Tittle : Bangtan Squad from Hell
Author : Jun_96
Genre : Crime/friendship/lil bit romance
Cast :
Namjoon Kim (Rapmon) 24 tahun
Seokjin Kim (Jin or Jinnie) 26 tahun
Yoongi Min (Suga ) 25 tahun
Hoseok Jung (J-hope) 24 tahun
Jimin Park ( Jimin or Baby J) 23 tahun
Taehyung Kim (V) 23 tahun
Jungkook Jeon (jungkook or… bts member call him Kookie) 21 tahun
Pairing :
Namjin
Yoonmin
Jikook
Taejin
Summary: Rapmon sang ketua geng mafia ingin mendirikan kelompok mafia yang tak terkalahkan. Namun dia butuh anggota yang kuat dan tak terkalahkan, karena itulah dia berada di Arkazam, untuk menjemput calon rekannya. (Namjin, Yoonmin, Jikook, Taejin,dll) (Jin & Jimin uke, Rapmon yonggi Taehyung Jungkook Jhope Seme)
.
.
.
.
Butik Brand Y*L, Paris…..
Jimin memilah beberapa tas dan sepatu wanita yang di bawakan pelayan butik padanya. Dengan teliti Jimin memilah barang yang akan di pertimbangkan untuk di beli dan tidak.
"Jungkook-ah! adik mu itu gadis seperti apa? Style nya bagaimana?" Tanya Jimin sambil masih sibuk memilih barang.
"dia itu chic, kadang girly tapi sebenarnya dia itu laki laki sekali!" Jungkook memperhatikan Jimin dengan seksama sejak mereka brangkat dari Mansion.
"kalau begitu aku pilih yang simple tapi terlihat fashionable saja!" jimin memilih beberapa tas dan sepatu dan memberi tanda agar pelayan butik memprosesnya, lalu dia menyusul Jungkook duduk di sofa yang ada di butik. "kau tidak beli sekalian? Di sini banyak barang bagus lho!"
"kau begitu coba pilihkan sesuatu untuk ku"
Jimin beranjak dari tempat duduknya dan mulai memilih sesuatu untuk Jungkook. Setelah beberapa menit Jimin kembali dengan syal merah dan sepatu boots hitam.
"kenapa memilihkan ku itu?" Tanya Jungkook.
"bukankah kau suka merah? Dan kau juga sepatu model seperti ini kan?" Jimin mendudukan dirinya kembali di samping Jungkook.
"sok tau… atas dasar apa kau menyimpulkan begitu?"
"pikir saja aku tau dari mana…" Jimin beranjak setelah pelayan memberikan barang yang mereka pilih tadi. "tolong yang ini juga ya!" Jimin memberikan syal dan boots yang dia pilih pada pelayan dan mengikuti pelayan itu ke kasir untuk membayar belanjaan mereka.
Jujur Jungkook sangat bingung sekarang, dia tidak mengerti kenapa Jimin penuh dengan teka-teki sekarang. Jimin biasanya sangat lembut, perhatian, dan tidak pernah menolaknya barang sekali pun, tapi sekarang Jimin seperti sangat misterius. Dia tetap bersikap lembut seperti biasa, dia juga tetap memperhatikannya seperti biasa, hanya saja dia mulai bersikap dingin pada Jungkook secara tidak langsung. Akhir akhir ini Jimin juga sering menempeli member lain dan berhenti mengekorinya, jujur Jungkook di buat bingung dengan perubahan Jimin yang sangat mendadak ini.
"Jungkook-ah ayo pulang! Aku sudah membayar nya!" seruan Jimin menyadarkan Jungkook dari lamunannya.
Jungkook dan Jimin dan memasuki mobil mereka dan mulai melaju meninggalkan butik itu. Dalam perjalanan tak banyak yang mereka bicarakan, Jungkook hanya memberitahu Jimin jika mereka akan ke hotel XXX untuk menemui adik perempuannya Somi, sambil memberikan hadiah yang mereka beli.
Sesampainya di hotel tempat Somi menginap, Jimin dan Jungkook langsung menuju kamar yang Somi tempati.
