Title : My Ice cream Doctor.?
Author : Rilakkumaa_94
Cast : Oh Sehun.
Xi Luhan.
Park Chanyeol.
Do Kyungsoo.
Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)
Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.
Rating : T
Playing : Bolbbalgan4 - Chocolate
Rilakkumaa_94
Present
.
.
.
" Aku lebih suka Chanyeol dengan Baekhyun, mereka sangat cocok."
"… dan orang lain yang mendekatiku karena dia ingin mati.." Ucapnya sedih.
" Aku curiga kekasihmu jangan jangan anak anak juga, trus dibawah umur.?"
.
.
.
.
Luhan memandang serius kearah computer dihadapanya. Wanita itu sekarang berada di ruang istirahat khusus dokter rumah sakit. Diujung ruangan ini terdapat rak buku yang berisikan buku buku tentang anatomi tubuh manusia dan bagian lainya. Ada juga tempat tidur bertingkat disebelah kanan pintu masuk, dan sebuah mesin pembuat kopi. Meja belajar beserta kursi kursinya juga ada disana.
Sorot mata Luhan tidak lepas sedikitpun dari layar computer, jarinya bergerak gelisah kesana kemari, mengetuk ketukan tangan kirinya karena rasa khawatir yang melanda. Bahkan mulutnya tak berhenti melafalkan mantra mantra aneh.
" Asdfghjkl.. -_-/."
Luhan gelisah, karena yang ditunggunya tidak kunjung dibuka.
" Pallii.." Teriaknya, sembari memencet mouse yang digenggamnya dengan memencet mouse itu dengan kasar dan liar juga berulang kali, seperti tengah berebut sesuatu. Setelah itu dia memalingkan wajahnya, dan memejamkan mata.
" Apa berhasil,?" Tanyanya sembari memandang kearah layar, sedetik kemudian dia bersorak gembira.
" Chanyeol oppaa aku datang.." Serunya sembari menarikan tarian abstrak. Melompat lompat saking senangnya.
Yaa! Luhan tadi sedang membeli tiket untuk konser boyband kesukaanya, EXO.
Luhan membeli tiket yang tempatnya sangat strategis untuk bisa melihat wajah wajah tampan member EXO dari dekat.
" Aku harus tampil cantik lusa, siapa tahu Chanyeol oppa tertarik melihatku dan berniat menikahiku." Ucapnya asal sembari tersenyum sumringah. Dia kelihatan sangat senang, kelewat senang malah.
" Buat dia jatuh dalam pesonamu Luhan mueheeeheee.."
Luhan masih tetap saja menarikan tarian abstrak bentuk dari kesenanganya. Dia bahkan berputar putar dan mengangguk anggukan kepalanya.
" Oh ya ya ya ya Lotto Lotto.." Nyanyinya asal.
" Kurasa aku akan memenangkan lotre jika itu berupa Chanyeol oppa.." Cicit Luhan berfangirl ria kembali.
..
.
Sehun
.
Pria itu berjalan santai sembari memasukkan kedua tangannya di celana. Dia sesekali membalas tersenyum beberapa perawat yang menyapanya.
" Selamat siang dokter oh." Sapa dokter Seohyun saat tidak sengaja bertemu Sehun di meja administrasi.
Sehun mengangguk, tersenyum tipis membalas sapaan dokter Seohyun.
" Apa anda sudah makan siang." Tanyanya untuk Sehun disertai senyuman lebarnya yang terkesan cantik.
" Sudah." Jawab Sehun datar.
Dokter Seohyun menggumamkan kata oh pelan.
" Ada apa.?" Tanya Sehun balik.
Seohyun menggelng lalu berucap " Aku hanya ingin mengajak anda makan siang bersama, dan ternyata dokter sudah makan." Jelas dokter Seohyun sembari menunjukkan raut menyesalnya.
Sehun merasa sedikit tidak enak mendapati raut Seohyun yang berubah sedih.
