Tittle : Bangtan Squad from Hell

Author : Jun_96

Genre : Crime/friendship/lil bit romance

Cast :

Namjoon Kim (Rapmon) 24 tahun

Seokjin Kim (Jin or Jinnie) 26 tahun

Yoongi Min (Suga ) 25 tahun

Hoseok Jung (J-hope) 24 tahun

Jimin Park ( Jimin or Baby J) 23 tahun

Taehyung Kim (V) 23 tahun

Jungkook Jeon (jungkook or… bts member call him Kookie) 21 tahun

Pairing :

Namjin

Yoonmin

Jikook

Taejin

Summary: Rapmon sang ketua geng mafia ingin mendirikan kelompok mafia yang tak terkalahkan. Namun dia butuh anggota yang kuat dan tak terkalahkan, karena itulah dia berada di Arkazam, untuk menjemput calon rekannya. (Namjin, Yoonmin, Jikook, Taejin,dll) (Jin & Jimin uke, Rapmon yonggi Taehyung Jungkook Jhope Seme)

.

.

Note: Budayakan baca sampai bawah, dan tinggalkan jejak, terimakasih.

.

Belum lama sejak Suga, Jimin, Jin,V dan Somi kabur dengan helicopter nya, pihak musuh benar benar tidak akan membiarkan mereka kabur dengan tenang. Baru beberapa menit mereka terbang helicopter mereka sudah di serang habis habisan oleh pihak lawan.

"Hyung, baling-balingnya tertembak kita akan jatuh" Jimin dan yang lainnya mulai panik.

"tenanglah dulu, aku akan berusaha mendarat di gedung terdekat, kalian semua pasang sabuk pengaman atau apa pun untuk melindungi tubuh kalian dari benturan keras" Suga membanting kemudinya kea rah gedung terdekat untuk mendarat.

Pendaratan mereka sangat tidak mulus, Helicopter yang mereka tumpangi seperti terjatuh dengan kasar. Untung saja penumpang di dalamnya tidak mengalami luka berat, hanya luka goresan dan benturan saja.

"Cepat ambil barang yang berguna dan keluar dari sini, sebentar lagi helicopter ini akan meledak!" seru Suga pada semua member. Dia segera melepas sabuk pengaman dan membantu yang lain untuk keluar dari helicopter itu.

Benar saja, setelah keluar dari helicopter itu tak menunggu lama ledakan besar pun terjadi.

"sekarang apa yang akan kita lakukan? Kita sudah tidak punya kendaraan untuk kabur, dan persenjataan kita juga terbatas" Tanya V dengan wajah putus asa.

"setelah ini, pasti banyak agen dan polisi yang akan mengepung kita" ujar Somi tak kalah putus asa.

"apa ini sudah akan berakhir…" Jimin menunduk lemah, dia sudah tidak tau lagi harus berbuat apa.

"angkat kepala mu Jimin, kita masih bisa melakukan sesuatu. bagaimana pun caranya kita harus selamat" Jin memegang kedua bahu Jimin.

"Jin benar, kita masih ada kesempatan untuk kabur sebelum musuh mengepung" timpal Suga.

"kau memilih gedung yang bagus untuk mendarat Suga, aku tau gedung ini, dari pengamatan ku beberapa hari yang lalu, gedung ini adalah degung perkantoran terpadu yang aktif 24 jam. Kita bisa masuk dan menyusup di sana setelah itu kabur dari tempat ini lewat jalur darat" Jin menarik rekan rekannya untuk menuruni tangga untuk masuk gedung.

"aku ingat sekarang, gedung ini terletak sekitar 5 Km dari gedung perlelangan, dan kabar bagusnya karena banyak orang di degung ini kita akan tersamar dengan baik" kata Suga.

"tapi sepertinya karena suara helicopter jatuh tadi, orang orang di sini jadi panik" ujar Jimin yang tengah mengamati sekitar.

