-Akan Kulakukan-
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T semi M (?)
Pair : GenmaKaka
Warning : Sho-ai, Angst ringan, Semi Canon, Typo(s), dsb.
Chapter 7
-Bebas-
.
.
.
.
.
Hatake Kakashi. Tinggi 181 cm, berat 69 kg. Rambut sedikit mencuat berwara keperakkan, bekas luka di mata kiri, dan menggunakan masker setiap saat. Salinan langsung dari Si Taring Putih Konoha ? Sudah Pasti. Rank Jounin, dengan imbuhan "–sama" di akhir namanya ―Ia benci ini― karena tak lama lagi gelar Rokudaime akan disandangnya. Berpenampilan malas dan terkesan apatis. Status : Lajang, alias sendiri, alias jomblo.
Hey! Aku benci kalimat terakhir itu! Memang apa salahnya jika aku masih lajang ?
.
"Hoammm.. Ohayou Kakashi" Genma tersenyum padaku, dari balik selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Wajahnya cerah, padahal mengingat kejadian kemarin di mansion Hyuuga...
"Kau.. sepagi ini ? Kita mau kemana ?"
Aku mengernyit, menatap bingung sahabatku itu yang belum bergerak seinci pun dari posisinya. Sedangkan aku sudah rapih lengkap dengan beban yang menunggu untuk ditemui. Ini tak adil. "Bukan kita, tapi aku."
"Hanya.. sendiri ?"
Aku mengangguk. "Bangunlah pemalas, aku ada urusan sebentar."
Dalam sekejap ekspresi malasnya berubah mengeras. Aku .. tidak salah bicara kan ?. Lalu tiba-tiba dia bangun, mengambil handuk dan berjalan ke kamar mandi. Tetap dalam ekspresi yang sama : Datar. Dingin. "Sampaikan salamku pada Nao"
BLAM
Bagaimana .. dia tahu ?.
.
"Hahh.." Jam 08.00 pagi. Kenapa Tsunade-sama menyuruhku bertemu wanita Hyuuga itu sepagi ini ? Heh, keluarga Hyuuga pasti sudah memberitahukan masalah kemarin. Pengadu.
"Kakashi-kun.. O-ohayou gozaimasu."
Ini dia. "Yo"
"Gomen ne, kau jadi harus menunggu sepagi ini di taman. Ku kira kau bersama―"
"Langung ke intinya saja" Kataku. Aku tahu jelas tujuan arah pembicaraannya itu. Sial.
Dia mengangguk.
Hyuuga Nao, wanita yang baru kemarin malam hampir membuat bijuu yang tersegel di perutku mengamuk. Bercanda, aku bukan jinchuriki. Tapi aku bersyukur, karena jika tidak, diriku benar-benar akan mengamuk bersama bijuu yang tak terkendali dan meratakan komplek Hyuuga dengan tanah.
"Kakashi-kun, sebenarnya aku .. menyukai―"
Oh ayolah, tujuan pertemuan ini hanya untuk mengklarifikasikan masalah kemarin malam, lalu kenapa sekarang dia terlihat seperti ingin menyatakan perasaannya padaku ?
"―Genma-san"
DEG
"Aku tahu mungkin ini tidak masuk akal bagimu, baru kemarin malam aku menghinanya, meminta dirimu untuk menjauhinya, tapi sekarang aku malah berkata seperti ini"
Dia tertawa kecil.
"Dari awal aku tidak perah setuju dengan perjodohan ini, maafkan aku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Ayahku terus memaksaku untuk menyetujui perjodohan ini dan menikah denganmu. Maka dari itu .. semalam ..."
"Kau tahu yang kau lakukan itu menyakitkan ?"
"Maafkan aku! Sungguh aku tidak bermaksud menyakiti siapapun. Aku tahu yang ku lakukan itu salah. Aku .. karena keegoisanku .. telah melukai dan mengecewakan banyak pihak. Terutama dirimu."
Ia tersenyum.
"Tapi, hanya dengan cara itu aku dapat terbebas."
Terbebas apanya ?
"Aku berusaha menyukaimu, Kakashi-kun. Mengubur perasaan terpendamku dan memupuk cinta yang baru. Tapi itu sia-sia, hatiku sakit."
Ia tersenyum getir, dengan kepala menunduk. Menutupi kesedihan mendalam dengan paras cantiknya. Indah, walau tersiksa.
