Yohan sudah mengantuk sesaat setelah mereka makan malam sedangkan Yuvin masih mengetik presentasi untuk pekerjaan kantornya, dan dia menahan mati-matian matanya agar terbuka sambil memeluk pinggang Yuvin. Sementara yang dipeluk hanya melirik sekilas dan mengusak pelan rambut hitam Yohan yang halus.

"Kak, tidur dong. Udah malem ini." ucap Yohan dengan suara yang sudah mengantuk.

"Entar dulu ya. Tanggung ini. Aku besok presentasi, dek."

"Udah berapa hari ini tidurnya kemaleman terus loh, kak."

"Aduh, perhatian banget calon istriku ini." Yuvin tertawa kecil sambil membenarkan rambut Yohan yang jatuh di dahinya sementara Yohan memanyunkan bibirnya untuk yang kesekian kalinya.

"Ih, apaan sih kak?" Yohan mati-matian menahan rasa panas di wajahnya dan detak jantungnya yang berubah liar, sementara Yuvin kembali asyik mengetik.

"Kalo kamu ngantuk, ya tidur aja Han. Ga usah nungguin aku. Kamu juga besok ngelatih, kan?" Iya, Yohan baru ingat besok dia melatih intensif anak muridnya untuk lomba tingkat nasional. Ngomong-ngomong, Yohan ini guru taekwondo yang namanya sudah lumayan tersohor akibat anak-anak didiknya langganan juara.

"Iya sih, tapi ga bisa tidur nih. Lampunya dinyalain terus." Yohan memutar bola matanya malas dan merubah posisi tidurnya sehingga membelakangi Yuvin.

"Manja banget kamu. Ya udah, sini aku matiin dulu ya?" Yuvin akhirnya turun dari kasur dan mematikan lampu kamar. Sebagai gantinya, ia menyalakan lampu tidur yang terletak di meja nakas, tepat bersebelahan dengan posisi Yohan.

"Gitu dong. Makasih ya kak, hehehe."

"Dasar. Kamu ini, umur udah 20 taun, masih kayak anak kecil. Aku jadi keinget waktu kita masih SMA, Han."

Yohan yang penasaran langsung membalikkan posisi badannya ke Yuvin dan menatapnya ingin tahu, sementara yang ditatap hanya heran.

"Tidur, Han. Katanya ngantuk. Masih bangun aja sih?"

"Kok sewot sih, kak?"

"Tadi manja banget minta matiin lampu, trus sekarang malah liatin aku. Maunya apa sih, Han-ie?"

"Ceritain dong, kak." Yohan kembali memeluk pinggang Yuvin, sementara Yuvin hanya menghela nafas melihat kelakuan pacar (yang segera menjadi tunangannya) itu malah bermanja-manja padanya. Risiko punya pacar yang moody itu, ya begini.

"Iya, iya. Inget waktu aku ngasih kamu es kopi abis kamu capek latian di ruang olahraga?"

"Iya, kenapa kak?"

"Nah, kan kamu udah tau kalo aku bikin sendiri kopinya. Dan sebenernya tuh aku takut banget kalo kamu malah ga suka kopi." Yuvin berhenti dan menatap Yohan intens.

"Terus?"

"Kok waktu itu kamu balikin termos kopinya bersih? Aku masih bingung tapi ga berani nanya. Itu kamu minum sendiri apa dikasih orang?"

"Aku minum sendiri," Jawab Yohan polos, Yuvin pada awalnya kaget tapi langsung kembali ke ekspresi awalnya, "Pokoknya, besok itu aku ada ujian ekonomi kak, terus kan itu aku kondisinya abis latian langsung mandi trus tidur dulu bentar, hm apa lagi ya..." Yohan menjawab sambil membuat ekspresi berpikir.

"Apa hayo?" Yuvin sampai gemas dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Yohan yang tiba-tiba bersemangat untuk mengingat sebenarnya ada kejadian apa yang terjadi. Sementara Yohan masih mencoba memanggil kembali memorinya, Yuvin kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Hoiya! Aku emang set alarm kan buat belajar. Nah, kondisinya aku tuh pas banget nget nget lagi abis bangun tidur. Aku coba latihan ngerjain soal eh malah ngantuk. Yaudah, aku minum es kopi yang kakak kasih. Ternyata enak juga, aku jadi ga ngantuk! Tapi kenapa harus kopi susu?" ucap Yohan yang terdengar seperti iklan promosi es kopi.