" Lain kali saja." Sehun menawarkan, nadanya tetap saja datar dan dingin.
Seohyun mengangkat wajahnya dengan binar dimatanya yang kentara. Lalu dia mengangguk tanda setuju.
" Em, apa anda tidak ingin memeriksa pasien Choi Han Moo." Tawar Seohyun pada Sehun.
Choi Han Moo supir bus yang dioperasi oleh Sehun dan Seohyun beberapa waktu lalu.
" Apa dia sudah sadar."
" Sudah, tapi kondisinya masih belum stabil. Saya ingin anda memeriksanya." Seohyun mengatakanya dengan nada memohon.
" Baiklah." Sehun menyetujui, dan langsung berjalan pergi bersama Seohyun keruang rawat pasien Choi.
Beberapa perawat yang menyaksikan percakapan antara Sehun dan Seohyun hanya berdesis iri melihat kedekatan mereka.
" Bukankah ini tidak adil." Salah satu perawat mengeluh, sembari menatap punggung Sehun yang menjauh.
Perawat lainya membenarkan.
" Bagaimana bisa ada manusia setampan itu." Pujinya dengan raut takjub.
" Kau benar, dokter Oh memang sangat tampan."
" Dia terlihat seperti model,lalu cara berjalanya tadi aduh, tak kuasaa aku.." Keluh seorang perawat dilebih lebihkan.
" Kau gila." Ejek perawat yang lainya.
" Aku rela jadi gila, jika yang merawatku adalah dokter Oh Sehun." Ungkapnya saat mengatakan Oh Sehun ekspresinya berubah sumringah.
" Bermimpilah terus. Dokter Oh milikku." Kali ini perawat Jang ikut ikutan.
" Kau harus bersaing denganku.." Yoo Jung mengatakanya dengan lantang. Menatap perawat Jang mengintimidasi.
Perawat perawat diatas merupakan beberapa dari fans fans Sehun yang tersebar di Rumah Sakit ini.
" Tapi aku tidak suka dengan dokter Seohyun. Dia menggoda dokter Oh, ugh menyebalkan." Racau perawat tadi – Yoon Yoo Jung-
" Kau benar, aku tidak suka jika melihat nya" Tambah yang satunya,
" Ini tidak adil, kenapa makhluk setampan dokter Oh harus bersama wanita cantik seperti dokter Seo." Ungkapnya dengan nada kesal. Yoo Jung mempoudkan bibirnya kesal.
" Aku bahkan malu jika ingin mendapatkan cintanya dengan wajah seperti ini.." Ungkap perawat Jang sedih.
" Kau benar, dokter Oh terlihat seperti Adonis dan dokter Seo adalah Aprodhite. "
" Mereka sama sama tampan dan juga cantik." Giliran perawat Cho bersuara.
" Tapi tetap saja mereka tidak cocok.." Jelas Yoo Jung cepat. Suaranya menunjukkan kepercayaan dan keyakinan yang kuat.
Perawat lainya hanya mencibir perkataan Yoo Jung tadi. Bukan rahasia lagi jika seorang Yoo Jung tergila gila dengan pesona dokter Oh.
Setelah menyelesaikan basa basi tidak penting itu, beberapa perawat tadi kembali melanjutkan tugas masing masing.
" Dasar perawat perawat genit." Komentar Eun Ha saat telinganya mendengar percakapan Yoo Jung dan perawat lainya tadi.
" Mereka saja yang tidak tahu kalau si Sehun itu menyebalkan." Luhan ikut ikutan berkomentar.
" Jaga bicaramu Luhan." Kyungsoo meperingatkan.
" Biar saja, biar Sehun tahu sekalian." Ucapnya keras keras.
Eun Ha , Luhan dan Kyungsoo sudah kembali kerumah sakit lagi setelah menyelesaikan makan siangnya dan tak sengaja mendengar pembicaraan beberapa perawat tadi.
" OH SEHUN MENYEBALKAN.." Seru Luhan keras leras.