"Setidaknya, meski aku tak bisa bersama dengan Genma-san, aku ingin bebas. Aku tidak bisa menikah denganmu Kakashi-kun. Aku ingin melepas perasaanku, benar-benar melepasnya."
Aku tak mengerti. "Hyuuga-san, kau―"
"Dirimu juga .. harus terbebas, Kakashi-kun" Sekarang dia tersenyum lagi. Wajah cantiknya yang semula menatap kosong tanah rerumputan, kini melihatku. Menatapku seperti .. menaruh sebuah harapan.
"Aku yakin kau bisa melakukannya .. "
Apa ?
"Aku mendukungmu, Kakashi-kun. Kau harus segera menyatakannya atau dia akan direbut orang lain" Kekehan halusnya terdengar meledek.. sungguh, aku tidak mengerti.
"Hyuuga-san, sebenarnya―"
"Tapi jika itu 'dia' .. aku yakin tak ada wanita yang cukup mampu mendekatinya. Karena sepertinya 'dia' juga menyukaimu"
"Apa yang kau katakan ?"
"Sampaikan maafku untuk Genma-san. Kutunggu kabar baiknya. Selamat tinggal .."
Dia pergi, setelah membungkuk sebagai permohonan maaf dan formalitas, lalu tersenyum. Meninggalkanku sendirian di taman yang luas ini bersama teka-teki rumit yang menusuk-nusuk kepalaku begitu saja.
Ah benar, jam berapa sekarang ? kuharap masih tersisa sedikit waktu untuk sarapan.
.
"Tadaima"
"Okaeri"
Aku memasuki rumahku, dan melihat seorang pria dengan senbon di mulutnya sedang mengasah sebuah belati. Biasanya, aku lebih memilih meninggalkan jam makan pagi ketimbang harus memasuki rumah. Karena semua terasa hampa, rumah ini hanya dipenuhi suasanya sunyi tanpa suara. Juga kenangan mengerikan yang terkadang merasuk kembali dalam mimpi burukku.
Namun sekarang, dengan senang hati aku akan memperpanjang waktu keterlambatanku demi berlama-lama di rumah. Kalau ditanya kenapa .. aku juga tidak tahu.
"Genma, dimana sarapanku ?"
Aku melempar tatapan menyelidik. Baru sadar kalau rambut coklatnya terikat asal dibelakang kepalanya. Berpakaian kaos biru gelap panjang dan celana panjang senada.
Dia menatapku, menaikkan satu alis secara seduktif. Jengkel ? lucu sekali. "Hah ? Sarapan apa yang kau maksud ?"
"Hh.." Aku menghampirinya dan duduk di sofa yang sama, di sampingnya. "Sekarang sudah jam 09.45 dan aku kelaparan. Kau tega membiarkan menu sarapanku terlewat hari ini ?"
Tapi dia hanya menyeringai, kemudian kembali memberi atensinya pada belati yang baru saja ia asah, lalu mengelapnya. Mengecek dengan ujung jari apakah tajam senjata itu sudah setingkat yang ia inginkan. Bodoh, sejak dulu sifat masochist-nya belum berkurang sedikit pun. "Hentikan itu"
Dia berhenti.
"Kau yang bilang, sekarang sudah jam 09.45. Sarapan apanya ?" Seringainya semakin jelas terbentuk. Dasar, menyebalkan sekali orang ini.
"Yare-yare.. ayo kita cari sarapan diluar."
"Aku menunggumu mengatakan itu, baka" Dan dia tertawa.
Aku menyerah. "Kenapa kau tidak memasak saja ? Masakanmu itu sanggup membuat berat badanku meningkat drastis, kau tahu ?"
"Tidak"
"Kau masih marah ?"
Hening
"Genma, sebenarnya―"
"Ayo pergi, aku lapar"
Dia .. jelas marah. Seharusnya aku tidak bertanya hal itu tadi, ck. Pagi tadi ia baik-baik saja sebelum aku―
―menemui Nao.
.
.
"Genma, ada yang ingin kubicarakan"
"Habiskan makananmu, kita bisa terlambat mengambil form laporan"
"Lupakan itu, aku sudah mengambilnya"
"Kapan ?"
"Setelah menemui wanita itu"
"..."
"Genma .."
"..."
Sungguh, aku tidak mengerti dengan sikapnya kali ini. Kenapa dia mengabaikanku ? Di benar-benar marah ? Tapi kenapa ?
Ck, bahkan dia tak mau menatapku.
"Ooooooii Kakashi-senseeeeiiii"
Astaga! Telingaku!
