DISCLAIMER: Axis Powers Hetalia belongs to Hidekazu Himaruya and the song On The Top of The World belongs to its amazing and talented artist, Imagine Dragons. I do not gain any form of monetary profit out of this work dontsueme.

"Waiting on this for a while now

Paying my dues to the dirt"


Tanah itu lebih indah dari yang para pujangga sebutkan tentangnya.

Wujud personifikasi itu sesungguh–sungguhnya mencintai lautan─tidak ada yang lebih liar, misterius, dan megah daripadanya. Ia adalah salah satu dari jenis yang berdiri di atas tanah Dunia Lama yang jenuh, menggali tanah rendah yang bergaram dan keras demi dapat menumbuhkan sayur mayur dan menatap laut yang dikaguminya seperti pungguk kepada bulan. Tidak ada yang lebih membahagiakannya ketika ratunya akhirnya mengizinkannya ikut dalam ekspedisi menuju kepulauan yang begitu jauh itu. Het koloniale rijk van Nederland menikmati setiap detiknya mengapung di tengah samudera, memimpikan dan berusaha membayangkan seperti apa kepulauan tropis yang dikejar dan dipuja seluruh pelaut itu.

Berpasang–pasang mata gelap mengikuti setiap gerak–gerik rombongan pendatang itu dengan rasa penasaran─hal itu bukan sesuatu yang tidak biasa baginya ketika mereka sampai ke daerah asing. Penampilan mereka yang berbeda terutama adalah hal yang sangat mencolok. Netherlands mengira dirinya yang hanya memakai kemeja putih menguning termakan cahaya mentari dan air bergaram yang digulung lengannya dan celana panjang coklat yang sama kumalnya sangat polos dan kurang pantas. Namun, ketika mereka dituntun oleh penduduk lokal setelah berusaha berkomunikasi dengan bahasa tubuh yang susah payah, Negeri Kincir Angin itu menyadari bahwa dibandingkan rakyat asli yang memilih untuk bertelanjang dada, mereka berpakaian kelewat lengkap terutama untuk suhu tropis itu.

Tanah lembut yang hitam dan gembur di bawah kakinya. Bau hujan dan bunga tropis yang bercampur aroma rumput dan berbagai hewan yang berlalu–lalang tercium dari udara yang lembap dan hangat. Mentari terik yang telah meninggalkan tandanya di kulit penduduk setempat. Pepohonan teduh yang tumbuh tinggi dan subur, beberapa sulurnya menjuntai dan menggelitik puncak kepalanya. Pria dan wanita berwajah asing dengan kain dengan pola–pola yang asing di matanya. Senyum tak pernah hilang dari wajah–wajah penasaran mereka, menerima mereka dengan tangan terbuka.

Netherlands menatap kesemuanya nanar. Tentulah mereka dapat tersenyum sepanjang waktu bila mereka dihadapkan dengan negeri yang begitu memanjakan mereka. Seandainya tanahnya serupa milik mereka, ia tidak akan begitu memuja perairan lepas. Ia tidak akan pergi dan berusaha mengungkap misteri di baliknya. Ia akan tinggal, dengan senyuman di bibirnya dan ekspresi hangat seperti mereka, karena tidak perlu menggali tanah yang beku oleh es demi tidak mati kelaparan. Tidak perlu mengangkat senjata untuk mempertahankan tanahnya, sebab telah terpetak lautan. Tidak harus membunuh atau dibunuh untuk mempertahankan apa yang dipercayainya.

Kesemuanya begitu indah, mereka begitu beruntung, dan Netherlands sungguh iri.

Ketika iring–iringan itu sampai ke daerah yang tampak lebih tertata dengan gerbang dengan struktur yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya, sesuatu menarik pria Belanda itu untuk pergi ke arah lain. Mengikuti instingnya yang tidak pernah salah ketika berlayar, ia menyusuri jalan setapak kecil di sisi bangunan indah tempat rombongannya baru saja masuk. Perasaan aneh membuncah di dadanya. Sesuatu di udara mengatakan di ujung jalan setapak itu adalah yang dicarinya selama ini, yang menggerakkannya menyeberangi dunia, yang membawanya kepada kejayaan.

