhubungan dengan acara besar di New York, dan pasti berhubungan dengan operasi selanjutnya.
"eh kook, aku mau ke kamar mandi dulu ya, dari tadi kebelet!" V melepaskan mayat ditanganya dan masuk ke kamar mandi yang terdapat dalam kamar hotel tempat mereka melakukan pembunuhan.
"dasar Alien aneh!" Jungkook berkeliling area kamar, siapa tau dia menemukan hal menarik lainnya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu masuk yang coba di buka dengan halus dari luar. Jungkook langsung bersiaga di dekat pintu, dia yakin orang itu bukan polisi karena tidak mungkin polisi berusaha membobol pintu dengan begitu halus seperti pencuri.
Setelah pintu itu terbuka, terlihat seorang gadis berumur sekitar 17 tahun masuk dengan gerakgerik waspada. Hanya sepersekian detik saja waktu yang di butuhkan Jungkook untuk mengunci pergerakan gadis itu. Walaupun terlihat seperti gadis biasa tapi refleknya sangat cepat, kurang sedikit saja pasti dia bisa lepas dari serangan Jungkook.
Jungkook memang tidak melihat wajah gadis ini, tapi kenapa perasaan Jungkook mengatakan gadis ini sangat familiar baginya.
"Hey! Lepaskan aku!" bahkan suara gadis ini pun sangat familiar batin Jungkook. Jangan jangan…
"Somi?" saat Jungkook memanggilnya, gadis itu pun menoleh kearah Jungkook.
"Jung- AAAAAAAAA!" gadis yang di ketahui bernama Somi itu menjerit histeris saat melihat wajah Jungkook.
"YAH! Kenapa kau teriak! Telingaku sakit tau!"
"kk-ka-kau Jungkook…maksud ku Jungkook oppa?" Somi memasang wajah ketakutan.
"pertanyaan bodoh macam apa itu, jelaslah aku Jungkook mau siapa lagi"
"berarti kau hantu…. Oppa apapun yang pernah kulakukan pada mu dulu itu semata mata aku meyayangimu, aku hanya menyayangi mu dengan cara yang berbeda oppa, tolong jangan membunuh ku… aku masih kecil oppa…" Somi memejamkan matanya takut untuk melihat Jungkook.
"hantu? Kau ini bicara apa sih?" Jungkook masih bertahan dengan posisi yang sama, yaitu memeluk dan melingkarkan tangannya di leher Somi untuk mengunci pergerakannya.
"Ya Tuhan… tolong sadar kan oppa ku ini dan terima arwahnya di sisi mu. Walaupun ku rasa dosanya terlampau banyak, tapi jangan biarkan arwahnya bergentayangan tidak tenang di dunia setidaknya jebloskan saja dia ke neraka agar dia tenang!" Somi masih setia memejamkan matanya sembari komat kamit memanjatkan do'a.
"YA AKU BUKAN HANTU!" Jungkook mulai emosi dengan ucapan tidak jelas Somi yang mengiranya hantu.
"TAPI AYAH BILANG KAU SUDAH MATI JUNGKOOK!" Somi terbawa suasana dan ikut teriak.
"YA! Lihat! Lihat dengan mata kepala mu anak bodoh! Kaki ku masih menapak lantai!" Jungkook memegang kepala Somi dan mengarahkan nya untuk melihat ke arah bawah.
"iya ya… kaki mu masih menapak lantai… tapi ayah bilang kau mati saat Arkazam di bom. Data kematian mu pun sudah di umumkan ke public. Bahkan di rumah, upacara kematian mu sudah di adakan 3 minggu lalu"
"itu sebagian rencana ku untuk kabur dari sana, dan untuk data kematian memang sudah ada dalam rencana. Akan mudah bergerak jika dunia mengira aku sudah mati" Jungkook melepaskan Somi dan duduk di Sofa yang ada di kamar itu.
"yah… padahal aku senang sekali mendengar kau mati" Somi duduk di sofa yang ada di depan Jungkook.
"bilang begitu sekali lagi dan akan ku keluarkan isi kepalamu" Jungkook meraih rambut panjang Somi dan menariknya kasar.
"AAAAA! iy-iya iya oppa aku bercanda, sakit oppa… lepas!" Somi mencoba melepaskan tangan Jungkook tapi gagal.
"kau itu sama saja dengan orang itu!" Jungkook melepaskan tangannya dari rambut Somi.
