Tittle : Bangtan Squad from Hell
Author : Jun_96
Genre : Crime/friendship/lil bit romance
Cast :
Namjoon Kim (Rapmon) 24 tahun
Seokjin Kim (Jin or Jinnie) 26 tahun
Yoongi Min (Suga ) 25 tahun
Hoseok Jung (J-hope) 24 tahun
Jimin Park ( Jimin or Baby J) 23 tahun
Taehyung Kim (V) 23 tahun
Jungkook Jeon (jungkook or… bts member call him Kookie) 21 tahun
Pairing :
Namjin
Yoonmin
Jikook
Taejin
Summary: Rapmon sang ketua geng mafia ingin mendirikan kelompok mafia yang tak terkalahkan. Namun dia butuh anggota yang kuat dan tak terkalahkan, karena itulah dia berada di Arkazam, untuk menjemput calon rekannya. (Namjin, Yoonmin, Jikook, Taejin,dll) (Jin & Jimin uke, Rapmon yonggi Taehyung Jungkook Jhope Seme)
.
.
.
H-3 Perlelangan New York
London, Inggris
Terdengar keributan dari arah kamar sang nona muda Jill Nohsrat. Dengan segera Jimin di ikuti beberapa pelayan yang lain bergegas menuju ruangan nona mereka. Sesampainya di sana, Jimin melihat kekacauan yang luar biasa. Jill tengah mengamuk hebat dengan melemparkan benda benda di kamarnya pada salah satu maidnya yang terlihat ketakutan dan terdapat beberapa luka di tubuhnya. Jimin tidak tinggal diam, dia langsung menghampiri maid itu dan melindunginya.
"Nona, saya mohon hentikan! Sebenarnya apa yang terjadi!" Jimin berusaha menangkis semua barang yang di lemparkan Jill.
"minggir Jimin! Dia sudah merusakan koleksi berharga ku!" Jill masih terus melemparkan apa pun yang ada di sekitarnya kea rah Jimin.
"memang apa yang kau rusakan?" Tanya Jimin pada maid itu.
"saya..saya memecahkan tabung berisi jantung pelacur korban pembunuhan berantai, saya tidak sengaja sungguh…." Maid itu masih berusaha bersembunyi di belakang tubuh Jimin.
"Jimin minggir! Dia harus menggati koleksi ku itu dengan jantungnya" Jill masih mengamuk sembari berteriak.
"walaupun itu tidak sengaja, tapi tetap saja kau membuatnya marah. Aku tidak yakin aku bisa menghentikannya, cepat lari dari sini!" Jimin berseru pada maid itu.
"Jimin, sampai kau membiarkannya keluar dari sini, aku bersumpah kau harus memberikan jantung mu pada ku atau aku terus menghantui mu seumur hidup mu! Berikan gadis bodoh itu dan kau akan selamat" Jill bersiap melemparkan vas bunga yang ada di tangannya.
"tapi nona, dia tidak sengaja…"
"PERSENTAN!" Jill melemparkan vas bungaitu dengan gerakan cepat sehingga tak ada jalan bagi Jimin untuk menghindar walau secepat apa pun reflek yang di milikinya.
Jimin memejamkan matanya, dia berdoa pada Tuhan agar setidaknya vas itu tidak meninggalkan luka parah pada wajahnya, walaupun sebenarnya mustahil jika tidak parah karena vas itu terbuat dari Kristal yang pecahannya pasti akan menggores kulit nya. Namun, saat terdengar suara vas pecah, Jimin tidak merasakan apa pun. Dia membuka mata, dan menemukan Suga yang entah sejak kapan telah berdiri di depannya dengan satu tangan memegangi kepalanya yang terluka.
"hyung… hyung gak papa? Ya Tuhan!" Jimin memeriksa luka Suga, terdapat sedikit sayatan di pelipis kanannya dan ada serpihan kaca kecil yang menancap di bagian atas alisnya.
"Apa? Kau mau sok sok an menjadi pahlawan juga? Menyinkir atau aku akan membunuh kalian semua!" Jill tetap tidak gentar mengancam, dia mengangkat sebuah belati yang entah ia dapat dari mana.
"nona tolong hentikan!" Jimin berusaha memohon pada Jill.
