Minum kopi di rumah sambil mendengarkan lagu-lagu Paul Kim adalah kesukaan Yuvin. Apalagi semenjak ada Yohan di sisinya.
"Nih. Gulanya dua sendok aja kan?" Yohan bertanya sambil tersenyum manis padanya.
"Makasih ya, dek." Yuvin balas tersenyum dan mengambil cangkir tersebut dari tangan Yohan.
Biasanya, ritualnya sesudah kopi adalah pergi ke balkon dan menyetel lagu Paul Kim dalam posisi shuffle. Sesudah itu, barulah momen berdua bersama Yohan.
"Paul Kim lagi? Ga bosen kak?"
"Ga lah. Lagian lagu-lagu dia juga yang ngebuat aku jadi pacar kamu kan?"
Yohan hanya bisa senyum malu-malu saat Yuvin menarik pinggangnya mendekat sehingga kepalanya menyentuh dada Yuvin. Klise memang, tapi Yohan suka. Aroma kopi yang menguar dari cangkir Yuvin, suara karamel milik Paul Kim dan juga angin sepoi-sepoi pukul lima sore.
"Ini apa judulnya?"
"Hm?" Yuvin meletakkan cangkirnya mendengar pertanyaan Yohan.
"Lagunya. Masa masih nanya sih, huft." Yohan memanyunkan bibirnya, kesal karena kadang pacarnya ini terlalu lambat dalam berpikir.
"Coffee With Me."
"Aku kan ga mau kopi."
"Sayang, judulnya itu Coffee With Me. Gemes deh, hahaha." Jawab Yuvin sambil mengusak rambut Yohan dan mencium perlahan puncak kepalanya.
"Oh. Aduh, maaf ya kak." Yohan malu dan semakin menenggelamkan kepalanya ke dada Yuvin.
"Ga apa kok, kamu kan emang suka gitu."
"Dek, mau aku ceritain ga?" Yuvin tiba-tiba mem-pause lagu tersebut dari ponselnya.
"Apa?" Yohan mendongakkan kepalanya hingga hidung mereka berdua bertemu dan membuat rasa panas tiba-tiba merambat ke kulit wajah.
"Lagu ini. Buat kamu. Mau ga?"
"Hm, terserah kakak aja." Yohan tersenyum manis ke Yuvin sementara Yuvin mencium pipi Yohan, menimbulkan tawa kecil dari bibir Yohan.
"Sebenernya ya, dari awal aku ngeliat kamu tuh, aku pengen kenalan sama kamu. Aku ga ada pikiran apa-apa mau jadiin kamu pacar. Aku mikir caranya gimana ya biar aku bisa kenalan sama kamu."
"Terus gimana?"
"Hm," Yuvin berpikir sebentar, "Kopi. Aku coba dari hal yang aku suka. Dan aku nebak kopi kesukaan kamu."
"Beneran? Itu kakak nebak?"
"Iyalah. Kakak malu banget kalo nanya yang lain. Nanya ke Bang Jinhyuk yang ada kakak malah diledekin, nanya ke Bang Seungwoo malah dinasehatin suruh nanya baik-baik ke kamu. Apalagi nanya ke temen-temen kamu, aku takut entar malah dicurigain yang enggak-enggak sama Dongpyo, Junho, dan yang lain."
"Bener juga sih, kakak random aja ngasih es kopi susu abis aku latihan."
"Iya." Yuvin tersenyum lebar, mengingat saat-saat mendebarkan apakah Yohan akan menerima kopi buatannya sendiri. Dan dari kopi itulah, hubungan mereka berdua mulai berkembang. Seakan kopi itu adalah stimulus, sebuah pemicu, sebuah pijakan dari hubungan mereka sekarang. Dan Yuvin tidak berhenti memikirkan bagaimana seandainya dia tidak pergi ke ruang olahraga saat itu dan memberikan kopi pada Yohan yang saat itu sedang bersiap-siap pulang setelah lelah dua jam penuh berlatih untuk pertandingan taekwondo.
Yuvin masih ingat tatapan heran dan takut-takut Yohan ke dirinya. Bagaimana Yohan dengan ragu-ragu memegang termos kecil penuh dengan es kopi susu racikan Yuvin. Dirinya yang menanyakan apakah kopi akan menganggu performanya dan tawa renyah Yuvin akan pertanyaan konyol itu, "Ya kalo ga mau diminum sekarang, nanti malem aja. Lagian akhir-akhir ini minggu ulangan, kamu pasti harus belajar," yang dibalas anggukan kecil Yohan. Untung seribu untung, Yohan menyukai kopi buatan Yuvin, yang membuat Yuvin semakin berani melancarkan aksi pendekatannya hingga tepat setahun lalu, ia menyatakan perasaannya.
"Hm. Jadi kamu suka, kan?" Yuvin mengambil cangkir kopinya dan menyeruputnya sedikit, kemudian menaruhnya kembali.
"Kalo suka iya, tapi cinta engga."
"Kenapa?"
"Kan, aku cintanya sama kakak, hehe." Cengiran Yohan seperti biasa mewarnai percakapan mereka hampir setiap hari, yang bersamaan dengan kecupan gemas dari Yuvin ke bibir Yohan. Bersamaan dengan matahari yang semakin tenggelam dan udara yang semakin mendingin, mereka berdua semakin mengeratkan pelukan dan tenggelam dalam memori masing-masing.