"hey bro! masuk masuk!" Somi mempersilahkan Jungkook dan Jimin masuk.
"terimakasih Somi-ssi, senang bertemu dengan mu aku Park Jimin teman Jungkook" Jimin mengulurkan tangannya pada Somi.
"senang bertemu dengan mu juga Jimin-ssi, kau sangat manis dan cantik! Aku heran kenapa oppa ku itu bisa dapat teman yang imut imut seperti mu dan V-ssi!" Somi menjabat tangan Jimin, namun seperti teringat sesuatu Somi tiba tiba terdiam.
"Somi-ssi?" Jimin mencoba melepaskan tangan Somi, berharap Somi sadar dari lamunannya.
"oh..maaf! aku hanya tiba tiba teringat sesuatu, maaf Jimin-ssi!" Somi membungkuk minta maaf. "silahkan duduk Jimin-ssi!" Somi menarik Jimin dan menuntunnya agar duduk di sofa.
Jungkook melihat reaksi tidak biasa dari adiknya barusan, dia yakin adiknya juga merasakan sesuatu pada Jimin, sama sepertinya ketika pertama kali bertemu dengan Jimin di Arkazam.
"Ya! Ini untuk mu!" Jungkook memberikan barang belanjaannya tadi pada Somi.
"hadiah yang kau janjikan ya? Bagus! Pasti bukan kau yang memilih kan, kau tidak pernah bisa memilih baju untuk perempuan!" Somi memeriksa barang yang di belikan kakaknya yang ternyata semua sesuai dengan seleranya.
"aku tidak bisa memilih baju perempuan karena aku laki laki bodoh!" sahut sewot Jungkook.
"lalu siapa yang memilihkan? Jimin-ssi ya?" Tanya Somi.
"iya aku yang memilih nya, apa Somi tidak suka?"
"aku suka kok!" Setelah berujar singkat Somi kembali terdiam.
"ya!Somi-ah, aku ingin tanya tanya soal ibu dan ayah! Jimin-ah aku ngobrol berdua dulu ya dengan Somi!" Jungkook menarik Somi dan membawanya ke balkon agar Jimin tidak bisa mendengar mereka, dia juga tidak lupa menutup tirai balkon agar Jimin tidak bisa melihat.
"Jungkook-ah! Jimin itu siapa?" Somi langsung bertanya dengan nada histeris.
"itu juga pertanyaan yang selama ini mengganjal kepala ku, sejak aku bertemu dengannya aku merasa ada yang aneh dengannya, seperti aku sudah mengenalnya sejak lama? Dan setelah melihat reaksimu tadi sekarang aku yakin pasti ada sesuatu dalam Jimin yang berhubungan dengan keluarga Jeon"
"keluarga Jeon?"
"iya keluarga Jeon, aku pernah mencoba membuka salah satu HP nya Jimin dan HP itu terbuka dengan kode yang sama dengan kode yang di gunakan untuk membuka kamar ku di kediaman Jeon"
"benarkah?" Somi menutup mulutnya tidak percaya.
"pertama kata kunci yang di gunakan 10051514 'JEON' padahal itu kode untuk pintu utama kediaman Jeon, setelah itu 021011 'anak ke dua JK' itu kode untuk membuka kamar ku, setelah itu yang membuat ku sangat kaget yang terakhir 071512040212151504 'GOLDBLOOD'"
"bukankah gold blood itu julukan kakek pada mu yang kau gunakan untuk kunci ruangan rahasia yang ada di kamarmu? Yang pernah tau tentang kode ruang itu kan hanya kau dan aku? Bagaimana bisa Jimin-ssi menggunakannya?" Somi terdiam sejenak. "Oh Tuhan! Jangan jangan… dia…" ucapan Somi terputus lantaran terdengar suara sirine polisi yang sangat keras dari arah bawah.
"ada apa di bawah? Kau tidak membuat ulah di hotel ini kan?" Tanya Jungkook mulai panik, karena semakin banyak mobil polisi yang berdatangan.
"untuk apa aku membuat ulah kalau tidak ada yang membayar ku, buang buang tenaga saja. Aku akan cari tau ke bawah, kau dan Jimin-ssi di sini saja!" Somi beranjak keluar dari kamarnya mengabaikan tatapan penuh Tanya Jimin.