"Jimin minggir!" Suga sedikit mendorong Jimin untuk sedikit menyingkir. Tanpa di duga, dengan cepat Suga mengambil sebuah pistol dan menembak kepala maid yang di lindungi Jimin. "dia sudah mati sekarang, jadi tolong nona hentikan semua keributan ini" ujar Suga sambil menatap dingin Jill. Jujur Jill sangat kaget, dia tidak menyangka Suga benar-benar membunuh maid itu, dengan sedikit kikuk Jill mengisyaratkan pelayan yang lain untuk masuk, di beri tatapan seperti itu oleh Suga sungguh dapat membuat siapapun tak terkecuali Jill akan mimpi buruk selama seminggu.
"hyung…" Jimin menatap sendu Suga.
"diam! Ikut aku!" Suga menarik Jimin keluar setelah menunduk pada Jill. Sesampainya di kamar mereka Suga mendudukan Jimin di ranjang dengan sedikit kasar. "Kau gila? Sudah ku bilang jangan cari gara gara dengan Jill Nohsrat!"
"aku hanya tidak ingin nona menjadi pembunuh hanya karena kemarahannya…" Jimin menundukan kepala tidak berani menatap Suga "aku juga tidak tega membunuh maid itu… ku pikir dengan menahan kemarahan nona aku bisa menghentikannya…"
"Jimin, dengarkan aku… dia itu bukan sekedar anak manja biasa, dia itu orang gila Jimin, baik Tuan Nohsrat maupun putrinya mereka semua gila. Jangan pernah kau menyulut kegilaan mereka jika kau tidak ingin berakhir sebagai koleksinya" Suga berlutut di depan Jimin dan menggenggam tangan Jimin. "beruntung aku tadi cepat datang, jika tidak dia pasti akan melukaimu lebih jauh lagi"
"aku tau nona tidak akan membunuh ku hyung, makanya aku berani ambil resiko.."
"dia memang tidak akan membunuh mu dengan tangannya sendiri Jimin, tapi jika dia mau dia bisa menghalal kan segala cara untuk mencelakakan mu hingga kau tak tahan dan bunuh diri dengan sendirinya. Jangan menentangnya, jangan bahayakan diri mu lagi"
"maaf…" Jimin menyingkirkan serpihan kaca yang menancap di tepian alis Suga. "hyung…aku minta maaf…" Jimin sungguh ingin menangis sekarang.
"aku akan bicara dengan tuan Nohsrat untuk mengganti tugas kita, aku yang yang akan menjadi pengawal Jill selama beberapa hari ke depan"
"hyung jangan! Biar aku saja yang mengawal nona Jill, kau tidak akan tahan menghadapinya hyung, aku tidak ingin kau hilang kesabaran dan membunuhnya…" Jimin memeluk Suga yang berlutut di hadapannya. "jangan membunuh orang hanya karena kau ingin melindungi ku hyung…. Tidak perlu mengorbankan nyawa seseorang hanya demi orang seperti ku.." air mata Jimin sudah tak bisa dibendung lagi.
"Jimin-ah! dengarkan aku… aku sudah tidak punya siapa siapa lagi di dunia ini selain Bangtans dan dirimu, prioritas utama hidup ku sekarang adalah dirimu karena kau adalah satu satunya orang yang paling ku sayangi di dunia ini" Suga bangkit lalu mendudukan diri di pinggiran kasur, di susul dengan Jimin yang duduk di pangkuannya.
"hyung… aku tidak pantas kau sayangi…" tangis Jimin makin histeris. "aku hanya menyusahkan mu selama ini…"
"kita tidak akan pernah bisa memilih kepada siapa cinta itu kita tujukan, tak perduli siapa pun kau di masa lalu aku tidak bisa berhenti menyayangi dan mencitai mu"
"hyung… kau tidak tahu sebenarnya nya aku…"
"aku tidak perduli kau Kiyota Nagisa atau Park Jimin, yang pasti aku sangat mencintai orang yang ada di pelukan ku saat ini"
"dari mana kau tau soal Nagisa?" Jimin yang terkejut langsung melepaskan pelukannya dari Suga.
"sudah saat nya kau mengatakan semuanya padaku Jim…"
"jika aku semengatakan semua pada mu berjanjilah kau tidak akan meninggalkan ku seperti Jungkook dan ibu ku meninggalkan kan ku dulu…."
