-Akan Kulakukan-
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T semi M (?)
Pair : GenmaKaka / KakaGenma (Sesuai alur)
Warning : Sho-ai, Angst ringan, Semi Canon, Typo(s), dsb.
Chapter 3
-Pulang-
.
.
.
.
.
"Kakashi, aku bawakan bubur. Biar aku suapi"
Aroma sedap bubur buatan Genma menyegarkan indra penciuman pria berambut perak yang saat ini sedang terbaring diatas sebuah kasur besar. Bau lezat itu membuat setiap orang yang menciumnya dapat menebak dengan mudah bagaimana rasa makanan itu, begitu pula dengan Kakashi. Apalagi Genma saat ini sudah berada tepat disamping tubuhnya, duduk bersandar pada kepala tempat tidur sambil meniup-niup sendok berisi satu suapan penuh.
Tidak ingin membebani sahabatnya, Kakashi berniat untuk makan sendiri. Ya .. meski tubuhnya masih terasa sakit, tapi kalau hanya menyuap beberapa sendok bubur dengan posisi duduk, shinobi Konoha itu yakin ia masih sanggup.
Kakashi mencoba bangkit, namun tangan Genma dengan cepat menahan kedua pundaknya untuk kembali berbaring. "Diam"
"Genma aku bisa―"
"Diam"
"Kau tidak perlu―"
"Diam"
"Tapi aku―"
"Kakashi, diam. Atau aku harus mengikat kedua tanganmu agar kau tidak mencoba bangun lagi ?"
"Hh.." Kakashi merosot. Tubuhnya ia tenggelamkan lagi ke balik selimut dengan perasaan jengkel. Untung saja wajahnya itu tertutup masker, jika tidak pasti Genma sudah melihat bagaimana ekspresi cemberut Kakashi sambil mem-pout-kan bibirnya.
Kakashi mengerjap beberapa kali. Benar juga, kalau temannya itu ingin menyuapinya berarti ..
Ia harus membuka maskernya,
dan makan dengan wajah telanjang,
Oh tidak ..
"Oi, Kakashi .. ayolah, bagaimana aku bisa memasukan makanan ini kedalam mulutmu jika masker itu masih menghalangi ?" Genma memutar bola mata.
"Ah, iya aku tahu, tapi―"
"Hm ? Oh, tanganmu masih sulit digerakkan ya ? Baiklah, akan kubantu"
Genma mengulurkan tangannya menuju wajah Kakashi yang tertutup masker. Jantung pria dihadapannya berdegup kencang. Baru kali ini Kakashi akan memperlihatkan wajahnya kepada orang selain mendiang ayahnya. Sebenarnya calon hokage ke enam itu tidak keberatan jika Genma ingin melihat wajahnya.
Tapi tidak. Tidak untuk sekarang. Bukan waktu yang tepat untuk menunjukkan rupa miliiknya disaat kondisinya masih lemah seperti itu.
"Jangan!"
"A-apa ?" Pria bersenbon itu tertegun. Tangannya yang tadi terulur digenggam erat oleh Kakashi yang memandangnya dengan tatapan tegas.
Hingga mata mereka saling pandang. Abu-abu gelap bertemu coklat karamel. Sangat indah. Untuk sesaat Genma merasa terhipnotis oleh dua netra gelap didepannya. Tak disangka satu mata malas yang ia lihat dulu telah berubah menjadi dua sisi kelam yang begitu memikat.
"Tidak, Genma, aku bisa makan sendiri."
Genma tersadar. Oke, dia mulai kesal sekarang. Teman lamanya ini sama sekali tidak berubah dalam urusan keras kepala. Sebenarnya apa yang dipikirkan Kakashi ? Tubuhnya itu masih terasa sakit karena efek racun yang belum sepenuhnya hilang, tapi kenapa pria bermasker itu masih gigih ingin melakukannya sendiri ? Dasar kepala batu.
"Ck, Kakashi, sudah cukup!" ia geram. Mangkuk berisi bubur ia letakan diatas kasur lalu menahan dua pergelangan tangan Kakashi dengan satu tangan.
"Kita sudah bicarakan ini dan aku tidak terima penolakan." Tangan satunya menyentuh, mulai menarik turun masker Kakashi―
"Jadi kau harus... "
―dan membukanya.
Hening
Mata Genma melebar, mulutnya terbuka perlahan sampai senbon yang tersemat dibibirnya jatuh membentur mangkuk, membuat suara 'tringgg' yang cukup nyaring.
Pria bersurai coklat itu terperangah, takjub akan pemandangan indah didepannya.