"Naruto, bisakah kau tidak berteriak ? Kau tepat di belakangku tadi"
"Ahaha, gomen gomenn.. kau sedang apa disini ? Di jam seperti sekarang ?"
Muridku, Naruto, langsung menempatkan diri duduk di kursi yang sama denganku, berseberangan dengan Genma. Tanpa rasa bersalah. Dasar.. Ia menatapku aneh seolah-olah aku tengah melakukan hal tidak senonoh. Hahh.. ujian mental.
"Yah .. seperti yang kau lihat"
Ekspresinya seketika berubah cemberut, namun masih terlihat samar raut bingung yang menjengkelkan. "Maksudku kenapa kau makan sekarang ? Biasanya kan .."
"Karena aku lapar."
"Tapi kan―"
"Lapar"
"Kau―"
"Lapar"
"Aku belum s―"
"Lapar"
"Hei! Berhenti memotong kalimatku Senseiii!"
"..."
"Kenapa kau diam ?"
"Agar kau bisa melanjutkan kalimatmu"
"Arrggghhhhh... kau benar-benar menyebalkan Kakashi-sensei!"
Aku tertawa kecil.
"Are ? Siapa dia ? Dia temanmu, Kakashi-sensei ?"
Aku lupa, Naruto belum mengenal Genma. Tapi .. sepertinya Genma masih belum bisa diganggu. Dia tetap acuh, meski barusan ia mendengar kegaduhan dari Naruto. Hah..
"Dia .. "
"Aku Shiranui Genma, salam kenal" Tanpa kuduga, Genma memperkenalkan dirinya sendiri. Diakhiri dengan senyuman kecil.
Bohong, itu bukan senyum.
"Ahh, senang bertemu denganmu Genma-san! Aku Uzumaki Naruto, murid kesayangan Kakashi-sensei. Salam kenal"
Apa dia bilang ? Murid kesayangan ? Seenaknya saja dia bicara sambil menampilkan cengiran lebar seperti itu.
"Aku tahu, siapa yang tidak mengenalmu, Uzumaki-san ? Pahlawan dari perang dunia Shinobi ke-4. Senang bertemu denganmu juga"
"E.. kau terlalu berlebihan .. panggil saja aku Naruto"
Bocah kuning itu mulai lagi.
"Ne, ne, Sensei .. kudengar kau akan segera menikah, apa itu benar ? Kenapa kau tidak memberitahuku ? Teganya kau Sensei."
Kenapa Naruto harus membahas hal itu ?. Lenyapkan saja aku bersama hari yang menyebalkan ini...
"Jangan percaya sekenanya dengan kabar burung, Naruto."
"Eh.. tapi aku mendengarnya langsung dari Hinata. Dan itu bukan kabar burung. Jangan mengelak sensei, aku ingin tahu bagaimana kelanjutannya!"
"Kakashi, aku pulang duluan. Aku tidak enak badan."
"Ehh ? Dia.."
Kami-sama ..
Cobaan macam apa ini ?
.
.
Aku berjalan menyusuri lorong kantor Hokage, bertujuan mengambil beberapa file yang masih harus kupelajari. Eh ? Apa tadi aku bilang "harus kupelajari" ?. Sebenarnya aku hanya mencari kegiatan agar aku dapat berdiam diri tanpa ada yang mengganggu. Sebaiknya kubiarkan dulu Genma sendiri, aku tidak ingin mengusiknya. Mungkin memang benar ada yang salah denganku hingga dia bersikap seperti itu. Tapi apa ? Apa yang salah ?
Kemudian aku melihat dua pria yang akhir-akhir ini ―entah hanya perasaanku saja atau memang benar― selalu memiliki tujuan yang sama dengan diriku setiap kali tak sengaja bertemu. Tidak diragukan lagi, mereka pasti ingin ke perpustakaan juga. Tapi .. mereka terlihat akrab sekali. Bukan seperti dua pasang sahabat, melainkan .. ah, tidak mungkin.
"Yo"
"Ehh Kakashi-san, konnichiwa .." Sapa Yasu.
"Konnichiwa, Kakashi-san" Ini Raidou. "Kau tidak bersama Genma ? Dimana dia ?"
Haruskah kucerita ? "Dia .. tidak enak badan"
Tidak.
"Genma-kun sakit ? Raidou, ayo kita jenguk dia!" Yasu panik setengah mati. Ada apa dengannya ? Aku sering kesal sendiri melihat sikapnya ini, terlebih jika itu berkaitan dengan Genma.
