Chapter warning: mention of brand names. Final Fantasy © Square Enix.

.

.

.

Shall We Skate

Chapter 2: Serenade For Two

.

.

.

Mendapatkan kesempatan untuk berada di rumah sehari penuh merupakan hal yang sungguh langka bagi Jaemin, mengingat statusnya sebagai mahasiswa tingkat dua sekaligus atlet figure skating yang sering kabur latihan. Hari Sabtu ini jadwalnya benar-benar kosong, meskipun tidak benar-benar kosong secara legal — ia membolos latihan skating lagi dengan alasan sakit — sehingga ia menghabiskan seharian memainkan game baru dari seri Final Fantasy yang sudah lama dibelinya namun belum sempat dimainkan. Kedua orangtuanya sedang tidak berada di rumah; bilangnya akan bertemu teman, tapi mungkin ujung-ujungnya pergi kencan. Ini malam Minggu, wajar saja. Jaemin akhirnya ditinggal sendirian di rumah dengan ditemani game dan berbagai macam cemilan sehat yang diletakkan ibunya di kulkas — namun sayangnya Jaemin sedang tidak berniat untuk menjaga berat badannya hari ini. Ia menyempatkan diri untuk membeli seloyang cheesecake siang tadi sebelum akhirnya menyibukkan dirinya dengan game sampai malam tiba.

Selama satu bulan ini, frekuensi Jaemin datang ke tempat latihan agaknya bisa dihitung dengan jari tangan saja. Ada saja alasannya untuk membolos, seperti misalnya ada kelas tambahan, sakit, atau harus mengerjakan tugas. Pelatih Seo tampaknya tahu kalau Jaemin sering membuat-buat alasan demi tidak datang latihan, tapi ia belum memberikan peringatan keras pada Jaemin. Dengar-dengar, hal itu membuat beberapa rekan latihannya menuduh Pelatih Seo pilih kasih; mereka mempertanyakan mengapa Jaemin tidak diberi peringatan sementara atlet lain selalu kena konsekuensi bahkan ketika mereka terlambat semenitpun. Jaemin berusaha untuk tidak mempedulikan, karena itu urusannya Pelatih Seo untuk menjelaskan, tapi siapa sih yang nyaman ketika ditatap dengan tatapan penuh penilaian dari teman sendiri? Kenapa juga Pelatih Seo tidak lantas memecatnya. Dengan begitu mungkin hidup Jaemin akan lebih bahagia.

Jaemin menggerutu pelan sambil menekan tombol pause ketika ia mendengar suara bel pintu bergema. Saat ini adalah waktu yang cukup aneh; terlalu malam bagi seseorang untuk bertamu, dan terlalu awal bagi orangtuanya untuk pulang dari kencan, kecuali mereka berdua memang berubah pikiran. Kebingungan di kepalanya musnah seketika ketika ia melihat Jeno yang tersenyum di balik pintu depan, namun tak lama kemudian muncul kebingungan yang lain di benaknya.

"... Nggak latihan?" Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Jaemin dan Jeno menjawabnya dengan tawa kecil. Jadwal latihan mereka memang sampai jam sembilan malam, sementara sekarang baru jam tujuh.

"Latihan lah. Memangnya kamu, bolos terus," ledek Jeno. "Tadi latihannya selesai lebih cepat karena Yang Mulia Pelatih ada perlu."

"Ada perlu?" Jaemin mengerutkan alis.

"Mungkin cari pacar, stres karena kau tinggal terus," komentar Jeno barusan sukses membuatnya dihadiahi sebuah cubitan di lengan atas. "Oi, Nana, dingin nih."

"Iya, aku tahu. Sekarang masih Februari."

Jeno merengut. "Aku tidak diizinkan masuk?"

"Iya, iya. Sini masuk. Ada buah-buahan, teh hijau, granola bar—"

"Yang lain?"

"... Cheesecake."

"Yes!" Jeno bersorak sambil melepas sepatunya, membuat Jaemin menggeleng-gelengkan kepala.

"Jaga berat badanmu, Lee Jeno."

"Tidak apa-apa, cheat day!"

Mereka sudah berteman cukup lama sehingga Jeno tidak perlu lagi meminta izin untuk masuk ke kamar Jaemin sementara sang empunya kamar menyiapkan cheesecake dan teh — sebenarnya Jeno bisa saja ambil sendiri, tapi tampaknya anak itu sedang ingin merepotkan orang lain. Begitu Jaemin masuk ke kamarnya sambil membawa baki berisi teko teh dan dua potong cheesecake, Jeno menyeringai lebar ke arahnya sambil menunjuk layar televisi Jaemin.

"Malam mingguan sama Noctis?" ledek Jeno. Jaemin membanting pintu dengan kakinya.

"Berisik, aku belum sempat main, tahu," gumam Jaemin sambil meletakkan bakinya di atas lantai, persis di sebelah Jeno. "Kau sendiri juga untuk apa datang kemari malam minggu begini dan merampok cemilan orang?"

"Nih, aku mau mengantar ini." Jeno membuka tasnya dan mengambil sebuah majalah yang diterima Jaemin dengan dahi berkerut. Judul majalah olahraga itu familiar bagi Jaemin, mengingat salah seorang kakak sepupunya bekerja sebagai editor di majalah ini. Ada satu halaman yang ditandai dengan label berwarna biru. Tanpa bertanya apa-apa, Jaemin langsung membuka halaman yang ditandai tersebut dan menemukan artikel tentang dirinya. Pada awalnya ia sedikit bingung, tapi tidak butuh waktu lama baginya untuk mengingat bahwa sebulan yang lalu ia dipaksa menampilkan sebuah program untuk diliput sebuah majalah. Ternyata majalah ini. Jaemin merasa bodoh karena waktu itu tidak sempat bertanya dari majalah mana fotografer dan reporter itu berasal.