Wajah Kakashi .. jadi beginilah wajah yang selalu tertutup masker hitam itu ? Hidung sempurna bak pahatan tangan dewa Yunani, bibir tipis dengan pipi yang tidak chubby juga tidak terlalu tirus, serta tahi lalat kecil di bawah sudut kiri bibirnya, Kakashi .. lengkap. Ia sempurna. Sungguh, jika ia memiliki wajah seindah itu, untuk apa ia gunakan masker selama ini ?
Genma mengerjap, menggeleng kecil untuk menarik kesadarannya kembali. Tangannya ia lepaskan dari masker Kakashi tanpa memasangnya kembali. Genggaman di kedua pergelangan tangan temannya juga ia lepaskan. "G-gomen aku telah memaksamu, Kakashi. Tapi kau harus makan sekarang"
Satu suapan bubur telah berada tepat didepan bibir Kakashi. Dengan malas pria itu membuka mulutnya dan mulai makan. Tenggorokannya masih terasa perih, sampai ia terbatuk dan Genma langsung memberinya minum.
Kakashi pasrah, ia tidak melawan lagi. Sejak suapan pertama Kakashi sadar kalau Genma tidak menatapnya sama sekali. Hanya fokus untuk memasukan sendok demi sendok suapan bubur kedalam mulutnya. Menyakitkan, mungkin Genma tidak ingin melihatnya lagi karena wajah ini, pikirnya.
Tapi tidak, Kakashi tidak tahu kalau dari awal Genma sudah bersusah payah untuk tidak terpana ketika melihat wajah itu, dan setiap kali pesona itu tertangkap indra penglihatannya, jantung Genma berdebar. Pikirannya mulai kemana-mana. Ada perasaan aneh yang menguat dalam dirinya seperti .. saat dulu.
Genma sadar akan hal itu, itulah kenapa ia berusaha untuk tidak melihat wajah Kakashi, atau perasaannya akan semakin kuat, dan Kakashi akan meninggalkannya. Ia tidak mau.
Pada akhirnya mereka memilih diam sampai suapan terakhir dimulut Kakashi habis.
Sudah lewat 7 jam sejak pertarungan Genma, Kakashi dan Raidou melawan para berandal bawahan Yakuza. Genma meminta Raidou untuk tinggal dikediamannya sampai Kakashi pulih. Awalnya Raidou menolak, karena walau bagaimana pun teman lamanya itu sudah berbeda, mengingat ia merupakan seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi sekarang. Tapi melihat bagaimana pria dengan senbon itu mengkhawatirkan Kakashi, Raidou berubah pikiran.
Saat sampai di rumah, Yasu terkejut mendapatkan Genma sedang menggendong Kakashi di punggungnya. Ia pikir Genma baru saja menyelesaikan misi yang ia katakan kemarin, tapi kemudian ia buang jauh-jauh pikirannya itu. Karena Genma tidak akan tega membunuh temannya sendiri, lagi pula jika Genma memang melakukannya, untuk apa ia sampai membawa Kakashi kerumah ? Ditambah seorang jounin Konoha yang berdiri disampingnya, membuat Yasu semakin yakin.
Ia mengerti, jadi segera ia merapikan sebuah kamar untuk Raidou menginap. Hanya Raidou ? ya, karena Genma langsung membawa Kakashi ke kamarnya dengan alasan jaga-jaga jika barangkali racun ditubuh Kakashi bereaksi kembali. Padahal Yasu tahu jika sudah diberi penawar, racun itu akan berhenti bekerja. Tapi ia tidak membantah. Mungkin Genma ingin merawat Kakashi sendiri, pikirnya.
Selama Kakashi masih terbaring pulas di kamar Genma, Raidou memanfaatkan situasi untuk beristirahat di kamar yang telah disiapkan oleh Yasu. Hal pertama yang Raidou tangkap ketika melihat Yasu adalah, pria berkaca mata dengan rambut hijau terang itu adalah rekan Genma. Rekan yang membantunya untuk menjadi seorang pembunuh bayaran mungkin ? atau orang itu adalah orang yang Genma temui di desa Taki ?
Uggh. Kepala Raidou sakit. Ia akan menanyakan hal itu pada Genma nanti.
Tok tok
Raidou mengernyit. Genma kah ?
"A-ano, aku membawakan makan malam."
Ternyata orang itu. Raidou segera bangkit dari kasur lalu berjalan kearah pintu, membukanya sambil tersenyum. "Ah, terima kasih. Maaf merepotkan."
