Tittle : Bangtan Squad from Hell

Author : Jun_96

Genre : Crime/friendship/lil bit romance

Cast :

Namjoon Kim (Rapmon) 24 tahun

Seokjin Kim (Jin or Jinnie) 26 tahun

Yoongi Min (Suga ) 25 tahun

Hoseok Jung (J-hope) 24 tahun

Jimin Park ( Jimin or Baby J) 23 tahun

Taehyung Kim (V) 23 tahun

Jungkook Jeon (jungkook or… bts member call him Kookie) 21 tahun

Pairing :

Namjin

Yoonmin

Jikook

Taejin

Summary: Rapmon sang ketua geng mafia ingin mendirikan kelompok mafia yang tak terkalahkan. Namun dia butuh anggota yang kuat dan tak terkalahkan, karena itulah dia berada di Arkazam, untuk menjemput calon rekannya. (Namjin, Yoonmin, Jikook, Taejin,dll) (Jin & Jimin uke, Rapmon yonggi Taehyung Jungkook Jhope Seme)

.

.

Note: tolong sempatkan membaca sampai bawah

.

.

The Day

Hari ini adalah hari dimana acara utama perlelangan akan di laksanakan. Setelah berhasil masuk dalam gedung tempat perlelangan yang ketat penjagaan dengan menggunakan undangan eklusif semua member Bangtan berpencar sesuai pembagian tugas masing masing.

Seperti saat ini, Jin dan Jhope tengah membunuh semua petugas yang berjaga di sekitar gudang penyimpanan barang, dan setelah itu tugas mereka menukar barang barang itu dengan barang barang duplikat yang mereka bawa. Cukup sulit memang membawa barang sebanyak itu dengan penjagaan yang sangat ketat seperti ini, tapi karena ada bantuan dari relasi dan orang orang yang telah di cuci otak oleh Jin semua jadi lebih mudah.

Sementara itu seperti biasa Jimin akan berada di ruang kontrol dan menghack semua data dan akses di gedung itu dengan Suga yang mengarahkannya juga akan melindunginya jika ada bahaya datang. Jimin juga bertugas mengganti data panitian acara dengan orang orang bawahan Jin atau Rapmon seperti yang telah di perintahkan sebelumnya.

Jungkook dan V bertugas menghabisi semua panitia perlelangan dan menugaskan bawahan Rapmon dan Jin untuk berperan sebagai panitia perlelangan. Mereka juga menjadi pertahanan paling depan dari rencana ini jika semua terbongkar.

Tugas Rapmon adalah mengurus barang jarahan dan menjarah uang perlelangan yang masuk dengan cara membobol system bank yang di percaya untuk perlelangan setelah itu mengarahkan anak buahnya untuk menjarah bank dan menyebar terror di seluruh New York. Rapmon memang sengaja bertugas sendiri di luar gedung agar member bangtan yang lain focus menjalankan tugas mereka di dalam gedung yang penjagaannya bukan main, lagi pula dalam gedung itu juga banyak orang bayaran god father yang pastinya sudah sangat professional dalam dunia hitam.

"hyung barangnya sudah di tukar semua, setelah ini mereka akan langsung membawanya pada Rapmon" kata Jhope pada Jin yang sibuk mengutak atik data daftar barang perlelangan agar tampak makin asli.

"bagus, kau tinggal habisi orang yang mendekat kemari sementara aku akan sedikit memanipulasi data di sini"

"kalau masalah itu kau jangan hawatir hyung. Kau sendiri sudah menempatkan anak buah mu di sekitar sini?" Tanya Jhope.

"menurut laporan Jungkook dan V anak buah ku sudah menggantikan sekitar 75% petugas penjaga dan panitia yang bertugas dalam acara ini, sisanya adalah para professional yang dibayar God Father, mereka yang harus kita waspadai." Jawab Jin tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.

"hyung sudah dapat laporan dari Somi?"

