Chapter 2
Title : My Ice cream Doctor.?
Author : Rilakkumaa_94
Cast : Oh Sehun.
Xi Luhan.
Park Chanyeol.
Do Kyungsoo.
Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)
Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.
Rating : T
Playing : K-will – You don't know love.
Rilakkumaa_94
Present
.
.
.
" Bukankah itu lebih baik, dia dingin, tak tersentuh dan maha menggiurkan."
"Oppa yang terbaik jjang, aku mencintaimu cepat nikahi aku oppaa.."
" Sudah kuduga, kau memang tidak bisa dibaiki Luhan."
.
.
.
.
Soobin yang dikira Luhan Oh Sehun itu hanya memandang aneh Luhan lalu berucap pelan. Seperti mengerti maksud Luhan, Soobin mempersempit jarak diantara mereka. Luhan sedikit menunduk saat Soobin akan membisikkan sesuatu.
" Ya! Dia yang disana itu dokter Oh Sehun, dokter pembimbing kita." Soobin sengaja menekankan kata dokter pembimbing kita dengan keras kepada Luhan.
Luhan melongo " Aku adalah Soobin, dan dia dokter Oh Se….hun..." Ucap Soobin, sengaja mengeja nama Oh Sehun.
Luhan terkejut begitu pula Soobin. Soobin terkejut karena sikap Luhan yang berubah dengan tiba tiba. Luhan kemudian menatap Sehun yang menatap dirinya datar. Sorot matanya tajam dan itu cukup membuat Luhan merinding.
" Mati kau Xi Luhan." Rutuknya dalam hati
Sekarang Luhan sudah duduk disofa panjang diruangan Sehun disamping Soobin. Luhan menatap Sehun sesekali ,dia tidak terlihat tua, pikirnya.
Bodohnya Luhan mengira bahwa Soobin adalah Oh Sehun dan Sehun adalah Soobin. Luhan bahkan masih ingat pertemuan pertamanya dengan Sehun saat di mesin minuman. Dia dengan seenaknya mengambil minuman pria itu dengan tidak sopan dan berjalan pergi. Luhan menyesali perbuatanya waktu itu. Luhan mengira bahwa Sehun adalah dokter magang sama sepertinya, jadi dengan santainya dia mengatakan itu dan memperlakukan Sehun dengan tidak sopan.
Luhan kembali mengamati Sehun dari ujung kaki sampai kepala, pria ini masih sangat muda untuk menjadi seorang dokter pembimbingnya. Berbeda dengan soobin disampingnya, perempuan ini terlihat jauh lebih dewasa. Jadi jangan salahkan Luhan jika mengira Soobin adalah dokter pembimbingnya.
" Perkenalkan namamu" Ucap Sehun datar, memecah pemikiran gadis itu.
Luhan yang merasa langsung berdiri dan membungkuk hormat " Nama saya Xi Luhan, mohon bantuanya."
Sehun hanya menatap datar, tidak memberikan komentar apapun.
" Dan juga dokter, maafkan saya yang mengira anda adalah teman seangkatan saya. Sekali lagi maafkan saya." Ucapnya lalu membungkuk sekali lagi.
Sehun hanya membalas " Tidak apa-apa."
"Lain kali jangan terlambat."
Luhan mengangguk dan meminta maaf sekali lagi, dan reaksi Sehun tetap datar.
Kemudian ia duduk kembali dikursinya, lalu menatap Sehun yang menjelaskan sesuatu.
" Baiklah, untuk pelajaran pertama kalian. Ikuti saya."
Luhan dan Soobin mengangguk.
Sekarang mereka bertiga berjalan menuju lantai 3 Rumah Sakit. Sehun berhenti tepat disalah satu pintu Ruang Inap nomer 235. Sehun mengetuk pelan lalu masuk kedalam dikuti Luhan dan Soobin.
" Oh dokter." Sapa seseorang wanita tua disana.
Wanita tua itu terlihat senang saat Sehun mengunjunginya.
Sehun menghampiri wanita tadi lalu menanyakan keadaanya.
" Aku tidak bisa tidur, dan juga dadaku sering sakit lagi." Adunya untuk Sehun.
Sehun hanya mengangguk lalu mulai memeriksa wanita tadi.
Luhan dan Soobin mencatat apa yang mereka lihat. Sebenarnya hanya Soobin yang mencatat dengan lengkap tentang keadaan pasien tua itu. Berbeda dengan Luhan, dia hanya merangkum semuanya dan kebanyakan hanya coretan tidak bisa dibaca.
" Menurut kalian apa yang tepat dilakukan untuk pasien ini." Tanya Sehun pada Luhan dan Soobin. Sehun mengantongi kembali stetoskop yang sempat ia gunakan.
Soobin menjawab duluan, dia menjelaskan titik permasalahanya, dan diangguki oleh Sehun.
" Kurasa terlalu banyak pikiran dan itu mempengaruhi kondisi jantungnya. Anda hanya tidak boleh stress dan focus saja untuk kesembuhan anda." Ucap Soobin ramah. Dia sempat mengeluarkan senyum manisnya untuk Ny. Zhang. Sehun mengangguk membenarkan dan Soobin terlihat senang karena dia bisa menjawab dengan benar.
" Lalu menurutmu.?" Tanya Sehun untuk Luhan.