"Tidak apa, boleh aku masuk ?"
Raidou mengerjap. Masuk ? "Ah, uh .. tentu"
"Terima kasih" Yasu tersenyum ramah lalu memasuki kamar. Makanan yang ia bawa diletakkan diatas meja kecil disamping tempat tidur. "Aku letakkan disini ya, umm .."
"Raidou. Namiashi Raidou."
Pria bersurai hijau itu tersenyum lagi, mengangguk kecil. " Hm. Namiashi-san. Jika perlu sesuatu katakan saja. Namaku Yasu. Ojima Yasu."
"Panggil saja Raidou. Aku tidak biasa dipanggil seperti itu." Raidou tertawa kaku sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Eh .. umm baiklah. Kalau begitu kau juga harus memanggilku Yasu, Raidou-san." Senyuman lembut terukir di wajah Yasu, membuat Raidou diam sesaat, balas tersenyum.
"Sekali lagi terima kasih, Yasu."
Akhirnya lelaki berkaca mata itu pergi setelah mengucapkan "Ha'i~" pada Raidou.
.
.
.
Di ruangan lain, tepatnya di sebuah kamar besar yang biasanya bercahayakan satu-dua lilin kecil sebagai sumber penerangan, kini diterangi sebuah lampu yang sanggup menyebabkan si empunya kamar merasa silau. Namun itu tidak masalah, asalkan sahabat lamanya yang saat ini ikut menempati ruangannya merasa nyaman, hal sekecil itu bukan apa-apa.
Bukannya Genma tidak menyukai suasana terang atau semacamnya, tapi lelaki bernetra karamel itu lebih memilih suasana gelap dengan sinar beberapa lilin kecil. Hal itu membuat pikirannya tenang dan mudah untuk tidur lebih cepat. Tidak seperti Kakashi yang malah mencegah dirinya sendiri terlelap lebih awal.
Alasannya tentu saja karena ia tidak ingin terbangun tengah malam akibat mimpi buruk ..
Genma menghela napas. Tubuhnya ia rebahkan disamping Kakashi, tidak dekat juga tidak jauh. Hanya berjarak beberapa puluh centimeter dengan satu guling sebagai pembatas. Pembatas ? oh tentu saja. Ia harus menjaga diri agar tidak khilaf memeluk Kakashi.
Yah .. meski itu tidak berguna karena guling yang menjadi penghalang tubuhnya dan Kakashi akhirnya ia singkirkan dan malah balik mendekat dengan posisi telungkup. Menghadapkan kepalanya kearah Kakashi, menatap wajah terlelap di depannya dengan lembut. Memandang begitu lekat hingga tanpa sadar bibirnya menarik lengkungan kecil.
Merasa tak nyaman, Genma merubah posisi. Tubuhnya ia miringkan menghadap Kakashi tanpa melepaskan pandangannya.
"Hh .. Sebenarnya kau ini ninja atau bukan ? Bisakah setidaknya kau bergerak tanpa membuat guncangan ?" Tiba-tiba Kakashi bicara melirik ke arah Genma yang menjawab dengan kekehan kecil.
"Bukan. Aku pembunuh bayaran"
Senyuman diwajah Genma membuat Kakashi berpikir. Begitu ya, meski dibilang pembunuh bayaran, Genma masih memiliki dan menggunakan kekuatan ninja untuk bertarung. Dan meski begitu Kakashi juga masih harus tetap menyelesaikan misinya, membawa Genma pulang.
Sorot matanya memandang langit-langit atap. Merenungkan kata-kata yang pas untuk menjelaskan maksud kedatangannya. Namun hal itu ia kesampingkan saat Genma menatapnya heran dengan sebuah pertanyaan. "Ada apa ?"
"Tidak." Bohong, sepertinya memang sulit menuturkan tujuannya. "Jadi kau membuat racun yang masuk ke tubuhku ?"
Genma mengangguk, mengembalikan posisi tidurnya ke keadaan terlentang. "Maaf.."
"Bukan salahmu"
Senyum tipis membalas ujaran Kakashi. "Jadi .. bisa kau jelaskan sekarang ?"
Kakashi diam. Sedikit tersentak dengan pertanyaan Genma. Tentunya mantan shinobi Konoha disampingnya itu sudah mengerti maksud dan tujuannya, tapi tetap saja tidak mudah bagi Kakashi untuk menjelaskan hal itu secara langsung.
"Kau akan membawaku ?"
Hening
Tetap tidak ada jawaban
"Hh .. Kau seperti anak kecil saja"
Kini Kakashi menoleh. "Kau mau ikut ?"
