-Akan Kulakukan-

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T semi M (?)

Pair : GenmaKaka / KakaGenma (Sesuai alur)

Warning : Sho-ai, Angst ringan, Semi Canon, Typo(s), dsb.

Chapter 2

-Selamatkan Aku-

.

.

.

.

.

"Ck, sial, kepalaku sakit."

Di dalam sebuah ruangan bercahaya minim, lelaki dengan surai coklat sebahu sedang duduk bersandar diatas kasur king size miliknya. Matanya ia pejamkan rapat-rapat menahan luapan masalah yang memenuhi otaknya hingga terasa pening. Senbon yang setia menemani diantara bibirnya juga tak henti bergerak keatas dan kebawah, hal yang biasa terjadi disaat-saat begini. Kepalanya sakit.

Perkataan rekannya semalam benar-benar membuatnya dilema.

Haruskah ia melakukannya ? Menerima misi itu dan membunuh sahabat lamanya sendiri ? Tidak, ia tidak akan sanggup. Kakashi .. kenapa harus dia yang menjadi target selanjutnya ? Lelaki berambut perak itu terlalu berharga bagi Genma, sangat berharga dibanding apa pun. Bahkan ia masih memiliki niat untuk kembali ke Konoha dan menjadi shinobi seperti dulu, mengabdikan diri untuk desa, dan memperkuat pertemanan dengan rekan-rekan disana, terutama Kakashi.

Tapi Genma juga tidak bisa menolak misi itu. Ia telah berjanji untuk tetap membantu Yasu menuntaskan segala misi yang diterimanya. Genma benar-benar mengingat bagaimana pria yang satu matanya tertutup poni hijau itu membantunya untuk membalaskan dendam. Membunuh orang yang membunuh ayahnya dulu.

Dan orang itu adalah Ojima Toru, ayah Yasu sendiri ..

"Lakukan sekarang! Ini kesempatanmu! Jangan hiraukan aku, Genma-kun. Bunuh dia, cepat!"

"T-tapi .."

"Sekarang!"

"Ma-afkan aku.. putraku.."

"Arghh sial! Kejadian itu terus berputar di otakku, ck!" Genma mengerang, kepalanya sakit ketika detik-detik pembalasan dendamnya dulu berotasi ulang di kepalanya. Andai saja ia menanyakan sejak awal apa hubungan Yasu dengan pembunuh ayahnya dulu, keadannya pasti tidak akan seperti ini. Ia menyesal. Benar-benar menyesal sampai ia rela melakukan apapun untuk Yasu. Bahkan jika itu berarti menjadikannya sebagai pembunuh bayaran.

Walau begitu Yasu sama sekali tidak keberatan dengan kematian ayahnya. Pria berkaca mata itu mengatakan kalau memang sudah seharusnya orang yang dipanggilnya 'ayah' itu menemui ajalnya ditangan Genma. Dulunya Toru, ayah Yasu, adalah orang yang kejam, bukan hanya pada musuh-musuhnya, tapi istri dan anaknya sendiri juga ikut menjadi sasaran kesadisannya.

Sejak kecil Yasu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Toru, hanya penderitaan yang menggantikan rasa kasih sayang itu. Kata-kata kasar dan menyakitkan yang keluar dari mulut ayahnya sudah seperti makanan sehari-hari. Belum lagi siksaan fisik, pukulan, bahkan cambukan keras selalu ia dapatkan setelah sesi latihan ayah-anak berlangsung.

Faktanya, Yasu sama sekali tidak memiliki kemampuan ninja, menggunakan senjata pun ia tidak terlalu pandai. Dan itu menjadi satu-satunya alasan bagi Yasu menerima berbagai wujud tindak kekerasan di tubuhnya. Bakat yang ia miliki hanya ada dibidang medis, khususnya pada analis racun. Namun itu cukup membanggakan hingga Tsuchikage sendiri bahkan merekrutnya sebagai ketua tim medis bagian analis dan deteksi racun.

Akan tetapi Toru tidak menganggap prestasi Yasu adalah hal yang patut disanjung. Kepala keluarga Ojima itu berpikir kekuatan adalah segalanya, dan tanpa kekuatan Yasu tetaplah lemah.

Yasu tidak tahan lagi, kelakuan ayahnya sudah benar-benar diluar batas. Ibunya sendiri, ia temukan tewas dengan pendarahan fatal dikepala. Saat ditanya oleh warga sekitar, Toru mengatakan kalau istrinya tergelincir saat menuruni tangga dan kepalanya terbentur. Padahal ia lihat sendiri bagaimana orang tuanya bertengkar hebat malam itu. Dan yang terjadi selanjutnya, sang ayah mengambil guci keramik ukuran kecil lalu menghantamkannya ke kepala sang istri.

Biadab. Suami macam apa yang tega menghabisi nyawa istrinya sendiri ?