Luhan menatap dengan tatapan aneh lalu berkata " Kurasa Ny. Zhang sedang marah."
Sehun menaikkan satu alisnya, dan seketika Ny. Zhang tertawa. " Kau benar, darimana kau tahu.?" Tanyanya untuk Luhan.
Luhan mengedikkan bahu acuh. " Aku tahu, nenekku juga seperti itu. Jangan bilang ini menyangkut serial drama di tv." Tembaknya dengan suara datar.
Dan perkataan Luhan tadi membuat Nyonya Zhang tertawa lebih keras dari sebelumnya. " Kau benar, aku sangat benci dengan Jooyoung itu seenaknya saja merebut Chanyeol dan menjadikan Baekhyun sebagai pembantu. Dan juga kenapa si Chanyeol malah membela Jooyoung dan menjadikanya sebagai simpanan lalu memukul istrinya, Baekhyun." Ungkapnya dengan berapi api. Dia terlihat marah.
Nyonya Zhang menceritakan drama TV kesukaanya. Cerita drama yang membuatnya murka.
Sehun menatap Luhan dengan pandangan tidak percayanya. Gadis ini benar benar.
" Sebaiknya kurangi menonton drama, itu akan memperburuk kondisimu." Saran Sehun pada Nyonya Zhang, dan berpamitan keluar.
Luhan dan Soobin juga mengucapkan selamat tinggal dan mengikuti Sehun keluar.
" Kau…" Ucap Soobin untuk Luhan. Gadis itu menggantungkan kalimatnya.
Luhan menatap datar Soobin menunggu kelanjutan kalimatnya.
" Darimana kau tahu?" Tanya Soobin untuk Luhan.
" Aku hanya asal menebak, nenekku juga terkadang bersikap seperti itu jika menyangkut soal drama kesukaaanya." Jelasnya acuh.
Sehun yang mendengar percakapan Luhan dan Soobin tidak terlalu mempedulikanya. Dia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan drama drama atau semacamnya. Tapi kali ini karena perkataan Luhan, Sehun jadi mengerti alasan kenapa wanita tua selalu terlihat marah dan uring uringan.
Setelah urusanya memeriksa wanita tadi Sehun melanjutkan langkahnya menuju ke ruang pasienya yang lain. Diujung timur rumah sakit lantai tiga itu tempat tujuan Sehun sekarang. Diikuti Luhan dan Soobin dibelakang Sehun berjalan santai. Sesekali berhenti untuk membalas sapaan dari anak kecil yang kebetulan melihat.
" Oppaa.." Seru salah orang anak kecil perempuan.
Sehun tersenyum lalu berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan anak itu. Anak tadi tersenyum dan memegang tangan Sehun.
" Apa yang kau lakukan.?" Tanya Sehun lembut, suaranya sangat tenang dan juga membuat anak kecil tadi tersenyum dan tidak takut sama sekali.
Anak kecil tadi yang didampingi perawat dibelakang menoleh kerarahnya sekilas.
" Kami sedang bermain." Jawabnya sembari tersenyum, memperlihatkan gigi nya yang rapi.
Sehun mengelus rambut anak tadi.
" Begitu ya.?"
Anak tadi mengangguk semangat.
" Kau cantik sekali, siapa namamu.?" Soobin menyela, dia ikut ikutan duduk jongkok disamping Sehun.
Anak itu memandang Soobin lalu menoleh kearah perawat dibelakangnya. Perawat itu mengangguk, seolah memberi isyarat bahwa Soobin dihadapanya bukan orang jahat. Yeon Rin menatap Soobin dan tersenyum. " Nama saya Yeon Rin dokter."
Soobin mengangguk lalu tersenyum sangat manis. " Nama yang bagus."
Yeon Rin hanya tersenyum senang. " Terima kasih."
" Aigoo kau cantik sekali sih." Puji Soobin sembari mencubit pelan pipi Yeon rin.
" Dokter juga sangat cantik."
Soobin tersenyum lebar mendengar jawaban Yeon Rin, dia jadi gemas sendiri melihat tingkahnya.
" Apa kita bisa berteman.?" Tanyanya.
Yeon Rin mengangguk senang dan Soobin juga ikut tersenyum begitupun Sehun yang tadi melihat interaksi antara Soobin dan Yeon Rin.
" Ayo kita bermain dokter.?" Pintanya kepada Sehun dan Soobin.
Perawat dibelakang menyela sembari memegang bahu Yeon Rin. " Ini waktunya minum obat dan tidur sayang."
Yeon Rin menggeleng, dia menolak keras ajakan perawat tadi.
" Tapi aku ingin bermain."
" Setelah kau tidur siang nanti boleh bermain lagi Yeon Rin." Bujuk perawat itu lagi.
Yeon Rin menghadap Soobin, meminta pertolongan. " Yeon Rin ingin bermain dengan dokter, apa boleh?" Tanyanya imut, sembari menampilkan puppy eyesnya yang lucu.
Soobin tersenyum. " Yeon Rin harus pergi tidur dulu, setelah itu kita bermain. "
Yeon Rin cemberut, sembari menggelengkan kepalanya menolak ajakan Soobin. " Tapi aku ingin sekarang." Dia kekeh ingin lanjut bermain, bahkan dia hampir mau menangis.
