Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Rated : M

Pairing : KisexOC

Genre : Fantasy, Romance

Warning : AU!Vamfic. OC, Kaku, Typos [maybe, OOC

"…" dialog biasa

'…' dalam hati

#…# flashback / kilasan

.

Happy Reading!


Suasana lapang basket terasa tegang dan berat, Rin tidak mengerti apa yang terjadi tapi ia merasa tak nyaman dengan situasi yang canggung ini. Terlebih saat Riko berteriak pada anggota klub basket untuk lebih bersemangat berlatih, namun hanya diabaikan oleh para anggotanya.

"Hey kalian kelas satu! Ayo berlatih dengan benar atau aku akan melipat gandakan jadwal latihan kalian!!" seru Riko dari pinggir lapang, wajahnya terlihat sangat kesal ketika ia menyaksikan permainan basket yang buruk dari para kelas satu.

"Ck!" Rin bisa melihat jika pemuda bernama Kise Ryouta itu mendecak dengan rahang yang mengeras.

Mereka sedang berlatih tanding dengan anggota kelas dua, papan skor menunjukan angka 13 untuk kelas satu dan 19 untuk kelas dua. Suatu yang jarang terjadi. Izuki mengoper bola basket kepada Hyuuga yang langsung dilemparkan kearah ring oleh sang kapten, masuk.

Skor 13[kelas satu] - 22[kelas dua]

"Oi! Mana semangat kalian? Ayo berlatih dengan serius! Aho!" bentak Hyuuga. Ia menyeka keringat yang turun dari pelipisnya sambil menatap para juniornya yang terlihat tidak fokus dengan tajam

"Ck! Menyebalkan." Murasakibara menggerutu dengan wajah kesal. Ia terlihat sangat kelelahan dengan seragam yang sudah basah oleh keringat. Biasanya ia akan dengan mudah mem-block bola yang hendak masuk kedalam ring, tapi kali ini ia tidak bisa fokus sedikitpun.

"Pelatih, sepertinya mereka butuh istirahat sebentar." ucap Momoi pada Riko. Ia menatap teman-teman basketnya dan juga Rin secara bergantian. Membuat sang gadis bersurai hitam merasa tambah canggung dibuatnya.

"Hah.. Kau benar, Momoi-san. Baiklah, istirahat selama 10 menit!" Momoi mengambil dan membagikan handuk serta minuman pada rekan-rekan basketnya. Ia menghela nafas saat melihat Aomine yang tak berhenti mendecih dengan wajah kesal.

Mereka menurut dan segera berjalan kearah pinggir lapang untuk mengambil minum, Koganei segera membantu sang manager berambut pink itu untuk membagikan handuk dan juga minuman.

"…"

"…"

Tak ada yang membuka suara, dan suasana yang hening menambah kecanggungan. Rin yang terduduk diujung dibench bergerak gelisah ketika merasakan beberapa pasang mata seolah ingin melahapnya, begitu tajam dan kelaparan.

Para anggota kelas satu memolototi Rin dengan intens, melihat sikap yang tak biasa dari juniornya membuat Riko dan teman seangkatannya sweatdrop sambil memasang wajah aneh. "Uh.. Ano, Riko-nee. Mungkin aku harus pulang lebih dulu, aku ingin segera membaca buku yang tadi kupinjam dari perpus." cicitnya pelan, ia mengeratkan pegangannya pada tas sekolah ketika dirasa seluruh pasang mata kini menatapnya dengan pandangan beragam.

"Apa? Tidak, tidak. Kau tidak boleh pulang sendirian, Rin. Sebentar lagi klub juga akan usai kok, tunggulah sebentar." tolak Riko sambil menggeleng, ditatapnya wajah adik sepupunya yang terlihat pucat. "Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas. "Aku tidak apa-apa." Rin menggeleng pelan membuat helaian rambutnya yang terurai ikut bergoyang.