Sejak saat itu Yasu tidak menganggap Toru sebagai ayahnya lagi. Kebencian dan dendam telah merasuk hingga benar-benar dalam di hatinya.

Dan bagaimana Yasu mengetahui bahwa ayahnya-lah yang telah membunuh ayah Genma, itu berawal dari sebuah misi yang megharuskan ayah dan anak bermarga Ojima itu berada dalam satu tim. Mereka bertugas merebut gulungan rahasia milik Konoha yang menjalin kerja sama antar negara dengan desa Suna.

Salah satu ninja Konoha yang menjalani misi untuk mengantar dan membawa gulungan itu kembali adalah ayah Genma, beserta dua orang rekan ninja lainnya. Namun saat misi sudah hampir selesai dan para ninja Konoha hanya berjarak sekitar setengah kilometer lagi dari Konoha, Toru dan sang anak menyerang. Mereka berhasil menjatuhkan seorang ninja Konoha yang tak lain adalah ayah Genma.

Berharap orang yang mereka lumpuhkan adalah yang memegang gulungannya, karena dua ninja lainnya telah menjauh untuk mengutamakan misi. Perintah itu mutlak, eh ? Sungguh tidak manusiawi.

Sampai akhirnya dua ninja Iwa itu sadar, lelaki berambut coklat yang sudah cidera parah itu tidak memegang gulungannya. Yasu memutuskan untuk mengejar dua shinobi Konoha yang lari lebih dulu tadi, tapi ayahnya tidak berpikiran sama. Toru lebih memilih tinggal untuk menyiksa ninja Konoha itu, hingga tewas. Dengan cara yang kejam. Menghujani puluhan shuriken pada tubuh tak berdaya itu lalu melemparkan kertas peledak kearahnya. Jangan tanya bagaimana bentuk jasad ayah Genma setelah itu. Karena bahkan tim Konoha yang bertugas menjemput ayah Genma pun kesulitan untuk menemukan sisa-sisa tubuh jasad tak bernyawa itu.

Dan Yasu mengingatnya dengan jelas saat kata 'Shiranui' disebutkan oleh dua rekan ayah Genma yang lebih dulu pergi. Juga bagaimana penampilan orang itu sebelum menemui ajalnya. Rambut coklat sebahu dan wajah yang benar-benar mirip dengan Genma. Hanya berbeda dibagian mata, milik Genma jauh lebih dingin dan tajam.

Itulah kenapa Yasu bersikeras untuk membantu Genma saat mereka bertemu didesa Takigakure. Yasu membenci ayahnya, dan Genma memiliki dendam. Sebuah kolaborasi yang pas untuk membuang penderitaan dalam hati mereka.

Sayangnya Genma tidak mengetahui kalau orang yang menjadi tujuan balas dendamnya adalah ayah dari orang yang mati-matian membantunya. Ditambah lagi saat sebelum ayah Yasu menghembuskan nafas terakhir, orang itu meminta maaf kepada Yasu. Berkata kalau ia benar-benar menyesal atas perbuatannya selama ini. Dan Yasu, sebenci apapun ia tetap anak baik yang berhati lembut. Dan jadilah ia menangis sambil memeluk jasad ayahnya yang membiru.

Namun pria ramah itu tak menyesal. Ia merelakan ayahnya pergi, dan rasa benci serta sakit hatinya telah lenyap. Tapi Genma .. ia benar-benar menyesal. Kehilangan seorang ayah bukanlah hal yang mudah untuknya, maka dari itu ia merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa ia tega menghabisi nyawa pria tua yang merupakan ayah dari rekannya sendiri ? walaupun dendam tetap saja seharusnya ia memikirkan perasaan Yasu.

Jadi ia putuskan untuk menolong Yasu menjalankan misi-misi layaknya seorang pembunuh bayaran. Karena Yasu pun sudah berstatus missing-nin semenjak ia menetapkan pilihan untuk meninggalkan desa . Dan Tsuchikage menganggap itu sebagai sebuah ancaman, sebab bisa saja Yasu akan kembali untuk berbalik menyerang desa Iwa. Yah.. kalian tahu sendiri bagaimana sifat Tsuchikage saat itu. Mengantisipasi segala kemungkinan yang dapat memicu terjadinya perang adalah kebiasaannya― selain mengambil harta rampasan perang tentunya.

Setidaknya itu yang bisa Genma lakukan.

.

.

.

Pagi hari di Konoha, disaat sinar hangat mentari menyelinap masuk lewat sela-sela jendela yang tertutup gorden, diikuti sejuknya atmosfer fajar beraroma embun, membuat siapa saja enggan untuk menyia-nyiakan anugerah Tuhan yang satu ini. Sebagian penduduk sudah ada yang memulai aktivitasnya diluar rumah, sementara sebagian lain masih menyiapkan diri untuk menempuh hari dengan kesibukkan yang sudah menunggu. Namun tak sedikit juga yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya setelah beberapa jam melalui tidur nyenyak.