"Jungkook-ah! ada apa? Kenapa Somi lari keluar seperti itu" Tanya Jimin ketika Jungkook masuk lagi ke kamar.
"ada banyak polisi di bawah, dan Somi pergi ke sana mencari tau, kita di suruh untuk menunggu disini!" Jungkook duduk di samping Jimin.
"kenapa kau biarkan dia sendiri ke bawah?"
"wajah ku terlalu mencolok, dan Somi lebih pandai membaur dengan orang biasa dari pada aku" jawab Jungkook santai.
"lalu apa yang akan kita lakukan di sini?"
"duduk manis dan tunggu kabar dari Somi" Jungkook menyandarkan tubuhnya ke sofa yang ia duduki. "Jimin-ah…"
"hm?"
"apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?" Jungkook mendongak menatap langit langit kamar.
"apa kau merasa pernah mengenal ku sebelumnya?"
"entahlah… kau seperti sangat familiar tapi aku tidak ingat apa pun tentang mu"
"jadi benar perasaan mu hanya sebatas Deja vu saja"
"maksud mu?"
"tidak… tidak ada… aku hanya melantur saja" Jimin beranjak dari sofa dan membaringkan dirinya di tempat tidur kamar itu.
Setelah beberapa menit ruangan itu di penuhi oleh keheningan, tiba tiba terdengar suara pintu terbuka.
"yah! Jungkook-ah Jimin-ssi! Kita harus segera pergi dari sini! Ada kasus pembunuhan di lantai 9 dan seluruh penghuni hotel akan di periksa karena pelakunya belum di temukan, jadi sebelum polisi mengetahui identitas kita, kita harus pergi dari sini!" Somi yang baru masuk langsung meraih koper dan barang barangnya yang ada di kamar itu.
"lalu kita keluar lewat mana? Bisa jadi polisi sudah memblokir pintu keluar kan?" Jimin membantu Somi membawa beberapa barangnya.
"ada lift darurat untuk karyawan yang letaknya tersembunyi dan jarang di pakai, aku menemukannya saat kembali ke sini, polisi belum tau ada lift di sana, kita bisa pakai itu! Ayo keluar!" Somi, Jungkook dan Jimin bergegas keluar dari kamar dan menuju lift itu.
Sampai di basement mereka mengendap dan bersembunyi agar tidak ada polisi yang melihat mereka. Setelah memastikan semua polisi masuk ke dalam Hotel Jungkook Somi dan Jimin pun masuk ke dalam mobil Jungkook.
"setelah ini bagaimana?" Tanya Jimin yang sedari tadi berusaha menekan rasa panic nya.
"kita tunggu sampai polisi polisi yang ada di depan menghilang setelah itu kita kabur" Somi berusaha menetralkan nafasnya setelah aksi lari-lari dan sembunyi yang mereka lakukan.
Setelah beberapa menit….
"hey hey lihat itu! Sepertinya pembunuh yang ada di hotel itu sudah di temukan, semua polisi itu masuk kedalam!" Jungkook menunjuk gerombolan polisi yang dengan buru buru masuk kedalam Hotel.
"Jungkook cepat jalan kan mobilnya!" Somi berteriak heboh.
Mobil Jungkook pun keluar dari area Hotel, entah karena keberuntungan atau apa tapi tidak ada polisi yang mengikuti mereka.
"Jungkook-ah turun kan aku di disini saja, aku akan naik taxi untuk ke bandara dan segera pulang ke Jepang!" Somi bersiap akan turun.
"Somi-ah! saat perlelangan di New York Leader ku ingin memakai jasa mu, kau kosong saat itu?" Jungkook menepikan mobilnya dan berhenti di sana.
"aku belum buat janji dengan siapa pun jadi mungkin aku bisa, kabari aku saja jika benar mau pakai jasa ku!" Somi keluar dari mobil. "oke aku pergi dulu, bye oppa ku tersayang! Bye Jimin-ssi!" Jungkook kembali melajukan mobilnya menuju Mansion Bangtan.
.
.
.