"Sudah terbit, ya." Jaemin membuka-buka halamannya. Ada empat halaman artikel tentang dirinya, kebanyakan hanya diisi dengan foto-foto. Wajar saja, mengingat Jaemin saat itu hanya menjawab seadanya ketika diwawancara. Konten teks yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah foto yang diperoleh.

Foto-foto yang menghiasi artikel tersebut cantik sekali. Tanpa sadar, Jaemin lebih memperhatikan foto-foto tersebut dibandingkan dengan kumpulan teks yang mendampinginya. Fotografer itu — Jaemin lupa siapa namanya — tampak masih muda, namun hasil bidikannya terlihat begitu profesional. Dari mulai komposisi, warna, atmosfir … ah, Jaemin tidak begitu mengerti fotografi, tapi ia bisa membedakan mana foto yang cantik dan mana yang biasa saja. Sekilas muncul pertanyaan di benaknya, apakah memang dirinya secantik ini ketika menari di atas es?

Jaemin membalik halamannya sekali lagi dan ia baru menyadari bahwa ada sebuah sticky note yang menempel di halaman terakhir artikel tentang dirinya. Tulisannya kecil dan rapat-rapat, ditulis menggunakan spidol hitam. Kalimat-kalimat yang tertulis di situ isinya cukup sederhana.

"Untuk Na Jaemin-sshi. Programmu mengagumkan. Tetaplah cintai figure skating. Mark Lee."

Kalimat-kalimat pendek itu membuat Jaemin mengerjapkan mata. Ah, kini ia ingat nama fotografer itu, pemuda berambut pirang dengan aksen bahasa Inggris yang kental dalam setiap pengucapan kalimatnya. Mark Lee. Nama itu juga yang tertulis di bagian kredit artikel tentang dirinya. Reporter, Lee Donghyuk; Foto, Mark Lee. Dengan alfabet, bukan dengan hangul.

"Fotografer yang kemarin itu datang tadi, memberikan majalah ini pada Pelatih ia mau memberikannya padamu, tapi kau tidak datang, jadi Pelatih Seo menyuruhku untuk memberikan ini padamu," cerita Jeno, memberikan penjelasan yang dibutuhkan namun tidak diminta Jaemin. "Dia baik sekali. Sepertinya dia benar-benar suka program yang ditampilkan olehmu saat itu?"

"Yang benar saja," dengus Jaemin sambil menyuap cheesecake-nya. "Kau lihat sendiri seberapa berantakannya programku saat itu."

"Siapa tahu? Iya, menurutku juga programmu saat itu berantakan, tapi kurasa ia melihat sesuatu yang lain …" Jeno tampak berpikir sejenak, kemudian menambahkan. "Oh, omong-omong saat latihan tadi Renjun mencoba untuk skating dengan diiringi lagu Creep."

"Lalu?" respon Jaemin dengan tidak antusias.

"Lebih bagus programmu," jawab Jeno jujur.

"Eyy … kulaporkan pada Renjun, lho."

"Silakan saja. Aku sudah bilang, kok." Jeno menyendok potongan blueberry di atas cheesecake-nya, kemudian memasukkannya ke dalam mulut. "Ini namanya penilaian objektif. Dia sendiri juga merasa kalau kau lebih cocok skating diiringi Creep. Renjun lebih cocok menyusun program yang diiringi oleh lagu-lagu yang ceria, tidak seperti Creep …."

"Jadi maksudmu aku suram, begitu?" protes Jaemin, membuat Jeno tertawa terbahak-bahak.

"Bukan begitu. Maksudku, kau beresonansi lebih baik dengan lagu Creep …."

"Iya, itu kan maksudnya kau ingin bilang kalau aku suram, sama seperti lagunya!"

Tawa Jeno tidak terhenti. Jaemin tengah sibuk menahan keinginan untuk melemparkan sisa cheesecake Jeno ke wajahnya, ketika Jeno tiba-tiba bergerak menghampiri Playstation Jaemin.

"Bosan, ah! Main fighting game, yuk!" ajaknya sambil mengeluarkan CD game Final Fantasy dari dalam Playstation, dan menggantinya dengan CD sebuah fighting game. Mata Jaemin terbelalak melihatnya.

"Yah, Jeno idiot! Game-nya belum aku save, bodoh!"

.

.

.

"Ah, halo, Jaehyun-hyung?"

Mark Lee berjalan mendekati jendela. Kesibukan kantornya saat ini akan menganggunya dalam mendengar suara dari seberang sana yang keluar dari ponselnya. Biasa, beberapa deadline sudah mendekat dan membuat beberapa — ralat, hampir semua — kru majalah menjerit. Hal itu juga yang mengakibatkan nyaris seluruh kru tetap berada di kantor meskipun jam kerja sudah berakhir, lembur demi menyelesaikan pekerjaan. Beruntungnya Mark sudah menyelesaikan apa yang harus dikerjakannya hari ini, sehingga ia bisa menggunakan waktunya untuk menjawab telepon sebelum mengemasi barang-barangnya di meja kerja.