"Eh.. kau bilang ingin mencari buku medis di perpustakaan ?"
"Lain kali saja! Ayo Raidou"
Lihat saja kelakuannya itu.
"Tapi kita sudah hampir sampai .."
"Kita bisa kesini lagi besok, ayolah Raidou, aku ingin menjenguk Genma-kun.."
Keras kepala!
"Yasu, kita.."
"Raidou kau tahu aku―"
Argh, cukup! "Ojima-san, tenang. Dia baik-baik saja."
"E.. eh ? Maafkan aku .. aku hanya .. khawatir." Dia merasa bersalah, wajahnya sedih, tapi .. terlihat sedikit .. lega ?
"Hah .. dasar. Jika kau benar-benar ingin menemuinya, belilah sesuatu dulu, kau ingin menjenguknya kan ?"
Dan yah .. setelah mendengar izin dari Raidou tadi dua netra yang diperjelas kaca mata itu langsung berbinar, ck.
"Kau duluan, aku akan mengambil buku yang ingin kau baca dulu. Kita sudah sampai sini, aku tidak ingin kembali dengan tangan kosong."
Jadilah Yasu semakin senang dibuatnya. Emosional.
Akhirnya dia pergi .. Aku dapat masuk ke perpustakaan dengan tenang― bersama Raidou.. hahh..
"Kakashi-san, gomen"
"Huh ? Untuk apa ?"
"Untuk .. sikap Yasu barusan. Kau merasa tidak nyaman kan ?"
Bagaimana dia tahu ?
Aku dan Raidou memasuki perpustakaan. "Dia seperti itu karena sejak dulu hanya Genma yang menemaninya. Bagi Yasu, Genma sudah seperti saudara. Maka dari itu .."
Pernah dengar 'jangan besuara di perpustakaan ?'
"Maaf kalau dia membuatmu kesal. Dia tidak ada perasaan apa pun pada Genma, sungguh"
Huh ? Apa ? "Kau ini bicara apa ?"
"Ehh tidak-tidak .. maafkan aku Kakashi-san!"
Terlalu banyak perkataan aneh plus membingungkan hari ini. Bagai memberi petunjuk-petunjuk terpisah yang saling berkaitan. Kepalaku mulai sakit.
"Ano .. kalau boleh aku tahu, kau dan Genma .. kalian .."
"Kami kenapa ?"
"Kalian .. baik-baik saja kan ? Maksudku, kau .. terlihat tidak bebas hari ini. Jika kau ingin, ceritakan saja padaku. Aku bisa menjaga rahasia"
Senyum, Raidou tersenyum padaku. Aku merasa dikasihani, sial.
"Tak ada yang perlu diceritakan, Raidou." Aku segera mengambil tumpukan file yang ternyata telah tersusun rapi dan siap untuk dibawa, sementara Raidou cepat-cepat mengambil sebuah buku medis dan kembali mengikutiku. Kami berjalan keluar perpustakaan, menuju rumahku.
"Tapi Kakashi-san, aku mengerti sesuatu. Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kau harus tahu ..."
Ocehannya semakin berbelit.
"... masalah syarat pendamping itu mengganggumu kan ? Kudengar juga .. kau .. bersedia menjalani perjodohan dengan salah satu keturunan Hyuuga ?"
Aku menyerah .. "Hh.. iya"
"Lalu hasilnya ?"
"Aku menolak"
Tiba-tiba dia tersenyum puas. "Aku tahu itu."
"Huh ?"
"Aku tahu pada akhirnya kau akan menolak atau membatalkan perjodohan itu. Biar kutebak, alasannya pasti .. hmm .." Tangan kirinya memegang dagu dan yang satunya diletakan bersedekap sambil memegang buku. Pose berpikir, menyebalkan.
"Raidou .. cukup, hentikan itu. Kurasa kepalaku akan mengeluarkan asap karena terlalu pening. Setidaknya hiburlah aku jika kau tidak bisa membantuku keluar dari masalah ini."
"A.. gomen na sai" Ia menggaruk belakang kepalanya.
"Maa .. lalu bagaimana dengan kau dan Yasu ?"
"... B-bagaimana .. apanya ?"
"Kalian lebih cocok dibilang 'mesra' ketimbang 'akrab' sekarang"
"Apa itu buruk ?"
