Tittle : Bangtan Squad from Hell

Author : Jun_96

Genre : Crime/friendship/lil bit romance

Cast :

Namjoon Kim (Rapmon) 24 tahun

Seokjin Kim (Jin or Jinnie) 26 tahun

Yoongi Min (Suga ) 25 tahun

Hoseok Jung (J-hope) 24 tahun

Jimin Park ( Jimin or Baby J) 23 tahun

Taehyung Kim (V) 23 tahun

Jungkook Jeon (jungkook or… bts member call him Kookie) 21 tahun

Pairing :

Namjin

Yoonmin

Jikook

Taejin

Summary: Rapmon sang ketua geng mafia ingin mendirikan kelompok mafia yang tak terkalahkan. Namun dia butuh anggota yang kuat dan tak terkalahkan, karena itulah dia berada di Arkazam, untuk menjemput calon rekannya. (Namjin, Yoonmin, Jikook, Taejin,dll) (Jin & Jimin uke, Rapmon yonggi Taehyung Jungkook Jhope Seme)

.

.

Note: sesuai janji, review lebih dari 20, Jun langsung update last chapter, jadi untuk yang terakhir ini mohon baca sampai bawah dan review ya. Maaf ini chapter kepanjangan, asli panjang banget jangan bosen bacanya ya.

.

.

Setelah 3 jam mereka mengudara, keadaan mereka mulai tenang Jin dan Jimin sudah tidak terlalu histeris, walaupun mata Jimin masih belum bisa berhenti mengeluarkan airmata, tapi setidaknya pikirannya sudah mulai focus mengemudikan pesawat itu. Jin berhenti menangis dan menyandarkan kepalanya pada V, kepalanya pusing karena terlalu lama menangis.

"tidurlah, perjalanan kita masih lama, akan ku bangunkan jika kita sudah sampai" V mengusap kepala Jin sayang.

"aku tidak ingin tidur… aku tidak ingin saat membuka mata ku kau tiba tiba menghilang" ujar lemah Jin.

"jangan berkata seperti itu, aku tidak akan tiba tiba menghilang. Bukankah kita sudah sepakat mengahiri pembicaraan seperti ini tadi, jangan memulainya lagi" V mencium bibir Jin sekilas.

Dalam keheningan, V merasakan suara aneh dari lemari penyimpanan yang ada di pesawat itu. Dia mengisyaratkan pada Jin untuk diam dan tidak bertanya. Dengan perlahan V mengambil senjata untuk nya dan untuk Jin, lalu dia mendekat ke sumber suara. V membuka lemari penyimpanan itu dan benar saja, seseorang yang di ketahui anggota CIA keluar dari lemari itu dan langsung menyerang V.

Terjadi pergelutan yang cukup sengit antara V dan agen CIA itu. Jin berusaha membantu menyerang agen CIA itu namun sepertinya dia bukan agen biasa, dia cukup kuat dan lincah. V yang biasanya langsung bisa menghancurkan tulang manusia sekali cengkram saja tidak bisa mengalahkannya dengan mudah dan justru sudah banyak mendapat luka. Diam diam Jin meracik sesuatu dan melumurkannya pada belati yang dia pegang, untuk sementara agen CIA itu tidak begitu sadar pergerakan Jin.

Di saat pertarungan semakin sengit agen CIA itu mencoba menusuk V dengan pisau lipat yang di bawanya namun V dengan mudah menghindarinya, namun tanpa sadar agen CIA itu mengambil tabung pemadam kebakaran yang ada di dekatnya dan memukulkannya ke kepala bagian belakang V, dan itu membuat V tersungkur tak sadarkan diri dengan darah segar mengalir dari kepalanya. Agen CIA itu tersenyum puas saat melihat V tak berdaya, tapi dia tidak sadar jika Jin masih di sana dan dia bersiap akan menusuknya. Dengan sekuat tenaga Jin menusuk agen itu dengan belati yang ternyata telah ia lumuri dengan racun yang melumpuhkan semua syaraf tubuhnya. Agen CIA itu jatuh tersungkur namun dia masih sepenuhnya sadar, dia berusaha menggapai kaki Jin dengan sisa kekuatannya namun tidak berhasil.

Jimin mengaktifkan Auto pilot pada pesawat itu karena ingin memeriksa ke bagian penumpang. Dia seperti mendengar kerusuhan di belakang sana. Setelah Jimin masuk ke ruang penumpang dia di kejutkan orang asing yang sekarat dan Jin yang menangis dengan kepala V yang berlumuran darah di pangkuannya.

"Ya Tuhan ada apa ini" Jimin menghampiri Jin.

"ad..ada agen CIA yang bersembunyi di pesawat ini dan dia melukai V" tangan Jin bergetar dan dia semakin histeris.

"tenang hyung, tenagkan diri mu dulu" Jimin juga menangis tapi setidaknya dia lebih tenang.

Karena telah mengerti sepenuhnya permasalahannya, Jimin bangkit dan menuju agen CIA yang sedang sekarat itu. Jimin menarik agen itu mendekati pintu pesawat.

"aku tidak akan pernah memaafkan orang yang menyakiti teman ku, matilah dan pergi ke Neraka secepatnya, karena aku muak melihat wajah mu" Jimin membuka pintu pesawat dengan susah payah lalu melempar keluar tubuh orang itu kemudian menutup kembali pintunya.

"Jimin V… dia mengeluarkan banyak darah…" tangan Jin masih bergetar.

Melihat itu Jimin segera bergegas mengambilkan tas peralatan dokter Jin dan memberikannya pada Jin.

"lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah keadaannya makin parah hyung" Jimin menggenggam tangan Jin yang gemetar. "V akan baik baik saja, dia kuat, setelah kita pulang kita akan merawatnya dengan peralatan yang lebih memadahi, kita sudah latihan oprasi kan sebelumnya"

Senyuman Jimin membuat badan Jin mulai berhenti bergetar dan tatapan matanya mulai terlihat tajam. Tanpa buang waktu Jin langsung menyambar beberapa alat medis dan alat bantu nafas untuk V. Dengan cekatan Jin menangani V, Jin tau jika luka di kepala V cukup parah karena dia terkena benturan yang cukup keras, darah yang V keluarkan juga cukup banyak, Jin tidak yakin dia akan selamat sebelum mereka lepas landas, tapi hanya ini yang bisa Jin lakukan.

Setelah selesai membantu Jin menangani V, Jimin kembali ke ruang kemudi, dia berusaha sekuat tenaga agar mereka sampai Paris secepatnya. Sementara Jin terus berada di sisi V sambil merapal segala doa yang dia tau untuk keselamatan adik kesayangannya yang tengah merenggang nyawa ini.

.

.

.

Jimin berhasil membawa pesawat itu mendarat dengan selamat di paris setelah 7 jam menempuh perjalanan dari NewYork ke Paris. Jimin telah mematikan semua radar agar pesawat yang ia kemudikan tidak bisa di lacak, dia juga mendaratkan pesawat itu tepat di tanah pribadi area mansion mereka agar tidak menimbulkan keributan dan tidak ketahuan siapapun.

Tanah pribadi dan mansion mereka terletak jauh dalam desa yang berada di tengah hutan dan perkebunan yang kepemilikannya atas nama mereka dan jauh dari pemukiman penduduk, jujur tempat ini cukup sulit di temukan, Rapmon sangat pandai memilih tempat persembunyian.

Jimin dan Jin segera membawa V ke mansion mereka untuk di tangani secara lanjut dan mendapatkan tranfusi darah secepatnya, namun tanpa di sangka di rumah mereka sekarang telah menunggu beberapa orang yang mereka tahu itu anak buah dari Rapmon.

"Kalian? Kenapa kalian ada di sini? Apa Namjoon bersama kalian?" ujar Jin gusar.

"boss tidak bersama kami, dia membawa pesawat curian itu sedangkan dia memerintahkan kami untuk membawa barang lelang asli untuk kabur secara tersembunyi. Dia meminta kami untuk membawa ini semua pada mu" ujar salah satu anak buah Rapmon.

"Namjoon bodoh! Dia pikir aku senang dengan dia memberiku begitu banyak harta sedangkan dia sendiri pergi meninggalkan ku ke neraka" Jin kembali menangis.

"mulai sekarang kami akan menjadi anak buah mu, seperti pesan boss kami akan membantu mu dan menjadi kaki tangan mu dalam dunia hitam" kata salah satu anak buah Rapmon.

"kalau begitu, aku minta di sini yang bergolongan darah AB ikut dengan ku, yang lain tolong pastikan tempat ini tidak tersentuh siapapun, aku dan Jin hyung akan melakukan operasi besar malam ini jadi ku mohon kalian lindungi tempat ini" ujar Jimin tegas.

Jimin membawa Jin yang masih menangis ke salah satu ruangan yang di yakini itu ruang medis mansion mereka. Jimin juga memerintahkan anak buahnya untuk membawa V masuk rungan itu.

"hyung aku tau hyung sedih, aku juga… tapi sekarang kita harus menyelamatkan Taehyung"

"aku tau Jimin… aku hanya merasa jika aku tidak ada harapan lagi untuk bertemu Namjoon" Jin mengusap air matannya.

"aku pun juga begitu hyung… tidak ada harapan lagi untuk bertemu Suga hyung, tapi V bilang pada ku 'setidaknya turuti kata katanya jika kau benar benar mencintainya' mungkin memang hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang" kata Jimin dengan setetes air mata mengalir di pipinya yang mulai tirus.

"aku mengerti… bantu aku melakukan persiapan operasi, kita akan melakukan operasi besar pada Taehyung" Jin bangkit dan bergegas menyiapkan persiapan operasi.

.

.

.

Operasi V berjalan dengan lancar, semua syaraf di kepalanya sudah di perbaiki, namun dampak dari benturan itu membuat V koma. Sudah terhitung satu minggu setelah operasi itu V tak Kunjung bangun.

"V apa kau tidak lelah tidur terus… Jin hyung menangis setiap hari saat melihat mu… kau tidak kasian padanya? Wajah cantiknya menyuram karena menangisi mu setiap hari…" Jimin berusaha berkomunikasi dengan V yang masih Koma sambil menahan tangisnya.

"kau sama saja dengan yang lainnya V… kau meninggalkan aku dan Jin hyung… kau sama jahatnya dengan mereka…" Jimin tersenyum pahit.

"cepat bangun… aku akan mengantarkan mu berfoto di menara Eifel dan aku juga akan mengantarkan mu ke butik Gucci yang ada di Paris, kau selalu merengek pada ku minta di antar kesana kan? Aku juga akan kencan dengan mu di kedai burger pinggiran kota yang kau sukai itu, aku akan menemani mu kencan kemana saja yang dulu ingin kan saat kau cemburu melihat Jin hyung dan Rapmon hyung bermesraan, sekarang kau tidak perlu takut lagi untuk mengajak ku bermain karena Suga hyung tidak akan memarahi mu lagi…" tangis Jimin pecah.

"kau satu satunya yang kami punya bangun Tae…"

.

.

.

