Naruto and all characters only belong to Masashi Kishimoto.
Author : Azizah Rielvn
Rated : T
Genre : Angst, Romance, and Friendship.
Warning : (-) PUEBI, Typo, AU.
.
.
.
.
.
.
Don't Like, Don't Read
.
.
.
.
.
Chapter 1 : My Feel
.
.
.
.
.
Angin senja berhembus pelan, menggesekkan dedaunan serta ranting di tanah lembab. Aroma petrikor kembali menggelitiki indra penciumanku. Langit sore mulai temaram dari ufuk barat seolah memberi tahu untuk mengakhiri hari ini.
Kedua tanganku tak hentinya saling bergesekkan berharap agar tercipta suatu kehangatan di sana. Meski dinginnya hujan masih kalah dengan dinginnya salju, namun tetap saja ... apapun yang berhubungan dengan dingin, tubuhku langsung memberi respon untuk segera mencari sesuatu yang hangat.
Aku segera mempercepat langkahku untuk pulang ke rumah kecil yang sering orang lain bilang apartemen. Membungkus diri dengan selimut tebal sambil meminum segelas coklat hangat merupakan tujuanku yang wajib aku lakukan sesampainya di sana. Membayangkannya saja, sudah membuatku tidak sabar.
"Hinata-chan mau aku antar?"
Indra pendengaranku mendapati suara seseorang yang tak asing bagiku. Netraku terkejap ketika nyaris saja berhadapan dengannya dan wanita yang ia sebut Hinata. Aku segera menyembunyikan diri di salah satu tiang lampu jalan. Setidaknya, wajahku tidak ketahuan olehnya.
"E-eh ... t-tidak perlu, Naruto-kun. Rumahku sudah dekat dari sini."
Suara lembut dan gugup dari Hinata membuatku sedikit menoleh ke arahnya. Aku penasaran mengapa Hinata menolak tawaran Naruto, padahal, Naruto sudah sangat berbaik hati telah menawarkannya.
"Ah, tidak apa-apa, Hinata-chan ... aku benar-benar ingin mengantarkanmu."
Decihan kesal terlontar begitu saja dariku. Menurutku, Naruto sangat bodoh, lelaki yang bodoh, sudah jelas-jelas Hinata menolak ajakannya, entah mengapa dirinya masih saja memaksa Hinata.
"B-baiklah, Naruto-kun."
Mereka telah melewatiku tanpa mengetahui bahwa aku sedang menguping pembicaraan mereka. Detik selanjutnya, aku kembali melangkahkan kaki untuk melanjutkan tujuan awalku.
Cakrawala membentang luas di setiap penjuru. Milyaran manusia mempunyai caranya masing-masing ketika menatap angkasa. Ada yang menatapnya dengan tawa, haru, luka, sendu ... namun, aku lebih memilih untuk menatapnya dalam diam, tak menunjukkan ekspresi apapun yang tergambar. Aku mengira ketika menatap langit, bisa membuatku sedikit merasakan cinta darinya. Namun, nyatanya? Setiap denyut waktuku selalu meninggalkan retisalya dalam kalbu yang penuh dengan kehampaan.
.
.
Hari ini, aku berniat untuk tidak bertemu dengannya. Menenangkan hati yang selalu berkecamuk sehingga mengantarkanku kepada ke-frustrasi-an yang harus ditanggung sendiri. Dari balik jendela perpustakaan sekolah, aku mendapati lagi sosoknya yang tersenyum lebar nan hangat seperti mentari pagi kepada wanita itu.
Netra hijauku menatap mereka dalam asa yang setiap kali membunuhku secara perlahan. Dulu, senyuman itu bisa aku dapatkan dengan mudah, namun sekarang ... senyumnya telah beralih bukan untukku lagi. Ada penggantiku yang kini selalu memenangkan hatinya dengan mudah, tidak sepertiku yang hanya bisa diam menyimpan rasa.
Aku segera membalikkan tubuhku lalu menutup jendela itu dengan tirai. Lalu, menit selanjutnya pergi dari perpustakaan dan mencari tempat lain yang bisa membuatku tidak melihatnya lagi.