Aku diam, memikirkan jawaban dari pertanyaan spontan barusan. Itu tidak buruk, bahkan aku senang melihat Raidou dan Yasu dekat. Asalkan mereka nyaman, itu tidak masalah. Lagi pula apa urusanku ?
"Tidak, sama sekali tidak"
"Hah .. syukurlah. Aku kira kau tidak suka atau merasa jijik dengan hubungan seperti itu"
Jleb
Aku tersentak. Hampir saja file-file ini meluncur jatuh ke tanah. "Jadi kalian berpacaran ?"
"Heee bukan-bukan! Bukan begitu Kakashi-san! Maksudku belum .."
"Belum ?"
"S-sebenarnya .. aku .. menyukai Yasu.."
Radiou .. dia seorang gay ? "Kau .. gay ?"
Wajahnya tiba-tiba bersemu. "Tidak, maksudku ya. Sebelum bertemu dengan Yasu, tapi, tidak.. Ano, maksudku .. Arrghtt susah sekali menjelaskannya!"
Lucu sekali, aku sampai tertawa geli melihat tingkahnya. Apa setiap orang kasmaran selalu seperti dia ?
Aku menyeringai, ada satu hal lagi. "Aku juga baru menyadari, kalau kalian berdua sekarang hanya memanggil nama masing-masing .. tanpa tambahan –san "
Kena. Raidou tergagap-gagap untuk yang kedua kalinya.
"A-ano .. i-itu aku.. ugh .."
"Tak apa Raidou, selama kau bahagia itu tak masalah. Aku ikut senang."
Raidou terbelalak, lalu sesaat kemudian ia tersenyum kecil. Dia terlihat sangat senang sekaligus lega. "Terima kasih, Kakashi-san. Aku merasa .. sangat bebas."
"Tentu" Aku ikut tersenyum.
"Kau juga harus segera terbebas Kakashi-san. Kau terlihat begitu terbelenggu dengan beban-bebanmu. Aku dan Yasu .. tidak, maksudku .. kami semua mendukungmu. Jangan buat Genma menunggu terlalu lama."
Aku mengerjap. Genma ? aku ? mereka mendukungku ? Apa maksudnya ?
"Apa maksud―"
"Ahh.. kita sampai. Kapan terakhir kali aku berkunjung ke rumahmu ? Rumahmu luas, kalau tidak salah aku pernah ketiduran disini saat menjengukmu bersama Yamato. Aku boleh masuk ? Permisi .. Genma, Yasu .."
A .. hahh~ terserahlah. Terus saja tambahkan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban dalam hidupku hari ini. Aku muak.
Aku melepas sandal kemudian menutup pintu. Menyusuri ruangan-ruangan di rumahku dan menemukan tiga pria tengah berkumpul dengan gemuruhnya. Cuma dua, karena yang satunya hanya menyeringai sambil memperhatikan sikap dua orang temannya yang tengah sibuk mempermasalahkan hal sepele.
Melihat mereka membuatku tersenyum. Syukurlah, setidaknya Genma dapat sedikit terhibur.
Aku meletakkan file-file yang kubawa ke dalam kamar lalu menghampiri mereka. Betapa senangnya aku melihat pemandangan seperti ini, terutama Genma yang terlihat membaik. "Kalian mau minum apa ?"
Namun tiba-tiba Genma berdiri. "Biar aku saja"
"Tidak, kau sedang sakit. Tetaplah disana, biar aku yang ambilkan."
Raidou dan Yasu saling lirik. Raut wajah Genma berubah tak suka setelah aku menyuruhnya diam. Apa dia marah ? Aku hanya tidak ingin dia kelelahan. Dia sedang tidak enak badan 'kan ? Setidaknya itu yang dia katakan tadi.
Aku segera menuju lemari es dan mengambil 4 kaleng minuman. 2 soda dan 2 larutan penyegar. Lalu kembali ke ruang tamu.
Genma masih dalam kondisi yang sama, kelihatannya aku lagi-lagi merusak mood-nya. Sementara Raidou dan Yasu malah menjadi canggung. Kami-sama .. aku sedang tidak berulang tahun kan ? Kenapa aku merasa dikerjai sekali hari ini ?
"Silahkan diminum"
Dua kaleng soda tadi kuletakkan di atas meja, tepatnya di sisi meja dimana Raidou dan Yasu berada. Aku memberikan satu kaleng larutan penyegar pada Genma yang langsung diterima tanpa berkata apapun. Dan sisanya untukku.
