DISCLAIMER: Axis Powers Hetalia belongs to Hidekazu Himaruya and the song Run to You belongs to the amazing acapella group Pentatonix. This is a work of fiction made purely for the satisfaction of the authoress and hopefully, the reader.

"I've been settling scores, I've been fighting so long

But I've lost your war and our kingdom is gone"


Senin, 3 Agustus 1999

Lars tidak ingat ia mimpi apa semalam, tetapi apapun itu seperti menekan saklar di dalam kepalanya. Yang ia ingat hanyalah sebuah wajah familier yang menatapnya, dan perasaan muak yang menegaskan; 'sudah cukup'. Lars merasa heran ketika ia menyimpul dasi pagi itu di depan cermin, pikirannya benar-benar jernih setelah berbotol-botol minuman keras dikosongkannya tadi malam. Ia belum pernah minum sebanyak itu sejak… awal tujuh puluhan? Dirinya sendiri tidak yakin. Setelah menaruh botol-botol kaca tersebut dengan rapi di samping tong sampah, Lars menaruh tanda "Tolong bersihkan kamar saya" di depan pintu sebelum berlalu. Bahkan otaknya yang selalu semrawut sebelum dosis kafein pagi kooperatif hari itu.

Ponsel genggamnya berbunyi. Nama 'België' terpampang di layarnya. Rupanya adik perempuannya tidak merespon pesan singkat berisi penolakannya untuk sarapan bersama dengan baik.

"Broer!"Tidak ada 'halo' atau basa-basi setelah Lars menekan tombol hijau ponselnya. "Mengapa? Kami salah apa?!"

"Tidak ada apa-apa, Bella. Aku hanya sedang tidak lapar."

"'Tidak lapar'!" ulang Bella dengan nada tak percaya. "Kau memuntahkan seluruh makan malammu kemarin! Kau baik-baik saja? Kepalamu sakit?"

"Nee. Aku tidak apa-apa, sungguh. Cuma butuh waktu sendiri."

"Sangat meyakinkan, Lars. Kami percaya sepenuhnya," tutur adiknya di seberang telepon sarkastis.

"Mm. Sampaikan salamku pada Luca." Lars bahkan tidak menunggu sampai Bella menyelesaikan kalimatnya 'kau tahu, terserah lah. Luca bilang⎯'. Sesuatu meyakinkannya untuk pergi ke gedung pertemuan sekarang juga, satu setengah jam sebelum World Meeting.


Sesuatu itu tidak memperingatkannya kalau hal pertama yang dijumpainya setelah pintu lift terbuka adalah punggung seorang personifikasi negara Asia Tenggara yang menjauh dengan langkah santai. Hari itu penampilan Ciethtra tidak berbeda dari biasa: sanggul berantakan dengan tusukan emas, kebaya minimalis berwarna gading, dan celana kain. Yang pemandangan itu aneh hanya perangainya yang menoleh ke kanan-kiri mencari sesuatu dan fakta bahwa Indonesia tidak pernah, sekali lagi tidak pernah, datang lebih awal.

Ciethra berbalik ketika mendengar langkah Lars mendekat, dan terlihat sama terkejutnya. Sinar matanya sepersekian detik meredup mengenalinya sebelum air mukanya terlihat menekur dan sampai kepada suatu kesimpulan. Ciethra menghela napas.

"Pagi, Indonesia," sapa Netherlands dalam bahasa Inggris.

"Pagi. Jadi kulihat ruangan kosong—tadinya kupikir aku salah ruangan—dan beberapa menit kemudian kau, orang yang selalu datang paling awal juga ke mari berarti satu, aku tidak salah tempat dan dua—"

Lars tidak dapat menahan kedutan di ujung bibirnya. "Kau datang terlalu pagi."

Ciethra meringis mengasihani diri. "Pertemuannya bukan jam enam, ya."

Ia refleks mengecek jam tangan. Groneefeld yang melingkar di pergelangannya menunjukkan pukul enam lebih empat puluh delapan menit.

"Jam delapan."

"Asisten sialan."

"Sebaliknya, kurasa dia sangat kompeten. Kau harus mempertimbangkan kenaikan gaji."

Ciethra akhirnya tertawa kecil. "Entah aku merindukan humor keringmu itu atau tidak." Mata gelapnya kemudian melebar sedikit, seperti baru saja kelepasan mengatakan sesuatu. Tidak ingin menciptakan jeda canggung, Ciethra segera melanjutkan, "Kalau begitu, kita masih punya dua jam lebih. Kurasa ada bagusnya mengisi perutku dengan sesuatu sebelum rapat berjam-jam—" Jelas sekali Ciethra nyaris berkata 'kalau kau mau, kau boleh ikut' dalam kalimatnya, itu atau Lars mengenalnya terlalu lama. "—aku permisi dulu."