"aku yang akan mati perlahan jika berusaha menjauh dari mu" Suga berusaha menghapus air mata yang mengalir di pipi Jimin.
.
.
.
Bogota, Colombia
Semenjak tinggal di kediaman Reist, Jungkook sering sekali mencuri waktu untuk memandangi lukisan Sang Lotus Putih yang terpajang di ruang tengah rumah ini. Jungkook berdusta jika dia bilang tidak tau tentang Kiyota Nagisa, dia sangat mengenalnya bahkan mereka sangat dekat dulu. Walaupun saat itu Jungkook masih sangat muda, tapi dia bisa merasakan apa yang namanya cinta pada seseorang yaitu Kiyota Nagisa.
"Nagisa-chan… kau di mana sekarang? Ada seseorang yang menggoyah kan hati ku… apa ini sama saja aku menghiananti mu?" Jungkook menyentuh lukisan itu. "jika kau tidak kembali aku tidak tahu lagi jalan mana yang harus ku pilih…"
"Jungkook-ah! ku cari kemana-mana ternyata kau di sini. Aku sudah mendapat daftar barang di perlelangan itu, coba lihatlah! Siapa tahu ada barang yang kau ingin kan. Dan tolong aku mohon dengan sangat jangan berkeliaran sendiri di rumah ini dan melamun di depan lukisan seperti itu, nanti kau kesambet sesuatu urusannya panjang" V yang baru datang langsung menarik Jungkook untuk duduk di sofa ruang itu lalu menunjukan apa yang dia bawa.
"aku tidak tertarik dengan barang antik! Sana menyingkir dan sekali sekali beri aku ruang untuk sendiri kau selalu menempeli ku setiap saat. Aku tidak akan kesurupan sesuatu di sini, karena aku punya intuisi baja" Jungkook menyingkirkan kertas yang di sodorkan V dengan malas.
"jangan seperti itu, di perlelangan ini tidak hanya barang antik saja seperti yang kau bayangkan, banyak barang bagus seperti senjata langka, game langka, dan barang barang menarik lainnya"
"untuk apa memusing kan itu, toh nanti kita juga akan merampok semuanya yang artinya kita akan memiliki semua barang itu" Jungkook masih menatap malas kertas itu.
"kau ini tidak asyik, memang sudah pasti kita akan merampok semuanya tapi belum tentu juga barang itu bisa kita miliki, bisa jadi Rapmon hyung langsung akan menjualnya. Ayolah lihat dulu, kau pasti tertarik karena di sini ada barang yang berhubungan dengan Lotus Putih Nagisa Nagisa yang kau pandangi lukisannya hampir setiap hari itu…"
"APA KAU BILANG?" Jungkook langsung mengambil alis kertas ditangan V dengan cukup brutal, dengan seksama Jungkook mencari barang yang di maksud V. "barang apa yang berhubungan dengan Nagisa?"
"jantung nya" jawab santai V.
"WHAT? Jangan bercanda sialan ku kirim kau ke ajal mu jika kau bohong!"
"untuk apa aku bercanda bodoh! Lihat sendiri di nomor 34, di situ tertulis dengan jelas Jantung Sang Lotus Putih Inagawa" V menunjuk kertas di tangan jungkook.
"jj-jadi… Nagisa…sudah mati…" Jungkook menjatuhkan kertas itu, hatinya sungguh seperti di hantam beton raksaksa, sangat sakit. Terlalu sakit hingga rasanya untuk bernafas saja susah.
"Jungkook-ah kau tidak papa? Hey? Jangan seperti ini!" V sadar dengan reaksi Jungkook, V menyimpulkan jika seseorang bernama Nagisa itu pasti seseorang yang penting bagi Jungkook. "aku belum bisa memastikan apa itu benar benar jantung Nagisa, kau jangan seperti ini dulu" V mengoyangkan tubuh Jungkook. Untuk beberapa saat Jungkook masih terdiam dengan pandangan kosong, sampai V menamparnya dengan keras barulah Jungkook angkat bicara.
"hyung… tidak mungkin itu palsu… perlelangan itu punya nama besar, dan mereka pasti berani bertaruh nyawa atas ke aslian barang nya…" ujar Jungkook lemas. "apa benar dia sudah meninggalkan ku…"
"Jungkook-ah, sebenarnya siapa Nagisa itu?" Tanya V dengan sedikit hati-hati karena ia tahu adik se group nya ini masih sedikit terguncang.
