Kuroko no Basuke by Fujumaki Tadatoshi
Rated : M
Pairing : KisexOC
Genre : Romance
Warning : AU!Vamfic, OC, kaku, Typos, OOC.
"..." dialog biasa
'...' dalam hati
#...# flashback / kilasan
.
Happy Reading!
Perkenalkan, namaku Rin Kobayashi. Aku adalah seorang murid kelas 1 SMA Teikou, umur 16 tahun, dan aku seorang yatim piatu. Kedua orangtuaku meninggal seminggu yang lalu akibat kecelakaan saat kami hendak pergi berlibur diakhir pekan. Entah bagaimana caranya, hanya aku yang selamat dari kecelakaan itu. Aku bahkan tak mengalami luka yang serius kecuali sedikit lecet.
Saat ini aku tengah memasukkan pakaianku kedalam koper, paman Kagetora (kakak ibuku) menyuruhku untuk tinggal bersamanya dan juga Riko-nee. Awalnya aku menolak ajakan mereka dengan alasan ingin mandiri, selain itu rumahku dan rumah paman juga tidak terlalu jauh, hanya perlu 20menit dengan jalan kaki. Namun paman dan Riko-nee tetap memaksaku untuk tinggal bersama karena mereka khawatir padaku.
Wajar saja mereka khawatir, aku hanyalah gadis lemah yang masih membutuhkan pengertian dan juga kasih sayang orangtua.
"Rin, apa kau sudah selesai mengemas barang-barangmu?" samar-samar aku mendengar suara Riko-nee dibarengi dengan aroma aneh yang sangat mengganggu, aku tebak dia pasti sedang memasak. Entah bahan apa yang dia masukkan sewaktu memasak sehingga menghasilkan aroma yang sungguh tidak sedap ini.
"Sebentar lagi aku selesai, Riko-nee!" sahutku agak keras, maklum jarak antara kamarku dan dapur lumayan jauh. Jadi aku harus sedikit berteriak agar Riko-nee dapat mendengar suaraku.
Aku menghela nafas sebentar dan melihat ke sekeliling kamarku yang hampir kosong, tentu saja semua barang-barangku sudah kumasukan kedalam koper. Pandanganku terpaku pada sebuah cincin perak dengan sebuah permata berwarna ruby, itu adalah cicin pemberian dari ayah ketika aku lulus SMP.
Katanya cincin itu merupakan cincin legenda yang turun temurun dari leluhurku, aku ingat waktu itu aku mendengus tak percaya ketika aku menerima cincin tersebut dari ayah.
Ayah berpesan padaku untuk selalu menjaga dan membawa cincin ini kemanapun aku pergi, ia bilang, kelak suatu saat cincin ini akan melindungiku. Pada awalnya aku tak percaya, namun aku hanya menuruti perintah ayah untuk selalu membawa cincin ini.
Kini aku –sedikit– percaya, bahwa cincin ini benar-benar melindungiku. Kemungkinan besar jika cincin inilah yang melindungiku dari kecelakaan maut yang menewaskan kedua orangtuaku. Entah aku harus merasa senang atau sedih, aku senang dan aku bersyukur karena aku masih hidup, tapi aku merasa sedih karena kini aku sudah tak bisa lagi menatap ayah dan ibu.
kembali menghela nafas, aku mengambil cincin tersebut dan memasukkannya pada sebuah kalung sebagai liontin. Aku memakai kalung tersebut dan menyembunyikannya dibalik pakaianku. Aku tak mungkin memakainya pada jariku, pihak sekolah selalu menghukum para muridnya yang memakai cincin.
dengan begini, petualanganku baru saja dimulai.
# Suara langkah kaki menggema digelap dan sunyinya malam, seorang gadis dengan rambut hitam sebahu melangkah dengan ringan. Wajahnya yang cantik menyiratkan perasaan bahagia, sesekali bibir merahnya menyenandungkan sebuah lagu yang merdu.