3 month later

Sudah tiga bulan lebih semenjak kepulangan mereka ke Paris dan V tidak menunjukan tanda tanda akan bangun. Kini Jin lah yang menjadi ketua dalam organisasi mafia mereka. Dia mulai meluaskan bisnis barang terlarang ke selurus dunia dan mengelola semua harta yang mereka kumpulkan di perlelangan itu dengan baik di bantu oleh Jimin. Jin dan Jimin pun berhasil meluaskan pengaruh mereka dan menambah banyak anak buah demi menguatkan organisasi mereka, bisa di katakan dengan kekayaan sebesar itu mereka adalah Mafia terkuat di dunia sekarang, FBI dan CIA pun pasti akan berpikir dua kali untuk menyerang hanya dua bulan tapi nyatanya Jin dan Jimin bisa membuat Bangtan makin kuat dan tak tertandingi.

Itu semua memang tidak lepas dari harta yang mereka kumpulkan di perlelangan. Dengan uang sebanyak itu bahkan mereka bisa mendirikan sebuah negara jika mereka mau. Mereka menggunakan uang itu untuk memperluas relasi dan menambah sekutu, mereka juga merekrut banyak tenaga ahli untuk menjadi anak buah mereka.

Hari ini setelah bertemu dengan relasi bisnisnya di pusat kota, Jin dan Jimin memilih kembali ke mansion mereka untuk beristirahat. Mereka menerapkan peraturan agar selain dia dan Jimin tidak di perbolehkan seorang pun menginjakkan kaki di Mansion tanpa seizing mereka, maka dari itu semua anak buah mereka tinggal di rumah-rumah yang di bangun dekat perbatasan tanah pribadi mereka untuk menjaga mansion utama.

"hyung jika hyung mencari ku aku di tempat biasa mendinginkan kepala" ujar Jimin setelah mereka memasuki Mansion mereka.

"aku akan memanggil mu saat makan malam tiba" Jin menuju dapur ketika Jimin bergegas naik keruang atas.

"rumah ini jadi sangat sepi… apa aku ajak Somi saja tinggal di sini agar lebih ramai…" gumam Jin yang terputus karena…

"jangan ajak Somi kemari dia berisik" ujar seseorang yang tiba tiba datang dari arah ruang depan. "tidak merindukan ku hyung?"

"Oh Tuhan Jungkook!" Jin yang histeris langsung menghambur kepelukan Jungkook. "dasar anak nakal, kau kemana saja? Kenapa kau tidak langsung kembali, kukira kau sudah mati" Jin menangis bahagia.

"kami tidak bisa kembali dengan luka luka parah yang kami derita hyung" sahut seorang lagi yang baru saja datang menyusul di belakang Jungkook.

"Hobie… syukurlah kau juga selamat" Jin beralih memeluk Jhope.

"jangan menangis hyung, nanti kau tidak cantik lagi, wajah mu itu juga asset berharga mu kan" Jhope menghapus air mata Jin.

"jangan bilang kau selalu menangisi kami setiap hari semenjak saat itu, He… penjahat seperti mu juga bisa menangisi seseorang ternyata" goda Jungkook.

"kau ini! Kau pikir kerena siapa aku menangis!" Jin memukuli bahu Jungkook.

"iya iya aku minta maaf, yang penting aku kembalikan hyung" Jungkook menangkap salah satu tangan Jin lalu menciumnya. "bukan kah aku berjanji akan kembali, seorang pria sejati tidak akan pernah melanggar janjinya"

"kalau begitu berjanjilah pada ku jangan pernah tinggalkan aku dan Jimin lagi" kata Jin.

"yes sir…" jawab Jungkook dengan senyuman.

"tapi aku penasaran bagaimana kalian selamat? Dan kenapa kalian tidak langsung kembali kesini?" Jin membawa Jungkook dan Jhope untuk duduk di ruang tengah.

"aku dan Jungkook sudah hampir putus asa saat itu, luka kami sangat parah dan mustahil kami bisa kabur dari kejaran pihak God Father, saat itu aku dan Jungkook sudah akan bunuh diri dengan meledakan gedung itu, tapi di saat yang tepat teman Jungkook datang menyelamatkan kami, membawa kami pergi dari tempat itu dan menyembuhkan luka kami setelah membawa kami ke kediamannya yang ada di LA" Jhope mulai bercerita.

"teman Jungkook?" Jin tidak pernah ingat Jungkook punya teman selain mereka.

"teman masa kecil ku Yugeom, dia penerus keluarga mafia Kim dari Korea, dulu dia di latih bersama ku. Beberapa hari sebelum perlelangan aku menyempatkan diri untuk bertemu dengannya, dan tidak ku sangka dia datang menyelamatkan ku, katanya akan sangat konyol jika melihat teman masa kecil mu yang dari dulu kemampuan membunuhnya berada di atasnya mati konyol sia sia" sambung Jungkook.

"memang sangat konyol jika kau mati sia sia" sahut ketus Jin.

"yang lain kemana hyung? Kok sepi" Tanya enteng Jhope.

"yang kau maksud yang lain itu siapa? Yang selamat hanya aku dan Jimin" jawab Jin dengan wajah sedih.

"bohong… hyung bercanda kan…" Jhope dan Jungkook sangat shock, mereka tidak menyangka akan sebanyak itu rekan mereka yang gugur.

"untuk apa aku bercanda masalah ini…Rapmon mati meledakan pesawat yang membawanya dan musuh musuh yang mengejarnya, Suga tertembak saat kami terkepun di bandara, dan V…" air mata Jin kembali menetes. "dia koma karena terkena pukulan dari agen CIA yang menyelinap dalam pesawat yang kami tumpangi"

"Tuhan…. Jadi sekarang V koma? Dimana dia sekarang?" kesedihan tercetak jelas di wajah Jhope, dia tidak bisa membayangkan orang yang sudah dia anggap adiknya sendiri sedang koma.