"dia…dia orang paling berharga di hidup ku… dan sekarang dia benar benar pergi…" tanpa Jungkook sadari air mata telah jatuh dari kedua matanya, hatinya terlampau sakit untuk menahannya.
"kuat kan diri mu! Rela kan dia! Jika kau menyanyanginya biarkan dia tenang!" V menepuk pundak Jungkook. "kita akan cari tahu tentang benda itu dan asal usulnya, setidaknya kau bisa mengucapkan salam terakhir di depan jasad Nagisa jika memang dia sudah meninggal" Jungkook hanya mengangguk lemah mendengar penuturan V.
"firasat ku berkata nagisa masih hidup…" gumam Jungkook tanpa sadar. "jika memang dia sudah mati, lalu untuk apa aku hidup… apa aku harus menyusulnya…"
"Demi kuasa mu para pencipta, ku mohon dengan sangat Jungkook jangan seperti ini" V mengusapi punggung Jungkook. "kau punya kami…kau punya Bangtan, kau tidak sendirian dalam melalui kesedihan mu…" dan saat itu Juga pertahanan Jungkook runtuh. Dia menangis dalam diam sembari memegangi dada nya yang terasa ngilu.
"Somi… Wonwoo.. mereka pasti tau sesuatu…" gumam lemah Jungkook sembari menatap kertas yang ia jatuhkan tadi.
.
.
.
London, Ingris
Dengan posisi yang masih sama, Suga tetap merengkuh Jimin yang duduk di pangkuannya. Suga butuh penjelasan dari Jimin, namun suga tidak akan memaksa Jimin untuk bicara, Jimin bisa bicara jika dia sudah siap.
"hyung…" Jimin mendongakkan kepalanya menatap Suga.
"sudah siap bercerita?"
"aku siap mengatakan semuanya… tapi aku tidak tau apa hyung siap mendengarnya…" Jimin menaikan lengan bajunya dan melakukan gerakan mengusap kasar nadinya sendiri. "ya… benar kata hyung… aku adalah Nagisa… setidaknya aku pernah menjadi Nagisa… dan aku juga tunangan Jungkook" Jimin menunjukan tattoo symbol keluarga Jeon yang ada di pergelangan tangannya.
"tunangan Jungkook?" bohong jika Suga tidak terkejut, selama ini Suga hanya menyimpulkan jika Jimin hanya sebatas menyukai Jungkook, dia tidak pernah menyangka jika Jimin dan Jungkook punya ikatan yang lebih dalam lagi.
"iya, aku tunangannya setidaknya aku pernah menjadi tunangan seorang calon penerus keluarga pembunuh bayaran Jeon walaupun hanya satu setengah tahun" Jimin menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan lagi ceritanya. "sebenarnya aku hanya pengganti Sang Lotus Putih Kiyota Nagisa yang meninggal tepat setahun sebelum acara pertunangan itu, Nagisa yang dari lahir sudah memiliki fisik yang lemah, meninggal saat musuh Klan Inagawa menculiknya. Beberapa hari setelah kematiannya, kepala pelayan Klan Inagawa bertemu dengan ku, dia meminta untuk bertemu dengan orang tua ku. Saat itu keadaan ekonomi ku dan ibu ku sedang sangat susah, dengan mudahnya ibu menjual ku pada keluarga Kiyota. Saat kepala ketua Klan Inagawa yang merupakan kakek Nagisa melihat ku, beliau sangat terkejut betapa miripnya aku dengan Nagisa, tidak hanya wajah dan perawakan saja, bahkan sifat dan kebiasaan kami pun nyaris sama. Sejak saat itulah kehidupan ku sebagai seorang Nagisa di mulai, semua anggota Klan Inagawa menyayangi ku sama hal nya mereka menyayangi Nagisa, Kakek… maksud ku Ketua Inagawa, bahkan mengadopsi ku secara resmi, dan mengganti nama dalam data kependudukan Jepang sebagai Kiyota Nagisa"
"dan kau hanya diam saja?" ujar Lembut Suga, jujur Suga bingung harus menanggapi seperti apa. Dia sangat terkejut dengan fakta yang di lontarkan Jimin, walaupun seperti yang dia katakana sejak awal jika dia tidak pernah mempermasalahkan masa lalu Jimin apa pun itu.