" YA!" Kyungsoo memperingatkan lagi, sembari menampar lengan Luhan.
" Apa?"
" Kau dilihat oleh mereka." Bisik Kyungsoo pelan sembari memandang kearah beberapa perawat yang menatap tajam kearah mereka.
Luhan mendengus kasar, " Biarkan saja." Ucapnya acuh.
" Kau cari mati Luhan." Eun Ha berkomentar.
Luhan tetap saja tidak peduli dan malah lanjut menyumpahi Oh Sehun beserta beberapa perawat genit tadi.
" Oh Sehun tampan darimanya, dia seperti mayat hidup, jelek, tak berperasaan." Umpatnya, sembari menyilangkan tangan didepan dada.
Kyungsoo dan Eun Ha menggeleng, " Sudah tinggalkan saja dia." Eun Ha menyeret Kyungsoo pergi, meninggalkan Luhan yang masih kesal sendiri.
" Ya, mau kemana kalian.?" Teriaknya, sembari mengejar mengikuti jalan Kyungsoo dan Eun Ha. Kyungsoo dan Eun Ha mempercepat jalanya meninggalkan Luhan yang mengejarnya.
" Ya, tunggu.." Teriaknya.
.
.
.
.
.
.
Hari ini Luhan tampak senang, wanita yang berstatus dokter itu tak henti hentinya tersenyum dan terkadang membalas sapaan dari anak kecil yang ditemuinya. Baru sekarang dia mau menyapa anak kecil yang sudah dia anggap musuh sendiri.
Luhan bersenandung kecil, sembari berjalan santai. Memandangi sekitar area Rumah Sakit yang selalu ramai.
" Ah itu Min-ah." Katanya senang saat menemukan seseorang yang dicarinya dari tadi.
Luhan menghampiri seorang perawat yang sedang berada dimeja administrasi.
" Min-ah.." Panggilnya riang.
Yang merasa terpanggil menoleh kebelakang, mendapati Luhan yang tersenyum sumringah kearahnya.
Perawat bermata bulat, dan berpipi chubby itu tersenyum memandang Luhan dihadapanya. Lalu Luhan berjalan mendekatinya begitupun perawta itu.
" Ada apa dokter Xi, kau terlihat senang hari ini." Tanyanya penasaran pada Luhan saat sudah berada dihadapan Luhan yang sumringah.
" Jangan memanggilku seperti itu, Luhan saja." Luhan menginterupsi.
Min-ah tepatnya Kim Min Seok itu menepuk dahinya pelan lalu mengulanginya. " Ada apa Luhanie kau terlihat senang.? Apa kau baru saja mendapatkan barang Chanyeol oppa limited edition.?" Tebaknya.
Luhan menggeleng lalu, menyuruh Minseok menebak lagi.
Minseok terlihat berfikir. " Apa kau mendapat tanda tangan Chanyeol oppa."
" Tidak tidak, lebih dari itu."
" Tebak lagi yang benar." Pancing Luhan lagi. Masih enggan memberitahu Minseok.
" Apa kau baru mendapatkan tas Prada limited edition?"
Luhan yang belum puas, menggelengkan bahunya tanda Minseok harus menjawab lagi.
" Bukan itu."
Minseok mengedikan bahunya lalu menyerah," Aku tidak tahu, sekarang cepat katakan." Desaknya pada Luhan.
" Baiklah baiklah. Taraaaa.." Ucap Luhan bahagia sembari menunjukkan sebuah tiket konser kepada Minseok.
Minseok terkejut, lalu sedetik kemudian dia mengucapkan selamat untuk Luhan " Selamat Luhan-ah akhirnya kau bisa menonton konsernya,."
Luhan mengangguk semangat. " Aku tidak menyangka, ini tempatnya sangat dekat Luhan-ah." Gumam Minseok takjub saat merebut tiket dari tangan Luhan.