"Halo, Mark." Sapaan itu otomatis menerbitkan seulas senyum di wajah Mark. "Kedengarannya cukup berisik. Astaga, kau masih di kantor ya? Apa sedang sibuk?"

"Tidak apa-apa, Hyung. Office hour ended already, tapi masih banyak yang tinggal di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan. Kami dikejar deadline," Mark melirik ke belakang, melihat kondisi kantor yang masih sibuk. Ia bisa melihat Donghyuk memutar-mutar kursinya, berusaha memeras otak untuk artikel yang harus ia tulis, sementara Hansol — seniornya di bagian staf redaksi sibuk bolak-balik ke lobi, ke ruang kerja, dan ruang pimpinan redaksi. "Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja?"

"Seperti biasa saja, Mark." Mark mendengar tawa pelan di akhir kalimat Jaehyun. "Oh, aku sudah melihat foto-foto yang kau kirimkan. Skating rink di Korea memang selalu ramai, ya. Rasanya senang sekali melihatnya."

"Aku tahu Jaehyun-hyung pasti suka." Seulas senyum lebar muncul di wajah Mark mendengar komentar Jaehyun. "Oh, beruntung sekali kau meneleponku, Hyung, kau bisa langsung mendengar berita bagus dariku. Aku terpilih untuk membantu meliput kompetisi figure skating internasional di Jepang musim semi nanti."

"Oh ya?" Jaehyun terdengar terkejut sekaligus bangga. "Keren sekali!"

"Hehe, iya," gumam Mark senang. "Doakan aku, Hyung. Aku akan memberikan Hyung banyak foto dari arena."

"Don't think too much about me, Mark. Do your job first," nasihat Jaehyun. "Melihatmu bisa mendapatkan pekerjaan impian dan dikirim ke kompetisi bergengsi begini juga sudah cukup untuk membuatku senang. Jangan lupa istirahat yang cukup, oke?"

"Iya, Hyung," Mark mengangguk pelan, meski Jaehyun tidak bisa melihatnya. "Kalau aku pulang nanti, aku akan membawakan foto yang lebih bagus lagi."

Jaehyun tidak menjawab selama beberapa saat, sebelum akhirnya menanggapi. "Terima kasih, Mark. Kututup teleponnya, ya? Kau masih bekerja."

"Okay, Hyung. Thank you for keeping up," jawab Mark. "See you later."

Baru saja Mark menjauhkan ponselnya dari telinga, ia mendengar suara Hansol, yang sedang berdiri di ambang pintu ruangan, memanggilnya.

"Mark, bisa ke sini sebentar?" serunya.

"Eh?" Mark mengerutkan keningnya. Dihampirinya Hansol dengan ragu-ragu. "Ada … apa?" tanya Mark hati-hati, mengingat pemanggilan dari Hansol tak selamanya berujung baik-baik.

"Ada yang mencarimu. Dia bilang, ini penting," jawab Hansol cepat.

"Hah?" Mark mengerutkan dahinya. "Siapa?"

"Sudahlah, langsung termui saja," ujar Hansol sambil menepuk-nepuk bahu Mark dan mengisyaratkan Mark untuk keluar lewat ujung-ujung matanya. "Aku yakin aku tidak salah orang. Dia benar-benar mencarimu. Tamumu itu bilang, dia mencari Mark Lee — dengan alfabet, bukan dengan hangul."

Penjelasan terakhir Hansol semakin membuat Mark bingung, tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya-tanya lagi. Ia memikirkan tentang teman-teman dan saudara yang ia miliki di Seoul ketika melangkah keluar menuju lobi, berusaha menebak-nebak siapa yang datang di akhir jam kerja begini — dan tebak-tebakannya terhenti ketika ia beradu tatap dengan Jaemin di depan front desk. Pemuda itu tampak gelisah berdiri di tempatnya, jarinya sibuk mengetuk front desk dan badannya bergoyang-goyang; segala kegelisahannya itu sirna ketika ia melihat Mark. Ia membungkuk cepat dengan canggung begitu menyadari bahwa Mark telah melihatnya, kemudian berjalan menghampiri Mark dengan langkah-langkah kecil. Setelah Jaemin berada cukup dekat dengannya, Mark baru menyadari bahwa Jaemin tengah memegang sebuah sticky note kuning dengan tulisan yang familiar. Terang saja, tulisan di sticky notes itu adalah tulisannya.

"S-selamat malam," sapa Jaemin kikuk, tampak ragu dan bingung bagaimana menjelaskan situasi yang cukup canggung dan membingungkan bagi Mark ini. "Maaf aku tiba-tiba datang dan mengganggu — tunggu, apakah kau ingat aku?"

"Ya! Ya, tentu saja!" Kecanggungan Jaemin agaknya menular pada Mark. Pada dasarnya Mark memang orang yang cukup canggung apalagi dengan orang yang tidak dikenalnya dengan baik, sehingga kecanggungan Jaemin membuatnya semakin canggung juga. Baiklah, mereka memang sudah berkenalan sebulan yang lalu, tapi Mark tidak berpikir kalau itu cukup untuk membuatnya mengenal Jaemin dengan baik. Lagipula, Jaemin datang kemari dengan begitu canggung, menyebabkan situasi saat ini penuh dengan kecanggungan yang berlipat ganda. "Na Jaemin-sshi, benar?"