"saat itu aku masih sangat muda hyung… aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Bahkan sampai pada acara pertunangan itu pun aku tidak bisa berbuat apa-apa…" Jimin memandangi tattoo symbol keluarga Jeon di pergelangan tangannya. "hyung… aku sangat mencintai Jungkook… karena pertunangan ini aku tidak bisa benar benar membuangnya dari hati ku walaupun dia telah membuang ku dari hidupnya… bahkan setelah aku kembali dia tidak mengenali ku…"
"bagaimana bisa kau dan Jungkook berpisah?"
"keluarga Jeon ingin menghianati perjanjian mereka dengan klan Inagawa, mereka membuangku, memfitnah ku dan mengatakan pada klan Inagawa jika aku melarikan diri. Dan saat aku kembali, seluruh klan menuduh ku berhianat. Mereka meminta kepala ku untuk menjadi tebusan penghianantan. Karena tidak tega, Kakek diam diam membebaskan ku dan menyuruhku lari sejauh mungkin dari jangkauan klan Inagawa dan Keluarga Jeon. Saat itu jujur aku bingung harus kemana, aku berusaha menghubungi Jungkook namun Jungkook hanya bilang jika dia tidak pernah sudi bertemu dengan penghianat seperti ku yang mencelakai anggota keluarga Jeon."
"mencelakai?"
"aku tidak sengaja…. Sungguh… itu hanya sekenario yang di buat keluarga Jeon agar membuatku terlihat seperti penghianat. Paman Jungkook menyerang ku dan akan berbuat yang tidak tidak pada ku, seketika itu insting pertahanan diri ku menyeruak, aku melawan dan paman Jungkook luka parah dan setelah itu aku di buang. Aku tidak menyangkan Jungkook bahkan tidak mempercayaiku" Jimin mengusap darah yang mengalir dari pelipis Suga.
"lalu setelah itu apa yang terjadi"
"aku kembali pada ibu ku tapi ibuku meninggalkan ku dan berkata jika aku anak pembawa sial yang memang sengaja akan ia buang. Mungking ini adalah hal yang sangat tidak ingin ku ceritakan pada mu hyung… aku… aku menghidupi diri ku dengan jalan yang sangat menjijikan. Saat umur ku 14 tahun aku sudah kerja di club malam sebagai penari striptis dan model majalah dewasa, saat umur ku menginjak 16 tahun aku mulai bermainan dengan dunia penipuan, aku menjebak para pejabat korup itu dengan skandal menjijikan, pekerjaan itu bahkan kulakukan sampai aku tertangkap. Setidaknya itu pekerjaan lain yang ku kerjakan selain menjadi hacker." Jimin bangkit dari pangkuan Suga untuk mengambil kotak obat, setelah itu dia membersihkan luka Suga. "walaupun atu tidak pernah melakukan Sex sebelumnya, tapi tubuh ku ini sudah banyak di jamah pria di luar sana… aku ini kotor hyung… aku bahkan lebih rendah dari pelacur, aku penipu…" ujar Jimin sedih sambil mengobati Luka Suga.
"bagian mana di hidup mu yang membuat mu merasa kotor? Aku tidak merasa kau orang yang buruk Jim. Itu hanya masalalu kelam dalam hidup kita. Tidak ada manusia di dunia ini yang benar benar suci, kau bukan orang rendahan, nasib yang bembuat mu merasakan pahitnya hidup lebih dari yang lain" Suga membawa Jimin kembali ke pangkuannya. "kau kira aku bukan orang rendahan… aku sudah melenyapkan lebih banyak nyawa, hidup ku lebih penuh dosa Jim"
"hyung tidak seharus nya menyayangi orang yang bahkan masih menyimpan nama orang lain di hatinya. Aku masih mencintai Jungkook hyung… itulah kenapa aku bilang jika aku rendahan. Aku anak tidak tau diuntung yang sudah mendapat kemurahan hati dari mu namun masih mengharap cinta dari yang lain" Jimin ingin menangis lagi.
"cinta ku bisa ku wujudkan dengan kebahagiaan mu Jim, walaupun tak terbalaskan asal kau bahagia itu sudah cukup untuk ku…" Suga tersenyum lembut.