"kau tau? wonwoo oppa sangat senang saat datang kabar kau mati, dia bahkan menraktirku belanja!" Somi mendudukan dirinya kembali ke sofa.
"kalau dia memang berencana mau membunuh ku, tidak kaget jika dia senang."
"tapi lain halnya dengan ayah dan ibu, mereka sedih bukan main pewaris tahta nya mati. Segeralah pulang, dengan begitu mereka bisa tenang"
"aku tidak akan pulang Somi-ah, aku sudah punya tujuan lain. Aku sudah tidak perduli lagi dengan menjadi penerus keluarga Jeon, kau atau Wonwoo bisa mendapatkan posisi itu."
"tujuan? Tujuan apa? Ya Jeon Jungkook kau mau menghianati keluarga mu sendiri? Kau tau kan kau pewaris keluarga, kau yang paling berbakat, bahkan Wonwoo oppa yang anak pertama pun harus tersingkir jadi pewaris karena bakat mu, kenapa sekarang kau malah lari dari tanggung jawab seperti ini." Somi mulai tersulut emosi, dia memang ingin menjadi pewaris keluarga Jeon, tapi dia tidak suka jika Jungkook kabur dan seakan menghianati keluarganya seperti ini.
"aku bukan lari dari tanggung jawab Somi-ah, dari awal memang aku sudah menolak tanggung jawab itu bukan? Menjadi pewaris keluarga Jeon itu bukan keinginan ku, aku punya tujuan lain sekarang, dan karena itulah aku tidak bisa pulang dan mungkin tidak akan pulang." Jungkook menghela nafas dan setelah itu memandang Somi dengan tatapan sendu. "Somi-ah! aku mohon pada mu, ini permintaan pertama dan terakhir ku, tolong jangan bilang pada siapa pun jika aku masih hidup sekalipun itu ayah atau ibu apalagi Wonwoo. Pura pura saja kau tidak tau dan tidak pernah melihat ku." Somi melihat keseriusan di mata kakaknya, dia tidak pernah melihat kakaknya memohon dengan bersungguh-sungguh seperti ini sebelumnya.
"baiklah… toh aku lebih dekat dengan mu dari pada dengan Wonwoo oppa. Tapi kau harus memberitau ku, tujuan apa yang membuatmu memilih pura pura mati dan keluar dari keluarga Jeon seperti ini!"
"kau tau geng mafia Rach kan?"
"geng mafia yang terkenal kejam dan kuat itukan? Kalau tidak salah ayah melarang kita berurusan dengan Rach apa lagi dengan ketuanya"
"nah itu dia, ketua Rach Rapmon telah merekrut ku untuk jadi anggota baru dalam sindikat mafianya yang baru. Dia mengumpulkan orang-orang dengan kemampuan special untuk di jadikan anggota untuk kelompok barunya salah satunya aku."
"dan kau melepaskan hak waris mu hanya untuk menjadi anak buah orang itu?"
"ini mungkin terdengar konyol, tapi bersama mereka aku tidak merasa bosan dan kesepian. Aku juga menemukan banyak hal menyenangkan di dengan mereka. Aku bisa melakukan apapun yang ku mau dengan mereka, saat bekerja dan mencapai tujuan bersama mereka rasanya menegangkan dan menyenangkan. Mereka membuka mata ku jika dunia ini luas, tidak sebatas tentang membunuh dan mendapat uang."
"kau sudah banyak berubah… teman teman mu itu pasti orang yang menyenangkan…" Somi mulai paham dengan alasan yang di utarakan kakak laki lakinya ini. Dari dulu anggota keluarga Jeon memang tidak di perbolehkan memiliki teman, mereka juga tidak di perbolehkan keluar dari area kediaman keluarga Jeon kecuali untuk membunuh orang. "baiklah! Aku tidak akan memberitau siapapun tentang mu. Tapi ada sesuatu juga yang ingin ku beritahu pada mu!"
"apa itu?"
"kau membunuh orang itu kan?" Somi menunjuk mayat yang tergeletak di samping tempat tidur, Jungkook pun mengikuti arah yang di tunjuk Somi dan membalasnya dengan anggukan. "seharusnya dia ini target ku, ada klien yang menyuruhku membunuhnya karena dia ada panitia dari acara lelang dunia di New York. Yang ingin ku tanyakan adalah untuk apa kau membunuh orang itu? Dan apa kau akan terlibat dalam perlelangan itu?"