"ini makin mempermudah kita, orang awam tidak mengenali wajah kita itu berarti akan sangat mudah membaur dengan segerombolan orang panic itu" kata Somi mulai ada harapan.

Setelah beberapa saat ikut berbaur bersama segerombolan orang yang panic mendegar suara ledakan, akhirnya member bangtan sampai pada tempat parkir mobil gedung ini. Di sini terlihat banyak orang yang akan melarikan diri.

"kita butuh mobil untuk kabur" kata Jin.

"serahkan pada ku" V menuju kearah salah satu mobil yang akan di jalan kan oleh seseorang di dalamnya lalu dengan mudah V mematahkan leher orang itu dan menggambil alih mobilnya. "cepat masuk!"

Mereka pun masuk kedalam mobil dan pergi menjauh dari gedung itu karena tampaknya mobil polisi sudah mengarah kesana. Untuk sementara mereka belum di curigai.

.

.

.

Sementara di tempat lain, Jungkook tengah berusaha mencapai lantai atas gedung. Dia telah mengalahkan kakak laki-lakinya itu, memang tidak sampai membunuhnya, tapi Jungkook yakin dia telah membuat kakaknya itu terkapar dan tak berkutik. Dia yakin kakaknya itu cukup tau diri menerima kekalahannya dan dia juga tidak akan mengikuti Jungkook lagi.

Sesampainya di atap gedung dia menemukan Jhope yang terbaring lemas dengan banyak mayat yang tergeletak di sekitarnya. Melihat itu, Jungkook pun menghampiri Jhope yang ikut berbaring di samping teammate nya itu.

"oh kau rupanya, apa kau sudah selesai dengan urusan mu?" Tanya Jhope.

"aku sudah menyelesaikannya, kau sendiri sepertinya sudah selesai dengan urusan mu hyung. Kau membunuh banyak sekali" ujar Jungkook.

"kau tidak lihat tangan dan bahu ku tertembak? Aku babak belur, aku tidak yakin bisa kabur dari sini…" Jhope menyentuh luka tembaknya sambil tersenyum pahit.

"aku juga… walaupun aku menang melawan kakak ku, tapi aku mendapat luka parah, sepertinya beberapa tulang rusuk ku patah dan sendi kaki ku sedikit ada yang geser. Jujur aku sudah tak kuat berjalan jauh…" Jungkook tersenyum putus asa.

"lalu apa yang akan kita lakukan? Apa ini artinya semua berakhir?" Tanya Jhope.

"berusaha lari pun percuma hyung, dengan luka seperti ini aku tidak bisa kabur, mencoba kabur pun kita pasti akan terkepung dan aku tidak melawan sama sekali" Jungkook terbatuk dan dari sudut bibirnya menetes darah segar. "si bajingan Wonwoo itu benar benar menhajar ku telak"

"tak ada harapan lagi rupanya… kalau begitu kita ledakan saja tempat ini"

"ide bagus, setidaknya aku akan mati dengan tenang karena mengakhiri hidupku sendiri"

.

.

.

Mobil yang di kendarai memberbangtan yang tersisa akan menuju penginapan yang di sewa atas nama keluarga Nohstrat. Alasannya sederhana, keluarga Nohsrat menyiapkan jet pribadi untuk para bodyguard yang kembali dari perlelangan, mereka bisa memakai jet itu untuk pergi dari New York atau bahkan pulang ke Paris.

Jet pribadi itu tersimpan di bandara yang letaknya tak jauh dari penginapan keluarga Nohstrat, maka dari itu untuk menjalankan jet pribadi, mereka membutuhkan surat pernyataan kepemilikan resmi keluarga Nohstrat yang tersimpan di penginapan itu.

"Suratnya ketemu" ujar Jimin setelah berhasil menemukan surat yang dia cari.

"bagus, sekarang kalian semua bersihkan luka kalian, mandi, dan ganti baju yang rapi. Penampilan kita yang compang camping bisa menarik perhatian" Suga mendudukan diri sejenak di sebuah sofa.

