Lima hari telah berlalu sejak Naruto dan rombongannya melakukan perjalanan menuju ibu kota Kerajaan Sapin. Banyak hal yang terjadi selama lima hari ini, sebut saja mulai dari kemunculan berbagai macam monster yang disebut sebagai Mana Beast hingga para bandit yang mencoba untuk merampok mereka.

Tentu saja hal ini sedikit mengejutkan Naruto, Ia tidak menyangka akan adanya hewan evolusi semacam Mana Beast yang bahkan tidak dapat Ia deteksi. Awalnya dia mengira bahwa hewan ini hanyalah makhluk aneh biasa, tapi siapa menyangka mereka adalah monster Mana yang memiliki kemampuan khusus untuk bertarung.

Ia sempat bingung, tapi akhirnya Dia memahami sesuatu. Sensor yang Naruto miliki saat ini adalah untuk merasakan hawa jahat yang dimiliki oleh seseorang, itu artinya untuk saat ini Naruto hanya bisa mendeteksi keberadaan manusia dan makhluk sejenisnya dari perasaan yang mereka miliki. Itulah alasan kenapa Naruto tidak bisa merasakan kehadiran Mana Beast, karena mereka hanyalah hewan yang hanya mengandalkan insting.

Itu terbilang wajar jika mengingat bahwa kemampuan Naruto masih sangat jauh dari kata sempurna, tapi tentu saja kemampuan sensor Naruto tidaklah selemah itu. Jika jarak Mana Beast telah mencapai lingkup 100 meter dari sensor miliknya, insting Naruto akan memberitahukannya walau Ia tidak tau makhluk apa yang sedang mendekati dirinya. Memang benar kalau daya cakupannya sangat menurun jauh dari apa yang dapat dia rasakan dari para manusia, tapi setidaknya hal ini dapat mengurangi ancaman bahaya yang mungkin saja dapat mengancam hidupnya.

Yahhh... Mungkin?!

Menurut informasi dari ayahnya, Mana Beast adalah makhluk yang berevolusi karena terkena radiasi Mana dari tempat yang disebut sebagai Dungeon. Tempat itu merupakan wilayah bagi para monster sehingga menjadikannya tempat yang sangat berbahaya. Namun karena Dungeon adalah tempat yang memiliki sirkulasi radiasi Mana yang sangat berlimpah, maka tidak aneh jika tempat itu juga menyimpan harta karun yang tidak ternilai harganya. Namun sayang, tidak semua orang bisa merasakan kelimpahan tersebut, hanya petualang yang berpengalaman dan kuatlah yang bisa menyelesaikan Dungeon. Hal itu dikarenakan adanya monster yang sangat berbahaya yang melindungi tempat lantai terakhir dari Dungeon.

Untuk lebih lanjut, ayahnya memberutahukannya bahwa Dungeon dibagi dalam beberapa level, ada Dungeon berperingkat 'D', 'C', 'B', 'A', dan yang tersulit adalah 'S'. Semua tingkatan disesuaikan dengan jumlah monster, peringkat monster, jumlah lantai, dan tingkat sirkulasi Mana yang dihasilkan. Untuk Dungeon berperingkat rendah, sudah banyak petualang yang berhasil menjarahnya hingga sampai ke bahagian lantai teratas. Namun jika sudah memasuki peringkat 'B' keatas, petualang yang dapat menyelesaikannya bahkan bisa dihitung dengan jari. Khusus untuk peringkat 'S', dalam sejarah Manusia hanya ada satu Grup peringkat 'S' yang dapat menyelesaikannya sehingga mereka mendapat jukukan sebagai, Hunter From The Heaven. Naruto tidak tau pasti seberapa kuat mereka, mungkin nanti Ia harus melihatnya sendiri.

Dalam perjalanan ini ada banyak sekali informasi berguna yang didapat oleh Naruto, Ia tidak tau kenapa semua informasi ini tidak tertera di dalam buku, mungkin saja ada tapi orang tuanya tidak memiliki buku semacam itu. Semua ini sangatlah menarik minatnya terlepas dari banyaknya gangguan yang selalu menghadang mereka dalam perjalanan. Namun dengan semua gangguan itu, ternyata Naruto tidak perlu harus turun tangan. Ayahnya dan semua anggota The Twin Horn sudah lebih dari cukup untuk membereskan semua ancaman tersebut. Harus Naruto akui, tingkat kerja sama kelompok ini sangatlah mengagumkan. Tanpa adanya koneksi terlebih dahulu, mereka telah bisa bertindak sesuai dengan pola serangan sehingga menghasilkan kerja sama yang tidak dapat tergoyahkan, dan hal itu memungkinkan mereka untuk tidak terlalu banyak membuang tenaga dan Mana.

Bagi yang lain hal ini mungkin bisa membuat mereka merasa senang karena tidak perlu merasakan yang namanya bahaya, namun sayang semua itu tidak berlaku bagi Naruto. Kejadian ini benar-benar membuat perjalanannya terasa begitu membosankan. Ayolahh, duduk seharian di atas kereta dan hanya turun sesekali untuk mandi dan makan adalah kegiatan yang paling membosankan bagi dirinya. Bahkan dalam perjalanan ini Naruto tidak diizinkan untuk berlatih, untung saja Ibu tercintanya mau berbaik hati membawakan beberapa buku bagus yang dapat Ia pelajari sebagai penetralisir kebosanan. Tapi tetap saja, semua ini masih terlalu membosankan!

Hari mulai memasuki waktu senja, itu berarti perjalanan harus ditunda dan mereka perlu membuat perkemahan agar bisa beristrahat. Saat ini Naruto dan rombongan sedang berada di sebuah lapangan rumput luas yang menjadi jalur perjalanan mereka. Setelah berhasil membuat tenda, para wanitapun kemudian mulai membuat perlengkapan untuk memasak.

Dalam keadaan ini pihak lelaki memiliki waktu luang untuk melakukan apapun yang mereka suka, karena itulah mereka memutuskan untuk mengadakan latihan riangan yang terletak tidak jauh dari perkemahan.

Dalam balutan taburan hintang-bintang, Saat ini yang saling berhadapan adalah Ayah Naruto dan pria berambut merah, Adam Krensh. Jarak mereka dipisakan sejauh 10 meter dengan senjata masing-masing berada di tangan. Untuk Arthur, Ia menggunakan sebuah pedang biasa sepanjang satu meter dan untuk Adam Ia menggunakan tombak yang selalu menemani punggungnya.

Naruto dan yang lainnya, mereka saat ini sedang duduk di atas sebatang kayu yang terletak cukup jauh dari arena pertarungan untuk menyaksikan latihan kedua orang itu. Walau keduanya nampak menampilkan senyuman senang, tapi aura persaingan nampak terpancar jelas dari tubuh mereka.

"Apa kau ingin melakukannya seperti dulu?"

Senyum Adam semakin mengembang mendengar ucapan Arthur. Secara perlahan dan lembut Ia mulai memasang kuda-kuda untuk bersiap dalam penyerangan.