"Jadi, Riko-chin –nyam nyam– siapa gadis itu? Mmm.." Murasakibara bertanya dengan tampang malas, mulutnya sibuk mengunyah batang pocky rasa coklat membuat Midorima mengernyit kesal melihatnya. "Telan dulu makananmu, nanodayo."

"Eh? Maksudmu Rin? Dia adalah adik sepupuku." jawab Riko sambil merangkul bahu Rin, "Dia teman sekelas kami, namanya Kobayashi Rin." Akashi memperkenalkan Rin pada Murasakibara, membuat pemuda tinggi itu menatap Rin dengan malas. Gadis tersebut menyunggingkan sebuah senyum canggung sambil menyapanya.

"Uhm, halo, Murasakibara-kun."

"Mukkun tidak tahu Rin-chan? Dia ini teman sebangku-ku lho! Dia baik sekali karena suka membagi bekal makan siangnya padaku hehehe." Momoi berdiri dan menangkupkan kedua tangannya diatas dada, ia tertawa cengengesan ketika Aomine mendengus jengah.

Mendengar kata 'makanan' membuat Murasakibara menatap Rin dengan mata berbinar-binar.

"Kau ini suka menyusahkan orang lain saja, Satsuki." Aomine menguap, ia kembali meneguk minuman isotonik dalam botolnya. "Benar kata Aomine-kun, Momoi-san selalu meminta bekal milik Kobayashi-san." ucap Kuroko datar. Momoi menatapnya dengan bibir mengerucut. "Tetsu-kun! Aku tidak menyusahkan orang lain, lagipula Rin-chan saja tidak keberatan. Benarkan, Rin-chan?"

"Uhm. Tidak apa-apa kok, Momoi-san."

Mendengar jawaban Rin membuat Momoi menatapnya penuh haru, dengan gerakan slowmotion ia berlari kearah Rin dan menenggelamkan wajah Rin pada dadanya yang jauh dari kata kecil. "Yeeeyyy! Rin-chan aku sayang kamu!"

Para anggota kelas dua menganga dengan wajah merah padam, ada darah yang sedikit mengalir dari hidung mereka. "A-AAAA!! Wajahnya! Wajahnya tenggelam!!" seru mereka bersamaan. Riko menatap mereka tajam, tangannya terangkat tinggi-tinggi kearah temannya yang sedang fokus menatap pemandangan didepannya.

PLAK!!

—Dan mereka pun terjungkal dengan cap jari tangan berwarna merah dipipi.


"Mmhh.." Rin merentangkan kedua lengannya keatas, ia menutup buku yang ia pinjam siang tadi setelah memberinya penanda terlebih dahulu. Sebenarnya ia masih penasaran akan cerita dalam buku itu, namun tubuh dan matanya sudah pegal untuk terus membaca buku yang lumayan tebal tersebut.

Ia berdiri dari kursi belajarnya dan menatap kearah pintu balkon yang sedikit terbuka, menyebabkan semilir angin malam menyelinap masuk melewati celah pintu kaca. Tirai transparan yang menutupi seluruh jendela melambai pelan tersapu angin, Rin bertanya-tanya dalam hati. Bukankah tadi ia sudah mengunci pintu balkon kamarnya? Kenapa sekarang pintu itu terbuka? Oh mungkin saja ia lupa belum menguncinya.

Berjalan perlahan mendekati jendela, menyibak sedikit tirai tersebut dan memandang keluar. Malam ini malam purnama, ia bisa menyaksikan bulan penuh yang terlihat indah.

"Cantiknya.." Rin menggumam mengagumi pemandangan yang tersaji, ia melangkah keluar kamar untuk melihat secara langsung dan disambut dengan hembusan angin yang lumayan kencang.

Saat ia tengah menikmati pemandangan, sudut matanya menangkap sebuah bayangan hitam yang berkelebat didekat balkonnya. Ia terlonjak dan memasang sikap waspada. Matanya melirik ke segala arah untuk mencari bayangan misterius tersebut, tapi ia tak menemukannya.