Tawa kecil keluar dari mulut Genma, diikuti seringai pada bibirnya. "Tidak semudah itu, baka."
Kakashi ikut tertawa mendengarnya. Senang rasanya bisa bercengkrama seperti dulu lagi. Ya.. meski Kakashi tahu hal menyenangkan ini tidak akan bertahan lama. Karena setelah ia dan Raidou membawa Genma kembali ke Konoha, sahabat lamanya itu akan langsung diadili dan menjadi seorang tahanan.
Memilukan, Kakashi tidak ingin itu terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, hal itu adalah misinya dan satu-satunya harapan agar Genma dapat kembali ke Konoha.
"Kakashi .."
Genma berbisik. Kakashi merasa rambutnya dielus dengan lembut. Sangat nyaman. "Hmm ?"
"Tidak. Tidak jadi."
Mengernyit. Kakashi merasa penasaran. "Ada apa ?" Tanyanya sambil membalikan tubuh menghadap Genma yang masih terlentang dengan satu tangan yang terus mengusap pelan pucuk kepalanya.
Pura-pura terkejut, Genma ikut berbalik menghadap Kakashi hingga wajah mereka berdekatan, lalu menarik tangannya dari surai lembut Kakashi. Masih memasang ekspresi yang sama pria berhelai panjang sebahu itu mengalihkan topik "Kau sudah bisa menggerakkan tubuhmu ?"
"Hh.." kakashi memutar bola mata. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Genma."
"Katakan itu pada dirimu" wajah Genma menampilkan seringai meremehkan, membuat Kakashi diam. Bukan karena ekspresi menghina dari temannya itu, melainkan kata-katanya. Tapi Kakashi tetap tidak mau kalah.
"Ma.. setidaknya aku tidak menyia-nyiakan tenagaku yang masih lemah ini hanya untuk menjelaskan kepada orang yang sudah mengerti sejak awal."
Kena. Perkataan Kakashi membuat Genma bungkam. Tapi tak apa, sudah lama ia tidak mendengar kalimat sindiran seperti itu.
Tawa kecil terdengar lagi. "Itulah kenapa aku bisa datang saat kau dan Raidou hampir terbunuh tadi siang."
"Aku tahu, terima kasih" Kakashi merebahkan tubuhnya untuk terlentang kembali.
Tidak membalas, Genma hanya tersenyum tanpa Kakashi melihatnya. Perlahan ia meraih satu tangan Kakashi, membawa tangan lemah itu untuk menyentuh pipinya, lalu memejamkan mata. Menciptakan lirikan bingung dari Kakashi.
"Tahan sebentar, Kakashi. Waktuku tidak banyak, sebelum aku resmi berada dalam penjara."
Kakashi tak kuasa menahan senyum getir. Kata-kata Genma bagai sebuah pedang yang menyayat hatinya. Perih. Tidak rela jika sahabatnya ini harus menjadi tahanan Konoha. Ingin rasanya ia melarikan diri bersama Genma dan keluar dari semua masalah rumit ini. Tapi hal itu hanya akan membuat semuanya makin kacau. Dan Kakashi tahu jelas, kabur tidak akan menyelesaikan apapun.
Genma membuka mata, mencium singkat punggung tangan Kakashi sebelum menariknya, menempatkannya di pipi sekali lagi. "Kau tidak keberatan ?"
"Kenapa aku harus keberatan ?"
Bibir Genma menarik senyum tipis sembari memejamkan mata. "Tidak. Lupakan."
Kakashi terkekeh. "Genma .. aku ingin duduk, kau bisa bantu ?"
"Tidak usah aneh-aneh. Bisa berbalik seperti tadi saja itu sudah bagus, tubuhmu masih belum kuat, Kakashi." Menghela napas, Genma membuka mata lalu melirik malas pada Kakashi.
"Baiklah aku sendiri saja" Kakashi menarik tangannya dari Genma dan berusaha bangkit, sebelum pria disampingnya berdecak kesal.
"Ck, aku bersumpah akan mengikatmu, Kakashi."
"Aku hanya ingin duduk Genma, aku bosan, badanku pegal" Kakashi mengalihkan pandangan, pura-pura kesal.
Genma diam, ia jadi tidak tega, tapi ia juga ragu untuk membiarkan Kakashi duduk. Pria bermata karamel itu tahu racun di tubuh temannya memang sudah tidak bereaksi lagi, tapi kalau terlalu banyak bergerak rasa sakit dari efek cairan berbahaya itu bisa datang kembali. Sampai penawarnya benar-benar membunuh habis sel-sel racun yang tersisa, barulah Kakashi boleh bergerak seperti biasa.