"Benar! Benar …" Jaemin mengangguk-angguk seperti penguin, kemudian memperdengarkan tawa singkat yang terdengar dipaksakan. "Anu, maafkan aku tiba-tiba datang dan mengganggu — aku tidak tahu bagaimana cara menghubungimu jadi kurasa akan lebih baik kalau aku langsung mendatangi kantormu, kebetulan sepupuku bekerja di sini dan itu cukup memudahkanku untuk mencarimu, jadi —"

Jaemin menghentikan ucapannya karena kehabisan napas. Ia baru saja bercerita dalam satu tarikan napas sehingga ia butuh waktu untuk menarik napas kembali. Mark masih terdiam, mengerjapkan matanya.

"... Jadi?" tanya Mark pelan, setelah Jaemin menarik napas panjang.

"... Jadi, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan," jawab Jaemin dengan tempo bicara yang sudah bisa dikendalikan. "Apakah kau tidak keberatan?"

Mark memandang Jaemin lekat-lekat, sebelum kedua matanya tiba-tiba membulat dalam kecemasan. "Is there something wrong with the article?"

"Yes! … No, n-no! There's nothing wrong!" Ekspresi Mark yang sedikit berubah membuat Jaemin sedikit panik dan membuat kalimat yang keluar dari mulutnya menjadi kacau. "Aku-aku hanya ingin bicara … sedikit! Sama sekali tidak ada yang salah dari artikelnya, kok!"

Melihat wajah Jaemin yang terlihat benar-benar panik cukup melegakan Mark. Kalau Jaemin jadi benar-benar panik karena salah omong seperti itu, bukankah artinya memang tidak ada kesalahan? Mark tersenyum lega. Ditatapnya kembali Jaemin yang masih menggengam erat sticky notes-nya dengan dua tangan.

"Baiklah." Mark mengangguk pelan, membuat Jaemin menghembuskan napas lega. "Ada kafe yang enak di bawah, namanya kafe Istoria … cocok untuk ngobrol. Bagaimana?"

Jaemin mengangguk setuju. "Baiklah."

"Tapi aku masih harus membereskan barang-barang, tidak apa-apa?"

"Ah, kalau begitu aku duluan saja, sekaligus cari tempat yang enak!" usul Jaemin. Ide yang cukup bagus, maka Mark akhirnya mengangguk singkat mengiyakan. Belum sempat Mark mengatakan hal lain, Jaemin sudah membalikkan badan, kemudian berjalan cepat menuju lift dan bergabung dengan rombongan orang lain yang ingin turun ke lantai dasar. Mark menggelengkan kepala. Entah kenapa ada sesuatu yang membuat hatinya hangat melihat Jaemin yang bersemangat seperti itu; mengingat saat terakhir kali mereka berjumpa, Jaemin sangat jauh dari kata semangat.

.

.

.

Jaemin tidak perlu menunggu sendirian untuk waktu lama di kafe Istoria. Begitu pula Mark, ia tidak perlu berusaha sedemikian rupa untuk mencari Jaemin di tengah keramaian kafe karena pemuda itu memilih tempat yang dekat dengan pintu masuk. Sebetulnya Mark lebih senang tempat duduk di dekat jendela, tapi mungkin Jaemin berpikir dengan duduk di pintu masuk Mark akan lebih mudah menemukannya.

"Hansol-hyung itu sepupumu, ya?" Itulah kalimat pertama yang dikatakan Mark pada Jaemin ketika ia menarik kursi dan meletakkan tasnya di atas meja. "Tadi ia bertanya untuk apa Jaemin mencariku … aku balas bertanya kenapa ia tahu soal dirimu. Ternyata dia saudaramu."

Jaemin tersenyum geli. "Iya, tadi aku yang minta tolong Hansol-hyung untuk memanggilkanmu."

Mark terkikik pelan, sementara tangannya menarik buku menu. Ia sudah sering makan di sini, tapi belum cukup sering untuk bisa menghapal menu yang tersedia. "Lalu kenapa Hansol-hyung tidak langsung bilang kalau yang mencariku itu Na Jaemin? Aku sempat kebingungan tadi ketika ia bilang ada yang mencariku …"

"Ah … itu." Jaemin terdiam sejenak. "Aku bukan tamu yang penting, jadi kupikir kalau aku meminta Hansol-hyung untuk tidak menyebutkan namaku, kau akan jadi penasaran dan segera menemuiku."

"Astaga." Mark tertawa pelan. "Jangan berpikir begitu … semua tamuku itu penting."

Kembali Jaemin tersenyum kikuk. "Hehe."

Mark yang masih sibuk meneliti menu dessert di hadapannya mengalihkan pandangannya kepada Jaemin untuk sejenak, lalu berkomentar. "Jaemin-sshi kalau tersenyum manis."

"Eh?" Jaemin tertegun dengan komentar yang sungguh tiba-tiba itu. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar bahwa senyumnya manis, namun ia selalu saja tersipu malu ketika ada seseorang yang baru mengenalnya berkomentar seperti itu tentang senyumnya. Percaya atau tidak, waktu ia bertemu Jeno pertama kali, ia juga tersipu ketika Jeno bilang senyum Jaemin manis. Tapi sekarang, kalau Jeno memuji senyum Jaemin, Jaemin pasti menganggap Jeno ada maunya. "Te-terima kasih."

"Waktu kita bertemu di Taereung Ice Rink saat itu kau jarang sekali tersenyum, jadi aku tidak tahu." tambah Mark.

"Ahahaha — maaf, aku memang agak sedikit … moody," ungkap Jaemin sambil tertawa terpaksa. "Oh … omong-omong, panggil Jaemin saja tidak apa-apa, Mark-nim …?"