"Sesuai keinginanmu, kali ini aku pasti tidak akan kalah"

"Hahahaha, aku rasa kau sudah terlalu tua untuk bermimpi"

Wushhhh

Trangggg!

Ujung tombak dan pedang saling berbenturan ketika mereka melesat maju. Lonjakan energi tipis berhembus ketika dua serangan itu bertemu menandakan bahwa sirkulasi Mana baru saja digunakan.

"Ughh, seperti biasa, tenaga dari pelatih kesatria sihir memang hebat"

"Hahahahaha, kaupun sama, sebagai petualang rank 'B', kemampuanmu sudah meningkat jauh! Aku yakin, sebentar lagi kau pasti akan menjadi petualang peringkat 'A'"

Tranggg!

Saling menekan, mereka kemudian mundur untuk beberapa saat dan kembali maju untuk melancarkan serangan.

Tranggg trangg tranggh

Bunyi dua logam berdenting ketika serangan terus dilancarkan oleh kedua belah pihak. Tebasan pedang dan tusukan tombak mereka lemparkan kearah masing-masing dengan kecepatan yang jauh melebihi manusia biasa. Tidak hanya itu, setiap benturan selalu menimbulkan lonjakan energi tipis yang membuat rumput subur di tanah menari dengan keras.

Cukup jauh dari arena pertarungan, Naruto, Durden, dan Jasmine menyaksikan pertarungan dengan cermat. Jasmine tidak ikut mempersiapkan makan malam karena Ia kurang ahli dalam hal tersebut, jadinya Dia ikut menonton latih tanding ini.

"Lihatlah Naruto, beginilah para kesatria bertarung"

Naruto tidak merespon ucapan Durden, pandangan datarnya masih terfokus kearah pertarungan yang tersaji di hadapannya.

'pola serangan, penggunaan senjata, serta kontrol mana yang digunakan... Apakah ini, yang dinamakan pertarungan antara kesatria sihir?'

Naruto menutup matanya sejenak setelah selesai memperhatikan pertarungan tersebut.

'kalau benar seperti itu, maka aku akan sangat kecewa'

Tidak ingin bermaksud sombong, tapi apa yang dikatakan Naruto memang benar adanya. Dia sudah hidup selama ratusan bahkan ribuan tahun, pengalaman dan analisis pertarungan yang dia miliki sama sekali tidak dapat disamakan dengan siapapun. Sudah tidak terhitung berapa kali dia melakukan pertarungan, mulai dari yang lemah, sedang, kuat, hingga yang bisa mencapai kata ketidak masuk akalan sudah dia lawan.

Dengan semua pengalaman itu, Naruto bisa mengatakan bahwa pola petarungan yang dia lihat saat ini bahkan tidak masuk dalam kategori lemah yang ada di dunianya dulu. Memang sebelumnya Ia sudah melihat pertarungan kelompok ini dengan para bandit dan Mana Beast, namun itu adalah pertarungan dengan tingkat kerja sama, bukan dalam hal individual. Mungkin dalam hal kerja sama, mereka memang nampak tangguh dan hebat. Namun dalam hal infividual... Semuanya kacau! Ada terlalu banyak celah, penggunaan senjata yang nampak kokoh namun rapuh secara bersamaan, dan yang paling penting adalah pemborosan mana yang terbuang sia-sia.

Lonjakan energi yang tercipta dari hasil benturan senjata adalah contoh bagi bocornya mana yang mereka gunakan. Dari situ kita dapat mengetahui bahwa tingkat kontrol mana tidak terfokus pada satu titik melainkan melebar kesegala arah hinggah membuat serangan tidak efektif dan membuang terlalu banyak Mana. Jika ini terus berlanjut maka dapat dipastikan hanya dalam waktu sekitar 15 sampai 20 menit saja, mereka akan kehabisan Mana.

Dan ternyata benar apa yang dikatakan Naruto, dalam waktu 18 menit kemudian pertarunganpun selesai, dan hasilnya adalah Adam yang terbaring lemas dengan beberapa luka lecet ditubuhnya dan Arthur yang sedang menopang badannya dengan pedang sambil berlutut dan mengatur nafasnya yang memburu. Dalam hal ini kelihatan bahwa Arthurlah yang menang, namun kondisi tubuhnya tentu tidak sebaik itu.

"Hahh, hahhh, hahhh... Sial!"

Brukkkk

Tubuh Arthur ikut roboh setelah mengucapkan hal itu. Sama dengan Adam, sepertinya Ia juga mengalami beberapa luka dan kehabisan mana.

"Jadi pada akhirnya, hasilnya seri yah?"

"Ahahahahahah"

Pertarunganpun selesai dengan tawa persahabatan, bersamaan dengan itu...

"Semuanya, waktunya makan malam!"

Panggilan kebahagianpun berbunyi.

"Hahhhh, akhirnya waktunya makan" yang pertama merespon adalah si pria besar Durden, Ia berdiri dari acara duduknya dan menatap Naruto yang juga ikut berdiri disampingnya.

"Bagaimana, bukankah tadi itu pertarungan yang hebat?!"

Naruto sedikit melirik kesamping ketika mendengar pertanyaan itu. "Yahhh, itu tadi benar-benar hebat. Aku tidak menyangka bisa melihat pertarungan langsung antara dua kesatria sihir" jawabnya dengan sedikit tersenyum.

Durden juga ikut tersenyum polos menanggapi jawaban Naruto. "Kau benar, walau bagaimanapun juga pertarungan antara petualang peringkat 'B' tingkat atas dan pelatih kesatria sihir adalah sesuatu yang sangat hebat. Aku harap kau dapat belajar sesuatu dari pertarungan tadi"

"Yahh, aku harap juga begitu"

Yapp, tentu saja Naruto berbohong soal semua ini. Heyy, tidak mungkinkan Naruto mengatakan bahwa pertarungan tadi bahkan tidak lebih baik dari para petarung pemula di dunianya dulu? Lagipula Dia tidak ingin merusak suasana bahagia ini dengan ucapan yang mungkin bisa saja merubah pola pikir mereka tentang tingkatan kekuatan di dunia ini. Yahh, setidaknya ini bukanlah saatnya!

Baiklah cukup, perut kecilnya ini sudah menahan lapar dari tadi, jadi Naruto memutuskan untuk segera menuju lokasi santap malamnya. Namun dia ingat sesuatu dan sedikit melirik kesamping.

'apa yang salah dengan wanita ini?'

Itu adalah Jasmine, Naruto tidak tau kenapa tapi sejak awal Dia terus menatap Naruto dengan pandangan aneh.

'huhh, terserah, yang terpenting saat ini adalah mengisi perut'. Pikirnya memutuskan untuk tidak peduli.

Waktupun berlalu dan bulan akhirnya menunjukan bahwa malam sudah memasuki pertengahan. Sebahagian besar orang memasuki tenda dan satu orang yang akan berjaga. Tenda terdiri dari 2 tenda besar dan satu tenda kecil, dan Naruto berada di tenda kecil bersama Ibunya.