Soobin menatap Sehun, meminta izin. Dia sebenarnya tidak tega melihat anak kecil yang merajuk seperti Yeon Rin.
" Dokter Oh, apa boleh.?" Tanya Soobin memohon, sembari memegang bahu Yeon Rin yang menunduk ingin menangis.
Sehun menghela nafas pelan, kemudian menatap Yeon Rin.
" Yeon Rin harus tidur." Ucapnya tegas.
" Yeon Rin ingin bermain dokter." Pinta Yeon Rin lagi sembari menatap Sehun memelas.
" Tidak bo—"
" Tapi aku ingin bermain.. huee huee.." Teriaknya sembari menghentak hentakkan kakinya dilantai. Soobin menenangkan Yeon Rin lalu menghadap Sehun.
" Biarkan dia bermain sebentar saja dokter." Soobin meminta.
Melihat itu Sehun tidak tega dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Soobin yang mengerti langsung bersorak gembira begitupun Yeon Rin.
" Terima kasih." Soobin berucap pelan.
" Kau tidak boleh sampai kelelahan mengerti.?"
Yeon Rin mengangguk semangat dan mengucapkan terima kasih untuk Sehun.
" Jangan lupa meminum obatmu Yeon Rin."
Yeon Rin mengangguk lagi dan langsung saja menyeret Soobin pergi dari tempat itu. Tak lupa Soobin membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih juga untuk Sehun.
Perawat yang bersama Yeon Rin tersenyum kearah Sehun, Sehun balas tersenyum tipis lalu bangkit berdiri.
" Pastikan dia tidak kelelahan." Ucapnya, dan diangguki mengerti oleh perawat itu.
Kemudian perawat itu menyusul Soobin dan Yeon Rin yang berlari keruang rawat Yeon Rin untuk segera bermain.
" Jangan berlari Yeon Rin." Teriak perawat itu, sembari membungkuk dan mengucapkan pamit untuk Sehun dan Luhan.
Luhan yang ada dibelakang mendengus melihat tingkah Yeon Rin. Inilah salah satu alasan kenapa dia tidak menyukai anak kecil, mereka merepotkan dan menyebalkan.
" Menyebalkan." Komentarnya pelan, melihat tingkah Yeon Rin yang kelewat senang.
Sehun yang mendengar menghadap kearah Luhan sebentar. Gadis itu terlihat tidak suka dengan Yeon Rin.
Sehun tidak peduli lalu kembali melanjutkan jalanya yang terhenti kearah tujuanya. Luhan tersadar lalu mengikuti langkah Sehun lagi. Dengan berbagai pikiran yang berlalu lalang diotaknya.
Jam makan siang tiba. Ketiga gadis itu terduduk disalah satu bangku cafeteria Rumah Sakit. Yang satu terlihat frustasi, dan yang dua lainya hanya menatap bingung temanya itu.
" Kau kenapa?" Tanya Kyungsoo sembari mengoncangkan tangan Luhan.
Luhan mendongak dan duduk dengan benar.
" Aku hanya frustasi."
Kyungsoo menatap Luhan bingung.
" Kau ada masalah.?"
" Kau terlihat tidak baik Lu.?" Eun Ha berkomentar setelah menyeruput minumanya.
Luhan hanya menggeleng malas, dan mulai bercerita tentang pertemuanya dengan Sehun dan kejadian Luhan salah mengira tadi.
" Jadi kau mengira dia dokter magang seperti kita?" Tanya Kyungsoo tidak percaya. Luhan mengangguk membenarkan.
" Kudengar dokter Oh memiliki banyak fans dirumah sakit ini." Ucap Eun Ha keras.
" Apa itu benar?" Kyungsoo bertanya dengan mata O.O
Eun Ha meyakinkan Kyungsoo. Kyungsoo menanyakan lagi pada Luhan dan ia hanya mengedikan bahu acuh.
" Dia mirip seperti Dewa tertampan dari mitologi Yunani. " Ungkap Eun Ha dilebih lebihkan.
" Aku tahu, dia memang sangat tampan." Balas Luhan dari pertanyaan Kyungsoo.
" Kau beruntung Luhan."
Kyungsoo memberikan selamat pada Luhan.
" Beruntung apanya, dia terlampau kaku seperti mayat hidup." Ucap Luhan mengomentari Sehun.
Ketiga orang itu sedang menggosipkan Oh Sehun.
" Bukankah itu lebih baik, dia dingin, tak tersentuh dan maha menggiurkan." Eun Ha mengungkapkanya dengan nada berlebihan.
" Dia malah seperti es krim jika kau mengibaratkanya seperti itu." Cibir Luhan mengomentari Eun Ha yang kelewat alay.
Dan diangguki setuju oleh Kyungsoo.
" Pria seperti itu, pasti sulit didekati." Ucap Kyungsoo.
" kau benar, dia masuk kedalam type ku sebenarnya. Tapi mungkin butuh waktu lama untuk meluluhkan hati dokter Oh." Eun Ha mengucapkanya dengan nada sedih.
Luhan berdecih, " Semua lelaki tampan masuk dalam kriteria mu Eun Ha. Dari yang tampan biasa, sangat tampan, dan lebih tampan juga masuk dalam seleramu."