"Bukannya aku sudah bilang? Mark is okay." Mark tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putihnya. Mark bahkan bisa mengingat detail kecil yang terjadi pada pertemuan mereka sebulan yang lalu sementara Jaemin akan terus melupakan nama Mark seandainya ia tidak membaca kredit yang tertera pada artikel tentang dirinya. Jaemin jadi merasa tak enak pada Mark.

"Tidak apa-apa?" tanya Jaemin. "Usiaku dua puluh tahun …."

"Aku besar di Kanada, jadi aku lebih santai kalau soal panggilan. Usiaku dua puluh tiga, tapi panggil Mark saja tidak apa-apa," jelas Mark sambil menutup buku menunya. "Kau sudah pesan?"

"Oh … pantas saja, aksenmu ..." Jaemin memberikan komentar yang tidak relevan dengan pertanyaan Mark tadi. Sedetik kemudian baru ia menyadari bahwa Mark melontarkan pertanyaan padanya. "Eh? Pesan? I-iya, aku sudah pesan."

"Ah, tentu, aksenku pasti masih terdengar asing. Sampai sekarang aku masih belajar bahasa Korea, jadi mohon bantuannya, ya," ungkap Mark. "Pesan apa, Jaemin?"

"Ehm … teh hijau … salad buah —"

Mark mengangguk-angguk maklum. "As expected … atlet figure skating sih, ya."

Jaemin menaikkan salah satu sudut bibirnya, menghasilkan sebuah senyuman miring yang terlihat aneh. Ia menahan diri untuk tidak menertawakan dirinya sendiri mengingat beberapa hari yang lalu ia baru saja menghancurkan dietnya dengan seloyang cheesecake. Ralat, seloyang minus satu potong. "Kau sendiri pesan apa?"

"Hm … earl grey cake di sini enak. Kurasa aku akan pesan itu saja." Tanpa basa-basi lagi, Mark melambaikan tangannya kepada seorang pelayan yang dengan sigap segera menghampiri mereka, kemudian mencatat pesanan Mark — earl grey cake dengan cola float. Pesanan Mark barusan sangat menggoda Jaemin, ia berharap ia bisa memesan makanan enak seperti itu alih-alih terjebak dengan salad buah dan teh hijau. Bukan berarti salad buah dan teh hijau tidak enak, ya, Jaemin sungguh suka makan buah-buahan, tapi terkadang tentu saja Jaemin menginginkan makanan manis seperti cake yang dipesan Mark barusan.

"Jadi …" Mark tiba-tiba melepas kacamatanya, dan menaruhnya di atas meja. "Apa yang ingin kaubicarakan denganku?"

"... Ah!" Lamunan Jaemin dibuyarkan oleh kalimat Mark barusan. Dirogohnya saku dan dikeluarkannya sticky notes berwarna kuning dari sana. "Aku … aku sudah membaca ini."

Sticky notes itu sudah agak kumal, mungkin karena kebanyakan dipegang dan dilipat. Lucu rasanya melihat sticky notes itu dalam keadaan kumal sementara Mark masih ingat saat ia menulisi kertas itu dan menempelkannya di dalam majalah yang ia berikan pada Pelatih Seo. Meskipun sudah kumal begitu, Jaemin tetap saja menekuk-nekuknya, selagi berpikir mengenai kata-kata apa yang akan ia ucapkan. Mark memutuskan untuk menunggu sampai Jaemin selesai mengolah kalimat di dalam kepalanya.

"Membaca catatan darimu ini … membuatku sedikit bertanya-tanya," gumam Jaemin. "Apa aku benar-benar terlihat sebagai seseorang yang sangat mencintai figure skating, Mark?"

Mark ingin menjawab, seandainya saja kalau bukan karena interupsi pelayan yang datang untuk mengantarkan pesanan mereka berdua. Pelayan tersebut hampir saja meletakkan earl grey cake di hadapan Jaemin, sebelum Mark memberitahu kalau earl grey cake itu miliknya. Mark sempat berkomentar tentang itu ketika sang pelayan sudah berlalu.

"Wajahku tidak terlihat seperti wajah orang yang suka makan makanan manis, ya?" komentarnya pelan, membuat Jaemin sedikit terkikik. "Oke, kita kembali ke pertanyaanmu, ya. Jawabannya tentu saja iya."

"Dari mana?" tanya Jaemin sedikit mendesak, membuat Mark sedikit kaget dibuatnya.

"Dari … mana?" Mark mengerutkan dahinya. "Aku … aku tidak tahu pastinya. Kupikir karena saat itu kau tetap membuatku kagum dengan programmu meskipun aku tahu kau tampil dengan sedikit terpaksa."

Sedikit. Jaemin menyengir. Tidak ada kata sedikit dalam keterpaksaan yang dialami Jaemin pada hari itu, kalau mau tahu. Tapi biarkan saja ini menjadi rahasia yang tidak akan Jaemin ungkapkan kepada Mark. "Begitu … ya?"

"Meskipun kau terpaksa … aku mendapatkan kesan kalau kau tetap berusaha menampilkan yang terbaik begitu kau menginjak ice rink. Bagaimana, ya? It's like … you are already best friends with the ice rink?" Mark mengangkat bahunya sambil menyendok kuenya. "Ketika melihatmu meluncur di atas es, rasanya seperti melihat dua teman lama yang baru saja berjumpa."