Salah satunya adalah Kakashi. Sudah hampir setengah jam ia terjaga, tapi mengingat misi yang akan ia lalui hari ini, membuat dirinya enggan untuk sekedar bangkit dari kasur nyamannya. Melirik malas pada jam kecil dimeja yang terletak disamping kasur, Kakashi meregangkan ototnya, lalu menyibak beberapa helai perak yang menghalangi kedua mata beriris abu-abu gelap itu.

Pukul 09.00.

Lewat satu setengah jam dari waktu yang ditentukan. Ia berpikir kalau Raidou saat ini pasti sudah mati bosan menunggunya digerbang desa, atau paling tidak ketiduran karena terlalu lama menunggu.

Dengan tas mini di punggung yang berisi perlengkapan misi, Kakashi berjalan santai menuju gerbang desa. Dari jauh ia dapat melihat Raidou yang sedang asyik bercengkrama ditemani Kotetsu dan Izumo. Baguslah, setidaknya Raidou tak mengalami depresi akibat kelelahan menunggu lebih dari 90 menit.

Kakashi tak berniat sedikit pun untuk mempercepat langkahnya sampai ia menyadari adanya sosok Tsunade yang ternyata juga ikut menunggu― dengan aura membunuh.

Oh tidak.

Kakashi mematung seketika. Ia tidak tahu jika Tsunade akan mengantar keberangkatan mereka pagi ini. Otak jeniusnya memikirkan alasan apa lagi yang akan menjadi tumbal atas keterlambatannya kali ini. Sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, Kakashi menghampiri mereka dengan senyuman khasnya. "Maa.. sepertinya semuanya sudah berkumpul"

Twitch

Perempatan kecil muncul di sudut kepala Tsunade. Kedua tangannya terkepal menahan emosi. Jika saja orang menyebalkan yang mendewakan keterlambatannya itu bukan penerus hokage berikutnya, ia pasti sudah menjadikannya makanan Katsuyu sekarang.

Tsunade menarik napas, mencoba menenangkan amarahnya. "Hampir saja aku mengirim anbu untuk menyeretmu kemari, Kakashi."

"Ah.. hokage-sama, maafkan aku, barusan―"

"Tidak ada alasan. Sekarang cepatlah berangkat sebelum kesabaranku benar-benar habis" Perintah Tsunade yang sukses membuat empat orang dihadapannya bergidik.

"B-baik!"

"Dan ingat. Pastikan tidak ada yang terbunuh. Aku bergantung pada kalian."

Kakashi dan Raidou mengangguk, lalu pergi menjauh sampai bayangannya tak terlihat lagi.

.

.

.

"Genma-kun, jika kau tidak bisa melakukan misi ini biar aku bicarakan lagi pada orang itu. Kuharap dia bisa―"

"Tidak perlu."

Yasu mengerjap. "Ehhh ? jadi kau akan melakukannya ?"

"Tidak"

"Ettooo .. lalu apa yang akan kau lakukan ?"

Genma menghela napas, ia benar-benar bingung harus melakukan apa. Kepalanya pening, matanya terpejam mencoba merilekskan pikirannya. "Entahlah Yasu. Bisa kau tinggalkan aku sebentar ? Kepalaku sakit"

Kali ini Yasu yang menghela napas. "Hhh.. Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin mengatakan sesuatu."

"Katakan"

"Barusan aku mendengar kabar bahwa Tsuchikage menyerahkan tugas penangkapan dan pengeksekusian pelaku pembunuhan Sasaki Daichi pada Konoha."

"Sou, itu bagus. Setidaknya aku bisa mati ditanah kelahiranku."

"Ck .. Apa yang kau katakan Genma-kun?! Aku tahu kau memang ingin kembali kesana, tapi kau harus tetap hidup! Bukan untuk mati membusuk didalam penjara!."

Genma terkekeh mendengar tanggapan Yasu, lalu membuka matanya. Menampakkan netra coklat karamel yang dingin, tajam, namun hangat disaat bersamaan. Yasu sendiri harus membiasakan diri untuk menormalkan detak jantungnya setiap menatap mata itu.

"Yare-yare, Yasu-chan~"

Dan suara itu. Suara dengan notasi sangat langka yang pernah Yasu dengar dari mulut Genma. Sebuah kalimat pendek tak berarti yang mengandung maksud menggoda. Dan entah kenapa itu malah membuat jantungnya semakin berdebar, beserta guratan merah padam yang bahkan Genma dapat melihatnya dengan jelas.

Genma menyeringai "Are ? Wajahmu memerah, kau sakit ?"

"T-tidak!" Genma tertawa lagi.