Berbeda dengan Alice yang sudah terlelap ke dalam mimpi, mata Naruto masih terbuka lebar dan memandang datar langit tenda. Melirik kesamping untuk memastikan bahwa Ibunya sudah tidur, Naruto lalu perlahan menyingkirkan selimut dan berjalan keluar dengan hati-hati.

Namun sebelum itu, Ia lebih dulu mengintip keluar untuk melihat siapa yang sedang berjaga. Tubuh besar atletis dengan potongan rambut pendek, dia adalah Durden Walker. Saat ini Durden sedang duduk di depan perapian di tengah kawasan perkemahan dan membelakangi Naruto. Setelah memastikan telah aman, Naruto keluar dan secara perlahan berjalan menuju kearah belakang tenda.

Seakan menjadi penuntun, bulan purnama bersinar terang hingga membuat hampir seluruh wilayah hutan dapat terlihat. Naruto melihat sekeliling dengan pandangan datarnya, Ia terus berjalan menyusuri hutan tanpa ada rasa takut sedikitpun. Setelah cukup lama berjalan, akhirnya dia sampai disebuah sumber air terjun yang tampak begitu indah.

'apakah asalnya dari sini?'

Naruto menatap air terjun dengan pandangan menyipit. Sebenarnya sejak siang tadi, Naruto sudah merasakan adanya hal aneh yang ditangkap oleh sensornya.

'tapi, kemana makhluk yang memancarkan hawa jahat ini?'

Seperti yang dipikirkan Naruto, apa yang dia cari ternyata tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan. Jelas bahwa sensornya merasakan niat jahat yang cukup pekat dari sini, tapi anehnya Ia sama sekali tidak melihat adanya tanda kehidupan yang menghasilkan niat jahat tersebut. Selain itu niat jahat ini juga tidak hilang dan masih bisa dirasakan Naruto hingga saat ini.

Hal ini sedikit menjelaskan kenapa tidak adanya Megical Beast yang datang menyerangnya, sepertinya mereka semua takut dan tidak berani mendekati hawa jahat ini.

Sedikit berpikir, akhirnya Naruto menyadari sesuatu. 'hmmmm, apakah ada makhluk yang bisa meninggalkan hawa jahat sepekat ini?'

Naruto memeperhatikan seluruh area air terjun tersebut.

'hawa jahat mencakup seluruh wilayah air terjun dalam lingkup 20 meter dan terus bocor hingga hampir melingkupi setengah area hutan. Hmmm, apakah makhluk ini tinggal di sini sebelumnya?'

Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Naruto melangkah maju mendekati pusat air terjun. Ia terus melangkah hingga jarak antara Dirinya dan kolam tinggal beberapa meter, tapi langkahnya tidak berhenti dan terus melangkah maju. Dalam nuansa kekhawatiran bahwa Naruto akan tercebur, hal aneh nan luar biasapun terjadi.

Tap tap tap

Bagaikan seorang Ninja, Naruto berjalan diatas air seakan Ia berjalan di darat. Setiap derap langkah menghasilkan gelombang air yang menandakan bahwa Dia sedang berjalan pada lapisan pelindung air. Metode ini sama dengan beberapa serangga yang mengandalkan berat tubuh dan kecepatan agar mereka bisa berjalan diatas air, bedanya Naruto memanfaatkan Mana untuk menciptakan energi yang menyelubungi kakinya sehingga memungkinkan lapisan Mana dan air bisa selaras.

Mungkin terlihat mudah, namun kenyataannya tingkat kesulitannya bahkan berada diluar imajinasi manusia. Naruto malas untuk menjelaskannya, intinya diperlukan tingkat kosentrasi yang begitu tinggi agar bisa melakukan hal ini. Naruto memang telah dilahirkan kembali, namun semua pengalaman dan pengetahuan yang dulu Dia miliki sama sekali tidak hilang. Bisa dibilang, mungkin di dunia ini hanya Naruto seorang yang memiliki kontrol energi paling sempurna.

Tanpa menghentikan langkahnya, Naruto terus melaju kearah pusat air terjun dan langsung masuk melewati derasnya air yang berjatuhan. Tidak ada air yang membasahi tubuhnya ketika sebuah pelindung transparan nampak mencegah air untuk menyentuhnya.

Tap tap

Langkah Naruto terhenti ketika Ia berhasil memasuki air terjun. Seperti yang Dia duga, ada goa di dalam air terjun ini, namun anehnya goa ini tidaklah gelap melainkan adanya pancaran cahaya biru yang menerangi seluruh dinding goa.

Bentuk goa menyerupai sebuah ruangan berukuran sedang dengan adanya sebuah altar batu yang berada tepat di tengah ruangan. Altar batu itu memiliki ukuran cukup besar untuk menampung seekor Megical Beast. Tapi yang menjadi patokan Naruto adalah energi Mana yang terpancar dari altar tersebut. Dari sini Naruto mengetahui bahwa altar itu yang menjadi pusat dari semua mana yang menyelubungi goa tersebut.

Salah satu alis Naruto terangkat ketika melihat dan merasakan semua ini. 'siapa yang menyangka bahwa ada makhluk yang mampu meninggalkan aliran mana sebanyak ini?'

Sejak Naruto dilahirkan kembali, baru kali ini Ia menemukan sesuatu yang begitu kuat. Walaupun semua ini hanyalah jejak peninggalan mana, tapi dari tekanannya saja Naruto dapat menyimpulkan bahwa makhluk ini bukanlah makhluk sembarangan.

Tanpa sadar bibir Naruto miring kesamping untuk memperlihatkan seringaian tipis yang tidak sepatutnya diperlihatkan oleh anak berumur 3 tahun. Tidak berhenti sampai disana, hal aneh juga terjadi pada mata Naruto. mata biru yang biasanya terlihat begitu indah, sekarang malah berubah menjadi semerah darah dengan pupil berbentuk vertikal seperti halnya binatang buas.

Dengan semua perubahan dan adanya energi aneh berwarna merah yang keluar dari tubuhnya, Tampang Naruto saat ini terlihat begitu menyeramkan namun sekaligus tampak elegan. Tapi itu tidak belangsung lama saat Naruto dengan cepat menutup wajahnya sendiri dengan telapak tangannya. Tindakan itu diikuti oleh menghilangnya energi merah yang dia keluarkan dan matanya yang berubah kembali menjadi biru.

Merasa cukup, Ia kemudian sedikit mengusap wajahnya dan kembali memasang ekspresi datar.

'cihhh, sisi lain diriku ikut bereaksi ketika merasakan adanya perasaan kuat dari makhluk ini'. Pikir Naruto sambil menatap kedua telapak tangannya sendiri.

'tubuh kecil memang sangat merepotkan. Apakah nanti aku akan kehilangan kendali?'.

Dirinya tidak yakin, tapi yang pasti akan berbahaya jika hal itu terjadi. Menghentikan pikirannya, Naruto kembali fokus ke arah altar batu yang nampak begitu terang. Dari segala sisi, jelas bahwa tempat ini duluanya adalah sebuah sarang dari makhluk yang tidak Ia ketahui, tapi yang pasti makhluk ini sangat berbahaya.