"sebentar lagi dia akan mengirimkannya pada ku, sekarang dia masih di tengah acara dan melakukan observasi. Somi tidak bisa bergerak terlalu bebas karena kakak laki-lakinya ada di sana juga, dan dia ada di pihak God Father"

"wah ternyata musuh kita tidak main main juga"

"panjang umur, Somi barusaja mengirim data orang bayaran pihak God Father. Dalam daftar ini tertulis nama beberapa anggota keluarga Jeon, beberapa pembunuh bayaran terkenal lain dan ada pula anggota yakuza" Jin meneliti informasi yang baru saja di berikan Somi setelah itu menyebarkannya pada anggota yang lain.

"yakuza? Wah.. pihak God Father tidak main main rupanya, mereka sampai repot repot menyewa yakuza yang mempunyai harga diri tinggi hanya untuk mengaman kan acara perlelangan ini. Lalu, apa tidak ada anggota FBI?"

"aku akan menyuruh Jimin untuk mengirim daftar informasi FBI dan CIA pada Somi agar dia bisa menyocokan data di lapangan" Jin kembali berkutat dengan laptopnya.

"FBI dan CIA membuat ku kembali mengingat bau penjara"

"makanya kita harus berusaha sekuat tenaga agar tidak menghirup bau penjara lagi" sahut asal Jin.

"aku sudah berusaha maksimal hyung, tapi kalau takdir berkehendak lain mau bagaimana lagi"

"berhenti berkata hal pesimis seperti itu atau akan ku robek mulut mu, kita akan berhasil dan kita semua akan selamat" Jin berusaha menenangkan hatinya. Bohong jika Jin tidak merasa hawatir akan kegagalan, namun sebisa mungkin dia harus memberi semangat positif untuk member lain.

"ku harap juga begitu hyung…"

.

.

.

Ruang Kontrol

Jimin dan Suga telah berhasil menguasai semua system keamanan gedung dan bahkan data base nya. Suga juga sudah memulai terror bom di penjuru kota untuk mengalihakan perhatian pihak kepolisian.

"hyung, Jin hyung mengirim data orang bayaran God Father" Jimin belum membuka pesan itu, dia masih sibuk mengirim data FBI dan CIA pada Somi.

"Jimin… sepertinya kau benar, Klan Inagawa ada di perlelangan ini, dan mereka ada di pihak God Faather" Suga cukup kaget membaca informasi yang dikirimkan Somi.

"mau bagaimana lagi hyung, sepertinya takdir memang menyeret ku pada mereka lagi. Dan yang harus kulakukan adalah menyingkirkan mereka, karena punya keluarga baru dan aku tidak ingin menghianatinya" setelah Jimin selesai mengirim data data yang di butuhkan Somi dia langsung beralih pada system pengamanan gedung dan memonitor segala sudut ruangan yang ada di gedung. "sejauh ini sepertinya berjalan dengan lancar"

"bukankah ini terlalu lancar? Kau tidak merasakan ada yang aneh?" Tanya Suga penuh arti.

"memang terasa aneh, kenapa ini terlalu tenang sedangkan di dalam banyak orang sewaan God Father" Jimin menimpali.

"Jimin, tampilkan CCTV untuk ruangan para tamu undangan" perintah Suga.

"Ya Tuhan… ini…"

"Shit! Benarkan" setelah melihat keadaan ruangan tamu undangan tiba tiba Somi menghubungi Jimin.

"ini gawat! Para suruhan God Father menebar obat bius pada para tamu dan mereka mengambil alih ruangan tempat para tamu berada sebelum kalian menghabisi semua tamu itu, sepertinya mereka tau rencana kita"

"Tuhan… kau sekarang dimana?" Tanya Jimin cemas.

"aku ada di tempat yang luput dari penjagaan, aku menunggu perintah dari mu"

"tunggu sebentar, aku sudah menghubungkan pembicaraan kita pada Rapmon hyung dan Jin Hyung, sebentar lagi pasti mereka member perintah" Jimin mencoba memblock akses ke ruang yang tunggu tamu undangan agar para suruhan God Father itu tidak bisa keluar sehingga memudahkan proses eksekusi.