Beberapa saat kamar Genma diisi dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya Yasu bicara "A-ano .. Genma-kun, tidakkah kau berpikir kalau Konoha saat ini sedang mengirim ninja untuk melacakmu ?"

"Hm ? Memangnya kenapa ?"

"Apa kau akan ikut dengan mereka ?"

Ya .. mungkin Genma harus berterima kasih kepada Yasu karena telah menanyakan itu. Kepalanya makin sakit sekarang. Eh, tunggu sebentar. Jika benar Konoha mengirim ninja untuk menangkapnya, itu berarti ..

"Yasu, apa alasan orang itu untuk misi kali ini ?"

"Ehh, hmm .. Dia bilang karena Hatake Kakashi akan dinobatkan menjadi Hokage berikutnya. "

Mata Genma membulat. Dengan cepat ia menyambar tas kecil berisi senjata-senjata andalannya dan berlari keluar secepat mungkin. Meninggalkan keheningan bersama Yasu yang menatap kepergiannya dalam diam. Lelaki berkaca mata itu tahu apa yang ada dipikiran Genma.

"Apa aku harus mengikutinya ?"

.

.

.

Sementara itu .. Kakashi dan Raidou sedang berada disebuah kawasan serupa hutan, tapi agak berbeda. Pepohonan yang seharusnya ditumbuhi daun dan buah-buahan manis disana hanya tersisa batang dahan yang mengering, ditambah beberapa pohon besar yang tumbang menghalangi jalan. Hamparan tanah merah yang menjadi pijakan mereka juga tak kalah tandus dengan garis retakan disana-sini. Dan debu hitam, ini seperti .. bekas ledakan.

Mereka lanjut menelusuri area tersebut. Ternyata benar, telah terjadi pertarungan disini. Dilihat dari bercak debu hitam pada pohon-pohon tadi, bisa disimpulkan kejadian itu belum lama berlangsung, sekitar satu atau dua hari lalu. Hari yang sama dengan kematian Sasaki Daichi.

Kakashi berpikir keras. Apa Genma yang telah membuat ledakan di hutan ini ? Tapi itu tidak mungkin. Memang bisa saja teman lamanya itu melakukan ini, tapi untuk apa ? Daichi sendiri bahkan bukan seorang ninja, dan pengawal-pengawalnya yang ikut terbunuh juga ditemukan tewas dikediamannya. Jadi tidak mungkin Genma melakukan hal mubazir seperti membakar hutan hanya untuk menewaskan seorang pria tua. Kakashi tahu betul sifat Genma yang tidak suka menyia-nyiakan apapun, terutama waktu dan senjata. Meledakan sebuah hutan kecil butuh lebih dari selembar kertas peledak bukan ?. Lagi pula, Daichi wafat dengan tubuh membiru disebuah lorong gelap, bukan terbakar dalam hutan seperti ini.

Sibuk dengan pikirannya sendiri, Kakashi merasa beberapa orang sedang megawasi mereka dari jauh. Raidou yang juga menyadari itu melirik Kakashi, dan dibalas dengan anggukan kecil.

DUAARRRR

Sebuah bom kecil tiba-tiba jatuh kearah mereka dan langsung meledak. Untungnya Kakashi dan Raidou dapat segera menghindar jadi mereka tidak terkena efek ledakan itu. Meski terbilang kecil, dampak ledakan bom itu cukup luas. Menyisakan kepulan asap tebal dan kobaran api yang masih bertahan di ranting-ranting pohon.

Perlahan asap-asap yang mengepul mulai tertiup angin, bersamaan dengan munculnya satu kelompok yang diduga penyebab terjadinya ledakan barusan. Lima orang berjubah hitam dengan aksen tiga garis kuning melingkar dikedua lengan. Masing-masing dari mereka memegang senjata, seperti tantoo (katana kecil), katana, jouhyou (dua besi yang dihubungkan dengan rantai), gada, dan belati kecil. Ditambah seorang lagi berkostum sama namun berbadan lebih besar, sepertinya dialah yang menjadi pemimpin dari kelompok tersebut. Di saku celananya menggantung tas kecil berisi bom-bom mini.

Batin Kakashi bersyukur, ternyata memang bukan Genma yang membuat hutan ini mati akibat ledakan.

"Hoo .. kita beruntung. Sang mangsa menghampiri predatornya ya ?" Si pemimpin geng tertawa diikuti para bawahannya.

Raidou dan Kakashi saling pandang. 'Mangsa' ?

"Oh, jadi kau membawa teman ? Kurasa tidak apa-apa jika dia ikut. Yaa .. walaupun mungkin bayarannya tidak setinggi dirimu, Hatake." Seringai setan muncul diwajah ke enam orang itu.

Raidou mengernyit, "Apa maksudmu ?"