'jika makhluk ini sampai keluar dan mulai mengacau, lalu siapa yang bisa menghentikannya?'

Hal itu jelas sangat berbahaya jika sampai terjadi. Tapi mengingat tidak ada informasi mengenai adanya penyerangan atau kekacauan yang ditimbulkan oleh makhluk sejenis ini, Naruto harus bersukur akan hal tersebut.

Naruto menutup mata sejenak dan kembali membukanya. Ia lalu berbalik dan mulai berjalan menjauh keluar dari goa tersebut. Setelah melihat semua ini, sekarang Naruto semakin yakin bahwa keluar dari zona nyaman dan pergi melihat dunia luar adalah pilihan yang tepat. Tapi satu hal yang pasti, apa yang baru saja dia lihat bukanlah sesuatu yang membuat hatinya gelisah. Naruto tidak tau apa itu, tapi cepat atau lambat Ia pasti akan segera mengetahuinya.

.

.

Pagi telah tiba dan saatnya memulai kembali perjalanan. Saat ini Naruto sedang asik membaca buku yang diberikan oleh Ibunya. Namun kegiatannya terhenti ketika Ia tiba-tiba merasakan sesuatu.

Naruto Melirik tejam ke arah tebing yang menjadi pemandangan utama dalam jalur ini.

'Hmmmm? satu, dua, tiga... dua puluh orang sedang mengawasi kita, dan semuanya memiliki niat jahat'.

Syutttt syutttt syuttt

Tepat setelah Naruto memikirkan itu, beberapa panah melesat mengincar kereta kuda yang mereka tempati.

"SERANGANN!"

Trang trangg trangg

Dengan insting yang cepat, Arthur dan seluruh anggota The Twin Horn berhasil menghadang semua panah yang mencoba menyerang mereka. Dengan tatapan tajam Arthur menatap keatas tebing untuk melihat siapa gerangan yang sudah menyerang mereka.

"Kita... Sudah terkepung?"

Dengan jelas Ia dapat melihat adanya sekumpulan bandit yang saat ini sedang berada di atas tebing dengan sebuah busur yang semuanya mengarah kepada mereka.

Srekkk srekkk

Dibalik semak-semak juga mulai bermunculan gerombolan bandit bersenjata yang memasang senyum jahat. Diantara mereka terdapat seorang pria yang memiliki postur tubuh paling besar dengan adanya sebuah kampak sebagai senjatanya. Ia tersenyum licik sambil berjalan pelan mendekati gerombolan Naruto.

"Tangkapan yang bagus, anak-anak"

Brakkk

"Jangan bunuh wanita juga anak-anak, dan cobalah jangan melukai mereka karena..." Menjeda sedikit dan semakin memperlebar senyuman, Iapun melanjutkan.

"Barang yang rusak hanya akan mengurangi harga jual!"

.

.

[Naruto Pov]

.

Sepertinya... Aku sudah terlalu lama hidup dalam ketenangan. Aku bahkan sampai lupa bahwa sanya, akan selalu ada sampah kotor seperti orang ini.

Barang... Rusak? Seperti yang dia katakan, tujuan mereka adalah mengambil wanita dan anak-anak untuk dijadikan barang dagangan.

Dengan kata lain... dunia ini masih mempertahankan sistem perbudakan. Aku tidak terlalu peduli dengan semua itu, tapi yang menjadi masalah adalah... Ibuku bukanlah sebuah barang!

Grebbbb

.

[Naruto Pov]

.

Grebbb

"Ja-jangan takut, Ibu disini!"

Naruto sedikit terkejut ketika tiba-tiba Ibunya memeluknya dengan erat. Sepertinya karena dibutakan oleh kemarahan, Naruto hampir saja keluar dan sudah mengeluarkan pedang kecil yang diberikan oleh ayahnya sebagai hadiah. Namun Ibunya lebih dulu memeluknya dengan sedikit kesalapahaman yang mengira bahwa Naruto sedang ketakutan.

Mendapat perlakuan seperti itu, pandangan Naruto yang sebelumnya setajam pisau mulai kembali melunak. Ia membalas pelukan Ibunya dengan lembut.

'lain kali, cobalah mengatakan hal itu disaat tubuh Ibu sendiri tidak bergetar seperti ini'. Pikir Naruto ketika merasakan getaran ketakutan dari tubuh Ibunya.

Sedetik kemudian matanya kembali menajam, 'tenang saja Bu, akan kupastikan semua sampah ini membayar atas ketakutan yang Ibu rasakan'

Kembali keluar, pertarungan sudah dimulai.

Shutttt

Beberapa panah kembali ditembakan kearah gerombolan Naruto.

"Berkumpul, dan lindungi!"

Gruuuuuuuu

Membaca mantra sederhana, seketika tanah mulai bergemuruh dan terangkat membentuk suatu dinding dengan celah tajam untuk melindungi kereta yang mereka tumpangi dari serangan panah. Orang itu adalah Durden, seorang Cojurer dengan kealihan elemen tanah.

Namun tidak semua panah bisa dihalau, ada beberapa yang berhasil lolos dan langsung mengarah kearah Naruto dan Ibunya yang sedang berada di dalam kereta. Dalam keadaan seperti itu, dengan cepat Angela menggunakan sihir anginnya untuk menepis panah.

"Tutup tirainya dan teruslah berlindung!"

Tanpa perlu pengulangan, Alice langsung mengerti dan menutup tirai kereta untuk berlindung dari serangan. Ia lalu duduk di samping Naruto dan memeluknya dengan tubuh yang masih sedikit bergetar. Naruto sadar bahwa kali ini bandit yang menghadang mereka bukanlah bandit sembarangan. Itu terbukti ketika Ia bisa merasakan adanya pancara mana yang besar dari beberapa orang bandit. Bersukurlah kepada kemampuan Naruto yang kembali meningkat, sekarang Ia bisa mendeteksi seberapa besar tingkatan mana yang dimiliki oleh suatu makhluk hidup secara spesifik.

Keadaan di luar semakin intents, dimana sang pemimpin mulai ikut bergerak dengan tiga bawahan yang mengikutinya.

Tidak tinggal diam, Helen melompat keatas dinding dan melayangkan serangan panah untuk menargetkan ketua bandit.

Trangg trangg

Namun seperti yang bisa diprediksi, semua serangan dengan mudah dapat dihentikan.

Saat ini yang bertugas menjaga kereta adalah Angela, sedangkan Durden, Adam, Jasmine, dan Arthur bekerja sama untuk meladeni bandit yang berada di luar dinding.

"Aku serahkan yang disini padamu, aku akan mengurus para pemanah"

Mengangguk sebagai tanda setuju, Arthur lalu melompat dan menuju kearah para pemanah dengan posisi siap meninju.

"KALIAN PARA BANDIT KOTOR, BERHENTILAH MENYERANG KELUARGAKU!"