" Aku juga, sekarang aku bisa melihat wajah tampan Chanyeol oppa dengan jelas, kyaa senangnya.." Ungkap Luhan senang sembari melompat bersama Minseo. Dia terlihat sangat senang terbukti dari rautnya yang cerah ditambah mata nya yang berbinar.
" Selamat.." Minseok mengucapkan sekali lagi. Mereka berdua masih senang senangnya berfangirl ria menceritakan tentang Chanyeol.
" Chanyeol oppa memang penyanyi yang hebat."
" Benar, lagu lagunya juga selalu enak didengar."
Luhan mengangguk membenarkan.
" Chanyeol juga tampan, aku ingin menikah denganya." Luhan mengatakanya dengan penuh harap.
Minseok memegang bahu Luhan. " Jangan bermimpi." Ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.
" Kau benar? Aku bahkan tidak pantas untuknya." Luhan membenarkan ucapan Minseok.
" Semua orang juga mengatakan bahwa aku terlalu bermimpi, dan mimpiku terlalu tinggi."
Luhan mendongakkan kepalanya, menatap Minseok lalu menghela nafas pelan. Dia berubah sedih, tidak seceria tadi.
" Mereka bilang aku tidak akan pernah bisa menjad istrinya begitupun Eun Ha dan Kyungsoo yang mengatakan begitu dan jika aku terjatuh mereka bilang tidak akan mau menolongku, tapi—" Luhan menggantungkan kalimatnya, terdiam sebentar sembari membasahi bibirnya yang mulai kering. Minseok menatap Luhan menunggu kelanjutan kalimatnya.
" Tapi siapa suruh mimpi tidak ada batasanya, jadi aku bermimpi setinggi tingginya. Apa itu salah? "
" Tidak kan? " Luhan mengucapkanya kepada Minseok, meminta pembenaran atas kata katanya barusan.
Minseok mengangguk setuju, kemudian mengubah topic lain tidak membahas hal tadi dan melanjutkan menceritakan Chanyeol.
" Tapi aku lebih suka Chanyeol dengan Baekhyun, mereka sangat cocok." Ucap Luhan memperlihatkan foto Chanyeol dan Baekhyun berduaan kepada Minseok sembari tersenyum.
" Bukankah mereka sama sama laki laki." Tanya Minseok cukup terkejut saat melihatnya.
Luhan membenarkan. " Benar."
Minseok menatap Luhan penasaran, heran dengan gadis itu. " Lalu? Bukankah sesama lelaki tidak akan timbul perasaan cinta?"
Luhan menggeleng, lalu menatap Minseok yang menatapnya heran " Sekarang zaman sudah berubah, hubungan sesama jenis sekarang bukan hal yang tabu lagi Min-ah."
" Tapi mungkin mereka pasti akan banyak yang menentang." Minseok bergumam pelan.
" Ya aku tahu."
" Aku berharap cinta mereka bisa terwujud tanpa ada penghalang." Lanjut Luhan lagi.
Luhan dan Minseok melanjutkan kembali cerita mereka.
Sampai sebuah suara berat mengiterupsi keasyikkan Luhan dan Minseok.
" Luhan.." Panggilnya.
.
.
.
Sehun
.
Pria muda itu keluar dari salah satu ruang rawat, tempat diamana pasien Choi Han Moo berada.
Didampingi Seohyun, Sehun baru saja memeriksa keadaan Pak Choi.
" Apa dia baik baik saja?" Tanya Seohyun pada Sehun.
Sehun mengangguk " Ya, lusa dia sudah boleh pulang." Jawabnya datar tidak memandang Seohyun.
Seohyun mangut mangut, " Dia pasti sangat senang." Ucapnya kemudian.
Sehun menatap Seohyun " Kau merawatnya dengan baik." Pujinya untuk Seohyun, tapi tidak ada perubahan dalam ekspresinya. Tetap saja datar.
Seohyun terkejut, dia tidak menyangka dokter dingin mengatakan pujian untuknya.