"kalian bisa pakai baju yang ada diruangan itu disana juga ada kamar mandi, dan untuk Somi kau bisa pakai baju nona Jill di ruangan sebelah sana" Jimin menunjukan lemari tempat pakaian yang bisa di gunakan memberbangtan dan Somi. Dia juga mengambil satu setel pakaian untuknya dan satu setel lagi untuk Suga.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Jimin membawa satu setel pakaian yang sudah dia siapkan untuk Suga, dia membawa pakaian itu ke ruang tengah tempat Suga duduk termenung.

"Hyung, bersihkan tubuh mu dan ganti baju dulu ini sudah ku siapkan" Jimin duduk di samping Suga.

"setelah ini minta Jin untuk mengobati lukamu" Suga membelai lembut rahang Jimin.

"hyung sendiri juga harus mengobati luka hyung" Jimin tersenyum manis.

"aku akan meminta Jin mengobati ku nanti setelah mandi. Jim, cari data tentang langkah menjalankan sebuah pesawat pribadi dan pelajari itu semua" kata Suga dengan nada yang mulai serius.

"kenapa hyung? Apa hyung tidak bisa mengemudikan pesawat itu? Bukannya kau sudah belajar mengemudikan banyak jenis pesawat sebelum misi ini"

"untuk jaga jaga saja, turuti perintah ku dan pelajari semua tentang cara mengemudikan pesawat itu dan cara pendaratannya, pelajari juga rute perjalanan untuk kembali ke Prancis, aku yakin kau bisa mempelajarinya dalam waktu singkat, kau mengerti?"

"baiklah hyung" Jimin tidak bodoh sampai sampai tidak mengerti maksud Suga menyuruhnya belajar tentang cara mengemudikan pesawat, Suga ingin Jimin bisa menggantikannya menjalankan pesawat itu ketika kemungkinan terburuk terjadi. "tapi berjanjilah pada ku hyung"

"berjanji apa?"

"jangan tinggalkan aku, jika kau harus meninggalkan ku sementara berjanjilah untuk kembali lagi pada ku. Aku sungguh tak bisa hidup tanpa mu" Jimin mengenggam tangan Suga sembari menatap penuh harap.

"aku tidak bisa berjanji akan kembali, tapi aku akan berusaha sebisa mungkin untuk kembali, aku sudah lama sekali meninggalkan kepercayaan ku pada Tuhan, namun sekarang aku kembali mengingat Nya karena aku benar benar ingin bersama mu Jim" Suga menarik Jimin ke dalam sebuah pelukan.

"tolong jaga kepercayaan ku, percayalah aku akan kembali, jadi tolong kau selamatkan dirimu dan yang lain jika aku tidak bisa bersama kalian" Suga melepaskan pelukannya.

"aku bukan orang yang sabar menunggu hyung, jika kau tidak cepat kembali aku yang akan pergi dari dunia ini"

"jangan mencoba untuk bunuh diri demi orang seperti ku Jim"

"kalau begitu jangan pernah berkata seolah kau akan mati di depan ku"

"di dunia kita tidak ada kemungkinan terbaik Jim, yang ada adalah kemungkinan terburuk, dan jika kemungkinan buruk itu benar terjadi setidaknya di antara kita harus lapang dada menghadapinya" Suga beranjak dari tempat duduknya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Sejenak Jimin menundukan kepala merenungkan tentang apa saja yang akan terjadi pada mereka setelah ini, jujur Jimin yakin jika ada saatnya dia harus kehilangan mengingat profesi yang dia jalani dekat dengan kematian, hanya saja di saat dia sudah mulai membuka hatinya dan mulai mencintai mengapa dia harus bersiap untuk kehilangan?