Eun Ha hanya tertawa lebar mendengar itu. Memang benar yang dikatakan Luhan, Eun Ha penggila pria tampan. Ketiga orang itu sibuk bergossip sebelum melakukan tugasnya lagi.
Sehun.
Lelaki itu menatap datar kertas dihadapanya, sekarang waktunya jam makan siang. Lelaki dingin itu lebih memilih untuk menahan laparnya daripada harus keluar untuk makan siang. Sehun paling tidak suka keramaian. Dia lebih senang menghabiskan waktu makan siang sendiri di ruanganya.
Sehun meneliti lembar demi lembar kertas yang dipegangnya. Itu adalah catatan medis salah satu pasienya.
Sehun menghela nafasnya pelan, dia merenggangkan ototnya yang mulai kaku dan melirik jam yang melingkar ditangan kirinya.
12.55 am. Masih ada 15 menit untuk makan siang.
Tok tok tok
Pintu diketuk dari luar, Sehun mengehentikkan kegiatanya sebentar lalu mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Sehun menatap siapa yang mengetuk pintu ruanganya ternyata Soobin yang masuk. Gadis itu berjalan kearah Sehun dan membungkuk hormat.
" Kau sudah selesai bermain dengan Yeon Rin?" Tanya Sehun datar.
Soobin mengangguk " Dia sudah tidur sekarang dokter."
Sehun hanya bergumam tak tertarik lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Soobin yang dihadapanya, tak henti hentinya memnadang Sehun dnegan ekspresi wajah yang berbeda beda. Gadis muda itu kagum dengan seseorang dihadapanya.
" Dia tampan." Serunya dalam hati setelah menatap Sehun yang tengah serius memnadang kertas ditanganya.
Senyum diwajah Soobin mengembang. " Dokter Oh tampan sekali, aku harus tampil cantik."
" Supaya dia menyukaiku muehehehe.." Ucapnya dalam hati, tak lepas memperhatikan Sehun sedetik pun.
" Apa ada yang harus saya lakukan lagi.?" Tanya Soobin dibuat manis.
Sehun terdiam sebentar lalu menghadap Soobin.
" Pergilah memeriksa pasien kamar 212 dan laporkanlah keadaanya padaku."
Soobin mengangguk mengerti " Apa ada lagi.?"
" Kurasa itu saja, kau boleh pergi." Jawabnya.
Soobin mengangguk lalu mengucapkan salam dan pergi dari hadapan Oh Sehun.
Suatu hari.
Sehun, Soobin dan Luhan mengunjungi salah satu ruang inap pasien. Gadis muda umur 12 tahunan terbaring diranjang sana. Itu pasien Sehun, namanya Kang Ji Yeon mengidap penyakit jantung bawaan dari lahir.
" Selamat pagi." Sapa Soobin ramah untuk Jiyeon.
Hari ini Luhan dan Soobin akan mengambil darah Jiyeon dan Sena. Luhan dengan Sena dan Soobin dengan Jiyeon.
Sehun mengamati kerja kedua muridnya itu. Soobin dengan baik memeriksa dan membujuk Jiyeon yang terlihat ketakutan diambil darahnya. Soobin melakukan aegyeo lucu untuk menarik perhatianya, sementara Sehun yang mengambil darahnya.
" Buing Buing, shy shy shy." Soobin melakukan aegyeo dengan mengepalkan kedua tanganya dan menaruhnya dipipi lalu menaik-turunkan tanganya saat mengucapkan shy shy shy.
" Kerja bagus." Pujinya untuk Soobin.
Soobin tersenyum lebar mendapat pujian dari Sehun.
Lalu Sehun berjalan menghampiri Luhan dan Sena disudut ruangan.
Luhan yang melihat Soobin melakukan aegyeo hampir muntah. Seumur hidup Luhan tidak akan mau berakting sok imut seperti itu. Luhan menatap kembali anak kecil dihadapanya, Jung Sena.
" Berikan tanganmu." Ucap Luhan datar sembari mengulurkan tanganya menyambut tangan kecil Sena.
Sena menatap Luhan ketakutan.
" Tidak mau." Ucap Sena keras.
" Anak cantik, berikan tanganmu pada dokter." Bujuk Luhan dibuat buat, dia orangnya tidak terlalu suka anak kecil dan akan marah jika mendapati anak kecil yang nakal dan tidak mau menurut.
" Dokter jahat, dokter akan menyuntikku kan?" Ucap Sena sembari menangis.
" Tidak disuntik, dokter hanya akan menusukmu sedikit menggunakan ini." Rayu Luhan semanis mungkin.
Sena tetap tidak mau memberikan tanganya " Aku gak mau ditusuk dokter.." Rengeknya.
Luhan menarik nafasnya kasar " Itu memang sudah tugasku, sekarang cepat berikan tanganmu, atau aku nanti akan menyuntikmu dengan cara yang paling menyakitkan. Hahaha" Ucap Luhan menakut nakuti sembari tertawa puas melihat raut ketakutan Sena.
" Kau nenek sihirr, hikss ibuu.." Tangis Sena menjadi jadi.
" Hey.. jangan menangis." Sehun yang ada disana menenangkan.
Sena sesenggukan, tangisnya tidak berhenti berhenti. Sehun menatap Luhan tajam, sedangkan Luhan hanya menatap acuh dan tidak merasa bersalah.