"Ryouta-kun!" serunya sambil melambaikan tangan, ia kembali melangkah mendekati seorang pemuda berambut pirang yang tengah menunggunya.
"Aku merindukanmu! Maaf membuatmu menunggu." sang gadis menghambur kedalam pelukan ketika pria itu merentangkan kedua tangannya, saling berbagi hangat dan kasih, mengobati rindu yang menyesakkan.
"Tidak apa-apa, Clara-cchi. Aku juga baru sampai 'ssu." ucap pria pirang bernama Ryouta itu. tangannya merambat naik pada pipi pucat sang kekasih, mengusapnya lembut seakan takut menyakitinya.
"Kau tahu, aku selalu merasa takut jika suatu saat nanti keluargaku mengetahui hubungan kita. Aku.. Aku tidak mau berpisah darimu, Ryouta-kun."
"Sshh.. Tenang saja, aku akan selalu bersamamu. Meskipun kita berbeda, meskipun seharusnya kita adalah musuh, aku tetap mencintaimu."
"Tapi bagaimana jika—"
Cup.
Sebuah kecupan dibibir menghentikan ucapan sang gadis, Ryouta tersenyum ketika melihat wajah cantik sang kekasih yang kini bersemu merah.
"Percayalah padaku, Clara-cchi. Apapun yang terjadi, aku akan selalu melindungimu."
Mendengar ucapan sang terkasih yang penuh dengan keyakinan membuat Clara mau tak mau mengangguk, ia ikut tersenyum ketika pria itu memandangnya lembut. "Baiklah. Aku percaya padamu, Ryouta-kun."
Kemudian mereka pun larut dengan dunia mereka, saling berbagi kehangatan dan cinta. Canda dan tawa tak luput menghidupkan malam yang sunyi, tak menyadari sepasang mata darah mengawasi mereka dibalik gelapnya malam.
"Sepertinya, ini akan menarik." sosok tersebut menyeringai dan hilang ditelan malam. #
"Rin.."
"Rin!"
"A-ah eh? A-ada apa, Riko-nee?" tanya Rin gelagapan, ia menoleh kearah Riko yang tengah menatapnya khawatir.
Kini mereka tengah berjalan kaki untuk berangkat sekolah, sebenarnya Kagetora hendak mengantar mereka menggunakan mobil, tapi Riko dan Rin menolaknya dengan alasan berjalan kaki lebih menyehatkan.
"Apa kau baik-baik saja? wajahmu pucat sekali."
"Aku tidak apa-apa, Riko-nee. Aku hanya teringat tentang mimpi semalam yang aneh, hehe." Rin tertawa canggung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal, membuat Riko menatapnya penuh selidik.
"Kau yakin? Memangnya apa yang kau impikan?" tanya Riko penasaran, Rin terlihat berpikir sebentar sebelum memasang wajah murung. "Aku juga tidak mengerti, Riko-nee. Aku seperti melihat kilasan-kilasan aneh, dan setelah aku bangun, aku selalu mendapatiku tengah menangis tanpa alasan."
"Mungkin kau teringat paman Rei dan bibi Akina (orangtua Rin)?" tanyanya hati-hati, Riko mengangkat tangannya kearah bahu Rin dan merangkulnya, mencoba untuk menenangkannya.
"Uhm, itu bukan ayah dan ibu. Aku mendengar mereka memanggil satu sama lain dengan nama Clara dan Ryouta. Entah kenapa, aku merasa tak asing dengan pria bernama Ryouta itu."
"Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Lagipula mimpi hanyalah sebuah bunga tidur. Ayo masuk ke kelasmu, sebentar lagi bel akan berbunyi." Rin mendongak dan menyadari jika mereka kini tengah berada didepan pintu kelasnya, sejak kapan mereka sampai disini? bukankah tadi mereka masih berada diluar sekolah? Ahh, sepertinya ia kebanyakan melamun sampai tak sadar jika mereka sudah berada disana selama lima menit.