"entahlah, Leader menyuruhku untuk mengambil berkas yang di bawa orang itu, dan mungkin aku akan terlibat di perlelangan itu mengingat berkas yang ku bawa ini tentang perlelangan itu. Memangnya kenapa?"
"ayah, kakek, dan Wonwoo oppa akan ada pekerjaan di sana, jadi berhati hatilah jika ingin mengacau, bisa jadi yang menyewa mereka itu musuh mu"
"ya… terimakasih info nya, aku akan berhati-hati. Tapi apa kau tidak tau Wonwoo di sewa siapa?"
"dia tidak pernah bercerita tentang klien nya pada ku. Pokoknya kau hati hati saja!"
"kemarikan Hp mu!" Somi memberikan Hp nya pada Jungkook dan setelah itu Jungkook mengetikan sesuatu lalu mengembalikannya pada Somi.
"hubungi aku jika ada sesuatu, aku akan mengirimkan hadiah pada mu setelah ini, tinggal kirim kan alamat hotel tempat mu menginap. Dan sebenarnya ada banyak hal yang ingin ku tanyakan pada mu tapi.." ucapan Jungkook terputus saat V keluar dari kamar mandi.
"Jungkook-ah dari tadi aku mendengar suara wanita… wow siapa ini?" V mendekat kearah Jungkook dan Somi.
"oh Kenalkan hyung dia Somi adik ku, Somi-ah ini V hyung teman ku"
"hai aku Somi senang bisa bertemu dengan mu V-ssi!" Somi dan V berjabat tangan sebentar.
"hai juga, aku V senang bertemu dengan adik teman ku! Dan aku tidak menyangka Jungkook punya adik yang sangat cantik"
"jangan mulai mode buaya mu pada adik ku hyung, dia masih di bawah umur!" Jungkook menarik V agar menjauh dari adiknya.
"Jungkook pelit!" V memasang wajah cemberut yang lucu.
"aigoo… bagaimana teman mu bisa se imut ini Jeon Jungkook, sementara wajahmu menakutkan dan jelek seperti itu!" Somi gemas sendiri dengan wajah V. dia jadi mengerti kenapa kakaknya tidak mau pulang.
"imut apanya, sudah sudah! Kami harus pergi, Somi-ah ingat kata kata ku yang tadi!" Jungkook menarik V untuk keluar dari kamar itu.
"bye bye Somi-ah!" V melambaikan tangannya pada Somi.
"bye V-ssi!" Somi membalas laimbaian tangan V. "sejujurnya aku iri dengan mu oppa… kau bisa punya teman yang menyenangkan seperti itu…"
.
.
.
Other side…
Rapmon turun dari ranjangnya, mengambil bajunya yang bertebaran di lantai dan memakainya. Setelah memakai celana dalam dan jeans nya Rapmon berjalan ke lemari pendingin yang ada di kamarnya dan mengeluarkan minuman dingin dari dalamnya dan meminumnya. Setelah itu dia mendudukan diri di pinggiran ranjangnya yang masih di tiduri Jin.
"kau lelah?" Tanya Rapmon sambil mengusap peluh di wajah Jin.
"tidak… ini menyenangkan…" Jin menyunggingkan senyuman manis kea rah Rapmon, dan yang di beri senyuman pun membalasnya dengan ciuman manis di bibirnya.
"kau sangat luar biasa sayang" Rapmon mengusapi wajah Jin sembari memberi namja cantik itu butterfly kiss di seluruh wajahnya.
"tadi kau sudah membuatku melayang saat klimaks, sekarang berhenti membuat ku melayang dengan gombalan dan perlakuan manis mu tuan"
"bagaimana lagi, aku sudah terlanjur mencintaimu…" Rapmon menatap Jin penuh harap.
"aku tahu…" itu bukanlah jawaban yang Rapmon harapkan, namun Rapmon paham jika dia memaksakan kehendaknya pada makhluk cantik ini dia akan pergi meninggalkannya. Jin yang melihat raut kecewa pada wajah sang Leader Bangtan itu, mencoba menghiburnya dengan membawa Rapmon dalam ciuman panasnya.
"kau tau kan aku sudah menyerahkan segalanya pada mu? Apa kau masih meragukanku?" ujar Jin saat melepaskan panggutannya pada bibir Rapmon.
"tidak… sama sekali tidak…" raut sedih masih belum hilang dari wajahnya.
"Namjoon~~! Kita sudah membahas ini ribuan kali, come on!" Jin bangkit dari tidurnya dan bergelayut di lengan Rapmon, dan Rapmon menanggapinya dengan senyuman.