"dia ada di kamarnya" jawab Jin dalam tangisnya.

"Suga hyung…. Hyung Jimin dimana?" Tanya Jungkook.

"dia ada di kamar Suga, dia selalu mengurung diri disana"

Tanpa menunggu lama Jungkook langsung bergegas kekamar Suga untuk menemui Jimin karena dia yakin Jimin sangat terpuruk dengan kepergian Suga. 'dia bahkan hanya berdiam di kamar Suga hyung dan tidak di kamar ku' batin Jungkook.

Jungkook membuka kamar Suga nemun tidak ada seorang pun di sana. Samar samar Jungkook mendengar gemercik air dari arah kamar mandi, dan tanpa menunggu lama Jungkook pun segera memasuki kamar mandi itu. Di dalam kamar mandi Jungkook melihat Jimin yang tengah berendam di bathup yang cukup besar itu dengan pandangan kosong dengan jejak air mata di pipinya. 'dia benar benar terpukul akan kepergian Suga hyung' batin Jungkook lagi.

Jungkook belum ingin mengintrupsi Jimin, dia memilih untuk menatap orang yang paling dia rindukan itu. Tatapannya tiba tiba ter tuju pada punggung Jimin, perlahan Jungkook mulai mendekat untuk melihat dengan jelas punggung Jimin.

"Nagisa…" gumam Jungkook yang langsung menyadarkan Jimin dari lamunannya.

"Jungkook…. Kau… bagaimana bisa…" Jimin membalikan badan menatap Jungkook terkejut.

"jadi selama ini kau Nagisa?"

"tepatnya selama ini aku menggantikan Nagisa… aku akan menceritakan semuanya pada mu" Jimin keluar dari bathup itu dan melenggang menuju kamar Suga dan membalut tubuh telanjangnya dengan sebuah bathrope yang ia ambil dari lemari Suga.

Jungkook mengikuti Jimin dan menundudukan diri di ranjang Suga. Jimin menceritakan semua yang terjadi juga kekecewaannya pada Jungkook secara detail, dan Jungkook menyesali semua.

"walaupun kau bukan Nagisa yang asli tapi kau adalah Nagisa yang ku cintai" sanggah Jungkook.

"Jungkook, itu bukan cinta… itu hanya obsesi semata… kita sangat dekat waktu kecil, dan tiba tiba terpisah kau jadi bingung kau mengartikan rasa sayang dengan cinta" Jimin menyentuh rahan Jungkook lembut.

"tau apa kau soal perasaan ku…"

"jika kau memang mencintai ku kau tidak akan pernah bisa hidup tanpa ku Jungkook, tapi kenyataannya kau baik baik saja kau juga sempat menjalin hubungan dengan orang lainkan, aku tau kau mencari ku tapi nytanya kau hidup dengan baik tanpa ku, saat kita bertemu kembali pun kau juga tidak bisa langsung mengenali ku, jelas itu bukan cinta Jungkook… kau hany terobsesi dan merasa bersalah padaku" tangan Jimin masih setia menyentuh wajah Jungkook.

"lalu apa bedanya dengan Suga hyung? Kau mencintainya? Buktinya kau masih bisa hidup tanpanya"

"kau salah Jungkook… hanya raga ku yang tampak hidup, jiwa ku sudah mati… maka dari itu aku tidak akan pernah bisa menerima siapun lagi di hati ku. Carilah orang yang benar benar kau cintai Jungkook, teruskan hidup mu dan jangan terikat dengan ku lagi" satu tetes airmata Jimin jatuh.

"aku kalah… aku bahkan kalah dari orang yang sudah mati…" Jungkook tersenyum getir.

.

.

.

Keesokan harinya kediaman Bangtan terlihat sedikit lebih hidup dengan datangnya dua anggota mereka yang ternyata selamat. Jin dan Jimin mengajarkan mereka tentang bisnis dan perkembangan organisasi mereka sekarang.

Hari ini jadwal mereka hanya menyusun strategi menghancurkan bisnis pesaing mereka. Jhope, Jin, dan Jimin mengadakan rapat untuk penyusunan rencana sedangkan Jungkook menolak untuk ikut, dia bilang jika dia malas berpikir dan dia juga ingin menenangkan diri karena patah hati.

Jungkook memilih mendinginkan kepala di kamar V, semenjak dia kembali kemari dia belum melihat V. Sebenarnya bisa di bilang jika V adalah member terdekat bagi Jungkook karena mereka selalu di pasangkan berdua. Tipe bertarung mereka hampir sama maka dari itu mereka selalu di tugaskan di garis paling depan formasi Bangtan. Tak hanya itu, Jungkook juga sering bercerita dan berkeluh kesah pada V. Walaupun kelihatannya dia sangat ketus pada V, tapi nyatanya V itu seperti tempat dia pulang dan melepas penat mental.

"hyung…. Jimin menolak ku… kau pasti akan menertawakan ku jika kau sadar… kau pasti akan bilang jika aku bodoh dan tidak pantas menjadi Seme" Jungkook menidurkan dirinya di samping V.

"bangunlah hyung…dengarkan curahan hati ku, bermain bersama ku seperti saat kita di Bogota dulu, temani aku melakukan hal gila agar aku melupakan Jimin…" Jungkook memeluk tubuh V dari samping.

Setelah beberapa menit Jungkook merasakan gerakan pada tangan V. jari V mulai bergerak dan itu membuat Jungkook langsung terduduk kaget.

"hyung… V hyung…" Jungkook menyentuh tangan V yang bergerak itu.

