Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Yuvin dan Yohan saling berhadapan satu sama lain. Yuvin membelai pipi Yohan dengan lembut dan dibalas dengan tangan Yohan yang balik membelai pipi Yuvin.
"Dek, aku ada tugas ya di luar kota besok. Baju udah aku siapin sendiri, kamu bantuin nyiapin sarapan aja. Jangan lupa bersihin rumah, tidur jangan malem-malem, trus makannya dijaga ya."
"Kok tiba-tiba kak?" Yohan merengut.
"Ya gatau. Namanya juga pas lagi ada kerjaan. Ini kesempatan bagus, Han. Bagus dong, kalo aku bisa dapet promosi nanti."
"Yah, padahal aku udah nyimpen tiket buat kita ke Lotte World. Hadiah dari Minhee. Malah ga jadi, deh. Trus aku ke Lotte World sama siapa?"
"Ya sama Kak Donghan aja kali. Udah lama kan kamu ga ngajakin kakakmu? Lagian kan aku udah bilang, kayaknya aku dipilih sama Pak Dongho buat ngurusin project baru ini."
"Ah males. Entar dikit-dikit ngurusin Kak Taedong. Aku ga usah berangkat, tiketnya ku kasih mereka berdua aja." Yohan mengalihkan pandangannya ke arah lain, Yuvin kemudian menyentuh tangan Yohan yang ada di pipinya.
"Loh, jangan ngambek dong, Han."
"Aku ga ngambek, kak." Yohan menghela nafas.
"Kamu kenapa? Sini cerita sama aku, ya?"
"Kak, kenapa sih tiap hubungan kita meningkat, kamunya selalu pergi? Waktu kita awal pacaran, kamu ninggalin aku gitu aja karena kuliah di luar kota. Trus sekarang, waktu kita udah tunangan, kamu malah sering dinas ke luar kota. Padahal aku mau kita ngabisin waktu bersama, Kak."
"Han, ini juga bukan maunya aku. Kamu nganggep aku ga serius, ya?" Yuvin menatap Yohan dengan intens, sementara yang ditatap malah mencoba untuk tidak bersitatap. Yuvin menghela nafas seraya memeluk Yohan. Yohan bisa melihat sekilas kalau bibir Yuvin bergetar dan matanya berkaca-kaca.
"Han, kamu tau ga, misalnya aku egois, trus kalo aku bikin list, udah berapa banyak hal yang aku kasih ke kamu? Mulai dari awal kita SMA, aku ngasih kamu es kopi sering banget waktu itu, belom lagi aku anter jemput kamu, dan aku juga bantuin kamu kerjain PR kamu, kan? Apalagi sekarang Han, pas aku udah kerja. Kamu tau ga, aku ngajuin KPR rumah ini buat siapa? Buat kita. Aku ga tega kosan kamu jauh dari tempat kerja. Aku selalu nurutin loh waktu kamu mau makan di mana aja. Inget ga waktu jam 1 pagi kamu bangunin aku karena pengen makan ayam goreng? Aku kurang perhatian? Kamu tau ga, aku selalu nelfonin kamu karena khawatir kamu sering ga ngasih kabar pas aku dinas? Aku juga sering beliin apa yang kamu mau pas aku ada uang. Coba kamu itung Han, berapa banyak bubble tea, baju, sama makanan, blom lagi yang lain-lain, yang aku beliin buat kamu? Aku kurang apa Han? Aku tuh selalu pengen jagain kamu. Aku pengen kamu ngerti kenapa aku kerja serius. Aku tuh pengen seriusin kamu, Han. Kamu tau ga aku tersiksa tiap aku dinas ke luar karena aku kangen kamu? Tapi aku ga boleh gitu, Han. Karena kalo aku nyerah, aku takut kamu pergi dari aku, karena aku ga mapan, aku ga pantes buat kamu. Aku dapetin kamu susah, pertahaninnya apalagi. Aku ga mau ngelepasinnya gampang."
"Kak, aku..."
"Han, aku tau aku jarang bilang gini ke kamu. Tapi aku bener-bener sayang sama kamu. Kamu tau ga, aku iri sama Kak Seungyoun yang bisa nganterin kamu pulang pas aku ga ada. Aku iri sama Junho yang bisa nemenin kamu makan. Aku iri sama temen-temen kamu yang lain, yang bisa banyak ngabisin waktu buat kamu. Sedangkan aku, aku cuma bisa deket sama kamu pas di rumah, malem-malem gini, disaat aku baru pulang kerja. Aku bingung sama kamu. Aku harus gimana lagi, Han? Kamu tuh maunya aku kayak apa?" Yuvin menghela nafas panjang sambil menatap intens Yohan. Tangannya bergetar menyentuh pipi Yohan yang halus. Setetes air mata jatuh mengenai dahi Yohan.
"Kak... Kak, jangan nangis ya? Maafin Yohan, kak. Aku egois banget ya? Padahal aku tau perjuangan kakak kayak gimana. Aku banyak maunya ya, kak?"
Yohan hanya bisa diam saat Yuvin menangis saat memeluknya, Yohan tidak berkutik saat badan Yuvin bergetar hebat di pelukannya. Yohan takut, Yuvin tidak pernah seperti ini sebelumnya. Yohan benar-benar merasa bersalah dan dia benar-benar bingung.
"Kak... Jawab aku, ya? Kak, tolong jangan nangis... Aku bingung."
Tiba-tiba Yuvin mengangkat dagu Yohan agar bertatapan dengannya. Yohan bisa melihat matanya yang sembab, hidungnya yang memerah, dan bibirnya yang bergetar.