"jika saja aku tidak mencintai mu pasti kepala dan badan mu sudah terpisah sekarang Jinnie"
"aku tau kau tidak akan tega melakukannya!" Jin mendekap erat legangan leader Bangtan itu. Rapmon jelas tidak tahan jika terus bersikap dingin dengan bidadarinya ini, dia pun mengusak rambut dengan sayang.
"Jinnie, aku ingin Tanya sesuatu padamu" nada bicara Rapmon berubah, terdengar lebih serius, sepertinya dia akan membicarakan tentang hal penting di luar percintaan mereka.
"Tanya apa?" Jin melepaskan pelukannya dari lengan Rapmon.
"apa yang kau lakukan pada Jimin? Dia berubah semenjak pulang dari Paris bersama mu" Pandangan Rapmon sangat mengintimidasi Jin.
"aku membuat Jimin focus dengan bangtan, apa itu salah?"
"jelaskan pada ku seperti apa yang kau maksud membuat Jimin focus dengan Bangtan!"
"aku membuatnya lebih realistis dan melupakan masalalunya dengan Jungkook, tapi yah… sepertinya memang Jimin tidak bisa melupakan Jungkook, jadi aku membuatnya menjadi seperti ku"
"dan apa kau memaksa Jimin?"
"tidak! Aku tidak memaksanya, dia sendiri yang menginginkannya. Ini semua demi kebaikan Bangtan"
"aku tidak akan menentang mu masalah ini, karena memang Jimin dan Jungkook sering tidak focus karena terlalu memperhatikan satu sama lain, aku hanya mengingatkan jangan memaksa untuk merubah total sifat Jimin. Jika dia tidak kuat, dia bisa gila"
"aku sudah mempertimbangkan semuanya, dan aku akan sangat hati hati. Jimin sudah ku anggap adik ku sendiri, tidak mungkin aku menyakitinya"
"aku mempercayakan anggota ku padamu"
"dan aku akan menjaga kepercayaan mu"
.
.
.
TBC
.
.
Oke oke…..
Sampai di sini dulu untuk chapter ini…
Makasih buat yang masih setia nunggu FF ini, Jun bakal sekuat tenaga meluangkan waktu untuk ngetik ni FF ampe selesai, gak janji bakal update cepet tapi Jun usahain secepet mungkin.
Makasih juga buat yang review, sungguh kalian semua penyemangat ku….
Jangan lupa Fav dan Follow….
Jun mau balesin Komen satu satu…..
YOONMINs: happy ending apa enggak tergantung dari antusiasme pembaca ya…. Hahaha(ketawaevil)
dewiaisyah: Jin masih gegana ama perasaannya sendiri. -_- kalo penasaran tunguin aja kelanjutannya dan jangan bosen buat review.
MingyuAin: masa lalu Jimin-JK akan terkuak seiring berjalannya chapter selanjutnya, tungguin ya!
Aissy05: Jun juga ngakak sendiri pas ngetik bagiannya V.
ganisyanardhini09: makasih udah setia nunggu
Guest: makasih udah nunggu, tetep review ya biar Jun semangat
ichikawa haru: jujur awalnya Jun emang ter inspirasi dari suicide squad tapi menurut Jun alurnya kurang seru kalo ikut itu, jadi Jun rubah deh.
meganehood: background member masing masing akan terkuak di chapter selanjut selajutnya. makasih udah memaklumi typo nya Jun, dan Jun bakal ngelanjutin ini FF sebisa dan secepat mungkin.
GoodFF: gak di kutuk pun Jungkook udah kayak kelinci…wkwkwk Jimin dan yoongi bakal bersatu jika Tuhan dan Jun menghendaki… hahahaha (ketawaevil)
Yikyuchan: Jun juga baru sadar kalo percakapannya lebih informal, entahlah… mungkin bawaan mood
PikaaChuu: Jun belum tau bakal jadi berapa chapter, tapi yang jelas Jun kasih bocoran kalo setelah Operasi terahir mereka di New York FF ini bakal end.
Laxyovrd: iya ini lanjut…
iPSyuu: cinta emang kalo udah dapet endingnya kadang bikin nyut nyutan…. T_T
Evi213: udah lanjut….
Ok ok…. Semua review udah Jun bales jadi tetap review ya… biar Jun juga semangat ngetik FF ini di tengah tumpukan tugas….
Sampai ketemu di Chapter selanjutnya…..
XOXO
Junra