"Sakura!"
Panggilan seseorang menyurutkan langkahku untuk menuju ke UKS. Aku menoleh ke sumber suara sembari menyunggingkan senyuman ramah seperti biasanya.
"Aku mencarimu kemana-mana tahu!" serunya dengan nafas yang ngos-ngosan.
Setelah beberapa menit ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Wanita yang kuanggap sebagai sahabat perempuanku kembali melanjutkan perkataannya. "Kau tahu gosip terbaru ini tidak?"
Aku menggeleng cepat dan berniat untuk tidak mau tahu tentang gosip yang sedang beredar. Meski Ino selalu mendapatkan gosip yang bisa dipercayai dan sangat akurat, namun sama sekali aku tidak tertarik. Toh, itu urusan mereka, selagi tidak mengganggu hidupku, aku tak pernah mempedulikannya. "Jika kau mengajakku untuk bergosip bersama, aku menolak, Pig."
Aku kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda tadi. Tapi, dengan cepat, Ino segera menarik tanganku untuk ikut bersamanya entah kemana. "Hei, Pig! Kau mau membawaku kemana, sih?!"
Ino tidak mengidahkan jawabanku, dan tentu saja membuatku kesal setengah mati dengannya. Dasar tukang pemaksa!
Akhirnya, setelah bermenit-menit yang menyebalkan telah terlewati, aku kembali ke perpustakaan tadi. Aku tidak menyangka, sekali lagi aku harus melihat kebersamaan mereka dari kejauhan yang penuh kesemuan seorang diri.
"Kau mengajakku ke sini hanya untuk melihat orang lain pacaran? Terima kasih, Pig! Aku lebih baik pergi," ujarku sedikit sewot dengan Ino.
Semakin lama aku menatap kebersamaan mereka, entah mengapa luka ini semakin mengantarkanku kepada rasa sakit yang terus-menerus mengoyak. Sekuat tenaga aku menahan buliran bening dari sudut mataku lalu bergegas pergi dari sini. Berjanji kepada diri sendiri untuk tidak menjadi wanita yang lemah karena cinta yang menyakitkan seperti ini.
"Tunggu, Sakura!" cegah Ino, lalu menyusulku ke luar perpustakaan.
"Naruto sudah menjalin hubungan dengan Hinata. Aku mendengarnya dari Shikamaru. Kemarin sore Naruto mengantar Hinata pulang, lalu saat mereka telah sampai di kediaman Hinata, Naruto segera mengutarakan perasaannya, dan ternyata ...," suara Ino memelan dan penuh ragu untuk melanjutkannya.
"Cukup, Ino!" cegahku sebelum Ino melanjutkan kalimat selanjutnya.
Hatiku nyeri di dalam sana, remuk dalam serpihan luka yang penuh cinta untuknya. Sebuah isakan tangis yang kutahan akhirnya keluar dalam diam yang terus kutekan sendiri. Ingatan mengenai janji-janji masa kecil bergentayangan di dalam otakku. Memutar kilas balik waktu, menghadirkan jari kelingking kita yang terpaut di atas cakrawala megah di atas sana sembari menyunggingkan seulah senyum penuh keceriaan yang penuh kehangatan.
Denyut waktuku kembali terhenti pada kesemuan yang terbalut rasa duka di sudut sana. Kegelapan selalu menyelimutiku dan menghadirkan rasa takut akan sebuah kehilangan. Rajutan tentang masa-masa kecil kita tergantikan dengan masa depan yang di dalamnya bukan tentang kita, melainkan kamu dan dia.
Jika jatuh cinta semenyakitkan ini ... bisakah kugantikan dengan cinta tanpa ada kata 'jatuh' yang menjerumuskanku ke dalam jurang hati yang telah terkoyak sendiri?
To Be Continue
Note :
Halo! Aku membawakan fanfic yang sudah lama bersemayam dalam diri. Semoga kalian merasakan--lebih tepatnya suka--dengan fanfic yang mempunyai rasa campur aduk di dalamnya.
Please, Review! Tidak terima krisan dalam bentuk Flame. Apresiasi karya seseorang dengan bijak.
Love,
Rielvn