"Kau tidak tahu ? Calon hokage ke enam yang sekarang berdiri di sampingmu itu sedang menjadi incaran bos-bos Yakuza saat ini. Dan kami, dengan senang hati akan membantu mereka." Ia menyeringai lagi.

Raidou mulai hilang kesabaran, tangannya mengambil kunai dan hampir saja diluncurkan jika Kakashi tidak melarangnya.

"Jangan kalian pikir kami takut, para ninja Konoha. Walaupun kalian memiliki kemampuan yang luar biasa, tapi kalian kalah jumlah. Dan jangan menganggap kami ini hanya berandalan kelas bawah, kekuatan setiap orang dari kami dapat dibandingkan dengan seorang chuunin, heh"

Kakashi memutar bola mata sementara Raidou mendengus jengkel. Membosankan. Sudah sering mereka mendengar bualan seperti itu, dan hasilnya ? Nihil.

"Jadi, bersiaplah .."

Tiga buah shuriken melesat kearah Kakashi dan Raidou yang dapat ditangkis dengan mudah menggunakan kunai. Dua shinobi itu melompat mundur mengambil jarak aman, menganalisa terdapat lima orang petarung jarak dekat ditambah seorang pemegang bom.

Tiga pria pemegang tantoo, jouhyou, dan belati menyerang Kakashi dengan cepat, tak membiarkan Kakashi memlliki kesempatan sedikit pun untuk membuat segel. Sedangkan Raidou menghadapi dua orang lainnya pemegang katana dan gada. Ternyata benar, kemampuan para 'berandal kelas bawah' itu tidak bisa diremehkan.

Sang pemimpin geng hanya mengamati pertarungan dari jauh sambil menunggu waktu yang tepat untuk bertindak. Jangan sampai anak buahnya sendiri ikut menjadi korban dari bom-bom mini kesayangannya.

Sebuah belati hampir menikam perut Kakashi bersamaan dengan datangnya serangan tantoo di kakinya, membuat pria bersurai perak itu melompat tinggi untuk menghindar. Namun tiba-tiba lompatannya terhenti saat lilitan rantai jouhyou menarik kakinya dengan kuat.

"Kakashi-san!"

"Katon : Goukakyuu no Jutsu!"

Dalam sepersekian detik semburan bola api raksasa berhasil Kakashi lancarkan saat tubuhnya menyentuh tanah. Sangat cepat. Menyebabkan semua yang menyaksikan jadi terperangah, tak terkecuali Raidou. Tiga orang yang melawan Kakashi terpental jauh dengan luka bakar disekujur tubuh, namun tidak begitu parah. Kakashi memanfaatkan situasi untuk melepas lilitan di kakinya dan mengamati keadaan.

Masih dalam posisi duduk, Kakashi melihat jelas si pemimpin kelompok sedang berlindung dibalik pohon besar sementara ketiga anak buahnya meringis kesakitan.

Menoleh kearah lain, Raidou yang masih tercengang mengembalikan konsentrasinya pada musuh. Ia tak mau kalah dengan Kakashi yang dapat mengalahkan tiga lawannya dengan satu serangan. Dua bilah kunai ia luncurkan kemasing-masing musuhnya yang sialnya dapat dihindari ―meski agak sulit karena perhatian mereka masih fokus pada aksi Kakashi sebelumnya―.

Kakashi menatap Raidou yang membalas dengan seringai kecil. "Jika kau tidak keberatan, Kakashi-san. Lebih baik kau tetap duduk disana sambil memperhatikan aku membereskan dua orang ini."

Kakashi terseyum simpul. "Dan jika kau tidak keberatan juga, Raidou. Dua orang itu sedang berlari kearahmu sekarang"

"Heee ?"

Sebuah Gada besar menghantam kepala Raidou dengan cepat, tapi masih kalah cepat dengan Raidou yang menunduk terlebih dahulu. Dalam hatinya ia bersyukur Kakashi memberi aba-aba tadi, walau hampir telat. Tak lama seorang pemegang katana menyusul untuk menyerang, Raidou segera berdiri dan menangkis sabetan katana itu dengan kunai. Mereka bertarung sengit, tetapi Raidou yang hanya menggunakan kunai kalah cepat dengan teknik katana, ia hanya bisa menangkis dan menghindar tanpa bisa membalas. Pria berambut coklat itu perlahan mundur seraya menahan serangan katana dari si lawan. Sampai punggungnya menyentuh pohon besar, ia tersudut.

"Butuh bantuan, Raidou ?" Kakashi sudah kembali berdiri dengan sebilah kunai ditangannya, siap untuk membantu.

Namun Raidou menolak dengan cengiran. "Itu tidak perlu." Katana besar yang ia tahan menggunakan kunai didepan wajahnya mulai melemah. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Raidou menendang tubuh si pemilik katana hingga jatuh. Tapi kemudian sebuah gada besar kembali menyerang kepalanya. Raidou dengan sigap menahan gada itu degan kedua tangan diatas kepala.