Perhalan mata V mulai terbuka, dia menatap Jungkook dan tersenyum kearahnya.

"akan ku temani kau melakukan hal gila… dan lupakan Jimin…" ujar lemah V dengan suara bergetar.

"HYUNG! JIN HYUNG! V HYUNG SUDAH SADAR" Jungkook keluar dari kamar V dan berteriak heboh.

.

.

.

V memang telah bangun dari komanya, namun banyak anggota tubuhnya sulit di gerakan karena syaraf otaknya sempat lumpuh semala dia koma, sementara V harus memakai kursi roda dan menjalani terapi rutin dari Jin. Bangunnya V sungguh membuat semua anggota Bangtan menangis haru, Jin terus memeluknya seharian di hari pertama V bangun karena tidak percaya.

Setelah kurang lebih dua bulan pemulihan akhirnya V bisa beraktifitas normal. Karena pada dasarnya V itu kuat dan metabolisme menyembuhannya sangat bagus, maka dari itu dia bisa pulih dengan cepat. Jin juga berusaha sangat keras memberikan V terapi dan penanganan terbaik agar dia cepat pulih.

Setelah melakukan pemeriksaan berkala dengan Jin, V bergegas menuju kamar Jungkook untuk mengajaknya main game atau sekedar jalan jalan ke hutan. Ketika sampai di kamar Jungkook, ternyata kamar itu kosong. V beralih menuju taman belakang yang dulu sering mereka gunakan untuk latihan karena biasanya Jimin ada di sana, dan di mana ada Jimin maka di situ ada Jungkook yang memandangnya dari kejauhan dengan raut wajah sedih dan menderita.

Dan… sepertinya benar, sekarang Jungkook tengah memandang Jimin dari jendela ruang tengah dengan raut wajah sedih. Taehyung menghela nafas melihat member termuda Bangtan itu, sudah dua bulan semenjak dia di tolak Jimin dan dia masih seperti ini. Jungkook selalu menolak pekerjaan jika ada Jimin di dalamnya, dia juga jarang ikut rapat anggota jika di sana ada Jimin, tapi jika Jimin tidak menyadarinya Jungkook akan menatapnya dengan pandangan sedih seharian.

"Kookie, ikut dengan ku yuk!" Taehyung merangkul dan menarik paksa Jungkook kearah yang berlawanan dengan taman belakang.

"kemana? Bukannya kau harus checkup rutin dengan Jin hyung" Jungkook sedikit memberontak saat dia sadar dia di bawa ke arah perkebunan oleh V.

"aku sudah selesai checkup, sekarang saatnya aku menemani mu melakukan hal gila. Kau bilang sendirikan jika kau ingin aku menemanimu melakukan hal gila" V berhenti ketika mereka sampai di area perkebunan.

"itukan aku hanya asal bicara saja, kenapa kau menganggap itu serius" sahut ketus Jungkook.

"Jungkook-ah dengarkan aku, patah hati itu memang menyakitkan, bisa melihat orang yang kita cintai tapi tidak bisa memilikinya juga sangat menyakitkan, tapi pernahkah kau berpikir jika kita memaksakan cinta kita pada seseorang maka dia akan terluka dan itu sama sekali tidak akan membuat kita bahagia walaupun kita telah memilikinya" Tahyung melangkah menuju tamanan bunga liar yang hanya berjarak tiga langkah darinya, dia menunduk dan memetik bunga itu.

"kau tahu kan aku jatuh cinta dengan Jin hyung sejak pertama kali melihatnya, aku selalu diam diam mendekatinya saat Rapmon hyung tidak bersamanya, aku berusaha keras agar dia mau melihat ku walaupun ku tau dia tidak akan pernah memberikan cintanya pada seseorang selain Rapmon hyung. Bohong jika aku tidak sakit hati, bohong jika aku baik baik saja karena ini pertama kalinya aku jatuh cinta, tapi setelah ku pikir pikir kembali untuk apa aku terus memaksakan perasaan ku pada seseorang, itu akan membuat aku dan dia terluka, tidak ada gunanya kan?" Taehyung berjalan mendekati Jungkook.

"dari pada menyakiti diri sendiri dan orang lain lebih baik mencari sesuatu yang baru yang membuat kita bahagia kan?" Taehyung memasangakan bunga yang dia petik di sela telinga Jungkook.

"kata kata bijak mu sungguh membuat ku ingin meludah di wajah mu"wajah Jungkook memang terlihat cemberut, tapi Jungkook menyiratkan sebuah senyuman di matanya.

"dari pada meludahi wajah ku lebih baik kau menjilatinya dan bersikap seperti anjing kecil yang baik" Taehyung mengusak rambut Jungkook sembari melempar senyuman hangat. "jika di lihat lihat lagi wajah mu tidak sepenuhnya keras, kau punya mata yang bulat, bibir yang merah dan gigi kelinci yang lucu"

"mau menghina ku? Hyung minta di bunuh ya?" Jungkook menyingkirkan tangan V yang ada di kepalanya dengan kasar.

"itu pujian bodoh, harus nya kau tidak menyembunyikan wajah imut mu itu dengan ekspresi dingin, mungkin kau bisa menyerah pada predikat seme dan menjadi uke yang manis" Taehyung mencubit pipi Jungkook dengan brutal lalu dia melarikan diri agar Jungkook tidak membunuhnya.

"KEMARI KAU V, KAU PIKIR KAU SIAPA BILANG AKU IMUT HAH? DAN SIAPA YANG KAU SEBUT UKE MANIS? KU PATAHKAN LEHER MU KIM TAEHYUNG" Jungkook mengejar V yang berlari menjauhinya dengan gelak tawa yang sangat keres.