9 hari kemudian…..
Bogota, Colombia
Jungkook dan V barusaja memasuki gerbang utama kediaman Reist yang berada di Colombia. Seperti yang sudah di jadwalkan, Jungkook dan V akan melamar sebagai pengawal pribadi Nyonya Flair de Reist, setelah kemarin mereka sampai di Colombia dan telah membuat janji dengan keluarga Reist, hari ini mereka akan memulai interview pertama mereka.
"Jungkookie! Jangan cemberut begitu, aku tau kau marah karena kita tidak jadi ke Spanyol tapi tidak usah di bawa bad mood seharian juga kan" ujar V yang melihat wajah murung Jungkook yang sedari kemarin enggan menghilang dari wajahnya.
"bagaimana mau tidak bad mood, aku sudah terlanjur senang dan mempersiapkan banyak hal untuk ke spanyol, eh malah akhirnya ke sini. Bahkan aku tidak tau apa yang special di Bogota" sembari berjalan menuju pintu rumah kediaman Reist Jungkook menanggapi V yang bertanya padanya.
"ayolah! Toh tujuan kita ke Spanyol itu untuk bertemu nyonya Reist kan? Dan ternyata nyonya Reist tidak di Spanyol, tapi di Bogota ya mau bagaimana lagi. Lalu kenapa kau sangat ingin ke Spanyol"
"tempatnya bagus, dan aku juga bisa liat pertandingan sepak bola secara langsung di sana, hah… pasti seru"
"inget kita ini kerja kookie, bukan mau piknik" V mengacak-acak rambut Jungkook.
"makannya aku kesal, kita ini kerja terus kapan senang senang nya!"
"nanti…. Setelah kita berhasil, kita bisa melakukan apapun yang kita mau di dunia ini. Jangankan melihat pertandingan bola, membeli club bola nya pun kau bisa! Jadi bersabarlah dulu!"
Akhirnya mereka sampai di depan pintu kediaman utama. Di sana mereka di sambut oleh pelayan keluarga Reist.
"selamat siang, kami dari agen XXXX saya Lex dan ini Seagull yang beberapa hari yang lalu sudah menghubungi kediaman Reist yang ada di Spanyol dan kemarin kami sudah membuat janji dengan kepala pelayan keluarga Reist"
"oh silahkan masuk anda sudah di tunggu di dalam" pelayan itu mengatar V dan Jungkook ke sebuah ruangan yang mirip seperti ruang tamu namun tempatnya tertutup. "silahkan duduk dan tunggu sebentar di sini, Nyonya besar sendiri yang akan menemui kalian. Saya permisi dulu" pelayan itu pun pergi meninggalkan Jungkook dan V.
"Jungkook! Kau merasa ruangan ini aneh tidak?" Tanya V pada Jungkook yang sudah duduk bersandar pada sofa.
"jika yang kau maksud adalah lukisan lukisan menyeramkan itu, jawabnya iya ruangan ini sangat aneh dan membuat ku tidak nyaman. Kata Jimin Flair de Reist itu kan kolektor barang seni yang berbau mistis, jadi bukan kah yang seperti ini itu wajar"
"wajar memang untuk seorang Flair de Reist, tapi bagi ku tidak wajar. Kau tau semua benda dan lukisan yang terpajang di sini seperti mengintimidasi ku" V ikut duduk di samping Jungkook. "ku harap tidak ada hal mistis yang menimpa kita, karena jujur rumah dan semua orang yang ada di sini tampak mencurigakan"
"hyung! Tak biasanya kau seperti ini, kenapa mendadak kau jadi terlalu waspada seperti ini? Kau seperti bukan V hyung yang biasanya"
"kau tidak akan tau dengan apa yang kau hadapi Jungkook, tapi insting ku mengatakan ada sesuatu yang ganjal"
"hyung jangan mengada ngada, bikin parno aja!" setelah menyahuti perkataan V, pandangan Jungkook tiba tiba tertuju pada sebuah lukisan. Dan karena penasaran dia pun mendekat ke arah lukisan itu.