Tiga orang yang terpental akibat bola api Kakashi sepertinya sudah mulai pulih. Si pemimpin memberikan masing-masing bom kepada mereka yang dari gelagatnya sudah siap melempar alat peledak tersebut.

DUARRR

DUARRR

DUARRR

Tiga bom mini bergantian menyerang kearah tempat Kakashi menghindar. Memperparah keadaan tandus di hutan itu. Pepohonan yang ia pijak bahkan sampai hangus dan rapuh, tidak ada lagi dahan yang sanggup untuk menopang tubuhnya. Raidou yang sedang menghadapi dua musuhnya juga hampir terkena ledakan. Ia melompat mendekati Kakashi, sedangkan lawan-lawannya berdecak kesal karena bom tersebut.

"Hey kalian! Lihat-lihat kalau ingin melempar!"

"Kalian lambat. Bos sudah menunggu lama"

"Ck, itu lebih baik dari pada terkena serangan"

"K-KAU!"

Kakashi dan Raidou hanya menghela napas melihat lima orang lawannya yang malah memaki satu sama lain.

Tunggu, lima orang ? Kemana yang satunya ?

"Aku disini"

DAGG

Si pemimpin berandal tiba-tiba muncul dari belakang dan langsung memukul tengkuk dua jounin itu. Sangat keras, hingga mereka tersungkur ketanah dan tubuhnya sulit digerakkan. Lemas. Sepertinya pukulan itu mengenai satu titik syaraf mereka.

"Kalian lengah" si pelaku menyeringai. Tangannya meraih dua buah jarum yang dapat dipastikan mengandung racun.

Kakashi yang masih merasakan sakit ditengkuknya belum dapat bangkit. Sedangkan Raidou masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia benar-benar lemas, tubuhnya sulit digerakkan. Matanya menatap was-was terhadap ke lima musuh yang sekarang sudah berkumpul dengan pemimpinnya.

"MATILAH KALIAN!"

Dua buah jarum dengan kecepatan tinggi mengarah ketubuhnya dan Raidou, jika saja ia masih memiliki sharingan, pastinya benda tajam itu sudah berpindah ke dimensi lain. Ia pasrah. Tubuhnya benar-benar sulit digerakkan.

Matanya terpejam menanti serangan yang sesaat lagi akan menancap ditubuhnya. Batinnya miris.

Kami-sama ..

Jika ini akhir kehidupanku

Sebelum aku mati

Kumohon, sekali saja

Pertemukan aku dengan―

TRINGGG

―Eh ?

"Kalian berdua, cepat menyingkir!"

Suara itu ..

"Cepat!"

Dia ..

"Kakashiii!"

Itu Genma!

Kakashi segera membuka mata untuk melihat orang yang memanggilnya, tapi sial, hal pertama yang ia lihat malah sebuah bom yang sedang melaju cepat ke arahnya. Tanpa pikir panjang Kakashi segera membawa Raidou pergi menjauh, tak repot-repot memikirkan bagaimana kekuatannya bisa kembali lagi.

DUAARRR

"Cih, apa-apan kau Shiranui ? Seranganku gagal total!"

"Kalian pergilah, mereka milikku"

"Apa katamu ? Seenaknya saja kau bicara!"

"Heh, tidak kusangka kalian akan menggunakan racun buatanku untuk menghabisi dua orang itu" Genma menyeringai.

Kakashi yang baru saja mendudukan Raidou untuk bersandar di pohon seketika mengalihkan pandangannya pada Genma. Racun ? Jadi racun yang terdapat dalam jarum-jarum itu buatannya ? Apa dia .. ada hubungannya dengan para berandalan itu ?

"Memangnya kenapa ? Kau keberatan ? Aku memiliki banyak jarum dengan racun buatanmu disini" Tangan kekar si pemimpin menepuk tas kecil disakunya. "Kalau kau masih ingin menghalangi kami, dengan senang hati racun-racun buatanmu sendiri yang akan menjadi penyebab kematianmu."

Mata Kakashi tidak lepas dari Genma, namun otaknya tetap memproses setiap pembicaraan yang ia dengar. Tanpa sadar mulutnya mengucap satu nama dengan jelas "Genma .."

"Nanti saja bicaranya, Kakashi. Sekarang kita bereskan dulu orang-orang ini, kau masih bisa bertarung ?"

Kakashi menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha menyadarkan kembali pikirannya yang campur aduk. "Ya"

Genma mengangguk. "Pertama, kita habisi dulu yang lemah!"

Puluhan senbon tak beracun menyerbu ke lima bawahan si pemegang bom tanpa aba-aba. Seraya melompat Genma mendekati Kakashi yang sudah siap dengan segelnya.