Soobin yang sudah selesai dengan Jiyeon menghampiri Luhan dan Sehun.
" Hey kenapa menangis.?" Tanyanya untuk Sena.
Sena menunjuk Luhan, mengadukanya pada Soobin.
" Dokter itu jahat, dia seperti nenek sihir. Aku takut."
Soobin tersenyum menenangkan sembari mengelus rambut Sena.
" Jangan menangis, bagaimana jika dokter saja yang mengambil darah Sena, Itu tidak akan sakit. Setelah itu nanti kita akan bermain." Bujuknya.
" Benarkah.?" Tanya Sena dengan mata berbinar.
" Iya." Jawab Soobin lembut.
Lalu yang terjadi selanjutnya adalah Soobin yang seperti peri penolong dan Luhan yang terlihat seperti nenek sihir.
Luhan menarik nafasnya kasar dan menatap Sehun datar.
" Bukan seperti itu menangani anak kecil Luhan-ssi." Ucap Sehun, nadanya dingin. Sehun memang tidak pandai berekspresi.
" Mereka menyusahkan." Ungkap Luhan sinis.
" Seharusnya kau bisa bersikap baik pada mereka, mereka hanya anak anak."
Luhan mencibir melihat Soobin dan Sena yang bermain.
"Tidakkah kau melihat Soobin saat membujuk anak anak tadi." Lanjut Sehun datar, membanding bandingkan Luhan dengan Soobin.
" Lalu aku harus ber-aegyeo seperti tadi dan membuat wajah yang lucu seperti itu." Ucap Luhan sinis, merasa disalah salahkan oleh Sehun. Siapa suruh Luhan menangani anak kecil, sudah tau dia tidak suka dengan anak kecil. Menurutnya anak kecil hanya menyusahkan dan sering menangis membuatnya terganggu.
" Kau tahu aku akan terlihat seperti orang bodoh." Lanjut Luhan kesal. Dia memalingkan muka tidak lagi menghadap Sehun.
" Ya! Kau mengataiku seperti orang bodoh, hah?" Teriak Soobin tidak terima, mendengar ucapan Luhan tadi.
Sehun hanya memberikan kode pada Soobin untuk diam. Lalu dia menatap Luhan remeh. Luhan tidak peduli ditatap Sehun seperti itu, dia tetap memalingkan muka dan tidak merasa bersalah.
" Temui aku nanti." Ancam Sehun, lalu berlalu pergi.
Luhan yang mendengarnya hanya tersenyum gembira dan memanjatkan ribuan rasa syukurnya. " Yes, akhirnya." Ucapnya dalam hati.
Soobin yang menatap Luhan seperti itu hanya menggeleng tidak mengerti dan mengikuti Sehun dibelakang.
Di hari yang lain.
Sehun, Luhan dan Soobin berada di ruangan Sehun mengadakan rapat kecil kecilan membahas tentang keadaan Jiyeon.
" Jadi Jiyeon akan melakukan operasi jantung." Tanya Soobin terkejut.
Dan diangguki singkat oleh Sehun.
" Lalu siapa yang menjadi donor jantung untuk Jiyeon.?" Soobin bertanya pada Sehun, setahunya di Rumah Sakit ini belum ada donor jantung yang cocok untuk Jiyeon.
" Kemarin ada seorang pasien yang meninggal, dan dia berniat mendonorkan organnya untuk yang membutuhkan." Jelas Sehun datar.
" Jiyeon sangat beruntung, dia pasti akan senang. Bisa bersekolah lagi dan bertemu teman temanya." Ucap Soobin sok manis,
" Terima kasih dokter." Lanjutnya.
Sehun menaikkan satu alisnya, heran dengan perkataan Soobin barusan.
Seperti mengerti Soobin melanjutkan " Karena sudah menjadi dokter yang baik untuk Jiyeon." Soobin mengucapkanya dengan raut berbinar, berniat menunjukkan pada Sehun bahwa dia wanita yang lemah lembut dan penyayang.
Sehun hanya tersenyum tipis, berniat melepaskan rangkulan tangan Soobin dibahunya.
" Cih, drama queen." Umpat Luhan melihat kemesraan Sehun dengan Soobin.
Daripada Luhan akan muntah melihat Soobin yang bermanja manja pada Sehun, dia memilih menatap serius ke layar ponselnya. Menstalking Chanyeol.
" Single terbaru Park Chanyeol ' Stay wih me ' sukses menempati rangking 1 di chart Billboard Korea."
" Oppa ku memang terbaik." Ucap Luhan berfangirl ria lalu membaca berita yang lain lagi.
" Lagu terbaru Park Chanyeol memenangkan daesang kategori lagu terfavorit di Gaon Chart Awards 2017."
" Lagunya memang enak, stay stay with,, ughh Chanyeol oppa nikahi aku." Lanjutnya bereaksi berlebihan saat mendapati photo Chanyeol yang mengenakan baju seperti ala ala Pangeran dinegri dongeng sembari memainkan piano. Membuat batin dan pikiran luhan berteriak histeris.
Luhan melanjutkan adegan berfangirl ria-nya sembari memekik tertahan. Jika berurusan dengan Park Chanyeol di berubah menjadi lebay dan hyperactive mendadak.