Lukisan itu menggambarkan tampak belakang seorang anak kira kira umur 11 atau 12 tahun dengan tattoo bunga Lotus di pinggang bagian belakangnya, dan tattoo sebaris kalimat yang ditulis memanjang kebawah dari tengkuk hingga punggung. Kalimat itu bertuliskan "generasi kelima pimpinan inagawa sang lotus putih Kiyota Nagisa" dengan aksara Jepang kuno. Wajah dari anak yang ada di lukisan itu tidak terlihat, jika hanya di lihat dari bentuk badannya sedikit susah menentukan anak itu laki laki atau perempuan, karena badan anak itu cukup ramping dan curvy seperti perempuan hanya saja rambutnya pendek.
"kau tertarik dengan lukisan itu?" Nyonya Reist mengintrupsi Jungkook yang terdiam cukup lama di depan lukisan itu.
"oh selamat siang nyonya" Jungkook membungkuk memberi hormat, di ikuti V yang berada sedikit jauh di belakangnya.
"itu adalah lukisan pewaris klan yakuza inagawa yang hilang, anak yang ada di lukisan itu seharusnya menjadi penerus klan inagawa namun dia menghilang tanpa jejak. Untuk menghormatinya salah satu dari anggota yakuza inagawa melukis ini, dan beberapa hari setelah lukisan ini di buat dia meninggal. Tragis bukan?" Nyonya Reist duduk di sofa yang berada tepat di depan V.
"Sang Lotus Putih Kiyota Nagisa, apa itu nama penerus klan yang hilang?" Jungkook kembali ke tempat duduk asalnya di samping V.
"kau bisa membacanya? Apa itu yang tertulis di tattoo punggungnya?" nyonya Reist mulai tertarik.
"begitulah, aku bisa membacanya karna aku tinggal cukup lama di jepang dan aku juga mempelajari aksara kuno jepang" Jungkook menjawab pertanyaan nyonya Reist dengan tenang. 'dan lagi pula aku mengenal seseorang bernama Nagisa dalam catatan masa lalu ku' batin Jungkook.
"kau orang yang menarik, aku suka dengan orang yang tertarik dengan seni dan barang bersejarah. Kau bisa membaca tulisan itu, di mata ku kau sudah mendapat point plus"
"tapi nyonya, apa aku boleh bertanya tentang sejarah lukisan itu selain yang anda ceritakan tadi?" rasa ingin tau Jungkook entah mengapa semakin tinggi.
"lukisan itu ku dapat dari perlelangan seni bawah tanah di Amerika namun lukisan ini asli dari Jepang. Dan seperti yang ku katakana, lukisan ini di buat untuk menghormati sang Lotus Putih yang katanya hilang karena sebuah konflik dan kesalahan yang di buat orang tua serta kakeknya yang merupakan ketua yakuza pada saat itu. Selebihnya aku tidak tau lagi tentang lukisan itu, tapi… kenapa kelihatannya kau sangat tertarik?"
"tidak… hanya aku seperti merasakan suatu pesan yang ingin di sampaikan pada lukisan ini" Jungkook menoleh kea rah lukisan itu sebentar. "baiklah, lebih baik sekarang kita kembali pada bisnis kita nyonya"
"perkenalkan saya Lex dan dia Seagull, dan seperti saat kami menghubungi anda waktu lalu kami ingin melamar menjadi pengawal pribadi anda" V mulai membuka perbincangan bisnis mereka.
"jarang jarang aku mendapat pengawal tampan seperti kalian, apa pekerjaan kalian sebelumnya? Artis?" Nyonya Flair berucap dengan nada merendahkan.
"saya adalah pembunuh bayaran sebelum mendaftar ke agen XXX" Jungkook berusaha setenang mungkin dan tidak terbawa emosi oleh nada meremehkan calon majikannya ini.
"dan saya seorang street fighter sebelumnya!" ujar V santai.
"ow… aku salah menilai rupanya… seberapa professional kalian di dunia hitam?"
"kami berdua sudah berkecimpung dalam dunia gelap sejak kecil nyona, sudah tak terhitung nyawa yang melayang di tangan kami berdua" Jungkook mencoba meyakin kan nyonya Flair.