"hyung… mau janji pada ku… jangan pernah meninggalkan ku apa pun yang terjadi! Tetap percaya pada ku dan jangan pernah tinggalkan aku apapun yang terjadi…" Jimin sangat tersentuh dengan semua ucapan Suga, bohong jika dia bilang hatinya tidak bergetar menerima semua perlakuan Suga selama ini. Dia memang baru mengenal Suga sebentar, namun hati juga tidak bisa di bohongi jika dia jatuh dan luluh pada sosok di hadapannya ini. Suga adalah sosok dingin yang begitu hangat di saat yang bersamaan, Jimin sangat nyaman bersamanya.
"sudah ku bilang padamu, aku yang akan mati jika menjauh dari mu" Suga menarik dagu Jimin dan melumat bibir indah itu.
Dalam ciumannya Jimin mengingat semua yang pernah di lakukan Suga padanya. Bagaimana Suga menjaganya dari bahaya apa pun, bagaimana Suga berusaha menghiburnya saat Jungkook membentaknya, bagaimana Suga sangat perhatian padanya walaupun dengan nada bicaranya yang dingin, dan yang paling dia ingat adalah bagaimana Suga selalu ada di saat dia merasa rapuh. Jimin ingat saat Jungkook selalu mencemooh, memaki, menghardik bahkan pernah menamparnya, Suga selalu datang memeluknya dan menenangkannya saat ia menangis mengajaknya melakukan kegiatan lain agar Jimin lupa dengan kesedihannya. Jimin juga ingat saat Suga hampir saja baku hantam dengan Rapmon saat Rapmon akan mengirim Jimin dalam keadaan yang membahayakan, saat itu Suga sendiri yang akhirnya menggantikan tugasnya untuk mencari informasi pada sasaran selanjutnya. Banyak yang telah Suga lakukan demi dirinya selama ini, dan yang dia lakukan hanya mengejar Jungkook tanpa memperdulikan perasaan Suga. Jimin melepaskan ciumannya dan mendorong Suga hingga Suga terbaring di ranjang.
"hyung ayo kita lakukan sekarang!" Jimin melempar jasnya asal setelah itu di mulai melepas kan kancing kemejanya satu persatu.
"Jimin…" Suga menghentikan tangan Jimin yang tengah membuka kancing kemejanya. "kita akan melakukannya saat benar benar tidak ada nama Jungkook lagi di hati mu"
"aku memang belum sepenuhnya bisa mengahpaus nama Jungkook di hati ku hyung, tapi kau sudah ada di sini" Jimin meremas dadanya. "nama mu sudah ada di hati dan di pikiran ku… bohong jika aku bilang aku tidak jatuh cinta padamu…"
"aku senang mendengarnya… tapi aku tidak ingin di tengah kita bercinta kau masih mengingat Jungkook" Suga mengancingkan lagi Kemeja Jimin. "aku akan dengan senang hati melakukannya Jim… tapi setelah kau sepenuhnya mencintai ku seperti yang memberi semua perasaan ku padamu"
Seketika itu juga Jimin langsung menyambar bibir Suga, Jimin tidak perduli lagi dia terlihat seperti jalang atau apa, yang terpenting sekarang dia ingin menyalurkan bukti cintanya pada Suga. Jimin mengalungkan tangannya ke leher Suga dan memperdalam tautannya. Sungguh, di lihat dari mana pun sangat jelas jika jimin yang sangat bernafsu disini, sementara Suga berusaha membalas ciuman Jimin dengan kelembutan dan tak lupa tangannya membelai dan meremat pinggang dan pantat indah Jimin.
"kau sukses membuat ku jatuh cinta pada mu hyung…" Ujar Jimin setelah ciuman mereka terlepas sebentar.
"kau juga sukses membuat ku bertekuk lutut menggilai mu!" Sekali lagi Suga mempertemukan bibir mereka dalam sebuah tautan panas yang menggairahkan.
.
.
.
.
Dubai, Uni Emirat Arab
Rampon menegak wine kelas tinggi yang baru saja di tuangkan Jin pada gelas yang iya bawa. Hari ini, seperti hari hari sebelumnya semenjak mereka tinggal di Dubai Rapmon dan Jin di sibukan dengan pekerjaan kantor milik Zuhrada Murad yang telah tewas di tangan mereka, bahkan mayat Murad sudah habis di umpankan pada buaya peliharaannya sendiri. Sedangkan Jhope? Apa yang di lakukannya di Dubai? Jhope bertugas mengembangkan senjata dan mempersiapkan alat-alat untuk rencana mereka, maka dari itu dia selalu sibuk bekerja di salah satu ruangan di mansion ini.
