"Han, kamu ngajar ga hari ini?" Yuvin bertanya sambil memperhatikan penampilannya di cermin.

"Engga kali. Mata aku bengkak gini." jawab Yohan dari arah ruang makan.

"Hm, gitu. Kamu masak sarapan ga?"

"Tuh, aku cuman bikin roti panggang, telor, sama sosis. Rotinya isi sendiri ya. Aku gatau kamu mau pake isian apa."

Yuvin beranjak dari kamar dan memeluk Yohan perlahan. Yohan bingung kenapa Yuvin senang sekali sama yang namanya backhug. Tapi, Yohan tidak ambil pusing sih, dia hanya tersenyum dan mengelus lengan Yuvin yang memegang erat pinggangnya.

"Makan sana, cepet. Aku gamau kamu ketinggalan pesawat."

"Entar dulu ah. Aku masih mau meluk kamu."

"Kak..."

"Dek..."

"Kak, manja banget sih?"

"Suka-suka aku, dek. Emangnya kamu doang yang bisa manja."

"Lah, kok gitu?" Yohan menoleh, berhadapan dengan Yuvin.

"Emangnya aku ga boleh manja sama kamu, ya?" Yuvin memanyunkan bibirnya. Detak jantung Yohan menggila. Seseorang tolong panggilkan ambulans!

"Kak... Serius dong. Ini kamu ada tugas kantor loh."

"Ya, ini aku serius."

"Serius apanya," Yohan memutarbalikkan badannya, berhadapan dengan Yuvin yang memakai jas hitam dengan kemeja putih, "Make baju kok ga bener banget. Emangnya kamu dinas langsung pake jas?"

"Aku mau ada meeting dulu di kantor. Tapi sama direksi, makanya pake jas. Abis meeting, baru deh aku dinas."

"Oh gitu. Trus ini dasinya?" Yohan menatap heran pada dasi yang hanya tersampir di leher Yuvin.

"Ya udah tau ga bener, ya dibenerin dong Han-ie cintaku, manisku, sayangku, hidupku, belahan jiwaku."

"Ew." Perkataan tidak sesuai dengan kenyataan. Niatnya mencibir Yuvin, malah pipi Yohan jadi merona.

"Aduh, gemes banget deh."

"Stop, kak."

"Plis, Han. Benerin dong."

"Manja banget. Benerin sendiri lah."

"Gamau. Benerin atuh, Han. Apa susahnya sih berbuat baik buat aku?" Yohan memutar bola matanya malas sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Yuvin. Sementara Yuvin, hanya bisa tersenyum penuh kemenangan dan semakin mendekatkan badan mereka berdua.

"Kak, plis, ini kedeketan."

"Biarin. Nanti aku dinas seminggu, aku bakalan kangen sama wangi kamu."

"Lebay banget, kak."

"Serius, Han. Ini kamu jadi benerin dasi aku apa engga?"

"Heu, dasar. Iya, iya."

Yohan membenarkan kerah kemeja Yuvin dan mulai mengatur dasi Yuvin. Perlahan, ia mulai membuat simpulan sederhana. Yuvin melihat Yohan yang begitu serius tidak tahan untuk mengelus surai hitamnya.

"Duh, cocok banget kamu Han jadi istriku. Nanti kalo udah nikah, bantuin aku buat dasi lagi ya, Han."

"Apaan sih? Manja banget. Bikin sendiri. Ini pengecualian, oke?"

"Uh uh uh, galaknya. Pagi-pagi jangan jadi maung dong, teh Yohan."

"Kak... Plis diem, sebelum aku cekek pake dasi." Yohan berkata dengan ketus sambil melihat Yuvin dengan serius. Yuvin hanya bisa menahan ekspresi wajahnya agar tidak tertawa melihat Yohan dengan mode (sok) galaknya itu.

"Oke oke, aku nurut sama kamu." Yohan mendorong simpulan dasi Yuvin agar tepat berada di tengah kerah kemejanya.

"Dah ya. Aku mau nyapu dulu." ujar Yohan, berjalan pelan ke arah gantungan peralatan kebersihan yang berada di dekat dapur.

"Han, kamu ga mau cium aku dulu sebelum pergi?"

"Apaan sih, Kak?"

"Plis dong, Han. Trus, panggil aku Mas aja ya sekarang?"

"Banyak maunya ya," Yohan kembali mendekat dan mencium bibir Yuvin singkat, "Udah kan, Mas? Mau apa lagi?"

"Hehehe, udah Han. Ini sarapannya masukkin kotak bekel aja. Aku takut telat."

"Hhh, iya iya." Yohan dengan cekatan mengambil kotak bekal dari lemari makan dan memasukkan roti beserta kawan-kawannya ke dalamnya.

"Makasih, Han-ie. Jaga diri ya. Nanti abis aku pulang, kita jalan ke Lotte World oke?"

"Terserah."

"Kok marah lagi sih?"

"Mas... Udah hampir 20 menit loh disini. Nanti telat, dihukum ga?"

"Demi kamu mah, gapapa dihukum, Han."

"Banyak bacot ya. Itu liat misscall dari Kak Suhwan sama Kak Kookheon. Mampus kamu, Mas."

"Ih, Yohan, kok gitu sih. Jahat. Yaudah, Mas pergi dulu ya. Dadah Yohan." ucap Yuvin, mencium kening Yohan dengan cepat, dan setengah berlari untuk memasuki mobilnya.

"Heran deh aku sama diri sendiri. Kok mau ya sama orang ga jelas gitu."