Setelah beberapa saat menangis termenung akhirnya Jimin berusaha menenangkan diri dengan membaca langkah langkah mengemudikan pesawat sesuat dengan perintah Suga tadi. Sekacau apapun perasaan nya dia harus tetap professional atau dia bisa membahayakan nyawa teman temannya. Karena terlarut dengan kegiatannya Jimin sampai tidak sadar jika Jin sudah ada di sampingnya dan mulai menangani luka di tubuhnya.

"Aww.. hyung sakit pelan pelan" Jimin akhirnya sadar saat Jin mengobati tukanya dengan cairan antiseptic.

"habis kau serius sekali, aku di samping mu saja kau tidak sadar. Hanya kau dan Suga yang belum ku obati karena kau sibuk bicara serius dengan suami mu itu" Jin dengan telaten mengobati luka Jimin.

"apanya yang suami jika belum di pinang aku sudah akan menjanda, hyung dengar sendirikan dia tadi bilang apa" Jimin menurunkan tablet pc yang dia pengang lalu menatap Jin sedih.

"setidaknya kau masih bersamanya dan bisa jadi kalian tidak akan terpisah Jim, sedangkan aku… aku sudah tidak ada harapan lagi…" Jin menghentikan kegiatannya mengobati Jimin dan mulai menitihkan air mata.

"apa maksud hyung? Rapmon hyung pasti akan kembali hyung, dia tidak sebodoh itu bisa tertangkap musuh"

"kau salah Jim… dia sangat bodoh… dia sangat bodoh karena membawa musuh musuh yang mengejarnya untuk pergi ke neraka bersamanya…" tangis Jin makin menjadi. "pesawatnya jatuh Jim, semua terbakar dan tak tersisa sedikit pun"

Jimin segera membuka kembali tablet PC nya untuk memastikan berita itu, dan benar semua berita menayangkan jatuhnya pesawat berisi barang curian yang di tumpangi Rapmon dan beberapa agen juga pembunuh bayaran yang mengejarnya. Pesawat itu jatuh di area pemukiman dan habis terbakar karena ledakan, bahkan semua mayat pun habis terbakar tanpa sisa.

"Ya Tuhan hyung…" Jimin langsung memeluk Jin dan ikut menangis.

"dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mempersiapkan diri kehilangannya Jimin… bukan kah dia sangat jahat meninggalkan ku begitu saja…" tangis yang sudah Jin tahan sedari tadi akhirnya ia lepaskan, Jin berusaha meyakin kan dirinya tidak apa apa, dia berusaha terlihat tegar di depan V dan Suga yang juga sudah tau mengenai kematian Rapmon, namun entah kenapa memakin menahannya dia semakin merasa terluka.

"kuat kan diri mu hyung, Rapmon pasti ingin yang terbaik untuk mu, dia ingin kau selamat hyung" Jimin masih terisak sambil memeluk erat Jin yang tak kalah histeris.

"aku sudah bilang jutaan kali jika aku tak bisa hidup tanpanya, tapi dia malah meninggalkan ku seperti ini, dia seperti membunuh ku perlahan Jim"

"kalau begitu berusaha hidup untuknya hyung, bertahan hiduplah demi nya, teruskan semua cita cita kalau perlu balaskan dendamnya, hiduplah dengan baik karena itulah yang Rapmon hyung inginkan, dan itu juga yang berusaha Suga hyung katakana pada semisal nanti aku harus berpisah dengannya" Jimin melepaskan pelukannya, menghapus air matanya dan beruhasa memberikan senyuman termanisnya pada Jin. "kita hidup di dunia yang kejam hyung, tidak pernah akan ada kebahagiaan dan kedamaian untuk kita"

"kau benar… aku lahir memang membawa sial dan kesialan itu masih belum mau meninggalkan ku" Jin berusaha menenangkan diri, dia sudah berhenti menangis.

Suga yang selesai mandi dan berganti pakaian kembali mendudukan diri di sofa ruang tengah.

"kau sudah selesai? Sini biar kulihat luka mu" Jin segera menghapus air matanya dan mendekat pada Suga.