Mempertimbangkan cara agar Kakashi berhenti merajuk, akhirnya Genma terpikirkan suatu. Dan pastinya Kakashi tidak akan menolak. "Hh.. Kau harus mengerti Kakashi, aku sudah menjelaskannya bukan ? Aku tidak bisa membiarkanmu duduk untuk sekarang, tapi jika kau memang bosan―"
Kakashi menaruh perhatiannya lagi pada Genma, menunggu penjelasan selanjutnya.
Tapi yang ditunggu malah bangun, duduk bersandar seraya mensejajarkan kaki dengan santai "―pindahlah kesini". Ia menepuk pahanya.
Satu alis terangkat, Kakashi tampak kesal. Saran temannya itu sama sekali tidak membantu. "Dan aku hanya akan berbaring. Itu tidak merubah apapun, Genma."
"Pindah saja."
"Ck" Kakashi makin kesal, tapi ia menurut juga. Tubuhnya perlahan ia gerakan untuk berpindah posisi, menggunakan kaki Genma sebagai bantalan kepalanya. Ternyata benar, tubuhnya terasa sakit lagi hanya dengan menggeserkan tubuh sedikit. Beda dengan sebelumnya saat ia memiringkan tubuh. "Ugghh .."
Genma mendengus "Heh, keras kepala. Coba kau bayangkan bagaimana jika kau mencoba duduk."
"Yare-yare .. aku minta maaf"
"Hm." Tangan Genma meraih sebuah tas kecil disamping tempat tidur, tas milik Kakashi. Ia membuka dan langsung merogoh kedalamnya. Mencari sebuah benda yang ia ingat tidak akan pernah Kakashi lupa untuk membawanya kemanapun pria bermasker itu pergi.
Dapat. Ia langsung menyerahkannya pada Kakashi yang saat ini sudah terbaring di pangkuannya dengan ekspresi malas. Meski wajahnya tertutup masker tapi Genma dapat melihatnya dengan jelas. "Ini"
Mata Kakashi membulat, sedikit berbinar saat ia mengambil benda kecil berwarna hijau dari tangan Genma. Sebuah buku dengan ejaan ' Icha Icha Tactics' diatasnya. Ya, novel kesayangan Kakashi.
Genma memperhatikan respon yang diberikan sahabatnya. Lucu sekali. Tawa kecil terlepas dari mulutnya setelah lelaki itu menangkap kata "Terima kasih" dari Kakashi.
Sekali lagi Genma menahan dirinya untuk tidak memeluk tubuh lemah itu. Memang pria bersurai perak yang saat ini asyik membaca buku sambil berbaring dipangkuannya itu tidak menolak segala skinship yang Genma berikan. Tapi tetap saja ia tidak ingin membuat Kakashi merasa tak nyaman.
Ia menghela napas, menyandarkan kepalanya pada kepala tempat tidur. "Hh.."
"Kenapa ?"
"Tidak." Genma menundukkan kepalanya untuk melihat Kakashi. Mengamati dua mutiara bernuansa hitam redup yang sedang menatap datar rentetan kata dalam novel favoritnya. Seketika ingatannya tentang rupa Kakashi muncul kembali dengan jelas. Menampakkan dalam benak betapa sempurna wajah orang tersayangnya ini.
Sial. Genma tidak tahan lagi.
"Kau tidak tidur ? ini sudah lewat tengah malam"
"A-apa ?" Seketika Genma tersadar dari lamunannya, lalu melirik sekilas kearah jam. "Ah, benar. Tapi kau harus tidur juga."
"Kau pikir aku bisa tidur secepat itu setelah penawar yang kau berikan membiusku lebih dari 5 jam ?" Tanya Kakashi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. Genma terkekeh.
"Sebentar lagi juga kau akan mengantuk, lihat saja"
Pria bersurai perak dipangkuan Genma menautkan alis, namun seperti terpengaruh dengan perkataan temannya tadi, rasa kantuk tiba-tiba datang menyerangnya. Menimbulkan rasa berat yang melemaskan otot-otot matanya dengan kuat. "Sial, sejak kapan kau belajar genjutsu ?"
"Efek obat, Kakashi. Efek obat."
"Hoaamm .. Yare-yare" Kakashi menutup novel ditangannya dan meletakkan buku hijau itu di samping tubuhnya. Matanya mulai terpejam. "Oyasumi Genma"
"Oyasumi mou, Kakashi"
Dan Kakashi pun terlelap dipangkuan Genma.