.

.

.

Seperti pagi pagi sebelumnya, kegiatan anggota Bangtan adalah olahraga pagi melatih fisik mereka untuk meningkatkan kemampuan pertahanan diri. Untuk pagi ini olahraga mereka adalah Fartlek (latihan fisik yang mengombinasikan lari dengan variasi lari cepat, lambat, berkelok, naik turun tanjakan, lompat dan sebaigainya), singkatnya setelah di bagi dua kelompok mereka akan berlari bermain survival game di area hutan dengan memanfaatkan kemampuan free running dan bela diri mereka untuk lolos dari team lawan. Hari ini Jin tidak akan ikut bermain karena dia harus mengamati kondisi fisik member Bangtan yang lain.

Team V dan Jimin sepertinya terdesak, Jimin terkepung oleh Jungkook dan Jhope sedangkan V bisa lolos dengan mudah. Jimin berusaha mengelak dari serangan Jhope dan Jungkook tapi mereka berdua berhasil melumuri Jimin dengan cat tanda jika dia tertangkap. Belum sempat Jhope dan Jungkook menikmati kemenangan mereka, serangan tiba tiba dari atas pohon. V langsung melompat kearah Jhope secara tiba tiba dan mengunci semua pergerakannya serta melumuri Jhope dengan cat.

Tersisa Jungkook dan V sekarang. Tidak ada dari mereka yang berniat untuk lari menghindar, mereka seperti ingin segera mengahiri battle ini. V menyerang terlebih dahulu dan Jungkook berusaha menhindarinya. Pertarungan semakin sengit hingga tangan V berhasil mencengkram leher Jungkook dan setelah itu dia mengangkatnya.

"aku menang lagi… kalau masalah adu fisik memang kau tidak pernah menang dari ku" V masih mencekik Jungkook yang tubuhnya terangkat ke udara.

"Lll..lepas… bangsat… ka..u..bisa membunuh ku.." Jungkook berusaha memberontak namun cengkraman di lehernya makin kuat.

"Taehyung lepaskan Jungkook, kau sudah menang!" teriak Jin dari atas tebing.

"hyung, wajah Jungkook sangat lucu jika ku cekik seperti ini. Nah Kookie, kalau ingin di lepaskan coba Aegyo dulu" V tersenyum jahil pada Jungkook yang wajahnya kesakitan.

"Dalam..mimpimu brengsek!" Jungkook melayangkan tendangan kakinya ke kepala V dan V pun jatuh tersungkur.

Jungkook terbatuk setelah dia terlepas dari cengkraman V. Dia menoleh kea rah V yang terlihat mengerang kesakitan, Jungkook juga bisa mendengar teriakan panic Jin yang berkata 'apa yang kau lakukan bodoh, kepala Taehyung belum sembuh benar'. Jungkook melihat ekspresi V yang makin terlihat kesakitan.

"hyung… V hyung… kau tidak papa? Aku tidak sengaja tadi maaf… hyung" Jungkook mulai panic, dia memeriksa kepala V sambil menunggu Jin sampai di tempat mereka sekarang.

"wajah mu lucu sekali jika sedang panic" V tersenyum jahil lalu memeluk Jungkook untuk berbaring di tanah bersamanya.

"Taehyun-ah kau tidak papa?" Jin berlari menuju V, tapi yang ia lihat V dan Jungkook malah peluk pelukan di tanah.#sebenarnya V yang memeluk Jungkook, sedangkan Jungkook meronta ronta minta di lepas

"kalian ada apa ini? Kepala mu baik baik saja Tae?" Tanya Jin hawatir.

"tidak papa hyung aku hanya sedang mengerjai Jungkook" jawab Taehyung yang belum mau melepaskan Jungkook.

"oh syukurlah, jangan seperti itu lagi kau membuat jantung ku hampir naik ke tenggorokan"

Jimin dan Jhope bergabung dengan mereka dan menanyakan keadaan V namun dengan wajah tidak bersalahnya V bilang jika dia hanya iseng saja. Saat mereka semua akan membalas keusilan V tiba tiba salah seorang anak buah mereka mendekat dan memberikan sebuah surat yang katanya untuk mereka. Jin menerima surat itu dan membacanya.

"apa isinya hyung?" Tanya Jimin penasaran.

"sepertinya kakek mu mengundang kita semua ke Jepang, dan sepertinya kita tidak bisa menolaknya" jawab Jin dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan.

.

.

.

Setibanya di Jepang member Bangtan di kejutkan dengan semua persiapan pesta yang mewah yang di gelar di kediaman utama bergaya classic milik klan Inagawa, bahkan banyak Yakuza klan lain dan relasi kerja mereka di dunia gelap yang datang. Ketika mereka menanyakan acara apa ini sebenarnya kakek Jimin atau lebih tepatnya kakek Nagisa mengatakan mereka akan tradisi pengikatan janji.

Jimin masih ingat adat Yazuka dalam pengikatan janji. Acara seperti ini biasanya di lakukan untuk pengangkatan jabatan, pengabdian anggota baru, atau perjanjian besar yang berhubungan dengan anggota Yakuza yang jika di langgar maka kematian adalah harga mati nya. Perjanjian ini seperti perjanjian sampat mati dan kedudukannya bahkan lebih kuat dari pernikahan kalau ingin di bandingkan. Dulu saat masih tinggal di sini Jimin sering melihat ritual acara perjanjian ini.

"kakek kenapa aku harus pakai Montsuki(pakaian fomal tradisional Jepang biasanya di gunakan untuk acara pernikahan atau acara yang bersifat sangat resmi) sedangkan yang lain tidak, sebenarnya ini acara apa?" Tanya Jimin ketika banyak pelayan merias dan memakaikannya pakaian tradisional.