Brakkkkk

Sebagai seorang Augmenter, kekuatan fisik adalah kelebihan utama mereka, jadi jangan heran jika satu pukulan bisa menumbangkan satu pemanah hingga membuat tanah keras yang berada dibawahnya sampai ikut retak dan hancur.

Bagai serigala marah, Arthur mengalihlan pandangan kearah sisa pemanah yang nampak shok dan ketakutan. Tapi tidak ada waktu untuk semua ekspresi itu...

Syattt syattt syattt

Dalam sekali jalan, sisa pemanah yang ada langsung tumbang bagaikan dedaunan gugur. Saat ini kekuatan seorang Augmenter benar-benar dipamerkan.

Brukkkk

Serangan terakhir berhasil melumpukan bandit yang menjadi komando bagi para pemanah. Namun karena fokusnya sedikit teralihlan, Arthur tidak menyadari bahwa seorang bandit hendak menyerangnya dari belakang.

Shutttt slahshhhh

"Jangan lengah!"

Arthur menoleh kebelakang untuk melihat bahwa bandit yang hendak menyerangnya sudah tumbang dengan panah yang menembus lehernya.

"Terima kasih, Helen!" Ucapnya sambil tersenyum.

Tranggg tranggg tranggg

Pertarungan antara bandit dan para petualang serta pelatih kesatria sihir menjadi semakin panas. Setiap anggota The Twin Horn memiliki jatah lebih dari satu bandit untuk ditaklukan karena adanya perbedaan dalam jumlah, kecuali bagi Angela yang bertugas untuk melindungi kereta.

Crashhh crashhh

Dengan kealihan assasins, Jasmine berhasil melumpuhkan 3 bandit sekaligus dengan senjata berupa dua belati yang membuat pergerakannya menjadi lebih lincah. Setelah berhasil menebas salah satu bandit, pandangannya dikejutkan ketika dari belakang bandit yang dia bunuh muncul seorang lagi dengan senjata berupa tali dengan adanya benda tajam di ujung. Bandit memutar senjatanya dengan cepat dan langsung menyerang Jasmine.

Syatt syattt syattt

Seorang assasins baik dalam hal kecepatan, namun dengan serangan momentum secepat itu, jasmine tidak bisa menghindari semuanya. Ia melompat kebelakang dan menjauh dari jangkauan serangan. Beberapa luka gores menghiasi tubuhnya, tapi tatapan tajam dan dingin tidak hilang dari wajahnya.

Dengan senyum kemenangan, bandit kembali memutar-mutar senjata layaknya sebuah tali laso besiap untuk kembali menyerang.

'dia berada pada posisi yang tidak menguntungkan'. Pikir Naruto yang sedari tadi memantau jalannya pertarungan.

'haruskah aku menolongnya?'

Brakkkkkkk

Naruto tidak diberi kesempatan untuk berpikir ketika sesuatu dengan keras menabrak bagian sisi kanan kereta hingga membuat keruasakan yang cukup parah. Naruto dan Ibunya langsung keluar untuk melihat apa yang terjadi.

"S-sayang?!"

Ternyata yang menghantam kereta adalah ayah dari Naruto, Arthur. Keadaannya cukup memprihatinkan ketika melihat darah cukup banyak keluar dari mulutnya. Alice lalu berlari menghampiri Arthur dan segera mengecek keadaannya. Sedangkan Naruto yang hanya berdiri diam, mengalihkan pandangannya ke samping.

'apakah itu artinya, aku harus turun tangan?'

Tatapan tajam terfokus kepada sesosok pria berbadan kekar pemegang senjata kampak yang dia asumsikan sebagai pelaku dari terlukannya Ayahnya. Pemimpin para bandit itu berjalan pelan kearah mereka dengan seringaian lebar.

Melihatnya, entah kenapa membuat sesuatu di dalam dirinya sedikit bergejolak. Tanpa sadar sebuah seringaian tipis membingkai bibir Naruto.

'sudah berapa lama, aku tidak merasakan perasaan ini?...'

Wushhhh

Tap

Pemimpin bandit tiba-tiba menghentikan langkahnya dengan kedua mata yang terlihat sedikit membola.

'a-apa ini?!'. Pikirnya shok ketika Ia merasakan adanya hawa membunuh yang begitu gelap menyerang dirinya. Tubuhnya tiba-tiba sedikit bergetar dengan keringat yang mulai berjatuhan.

's-sial! D-dimana?!'. Menoleh kesegala arah untuk mencari asal dari niat membunuh ini.

'di-dimana? Dima...na?!'. Pikirannya terhenti saat pandangannya jatuh kepada seorang bocah berumur 3 tahun yang saat ini sedang berdiri diam di samping sepasang suami istri.

Tidak ada yang aneh, hanya saja senyuman lebar serta sepasang bola mata hitam kelam tanpa pupil sedang menatapnya dalam diam.

'a-apa yang...?'. Dia tidak tau, tapi entah kenapa sang pemimpin bandit seperti melihat adanya malaikat pencabut nyawa yang berdiri tegak di belakang anak itu yang juga ikut tersenyum gila kearahnya.

Kejadian ini berlangsung selama beberapa detik sebelum tekanan itu hilang seperti tidak terjadi apa-apa.

"E-ehh?". Pemimpin bandit bergumam bingung ketika semua tekanan yang menahannya hilang dalam sekejap. Bocah yang tadi juga sempat terlihat menakutkan, sekarang nampak biasa sambil menutup wajahnya sendiri dengan telapak tangannya.

"A-apa yang terjadi? Ke-kemana hawa membunuh tadi?!". Pandangannya menoleh kesegala arah dengan bingung. Namun yang dia dapat hanyalah pemandangan para bandit yang sudah mulai berguguran dari pertarungan mereka. Jelas kualitas pasti akan selalu menang melawan kuantitas.

Dia tidak terlalu memusingkan hal itu, yang membuat dia sadar adalah bahwa hanya dialah yang merasakan hawa membunuh tadi dan tidak sampai dirasakan oleh siapapun di sini.

'aneh, kenapa hanya aku yang merasakan hawa membunuh tadi? Dan juga...'

Tatapannya lalu kembali kearah Naruto yang saat ini sedang memperhatikan keadaan ayahnya.

Mata pemimpin bandit menyipit tajam. 'apakah yang tadi itu, hanya imajinasiku? Tapi kenapa...'. Ia lalu memperhatikan setiap gerak gerik Naruto sampai Dia sendiri tidak sadar bahwa saat ini lututnya masih sedikit bergetar.

'... Kenapa sisi lain diriku berteriak untuk menjauh dari bocah itu?'

.

Sesaat yang lalu ketika hawa membunuh keluar, Naruto dengan cepat menutup wajahnya sendiri untuk menenangkan diri.

'cih, sial! lagi-lagi aku hampir kehilangan kendali'. Pikirnya setelah berhasil tenang. Mata yang sebelumnya berubah warna menjadi hitam kelam tanpa pupil, sekarang sudah kembali menjadi biru cerah. Hawa membunuh yang sempat dia keluarkan juga ikut menghilang tanpa bekas.