"baiklah, lagi pula kalian juga tampan…" Nyonya Flair member jeda sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "kalian ku terima, tapi… kita harus jelaskan perjanjiannya. Kalian ku sewa untuk menjadi pengawal pribadi ku dalam acara lelang di New York dua bulan mendatang, tapi kalian sudah mulai bekerja hari ini juga karena aku ingin melihat performa kalian dalam bekerja. Dan lagi… aku ingin kalian menyesuaikan diri dengan tempat ini"
"terimakasih nyonya, kami akan bekerja sebaik mungkin" V mencoba memberikan senyum terbaiknya pada majikannya itu.
.
.
.
.
London, Inggris
Kediaman keluarga Nohsrat….
Setelah beberapa menit melalui Interview singkat dengan kepala pelayan keluarga Nohsrat secara mengejutkan mereka di terima dengan mudah. Alasannya sederhana, karena banyak pengawal sebelumnya yang tidak tahan dengan kebiasaan aneh dan sifat manja putri Nohsrat yaitu Jill Nohstrat. Jill adalah anak dengan kegemaran aneh yang luar biasa manja, apa pun yang dia ingin kan dia harus mendapatkannya bagaimana pun caranya.
.
Dengan mengetahui fakta itu, Jimin dan Suga sudah mempersiapkan segala kemungkinan terburuk nya terjadi, termasuk tentang kebiasaan Jill yang suka mengoleksi organ tubuh manusia. Tak jarang Jill tiba-tiba meminta bola mata para pengawal terdahulunya karena mereka punya bola mata dengan warna yang unik, dan tentu saja Jimin dan Suga sudah membuat rencana guna mengantisipasi hal itu. Jika Jill meminta organ tubuh mereka, saat itu juga mereka harus mengalihkan perhatian Jill dan menjejali gadis manja itu dengan kata kata yang membingungkan agar dia lupa dengan keinginan koyolnya.
.
Setelah beberapa menit mereka di pertemukan dengan Jill Nohsrat, Suga dan Jimin di antar menuju ruangan mereka. Untuk hari pertama, mereka belum mulai bekerja, perkenalan pekerjaan dan segala sesuatunya akan di lakukan besok, dan untuk sekarang mereka di persilahkan untuk istirahat.
"wah kita akan sekamar lagi hyung!" ujar Jimin ceria sambil mengitari kamar baru mereka.
"kau keberatan?" Suga membaringkan diri di kasur yang ada di kamar itu.
"untuk apa aku keberatan hyung, toh kita juga pernah sekamar dulu di LA. Hyung… hyung lelah ya?" Jimin duduk di samping Suga yang terbaring.
"tidak… hanya ingin meluruskan punggung saja. Kita hurus istirahat, karena sepertinya menjaga gadis manja mengerikan itu besok akan sangat melelahkan"
"jangan bilang seperti itu pada nona Jill, dia gadis yang manis kok, dia itu hanya salah didikan hyung. Dia didik menjadi anak manja yang kemauannya selalu di turuti, jadilah dia seperti itu!"
"terserah kau saja" Suga memejamkan mata walau dia tidak tertidur.
"tidurlah dulu hyung, setelah ganti baju aku menyusul" Jimin membongkar koper mereka dan menata baju mereka di lemari, setelah itu Jimin mulai melepas pakian atasnya.
Suga sedikit membuka matanya karena ingin melihat apa yang sedang Jimin lakukan. Dia bisa melihat punggung dan pinggang ramping Jimin dari belakang, ada tattoo indah yang menghiasi punggung Jimin dan itu merupakan fakta baru bagi Suga yang notabene pernah menjadi roommate nya.
"aku baru tahu jika kau punya tattoo di tubuh mu" Suga mendudukan dirinya dan bersandar di kepala ranjang.
"ah itu hanya iseng hyung, lucu kan? Banyak penjahat di jepang yang bertattoo yah aku ikutan saja!" Jimin menutup kembali badan bagian atasnya dengan T-shirt casual yang nyaman, setelah itu Jimin menyusul Suga duduk di sampingnya.