Lelaki yang masih terjaga diatasnya menyibak helaian perak Kakashi dengan lembut. Menatap wajah dibawahnya sambil tersenyum tipis."Suki da, Kakashi. Suki"
Dan Genma akhirnya tertidur setelah memberi kecupan lembut di kening Kakashi.
.
.
.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Tempat tinggal Genma dan Yasu bernuansa lebih ramai dengan kehadiran Kakashi dan Raidou. Mereka berempat menjadi akrab ―khususnya untuk Yasu―, mengisi rumah yang biasanya jarang terdengar suara, dengan gurauan serta sindiran humor. Menciptakan kehangatan tersendiri bagi mereka.
Genma dan Kakashi semakin dekat, mempererat sebuah ikatan yang dulu sempat terhenti. Raidou tak heran jika kedua temannya ini akan kembali menjadi sepasang sahabat seperti dulu, meski ia melihat ada sorot berbeda ketika dua lelaki itu saling tatap satu-sama lain. Tapi itu tak masalah.
Dan dengan suasana sekarang, Yasu tak pernah merasa sesenang ini. Dua ninja Konoha dan rekan kerjanya tak sungkan ikut menyeret dirinya dalam sebuah perbincangan atau candaan. Itu semua membuat hatinya hangat, rasa mendalam yang begitu menyenangkan. Ia merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga kecil, hal yang tak pernah Yasu dapatkan sejak lahir.
Ia juga turut menyadari adanya perubahan dari Genma. Jika biasanya pria yang selalu mengulum senbon itu sangat-sangat jarang bicara, kini orang tersebut tak segan untuk bercengkrama layaknya orang kebanyakan. Yasu bagai melihat keajaiban. Ia senang, mendapati kenyataan bahwa temannya memiliki orang-orang yang mampu membuat dirinya nyaman― terutama Kakashi.
Pria bersurai perak itu menjadi faktor utama yang ―Yasu amati― menimbulkan perubahan positif pada Genma. Tak jarang ia menangkap pemandangan saat tangan Genma dan Kakashi tak sengaja bersentuhan, atau dalamnya tatapan mereka terhadap satu sama lain, pun dengan berbagai debat ringan yang bermakna sebatas ejekan. Yasu bersyukur Genma memiliki seseorang seperti Kakashi.
Namun segala kebahagiaan itu harus berakhir. Kini mereka berempat sudah berada dekat dengan Konoha, berhenti sejenak untuk membahas beberapa hal.
Dari awal Genma sudah tahu bahwa tujuan Kakashi dan Raidou adalah untuk menangkapnya― menangkap pembunuh Sasaki Daichi. Ia tidak keberatan sama sekali untuk ikut dengan mereka dan kembali ke Konoha, meski nantinya akan berhujung dalam sel.
Tapi tidak dengan Yasu. Pria ekspresif itu sebenarnya tidak masalah jika harus ikut mendekap di penjara, toh dia juga terlibat dalam pembunuhan Daichi. Namun Genma melarang. Menurut lelaki itu Yasu seharusnya tidak perlu sampai bersedia ikut ke Konoha, karena yang melakukan pembunuhan langsung adalah dirinya, bukan Yasu.
Sepertinya Genma masih merasa menyesal dengan kematian Toru. Setelah Yasu menjelaskan kalau dirinya sudah lelah menjalani misi-misi kotor dari petinggi Yakuza, akhirnya Genma melunak. Lagi pula di Konoha ia tak akan disiksa, paling-paling hanya diinterogasi saja, pikirnya.
Dan disinilah mereka sekarang, berjalan masuk menuju gerbang Konoha dengan kedua tangan diikat kebelakang. Di pimpin Kakashi yang berjalan paling depan, dan Raidou di urutan terakhir. Menjaga tahanan eh ? Prosedur yang sia-sia. Karena tanpa dikawal pun kedua tahanan mereka tidak akan kabur.
Beberapa langkah setelah menyapa Kotetsu dan Izumo di pintu gerbang, datanglah empat orang anbu yang bertugas membantu pengawalan. Hal mubazir lagi, Genma mendengus karenanya.
Sepanjang jalan pria berambut coklat itu mengedarkan pandangan. Memperhatikan setiap detil perubahan di desanya. Entah karena dampak perang dunia ke-empat telah berakhir atau karena kelima negara sudah saling bekerja sama, Genma merasa suasana disini lebih damai dari yang ia ingat. Sangat damai hingga tak ada sepatah kata pun yang terulas pendengarannya.