"Kau benar Riko-nee. Terima kasih sudah mengantarku, sampai jumpa!" kemudian Rin melambai pada Riko yang pergi kelantai dua, ke kelasnya.
Aku memasuki kelas yang sudah lumayan ramai, kulihat beberapa pasang mata menatap kearahku, jadi aku pun berinisiatif untuk menyapa mereka. "Selamat pagi, teman-teman."
"Selamat pagi, Rin." balas mereka, aku hanya tersenyum dan berjalan kearah bangkuku. Disana aku melihat teman sebangku-ku tengah mengobrol bersama pemuda berambut baby blue.
"Ne, Tetsu-kun, hari ini temani aku kencan ya?" ajak gadis itu, namanya adalah Momoi Satsuki. Dia sudah lama menyukai Kuroko-kun, hanya saja entah Kuroko-kun yang tidak peka atau pura-pura tidak tahu, padahal Momoi-san selalu memberinya kode yang sangat jelas bahwa perempuan itu menyukainya.
"Maaf, Momoi-san. Tapi hari ini aku sudah berjanji untuk membantu nenek."
"Yah~ Padahal aku ingin mentraktir Tetsu-kun dua gelas vanilla-shake." ucap Momoi-san pura-pura sedih, aku hanya tersenyum tipis ketika aku melihat Kuroko-kun yang sepertinya kesusahan untuk menolak ajakan Momoi-san. Omong-omong, vanilla-shake adalah minuman favoritenya Kuroko-kun.
Aku duduk pada bangku-ku dan menyimpan tasku pada pengait disisi meja. "Selamat pagi, Momoi-san, Kuroko-kun." sapaku pada mereka. Mereka menoleh dan Momoi-san tersenyum kearahku. "Selamat pagi, Kobayashi-san." ucap Kuroko-kun sopan, hanya saja dengan ekspresi datar seperti biasanya.
"Ahh! Selamat pagi, Rin-chan!" Momoi-san membalas sapaanku dengan riang, ia kembali menatap Kuroko-kun dengan pandangan memohon. Hendak merengek kembali namun tak jadi karena Akashi-kun (teman sebangku Kuroko-kun), sudah berdiri disampingnya sambil menatap Momoi-san datar.
"Kembali ke bangkumu, Momoi." ucap Akashi-kun tenang, namun ekspresinya itu yang jauh dari kata tenang membuat Momoi-san berdiri sambil menggembungkan pipinya.
"Ish! Akashi-kun tidak peka, padahal aku ingin mengajak Tetsu-kun untuk kencan." Momoi-san menggerutu sebal, ia menyeret bangku milik teman sekelas dan duduk disamping Kuroko-kun. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan menatap pemandangan lewat jendela disamping kananku.
Disana aku melihat seorang pemuda bersurai kuning madu, berlari tergesa diikuti oleh segerombolan wanita yang menjeritkan namanya. Kalau tidak salah, dia adalah salah satu murid SMA Teikou yang berprofesi sebagai model. Namanya Kise Ryouta. Kulihat dia mendongak dan menatap kearahku, tepat kedalam mataku dan ia terlihat terkejut sebelum tersenyum lembut.
Aku tersentak, seluruh wajahku terasa memanas dan jantungku berdegup kencang. Namun aku merasa tidak asing saat menatap senyumnya, senyum itu sama seperti.. dalam mimpiku semalam.
Aku tertegun, wajah mereka mirip, rambutnya, senyumannya, bahkan nama mereka pun sama-sama Ryouta. yang membedakan Ryouta yang ini memakai anting perak ditelinga kirinya, sementara Ryouta yang dalam mimpiku tidak memakainya.
Tidak mungkin, mereka adalah orang yang sama, 'kan?
Aku tersadar dari pikiranku ketika guru sejarah kami datang memasuki kelas.
