Yuvin baru pulang sore ini sehabis dinas ke luar kota. Malam ini malam Kamis. Sudah hampir tengah malam, tapi tidak ada yang bisa tidur. Sejak tadi keduanya bolak-balik mengubah posisi tidur di ranjang, tapi hasilnya nihil.
"Han, aku bosen." kata Yuvin, menatap Yohan tiba-tiba.
"Aku juga." Yohan balas menatap.
"Main, yuk."
"Main apaan?"
"Ga tau."
"Yeu, ga usah ngajakin dong kalo gitu." ujar Yohan dengan kesal.
"Yeu, lama-lama Yohan galak kayak tetehnya nih." sindir Yuvin sambil mendorong-dorong bahu Yohan.
"Apaan sih? Kita tuh beda. Teteh kan maung, aku kucing." bela Yohan seraya memindahkan tangan Yuvin dari bahunya.
"Kucing oren sih kamu, Han. Liar." Yuvin mengeluarkan senyum yang menurut Yohan sangat-sangat-sangat mesum kuadrat kubik.
"Ih, apaan sih?!" Yohan langsung menonjok lengan Yuvin.
"Ah!! Sumpah, Han, kalo mau mukul biasa aja dong. Sakit tau! Aku kan calon suamimu, Han. Masa nanti sebelom kita nikahan, aku patah tulang?"
"Heleh, calon suami masih aja kalah sama aku."
"Hadeuh, Han. Kamu boleh berani sama aku. Tapi pas aku bawa ke rumah hantu, kamu malah lebih takut sama hantu. HAHAHAHA!!! Mantan juara nasional malah takut sama hantu gadungan." Pipi Yohan memerah karena malu, dia baru ingat. Saat Yuvin dan dia libur kuliah, mereka pergi ke taman ria dan menjajal berbagai wahana, salah satunya rumah hantu. Dari awal sih kelihatannya tidak seram, tapi saat Yohan masuk, merinding bukan main. Akhirnya, sepanjang wahana itu, dia malah berlindung di balik jaket Yuvin.
"Ah!!! Kok malah diungkit lagi sih?! Sebel."
"Eh, Han. Serius deh, kalo tiba-tiba listrik mati, gimana?"
"Ga mungkin. Orang ga ujan..." Tiba-tiba terdengar suara rintikan air di jendela. Gerimis kecil itu tiba-tiba berubah menjadi hujan deras dengan cepat, disertai gelegar guntur dan kilat, "...kok."
"Hiya!! Gimana nih Han, HAHAHAHAHA!!!" goda Yuvin heboh, sementara Yohan hanya memutar bola matanya malas.
"Malah ketawa lagi, Mas."
"Ih Han, kalo takut, ga usah sok berani. Sini peluk."
"Males. Entar aku diledek lagi sama Mas."
"Engga Han, aku ga ledek lagi deh, beneran. Nanti kalo listriknya mati gimana Han?"
"MAS IH!!! JANGAN BILANG LISTRIKNYA MATI!!!"
Benar saja, lampu mati, listrik mati. Hujan turun semakin deras. Petir dan guntur semakin menjadi-jadi. Yohan ingin berteriak dan memaki Yuvin sebelum badannya dipeluk.
"Jangan takut Han-ie sayang. Mas Yuvin ada disini!"
"MAS YUVENNN!!! COBA TADI GA BILANG GITU!!! JADI MATI KAN!!! AH KEZEL KEZEL KEZEL!!! KENAPA SIH AKU BISA SUKA AMA ORANG KAYAK GINI?!" Yohan memukul dan menendang Yuvin brutal sementara si korban menahan mati-matian serangan si 'kucing' cantik ini.
"Aduh Han-ie, plis, kamu ga kesian sama aku? Baru juga pulang dinas. Jangan jahat-jahat dong."
"Au ah, zebel." Yohan merengut dan mencebikkan bibirnya dengan kesal. Untung saja lampu mati sehingga Yuvin tidak bisa melihat Yohan dan kemudian asal saja mencium bibir Yohan.