Sehun menatap Luhan, gadis ini benar benar. Saat dirinya dan Soobin membahas tentang operasi Jiyeon dia malah memainkan ponselnya.
" Luhan." Panggilnya.
Luhan tidak menjawab, dia masih tetap focus menscroll layar hpnya kebawah.
" Luhan-ah." Soobin ikut ikutan memangil Luhan.
Seperti menulikan telinganya, Luhan tetap saja tidak menggubris dan melanjutkan keinginanya menuliskan komentar diinstagram Chanyeol.
" Luhan-ah, dokter Oh memanggilmu." Bisik Soobin pelan sembari menyentuh tangan Luhan.
Luhan hanya menghempaskan tangan Soobin dan kembali menstalking Chanyeol.
Karena usaha Soobin yang tidak berhasil, kelakuan Luhan tadi sedikit membuat Sehun marah. Dia tidak suka ada yang menentang dan berani mengabaikanya.
Dia berjalan mnghampiri Luhan dan langsung merampas ponsel milik Luhan.
" Yaaaa!" Teriak Luhan histeris.
Luhan berniat mengambil lagi ponselnya ditangan Sehun.
" Kembalikan ponselku," Ucapnya meminta pada Sehun, nadanya tetap kesal.
Sehun melihat ponsel Luhan. Lalu menscroll kebawah melihat apa yang ditatap Luhan dari tadi.
" Ya Ya! Jangan dibaca."
" real_pcy oppa chukkae, jangan lupa makan…."
Sehun membaca keras keras komentar Luhan diinstagram Park Chanyeol.
Luhan malu bukan main, kesabaranya habis. Dia meloncat mengambil ponselnya dari tangan Sehun, tapi Sehun mengangkatnya tinggi tinggi dan menahan dahi Luhan menggunakan tangan yang satunya.
"Oppa yang terbaik jjang, aku mencintaimu cepat nikahi aku oppaa.." Lanjut Sehun membacakan komentar Luhan.
" Kembalikan, dokter oh.." Teriak Luhan kesal.
" Katamu kau tidak sudi bertingkah imut, lalu ini apa?" Sindirnya sembari menatap Luhan dengan pandangan meremehkan.
" Itu.. yaaa!" Luhan ingin membela diri. Tapi pandangan Sehun membuat Luhan marah, dan Sehun hanya bersikap meremehkan, seperti baru mendapati lawanya menjilat ludahnya sendiri.
Emosi Luhan sudah sampai diubun ubun, dia tidak peduli lagi akan akibat yang ditimbulkan. Luhan langsung mencakar tangan Sehun yang telanjang karena mengangkat ponsel Luhan tinggi tinggi. Sehun tidak memakai snelli dokternya, lengan kemejanya digulung samapi siku.
Sehun mendesis pelan, rasa perih menjalar ditanganya akibat cakaran Luhan.
" Ya!" Bentaknya untuk Luhan.
Luhan terdiam kaget ditempat dibentak oleh Sehun. Lelaki kalem itu dimode marah.
" Kemarikan tanganmu." Ucapnya memerintah.
Luhan menunduk, dia masih menetralkan jantungnya yang kaget dibentak Sehun. Setelah dirasa baik baik saja dia mendongak menatap Sehun.
" kau membentakku.?" Luhan melontarkan pertanyaan yang memenuhi pikiranya. Menurut Luhan, Sehun itu tidak bisa marah, tapi sekarang dia malah dibentak oleh Oh Sehun.
Sehun tidak menjawab, dia menarik paksa tangan Luhan.
Sehun mengamati kuku jari Luhan yang panjang dan warna warni. Seharusnya seorang dokter tidak boleh memiliki kuku yang panjang.
Sehun mengambil penggaris dari mejanya lalu memukul tangan Luhan keras keras.
Ctaakk Ctakkk Ctakkk
" Ahh.." Teriak Luhan kesakitan.
" Potong kukumu." Desisnya dingin.
Luhan meniup niup jari tanganya yang terasa panas. Soobin hanya diam memandang Luhan iba.
" Sekarang keluar." Perintahnya untuk Luhan.
Luhan menatap Sehun sebentar, mengambil ponselnya lalu berjalan keluar. Banyak sumpah serapah berlalu lalang dikepalanya mengumpat si dokter menyebalkan Oh Sehun.
Hansin Medical Center adalah salah satu rumah sakit yang mempunyai fasilitas dengan standar baik. Bahkan untuk tempat makan siang para pegawai dibuat senyaman mungkin dan menu yang ditawarkan juga enak enak.
" Aku suka ini."
" Baiklah, akan aku pesankan."
Kyungsoo menunjukkan pilihan menu yang disukainya. Kyungsoo kembali duduk dikursinya sesudah menyerahkan pesananya kepada pelayan.
Kyungsoo, Luhan dan Eun Ha memiliki janji untuk makan siang bersama disalah satu Restoran dekat Rumah Sakit.
" Luhan belum kelihatan." Ucap Eun Ha.
Kyungsoo mengangguk, lalu mulai bercerita.
" Kau tahu, tadi aku baru bertemu dengan pangeran." Mulai Kyungsoo, dia menceritakanya dengan semangat.
" Pangeran?" Tanya Eun Ha tidak mengerti.
" Ya! Kau tahu dia sangat tampan."
" Lebih tampan mana dari dokter Oh."