Waktu istirahat telah tiba, dua orang pemuda berbeda warna rambut tengah berjalan kearah kantin. Salah satu diantara mereka yang memiliki tinggi diatas rata-rata untuk seukuran anak kelas satu SMA menguap lebar, matanya yang sayu menatap malas kedepan. Mencoba menghiraukan teman kuningnya yang dari tadi berisik.
"Murasakibara-cchi, diantara warna kuning, merah, dan biru, mana yang lebih bagus untuk disandingkan bersama warna hitam?" tanya si kuning.
"Warna ungu lebih bagus, Kise-chin."
"Tapi aku tidak bilang ada warna ungu 'ssu!"
".. Hoamm.."
"Murasakibara-cchi? Jawab aku 'ssu yo!"
"..."
"Ne Murasakibara-cchi, menurutmu kenapa Akashi-cchi meminta kita untuk datang ke kantin? padahal aku ingin memakan bekal pemberian fansku 'ssu."
Jengah, pemuda ungu dengan tinggi diatas rata-rata itu menatap Kise tajam. Ia sedang malas dan si kuning itu membuatnya tambah malas. "Diamlah Kise-chin atau aku akan menghancurkanmu."
"Hidoi 'ssu yo! Aku kan hanya bertanya."
"..." Murasakibara melengos pergi untuk membeli snack ketika mereka sampai dikantin, Kise yang melihatnya hanya mengerucutkan bibir dan memesan sup gratin bawang.
Ia melangkah kearah meja kantin dan menyimpan nampannya dia atas meja, terduduk dan mulai merenung sambil memangku dagu. 'Entah kenapa, aku merasa familiar dengan gadis itu. Apakah dia..'
"Oi Kise, mana Murasakibara?" tanya pemuda tan dengan rambut navy blue pada Kise yang tengah duduk dikursi kantin. Pemuda pirang yang ditanya tersentak dan mendongak, menatap si surai navy blue dengan wajah pura-pura ceria.
"Murasakibara-cchi sedang beli snack 'ssu. Aomine-cchi tumben sudah datang." ucap si pirang, ia memperhatikan Aomine yang mengambil tempat duduk disamping kanannya sambil menyimpan makan siangnya diatas meja.
"Tsk. Akashi menyuruhku untuk segera datang kesini sebelum majalah Mai-chanku habis digunting olehnya." Kise tertawa ketika Aomine memasang wajah gelap.
"Ne Aomine-cchi, ini hanya perasaanku saja, atau memang disini ada seseorang yang mirip dengannya ?" tanya Kise pada pemuda tan disampingnya. Pemuda tan bernama lengkap Aomine Daiki yang biasanya memasang wajah malas itu kini menatapnya sedikit penasaran sambil memangku wajah. "Siapa dia?"
Si pirang terlihat memasang wajah dan pose berpikir. "Entahlah, aku tidak tahu namanya 'ssu. Tapi dia sekelas dengan Akashi-cchi, Midorima-cchi, Kuroko-cchi dan juga Momo-cchi."
"Kalau begitu, tanyakan saja pada mereka." ucap Aomine acuh, ia kembali menguap untuk yang entah keberapa kalinya membuat Kise mengerucutkan bibir.
"Mou! Aomine-cchi enggak asik ah." gerutunya sebal, ia melipat kedua tangan dan memalingkan wajah. enggan menatap Aomine yang suka membuatnya kesal.
"Ki-chan! Dai-chan!" seruan seorang gadis membuat Kise menoleh, ia melihat Momoi tengah melambai bersama rekan basketnya termasuk Murasakibara, ditangan mereka terdapat nampan berisi makan siang mereka. "Ah Minna!" Kise balas melambai tak kalah semangat.
"Jadi Akashi, apa yang ingin kau bicarakan sehingga Mai-chanku kau bawa-bawa?" tanya Aomine dengan wajah nelangsa, ia tak rela majalah Mai-channya jatuh ketangan sang raja iblis.