"Raiton : Shiden!"

Genma takjub melihat kilatan ungu menyatu ditangan Kakashi. Apa itu chidori ? Bukan. Raikiri ? mirip, tapi berbeda warna. Ia harus menanyainya setelah ini.

Musuh-musuhnya yang tertancap puluhan senbon satu-persatu jatuh tak bernyawa akibat serangan kilat ungu Kakashi yang bersarang dijantung mereka. Beres.

Sekarang tinggal si pemimpin.

"A..nak.. buahku .." Pria berbadang besar itu menatap horor kelima bawahannya yang gugur begitu cepat. Ia memasang kuda-kuda dengan tangan kiri memegang tiga bom mini dan yang satunya memegang banyak jarum beracun. Tak rela jika harus dikalahkan secepat itu. Dua orang lawannya itu baru saja bertemu, tapi kenapa bisa sangat cepat mengalahkan lima bawahannya ? Tidak, ini tidak boleh terjadi, ia tidak bisa menerima kekalahan. "Kalian tidak akan kuampuniii!"

DUAARRRR

Satu bom meledak ketempat Kakashi berdiri. Bodoh, jasad para bawahannya malah jadi hangus sekarang. Kakashi melompat jauh keatas dahan pohon yang masih kuat.

DUAARRRR

DUAARRRR

Dua bom. Genma berhasil menjauh. Berarti tinggal jarum-jarum itu. Jangan sampai ia atau Kakashi terkena racun buatannya sendiri.

"Kakashi! Jangan sampai terkena jarum-jarum itu!" Genma berteriak dari jauh memperingati Kakashi, tanpa diberitahu pun sebenarnya Kakashi sudah tau. Namun Kakashi tetap mengangguk, mengiyakan nasihat teman lamanya.

Si penjahat mulai menyerang dengan jarumnya, di selingi lemparan bom yang tersisa pada kedua musuhnya. Senjatanya hampir habis, peledak mini andalannya juga sudah ia lemparkan semua, kini hanya tinggal sebuah jarum beracun ditangan yang menjadi alat serang terakhirnya.

Tapi pria bertubuh besar itu malah menyeringai.

Kakashi dan Genma was-was. Mereka tidak menyerang balik sama sekali sejak tadi, tapi melihat seringaian diwajah orang itu, perasaan mereka gelisah.

Dan akhirnya melesatlah senjata terakhir sang pemimpin berandal. Genma bersiap, namun jarum itu tidak datang kearahnya. Tidak juga kearah Kakashi.

Jangan-jangan ...

Raidou!

Genma menghunuskan kunai untuk menghalau jarum itu, tapi meleset. Sial, tidak ada waktu lagi. Secepat kilat Genma menggerakan tubuhnya berlari kearah Raidou, lebih baik benda beracun itu menancap ditubuhnya sendiri. Ia tidak ingin temannya mati karena racun buatannya sendiri. Jangan sampai terlambat, ia harus cepat. Harus.

SATT

Tidak mungkin.

Ia ...

Terlambat

Tubuhnya membeku seketika melihat kegagalan didepannya. Kakashi ... Kakashi yang melindungi Raidou dengan tubuhnya! Payah payah payahhh!, Genma merutuki dirinya sendiri. Sekali lagi ia merasakan penyesalan.

Kenapa ? Kenapa dirinya tidak bisa melindungi bahkan untuk satu orang saja ? Ia sudah cukup kehilangan orang terdekatnya. Ayah, ibu, adik .. dan sekarang .. orang yang benar-benar ingin ia temui setelah sekian lama malah mengorbankan dirinya sendiri untuk temannya. Kenapa bukan dirinya saja yang terkena racun buatannya sendiri ? Kenapa harus Kakashi ?

Rasa kecewa dan amarah merasuki dirinya. Bayangan tubuh Kakashi yang telah ambruk membuat amarahnya semakin dalam.

Ia tidak akan membiarkan orang itu hidup.

Dengan aura gelap Genma berdiri, mengambil kunai dengan kertas peledak sebanyak mungkin dan tanpa jeda melemparkannya kearah sasaran. Pemimpin geng itu harus mati ditangannya. Bagaimanapun caranya.

BUMMM

DUAARRR

DUAARRR

Puluhan kertas peledak yang Genma lesatkan bersama kunai meledak tanpa bisa dihindari. Perlahan kepulan asap efek ledakan mulai mereda, memperlihatkan tubuh tak bernyawa si target. Tubuh kekarnya dipenuhi kunai yang menancap, juga darah bercampur abu ledakan mewarnai sekujur tubuhnya. Ingin rasanya ia memutilasi lalu mencincang jasad orang itu, tapi tidak, ada hal yang lebih penting.