"Han, tapi kamu suka kan kayak gini? Malem-malem, gelap-gelapan, dingin-dingin, trus kita pelukan aja di kasur."
"Itu mah maunya kamu. Emang dasar mesum."
"Kamu belom jawab pertanyaan aku, oke?"
"Iya, iya. Aku suka. Selalu aja deh nanya pertanyaan kek gini."
"Nah, gini kan enak. Besok jadi ke tempat Teh Donghan ga?"
"Jadiin deh. Udah yakin kan kamu ketemu Teh Donghan?"
"Yakin lah. Kalo aku udah bisa naklukkin kamu, si teteh mah urusan gampang."
"Sombong amat."
"Ya dong, gapapa jelek yang penting sombong."
"Akhirnya Mas ngaku ya kalo mas itu jelek."
"Heleh, sok ga mau mengakui. Di mata kamu, kan aku yang paling ganteng."
"Gantengan juga Bang Seungyoun."
"Apa bagusnya sih si preman itu? Masih diomongin aja lagi."
Yohan hanya tertawa mendengar pertanyaan Yuvin yang terkesan cemburu dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Memang benar, sebelum berakhir dengan Yuvin, Yohan memang dekat dengan Seungyoun dan mereka sangat populer di kampus.
"Jangan marah dong, Mas. Iya, iya, di mataku, kamu tetep yang paling ganteng."
"Nah, gitu dong. Sebagai permintaan maaf, aku mau besok kamu bikinin aku sarapan pake pancake, roti panggang, telor goreng, sama sosis goreng. Minumnya kopi kayak biasa aja."
"Buset, banyak banget makannya. Emang tadi sebelum pulang, kamu ga dikasih makan?"
"Makan sih, tapi aku laper lagi, Han-ie~ Ya atuh, aku mau makan kan sekarang, tapi mager mati listrik gini. Kecuali kamu mau ikut aku masak di bawah."
"Modus aja ini mah, masak sambil kelonan."
"Nah, itu tau."
"Yaudahlah, sekarang aja masaknya. Males aku besok masakin kamu. Aku mau bangun siang, capek abis ngajarin bocil-bocil tadi."
"Unch~ oke, oke. Eh, betewe kalo kita udah nikah, kamu mau ga punya bocil?"
"Dih, apaan sih, random amat. Ya tapi... Aku mau aja sih, satu aja dulu, takutnya ga kuat biaya sama ngurusnya."
"Aw, Han-ie. Nanti bikin yuk."
"Najis."
"Lah, kok gitu Han?"
"Tunggu kita resmi dulu ya Mas, baru aku ijinin. Lagian demen banget sih mancing-mancing. Heran. Emangnya ini program Mania Mancing?"
"HAHAHAHAHAH!!! Duh, Han. Makin cinta aku sama kamu."
"Bisanya ngegombal mulu. Jadi ga nih? Ato ga aku bobok aja."
"Ish ish ish, jadi dong, sayang. Turun ke bawahnya mau digendong ga? Katanya capek."
"Ogah. Yang ada entar malah kamu kesandung trus jatoh trus kita malah ke rumah sakit. DAN JUGA, KAMU DISINI AJA, AKU GA MAU KAMU BERANTAKIN DAPUR, OKE?!"
"Yah, Han~~~ jangan gitu dong."
"Pokoknya engga mau. Dah lah, aku bikinin kamu mie instan aja. Anggep aja kemauan kamu buat besok lunas, oke? Bhai."
"HAN AKU KAN MAUNYA PANCAKE!!! SUMPAH HAN DARI KEMAREN MIE INSTAN TERUS!!!"
"BODO AMAT!!! BHAI!!!"
Selamat Yuvin, sepertinya terhitung dari sekarang, makan malam pakai mie instan saja. Pesan moral dari cerita ini adalah jangan suka mencobai sesamamu. Soalnya nanti bisa diamuk, HAHAHA.
ya gais intinya mau menebus dosa untuk hilang selama 3 bulan, jadi langsung 2 chapter HEHEHEHE (padahal mau kuis, tapi yuyo dulu dah)