" Terima kasih." Balas Seohyun dengan binar dimatanya.
Sehun tersenyum tipis, tidak salah kan jika dia mengucapkan pujian untuk seseorang.
" Apa anda tahu bahwa anak Pak Choi juga salah satu pasien disini?"
" Benarkah?" Balas Sehun tidak tertarik, masih melanjutkan jalanya.
Seohyun mengangguk dan memandang Sehun lagi. " Namanya Choi Hyun Mi."
Seohyun menatap Sehun sebentar, lalu melanjutkan ceritanya. " Aku sempat melihatnya kemarin, kasihan sekali dia.?" Seohyun mengucapkanya dengan nada sedih.
" Memangnya kenapa.?" Tanya Sehun, tapi tidak memalingkan wajahnya untuk mengahadap Seohyun.
" Dia masih sangat kecil, dan harus mengidap penyakit kanker."
Sehun melirik sekilas kearah Seohyun yang terlihat sedih.
" Dia sempat menangis sewaktu selesai kemotherapy dan tahu bahwa rambutnya rontok." Jelasnya lagi.
Sehun mengangguk mengerti. " Dia bahkan iri pada temanya yang bisa pergi bersekolah, ugh kasihan sekali." Seohyun memandang lagi Sehun disebelahnya. Lelaki dingin itu serius mengahadap depan.
Seohyun menundukkan kepalanya, ia merasa diabaikan.
Sehun melirik Seohyun disampingnya, heran dengan wanita disebelahnya yang tiba tiba terdiam.
" Lalu bagaimana dia sekarang?" Tanya Sehun.
Seohyun mendongak menatap Sehun, ia terkejut. Ternyata Sehun tidak mengabaikanya.
" Aku tidak tahu." Jawabnya.
Sehun mengangguk.
" Tapi apa bisa kita melihatnya sebentar." Usul Seohyun kepada Sehun dengan semangat.
Sehun terlihat berfikir sejenak. " Kamar inapnya berada dilantai tiga." Seohyun berkata lagi.
" Itu tidak jauh dokter."
Sehun melirik Seohyun yang kelihatan bersemangat. " Baiklah." Jawabnya pada akhirnya menyetujui permintaan Seohyun.
Seohyun tersenyum senang sembari memberikan senyuman yang paling manis untuk Sehun. Sehun hanya membalas tersenyum tipis dan sedikit merasa canggung.
.
.
Luhan
Gadis mengikuti arah kaki seorang pria tua dihadapanya. Setelah acara bergossip rianya dengan Minseok yang dirusak oleh pria tua dihadapanya itu, sekarang si dokter Kim mengajaknya kesuatu tempat. Mereka berjalan cukup jauh untuk menghindari keramaian, sepertinya mereka akan membahas sesuatu yang penting. Setelah lama berjalan mereka sampai kesalah satu balkon Rumah Sakit dilantai tiga ini.
Pria tua itu menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Luhan. Luhan diam, dan ikut menatapnya juga.
" Bagaimana kabarmu?" Tanya pria tua itu basa basi – dokter Kim Joon Myeon.
Luhan menjawab datar " Baik."
" Kau belajar banyak darinya bukan?"
Luhan berdecih, mentertawakan pertanyaan dokter Kim.
Si tua tersenyum " Kau menyukai pembimbingmu.?" Tanyanya datar, ada nada meremehkan diujung kalimatnya.
Luhan tersenyum sinis " Ya! dia sangat bermurah hati padaku.! " Ucapnya sinis, sedikit lebih menekankan saat mengatakan kata murah hati.
Dokter Kim tertawa " Bersikap baiklah padanya." Saran dokter kim, masih tertawa melihat Luhan yang kesal.
" Untuk apa?"
Dokter Kim tersenyum sinis. " Jangan membuatnya marah, atau kau tidak pernah bisa menjadi dokter."
Luhan tertawa sinis. " Kau sengaja melakukan ini ya?" Tuduhnya.