Aku duduk di samping Raidou, jangan tanya kenapa, karena Yasu sudah menempatkan diri di samping Genma sejak awal. Ch..
"Maaf merepotkan. Ah iya, aku membawakan melon." Yasu meletakkan melon-melon hijau yang sudah terpotong rapi dan beralas piring plastik persegi ke meja. "Melon sangat enak dimakan saat cuaca panas seperti ini. Genma-kun, semoga kau cepat sembuh." Ia tersenyum.
"Aku tidak sakit"
"Aku tahu kau tidak sakit, tapi setidaknya makanlah agar perasaanmu membaik .."
Manusia hijau itu .. perhatian sekali dia ?
"Melon-melon itu tidak ada hubungannya dengan perasaanku, Yasu."
"Tapi kan .."
Aku memutar bola mata. Yasu memasang wajah sedih sekarang. Dia pikir Genma akan terpengaruh ? Itu tidak akan mempan pada Genma, lihat saja.
"Tidak"
Apa kubilang.
Genma mengambil sebuah senbon dan langsung menyematkan benda runcing itu diantara bibirnya.
"Sudahlah Yasu," Raidou membuka soda miliknya dan meneguk beberapa kali. "ayo kita pulang, biarkan Genma istirahat."
"Aku tidak mau pulang sebelum Genma-kun melahap satu melon" Yasu merajuk, dan Raidou malah terlihat tak berdaya mendengar ucapan Yasu.
"Jangan kekanakan bodoh. Kau membuat Raidou khawatir"
Tajam sekali .. Tapi lelaki berkaca mata disampingnya malah tertawa riang. Kurasa ada kelainan dalam otaknya. "Tak apa, Raidou orang yang baik, dia akan menunggu."
Orang yang disebutkan namanya hanya bisa membuang napas pasrah. Ini tidak bisa kubiarkan. Licik sekali dia memanfaatkan kebaikan Raidou.
"Raidou memang akan menunggu, tapi ia tak akan berbohong di kertas laporan 'kan ?" Aku tersenyum. "Jika Tsunade-sama melihat laporan hari ini dan dia tidak senang dengan hasilnya, bisa saja dia memberhentikan Raidou dan menggantikan tugasnya dengan pengawas yang baru." Aku tersenyum lagi. Semoga ini berhasil.
"Be-benarkah ? Maafkan aku .." Dalam sekejap ekspresi cerianya berubah murung. Siapa suruh bersikap seenaknya begitu ? Tapi aku jadi merasa kasihan sekarang..
"Baiklah baiklahh.. hanya satu suapan kan ? Kalau begitu suapi aku"
Tunggu, apa ?
Genma pasti bercanda!
Ya, tidak mungkin Genma bersedia ..
"Kau akan memakannya ?"
Tidak tidak tidak ...
"Asal kau berjanji akan langsung pulang."
Si Ojima itu mengangguk mantap. Ia menusukkan garpu pada sepotong melon, kemudian mengarahkanya ke mulut Genma. "Buka mulutmu~" .
Genma menarik senbon dari mulutnya dan bersiap menerima sepotong buah melon dari tangan Yasu.
Hingga satu suapan akhirnya masuk ke mulut Genma.
Sakit
Oh Tuhan .. sebenarnya ada apa denganku ? Kenapa sakit sekali rasanya ? Dadaku sesak. Ada sesuatu di dalam diriku yang menggebu-gebu .. dan itu terasa perih. Aku tidak bisa bernapas. Mataku memanas. Jantungku ..
"Baiklah, kalau begitu aku pulang. Maaf merepotkan. Jaa ne~ "
Raidou masih terbelalak, tak percaya dengan yang baru saja dilihatnya. Tapi ia langsung memasang senyum. Ia tak ingin terlihat sedih di depan orang yang dicintainya. "Ha'i .." dan mereka pun pulang.
Lalu bagaimana denganku ? Seharusnya aku tidak perlu semarah ini, mereka hanya teman. Dan Raidou juga bilang kalau Yasu sudah menganggap Genma sebagai saudaranya sendiri. Tapi kenapa aku merasakan hal seperti ini ? Perasaan apa ini ?
Apakah aku ...
.
.
'Dirimu juga .. harus terbebas, Kakashi-kun'
'Aku yakin kau bisa melakukannya .. '
Kepalaku sakit. Mereka .. seperti memberiku petunjuk. Semuanya saling berkaitan satu sama lain. Tapi apa ?
'Kami semua mendukungmu.'