Ini aneh. Apa ada yang salah ?
Oh, bukan. Ia sadar. Ini bukan kedamaian. Ini hanyalah kondisi sesaat dimana setiap warga yang sedang beraktivitas di sepanjang jalan berhenti cuma untuk memperhatikan dua tawanan yang digiring menuju kantor hokage. Menggelikan. Rasanya Genma ingin tertawa dengan keadaan ini. Bahkan para anak kecil yang berlarian juga ikut menyingkir demi mengamati jalannya rombongan mereka.
Ia tak peduli dengan tatapan orang-orang itu, tapi mungkin Yasu tidak demikian. Sedikit khawatir dengan temannya, Genma melirik sekilas. Dilihatnya Yasu yang berjalan tegap menatap lurus kedepan, tak lepas dengan wujud senyum kecil menghias wajahnya. Genma membuang napas lega. Syukurlah, ternyata Yasu sudah menyiapkan diri dengan keadaan ini.
Dalam setiap pijakan kakinya Genma teringat sewaktu ia masih menjadi bagian dari Konoha. Walau sekarang statusnya adalah seorang tahanan, tapi ia masih bersyukur dapat kembali menginjakkan kaki ditanah kelahirannya. Ah senang sekali rasanya, setelah belasan tahun akhirnya ia bisa pu―
"GENMAAAAA!"
―lang.
"GENMAAA, HEY! KAU GENMA KAN ?"
Astaga .. siapa orang gila yang berani-beraninya meneriaki sekumpulan ninja dengan kawalan anbu ? Hampir saja delapan orang yang sedang menuju kantor hokage itu terkena serangan jantung.
Bahkan Yasu sampai pucat. Jelas saja, siapa yang tidak kaget mendengar teriakan sehebat itu disaat suasana hening, bahkan setengah mencekam.
Tapi melihat Kakashi menghela napas, Genma menyipitkan mata kearah sumber teriakan. Orang itu dengan antusias melambaikan tangan kearah mereka, diatas sebuah kursi roda dengan pemuda berpenampilan sama dibelakangnya.
Secepat kilat pemuda itu membantu pria dikursi roda hingga sampai tepat dihadapan Kakashi. Dengan seksama Genma memperhatikan si sumber teriakan, yang kini memasang wajah .. err horor ? terkejut ? Entahlah, Genma tidak bisa mendefinisikan ekspresi pria itu, karena cengiran lebar yang melengkapi mimik orang didepannya membuat wajah itu terlihat aneh.
Jadi ia simpulkan, ekspresi horor lebih pantas untuk disebut ketimbang terkejut.
"Hey, Kakashi. Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan membawa pulang kawan lamaku ?" Tanya lelaki dikursi roda dengan tangisan deras dari kedua matanya. Hal berlebihan yang tak aneh Kakashi dapati dari sang 'rival abadi'.
Genma menyipitkan mata. Ah, pria hijau itu, ia ingat sekarang. Lelaki kelebihan semangat yang tak lelah menantang Kakashi. Kadang ia jengkel dengan kedekatan orang tersayangnya dan orang aneh itu.
"Kakashi, bisa kita lanjutkan ? Kurasa para anbu juga ingin segera menyelesaikan tugasnya."
"Eh, kau! Ternyata benar kau Genma! Tapi ada yang kurang, apa ya ?" Jari telunjuk dan ibu jarinya mengusap dagu, memasang pose berpikir.
"Ah, Guy .. Genma benar, sebaiknya kami segera―"
"SENBON! Itu dia! Mana jarum itu ? biasanya kau tidak pernah melepasnya dari mu― Whooo tunggu! Kenapa tanganmu diikat ? Dan dan .. dan siapa orang itu ?" Heboh Guy saat mengacungkan telunjuk kearah Yasu. "Kakashi, jelaskan padaku!"
Si empunya nama menghela napas sementara Genma memutar bola mata. Yasu yang bingung dengan keramaian satu orang didepan sana hanya bisa tersenyum kaku.
Melirik Genma yang terlihat tidak nyaman, Kakashi mengerti. "Maaf Guy, aku akan menjelaskannya nanti. Tapi sekarang kami harus segera menuju kantor hokage atau Godaime akan menghancurkan meja lagi. Lee, kau bisa mengatasinya kan ?" Kakashi memberi senyum kepada Lee yang langsung membalas dengan gestur hormat.
"SIAP, KAKASHI-SENSEI!"