Kyungsoo nampak berfikir " Mungkin untukkmu dokter Oh sangat tampan, tapi untukku dia jauh lebih tampan." Jelas Kyungsoo.
" Memang seperti apa dia." Tanya Eun Ha antusias, tidak biasanya Kyungsoo akan bercerita tentang seseorang yang disukainya.
Kyungsoo terlihat berfikir, mencoba mengingat ingat.
" Dia tinggi, kulitnya eksotis, sorot matanya tajam, dahinya menawan.."
" Wahh, lalu lalu.." Ucap Eun Ha penasaran.
Pendeskripsian Kyungsoo tadi membuat fikiran Eun Ha langsung membayangkan sosok itu.
" Dan yang paling penting, dia sangatt seksii kkkkk.." Lanjut Kyungsoo sembari tertawa malu malu, sampai sampai menutup mulutnya.
" Kau beruntung Kyung, aku ingin bertemu denganya," Balas Eun Ha tertarik.
Kyungsoo memukul pelan bahu Eun Ha lalu mulai bercerita lagi.
" Dia sangat lucu, dia bahkan bertanya padaku. Aku dokter tetap apa magang."
" Lalu kau jawab apa?" Eun Ha penasaran.
" Magang, dia juga sempa ragu padaku karena belum berpengalaman menjahit luka." Cerita Kyungsoo pada Eun Ha.
Eun Ha mendengarkan dengan baik sesekali mengomentari.
" Jangan jangan dia tukang jagal." Tembak datar gadis yang lainya.
Eun Ha dan Kyungsoo yang tengah berhigh five ria langsung memandang tajam sosok itu.
" Jangan sembarangan, dia pangeran." Bela Kyungsoo keras.
Luhan tidak peduli, dia langsung duduk dan menyeruput Americano dimeja mereka.
" Kenapa kau terlambat." Kyungsoo bertanya pada Luhan.
Luhan menaruh kembali kopinya, lalu menghadap kearah teman temanya.
" Dokter es krim mu itu menyulitkan hidupku." Ungkapnya kesal, saat mengatakan dokter es krim dia melirik kearah Eun Ha.
Eun Ha heran dengan Luhan. Es krim, dokter.? Ah, Eun Ha ingat.
" Dokter Oh maksudmu.?" Jawab Eun Ha langsung.
Luhan mengangguk.
" Kau pasti membuat masalah lagi." Temba Kyungsoo datar, dia sudah kelewat hapal tabiat dari teman nya itu.
" Sudah kuduga, kau memang tidak bisa dibaiki Luhan." Eun Ha berkomentar.
Luhan tidak merespon, dia menganggap tuduhan temanya tadi merupakan angin lalu, tidak penting. Dia kembali mencomot pizza dihadapan mereka.
Eun Ha dan Kyungsoo mengeleng melihat sikap Luhan, sampai mereka menyadari sesuatu.
" Ya! Kenapa dengan tanganmu.?" Tanya Kyungsoo panic.
Luhan masih makan dengan kesal menjawab. " Itu karena dokter es krim itu, dia memukul tanganku menggunakan penggaris besi." Ucapnya kesal, sengaja bicara keras keras, agar semua orang di Restoran itu mendengar dan tahu kekejaman si dokter menyebalkan itu.
" Karena kuku-ku yang panjang." Lanjutnya.
Eun Ha dan Kyungsoo menertawakan Luhan keras keras.
" Kenapa tertawa.?" Tanya Luhan kesal.
Kyungsoo mengehentikan tawanya " Salahmu sendiri, kenapa memanjangkan kuku."
" Sudah tau jadi dokter tidak boleh memanjangkan kuku, kau masih tetap memanjangkanya. Sekarang rasakan, kuku mahalmu rusak." Eun Ha mencibir Luhan.
Luhan kesal, tapi diam saja.
Setelah puas tertawa Kyungsoo melanjutkan " Jangan mencari masalah denganya Luhan, kau bisa saja tidak diluluskan olehnya." Ucap Kyungsoo mulai serius.
Eun Ha mengangguk menyetujui. " Sebaiknya kau potong kukumu. Dan bersikap baik padanya" Kyungsoo dan Eun Ha mengangguk membenarkan.
Luhan nampak berfikir. Ucapan Kyungsoo barusan tergiang dibenaknya.
" Diberhentikan, tidak lulus."Pikir Luhan
"Jadi kalau aku membuat masalah denganya, dia bisa melakukan itu." Jiwa gelap ditubuh Luhan tersenyum miring.
Dia yakin rencananya kali ini akan berhasil, jadi dia hanya harus membuat si dokter ice cream itu membencinya, dan walah seperti sihir. Si dokter es krim itu akan memberhentikanya jadi dokter.
Luhan tersenyum aneh, dia menyukai opsi tadi. Berhenti jadi dokter, jadi dia akan menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Hanya berdua dengan Chanyeol oppa dan bebas tidak perlu lagi mendapat cacian dan makian dari Sehun, ayahnya, bahkan si tua dokter Kim.
" Kau baik.?" Kyungsoo bertanya panic saat melihat Luhan seperti orang bodoh.
" Ya." Luhan menjawab dengan semangat.
Kyungsoo mengangguk, lalu mereka mulai bercerita kembali.