Netherlands mendapati langkahnya semakin cepat, dan pada suatu titik ia telah berlari. Udara yang berhembus di sekitarnya ikut menyemangatinya.

Inilah dia, pikiran tersebut terlintas di benaknya, disinilah puncaknya. Disini titik baliknya. Disinilah dia.

Langkahnya terhenti ketika dilihatnya dia di bawah naungan pohon berbunga putih. Kakinya yang telanjang menjejak rumput dengan anggun dengan gerakan yang hati–hati sementara sosok itu bersenandung. Lagu yang dilantunkannya terdengar asing dan menghantui benak. Bunga putih yang sama dengan dari pohon tersebut terlihat kontras tersemat di telinga yang dibingkai rambut sehitam jelaga. Pakaiannya dipenuhi corak berwarna mencolok, dan pemuda itu merasa hal tersebut cocok, sebab sosoknya merangkum seluruh warna di bumi itu. Mata gadis kecil itu terpejam, tetapi pemuda itu tahu meski ia tak melihat kedatangannya, ia sadar akan keberadaannya.

Lars van Willemssen menahan napas. Tidak dapat mengalihkan pandangan.

Dia.

Mata itu membuka dan menampakkan iris sekelam malam tak berbintang, menatap lurus ke matanya. Sudut–sudut bibir gadis muda itu terangkat, menampilkan senyuman cerah serupa yang dilihatnya sepanjang jalan. Ekspresinya begitu tenang, tidak terlihat seperti anak perempuan seumurannya. Tatapan gelap itu tampak menyelidik sebelum mengerjap penuh pengertian.

Dia.

"Holanda, bukan?" tanyanya memastikan, ratusan lidah berbeda menggema dalam suaranya. Meskipun bahasa yang keluar dari bibir kemerahan itu tak akrab di telinganya, Netherlands mengerti. Entah bagaimana, personifikasi memang dapat mengerti satu sama lain pada tahap tertentu. Ia mengangguk.

"En jij bent─dan engkau adalah?" ia balas bertanya, meskipun Netherlands tahu jawabannya. Senyum personifikasi archipelago itu melebar, menampilkan barisan gigi yang kontras dengan warna kulitnya yang menggelap oleh mentari.

"Saya dipanggil dengan banyak nama, Tuan yang baik," jawabnya, kerlingan matanya jenaka. "Tetapi kesukaan saya Nusantara."

Dia adalah zaman keemasannya.

Bukan, Netherlands mendapati dirinya menyanggah pikiran itu, tidak sesederhana itu.

Karena perasaan yang mekar di hatinya seperti ketika ia berdiri di tengah ladang bunga tulip yang bermekaran di musim semi, dan ketika kedua adiknya tersenyum kepadanya dan panggilan broer yang bangga menggelincir di lidah mereka.

Dia adalah gezelligheid.


A/N: "first meeting fic? chaineskye, you're so cheap!" I know. I know. also I acknowledge this as a pretty screwed up fic since we all know what happens next. but they don't. netherlands has a very vague idea but he wouldn't know that it would make his greedy, monstrous, horrid side to rise. he just knew that he found what he was looking for. and he'd improve everything. know this before you bash this fic, please.

also, if all goes according to plan, this is the penultimate chapter of Dust Off Its Wings. no one's reading this so it'd be fine to end it LOL-nah I actually don't think I can write more songfics, since I recently found out that it is illegal in ? uhhh?

to those actually reading this, though. don't be sad. I'm planning to write more short series, just not songfic. also I have drabble collection in AO3 under the same name. it includes my older fic - revised version with less historical inaccuracies. I'll also still write, idk, stuffs. probably more human AU so I won't offend anyone. I'm working on a long project, too, but it's going to be posted on AO3 exclusively because I don't think it's allowed on . but yeah.

sorry for the long wait! I hope this chapter's worth it. I suppose I will post the last chapter in a month. thank you for reading!