Akashi mendudukan tubuhnya pada kursi kantin, tepat dihadapan Kise, ia meletakan nampannya pada meja dan menatap teman-temannya serius. "Aku yakin kalian semua sudah merasakan keberadaannya."
mendengar ucapan Akashi, mereka serentak menyimak dengan wajah tak kalah serius. "Maksudmu dia?" tanya Aomine. Akashi mengangguk dan tatapannya beralih pada Kise. Menghela nafas saat ia mendapati ekspresi kosong dari teman basketnya. "Ryouta,"
"Ah, ada apa, Akashi-cchi?" tanyanya yang tersentak, ia sedikit risih ketika teman-temannya menatap lekat padanya. 'reaksinya tidak seperti biasanya..' batin mereka bersamaan. Mereka tentu saja sepenuhnya mengetahui jika Kise Ryouta itu adalah orang yang sangat narsis, hanya saja sikapnya akan berubah drastis jika itu sudah menyangkut tentang dia.
"Ki-chan, kamu baik-baik saja?" Momoi bertanya dengan ekspresi khawatir, ia mengusap bahu Kise perlahan yang kebetulan duduk disamping kanannya. "Aku baik-baik saja 'ssu yo. Ah, ayo makan. Aku sudah lapar 'ssu!" ucap Kise sambil mulai memakan makanannya yang sudah agak dingin, ia mencoba memfokuskan pandangannya pada sup gratin bawang kesukaannya.
"Kise, berhenti merasa bersalah nanodayo. Itu bukan kesalahanmu sepenuhnya nodayo." Midorima berbicara sambil membetulkan letak kacamatanya. Kise terdiam dan tetap melanjutkan acara makannya, berpura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan salah satu temannya.
"Oi, Kise! Berhentilah murung, sialan! Kau membuatku merinding dengan sikapmu itu!" seru Aomine sambil menatap pemuda pirang itu tajam. Beberapa temannya balas menatap Aomine tajam, tapi pemuda berkulit tan itu mengacuhkannya. Ia lebih merasa risih dengan sikap Kise yang tak biasanya daripada mempedulikan tatapan maut teman-teman basketnya.
"Ucapanmu sangat keterlaluan, Aomine-kun." ucap Kuroko datar, ia menatap Kise yang masih menunduk dengan tangan memegang vanilla-shake.
"Kise-chin, ini untukmu." Murasakibara menyodorkan sebungkus umaibo pada Kise, membuat Kise mendongak dan menatap mereka datar. "Hah.. Kalian bisa saja mengatakan hal itu dengan mudah, tapi aku sama sekali tidak bisa melupakannya. Apalagi dia mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungiku." ucap Kise dengan sorot mata menajam, teman-temannya terdiam mendengar ucapan Kise. Bahkan Momoi yang selalu ceria pun kini terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Kise menghela nafas dan menoleh kearah sebrang meja yang terdengar sedikit ramai.
"Koganei-kun! Kau tidak boleh mengambil makanan milik Mitobe-kun." gadis berambut coklat sebahu memarahi seorang pemuda berwajah kucing, membuat pemuda bernama Koganei itu menatap nanar pada bekal milik Mitobe yang terlihat menggiurkan.
"T-tapi bahkan Mitobe saja tidak keberatan.." ucap Koganei. Mereka terus saja berdebat tentang bekal Mitobe yang lezat, tapi bukan itu yang membuat Kise memperhatikan mereka. Melainkan seorang gadis yang memiliki rambut lurus hitam sepunggung dengan mata sewarna ruby.
Gadis itu hanya diam memperhatikan orang-orang disekelilingnya sambil memakan makanannya dengan tenang, sesekali tersenyum kecil melihat kehebohan yang dibuat oleh senpai-senpainya.
tanpa sadar, pegangannya pada sendok mengerat. dan Akashi mengetahui itu, pemuda berambut merah itu mengikuti arah pandang Kise dan menemukan seorang gadis bermata ruby yang menjadi objek pandangnya. diam-diam, ia menyunggingkan sebuah senyum tipis.