"Ah," angguk Jaemin cepat. Tangannya sibuk mengaduk-aduk teh hijau hangatnya.

"Apa aku kedengaran sok tahu?" Ada raut wajah cemas yang khas ketika Mark menanyakan hal ini. "I'm sorry, we barely met but —"

"Astaga, tidak, tidak kok!" Cepat-cepat Jaemin menggeleng sambil tersenyum kikuk. "Aku … aku cukup kaget saja."

"Kaget?" tanya Mark bingung. "Kaget kenapa?"

"Well … aku baru kali ini bertemu seseorang yang mengatakan kalau aku sangat mencintai figure skating, tapi bukan bagian dari orang-orang terdekatku atau orang yang memang menekuni figure skating — kecuali kalau kau ternyata diam-diam jago skating juga."

Mark terkikik sambil menggeleng. "Tidak, tidak. Berdiri tegak di atas es saja aku belum bisa." elaknya pelan, sedikit tersipu malu. "Apakah aku boleh tahu memangnya siapa saja yang pernah mengatakan kalau kau sangat mencintai figure skating?"

"Mmm … orangtuaku. Sahabat-sahabatku yang juga figure skater. Pelatihku. Sepupuku … yang dulu selalu rajin mengantarku ke tempat latihan. Temannya pelatihku yang mantan figure skater …" Jaemin menghitung dengan menggunakan jarinya. "Sudah, kurasa. Tidak ada lagi yang pernah mengomentari kalau aku benar-benar sangat mencintai figure skating … apalagi setelah menontonku menampilkan sebuah program yang benar-benar jelek dan ceroboh."

"Mungkin justru karena programmu sedikit ceroboh, itu membuatku semakin bisa melihat usahamu … mengingat kau begitu terpaksa waktu itu, aku akan berpikir kau akan menyerah dan berhenti di tengah-tengah. Itu langkah yang wajar, mengingat ini bukan kompetisi dan hanya untuk majalah. Tapi kau tidak melakukannya. Hal ini membuatku semakin bisa melihat cintamu terhadap figure skating," jelas Mark panjang lebar. "Bukannya mau pamer ya, tapi orang-orang selalu mengatakan sense-ku bagus."

"Tentu saja." Jaemin mengiyakan. "Kalau tidak bagus, tentu tidak akan menjadi fotografer yang hebat."

"Bisa saja." Pujian Jaemin barusan berhasil membuat Mark kembali tersipu malu. "Eh, berarti kau suka dengan foto-foto yang kuambil?"

"Oh! Tentu!" Jaemin menjawab dengan bersemangat. "Suka sekali. Kau hebat."

Senyuman lebar yang dipadu dengan kedua mata yang berbinar membuat Mark sekarang terlihat seperti seorang anak kecil yang baru dibelikan mainan. Ia tampak betul-betul senang mendengarkan pujian Jaemin barusan. Ayolah, siapa yang tidak senang apabila karyanya mendapat pujian? Hanya saja, Jaemin merasa kebahagiaan yang sedang ditampilkan Mark saat ini benar-benar murni dan tulus; jenis kebahagiaan autentik yang sekarang semakin jarang ia lihat.

Mark juga pasti sangat mencintai dunia fotografi.

"Terima kasih, senang sekali kalau kau suka dengan fotonya," ujar Mark ceria sebelum menyuap cake-nya. "Mm! Seperti biasa cake di sini selalu enak. Mau coba sedikit, Jaemin?"

Dalam hati, Jaemin sudah menjerit mau, aku mau, tapi yang ia katakan adalah hal sebaliknya. "Uhm … terima kasih tawarannya, tapi aku tidak bisa terlalu banyak makan makanan manis—"

"Sesendok saja." Mark menyodorkan piringnya ke arah Jaemin. "Cheat day?"

Cheat day-ku sudah tiga hari yang lalu, batin Jaemin. Tapi atas dasar kesopanan, ia tidak bisa mengelak; ralat, sebetulnya setengah karena dasar kesopanan, setengahnya lagi karena Jaemin memang ingin mencobanya. Dengan gerakan pelan, Jaemin menyendok cake Mark, kemudian memasukkan potongan kecil itu ke dalam mulut. Sensasi pertama yang Jaemin rasakan adalah betapa lembutnya kue yang tengah dimakannya itu. Ledakan rasa yang muncul berikutnya membuat mata Jaemin refleks membulat dalam keterkejutan.

"Bagaimana?" tanya Mark penasaran.

"... Daebak," gumam Jaemin. "Enak sekali!"

"Benar kan?" Mark tampak puas mendengar pujian Jaemin barusan. "Maaf kalau aku tadi terkesan memaksamu, tapi memang rugi kalau ke sini tanpa mencoba earl grey cake-nya … mungkin kau bisa beli untuk cheat day berikutnya, eh?"

Jaemin mengangguk-angguk sambil tersenyum menanggapi candaan Mark barusan. Mungkin saran Mark tidak salah juga. Selamat tinggal blueberry cheesecake, setelah ini Jaemin akan mencampakkanmu demi earl grey cake di kafe Istoria.

.

.

.

Malam baru saja dimulai ketika Mark dan Jaemin meninggalkan kafe Istoria dan berjalan bersisian menuju halte bus yang paling dekat dengan kantor Mark. Mark mengaku ia tidak suka pulang terlalu malam, ia lebih suka menghabiskan malam dengan beristirahat di apartemennya, menonton televisi, mendengarkan musik, atau mengedit foto-foto yang ia ambil. Jaemin sendiri terbiasa pulang malam karena latihan, tapi ia masih tinggal bersama dua orang tua yang memberikan batasan jam malam untuknya. Sehari saja ia pulang lewat dari tengah malam, hukuman yang menyusul bisa berlaku untuk berhari-hari.