Untung saja hawa membunuh yang dia keluarkan tadi hanya tertuju kepada pemimpin bandit dan tidak mengganggu yang lainnya. Karena jika hal itu sampai terjadi, maka masalahnya akan menjadi semakin rumit.

Karena tidak ingin semakin lepas kendali, Naruto memilih untuk menahan dirinya. Ia lalu menoleh ketempat Ibunya yang masih diam tanpa berusaha menyembuhkan Arthur.

Naruto menyirit bingung melihat hal itu. Sepertinya ada yang aneh dengan Ibunya, kenapa Dia tidak menyembuhkan ayah?

"Ada apa Bu, Kenapa Ibu tidak menyembuhkan ayah?". Tanya Naruto.

"a-aku, aku tidak bisa". Jawab Alice dengan tangan bergetar dan air mata yang mengalir deras.

Melihat itu Naruto semakin yakin bahwa ada yang aneh dengan Ibunya. Setelah Dia pikir-pikir, memang selama perjalanan ini Ibunya tampak sedikit pucat dan gampang lelah. Awalnya Naruto mengira bahwa Ibunya hanya sekedar tidak enak badan biasa. Tapi ketika Ia mencoba merasakan lebih dalam lagi, kedua matanya seketika membola sempurna...

'jadi, apakah itu masalahnya?'

"A-aku baik-baik saja... Sayang, jadi jangan khawatir. Luka ini tidak akan membahayakan nyawaku". Ucap ayahnya dengan suara sedikit bergetar menahan sakit.

"Naru, dengarkan baik-baik!"

Naruto beralih ke arah Ayahnya.

"Setelah Ibumu menggunakan mantra penyembuhan, pria jahat itu pasti akan memburunya. Aku sebenarnya bisa menangkis pemimpinnya itu, tapi aku tidak bisa jika kalian berdua berada dalam bahaya. Jadi saat Ayah menghadapinya, segeralah bawa Ibumu ke arah jalur yang kita lewati tadi dan jangan pernah berhenti!". Jelas Arthur.

"A-apa yang kau bicarakan Arthur, kami tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini!". Bantah Alice sambil memaksa untuk mengeluarkan sihir penyembuhannya.

Arthur tersenyum lembut dan menepuk pelan kepala Istrinya. "Aku akan baik-baik saja, yang lebih penting saat ini adalah kelangsungan hidup anak kita bukan?!"

Hikss

Tangisan Alice semakin deras hingga membuat tubuhnya sedikit bergetar.

"Ta-tapi, tapi~"

Tap

"Tenanglah Bu, percayalah pada ayah". Ucap Naruto sambil menepuk pundak Ibunya.

Melihat itu Arthur kembali tersenyum. Dengan sedikit usaha Ia juga menepuk puncuk kepala Naruto sambil menempelkan dahinya ke dahi Naruto.

"Begitulah seharusnya anak ayah. Jadi... Tolong jaga Ibumu dan bayi yang ada dalam dirinya, oke!"

Walau ekpresi datar Naruto tidak berubah, namun senyuman tulus yang nampak bersemi di bibirnya menandakan bahwa Ia menerima semua perlakuan lembut ini.

"Tentu, serahkan padaku!"

.

.

.

.

Pemimpin bandit menggelengkan kepalanya keras untuk menyadarkannya dari perasaan takut.

"Tidak, seharusnya tidak seperti ini!". Setelah berhasil menenangkan diri, pandangnnya beralih kepada Arthur dan Naruto. Ia terkejut ketika melihat bahwa Arthur sedang disembuhkan oleh wanita yang ada di sampingnya.

"Sialan, mereka memiliki penyembuh. Jangan biarkan mereka kabur!"

"Naruto, SEKARANG!"

Naruto mengangguk dan dengan cepat menarik lengan Ibunya untuk berlari menjauhi arena pertarungan. Dia sedikit melirik kebelakang,

'jangan mati di depanku, Ayah!'

"CEPAT! aku akan membukakan jalan!". Itu adalah Adam yang sudah berhasil membunuh salah satu bandit yang mencegah jalur kepergian Naruto.

"Khekhekhe, tidak akan kubiarkan kalian pergi!"

Whoshhhh

Trangggg!

Sebagai petualng berperingkat tinggi, tentu Adam tidak akan membiarkan seorang bandit begitu saja menyerang temannya dari belakang.

"Aku akan menahannya, pergilah dari sini!"

Naruto mengangguk dan kembali berlari diikuti oleh Ibunya. Tapi lagi-lagi, perjalanan tidak akan semulus harapannya.

Shutttttt

Sebuah panah berkecepatan tinggi melesat menusuk udara kearah Naruto. Melihat hal itu, Naruto tidak tinggal diam. Melepas genggaman terhadap Ibunya, Ia lalu menarik kasar pedang kecil yang setia menemani pinggulnya. berbalik dengan gaya putaran anggun, Naruto lalu menahan laju panah menggunakan bagian datar dari pedangnya.

Tranggggg!

Panah berlapis sihir itu terpental ke arah lain layaknya seonggak sampah. bilah pedang Naruto nampak retak karena kuatnya panah yang dilapisi oleh sihir penguatan.

"Huhh, hampir saja". Gumam datar Naruto.

Aksi Naruto mendapat cukup banyak perhatian karena dapat menghentikan serangan sekuat itu dengan cukup mudah. Bahkan ekpresi wajah datarnya nampak tidak berubah saat melakukan hal tersebut.

Melihat itu tentu rasa ketidak percayaan muncul di wajah bandit yang melakukan penyerangan.

"Ti-tidak mungkin.."

Slabbbb crashhhh

Tapi cukup sampai di situ, karena sebuah panah yang datang dari samping dengan telak menembus kepalanya.

"Jangan berhenti, Naruto!". Pelakunya adalah Helen.

Tidak ingin membuang waktu, Naruto kembali menyarungkan pedangnya dan kembali berlari cepat bersama Ibunya.

Dari jauh pemimpin bandit yang sedang berhadapat dengan Arthur mengeraskan rahangnya ketika melihat kejadian itu.

'ckk! Tidak salah lagi, anak itu memang berbahaya! Aku tidak bisa membiarkannya hidup...'

"LUPAKAN RENCANA ITU, JANGAN BIARKAN MEREKA HIDUP!". Teriak pemimpin bandit entah kepada siapa.

Namun seakan menjawab seruan itu, sebuah bola angin dengan tingkat kosentrasi tinggi tercipta dari atas tebing. Naruto melirik kesana, dan pandangannya mendapati seorang penyihir yang sedari tadi bersembunyi.

Bhowshhhhh

Tanpa aba-aba, serangan yang menyerupai bola semangat dari anime Dragon Ball itu melesat cepat mengincar Naruto dan Ibunya. Dalam momentum seberbahaya ini, bukannya takut Naruto malah menyeringai tipis.

'bagus, memang sudah saatnya kau muncul!'

Blarrrrrrrr

ledakan besar terjadi ketika serangan dengan telak mengenai tempat Naruto dan Alice.