"jangan pernah menangis lagi dan hiduplah dengan baik, jaga adik adik kita. Kau tidak sepenuhnya hidup dengan kesialan karena hadir mu dalam Bangtan merupakan keberuntungan bagi kami semua. Berjanjilah pada ku untuk tetap menjadi pilar Bangtan yang selalu menjaga dan mengayomi semua member walaupun kita sudah tidak lengkap. Tetaplah menjadi dokter Jin yang cerdik, menawan dan ceria seperti biasanya. kau mau berjanji pada ku kan Seokjin?" Suga mengusap lembut air mata Jin yang mulai berlinang kembali.

"itu adalah kalimat terpanjang yang pernah kau ucapkan pada ku Yoongi, bagaimana bisa aku menganggapnya angin lalu" Jin tersenyum dalam tangisannya.

"bagi ku sekarang ini kalian adalah prioritas hidup ku, jadi apa pun yang terjadi kalian harus selamat" Suga mencium tangan Jin lalu mengalihkan pandangan pada Jimin kemudian tersenyum penuh arti, Jimin pun juga membalas senyuman Suga.

Suga dan Jin mungkin memang terlihat tidak terlalu dekat dan cenderung sangat bertolak belakang dalam hal apapun, namun sebenarnya diantara para member bangtan mereka lah yang paling cocok satu sama lain dan sering sependapat. Dalam perdebatan atau permasalahan apapun di Bangtan, selalu Jin dan Suga yang menemukan jalan keluar dengan sudut pandang mereka yang lain dari member Bangtan lainnya, mereka juga menjadi sosok kakak yang selalu mendidik dan menjaga member lain yang lebih muda, hal ini secara tidak langsung menjadikan mereka pilar di Bangtan dan itulah yang membuat persahabatan mereka semakin erat.

.

.

.

Di sinilah mereka sekarang, di Bandar udara terdekat dari pusat kota. Somi mengambil penerbangan lain umum untuk pulang ke Jepang sementara Anggota Bantan mengurus semua keperluan untuk mendapatkan jet mereka.

"oke kurasa kita harus berpisah di sini, aku akan langsung pulang ke Jepang saja, terimakasih kalian sudah menyelamatkan nyawa ku" pamit Somi pada anggota Bangtan.

"kami justru yang menyeret mu dalam masalah kami, ketika kami sampai di paris akan langsung ku transfer sejumlah uang padamu" kata Jin.

"tidak perlu eonnie, kerja ku buruk dan aku tidak membantu kalian sama sekali, aku justru merepotkan kalian" Somi memasang senyum getir.

"kau membantu kami, kau jauh terbang dari Jepang untuk kami, jadi kau pantas mendapat bayaran mu" Jin mengusap kepala Somi dengan lembut.

"aku akan mengunjungi kalian di mana pun kalian berada, jika kalian butuh bantuan ku dengan senang hati aku akan membantu" Somin memeluk Jin.

"jaga diri baik baik ya" Jimin tersenyum pada Somi saat Somi melepaskan pelukannya dari Jin. "berlatihlah untuk menjadi penerus keluarga Jeon yang baik, kau gadis paling kuat yang pernah kutemui Somi-chan"

Pekataan Jimin langsung membuat Somi tersadar jika Jimin adalah Nagisa yang bersamanya dulu. Dengan tangisan Somi langsung memeluk Jimin.

"Nagisa-chan…hiks..aku selalu punya firasat jika itu kau...hiks..Jungkook bodoh, tunangannya ada di depan matanya tapi dia tidak menyadarinya, aku akan mengutuknya di neraka kalau sampai dia mati dan tidak kembali pada mu" Somi menangis tersendu di pelukan Jimin.

"dia akan kembali, oppa mu akan kembali, tapi dia tidak akan kembali untuk ku, kita memang tidak di takdirkan bersama mungkin… dulu Jungkook hanya bingung mengartikan perasaannya pada ku" Jimin melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Somi.