Hari ini weekend, hari yang biasanya paling banyak pasien yang berkunjung ke Rumah Sakit mereka. Hanya sekedar menyapa para dokter dengan luka benturan, lecet dan sebagainya. Ada juga luka yang parah, sampai sangat parah. Suasana di UGD cukup sibuk, pasien disini didominasi anak muda yang mengalami kecelakaan.
Kyungsoo tidak dipindahkan seperti Luhan, dia dan Eun Ha tetap bertugas sebagai dokter UGD.
" Sedikit lagi," Kyungsoo berucap pelan. Dia menenangkan gadis muda dihadapanya.
Gadis yang terjatuh dari tangga itu mendapat luka benturan dikepalanya.
" Selesai." Ucapnya bersemangat kepada gadis itu. Gadis itu mengucapkan terima kasih, dan dibalas senyuman oleh Kyungsoo.
" Dokter, sebelah sini." Perawat Song memanggil Kyungsoo agar menghampirinya.
Kyungsoo mendekat, dia melihat siapa pasien itu.
Kyungsoo terpaku beberapa saat. Demi apapun yang indah dan tumbuh dibumi ini. Dia yang terbaring disana dengan raut kesakitan jauh lebih indah.
Kyungsoo bahkan harus mengerjapkan matanya beberapa kali saat Perawat Song menyadarkanya dari keterkejutan mendadak itu.
Kyungsoo mendekat, meraih pergelangan tangan pria kesakitan tadi.
Pria itu mengernyit sakit, Kyungsoo meneliti luka pria tadi. –Kim Jongin-
" Lukanya cukup dalam, ini harus dijahit." Kyungsoo mengomentari.
Jongin menatap Kyungsoo sejenak " Lakukan semaumu."
Kyungsoo mengangguk lalu menyuruh perawat untuk mengambilkan keperluan untuk menjahit luka.
Kyungsoo membersihkan luka Kim Jongin dengan cairan pembersih luka, dan itu membbuat Jongin mengernyit sakit.
Lalu Kyungsoo mau menyuntikkan anestesi ke bagian yang mau dijahit.
" Apa harus disuntik." Tanya Jongin, dia bertanya dengan nada panic.
" Ini agar kau tidak merasakan sakit." Jelas Kyungsoo, siap menyuntik lengan Jongin. Dia menahan lengan kekar pria itu dan menyuntiknya perlahan.
Kemudian Kyungsoo menyiapkan benang dan jarumnya.
" Berapa jahitan yang diperlukan.?" Tanya Kim Jongin sembari mengamati Kyungsoo.
Kyungsoo tidak menatap balik Jongin " Mungkin lima atau enam, lukanya cukup lebar." Ucapnya.
Kyungsoo mulai menjahit lengan Jongin yang terluka.
" Kau dokter tetap apa magang.?" Jongin bertanya kembali.
" Magang." Balas Kyungsoo acuh, dia focus menjahit lengan Jongin.
" Kau bisa menjahit kan.?" Selidiknya. Jongin ragu menyerahkan lukanya untuk dirawat oleh dokter magang.
Kyungsoo mengangguk " Aku dokter." Belanya.
Jongin hanya menggumamkan kata oh.
" Lalu bagaimana kau bisa mendapat luka ini." Giliran Kyungsoo yang bertanya.
Jongin menatap Kyungsoo yang sesekali menatapnya juga. " Ini karena aku tidak hati hati saat melompat dari pagar."
" Memangnya kenapa kau melompat,? Apa kau maling." Tuduh Kyungsoo asal. Sebenarnya seorang dokter tidak boleh mencampuri urusan pasien, tapi untuk pria satu ini mungkin Kyungsoo harus melanggar sesekali.
Mendengar perkataan asal Kyungsoo, Jongin tertawa.
" Tidak, bukan seperti itu." Ucapnya membenarkan.
" Aku bukan maling, aku hanya membantu keponakanku mengambil mainanya yang tersangkut dipagar rumah." Lanjut Jongin, memberitahukan kebenaran pada Kyungsoo.
" Oh, sudah selesai." Kyungsoo mengatakanya pada Jongin. Kemudian Jongin menatap luka ditanganya yang sudah diperban.
Kyungsoo meletakkan kembali peralatanya, dan menghadap Kim Jongin yang mengamati lukanya.
" Aku sempat ragu, kukira kau tidak bisa menjahit luka." Ejeknya, dia berniat menggoda Kyungsoo.
Kyungsoo memutar bola matanya malas. " Sekarang kau percaya kan.? Aku bisa melakukanya." Ucapnya sinis.
Jongin tertawa pelan " kau menarik." Ungkapnya jujur.
Kyungsoo hanya mencibir pelan. Demi apapun jantungnya seperti sedang ada lomba lari marathon sesaat setelah Jongin mengatakan Kyungsoo menarik.
" Lain kali hati hati." Ingatnya untuk pria itu.
Dan dijawab anggukan singkat dari Jongin.
TBC.?
Chapter 2 akhirnya selesaii, yeay.. Ada yang nunggu ff abal abal ini gak? Gimana, puas gak. Ciyee Luhan yang kesel ama Sehun. Semoga reader-nim suka ya.. Jangan lupa tinggalkan riview dikolom komentar. Terima kasih banget yang udah review, semoga kalian gak bosen sama ff buatan aku ya..