"A-apa itu?" tanyanya pelan, nyaris berbisik.

Suara lolongan srigala dan suara langkah kaki membuatnya tersentak, suaranya terdengar begitu dekat.

Rasa takut mulai menyergapnya membuat tubuh Rin bergetar pelan, kakinya terasa sangat lemas membuatnya jatuh terduduk. Ia mencengkram liontin cincin yang ia sembunyikan dibalik gaun tidurnya dengan kencang, seolah meminta perlindungan pada cincin tersebut.

Ia menunduk dan mendapati sebuah anting berwarna perak tergeletak dibalik pintu balkonnya. "Anting? Milik siapa?" tanya Rin lirih, dengan tangan bergetar ia mengambil anting tersebut dan segera memasuki kamarnya. Tak lupa ia mengunci pintu balkonnya untuk mencegah hal-hal mengerikan yang muncul dikepalanya. Kakinya yang masih terasa lemas ia paksakan berjalan menuju ranjang, membaringkan diri diatas kasur dan menarik selimut. Rin pun segera berlayar kealam mimpi.

Tanpa ia sadari, sepasang mata tajam menatapnya dalam kegelapan.


# "Apa? Bertunangan? Aku tidak mau, Ayah!" seru seorang gadis pada lelaki paruh baya didepannya. Lelaki yang dipanggil ayah itu menghela nafas pelan, mencoba bersabar menghadapi sikap menentang dari anak gadisnya itu.

"Kau harus menerimanya, Clara. Jika kau mau bertunangan dengannya, ayah yakin kehidupan kita akan berubah sedikit lebih baik. Kau tidak mau membuat ibumu terus terbaring sakit 'kan? Sementara Pangeran Nash mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Dia bisa menyembuhkan ibumu jika kau mau menerimanya." jelas sang ayah, ia menatap putrinya dengan serius. Ia tak ingin sang putri menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Putrinya memang memiliki paras yang cantik, selain itu, gadis ini juga baik hati dan lembut. Hanya saja dengan kepribadiannya yang ceria dan sedikit ceroboh, putrinya ini suka membuatnya sakit kepala dengan segala perbuatannya.

Mendengar sang ibu yang disebut-sebut, membuat kepala Clara menunduk dengan pandangan sedih. Ia ingin menyelamatkan ibunya yang hampir sekarat, tak ada obat yang mampu menyembuhkan penyakit sang ibu. Apalagi dilihat dari kondisi ekonomi mereka, kehidupan mereka bisa dibilang kurang layak dengan makanan yang kadang mencukupi.

Menghela nafas, Clara selalu berfikir jika Nash lah yang membuat ibunya jatuh sakit. Secara hanya dia yang merupakan mahkluk terkuat dari klannya dengan kekuatan yang besar. Dengan membuat ibunya yang ia sayangi jatuh sakit, Nash sepertinya ingin agar ia mengemis bantuannya dan menerima pertunangan itu. Dasar pria licik!

"Baiklah, jika itu hanya satu-satunya cara untuk menyembuhkan ibu. Aku akan menerima pertunangan ini." ucap Clara pasrah, membuat sang ayah tersenyum bangga padanya.

'Kuharap, aku tidak salah memilih.. Maafkan aku, Ryouta-kun.' ucap Clara dalam hati, gadis itu menangis dalam diam. #


Rin tersentak dan bangun dengan tergesa, nafasnya terengah dengan jantung berdebar kencang. Ia bermimpi tentang perempuan bernama Clara lagi, kali ini dalam mimpinya wanita tersebut akan ditunangkan dengan pria bernama Nash. Entah kenapa, ia ikut merasa sedih mengingatnya. Ia mengangkat tangannya dan mengusap pipinya yang basah, ia bahkan tak sadar kapan ia menangis.

"Kenapa.. Gadis bernama Clara itu selalu ada dalam mimpiku?" gumam Rin pelan, ia melirik kearah jam yang menunjukan angka 01.19am. Masih terlalu dini untuk bersiap sekolah, kemudian gadis itu pun memutuskan untuk kembali tertidur.

.

.

Pagi hari yang cerah diiringi suara kicauan burung. Didalam kediaman keluarga Aida yang lumayan besar, lebih tepatnya ruang makan, seorang lelaki paruh baya bersama dua gadis muda tengah menikmati sarapan mereka dengan khidmat.

Pria dewasa itu meletakan cangkir kopinya pada meja dan menatap kedua gadis didepannya. "Bagaimana sekolah kalian, gadis-gadis?" tanyanya. kedua gadis itu mendongak dan diantaranya menjawab pertanyaan sang pria. "Baik-baik saja. Tidak ada hal yang menarik." balas si gadis berambut coklat sebahu atau sebut saja Riko, sementara gadis yang satunya alias Rin hanya mengangguk sambil tetap memakan sarapannya.

"Oh ya paman, kemarin aku melamar pekerjaan disebuah cafe yang tidak jauh dari sekolah dan mereka menerimaku. Jadi mulai hari ini, aku akan pulang lebih telat dari biasanya." ucap Rin setelah ia selesai menghabiskan sarapannya. Riko tersedak roti yang ia makan sementara Kagetora menyemburkan kopinya ketika mereka mendengar ucapan Rin.

"Uhuk! uhukk!! A-apa maksudmu— uhuk! Rin?!" Riko berseru sambil terbatuk, ia memegang tenggorokannya yang terasa sakit. Rin menyodorkan segelas air mineral yang langsung diteguk habis oleh Riko. "Hati-hati, Riko-nee."

Kagetora mengelap mulutnya yang basah akibat semburan kopi tadi, dilihatnya putri adiknya itu dengan mata menyipit. "Kau tidak boleh bekerja, Rin. Apa uang yang kuberikan padamu tidak cukup? Aku bisa menambah uang jajanmu asal kau tidak bekerja." ucap pria dewasa itu.

Rin menggeleng pelan dan menatap paman serta kakak sepupunya itu penuh rasa syukur. "Bukan begitu, uang yang paman berikan lebih dari cukup kok. Aku sudah sangat berterima kasih karena paman dan Riko-nee mau merawatku. Hanya saja aku tidak mau merepotkan kalian lebih dari ini, jadi aku memutuskan untuk bekerja sambilan saja."

"Kenapa kau baru memberitahu kami sekarang, Rin?" Riko memberinya tatapan tajam, namun Rin hanya tersenyum kecil membalasnya. "Maaf. Jika aku memberi tahu kalian sebelum melamar pekerjaan, kalian pasti akan melarangku." Rin sedikit cemberut ketika mengatakan hal itu.

Riko memutar kedua iris coklatnya sementara Kagetora mendesah pelan. "Tentu saja kami akan melarangmu, aku tidak ingin terjadi hal-hal buruk padamu." ucapnya, Rin kembali menatap pamannya dan menggerutu pelan. "Paman, aku ini sudah besar. Lagipula aku ingin belajar mandiri agar aku tidak terlalu bergantung pada orang lain."

"Tapi kami bukan orang lain." sanggah Riko, ia menatap adik sepupunya itu kesal. "Kau adikku, Rin!" Kini giliran Rin yang memutar kedua iris ruby-nya. "Ya, ya, Riko-nee. Bukan itu maksudku!"

"Sudah, sudah. Karena itu adalah keputusanmu, aku tidak bisa melarangnya walaupun aku sedikit khawatir. Tapi kau harus bisa menjaga diri baik-baik, aku akan menjemputmu ketika kau akan pulang kerja."

"Tidak usah, Paman. Aku akan baik-baik saja! Percayalah." tolak Rin sambil menggelengkan kepalanya. "Aku setuju dengan usul ayah." Riko menjulurkan lidah pada Rin yang dibalas oleh tatapan kesal. "Paman tidak menerima penolakan, Rin. Kau ini sudah kuanggap sebagai putriku sendiri, jadi aku tidak mau hal-hal buruk terjadi pada kedua putri kesayanganku ini."

Mendengar ucapan Kagetora membuat Rin hanya mengangguk sambil menghela nafas pasrah, sementara Riko berseru sambil tersenyum penuh kemenangan pada adik sepupunya.

"Baiklah.. Riko-nee, ayo berangkat. Kami berangkat sekolah dulu, paman." ucap Rin. Riko mengangguk dan mulai mengambil tas sekolahnya. "Aku akan mengantar kalian."

"Tidak perlu, ayah. Kami lebih suka berjalan kaki, lagipula kau harus berangkat kerja sekarang. Kami berangkat!" seru Riko yang dibalas anggukan dari Kagetora bersama dengan seruan "Hati-hati dijalan!"


Semilir angin memainkan rambut hitam Rin yang terurai, gadis tersebut memejamkan matanya sebentar menikmati belaian angin yang berhembus pelan. Sebuah senyum lembut terukir dibibirnya dan ia membuka matanya perlahan, menampilkan iris ruby-nya yang indah.

Saat ini adalah waktu makan siang, Rin berada diatap sekolah dan bekalnya sudah ia habiskan. Ia sedang melanjutkan membaca buku yang ia pinjam kemarin, buku itu masih tersisa banyak halaman yang belum ia baca.Tadi Riko mengajaknya makan siang dikantin bersama anggota basket kelas dua, tapi Rin menolaknya karena ia ingin suasana yang tenang untuk membaca buku.

Seperti yang diketahui, teman-teman kakak sepupunya itu sangat berisik. Kecuali pemuda bernama Mitobe Rinnosuke. Katanya, tidak ada yang pernah mendengar suara pemuda itu. Terkesan misterius, tapi dia adalah pemuda yang baik hati dan selalu tersenyum lembut pada teman-temannya termasuk pada Rin sendiri. Dan lagi, pemuda itu sangat pandai memasak, membuat Riko selalu merengek pada Rin untuk mengajarinya cara memasak karena ia tidak mau kalah dari Mitobe. Katanya, harga dirinya sebagai wanita terluka karena kalah oleh pria dalam urusan dapur.

Suara langkah kaki membuat Rin mendongak untuk melihat siapa yang datang. Oh itu adalah Kise Ryouta, salah satu tim inti anggota basket yang ia lihat kemarin di gym. Pemuda itu terlihat terkejut ketika melihatnya, namun dengan segera sebuah senyum ceria terulas diwajah tampan itu. Rin balas tersenyum kecil pada Kise.

"Ah, Kobayashi-cchi. Sedang membaca buku apa 'ssu?" tanya pemuda pirang itu sambil mendekati Rin. Rin menutup buku tersebut dan menyimpannya disamping kanannya. "Ini buku tentang Vampire dan Werewolf, ceritanya yang unik membuatku tertarik walau penampilannya sudah usang." Rin menjawab sambil menatap pemuda didepannya, Kise tersentak dan mendudukan tubuhnya disamping kanan sang gadis. Ia menatap buku usang itu dengan seksama membuat Rin menatapnya heran.

"Kise-kun mau membacanya?"

"A-ah tidak perlu 'ssu, aku tidak tertarik dengan hal itu, hehehe." Kise menjawab sambil tertawa canggung, sementara Rin hanya mengangguk.

"Apakah menurut Kobsyashi-cchi Vampir dan Werewolf itu ada?" pemuda pirang itu menerawang sebentar sebelum beralih menatap gadis disampingnya, tatapannya sedikit sayu, terlihat menyimpan sebuah kerinduan dan juga kesedihan.

"Menurutku.. Kemungkinan mereka itu benar-benar ada, berbaur dan berinteraksi bersama manusia biasa. Buku ini tidak akan ada jika mereka tidak nyata, 'kan? Apalagi Vampir dan Werewolf merupakan mahluk yang cukup populer dikalangan masyarakat. Pasti ada orang yang pernah melihat kedua mahluk tersebut secara langsung." ucap Rin, ia sedikit merapikan rambutnya yang tertiup angin.

Kise terdiam, matanya masih memperhatikan Rin dengan intens. Menatap bagaimana rambut hitam itu tersapu angin, menatap bagaimana mata Ruby tersebut berkedip, menatap bagaimana bibir peach itu terbuka ketika bicara.. Semuanya terasa familiar bagi Kise, dan ia tak tahu, sampai kapan ia akan mampu bertahan dengan kerinduan dan juga kesedihan yang seakan ingin menenggelamkannya dalam penyesalan.

"Bagaimana jika aku adalah salah satu diantara mereka?" gumam Kise pelan sambil menengadah, mengalihkan tatapannya pada langit cerah. Rin menatapnya penuh tanda tanya, ia seperti mendengar pemuda disampingnya itu bergumam pelan. Saking pelannya, Rin sampai tidak begitu jelas mendengar apa yang diucapkan Kise.

"Apa Kise-kun bicara sesuatu?" tanya gadis itu, Kise menoleh kearahnya dan tersenyum ceria. "Bukan apa-apa 'ssu, aku hanya bertanya apa Kobayashi-cchi akan datang ke gym lagi atau tidak."

"Errr.. Aku tidak tahu, Kise-kun, sepertinya aku akan kesini lagi sampai jam sekolah usai." ucap Rin ragu, ia tidak mau suasana canggung terjadi lagi akibat dirinya. Rin mengira jika ialah penyebab kekacauan itu, jadi ia memutuskan untuk tidak menemani Riko di gym terlebih dulu. Dan perkiraannya, mungkin saja memang benar.

"Eh kenapa? Ku kira Kobayashi-cchi akan datang lagi untuk menyemangatiku 'ssu." Kise menyisir rambutnya kebelakang dengan jari, bibirnya membentuk senyum manis sementara matanya berkedip genit.

'Entah kenapa aku merasa risih melihat sikapnya yang ini..' Rin membatin dengan wajah canggung. "Tidak. Aku lebih suka tempat ini." mengetahui triknya tidak mempan pada Rin, Kise pun memasang wajah cemberut. "Apa yang akan—"

RINNNG!

"Ah! Bel sudah berbunyi, aku duluan ya, Kise-kun!" seru Rin sambil bergegas menuruni tangga setelah ia mengambil bukunya terlebih dahulu. Kise menjulurkan tangannya kedepan ketika Rin beranjak, hendak menggapainya namun ia terlambat. Gadis itu sudah berlalu menuruni tangga dengan langkah yang cepat.

"Padahal aku masih merindukanmu.." bisik Kise pelan, ia terdiam sebentar sebelum menghela nafas dan ikut menuruni tangga menuju kelasnya.


"Tak ku sangka kau terlahir kembali, tapi aku berterima kasih. Karena dengan lahirnya dirimu, aku pun bisa terbebas dari segel sialan itu. Kali ini, takkan ku biarkan siapapun merebutmu dariku lagi." ucap sosok bersurai kuning, matanya berkilat tajam dan bibirnya menyunggingkan seringai licik. Didalam kepalanya, terdapat berbagai macam cara licik untuk melakukan hal-hal yang lebih licik agar keinginannya terpenuhi.

'Bagaimana pun juga, Aku harus memiliki gadis itu sebelum mereka mengambilnya.' bisiknya dalam hati. Kemudian sosok itu pun menghilang bagai kabut tipis.