"Berarti kau nanti turun di halte ini saja, Jaemin, lalu sambung dengan bus nomor 3." Begitu sampai di halte, hal pertama yang dilakukan Mark adalah menunjukkan rute untuk Jaemin pulang ke rumah. Maklum saja, Jaemin cukup jarang bepergian menggunakan kendaraan umum. Yang ia hapal hanya rute kendaraan umum dari rumah ke kampus, rumah ke tempat latihan, dan rute dari kampus ke tempat latihan. Jika sepulang kuliah tadi Jaemin tidak meminta tolong (setengah memaksa) Renjun untuk mengantarkannya ke kantor Mark dengan menggunakan mobil, ia tidak akan bertemu dengan Mark hari ini.

("Makanya belajar yang benar untuk ujian mengemudi, jangan gagal terus!" — Pesan moral dari Renjun sore tadi begitu mereka sampai di depan gedung kantor Mark.)

"Aku nanti akan turun di halte sebelumnya, jadi jangan bengong," pesan Mark sambil menunjuk halte tempatnya turun. Jaemin di sebelahnya mengangguk-angguk, berusaha mengingat-ingat. Tidak lucu juga kalau ia tersesat di kota kelahirannya sendiri. "Tanyakan pada supir saja kalau kau ragu."

"Baiklah, aku ingat, aku ingat. Lucu juga, aku lahir di sini tapi kalah darimu yang baru dua tahun tinggal di Seoul, Mark," celetuk Jaemin, membuat Mark tersenyum geli.

"Bisa karena terbiasa. Aku bisa hapal rute kendaraan umum karena tidak punya kendaraan pribadi," jawab Mark sambil mengangkat bahunya.

"Aku hanya hapal rute kendaraan umum ke kampus dan ke tempat latihan." Jaemin mengaku. "Sisanya aku tidak tahu."

Mark mengangguk-angguk, memaklumi. Tapi tiba-tiba, Mark menyadari sesuatu yang membuatnya berpikir dalam kalimat Jaemin barusan.

"Tunggu, berarti hari ini kau tidak latihan?" tanya Mark, membuat Jaemin terkejut atas pertanyaan yang tiba-tiba itu. Yang benar saja, Mark baru menyadarinya? "Bukankah bulan depan ada kejuaraan internasional di Jepang?"

"Err, yeah." Jaemin memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket sambil menghindari tatapan Mark. "Aku tidak ikut."

"Tidak ikut?"

"Ceritanya panjang." Jaemin menggaruk tengkuknya, berharap klise yang diucapkannya barusan dapat membuat Mark berhenti bertanya. Dan harapannya baru saja terpenuhi. Mark mengangguk-angguk, seolah jawaban itu sudah memenuhi segala rasa penasarannya.

"Sayang sekali, padahal tadi aku sempat berpikir kita bisa bertemu di kejuaraan itu," ungkap Mark. "Aku akan datang meliput ke sana bulan depan …."

"Benarkah?" Jaemin tampak terkejut.

"Yeah, aku baru saja diberitahu kalau aku terpilih untuk meliput ke sana hari ini." Mark tersenyum kecil. Ada sedikit kekecewaan terpantul pada kedua matanya.

"Ah … begitu." Jaemin mengangguk-angguk. Tanpa sadar, ia pun turut merasa kecewa. "Tapi Renjun dan Jisung akan ada di sana! Mereka selalu tampil bagus, pasti tidak akan mengecewakan!"

"Tentu saja, aku percaya atlet-atlet kita sudah berlatih dengan keras dan tidak akan mengecewakan," ujar Mark, antusias. "Ini tugas pertamaku untuk meliput kejuaraan internasional. Can't wait … I'm so excited."

Jaemin tersenyum. "You really like figure skating, eh."

"Not as much as you do, I think," timpal Mark.

Pembicaraan mereka terhenti karena bus yang sudah mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Tidak ada percakapan apapun terjadi di antara mereka sampai Mark berpamitan karena harus turun duluan — keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Mark bertanya-tanya mengapa Jaemin tidak ikut dalam kejuaraan internasional bulan depan, dan Jaemin memikirkan tentang apakah ia benar-benar mencintai figure skating atau tidak.

Ponsel Jaemin bergetar sesaat setelah Mark menuruni bis. Jaemin membiarkannya.

.

.

.

Delapan missed call dari nomor Huang Renjun tampil di layar ponselnya ketika Jaemin akhirnya memutuskan untuk mengeceknya, setelah ia sampai di kamar dan mengganti bajunya dengan piyama hangat. Ia menghabiskan beberapa menit untuk mempertimbangkan apakah lebih baik untuk menelepon balik. Mengingat Renjun biasanya hanya menelepon apabila ada hal yang benar-benar penting (tidak seperti Jisung yang kerapkali meneleponnya hanya demi bertanya trik mengalahkan karakter boss pada sebuah game) akhirnya Jaemin memutuskan untuk menelepon balik.

Tidak sampai tiga kali nada sambung terdengar, Renjun sudah mengangkat teleponnya.

"Kenapa tadi teleponku tidak diangkat?" Langsung terdengar tuntutan yang membuat Jaemin sedikit menyesal menelepon balik. Bahkan tidak ada halo. Tidak ada selamat malam. Atau apapun.