Dan akhirnya pemuda itu mendorong kursi roda Guy menjauh secepat mungkin.
"Ooii Lee, pelan-pelaannn.."
.
.
.
"Hokage-sama, besok laporannya akan segera ku berikan."
"Ya. Para anbu, bawa dua tahanan itu kedalam sel yang sudah disiapkan. Kalian dibubarkan."
Empat orang anbu, Kakashi serta Raidou mengangguk. Genma dan Yasu sudah dibawa keluar dengan para anbu tadi disusul Raidou. Namun tidak dengan Kakashi.
"Kakashi, kau tetap disini. Ada hal yang ingin kubicarakan"
Pintu tertutup, menandakan tidak ada siapapun lagi selain mereka berdua diruangan hokage. Kakashi dapat menebak apa yang akan dikatakan kunoichi sannin itu nanti.
"Aku senang kau kembali dengan selamat, Kakashi. Tapi setelah ini, kau dilarang keluar desa lagi. Mengerti ?!"
Yup. Persis sama dengan yang dipikiran Kakashi. Pria bersurai perak itu menghela napas parah "Hai'i"
"Dan Kakashi,"
"Hm ?"
"Karena kau akan dinobatkan menjadi penerus hokage berikutnya. Kemarin para tetua itu menyeretku kedalam rapat dadakan. Cih, padahal tumpukan kertas dimejaku masih menggunung."
Gerutu sang Godaime membuat Kakashi ingin tertawa, namun ia tahan, atau keselamatannya akan terancam.
"Kami membicarakan beberapa hal penting, dan salah satunya keberadaanmu di desa." Ucap Tsunade dengan tegas.
"Ah, maafkan aku" Tanpa beban Kakashi tertawa kaku, sang Hokage hanya menghela napas mendengar respon tak jelas itu.
"Kau juga harus membaca file-file hokage terdahulu, Kakashi! Kenapa sulit sekali menyuruhmu melakukan hal ringan seperti itu ?!"
"Etto .."
"Satu hal lagi, dan kau harus menurut untuk hal ini. Karena para orang tua itu gencar sekali mengoceh didepanku padahal mereka tahu ini tidak akan mudah."
"Apa itu ?"
"Sebelum dinobatkan menjadi Rokudaime Hokage, kau harus memiliki pendamping, Kakashi."
Hening.
Kakashi tersentak. "P-pendamping ? Maksud anda .."
"Ya, carilah teman atau siapapun itu yang kau cintai untuk mendampingi hidupmu."
"Tapi .. bukankah anda sendiri tidak memiliki pendamping ?"
Twitch
Tsunade merasa terhina dengan pertanyaan Kakashi.
Melihat situasi, Kakashi segera meralat ucapannya "Ma-maksudku bukankah sampai saat ini para tetua itu tidak menyuruhmu untuk mencari pendamping ? Lalu kenapa aku harus ?"
Satu tarikan napas dalam-dalam Tsunade lakukan dan membuangnya perlahan. Menenangkan amarahnya.
"Karena dulu aku dinobatkan menjadi hokage disaat Konoha dalam keadaan genting. Kursi kekuasaan harus secepatnya diisi sebelum ada pihak yang memanfaatkan."
Kakashi diam, setuju dengan alasan yang diberikan Tsunade. Karena bisa saja para negara besar lain tiba-tiba datang menyerang saat itu.
"Lagi pula umurku sudah tidak muda, Kakashi."
Apanya ?
"Di umurku yang sekarang tidak penting lagi adanya seorang pendamping."
Ini mulai tidak masuk akal.
"Tinggal bersama Shizune― keponakan dari Kato Dan, sudah seperti sebuah keluarga bagiku."
Ck, sial.
"Jadi, Kakashi. Kau tidak boleh menolak perintah ini."
"Tapi―"
"Tidak ada tapi-tapian! Kau boleh keluar sekarang"
"Ha'i"
Kakashi pun meninggalkan ruangan bersama helaan napasnya sekali lagi. Mungkin ia harus membeli beberapa aspirin untuk menyambut sakit kepalanya yang mulai berdatangan.
.
.
.
.
.
TBC
Nb : sedikit penjelasan, di chapter satu Ara sebut disitu kalo "Raidou adalah teman se-tim Genma saat masih genin", padahal yang sebenarnya itu tim geninnya terdiri dari Genma, Guy, dan Aoba. Tapi sengaja di fic ini ara buat Raidou teman se-tim nya, karena emang mereka deket. Jadi anggap saja begitu ^^
Yosh, ditunggu review nya :)
-Aoi Hasegawa