"Seijuuro-kun, lihat! Apa aku terlihat cocok memakai ini?" tanya seorang gadis dengan rambut sebahu. Tangannya yang lentik terangkat untuk memperlihatkan sebuah cincin perak dengan permata ruby yang tersemat pada jari manis tangan kanannya.
Pemuda yang dipanggil Seijuuro terlihat tertegun sambil menatap cincin itu. "Darimana kau mendapatkan cincin itu, Clara?" Akashi balik bertanya dengan wajah serius. Gadis itu tersenyum kecil dengan rona merah dipipi.
"Ryouta-kun memberikan ini padaku. Katanya ini adalah peninggalan ibunya, aku sedikit ragu untuk menerimanya. Bagaimanapun juga, peninggalan orang yang kita sayangi adalah sesuatu yang sangat berharga. Tetapi saat melihat wajah seriusnya, aku pun menerimanya dengan senang hati."
Akashi mengangguk mengerti, ia mengacak rambut hitam gadis didepannya dengan lembut. "Karena itu adalah benda yang berharga bagi Ryouta, kau harus menjaganya sebaik mungkin." ucap Akashi sambil mencoba tersenyum lembut, namun tak berhasil, yang ia pasang kini adalah sebuah senyum getir.
Tetapi gadis didepannya ini tak mengetahui arti senyuman itu."Tentu saja~ Ah! Seijuuro-kun belum menjawab pertanyaanku! Apa aku terlihat cocok memakai ini?" sang gadis kembali bertanya, ia menyodorkan tangannya yang tersemat cincin pada Akashi."Tentu saja.. Kau sangat cocok memakainya."
'Kau tidak tahu jika aku merasa sakit saat kau terlihat bahagia ketika membicarakan Ryouta, Clara..'
Pelajaran terakhir baru saja usai, murid-murid mulai menghambur keluar kelas untuk pergi pada kegiatan klub masing-masing.
"Rin, ayo ikut aku ke lapangan basket ya!" ucap Riko pada Rin, Rin mengangguk mengiyakan. Lagipula ia tidak mengikuti eskul apa-apa, sebagian waktunya selalu ia habiskan untuk membaca buku. Sepertinya menemani kakak sepupunya melatih basket akan jadi pengalaman yang menyenangkan.
"Aku mau pergi ke perpustakaan dulu untuk meminjam buku, Riko-nee duluan saja. Nanti aku menyusul." ucap gadis bermata ruby itu, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah perpustakaan ketika Riko mengiyakan ucapannya.
.
.
Rin mengelilingi ruang perpustakaan yang lumayan luas itu, matanya menelusuri setiap rak buku untuk mencari buku yang sekiranya akan seru untuk dibaca. Pandangannya jatuh pada sebuah buku yang lumayan usang termakan waktu, ia ulurkan tangannya untuk meraih buku tersebut. sedangkan dari samping kanannya, sebuah tangan yang lebih besar darinya ikut terjulur kearah buku itu, membuat tangan mereka tanpa sengaja saling bersentuhan.
"Ah! M-maaf!" ucap gadis itu sambil menarik tangannya, ia sedikit mendongak untuk melihat rupa sang pemilik tangan. Seorang pemuda berambut baby blue tengah menatapnya datar, "Kuroko-kun.." tangan Kuroko mengambil buku incaran Rin dan menyodorkan buku itu pada gadis didepannya.
"Ini, sepertinya kamu ingin mengambil buku ini." ucap Kuroko datar. Rin menatap buku itu ragu sebelum kembali mendongak untuk menatap Kuroko. "Tapi bukankah Kuroko-kun juga mau mengambil buku itu?"
"Tidak apa-apa. Aku bisa membacanya setelah kamu selesai, Kobayashi-san."
