DISCLAIMER : 2015, and Hetalia still isn't mine. What tragedy.
"I'll surely sing while crying beyond the sleepless nights."
Nusantara benci rasa kesepian. Ketika ia berada di rumah Majapahit, ia tidak merasakan itu. Netherlands datang setelahnya dan berjanji ia akan selalu menemaninya. Pria berambut pirang itu akan membantunya merebut kembali adik kecilnya. Tetapi disini, di dalam mansion besar yang dimiliki pria itu, mansion yang digunakan untuk melindunginya dari dunia yang jahat dan saling menghancurkan di luar sana, Netherlands seringkali harus keluar, meninggalkannya di dalam rasa aman yang hening dan sepi dan menjanjikan kekembaliannya.
Tetapi lebih dari apapun, lebih dari semua yang Netherlands berikan padanya─hadiah – hadiah kecil dan gaun – gaun indah dan buku – buku berbahasa asing yang selalu membuka rasa ingin tahunya, ia hanya ingin pria itu cepat kembali.
Budaya yang dimilikinya menentang hal itu─ia tidak seharusnya menginginkan keberadaan pria itu di sisi tempat tidurnya, ucapan 'selamat tidur'-nya. Ia tidak seharusnya menginginkan pelukan pria yang tidak berhubungan darah dengannya, menggandeng tangan yang besar dan kokoh itu dengan telapak tangan mungilnya. Nusantara sudah memiliki sosok remaja sekarang, itu semua bukan lagi tempatnya.
Tetapi itu tidak menghalanginya untuk meminta pria itu menemaninya tidur, mencium dahinya selamat malam, merasakan sesuatu di hatinya merekah ketika kompeni-nya tersenyum.
Mungkin itu semua karena kedua mata hijaunya. Mungkin rambut pucatnya yang sewarna matahari siang yang tidak pernah Nusantara lihat sebelumnya. Ia tidak yakin apakah ia pernah merasakan ini dengan kerajaan – kerajaan yang pernah ditemuinya sebelumnya, tetapi gadis itu cukup yakin hal yang sama pernah juga dialami oleh Majapahit dan Padjajaran.
Tetapi mereka selalu berada di sisi masing – masing sampai akhir. Netherlands tidak─dan Nusantara hanya dapat meringkuk di atas kasurnya dan menunggu kepulangan pria itu. Gadis itu ingin mendengar kisah – kisahnya dari dunia yang jauh, benar, namun kehadirannya saja cukup baginya.
Malam terus berjalan meninggalkan insan yang masih terjaga, dan Nederlands - Indië tidak dapat memejamkan matanya.
Suara pintu gerbang terbuka terdengar dari luar kamar.
Sebuah senyum merekah di wajah gadis itu, dan ia beranjak dari tempat tidur untuk menyambut orang yang telah ditunggu – tunggunya.
A/N : I need to remind you again that this is made waaay back then and I only polish it here and there. I do realize it feels a little Nachtrust. I may or may not apologize for my laziness. Oh, and the series's timeline is not exactly straight, I may go back to past like I do here with Nusantara and Dutch colonialism. I'm the authoress and I write what I want, ha!
Stay tuned and we'll be up next with Lorde!
P.S. No it's not Royals. or Team. or Tennis Court. Welcome to chaineskye's lair, where meta bandwagon is a deadly sin.