"Baterai ponselku hampir habis, aku sedang naik bus tadi," jawab Jaemin dusta. "Jadi, ada apa? Aku tahu biasanya kau hanya menelepon kalau ada hal yang penting."

Renjun menarik napas.

"Kembalilah latihan, Nana," gumamnya. "Kau yakin benar-benar tidak mau ikut kompetisi?"

Ganti Jaemin yang harus menghela napas karena pertanyaan Renjun ini. "Renjun, aku benar-benar mau berhenti, tentu saja aku tidak akan ikut kompetisi lagi. Lagipula, kompetisinya bulan depan, memangnya waktunya cukup untukku berlatih? Kau tahu aku sudah bolos berapa kali bulan ini, kan?"

"... Kau benar-benar yakin mau berhenti, Nana?"

Satu hal yang Jaemin senangi dari Renjun — ia tidak membuat dirinya terdengar sok tahu.

"Aku sudah cerita padamu panjang lebar, berkali-kali ... sesungguhnya kalau Pelatih Seo tidak menahanku seperti ini, aku sekarang mungkin sudah bukan bagian dari kalian lagi."

"Jangan bicara seperti itu, ah. Aku jadi sedih."

"Kau terlalu sentimental, Moomin. Kita kan masih teman."

Hening tercipta. Jaemin ingin memutus panggilan, namun ia menunggu Renjun mengatakan sesuatu terlebih dahulu.

"Satu kompetisi lagi saja, Jaemin." Ketika Renjun mulai menanggalkan panggilan masa kecil Jaemin — Nana —- Jaemin tahu ini artinya ia seratus kali lebih serius dibanding sebelumnya. "Aku ingin bertanding melawanmu sekali lagi."

Jaemin tersenyum kecil. Sahabat sekaligus rivalnya ini memang sedikit keras kepala.

"Hati-hati ya di Jepang." Akhirnya Jaemin memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Jangan lupa oleh-oleh."

Renjun mendengus. "Akan kubawakan satu kilogram wasabi."

Jaemin tertawa, dan setelah bertukar sapaan selamat malam yang akrab (Jeno akan cemburu berat kalau mendengarnya, tapi Jaemin memang selalu ingin menjahili pemuda Lee itu) akhirnya sambungan telepon di antara mereka berdua berakhir. Menyisakan Jaemin yang berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit yang tampaknya perlu dicat ulang karena sudah cukup kusam. Ia menarik napas dalam-dalam selagi berpikir.

"Not as much as you do, I think."

Kalimat Mark barusan kembali terngiang dalam benaknya, membuat Jaemin kembali bertanya-tanya: apakah ia memang benar-benar mencintai figure skating? Kalau iya, mengapa saat ini ia memutuskan untuk menyerah saja? Siapa yang salah di sini — sense-nya Mark, atau justru perasaan dan pemikiran Jaemin yang salah? Kepala Jaemin mulai berdenyut, pening dengan segala pertanyaan yang muncul di benaknya.

Padahal hari ini ia bertemu Mark untuk mendapat jawaban. Tapi yang ia dapat malah semakin banyak pertanyaan.

Mungkin, Jaemin harus menemui Mark sekali lagi.

Tangannya meraih ponselnya dengan malas, kemudian membuka aplikasi pemutar musik. Jumlah judul lagu yang disimpannya cukup banyak, mencapai ratusan, sehingga butuh waktu cukup lama baginya untuk memilih satu dari sekian banyak judul lagu yang ada dalam playlist-nya. Setelah menggulirkan layar selama beberapa saat, jarinya berhenti ketika matanya menemukan sebuah judul lagu.

Schindler's List dari John Williams. Lagu yang ia pakai untuk program pertamanya pada kompetisi tingkat nasional.

Ragu-ragu, Jaemin akhirnya menekan tombol putar.


to be continued

a/n: ahhhh kenapa alurnya jadi lambat banget begini ;u; kalau begini terus bisa-bisa jumlah chapternya lebih dari perkiraan … menurut kalian segini terlalu lambat gak? Kalau seandainya terlalu lambat, saya akan coba cepetin. Oh iya, mengingat saya di sini nggak bakal masukin konflik yang berat-berat banget, saya takutnya kalo alur lambat + nggak ada konflik berat jadinya ngebosenin, gitu …

anyway, chapter depan akan didedikasikan sebagian besarnya untuk flashback :) sama tentang usianya Mark di sini, saya sengaja ubah umurnya (tadinya mau disesuaikan dengan RL di mana dia cuma beda setahun sama Jaemin, tapi umur 21 udah jadi fotografer pro di majalah kenamaan itu macem too good to be true #nggaterima #sayaudah21+tapimasihjadibutirandebu) terus saya juga baru inget pas ngerjain chapter ini kalau Mark sebenernya bisa ice skating wkwkw.

Terima kasih yang sudah baca sampai sini, juga yang sudah review di chapter 1! Mohon maaf kadang saya suka bingung bales review … :") jadi saya kasih shout-out di sini aja kali ya? Ehe terima kasih banyak ludfidongsun, Park RinHyun-Uchiha, Perahu Basah, fangirlalala, lilyjeno, dan Iceu Doger yang sudah menyempatkan review! Juga buat semua yang baca, fave, dan follow, dukungan kalian jadi semangat saya ngelanjutin ini eheheh

Sampai jumpa chapter depan!

regards,

vanderwood