"T-terima kasih, Kuroko-kun.." Rin pun menerima buku itu dengan senang hati, ia membungkukkan tubuhnya sebagai ucapan terima kasih sekaligus permisi untuk pamit pergi menuju petugas perpustakaan.
Kuroko memperhatikan gadis itu dalam diam, tanpa sadar bibirnya sedikit tertarik membentuk senyum tipis. Ia mengambil sebuah buku secara asal dan menyusul gadis bermata ruby itu menuju meja petugas untuk meminjam buku yang dibawanya.
"Kobayashi-san, apa kau akan pergi keatap untuk membaca buku itu?" tanya Kuroko ketika ia sudah berada dibelakang gadis itu. Rin terlihat sedikit tersentak sebelum menoleh kearahnya. "Uhm kali ini Riko-nee memintaku untuk menemaninya di lapang basket, mungkin aku akan membacanya dirumah saja."
"Kalau begitu ayo pergi bersama, aku juga akan pergi kesana untuk latihan."
"Eh Kuroko-kun kan anggota klub basket juga, aku lupa hehehe.. Ayo, Kuroko-kun." dan mereka pun pergi ke lapang basket sambil saling terdiam membuat suasana yang lumayan canggung.
"Aomine-cchi, ayo one-on-one denganku!" seru Kise dari pinggir lapangan, tangan kanannya memegang bola basket dan memantulkannya beberapa kali pada lantai.
Teman-teman basketnya termasuk Momoi menghela nafas lega ketika Kise kembali pada sikap cerianya.
"Kheh! Berapa kali pun kau mencoba, kau tidak akan bisa menandingiku, Kise!" Aomine balas berseru dari tengah lapang, ia menyeka keringat yang mengalir dari dahinya dengan tangan kiri. Bibirnya menyunggingkan sebuah seringaian ketika Kise mengerucutkan bibir.
"Awas saja! Kali ini aku akan mengalahkanmu, Aomine-cchi!"
"Coba saja kalau kau bisa!"
Riko Aida, selaku pelatih tim basket laki-laki SMA Teikou hanya menggelengkan kepala ketika melihat pertengkaran antara Aomine dan Kise yang sering terjadi. Ia sudah lelah melerai mereka, jadi ia biarkan saja mereka berbuat seenaknya asalkan tetap latihan. Tentu saja kekerasan fisik sangat dilarang.
"Ne Mukkun, apa kau tahu Tetsu-kun pergi kemana?" tanya Momoi pada Murasakibara yang sedang duduk dibangku cadangan sambil memakan cemilannya. Riko mengerutkan kening, baru menyadari ternyata Kuroko memang tidak ada disana. "Hmm.. Kalau tidak salah –nyam nyam– Kuro-chin bilang, dia mau pergi ke –nyam nyam– perpustakaan dulu."
"Murasakibara. Telan dulu makananmu sebelum bicara nanodayo." Midorima menegur sang pemuda bersurai ungu yang tengah memakan umaibo-nya, ia meletakan sebuah buku telepon pada bangku cadangan dan mulai membalut jari-jari tangannya.
Murasakibara tak menjawab, pemuda itu kembali asik memakan cemilan tanpa mempedulikan ucapan Midorima.
"Maaf terlambat. Kami ada urusan sebentar tadi."
Mendengar ucapan Kuroko membuat mereka serentak menoleh kearah pintu, disana terdapat Kuroko dan seorang gadis bersurai hitam panjang. Mata ruby-nya yang indah terlihat bersinar saat terkena bias cahaya. Tanpa sengaja tatapan Kise beradu dengan tatapan polos sang gadis. Kise memasang wajah terkejut saat gadis itu menatapnya "Kau—"
.
.
.
Tbc
Hallo Minna-san! ini adalah pertama kalinya saya membuat fic, maaf kalo masih ada banyak kekurangan dalam fic ini :( saya harap ada yang mau memberi kritik atau saran untuk saya. Jangan lupa Love-nya juga ya, hehe :3 sampai jumpa dichapter dua~