Dokter Kim hanya mengedikkan bahu acuh.
" Kalian selalu saja menyulitkanku." Racau nya.
" Itu untuk kebaikanmu."
Luhan berdecih " Kebaikan apanya." Bantahnya sembari menatap dokter Kim sinis.
" Kupikir hanya dia yang sanggup mengubahmu." Dokter kim mengucapkanya dengan lembut. Nadanya tdak seperti tadi, mengahadapi Luhan butuh kesabaran ekstra
Luhan mencemooh dokter tua dihadapanya ini " Memang sehebat apa dia? Kupastikan dia akan menyerah lebih dulu, sebelum bisa mengubahku." Ancamnya.
" Jangan seperti itu, kau akan menyesal nantinya." Desisnya tajam.
Dokter kim mengatakan itu untuk memperingatkan Luhan agar jangan macam macam pada dokter Oh Sehun.
" Aku tidak akan menyesal."
Dokter Kim berdecih pelan, mengomentari sikap Luhan.
" Kau akan tahu nanti."
Luhan ingin sekali tertawa dihadapanya lalu mengumpat dia dengan kata kata kasar.
" Begitukah?" Luhan masih menantang dokter Kim.
" Kau kan menyesal Luhan." Ancamnya lalu berlalu pergi meninggalkan Luhan sendiri, Luhan mengamati punggung dokter tua itu lalu mengumpatnya didalam benaknya.
.
.
.
.
.
Sehun.
Kamar ini terasa begitu ramai, bukan karena orang orang didalamnya, bukan juga anak anak yang bermain. Diruangan serba putih ini terkesan penuh, karena banyak sekali alat alat penunjang kehidupan pasien disana sini. Ditempelkan dibeberapa bagian tubuh, dan menimbulkan bunyi yang cukup memekakkan telinga.
Sekarang lelaki dingin itu dan Seohyun menjenguk anak Pak Choi. Setelah menutup kembali pintu tersebut dengan pelan, diikuti Sehun yang sudah disamping Seohyun.
Seohyun terdiam sebentar, tidak melanjutkan jalanya kembali. Dia terlihat berfikir sembari melihat keseluruh penjuru ruangan, Sehun yang dibelakang mengikuti arah pandangnya.
" Ah itu dia." Ucap Seohyun bersemangat sembari menghadap Oh Sehun lalu berjalan dahulu.
Sehun mengikuti jalanya dibelakang. Seorang anak umur 12 tahunan terbaring disalah satu ranjang rumah sakit itu.
Seorang anak bewajah pucat dan kurus terbaring disana, dia menggunakan penutup kepala berwarna merah muda.
" Hai Hyun Mi." Sapa Soobin hangat.
Hyun Mi mendongak menatapnya, dan Sehun. Sehun mengeluarkan senyum tipisnya dan dibalas dengan senyum yang lebar oleh Hyun Mi.
" Bagaimana keadaanmu?"
Hyun Mi menatap Seohyun kemudian. " Baik dokter."
Seohyun tersenyum, Hyun Mi kembali menatap Sehun lagi. Heran dengan dokter lelaki dihadapanya, wajahnya datar tapi dia seperti malaikat penebar kebaikan.
Seohyun mengikuti arah pandang Hyun Mid an mengangguk mengerti. " Dia dokter Oh Sehun ucapkan salam padanya."
Hyun Mi mengangguk " Annyeonghasseyo dokter."
Sehun mendekat kearah Hyun Mi, memegang kepalanya.
" Dokter sangat tampan." Hyun Mi berucap polos, mendapati wajah Sehun begitu dekat denganya. Seohyun terkikik geli, begitupun Sehun yang hanya tersenyum.
" Terima kasih. Kau juga cantik." Balasnya.
Hyun Mi tersenyum lebar, senang mendapat pujian dari Sehun.
" Kau sudah makan Hyun Mi?" Tanya Seohyun.