"kuharap cepat, karena sepertinya setengah dari orang sewaan God Father tidak ada di ruangan ini. Kakak ku dan ayah ku yang tadinya di sini sekarang juga menghilang, tempat persembunyian ku cukup aman, tapi menyulitkan ku dalam pengintaian"

"dapat! Jin hyung memberi perintah, tunggu sampai V dan Jungkook datang, setelah itu habisi semua yang ada di ruangan itu. Aku tau ini sedikit mustahil tapi aku akan sekuat tenaga membantu dari sini, bunuh para orang bayaran God father setelah itu akan ku ledakan ruangannya"

"pintar, jika kau ledakan sekarang pasti orang orang sewaan itu masih hidup dan malah menyebar ke seluruh gedung, eonnie cantik yang menakutkan itu memang sangat pintar"

"aku menyiapkan beberapa senjata tambahan di sudut ruangan, ku harap itu masih ada dan bisa membantu mu semoga berhasil" Jimin memutuskan panggilannya dan focus untuk member perintah pada V dan Jungkook.

"seperti ada sesuatu yang masih mengganjal, Somi bilang setengah dari orang sewaan God Father tidak ada dalam ruangan itu kan" Suga menundukan kepala berpikir sejenak.

"kurasa mereka menyebar keseluruh gedung, atau…" Jimin mulai mengerti kehawatiran Suga sekarang.

"atau mereka sudah tau tentang rencana kita, dan mereka bergerak seolah mereka ada bagian dari kita, dalam artian mereka menyusup menjadi bawahan Rapmon atau Jin" Suga menatap Jimin. "mereka sengaja membuat kita focus pada ruang tunggu para tamu itu, dan yang mereka incar adalah pesawat yang membawa barang lelang asli"

"Ya Tuhan, itu berarti Rapmon hyung dalam masalah"

"Rapmon? Jangan bilang dia yang mengemudikan pesawat itu sendiri, dalam rapat dia bilang dia yang menghandel pemindahan barang dan penjarahan bank, ku kira dia akan berdiam di pusat control bank yang letaknya sangat strategis untuk pengintaian gedung ini dan gedung bank itu, dari sana juga dia bisa mengawasi seluruh pusat kota" Suga mengacak rambut kasar.

"awalnya memang seperti itu, tapi sepertinya pesawat jarahan itu adalah pesawat model baru dan tidak ada yang bisa mengemudiakannya kecuali Rapmon hyung, dia tidak bilang pada kita semua tapi setelah ku periksa model pesawat dan melacak keberadaannya aku jadi menyimpulkan seperti itu" Jimin mulai cemas sekarang, GPS Rapmon menunjukan dia sedang berada di ketinggian dan dia mulai menjauh dari pusat kota New York.

"kemungkinan teruburuk adalah, dalam pesawat itu ada beberapa orang sewaan God Father dan FBI, selain mereka mengincar barang perlelangan pasti mereka juga mengincar Rapmon, karena kepala Rapmon lebih mahal dari barang perlelangan" Suga mulai mengemasi beberapa barang. "bawa semua perlengkapan yang kau butuhkan dan pergi dari sini, gedung ini perangkap, batalkan perlelangan palsu dan cepat pergi dari sini"

"aku akan menghubungi semuanya, apa ada kendaraan untuk kita kabur?" Tanya Jimin yang masih sibuk menghubungi memberbangtan dan Somi.

"ada helicopter di atap" Suga membantu membereskan barang Jimin. " kita harus cepat Jim, cepat pergi lalu ledakan gedung ini"

.

.

.

Sementara itu di ruang tunggu para tamu undangan V , Jungkook dan Somi masih sibuk menghabisi orang sewaan God Father. Mereka bukan sembarang orang jadi wajar jika mereka sussah di tumbangkan.

"sial kenapa kau tidak mati mati sih!" umpat Jungkook pada lawannya yang merupakan pembunuh bayaran terkenal juga.