"Karena kamu itu manis imut lucu kek susu, Han. Tapi kalo lagi tanding jadi garang. Kan kopi itu rasanya kuat ya, jadi aku gambarin kamu tuh kek gitu. Bisa garang, bisa juga lembut, hehehe."

"Aduh, gombal banget sih kak."

"Udahlah, gausah dibahas, Han. Aku malu banget, eh. Trus ulanganmu dapet nilai berapa?"

"Um, 80 doang sih. Aku ga terlalu suka ekonomi kak soalnya, hehe. Masih bagus itu daripada dibawah KKM. Emang kenapa kak sama es kopi?"

"Ya ga apa sih. Aku seneng kamu suka sama es kopinya. Lagian, aku buatin kamu es kopi karena aku pengen banget kita ada bahan pembicaraan. Aku ga berharap banyak sih, kamu mau jadi temen aku udah cukup," Yuvin tersenyum sementara Yohan masih terus memperhatikan pahatan wajahnya, "dan aku seneng banget, kalo aku ga ngasih kopi itu, kamu pasti ga bakalan ngasih aku tiket pertandingan kamu, kan?"

"Em... Soal itu... Sebenernya tuh aku juga pengen banget deket sama kakak." jawab Yohan malu-malu.

"Hah? Masa sih?" tanya Yuvin dengan nada menantang.

"Ih, kak. Kakak kan yang jadi PJ aku waktu MPLS. Trus waktu istirahat makan, pas kakak nyanyi waktu itu, aku tuh langsung terpukau sama kakak. Aku tuh bingung gimana caranya biar deket ama kakak, namanya juga anak baru. Lagian kita waktu itu kontek-kontekan kan pake LINE doang. Dan itu juga gara-gara aku nanyain tugas. Trus waktu hari terakhir, yang bikin surat cinta pake kata-kata aneh yang dibacain sama Kak Jinhyuk itu, aku udah berusaha banget bikin yang bagus biar dilirik sama kakak, eh kakak malah ngeliat yang lain. Tapi disaat aku mau nyerah, kakak tiba-tiba nyamperin aku yang baru mau pulang abis latian taekwondo." ujar Yohan dengan lancar, matanya menatap intens ke Yuvin yang herannya masih tetap saja mengetik, "Ah males. Aku udah ngomong ga ditanggepin. Dah ah, aku mau bobok. Bhai, kak." tambah Yohan kemudian menarik selimutnya hingga menutupi seluruh badan hingga kepalanya.

"E-e-eh! Tunggu dulu dong, Han-ie sayang. Bentar-bentar aku save dulu, trus matiin laptopnya, oke?"

"Terserah. Aku mau bobok, besok harus ngelatih Hyungjun dan anak-anak ayam yang lain. Bakalan capek aku."

"Han-ie, jangan marah dong, plis?"

"Ga liat, aku pake selimut."

"Han, ayo dong Han. Kamu ga mau denger tanggepan aku nih?" Yuvin membuat nada suaranya terkesan memberikan rasa penasaran yang membuat Yohan menyembulkan kepalanya sedikit dari selimut.

"Cepetan kak, ngantuk nih."

"Aku seneng banget ternyata kamu juga suka sama aku, Han. Aku kira aku terlalu over ngejar kamu. Mulai dari es kopi, nonton hampir semua pertandingan kamu, anter jemput kamu, bantuin PR kamu. Ah, tau gitu kita bisa jadian pas kamu masih kelas X, aku kelas XI. Kan ga enak, kita malah jadian pas aku udah hampir lulus. Kita blom sempet pergi ngedate, aku udah sibuk ngurusin buat kuliah."

"Ya gapapa, kak. Yang penting sekarang kita bareng kan?"

"Iya juga. Es kopiku berbuah manis ya, Han?"

"Hadu. Iya iya, kakak Yuvin yang ganteng, baik, dan penyayang. Yuk ah, buruan tidur ih! Aku ngantuk." Yohan menjawab dengan malas, dia sudah sangat mengantuk. Sementara Yuvin, masih aktif-aktif saja, memang Yuvin ini spesies manusia malam. Eh.

"Oke, Han-ie yang cantik dan rajin menabung. Ga mau goodnight kiss dulu?"

"Gamao! Males aku sama kakak. Bhai." balas Yohan sambil memutarbalikkan badannya, Yuvin hanya mengelus dadanya sebelum memutuskan untuk memeluk Yohan dari belakang.

"Goodnight Han-ie baby. Sweet dream." ucap Yuvin sambil mencium puncak kepala Yohan yang dibalas dengan racauan tidak jelas dari Yohan yang sudah setengah terlelap.