Keyakinan yang menyertainya sewaktu bangun pagi kembali ke benaknya, mewujudkan diri menjadi kalimat 'boleh aku ikut?' berbahasa Belanda.

Mereka berdua terlihat sama kagetnya.

Meskipun percakapan mereka terdengar normal di telinga orang-orang yang melintas, Lars merasakan rikuh di balik senyum dan basa-basi Ciethra. Ia lebih banyak mendengarkan sementara Ciethra menyatakan pendapat begini-begitu mengenai berita koran internasional bertajuk ini-itu. Lars menjawab sekedarnya, lebih banyak membuka mulut untuk menyesap americano. Bahasa tubuh Ciethra semakin mencerminkan ketidaknyamanan, terlihat dari gerak-geriknya yang terbatas tak seperti biasanya. Piring berisi mie goreng ala Tionghoa dimasak dalam wok yang tergeletak di hadapan Ciethra jarang diusik karena bicaranya yang sambung-menyambung.

"Wajar saja kalau dipandang dari sisi moneter, kebi—"

"Kau punya waktu setelah rapat ini?" tanya Lars tiba-tiba, setenang mungkin. Pembicaraan pengunjung restoran di sekitar mereka menjadi sayup.

Raut wajah terkejut Ciethra yang tadi ternyata belum ada apa-apanya. Sumpit yang berlilitkan mie goreng terhenti di udara sebelum turun kembali. "...aku tidak punya urusan lagi di sini, tetapi pesawatku berangkat besok pagi dan aku tidak punya agenda khusus," jawabnya akhirnya, hati-hati. "Mengapa?"

"Aku ingin mengajakmu pergi, entah makan malam atau apa," tutur Lars tanpa basa-basi.

"Dalam rangka apa?" Mengapa, setelah selama ini? Lars menduga itulah yang terlintas di pikiran Ciethra. Mendadak americano hambar dalam cangkirnya terlihat menarik untuk diperhatikan.

"Membicarakan hal-hal yang mungkin ingin dibicarakan."

Tanpa melihat pun Lars bisa merasakan tatapan tajam tanpa berkedip itu.

"Seperti?"

Nadanya tidak dingin, sinis, atapun ingin tahu. Hampa, kata itu baru terpikir oleh Lars ketika pikirannya melayang di tengah rapat sekian jam kemudian. Lars mengangkat pandang dan membalas tatapannya.

"Segala yang sudah lewat. Yang masih berlangsung. Kita. Jouw keuze."

Kebisuan Ciethra diakhiri dengan dengusan.

"Kau pikir segala hal yang terjadi padaku yang kau perbuat bisa selesai dibicarakan dengan jalan-jalan di samping sungai dan tiga set hidangan lengkap di hadapan lilin?" tanyanya ketus, menurunkan sumpitnya sama sekali. Jelas Ciethra tidak berniat melanjutkan makannya yang masih sisa sepertiga porsi.

"Tentu tidak."

"Jadi mengapa—"

"Karena kita harus mulai suatu saat dari manapun, Godverdomme," rutuk Lars, "Karena kita berdua tahu kita tidak bisa terus menerus menghindari satu sama lain dan berpura-pura tidak ada yang terjadi, mengutuk di belakang punggung satu sama lain—"

"Kau berkata seakan-akan aku yang menyembunyikan segala hal!"

"—dan tidak menyelesaikan apapun. Sudah berdekade berlalu, Indonesia. Zaman sudah berubah. Kita juga sudah berubah."

Ciethra bangkit dengan gusar. Matanya seperti batu bara yang disulut. Ia cukup tahu untuk tidak menaikkan suara, tetapi tetap saja beberapa pasang mata melirik penasaran.

"Masa lalu tidak bisa berubah hanya dengan kata-kata, Belanda," tukas Ciethra. Ia menyampirkan tas ke bahu dan membuka dompet untuk membayar.

"Tetapi kita bisa menjadi lebih baik daripadanya. Lari darinya tidak akan menyelesaikan apapun. Aku tidak bisa pergi ke dunia orang mati dan meminta maaf kepada setiap manusia yang tersakiti oleh perbuatanku, tapi—"

Telapak tangan Ciethra menghantam meja. Beberapa lembar euro ada di bawah telapak tangannya. Beberapa percakapan dalam restoran terhenti untuk melihat mereka.