"kau tidak mencintai Jungkook?" Tanya Somi.

"walaupun dulu aku masih sangat muda tapi aku bisa pastikan dulu aku sangat mencintainya Somi-chan, tapi tidak dengannya…. Dia hanya menyayangi ku karena kita tumbuh bersama, dan rasa sayangnya berubah menjadi obsesi tak ingin kehilangan, setelah ini ku yakin Jungkook bisa membuka hati uantuk orang yang benar benar dia cintai" Jimin tersenyum tulus pada Somi dan itu membuat tangisan Somi semakin keras.

"Jungkook benar benar bodoh, dia harus kembali hidup hidup dan aku akan pastikan untuk memukul kepalanya sekuat tenaga agar otaknya yang sempit itu bisa berpikir dengan benar" ujar Somi di sela tangisnya.

"Somi sepertinya kau harus naik ke pesawat mu sekarang, ada pergerakan aneh menuju kemari" sela Suga tiba tiba.

"apa ada yang mengejar kita lagi?" Tanya Somi.

"sepertinya, cepatlah pergi aku punya firasat buruk" tambah V.

"cepat naik ke pesawat mu, aku akan menghubungi mu ketika sampai di Paris" Jimin mendorong Somi menuju gerbang pemberangkatannya.

"bandara ini aneh, tadi saat kita datang semua tampak normal saja, tapi mengapa sekarang terlihat sedikit lebih sepi" ujar Jin.

"lebih baik kita cepat menuju pesat kita, firasat ku juga mulai tidak enak" Suga menarik Jin dan Jimin untuk menuju pessawat mereka.

Letak pesawat mereka ada di sisi paling utara landasan udara, cukup jauh dari lobi bandara maka dari itu mereka membutuhkan waktu sedikit lama untuk sampai pada pesawat mereka.

Saat hendak memasuki pesawat, segerombolan orang bersenjata mengepung mereka. Ternyata firasat itu memang benar, sepertinya kedatangan mereka telah diintai, bandara secara tidak sadar mulai di kosongkan semenjak mereka datang, itulah mengapa bandara terlihat lebih sepi dan penerbangan yang lain pun di percepat keberangkatannya.

"akhirnya kena juga kalian, perampokan kalian sudah gagal, harta kalian sudah habis hangus bersama dengan pemimpin kalian, sebaiknya kalian menyerah" ujar salah seorang pria dari gerombolan itu.

"Tanaka? Kalian…" ujar Jimin kaget, dia tidak menyangka akan di serbu oleh klan Inagawa di saat seperti ini.

"kenapa kau tau nama ku? Aku tidak pernah ingat berurusan dengan mafia bawahan Rapmon sebelumnya" Tanya pria bernama Tanaka itu.

"bagaimana aku tidak mengingat orang yang merawat saat aku kecil dulu" jawab Jimin yang mulai membuka kancing bajunya.

"jangan bercanda aku tidak pernah merawat orang seperti mu, kalau tidak salah kau si hacker itu kan? Apa kau berusaha menipu kami setelah menggali informasi tentang kami" Tanaka mengacungkan senjatanya kea rah Jimin dan itu langsung membuat Suga ikut mengarahkan senjata kearah Tanaka.

"mungkin kau akan ingat jika melihat ini" ujar Jimin dengan bahasa jepang sambil memperlihatkan punggungnya setelah menyingkap kemeja yang ia gunakan.

"N.. -sama?" orang bernama Tanaka itu terkejut.

Tak lama setelah itu ada seorang kakek kakek bersama beberapa pengawalnya datang dan melihat semua pasukan dan anggota Bangtan terdiam.

"Tuan… dia… itu Nagisa-sama…" setelah kakek kakek itu mendekat Tanaka menjadi semakin pucat.

"Nagisa, kau kah itu nak?" Kakek itu ternyata kakek Nagisa dan ketua Klan Inagawa.