'Aku mendukungmu, Kakashi-kun. Kau harus segera menyatakannya atau dia akan direbut orang lain'
Apa yang mereka katakan ? Aku .. Genma .. hatiku sakit saat Genma mengabaikanku. Terlebih waktu tadi siang ..
'Tapi jika itu 'dia' .. aku yakin tak ada wanita yang cukup mampu mendekatinya. Karena sepertinya 'dia' juga menyukaimu'
'Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kau harus tahu ...'
Apa yang tidak kusadari―
Oh tidak ..
Sial.
Aku. Menyukai. Genma.
Argghhh
Jadi itu sebabnya hatiku sakit melihat kedekatan Genma dan Yasu, juga saat Nao bilang kalau ia menyukai Genma. Bahkan semua orang menyadarinya, tapi aku tidak. Lalu bagaimana dengan Genma ?
'Jangan buat Genma menunggu terlalu lama.'
Jangan-jangan Genma juga menyadarinya ? Kami-sama...
Hahh~ kapan perasaan ini muncul ? Aku memang tidak pernah mengerti hal-hal seperti ini. Tapi hatiku sakit ketika melihat Genma dekat dengan orang lain. Aku juga tidak bisa terima jika ada yang mengusik pria satu itu.
Pria ..
Genma seorang pria, sama denganku. Kenapa ? Kenapa aku harus jatuh cinta pada seorang pria ? Dia sahabatku sejak kecil, aku tak mungkin ..
'Apa itu buruk ?'
Ya, benar. Tak ada masalah selama aku senang. Persetan dengan orang-orang di luar sana. Bebanku sudah cukup banyak, jadi tak masalah kan bila aku ingin bahagia ? Ku yakin Genma juga setuju dengan hal itu.
Aku.. aku harus mengatakannya.
.
.
Tok tok
Kuharap Genma belum tidur. Yah .. ini baru tengah malam, hampir. Aku tahu seharusnya sudah sejak tadi aku menemui Genma dan menyatakan perasaanku padanya. Tapi aku tidak bisa, aku― tiba-tiba saja kakiku berat untuk melangkah, dan lidahku kelu. Jangan tanya bagaimana keadaan jantungku sekarang, rasanya lebih mendebarkan dibanding menghadapi Kaguya!
"Genma, aku ingin bicara"
Tidak ada jawaban.
Dia sudah tidur ? Tapi aku tak bisa menunggu sampai besok. Kurasa tak apa jika aku masuk.
Aku kemudian membuka pintu kamar Genma. Dan hal pertama yang kulihat adalah, orang yang sejak tadi ingin ku ajak bicara ternyata sama sekali belum tidur dan sedang duduk menyandar sambil membaca sebuah buku tebal. Hh ... Dia masih marah. Terbukti dengan sikap diamnya yang tak menjawabku tadi, dia juga tidak menoleh sama sekali sejak aku membuka pintu.
Bahkan sampai sekarang aku tak tahu kenapa dia bersikap seperti ini.
Lebih baik kusingkirkan dulu masalah itu, ada masalah yang lebih penting. Aku berjalan menghampiri Genma kemudian duduk di tepi ranjang bersebrangan dengannya. Dia masih diam, tak mempedulikan kehadiranku.
Aku membaringkan tubuh disana, menggunakan kedua tangan sebagai bantalan meski dibawah tanganku terdapat bantal yang empuk dan nyaman. Astaga .. kenapa detak jantungku semakin kencang ? Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Huftt ..
"Genma, aku .." Arrgghhhh... canggung sekalii! Aku menurunkan kedua tangan yang sebelumnya menjadi alas kepalaku.
Genma tidak menjawab, namun ia menutup buku yang ia baca, meletakannya diatas meja, lalu kembali bersandar pada kepala tempat tidur. Akhirnya dia memperhatikan.
Sekarang apa ? Dia sudah memperhatikan, tapi sikapnya masih dingin. Hah~ dasar .. "Genma, aku―"
"Aku minta maaf"
"Hah ?" Aku mengerjap. Kenapa dia yang meminta maaf ?
"Maaf atas sikapku hari ini, aku mengabaikanmu bahkan tanpa kau tahu apa penyebabnya"
Dia ..
"Bodoh sekali diriku ini" Ia tertawa kecil.
Aku menyamakan posisiku seperti Genma, bersandar agar rasa gugup ini sedikit berkurang. Kulihat dari caranya tertawa, ada yang ia sembunyikan. Seperti sebuah luka, luka mendalam yang tak pernah diungkapkan.