"menattoo tubuh itu bukan untuk iseng Jimin, itu bisa jadi identitas yang kau bawa sampai mati, kalau tidak hati hati kau bisa sangat di kenali dengan tattoo itu" Suga menarik Jimin untuk masuk dalam pelukanya.
"aku akan hati hati hyung, lagi pula kau adalah orang pertama yang melihatnya selama aku menjadi penjahat." Jimin membalas pelukan Suga dan menyandarkan kepalanya di dada Suga. "aku heran kenapa hyung baik sekali pada ku"
"aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku sayang sekali dengan mu" Ucap Suga tanpa menoleh kea rah Jimin.
Sejenak jantung Jimin seolah berhenti setelah mendengar pernyataan Suga, padahal Suga hanya berkata jika dia menyayangi Jimin, bukan mencintainya. Namun, entah mengapa sensasinya se luar biasa ini bagi Jimin. Wajahnya memerah, degup jantung nya menggila dan perutnya serasa di hinggapi beribu kupu-kupu. Untuk sesaat Jimin hanya bisa tertunduk menyembunyikan reaksi yang timbul di wajahnya.
"apa rasa sayang yang seperti kakak terhadap adiknya?" cicit Jimin dengan wajah yang masih terbenam di dada Suga.
"aku tidak pernah punya adik jadi kurasa aku tidak tau seperti apa rasa sayang kakak-adik, tapi sepertinya sesuatu yang lain, dari awal aku sudah tertarik dan rasa ingin melindungi mu pun terus meningkat seiring rasa tertarik ku padamu Jim…" Suga menarik wajah Jimin untuk menatapnya. "apa aku menganggu mu?"
"jangan berkata seperti itu hyung! Kau tidak pernah menggangu ku, justru aku yang merasa sangat beruntung di sayang orang sebaik diri mu" Jimin naik ke pangkuan Suga dan mengalungkan lengannya pada leher Suga. "ku rasa aku akan cepat melupakan Jungkook…"
"kuharap begitu" Suga menarik Jimin ke dalam sebuah ciuman panas menggairahkan yang sebenarnya baru pertama kali mereka lakukan, ingat sebelumnya itu hanya saling mengecup. "cepat lupakan Jungkook agar aku bisa menerkam mu" ujar Suga setelah melepaskan panggutannya.
"akan ku usahakan hyung…"
.
.
.
TBC
.
.
.
Oke oke sampai di sini dulu untuk chapter ini…..
Sory banget di sini Namjin dan Jhope gak muncul mereka akan muncul di chap selanjutnya.
Terimakasih buat yang selalu nungguin FF ini, terimakasih kalian udah mau baca FF gak bermutunya Jun, terutama kalian yang udah mau review, bagi Jun kalian penyemangat dan harapan untuk hobi Jun yang satu ini(menulis) walaupun sebenernya Jun gak bakat bakat amat nulis.
Dan di sini Jun bakal jawab review yang Tanya kesama an ide ceritanya sama anime HunterXHunter. Emang dari awal Jun banyak yang pake ide HunterXHunter buat FF ini, kayak keluarga Jeon itu sebenernya emang Jun gambarin kayak keluarga Zoldic gitu, trus ide tentang perlelangan dunia, dan keluarga Nostrade yang Jun plesetin jadi Nohsrat itu juga sedikit sedikit ambil ide nya dari sana. Tapi Jun gak akan pake ide keseluruhan dari anime itu, Jun cuman ambil tokoh, dan latar belakangnya mirip karena Jun males mikir nama dan latar tokoh sampingan lain.
Jadi Jun bakal memperjelas lagi kalau ide tokoh dan beberapa setingnya ada yang ambil dari HunterXHunter tapi ending dan jalan ceritanya bakal sangat berbeda. Tunggu aja kelanjutannya.
Dan untuk ke sekian kalinya, Jun selalu update hari sabtu…. Yah gak papa lah ya, senggangnya cuman hari sabtu aja.
Jun berharap banget kalian tetep review, kalo gak review Jun jadi bingung juga mau lanjut apa enggak, trus mau nulis apa… jadi tetep review biar lanjut.
Itu aja yang mau Jun sampein…..
Sampai ketemu di chapter selanjutnya…..
XOXO
Junra