"Tutup mulutmu," desis Ciethra.

Matanya kini memerah dan berkilat, entah mengapa mengingatkan Lars pada waktu ia mengunjunginya di rumah sakit setahun lalu. Lars baru menyadari sedari tadi tangannya mengepal erat.

"—tapi kau ada di hadapanku," suara Lars merendah, melawan gumpalan besar yang tumbuh dalam kerongkongannya.

"Bicara sendiri pada rakyatku. Aku bukan perwakilan yang bisa menyampaikannya ke semua orang. Percakapan ini selesai," ucap Ciethra ketus.

"Setidaknya aku ingin memulai denganmu, Ciethra. Sebagai Lars." Mendadak Lars merasa lelah, seperti semua tenaganya terhisap keluar oleh satu kalimat. Hari itu, disadarinya, akan menjadi hari yang panjang. Tidak ada salahnya membuat satu pengakuan lagi. "Aku peduli padamu."

Keheningan memanjang di antara mereka, mengisi jarak. Kali ini, Ciethra menatap ke arah jari kakinya ketika berbicara. "Aku tahu," tuturnya lirih. Rautnya yang lelah mendadak menunjukkan setiap tahun yang sudah dilihatnya berlalu. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu restoran.

Lars bangkit dari tempat duduk dan mengangkat suara, mencoba untuk terakhir kalinya. "Tiga tahun lalu kau bertanya padaku apakah aku lelah berperang. Aku tidak menjawab pertanyaanmu waktu itu. Kau tidak tinggal untuk menungguku berpikir dan mendengar jawabanku."

Langkah Ciethra tidak melambat, tetapi Lars tahu ia mendengarkan.

"'Ya.' Karenanya aku ingin kita mencoba kali ini," ujar Lars.

Segera setelah punggung berbalut kebaya gading itu pergi Lars menenggak americano terakhirnya dan membayar di kasir, berpura-pura tidak melihat tatapan penasaran orang-orang ataupun bau parfum bunga-bungaan putih yang tertinggal di meja mereka. Kopi sial tersebut berputar dalam lambung malangnya, membuat Lars muntah di toilet dan terlambat tiga menit untuk rapat.


Ciethra menghampiri tempat duduknya di meja konferensi segera setelah rapat usai.

"Tawaranmu masih berlaku?"

Lars mengangguk tanpa menatapnya. Matanya mengikuti tangannya yang sibuk merapikan berkas-berkas yang diberikan pada awal rapat. Apapun kecuali mata Ciethra.

"Kalau begitu, aku menerimanya."

"Oke."

"Tapi aku harus ke hotel dulu. Bertemu saja satu-dua jam sebelum makan malam."

"Oke."

"Sampai ketemu."

Lars menunggu ketuk hak sepatu Ciethra menjadi sayup sebelum mengangkat pandang, mengerjap mengikuti punggung Ciethra menjauh. Hanya ketika mereka yakin mereka cukup jauh dari satu sama lain keduanya menghela napas. Jantung mereka berdebar kencang, dan jam yang entah kapan berada di dalam mereka berdetik kembali.


"Take my heart and I'll let down my weapons

Break my shackles to set me free

I'll run, I'll run, I'll run, run to you"

A/N: I have a confession and an apology to make.

This was actually finished being written around one and a half years ago. I was suffering on a writer's block (still am, in case you haven't noticed) but I felt this was long overdue. So I wrote this in one go, felt that I didn't like it, and ended up not posting it. I had a fic idea and I stumbled upon this in my fic graveyard, gave it a second chance and felt differently. Honestly, Dust Off Its Wings is not my best work, but it deserves proper closure that I kept denying it from. So the confession is, the song of this chapter is the only one that was chosen deliberately. "Run To You" was perfect to describe the beginning of Lars and Ciethra's make-up. It's messy, and it's a long way until they find peace to one another, and it took years for them to make the necessary contact, but with every step they unravel, and find one another amidst it all.

So yeah, I'm sorry this took so long for me to finish. A lot of things went on the past few years; growing up and having more knowledge made me more and more afraid writing this pair. And gosh do I wish to change some things I was ignorant about. Even so, what done is done. My love for them stays the same. Looking at them as a pairing with the chemistry alone and without the historical relation as nations, they have the personality that could bring the best of one another.

Enough with the rant. Terima kasih untuk para pembaca yang masih tertarik untuk membaca kisah ini sampai tamat, dan menyertai saya selama penulisan kisah ini. Semoga kalian menyukainya seperti saya menyukainya! Sampai ketemu di kisah lainnya!