"kakek…" Jimin membalikan badan menatap orang yang telah ia anggap sebagai kakeknya itu.

"apa kau menjadi mafia sekarang? Apa kakek telah membawa mu pada takdir yang buruk hingga kau menjadi seperti ini?" ujar sedih kakek Nagisa.

"tidak kek, takdir buruk memang telah bersama ku sejak aku lahir" Jimin mengancingkan kembali bajunya.

"menyerahlah nak, kakek akan membawa mu kembali ke Jepang, kakek akan bernegosiasi dengan pihak God Father agar kau bebas dari hukuman, seluruh klan Inagawa sudah mengetahui semua kebenarannya, kami semua mencari mu" kakek Nagisa melangkah mendekat pada Jimin namun Jimin melangkah mundur memberi isyarat jika dia tidak ingin di dekati.

"aku tidak akan kembali kek, di sana bukan tempat ku yang sesungguhnya, aku tidak bisa selamanya menjadi Nagisa kek, aku Jimin… Park Jimin… semirip apa pun aku dengan Nagisa tapi itu semua tidak bisa mengubah fakta jika kami adalah orang yang berbeda. Aku sudah menemukan tempat yang pantas untuk ku kek, aku sudah memiliki keluarga sekarang, aku tidak perduli aku akan terus di kejar oleh pihak God Father, tapi aku benar benar tidak akan kembali" Ujar tegas Jimin.

"apa mereka yang mempengaruhi mu? Apa yang kau cari sebenarnya Nagisa, jika kau menginginkan harta kakek akan memberikan semua yang kakek punya pada mu" kakek Nagisa menatap Jimin sedih.

"harta memang segalanya kek, tapi bukan hanya itu yang ku butuhkan, mereka tidak pernah mempengaruhi ku justru mereka menyelamatkan ku dari jurang kelam bernama kesepian. Aku sangat bahagia bersama mereka sekarang, dan aku harap kalian mengerti" Jimin tersenyum tulus "aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kakek dan semua klan Inagawa, kalian lebih menyayangi ku dari pada ibu kandung ku sendiri, aku janji aku akan mengunjungi kalian lain waktu tapi tolong lepaskan kami"

"baiklah… kakek menyerah untuk kali ini, satu hal yang kakek meminta pada mu, jangan buang nama mu dan gelar mu sebagai penerus Klan Inagawa, tetaplah menjadi bagian dari keluarga ini" kata kakek itu.

"Nagisa adalah bagian lain dari hidup ku, sejauh apapun aku berusaha membuangnya dia kan terus menempel pada ku seperti tattoo di tubuhku ini. Jika kakek menginginkannya aku tetap akan menjadi Kiyota Nagisa dari Klan Inagawa" jawab mantap Jimin.

"pergilah, selamatkan dirimu dan teman teman yang kau cintai itu, sebentar lagi sekutu God Father yang lain akan datang" Kakek Nagisa membalikan badan menjauh dari Jimin.

"terimakasih banyak kek" Jimin membungkuk member hormat pada kakeknya.

Sedetik setelah Jimin mengangkat badannya setelah membungkuk, tiba-tiba beberapa orang tak di kenal menyerbu. Sepertinya sekutu God Father yang lain mulain berdatangan dan menenbaki mereka. V yang berdiri paling dekat dengan pintu pesawat langsung menarik Jin dan Jimin agar segera masuk ke dalam pesawat. Jimin mengedarkan pandangan berusaha mencari Suga, ketika dia menemukannya dia melihat Suga tersungkur dengan kaki tertembak.

"HYUNG! ANDWE V, SUGA HYUNG MASIH DISANA" teriak histeris Jimin sambil merusaha melepaskan diri dari cengkraman V, walaupun tidak berhasil.

"Yoongi! Tae, Yoongi masih ada di sana!" Jin ikut histeris.

"BAWA MEREKA PERGI SEGERA V! AKU AKAN MENYUSUL KALIAN" Teriak Suga yang tengah menahan sakit di kakinya.