Hyun Mi mengangguk membenarkan. " Anak pintar." Pujinya sembari mengelus kepala Hyun Mi sayang.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah Sehun dan Seohyun menemani Hyun Mid an bermain bersama denganya. Untuk melupakan rasa sakit yang dirasakanya.
Hyun Mi begitu polos dan manis. Dia sama seperti dengan anak kecil lain, suka bermain dan merajuk. Tapi yang membuatnya berbeda adalah dia anak yang peka terhadap lingkungan sekitar. Dia sadar bagaimana kondisi orang tuanya yang hidip serba berkecukupan, dia juga tahu bahwa dengan sakitnya seperti ini akan mengahbiskan uang banyak. Untuk itu dia memiliki semangat hidup yang tinggi dan ingin mewujudkan cita citanya agar bisa membahagiakan orang tuanya. Bahkan anak kecil pun mempunyai pikiran seperti itu.
" Hyun Mi nanti ingin jadi apa?" Tanya Seohyun sembari menguncir rambut Hyun Mi dibelakang. Sehun duduk didepan Hyun Mi.
" Dokter." Ucapnya semangat.
Sehun menatap Hyun Mi, " Kenapa Hyun Mi ingin menjadi dokter?" Seohyun bertanya lagi.
Hyun Mi diam, terlihat berfikir. " Karena Hyun Mi suka dengan dokter." Dia mengucapkanya sembari mengadap Seohyun.
Seohyun tersenyum, lalu mengusak kepalanya gemas.
" Kalau begitu cepatlah sembuh dan kembali bersekolah."
Hyun Mi mengangguk semangat lalu tersenyum dengan lebar.
.
.
.
.
Setelah percakapanya dengan si tua menyebalkan dokter Kim itu, mood Luhan sedikit memburuk. Luhan sekarang berada di ruang istirahat dokter.
" Si tua itu mengancamku.?" Tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri, lalu tertawa meremehkan.
" Memang siapa dia." Desisnya dingin.
Meskipun Luhan tidak mau memikirkanya lagi, tapi seakan akan ucapan dokter Kim selalu terngiang diotaknya.
" Kupikir hanya dia yang sanggup mengubahmu."
Ucapan dokter Kim kembali terngiang.
" Besikap baiklah padanya."
" Aku tidak sudi bersikap baik padanya, setelah dia memukul tanganku." Ucapnya sembari memperhatikan jari tanganya.
" Kuku mahalku.." Dia memeriksa kuku kukunya dan mengelus elusnya.
Daripada memikirkan si tua dan si dokter es krim berwajah datar itu, lebih baik Luhan mengembalikkan moodnya yang buruk dengan menonton drama di laptop yang dibawanya dari rumah.
" Ajhussi tampan, aku sangat merindukanmu." Ucapnya sembari menonton drama Goblin dilayar laptopnya.
.
.
Dilayar menampilkan Ji Eun Tak berjalan dihamparan salju, sembari memakai syal merahnya.
" Brengsek." Umpatnya.
Kembali mengingat tentang si Goblin yang mabuk dan bersandar pada tiang listrik, bersama Ji Eun Tak dihadapanya.
" Aku tak bisa menarik pedang ini, hanya kau yang bisa." Balas si Goblin saat Ji Eun Tak bertanya padanya.
Ji Eun Tak terlihat bingung, kenapa harus aku pikirnya.
" Kau itu pengantinya bodoh." Komentar Luhan marah marah sembari mengunyah snack kentang dipelukanya.
Adegan selanjutnya.
" Aku harus menarik pedang ini agar aku terlihat.." Goblin menggantungkan kalimatnya. Ji Eun Tak menatap Goblin penasaran.
" Agar aku terlihat lebih tampan," Lanjutnya.
" Aishh kau sudah tampan, kekasihku.." Ucap Luhan sungguh sungguh, matanya belum terlepas dari layar.
Goblin berjalan selangkah demi selangkah mendekati Ji Eun Tak yang diam mematung. