DISCLAIMER : That's right, kids. Too bad, it's still not mine.

"Again and again, I repeatedly return to the darkness."


Rasanya peluru menembus tubuh itu mengerikan, menurut gadis itu. Terutama bila itu bukan pertama kalinya terjadi.

Sebagai bangsa, meskipun belum diakui sebagai negara, Indonesia memiliki kemampuan penyembuhan yang sama dengan personifikasi negara selayaknya. Ia tahu lebih dari siapapun kalau darah yang mengalir deras dari luka di abdomennya adalah jiwa – jiwa rakyatnya yang mati di medan perang─pejuang – pejuang muda yang bahkan tidak pernah dicintai ataupun mencintai. Mereka mati untuk dirinya, dan untuk lebih dari keseribu kalinya gadis itu berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau itu harga yang pantas untuk masa depan bangsanya. Masa depannya.

Kemerdekaan itu bukanlah sesuatu yang murah, ia menyadari itu.

Kakinya terasa nyeri setelah. Dinilai dari kesulitannya untuk digerakkan, sepertinya pergelangan kakinya paling tidak retak karena benturan saat tubuhnya terhempas ke tanah. Indonesia, setelah menyelundup masuk kembali ke dalam hutan untuk melarikan diri di tengah kegelapan, jatuh ke dalam lubang sedalam dua meter yang disebabkan oleh serangan udara sebelumnya. Cukup bodoh sebetulnya, dirinya menjadi tidak berdaya seperti itu, tetapi sekarang ia tidak bisa keluar. Sejauh yang ia dengar, tidak ada orang di sekitar tempatnya berada, dan pendarahannya cukup parah untuk membuat pandangannya kabur, lebih - lebih memanjat keluar. Tentu saja ia tidak minta tolong, kalau - kalau yang datang nantinya pasukan Belanda dan bukan rakyatnya. Di saat – saat seperti ini, yang sekarang sudah tidak jarang terjadi, personifikasi bangsa itu akan mati tak lama kemudian─sampai bangun kembali dengan luka – luka yang menghilang secara misterius.

Netherlands, pria berambut pirang yang kini kecoklatan karena lumpur dan sesuatu yang lain terjatuh di dalam lubang yang sama tak lama setelah gadis itu dan terbaring di sebelahnya sempat mengatakannya. Sayangnya, ia tidak seberuntung Indonesia. Belakang kepalanya menghantam bebatuan di bawah lubang ketika terjatuh dan dilihat dari keadaannya, dia akan disambut kegelapan lebih cepat dari dirinya. Sudah dua jam setelah tengah malam, dan yang dapat didengar keduanya hanyalah desiran dedaunan dan suara napas terengah yang kesakitan.

Gadis itu tersenyum getir. Ironis mengingat mereka berdua dipertemukan takdir untuk jatuh ke dalam lubang yang sama. Barangkali Gusti menyukai anekdot macam ini, gumamnya dalam hati. Keduanya tidak saling berbicara, menunggu ajal sementara itu tiba. Ketika ritme napas yang didengarnya mulai memudar, Indonesia meraih tangan pemuda Belanda itu. Netherlands nyaris tak dapat menggenggamnya balik.

Berbagai macam perasaan berkecamuk dalam hati Indonesia ketika negara kepulauan itu melihat sinar perlahan menghilang dari kedua mata hijau kompeni-nya. Dengan lembut ia menutup kedua kelopak mata itu dengan jemarinya. Butuh waktu lama sampai ia membiarkan dirinya melakukannya─bibirnya yang kering menyentuh bibir pucat yang mendingin itu. Dan butuh waktu jauh lebih lama, tepat sebelum matanya meredup, gadis itu menuturkan pengakuan yang tidak pernah sampai ke telinga pemuda itu.

Di medan perang hanya ada orang - orang gila, Indonesia meyakinkan dirinya sendiri, bermaksud baik dan bertujuan jelas, barangkali. Namun tidak waras. Kami salah satunya.


A/N : Updating so suddenly because my laptop's going to be taken, sooner or later. Not that it's any of your problem, haha. Even so, I should be able to update this, though.

Anyways, next up will be from Owl City─my favourite of him, in fact. I hope you, kind readers who still follow this wretched story enjoyed this angsty piece, and next, then the next after that, and so on as well. Reviews won't be too shabby, if you would be so kind to give me so!