"kau pewaris Klan Inagawa, jelas saja kau harus memakai Montsuki Nagisa, acara hari ini berhubungan dengan mu nanti kau juga tahu sendiri" jawab santai kakek Jimin.

"apa mungkin kau akan di nikahkan dengan seseorang Jimin" bisik Jhope pada Jimin yang masih di rias.

"entahlah, aku takut hyung… jika kakek tiba tiba menikahkan ku dengan putri Yakuza klan lain bisa mati aku" Jawab Jimin dalam bisik.

"jika kau di nikahkan aku akan menyuruh Jhope untuk meledakan tempat ini dan aku akan membawa mu kabur, Jungkook bisa makin terpuruk jika kau benar jadi menikah" ujar pelan Jin ketika Kakek Jimin dan pelayan pelayan itu meninggalkan ruangan Jimin.

"jangan seekstrim itu juga hyung. Ngomong ngomong soal Jungkook, kemana dia? Aku tidak melihat Jungkook dan V dari tadi" Tanya Jimin.

"Jungkook sedang makan, dia rindu masakan Jepang katanya dan V menemaninya" jawab Jhope.

.

.

"Wah… sudah lama aku tidak makan masakan Jepang, Jin hyung biasa masak makanan Eropa, Amerika atau Korea aku jadi tidak pernah makan yang seperti ini lagi" Jungkook makan dengan lahap hidangan yang di sajikan untuk para undangan.

"kau bisa minta Jin hyung buatkan yang seperti ini" V juga ikut makan dengan lahap.

"mungkin lain kali aku akan memintanya" Jungkook melanjutkan makannya, sampai seseorang menepuk bahunya yang secara reflek membuatnya mengankat kepala melihat orang itu.

"makanlah perlahan tidak ada yang ingin mengambil makanan mu"

"kk..kau…"

.

.

.

Jimin yang sudah rapi, di bawa menuju ruang utama kediaman Klan Inagawa sedangkan tamu undangan yang lain melihat dari aula besar yang di pisahkan sebuah taman dari ruang utama itu. Saat Jimin masuk, dia melihat kakeknya, beberapa anggota klan duduk di sana. Jimin di dudukan di bagian tengah ruang utama, itu menandakan dialah yang akan melakukan acara perjanjian ini. 'Tuhan… aku tidak ingin di nikahkan dengan Putri Yakuza kenalan Kakek' doa Jimin dalam hati.

Karena terlalu sibuk merapal doa, Jimin sampai tidak sadar jika di depannya sudah duduk seseorang yang tengah tersenyum kearahnya.

"kau merapal doa untuk apa Jim?" kata orang itu dengan nada santai.

"Hh..hyung… kenapa…" terkejut, senang, haru, rindu bercampur aduk dalam hati Jimin sekarang, pasalnya Suga orang yang dia cintai dan dia kira telah meninggalkannya selamanya tengah berada tepat di hadapannya.

"apa aku bermimpi? Kalau aku mimpi aku tidak ingin bangun" racau Jimin sambil berusaha menahan tangisnya.

" kau tidak bermimpi, aku benar ada di sini. Kakek mu menyelamatkan ku yang sekarat waktu itu dan membawa ku ke Jepang untuk menyembunyikan ku, dia juga merawat ku sampai aku sembuh" jelas Suga dengan suara pelan karena mereka tidak ingin yang lain mendengarkan karena sepertinya acara sudah sampai sambutan dari ketua Inagawa.

"kenapa kau tidak cepat kembali…" Jimin berusaha menahan tangisnya.

"aku tidak cepat kembali untuk menyiapkan ini semua, butuh waktu lama untuk meyakinkan kakek mu" jawab suga masih dengan suara hampir berbisik.

"menyiapkan? Sebenarnya ini acara apa?"

"aku ingin mengikat mu dengan cara Klan Inagawa, aku akan berjanji akan selalu di sisi mu sampai maut menjemput, aku ingin meminang mu dengan cara keluarga mu, bukankah acara perjanjian ini lebih kuat dari pernikahan?" Perkataan Suga sukses membuat Jimin gagal menahan tangisnya.

Semua pelayan yang berada di sana mendekati Jimin dengan raut hawatir karena melihat tiba tiba Jimin menangis.

"Nagisa-sama, anda tidak papa? Apa ada yang sakit, atau anda kurang enak badan?" ujar panik salah satu pelayan.

"Nagisa, kau baik baik saja? Kenapa kau menangis?" Tanya kakek Jimin atau Nagisa hawatir.

"tidak…tidak papa kek lanjutkan saja, aku hanya terharu karena dia tiba tiba melamar ku" Jimin tersenyum di sela tangisnya.

"baiklah acara kita lanjutkan kalian berdua ucapkan janji kalian setelah itu minum sake yang ada di hadapan kalian" lanjut Kakek Jimin.

"Aku Min Yoongi atau Suga, bersumpah dengan segenap jiwa raga akan menjaga sang lotus putih Inagawa Kiyota Nagisa hingga kematian menjemput ku. Aku akan menjadi tangan, menjadi kaki, menjadi mata, menjadi telinga, dan menjadi kulit yang akan melindunginya dari apapun di dunia ini, juga menemaninya disaat apapun dan kapan pun" Suga tersenyum kearah Jimin yang masih meneteskan air mata haru.

"Aku Kiyota Nagisa Lotus putih Inagawa, menerima Min Yongi di sisi ku selamanya menjadi pelindung dan teman hidup, saat dia mengingkari janjinya maka jiwa raga ini siap mencabut nyawanya" tepat saat itu Jimin dan Suga meminum sake mereka dan itu menandakan awal dari ikatan mereka.