"Jinie! Kau panggil Jhope dan suruh dia bersiap! Besok kita harus berangkat ke New York kita susun rencana yang matang di sana dan pasang banyak trap untuk memudakan kita. Hubungi semua Bangtan jika kita sudah standby dulu di sana!" Rapmon meletakan gelas wine nya dan beralih mengambil sebuah dokumen di atas meja.
"baik, akan ku hubungi mereka semua dan akan ku suruh Hobie bersiap. Kau butuh sesuatu lagi?" Jin menyingkirkan gelas wine Rapmon lalu ia memposisikan diri di pelukan Rapmon.
"aku butuh kau untuk menenangkan diri" Rapmon memeluk Jin dengan erat.
"aku tau kau selalu membutuhkan ku… dan begitu pun diri ku" Jin menyaman kan diri di pelukan Rapmon.
"tidak… aku yang membutuhkan mu… kau tidak membutuhkan ku Jinie…" gumam pelan Rapmon yang masih bisa di dengar jelas oleh Jin.
"egois! Memang kau tau bagaimana hati ku!" sahut Jin.
"kau sendiri yang yang bilang tidak butuh cinta ku"
"kapan aku bilang begitu? Aku hanya bilang tidak bisa memberimu cinta, bukan merarti aku tidak butuh kau cintai…"
"itu sama saja Jinnie, itu sama saja kau ingin mendapatkan sesuatu tapi kau tidak ingin memberikan sesuatu, bukan kah itu terdengar serakah Jinnie?" Rapmon memotong ucapan Jin.
"kau tau sendiri bagaimana kondisi kejiwaan ku jika menyangkut tentang cinta, aku menyayangi mu segenap jiwa Namjoon, aku takut kau terbunuh karena kegilaan ku" Jin mendongakan kepala menatap Rapmon.
"itu bukan alasan yang tepat Seokjin, jika memang cinta maka dua orang yang terlibat akan saling berkorban" Rapmon menatap kecewa Jin.
"kau tidak mengerti Namjoon, aku pernah membunuh orang yang ku cintai, aku ini gila aku tidak waras Namjoon. Aku tidak berani bicara soal cinta karena aku sangat menyayangi mu" emosi Jin mulai tersulut, dia melepaskan pelukannya dari Namjoon.
"kita semua gila Seokjin, tidak ada satupun dari kita yang waras. Memang kau kira aku bisa menerima alasan mu yang satu?"
"pikirkan juga perasaan ku Namjoon, aku punya trauma yang sangat besar akan cinta. Aku tidak bisa membuang trauma ini…"
"aku harus bagaimana lagi supaya kau bisa benar benar percaya dengan ku dan lepas dari trauma mu itu"
"waktu akan menjawab semua itu Namjoon, yang terpenting saat ini kita bisa bersama dan aku juga sudah memberikan semuanya pada mu"
"manusia juga punya batas kesabaran Jinie…. Dan ku harap kau benar benar menjawabnya di saat yang tepat…"
.
.
.
TBC
.
.
.
Akhirnya bisa update…..
Maaf maaf banget update nya lama, soalnya Jun habis UTS dan persiapan sempro, yah walau pun sempronya masih minggu depan sih, tapi Jun udah mulai ribetnya dari minggu kemarin.
Untuk update selanjutnya gak janji bisa cepet, tapi kalau ada waktu Jun sempatin buat nyelesaiin FF ini.
Seperti biasa Jun ngucapin terimakasih untuk kalian semua yang udah baca, nungguin, dan review FF ini, karena review dari kalian lah FF ini bisa lanjut. Jadi Jun mohon untuk setidaknya sempatkan waktu kalian untuk review biar Jun juga dapet inspirasi buat lanjut.
Untuk yang mau Tanya-tanya, kritrik dan saran atau request bbisa langsung review.
Jangan lupa fav dan follow
Maaf Jun masih belum bisa bales komen satu satu, tapi Jun baca komen kalian semua kok.
Itu dulu yang mau Jun sampein…..
Sampai ketemu di chapter berikutnya.
XOXO
Junra