"Ti-TIDAKKKKK!". Arthur berteriak histeris melihat kejadian itu.

"Jangan palingkan perhatianmu dari musuh!"

Brukkkk

Choukkk!

Sebuah palu dengan ukuran tidak normal menghantam tubuh Arthur hingga membuatnya terlempar dan berhenti ketika tubuhnya menabarak dinding tanah yang dibuat oleh Durden.

"Choukkk!"

Arthur memuntahkan darah sebelum tubuhnya jatuh tergulai lemas di tanah. Tanpa menghiraukan lukanya, Ia masih berusaha mendongak untuk melihat tempat anak dan Istrinya yang terkena serangan. Debu mengepul hebat hingga menutupi pandangan semua orang.

'N-Naruto, A-Alice!'. Pikirannya kacau dan kesedihan menyelimuti hatinya.

Tidak beda jauh dengan dirinya, seluruh anggota dari The Twin Horns juga mengalami hal yang sama, walau tidak seperah Arthur.

"Hahahahahah! Lihatlah, itulah yang terjadi jika kalian mencoba untuk melawan"

Tap tap tap

Pemimpin bandit berjalan mendekati Arthur yang masih terkulai lemah di tanah sambil tertawa mengejek.

"Khukhukhu... Seandainya kalian membiarkan kami membawanya, mungkin saat ini mereka masih hidup. Yahhh paling tidak, mereka hanya akan menjadi budak ataupun alat pemuas sex dari pada harus mati seperti ini, hahahahahah!"

Dia marah, sangat marah! Tapi apa daya, bahkan menggerakan satu jaripun Arthur tak bisa. Saat ini Diapun sadar, dirinya masih sangatlah lemah. Bahkan untuk melindungi keluarganya saja Ia tidak bisa.

'Naruto, Alice, mohon maafkan aku. Sebentar lagi, aku pasti akan menyusul kalian'. Pikir Arthur saat merasakan kesadarannya mulai menghilang.

Pemimpin bandit tidak menghentikan langkahnya, Ia terus berjalan menuju Arthur.

"Lihatlah dirimu! Sangat lemah, sangat rapuh, bahkan melindungi keluargamu saja kau tidak bisa!". Ucap pemimpin bandit tanpa menghentikan langkahnya. Tapi sebuah suara berhasil membuatnya berhenti...

"Kau... terlalu banyak bicara!"

"..."

Sebuah suara sedingin es menggemah memenuhi area pertarungan. Semua aktifitas berhenti sejenak. Bahkan Arthur yang sebelum hendak pingsan, langsung kembali mendapatkan kesadarannya.

Wushhhhhhh

Angin bertiup kencang hingga membuat debu yang menutupi area ledakan menghilang. Dan apa yang muncul setelahnya adalah perasaan terkejut disertai oleh rasa penasaran yang teramat sangat.

"A-apa itu?" Gumam salah satu bandit mengutarakan apa yang sedari tadi ingin dia tanyakan.

Itu adalah sebuah bola, Bulatan raksasa mirip terlur dengan warna merah darah yang begitu kental berdiri tepat di tengah ledakan. Permukannya tidaklah keras melainkan seperti sebuah cairan yang terus bergelombang menampilkan pola riak air yang terus menjalar ke atas.

Tidak ada yang tau apa itu sebelum benda aneh tersebut mulai bergetar pelan dan secara perlahan terbuka dari atas ke bawah. Dan ketika semua permukaannya terbuka layaknya telur yang meleleh, maka rasa shoklah yang melanda mereka semua.

Arthur mencoba untuk mendongak untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi, namun usahanya sia-sia karena tenaganya benar-benar telah habis.

'ck, si-sial! Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!'

"NA-NARUTO, ALICE!"

Deg

Tubuh Arthur menegang saat mendengar kedua nama yang dia kira sudah menemui ajal mereka.

'Naruto, Alice? Ja-jangan-jangan!'

Mengerahkan seluruh tenaganya, akhirnya Arthur berhasil membuat kepalanya mendongak dan menatap kedepan dengan mata setengah terbuka.

Deggg

T-tidak mungkin!

Cairan bening secara perlahan mengalir dari kedua bola matanya. Dengan pandangan sedikit kabur, Ia dengan jelas dapat melihat bahwa Naruto sedang berdiri santai dan Istrinya yang nampak pingsan di tengah kawah ledakan dalam keadaan sehat walafiat.

'hikss, hikss... Shukurlahh, shukurlahh!'. Pikirnya senang sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat ini mereka semua dengan jelas bisa melihat bahwa Naruto dan Alice masih hidup dan terlihat baik-baik saja. Kedua orang ini masih berada di tengan kawah ledakan yang dimana Naruto hanya berdiri dengan santai, dan Alice yang sedang berbaring pingsan di belakang Naruto tanpa adanya luka lecet sedikitpun. Sepertinya Ia pingsan karena sempat shok dalam keadaan hamil.

Rasa kebahagian langsung melanda dirinya dan semua anggota The Twin Horns, tapi jelas tidak dengan para bandit.

"Mu-mustahil!". Gumam tidak percaya sang pemimpin bandit.

Bukankah tadi Ia melihat dengan jelas bahwa serangan berhasil mengenai mereka dengan telak? Tapi kenapa, kenapa mereka masih hidup? Apakah karena benda aneh tadi?

Pemimpin bandit lalu membulatlan matanya lebar ketika menyadari sesuatu.

"Ckk! JANGAN DIAM SAJA, CEPAT SERANG MEREKA DENGAN SIHIR TERTINGGIMU. DIA PASTI SUDAH KEHILANGAN BANYAK MANA KARENA MENGGUNAKAN SIHIR PERLINDUNGAN SEBESAR TADI!"

Walau semuanya nampak penasaran dan terkejut, namun Teriakan pemimpin bandit menyadarkan semua angotanya dan pertarunganpun kembali berlanjut. Saat ini pemimpin bandit sedang dihadang oleh Adam dan Jasmine agar tidak mendekati Arthur yang sedang sekarat. Sedangkan untuk penyihir yang tadi sempat menyerang Naruto, kembali merapal mantra hingga memunculkan serangan bola udara yang ukurannya hampir 2 kali lebih besar dari yang tadi.

"Gawat... NARUTO, PERGI DARI SANA!" Teriak Durden memperingatkan, namun sesaat kemudian Ia harus kembali bertarung dengan seorang penyihir.

Naruto hanya menatap datar penyihir itu. Gelombang cairan aneh yang sempat melindungi mereka tadi ternyata belum hilang, hanya saja bentuknya sekarang lebih menyerupai air yang menggenang di tanah. Cairan merah darah itu menggeliat seperti pasir hidup yang siap menyerang kapan saja.

'menggunakan pelindung sekecil itu sampai harus menguras setengah energi Ki ku? Huhh, menjadi kecil sungguh merepotkan!' pikirnya.