"Hyung, berjanjilah pada ku jangan mati!" ujar V yang masih bisa di dengar Suga.

"aku masih ingin menikahi Jimin, mana mau aku mati" sahut Suga yang ternyata kembali mendapat tembakan di lengan kirinya padahal dia sudah berlindung dengan mayat seseorang yang menyerangnya tadi.

"Hyung bodoh" tangisan Jimin pecah.

Tepat setelah itu Suga benar benar tersungkur tak sadarkan diri karena mendapat tembakan di dadanya oleh seseorang. Jin dan Jimin menangis histeris, Jimin bahkan hampir akan melompat menuju Suga jika V tidak mencengkram tubuhnya. Dengan menahan air mata, V menarik Jin dan Jimin secara paksa kedalam pesawat dan menutup pintu pesawat itu. V juga langsung menarik Jimin ke gaian kemudi pesawat.

"kalian berdua harus selamat, itu pesan Suga hyung, jadi ku mohon padamu tolong bawa kita semua pergi dari sini Jim" V mencium kening Jimin dan menghapus airmata yang mengalir dari mata Jimin.

"aku membenci mu dan Suga hyung, tidak… aku membenci kalian semua…" Jimin masih menangis tersendu.

"kau boleh membenciku sesuka hati mu setelah ini tapi ku mohon bawa kita pergi dari sini sebelum pesawat ini habis tertembak dan kita semua akan mati. Kau dengar tadi hyung bilang apa, Suga hyung ingin menikahi mu dan dia akan menyusul kita nanti" V masih berusaha meyakinkan Jimin sembari menyalakan mesin pesawat itu.

"dia sudah mati bagaimana bisa dia menikahi ku bodoh!" tangis Jimin makin menjadi.

"Jim, cobalah percaya padanya, setidaknya tururti kata katanya jika kau benar benar mencintainya" perkataan V membuat Jimin lebih tenang.

Dengan cekatan Jimin mulai proses lepas landas mereka. V menuju ruang penumpang untuk menenangkan Jin yang juga masih shock dengan terbunuhnya Suga.

"Sayang pakai sabuk pengamannya dulu kita akan lepas landas" V dengan telaten mengusap airmata Jin dan memakaikannya sabuk pengaman.

"Tae… berjanjilah untuk jangan meninggalkan ku…" Jin memeluk V dengan erat sambil menangis sejadi jadinya.

"aku tidak bisa berjanji akan sesuatu yang belum pasti bisa ku lakukan, aku hanya bisa berjanji akan melindungi mu walau harus mengorbankan nyawaku" V memeluk Jin erat sambil sesekali mencium kening Jin.

"kalian semua keras kepala dan egois, bagaimana kalian bisa melakukan ini pada ku dan Jimin, kalian benar benar tidak perduli dengan perasaan kami" tangis Jin semakin Histeris dan pesawat mereka pun berhasil lepas landas.

.

.

.

TBC

.

.

.

Ok ok aku ngerasa chapter ini kepanjangan, tapi gak papa lah ya….

Chapter ini juga menandakan jika cerita ini kurang satu chapter lagi #hhoreee

Terimakasih buat semua yang menyempatkan membaca FF ini, terkhusus kepada semua yang review kalian semua terbaik dari yang terbaik.

Jun harap kalian masih mau baca FF Jun yang lain

Semisal ada request, kritik, atau saran bisa langsung review

Jika ingin update nya cepet mohon review ya, kasih kesan pesan kamu buat FF ini.

Jun sudah punya chapter terahir FF ini ditangan tinggal upload doang, jadi Jun bakal nunggu sampai review nya lebih dari dua puluh baru Jun upload chapter terahir.

Jadi para silent reader tolong bertobatlah menjelang akhir cerita.

Oke mungkin itu aja

Sampai ketemu di chapter berikutnya

XOXO

Junra