"Aku juga minta maaf. Meski sampai saat ini aku tak mengerti, kau bahkan tak memberitahu apa kesalahanku." Sial, jantungku ingin meledak rasanya. "Aku―"
"Sudahlah Kakashi .. tidak usah kau pikirkan. Itu bukan sesuatu yang penting" Dia mengulurkan tangannya, lalu mengacak rambutku sambil tersenyum. Ck, 'bukan sesuatu yang penting' apanya ?
Aku menyingkirkan tangannya dari puncak kepalaku. Ia bingung, namun wajah tampannya langsung mengukir senyum kembali.
"Genma, Nao bilang, ia meminta maaf atas perkataannya kemarin."
Mimik Genma langsung berubah 180 derajat. Jadi dia marah karena masalah Nao ? Apa dia .. menyukai gadis itu ?
"Hyuuga Nao maksudmu ?"
"Ya, dan ada satu hal lagi. Kuharap kau senang mendengarnya." Kurasa membicarakan hal ini sedikit tidak masalah.
"Huh ?"
"Dia menyukaimu."
"Lalu kenapa aku harus senang ?"
Genma menaikkan satu alis, begitu juga denganku. Seharusnya dia senang kan ? Seorang putri dari keluarga bangsawan menyukai dirinya, atau itu .. benar-benar hanya dugaanku ? Jadi benar itu hanya dugaanku ? Hei hei .. kenapa aku sesenang ini sekarang ? Sial.
"Kau tidak tahu apa saja yang dia katakan tadi, Genma. Andai kau mendengarnya .. dia benar-benar membuatku pusing di hari yang masih terlalu pagi untukku" Aku tertawa kecil. Tapi Genma malah terlihat semakin kesal.
"Awalnya dia terlihat ragu ..."
"Kakashi bisa kau hentikan ini ?"
" ... tapi setelah dia mengatakan semuanya, dia sungguh terlihat lega ..."
"Kakashi"
"... dia terbebas."
"Arrgghhh cukup!" Aku terkejut, dengan cepat Genma berbalik dan langsung menindihku. Kedua tanganku ditahan olehnya di sisi kiri dan kanan kepalaku. Aku menatapnya, dua mata karamel yang begitu indah, sarat akan kemarahan. Atau .. rasa cemburu ?
Kutatap dua mata yang benar-benar kusukai itu lebih dalam, aku tersenyum. "Suki da"
Genma terbelalak. Genggaman tangannya di kedua pergelangan tanganku mulai melemah. Ia tak percaya dengan yang kukatakan. Aku tahu itu.
"Aku mencintaimu, Genma."
Dia masih tak percaya, bibirnya menarik senyum meremehkan, lalu membuang muka. "Jangan bercanda Kakashi, kau akan menikah dengan Nao. Jangan memberiku harapan seperti ini."
Dia bilang apa ? Sungguh, aku langsung tertawa geli setelah dia mengatakan itu. Dan dia langsung melepaskan genggaman tangannya dari pergelanganku dan bangkit dari atas tubuhku.
"Apa yang kau bicarakan, Genma ? Kau tadi mendengarku kan ? Dia, Hyuuga Nao, orang yang dijodohkan denganku, dia menyukaimu. Kenapa aku harus repot-repot menikahi orang yang tidak menyukaiku ?"
"Tapi anbu yang tadi pagi datang― dia suruhan Tsunade-sama kan ?"
"Yep. Tunggu, kau melihat anbu itu ?"
"Dia menyuruhmu untuk memperbaiki hubungan dengan Nao dan melanjutkan perjodohan kalian kan ?"
Aku mengerjap. "Kau mendengar anbu tadi mengatakan hal seperti yang kau bilang itu ?"
"Tidak, aku hanya .. berasumsi karena .. kau .. langsung bergegas, jadi .. yah .."
Oh Tuhan .. lihat tingkahnya itu. Dia menggaruk tengkuknya yang aku tahu betul kalau itu sama sekali tidak gatal.
"Jadi kau mengabaikanku seharian ini karena hal itu ?"
"Maaf"
Aku tertawa. Kesalah pahamannya terhadapku ternyata sanggup membuat hidupku merana hari ini. Dahsyat sekali. Tapi tak apa, karena hari ini, aku akhirnya dapat menyatakan perasaanku.
"Shiranui Genma, maukah kau menjadi pendampingku ?"
.
.
.
.
.
TBC