"Han, jujur sama aku."
"I... I... Iya, kak? Kenapa?"
"Kamu sebenernya sayang aku apa engga? Kamu serius sama aku apa engga?"
Hati Yohan mencelos mendengar pertanyaan Yuvin. Jujur saja, hatinya sakit saat ia bertanya pertanyaan itu. Yohan mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Yuvin yang berbekas air mata.
"Jawab aku, Han."
"Aku..." Yohan memberanikan dirinya untuk menatap dalam ke mata coklat Yuvin, "Aku sayang sama kamu, Kak. Aku serius sama kamu, Kak. Aku tau kakak pasti ga percaya aku ngomong ini. Aku... Aku cuma iri kak. Temen-temen aku selalu ngabisin waktu sama pasangannya dengan gampang. Sementara aku, aku harusnya sadar diri buat ga banyak nuntut sama kakak. Aku tau kakak kerja keras buat aku, buat nikahin aku. Aku emang terlalu egois, Kak. Aku tulus mau minta maaf, Kak. Aku emang ga pantes buat nuntut kakak terus, padahal kakak udah ngasih hampir semuanya buat aku. Aku ga minta kakak buat maafin aku sekarang," Nafas Yohan tercekat, matanya memanas, ia memalingkan wajahnya dari tatapan Yuvin. Sungguh, ia benar-benar kecewa terhadap dirinya sendiri, "tapi aku mau bilang, makasih banyak Kak udah selalu ada buat aku dan selalu nurutin apa yang aku mau. Kalo menurut kakak, aku terlalu susah diatur, aku terlalu banyak maunya, aku banyak bikin repot, kakak boleh mutusin aku. Aku ga mau jadi beban buat kakak." Air mata Yohan mengalir deras, ia tidak bisa lagi melihat Yuvin dan membalikkan badannya, tidak kuat melihat wajah pujaan hatinya. Yohan takut. Sangat takut. Bagaimana kalau Yuvin benar-benar menganggapnya tidak serius? Bagaimana kalau pertunangan mereka kandas? Bagaimana kalau mereka tidak bersama lagi? Pikiran Yohan kalut, berkabut, kacau.
Sepuluh detik berlalu, tidak ada satu kalimat terlontar dari mulut mereka. Hanya ada suara tangisan Yohan dan nafas yang tersengal dari Yuvin. Kemudian, tangan Yuvin bergerak memeluk Yohan dari belakang. Punggung Yohan bertemu dengan dada Yuvin yang hangat, dan Yohan berjengit kaget.
"Han, kamu jujur kan sama aku kalo kamu beneran sayang sama aku? Kalo kamu serius sama aku?"
"I... Hiks... Iya kak." jawab Yohan lemah. Yohan sudah menguatkan hatinya untuk mendengar semua jawaban Yuvin. Kalau Yuvin mau menyudahi hubungan mereka, Yohan sudah pasrah.
"Makasih ya, Han. Aku ga bermaksud ngebentak kamu. Maafin aku ya? Aku cuman pengen kamu tau kalo aku serius sama kamu. Susah Han, dapet pendamping hidup kayak kamu." Yuvin mengeratkan pelukannya sambil menciumi leher Yohan. Yohan hanya terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa.
"Han, kamu gapapa kan?" Yuvin membalikkan tubuh Yohan agar bertatapan dengannya. Dilihatnya wajah Yohan yang tidak karuan, bekas air mata mengalir di pipinya yang tembam, poninya yang berantakan menutupi dahinya.
"Sshhh, Han... Kamu gausah jawab sekarang, ya? Yuk kita tidur aja." Yuvin memeluknya erat.
"Kak... Kakak ga bakalan... ninggalin aku kan? Aku takut kak." tanya Yohan dengan suara yang sedikit bergetar. Yuvin hanya tersenyum dan mencium pelan kening Yohan.
"Masa sih aku mau ninggalin calon istri aku yang cantik ini?"
"Kak... Serius..."
"Aku serius, Han-ie," Yuvin mengangkat dagu Yohan lagi. Perlahan namun pasti, ia mempertemukan bibirnya dengan bibir Yohan. Menikmati segala perasaan yang membuncah dalam diri mereka berdua. Senang, sedih, takut, tertekan. Yohan tidak bisa untuk menahan tangisannya saat dia merasakan Yuvin tersenyum sambil memperdalam lumatannya di kedua bibirnya. Rasa asin dari air mata Yohan menambah emosi tidak karuan di hati keduanya, "jangan raguin aku lagi ya, Han? Aku sayang banget sama kamu. Aku ga bakal ninggalin kamu, oke? Aku masih pengen liat kamu di altar bareng aku. Udah, jangan nangis lagi. Nanti cantiknya ilang, loh."
"Makasih ya, kak. Udah mau sabar sama aku. Maaf kalo aku terlalu nuntut." Yuvin hanya tersenyum sambil mengusap air mata yang ada di pipi Yohan.
"Iya, iya. Sekarang Yohan tidur, ya?" tanya Yuvin sambil membenarkan poni Yohan yang berantakan, Yohan mengangguk lemah sambil mengeratkan pelukannya. Yuvin mengusak punggung Yohan perlahan, memberi sentuhan menenangkan pada Yohan.
"Kak Yuvin..."
"Ya?"
"Aku sayang banget sama kakak."
"Kakak juga sayang banget sama kamu, dek. Tidur yang nyenyak ya, sayang."
"Selamat tidur juga."