Genma melompat tergesa menghampiri Kakashi yang tergeletak didepan Raidou. Ia memperhatikan Kakashi, tubuh berbalut seragam itu sudah membiru dengan nafas tercekat. Tanpa sadar mata karamelnya terpejam, dibarengi tetesan air mata membasahi kedua pipinya.

Dengan erat tubuh tak berdaya Kakashi ia peluk sambil menahan tangis.

'Bagaimana sekarang ? Apa yang harus kulakukan ? Berpikir. Ayo berpikir Genma, nyawa temanmu sedang terancam akibat racun―'

"Penawar!"

Matanya terbelalak. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan membaringkan kepala Kakashi diatas kakinya. Lalu merogoh terburu-buru kedalam tas persenjatan yang ia bawa. Dalam hati ia berharap botol kecil berisi satu-satunya harapan hidup bagi Kakashi itu tidak tertinggal dirumah.

Ketemu. Tanpa buang-buang waktu Genma segera menyuntikkan penawar itu ke lengan Kakashi, tempat yang sama dimana jarum beracun tadi menancap.

"Kumohon masih sempat. Sadarlah Kakashi .."

"Nggh .."

Genma terkejut mendengar suara erangan didepannya, bukan milik Kakashi, melainkan Raidou. Heh, bahkan ia sampai lupa dengan temannya yang satu itu.

Raidou memegang tengkuknya yang terasa sakit, namun sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Matanya samar menangkap sesosok bayangan pria berambut coklat didepannya, dan terkejut setelah melihat Kakashi.

"Gen..ma ? Kau Genma kan ! Apa yang .. Kakashi― ughh"

"Tenanglah, tubuhmu masih belum bisa banyak bergerak. Kurasa Kakashi sudah aman sekarang" Genma melihat warna kebiruan ditubuh Kakashi mulai memudar. Ia menghela napas. Syukurlah, kali ini ia tidak terlambat.

"Tapi .."

"Nanti akan kuceritakan kejadiannya." Genma tersenyum menenangkan, sekarang semuanya sudah baik-baik saja dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Setidaknya pada Kakashi, karena Raidou terlihat masih ragu walau ia mengangguk.

Tak lepas kedua mata karamel Genma memandang lekat wajah Kakashi. Tak ingin kehilangan sedetikpun reaksi yang mungkin akan Kakashi lakukan, yah .. meski masih belum sadar. Tapi sejak kecil Kakashi selalu selangkah lebih awal, dalam hal apapun. Jadi Genma menarik kesimpulan hal itu juga akan berlaku saat ini.

Ia terkekeh memikirkannya, membuat Raidou menatap bingung.

Dan benar saja .. Kakashi mulai membuka mata. Dua mata yang seingat Genma memiliki warna berbeda. Tapi tidak kali ini. Dua mata itu berpendar abu-abu gelap dikedua sisi, menatap lemah pantulan dirinya di mata Genma.

Jantung Genma berdebar kencang, rasanya seperti mimpi bisa bertemu dengan Kakashi lagi. Sedekat ini. Tapi yang terpenting dari semua itu .. Kakashi selamat, ia masih hidup.

Tangan kanan Kakashi perlahan bergerak keatas, berusaha menggapai wajah Genma, menyentuhnya begitu lemah dengan kekuatan yang tersisa. Tak sadar air mata Genma menetes lagi, menemui ujung jari Kakashi di pipinya.

Genma tersenyum, air asin dari kedua matanya ia seka kuat-kuat. Tangan kirinya menggenggam erat tangan Kakashi. Membawa telapak tangan pucat itu menyentuh pipinya dalam keheningan.

Kakashi merasa sakit di seluruh tubuhnya. Tapi ia tidak peduli. Ia benar-benar ingin menyentuh Genma, meyakinkan dirinya sendiri bahwa orang terakhir yang ingin ia temui itu nyata. Bibirnya perlahan terbuka, mencoba bicara walau tenggorokannya begitu perih.

"Gen..ma ..." Yang dipanggil hanya tersenyum.

"Aku .. di.. sini .. untukmu " Kakashi menarik napas dan membuangnya perlahan. "Aku akan .. menyelamatkanmu"

Tiga kata terakhir yang Genma dengar sebelum Kakashi tertidur―efek penawar― . Jika saja ia tidak ingat kalau tubuh Kakashi masih sangat sensitif bahkan terhadap gerakan kecil, ia pastikan tubuh lemah itu sudah berada dalam pelukannya lagi saat ini. Pria berambut coklat itu tersenyum. Ia senang. Sangat senang. Tak pernah ia merasa sebahagia ini sebelumnya.

Dengan lembut Genma menarik tangan Kakashi yang sejak tadi menyentuh pipinya,menggenggamnya singkat sebelum memberikan kecupan di punggung tangan itu.

"Ya, Kakashi .. selamatkan aku"

.

.

.

.

.

TBC