"aku tersanjung mendapat pujian dari pangeran keluarga Jeon yang sangat berbakat ini, ternyata kau memang benar benar kuat" lawan Jungkook terus menyerang Jungkook tanpa henti dengan berbagai senjata dan teknik bela diri yang di atas rata rata.

"Jungkook, kita harus pergi dari sini secepatnya, rencana hancur total" Somi yang juga masih menghajar lawan berteriak pada Jungkook.

"mereka pasti tidak akan membiarkan kita pergi nona Jeon!" V berteriak dari sisi yang lain, dia pun masih sibuk menghajar lawan yang cukup tangguh.

"Hyung berhenti main main, seriuslah kita harus cepat" Jungkook memejamkan mata sejenak lalu menghembuskan nafas. "persiapan selesai"

"dasar! Kenapa tidak sejak tadi saja memakainya" sahut sengit Somi melihat kakaknya mulai serius.

Jungkook memang bukan anak biasa, bakatnya dalam membunuh sudah dia bawa sejak lahir. Dan bakat itu terus di asah bertahun tahun lewat latihan ketat dari kakeknya. Salah satu kelebihan Jungkook ada dia bisa mengontrol tenaga yang selama ini dia himpun dan melepaskannya saat pertarungan ketat seperti ini, menjadikan dia ber kali kali lipat lebih cepat dan lebih kuat. Ini seperti prinsip tenaga dalam aliran beladiri kuno hanya saja pengaplikasian dan cara kerjanya lebih mudah dengan resiko yang lebih besar. Hanya pewaris sejati keluarga Jeon yang bisa memakai teknik ini, karena taruhan dari teknik ini pun tidak main main, jika dia tidak bisa menggunakannya dengan baik si pengguna teknik akan mati kehabisan tenaga.

"aku harus menghemat tenaga, siapa tau aku harus bertemu Wonwoo atau ayah" dengan gerakan secepat kilat Jungkook berhasil menumbangkan 2 musuhnya dengan mencabik dada dan mengambil jantung musuh. Jungkook lalu menolong Somi membereskan lawannya.

"jika yang nanti kau hadapi itu ayah, kau dalam masalah besar" Somi berlari ke sudut ruangan mengambil beberapa persenjataan yang Jimin katakana saat Jungkook berhasil membunuh lawannya.

Di sebrang kelihatannya V juga sudah selesai dengan lawannya, dia segera berlari kearah Somi dan Jungkook.

"ayo kita pergi, sepertinya keadaan semakin gawat, dari walkie-talkie yang di bawa musuh aku mendengar banyak pasukan yang di arahkan kemari" V membantu Somi untuk membawa barang bawaan mereka sedangkan Jungkook masih berkonsentrasi menutup kembali teknik tenaga dalamnya itu.

"Jimin-ssi bilang jika kita harus ke atap, di sana ada helicopter untuk kita kabur" Setelah melihat kakak laki lakinya selesai dengan ritualnya dia langsung menarik Jungkook pergi dari ruangan itu di ikuti V di belakanya.

"jangan pakai lift, di dalam lift itu banyak musuh yang menunggu, kita pakai tangga darurat" Jungkook menarik adiknya kea rah tangga darurat.

"shit! Kita ada di lantai 7 dan kita harus ke lantai 35 dengan tangga darurat? Sepertinya kau mulai gila" walaupun banyak mengeluh tapi Somi tetap berjalan mengikuti Jungkook naik dengan tangga darurat.

Agar mempercepat perjalanan, mereka menaiki tangga itu dengan teknik free running atau parkour. Saat sampai pada lantai 20, tiba tiba mereka di kejutkan oleh pisau yang tiba tiba terlempar kearah mereka, untungnya mereka bertiga dengan mudah dapat menghindarinya.

"well… sepertinya kita akan reuni keluarga di sini" laki laki yang melempar pisau itu mulai menampakan diri.

"Wonwoo… aku sudah mengira jika aku akan bertemu dirimu di sini, tampaknya kau kecewa karena aku tidak mati sungguhan" ujar Jungkook memprovokasi.

"aku memang sedikit kecewa, tapi sepertinya jika aku bisa membunuh mu sekarang rasa kecewa ku akan hilang. Lagi pula ayah tidak tau kau masih hidup, akan lebih baik jika aku membereskan mu dan Somi di sini" jawab santai Wonwoo.

"sebegitu inginnya kau jadi pewaris keluarga Jeon sampai kau membunuh adik mu sendiri, silahkan saja jika kau mau membunuh ku aku tidak akan kabur, tapi biarkan Somi pergi, dia tidak ada sangkut pautnya dengan ku dan dia juga tidak akan merebut tahta mu" Jungkook maju mendekat kea rah kakak laki lakinya itu.

"baiklah, Somi ku lepaskan untuk sementara, tapi jika dia menggangu jalan ku akan ku kirim dia ke neraka menyusul mu" Wonwoo masih menanggapi Jungkook.

"itu kalau kau bisa mengirim ku ke neraka sebelum aku mengirimu duluan ke sana. V hyung bawa Somi pergi, aku akan menyusul kalian jika urusan ku sudah selesai" Jungkook sedikit menoleh ke belakang.

"andwe! Jungkook-ah, aku akan di sini bersama mu, kalau kau mati bagaimana? Bukankah kau ingin mencapai tujuan mu dengan teman teman mu" Somi berusaha menggapai Jungkook namun V menahan tubuhnya.

"dengarkan kata oppa mu, percayalah dia akan menyusul kita nanti" V masih menahan Somi yang ingin menghampiri Jungkook.

"kau tidak tau bagaimana Jeon Wonwoo, mana mungkin aku pergi ketika kedua kakak laki-laki ku saling membunuh" Somi masih histeris.

"Somi-ah, dengarkan aku sebagai oppa mu sekali ini saja, pergilah dan tunggu aku bersama yang lainya. Aku masih ingat janji ku pada ayah dulu jika aku tidak akan menghianati keluarga ku sendiri, kau percaya pada ku kan?" Jungkook berusaha meyakinkan adiknya, dia hanya tidak ingin Somi melihat salah satu dari kakaknya mati. "V hyung cepat bawa Somi pergi!"

"apapun yang terjadi berjanjilah pada ku untuk jangan mati, kalau bisa jangan nodai tangan mu dengan darah saudara mu" Gumam Somi yang masih bisa di dengar oleh Jungkook saat V menariknya.

"jika tidak satu pun dari kami kembali, jadilah pewaris yang baik untuk keluarga Jeon" ujar pelan Jungkook, V menggendong Somi paksa karena Somi makin histeris mendengar perkataan Jungkook. "penggangu sudah hilang sekarang kita selesaikan bisnis kita Jeon Wonwoo"

"aku akan membereskan mu dengan cepat Jeon Jungkook" Wonwoo mulai menyerang Jungkook.

.

.

.

Hanya tinggal satu lantai lagi untuk Jimin dan Suga sampai di atap, mereka sengaja menunggu Jhope dan Jin dulu untuk naik.

"hyung perasaan ku makin tidak enak, Jungkook, V dan Somi belum datang juga" Jimin mulai panic.

"jangan seperti itu, sebentar lagi mereka akan datang" Suga menggenggam tangan Jimin dengan erat.

Tak lama kemudian Jin dan Jhope datang.

"dimana Taehyung dan Jungkook? Ya Tuhan… kenapa rencana nya menjadi hancur seperti ini" terlihat wajah Jin sangat panic melihat dua adik kesayangannya belum juga datang.

"mungkin sebentar lagi mereka datang, jangan panic hyung" Jhope berusaha menenangkan Jin dengan membawanya duduk di tangga.

"cepat hubungi Leader, dan kita kabur sama sama dari sini. Dari tadi aku mencoba menghubunginya tapi dia tidak menjawabnya" Jin menundukan kepalanya yang pening. "Jimin Rapmon ada di gedung bank itu kan? Suruh dia kemari secepatnya"

"hyung… Rapmon hyung…" Jimin ragu mengatakan yang sebenarnya pada Jin.

"Rapmon sudah pergi membawa barang perlelangan dengan pesawat curian itu, yang harus kita lakukan sekarang adalah mengikutinya" Suga menepuk pundak Jin lembut.

"tunggu… jangan bilang dia yang membawa pesawat itu sendiri, dan di pesawat itu penuh dengan pembunuh bayaran bahkan FBI dan CIA?" Jin yang mulai paham dengan situasi langsung memandang Suga dengan pandangan tidak percaya. "Kalian membiarkan dia pergi sendirian untuk memancing musuh menjauh dari kita? Dimana hati nurani kalian?" emosi Jin mulai meluap, dia pun tak kuasa menahan tangisnya.

"Jin, dengarkan aku!" Suga memegang kedua bahu Jin. "Tak satu pun dari kita tau tentang itu, Rapmon mengubah rencana saat dia sadar jika pesawat curian itu model baru dan tak seorang pun anak buahnya yang bisa menerbangkannya kecuali dia sendiri, dan sepertinya dia juga sudah sadar jika rencana kita gagal total maka dari itu dia memancing lawan untuk bersamanya agar memudahkan kita untuk kabur. Yang kita bisa lakukan sekarang adalah mengikuti intruksinya yaitu pergi secepatnya dari sini, kau mengerti"

"bagaimana jika dia tidak kembali, aku tidak bisa hidup tanpanya Yoongi…" tangis Jin makin histeris.

"dia akan kembali, percayalah. Jika kau tidak bisa hidup tanpanya, setidaknya pikirkan jika kami semua tidak bisa hidup tanpa mu" Suga berusaha bicara sehalus mungkin dengan Jin agar dia tenang.

Jin mengusap air matanya dan mulai berhenti menangis, dia sadar jika di Bangtan dia juga mempunyai peran penting. Jika dia terpuruk sekarang maka akan mempengaruhi adik adiknya yang lain.

Tak lama kemudian V dan Somi pun sampai.

"mana Jungkook?" Tanya Jin saat menyadari Jungkook tidak bersama mereka.

"Jungkook ada masalah dengan kakak laki-lakinya dia menyuruh kita untuk pergi duluan, dia akan menyusul" kata V yang masih mengatur nafasnya karena dia tadi sempat berlari sampil menggendong Somi.

"cukup sudah dengan pengorbanan, aku muak dengan itu semua!" Jin mulai histeris kembali. "gedung ini akan di ledakan bagaimana bisa kita meninggalkan nya di sini, lalu dengan apa dia menyusul kita"

"hyung… tenang lah… Jungkook pasti akan menyusul kita, dia harus menyelessaikan urusannya dengan kakaknya kalau tidak dia akan terus terikat dengan keluarganya dan tak akan pernah menjadi anggota Bangtan seutuhnya" Jimin memeluk Jin menenangkannya, walaupun dia sendiri menitihkan air mata sedih.

"aku merasa bodoh dan tidak berguna" Jin membalas pelukan Jimin.

"ini bukan salah hyung, dunia ini sangat kejam untuk kita hyung, begitu kejam sampai tidak ingin kita bersama, yang perlu kita lakukan adalah saling percaya dan buktikan kita bisa terus bersama di dunia kejam ini" Jimin membawa Jin naik keatap bersama anggota Bangtan yang lain.

Dan ketika para anggota bangtan dan Somi mendekat kea rah helicopter mereka di kepung oleh beberapa orang, sebagian dari mereka adalah agen FBI dan CIA dan sebagian lagi pembunuh bayaran.

"mereka lagi, sungguh serindu apapun aku dengan mereka tapi tidak di saat seperti ini juga acara reuni nya" ujar V malas.

"Jin, Jimin dan Somi kalian segera masuk ke helicopter itu!" ujar Suga.

"hyung, Somi ayo masuk" Jimin menarik paksa Jin dan Somi untuk naik ke helicopter.

"Suga Hyung juga naik, di antara kita Cuma kau yang bisa mengemudikan helicopter itu. Biar aku urus mereka" ujar santai V.

"sombong sekali kau V, kau pikir bisa membereskan kami semua? Ingat kau pernah ku tangkap beberapa tahun yang lalu" kata salah satu FBI.

"apa kau juga ingat jika kau menangkap ku tidak dengan tangan kosong? Kau bahkan tidak berani mendekat langsung pada ku saat itu, takut ku remukan tulang tulang mu? Setidaknya delapan orang teman mu yang kubunuh masih lebih punya nyali dari pada kau" V memasang wajah mengejek.

"cih, kau itu moster. Menangkap dengan tangan kosong atau dengan senjata itu tidak penting, tapi tertangkapnya dirimu itu menandakan kekalahan mu" Agen FBI itu mulai menodongkan senjata pada member Bantan, dan member kode untuk meledakan helicopter yang akan member bangtan.

Tanpa disadari siapapun, dari dalam helicopter jimin berusaha melumpuhkan alat peledak yang di pasang FBI pada Helicopter dan berusaha memanipulasi system jaringan untuk control persenjataan FBI dan CIA yang mengepung mereka. Jin dan Somi yang melihat gerak gerik Jimin mulai mengerti, mereka mereka bersiap untuk membuat rencana pelarian diri.

"tidak bisa meledak ya?" Tanya Jhope dengan wajah menyebalkan. "kalian salah menganggap remeh kami hanya karena jumlah kalian lebih banyak"

Jhope menekan sebuah tombol di alat yang dia pengang dan setelah itu beberapa orang Agen FBI, CIA dan Pembunuh bayaran meledak hingga bagian tubuh nya terpisah.

"aku sudah hafal dengan senjata Agen Agen seperti kalian, senjata kalian mengandung bahan yang sangat sensitive terhadap reactor yang aku dan Jin hyung buat,tak kusangka alat itu akan berhasil tanpa uji coba, Thank's Jim karena sudah membantu mengaktifkannya" Jhope menoleh pada Jimin dan member senyuman.

"aku terkejut kalian memiliki alat seperti itu, tapi sayangnya Jumlah kami masih cukup untuk mengepung kalian" Salah satu agen CIA mulai menghujani Member bangtan dengan tembakan, namun dengan cekatan member bangtan menghindarinya.

"dasar tembakan payah, bahkan Suga hyung bisa mengenaiku setiap kali menarik pelatuknya saat latihan bagaimana pun aku menghindarinya" V mencoba memprovokasi sambil menhindari tembakan.

"jangan sama kan level ku dengan para pencundang itu, mereka itu benar benar tak mengerti seni dari senjata" Suga mulai menggambil senapannya dan mulai menembak.

Dalam pertarungan menembak jarak dekat, yang di butuhkan adalah blance stroke dan akurasi tinggi, dan itu semua ada pada Suga. Dia adalah menembak jarak jauh dan jarak dekat terbaik yang di miliki FBI dulu, dan sekarang bisa di bilang dia penembak terbaik di dunia. Keseimbangan tangan dan kejelian mata membuat setiap tembakannya tidak pernah meleset.

"Jimin nyalakan mesin helicopter nya! Dan Suga Hyung cepat naik, aku akan membereskan mereka di sini" Jhope masih mempersiapkan sesuatu sembari berlindung dari tembakan yang memburunya.

"lalu kau bagaimana bodoh! Mereka jumblahnya banyak sekali, kau mau mati di sini?" bentak Suga yang masih sibuk menembak.

"aku tidak maju dengan tangan kosong hyung, aku dan Jungkook pasti akan menyusul kalian setelah kami selesai dengan urusan menyebalkan ini" Jhope tersenyum pada Suga. "V! selagi Suga hyung konsentrasi membawa kalian kabur kau harus menjaga Jin hyung, Jimin dan Somi ya, Rapmon dan Jungkook pasti akan membunuh mu jika mereka kenapa-napa"

"aku tahu hyung, tapi kau harus janji pada ku untuk cepat menyusul kami, dan jangan mati konyol di tangan mereka. Kita harus bersenang senang setelah lolos dari sini" V melemparkan sebuah belati yang biasa di pakai latihan dengan Suga pada Jhope. "habisi mereka hyung"

V menghajar agen agen dan pembunuh bayaran yang akan mendekat pada helicopter mereka agar lepas landas mereka nanti lancar. Suga berusaha menembaki orang yang akan mendekat sambil berjalan kea rah Helicopter.

"Jimin, persiapan selesai?" Tanya Suga saat dia berhasil masuk ke kursi kemudi.

"persiapan beres, kita harrus lepas landas secepatnya sebelum helicopter ini habis tertembak, anti peluru pada helicopter ini tidak terlalu kuat" Jimin yang duduk di samping Suga berusaha membatu persiapan lepas landas.

"V cepat naik!" perintah Suga dari kursi kemudi.

"Somi-ya, bisa batu aku lemparkan bom asap ini pada mereka, sementara aku akan mempersiapkan kejutan lain" Jin menunjuk kearah segerobolan agen dan pembunuh bayaran itu.

"baiklah" Somi melemparkan bom asap itu, seketika asap mereah pun mengepul. "itu bukan racun, apa gunanya bom asap itu eonnie?" #jangan Tanya kenapa Somi memanggil Jin dengan sebuatan eonnie karena dia bilang kecantikan Jin selalu membuatnya lupa jika dia laki-laki#

"kau akan lihat setelah ini" saat helicopter mulai mengudara Jin menyemprotkan sebuah zat yang entah zat apa itu sehingga membuat kepulan asap merah itu berubah menjadi gumpalan lengket yang mengunci pergerakan lawan sehingga mereka tidak bisa menembak lagi, yah walaupun masih banyak orang yang tidak terkena perangkap itu, tapi ini sudah kucup untuk kabur, sisanya biar Jhope yang mengurusnya.

"eonnie daebak, kau keren sekali bisa membuat yang seperti itu, seperti di fil film saja" Somi bertepuk tangan ceria.

"aku harus mempermudah Jhope untuk menghabisi mereka, aku tidak mau kehilangan teman yang sudah ku anggap saudara ku" kata Jin.

"sekarang aku mengerti mengapa kakak ku Jungkook sangat menyayangi kalian melebihi rasa sanyangnya pada keluarganya sendiri, karena kalian juga menyayanginya melebihi keluarganya sendiri. Jujur aku sangat senang berjuang bersama kalian, walau nyawa ku menjadi taruhannya, tapi aku tidak pernah sangat menikmati pekerjaan ku seperti sekarang ini" ujar Somi tulus setelah helicopter mereka mulai terbang menjauh.

"ini belum selesai Somi-ya, kita harus selamat barulah kau bisa merasakan kenikmatan yang sesungguhnya dalam dunia gelap" Jin terseyum tulus sembari mengusak rambut Somi. "doa kan kakak mu selamat dan bisa menyusul kita segera"

.

.

TBC

.

.

Jun kembali lagi setelah lama menghilang…

Bagi kalian yang putus asa FF ini lanjut apa enggak, jawabnya pasti lanjut sampai tamat, tapi Jun juga gak bisa memastikan kapan tamat, sebenernya kurang dua chapter lagi sih, dan sekarang chapter 14 udah di proses.

Jun menghilang cukup lama karena Jun kehabisan ide dan agak lupa sama jalan ceritanya ni FF, tapi Jun usahain FF ini selesai karena menggatung cerita dan bikin orang penasaran adalah dosa

Jun harap kalian tetep mau nunggu selama apapun Jun upload, yang udah follow pasti entar ada notif nya, pokoknya tunggu aja FF ini pasti sampai selesai kok, Jun gak akan lari dari tanggung jawab #ecie…

Dan untuk kelancaran Jun dalam menyelesaikan FF ini mohon partisipasinya untuk merivew dan kalau bisa review nya agak panjangan biar Jun semangat.

Udah dulu sesi curhatnya, sampai ketemu di chapter selanjutnya

XOXO

Junra