.

Di sisi lain…

"sial! Yoongi romantis sekali, ini bukan seperti dia yang biasanya" gumam sebal Jin yang melihat acara itu dari aula.

"aku juga tidak menyangka ternyata Suga hyung tiba tiba muncul di sini dan meminang Jimin, aku jadi ingin benar benar memacari adik Jungkook" Jhope ikut menggerutu.

"awas saja jika kau ingin mendekati Somi, akan ku bunuh kau hyung" ancam Jungkook.

"hah… semakin lama aku melihat mereka hati ku semakin panas, kau keluar dulu cari angin" Jin berbalik akan pergi.

"mau kemana hyung?" Tanya V.

"aku ingin ke kolam ikan depan kamar Jimin, di sini terlalu ramai aku butuh tempat yang tenang" Jin pergi menuju kamar Jimin yang ada di kediaman itu.

Jin mendudukan diri di lorong depan kamar Jimin sambil melihat kolam ikan di depannya. Dia sangat bahagia melihat adiknya bisa bersatu, hanya saja ada sesuatu di hatinya yang sangat mengganjal, katakana saja dia….

"jangan iri pada Jimin sayang" seseorang tiba tiba memeluk Jin dari belakang.

Jin sangat kenal suara itu, sentuhan ini juga sangat familiar baginya. Butuh beberapa menit sampai otak jenius Jin bisa menerima jika yang tengah memeluknya kini adalah orang yang dia nanti selama ini.

"bodoh… kau jahat… membiarkan ku berpikir jika kau sudah mati dan meninggalkan ku dengan kekayaan berlimpah… lalu dengan seenaknya muncul di hadapan ku, bajingan sekali kau ini" tagis Jin pecah, dia membalikan badannya dan memeluk orang yang ia rindukan itu.

"aku lompat dari pesawat yang ku kemudikan dan butuh waktu yang sangat lama untuk pulih dari luka luka itu, dan butuh waktu yang lama juga untuk lepas dari orang yang menolong ku, jadi ketika aku sembuh baru aku bisa membunuh mereka" orang itu membalas pelukan Jin.

"Namjoon bodoh… kau tau aku sudah seperti orang gila tanpa mu… sudah berkali kali aku ingin bunuh diri jika Jimin tidak mencegah ku"

"aku tahu… maaf kan aku, sekarang aku sudah kembali, dan aku tidak akan meninggalkan mu lagi" ujar lembut Namjoon atau Rapmon.

"jika kau masih tega meninggalkan orang yang mencintai mu, aku akan tidak segan segan bunuh diri di hadapan mu" pernyataan cinta Jin sungguh membuat hati Rapmon lega, akhinya Jin mau memberikan cintanya.

"aku akan mati jika meninggalkan mu, aku mencintai mu Jinie" Rapmon mencium kening Jin.

"aku juga mencintai mu, jangan tinggalkan aku lagi"

"sudah… berhenti menangisnya… sepertinya mood mu memburuk ketika melihat Suga mengikat ikrar dengan Jimin. Kau iri dengan mereka?" Rapmon menghapus air mata Jin yang berlinang.

"tentu saja aku iri, aku sudah menyatakan perasaan ku pada mu, jadi kapan kau mau mengikat ku seperti itu?" Jin mamasang wajah cemberut yang menggemaskan.

"kita tidak punya tradisi keluarga seperti Jimin, dan sepertinya di antara kita juga tidak ada yang terlalu percaya Tuhan, lalu dengan cara apa aku mengikat mu?" Rapmon menggoda Jin.

"jadi cinta mu cuman sebatas itu? Kau memang benar benar berengsek"

"kau sedang tidak asyik untuk di ajak bercanda rupanya. Setelah kita kembali ke Paris aku akan buat ritual pengikatan janji sehidup semati dengan cara ku sendiri, kau terlalu berharga maka dari itu aku harus memberimu label kepemilikan"

"ku pegang kata kata mu"

Bibir keduanya bertaut dalam menyalurkan semua rasa cinta yang menyesakan dada, dan menyalurkan rindu yang lama mendera.

.

.

.

END

.

.

.

Selesai…..

Akhirnya FF ini selesai Juga…

Terimakasih Jun ucapkan kepada semua pihak yang telah mendukung FF ini

Terimakasih untuk yang tetap setia menunggu FF ini update walaupun Jun sering ingkar janji dan sempat menghilang dalam waktu yang cukup lama

Mohon maaf jika selama ini Jun ada salah #kayak lebaran aja maap maapan gini#

Jun harap kalian mau menyempatkan diri memberi kesan pesan kalian untuk FF ini karena Jun butuh banget masukan untuk karya Jun selanjutnya.

Untuk request bisa langsung komen di review, kalian bisa minta cerita apa yang kalian pengen dan Jun akan usahain buat.

Atau semiasal ada yang pengen sequel dari cerita ini, monggo langsung komen aja.

Jun ada rencana buat FF dengan genre berat kayak ini lagi sih, tapi dengan latar dan alur cerita yang berbeda, tapi itu semua tergantung respon juga sih, karena akhir akhir ini Jun ngerasa kalau banyak yang baca FF Jun tapi yang review cuman sedikit banget, itu jadi ngebunuh semangat Jun dalam menulis, jadi Jun akan tunggu respon dulu baru Jun buat FF baru.

Mungkin sebagai selingan bagi para ARMY, Jun bakal bikin FF BTS yang temanya ringan untuk selingan.

Oke mungkin itu aja pesan pesan terakhir Jun

Sampai ketemu di FF Jun lainya

XOXO

Junra