Naruto melirik kesegala arah untuk melihat hasil pertarungan. Sebahagian besar bandit telah berhasil di lumpuhkan, yang tersisa hanyalah sang pemimpin bandit, dan 4 penyihir. Pemimpin bandit berhadapan dengan Adam dan Jasmine, sedangkan 3 penyihir berhadapan dengan Durden, Helen, dan Angela. Untuk 1 penyihir lainnya sedang membuat serangan lanjutan.

Pandangannya lalu berhenti di tempat ayahnya berada. Bibir Naruto sedikit tersenyum melihat ayahnya yang sudah berusaha keras melindungi mereka walau nyawanya hampir jadi taruhan.

'kau sudah berjuang terlalu keras Ayah. sekarang, serahkan semuanya pada~'

Deggg!

Entah apa yang terjadi sehingga membuat kedua bola mata Naruto membola sempurna. Tanpa ada alasan, Ia langsung menoleh kearah selatan yang dimana hanya terdapat hutan rimbun lebat.

'perasaan ini?! Bukankah ini... Energi Ki? Dan juga, rasa familiar ini?'

Wajah Naruto mengeras. 'Tidak salah lagi!'

Slahhhhh

Dalam keterkejutannya, sihir bersakala besar akhirnya selesai dibuat oleh seorang penyihir. Fokus Narutopun kembali kearah si penyihir.

'dalam keadaan ini, apa yang harus aku lakukan?' pikirnya menimbang-nimbang sesuatu.

Blashhhh

Seakan tidak memberikan Naruto kesempatan untuk berpikir, serangan segera datang menghampirinya.

'huhhh, sepertinya tidak ada pilihan lain!'

Naruto merunduk dan langsung mencengkram kerah baju ibunya. Untuk mengurangi resiko cedera, Ia melapisi tubuh belakang ibunya dengan cairan merah yang bergerak sendiri sesuai kehendaknya dan langsung melempar Ibunya menjauh dari area serangan.

"PAMAN DURDEN, TOLONG JAGA IBUKU!"

Mereka yang sedang sibuk bertempur, langsung berpaling melihat Naruto. Mata mereka melebar saat melihat serangan raksasa yang siap menghantam Naruto. Jika serangan itu mengenai daratan, dapat dipastikan jalur perjalanan mereka akan runtuh dan hancur masuk kejurang. Tapi tidak ada waktu untuk memikirkannya ketika Durden melihat tubuh Alice yang dilempar oleh Naruto kearahnya.

Dengan sekuat tenaga, Durden mendorong lawannya dan menggunakan sihir tanah untuk mengurungnya sementara. Setelah berhasil, Ia lalu melompat dan menangkap Alice.

"Ibumu sudah aman, sekarang kau yang harus per~"

Slashhhhhh!

Mereka semua kembali terdiam ketika cairan merah darah menjalar dan mengambil bentuk dinding tebal yang memisahkan posisi mereka dengan Naruto. Dinding itu juga menghalangi pandangan mereka kepada Naruto karena ukurannya yang terbilang sangat tinggi dan panjang.

"DENGARKAN AKU! KALIAN SEMUA HARUS SELAMAT, DAN TOLONG SAMPAIKAN PERMINTAAN MAAFKU KEPADA IBU DAN AYAHHI!"

Semua orang terpengarah saat mendengar bocah berumur 3 tahun mengatakan hal itu.

"Na-Natuto? A~APA YANG KAU KATAKAN?!"

Dhuarrrr

Durden tidak diberi kesempatan untuk berbicara lagi ketika kurungan yang dia pasang hancur dan mengeluarkan penyihir yang dikurang di sana. Setelah melindungi Alice dengan dinding tanah, Iapun maju dan kembali melanjutkat pertarungan. Tapi disela-sela pertarungan itu, Ia dapat mendengar sebuah teriakan yang membuat hatinya sakit.

"SEMUANYA, SAMPAI JUMPA LAGI!"

Blarrrrrrr

Ledakan dahsyat seketika terjadi dan mengguncang seluruh area tebing. Seluruh area yang dipijaki oleh Naruto langsung hancur dan jatuh ke jurang. Tapi jalur perjalanan dan keluarganya tidak mendapat dampak akibat terhalang oleh dinding cairan merah.

Setelah ledakan berhenti, dinding cairan merah mulai meleleh dan hilang tanpa berbekas menyisahkan setengah tebing yang sudah hancur tidak karuan. Naruto beserta pelaku penyerangan juga menghilang dan tidak terlihat dimanapun. Kejadian itu seketika menghebohkan mereka semua, tapi tidak ada yang bisa melakukan apun karena saat ini mereka masing-masing memiliki lawan untuk dihadapi.

Kesedihan dan kemarahan melanda hati dan pikiran mereka semua. Siapa yang menyangka, seorang bocah yang baru berumur 3 tahun rela mempertaruhkan hidupnya untuk orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Rasa bersala seketika menghantui hati mereka semua. Dalam jalannya pertarungan sengit yang masih berlanjut, hanya ada satu nama yang membekas dipikiran mereka, yaitu...

'Naruto...'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

T~B~C

.

Halo semuaaa... Ini adalah chapter 2 dari fanfic ini, semoga kalian semua menyukainya.

Berikut adalah beberapa balasan Review :

~Parzival Balthazar

Menarik, lumayan untuk perkenalan latar dan MC. Mungkin masukan, selipkan sedikit humor supaya tidak terkesan hambar. Untuk alur mungkin Skiptime no jutsu nya jangan terlalu cepat, supaya bisa menikmati perkembangan MC.

Jawab : untuk masalah Humor, saya kurang yakin dengan kemampuan saya, tapi akan coba saya usahakan. Tenang saja, masalah skipe time tidak akan sejauh itu, lagi pula alur utama saya mengambil dari novel the beginning after the end.

~OfflineReader

Hmm,,, menarik,,, anti mainstream... Typo? Jujur aku reader yg gk terlalu peduli ama yg namanya Typo :V. Btw, ini ceritanya ntar narunya bakal ada pair?

Jawab : pertama terima kasih jika anda menyukai fic saya. Untuk masalah Typo saya akan tetap usahakan untuk menghilangkannya. Masalah pair, jelas saya akan melakukannya. Tapi jangan berharap banyak jika agan pecinta harem.. heheheh

~Guest

Hmm, banyak typo nya yaa wkwkwk, "Maoo", harusnya "Mou~Naru-chan...", trus awal kalimat gak pake huruf besar, tapi dari cara pengetikan, gua suka sorry ya pake Guest, soalnya akun gua g bisa Log in T_T..

Jawab : terima kasih atas kritik dan sarannya, saya akan usahakan untuk menghilangkan masalah tersebut.

Untuk review lain yang saya tidak balas, terima kasih atas review dan dukungannya. Saya membaca semuanya dan kebanyakan adalah para reader yang meminta lanjut dan menunggu udate, jadi saya akan memberi tahu bahwa fic ini Updatenya tidak menentu. Yang bisa saya janjikan bahwa fic ini akan terus udate hingga tiba dimana cerita mencapai ending.

Sekali lagi terima kasih atas review dan perhatiannya, sampai jumpa di chapter depan.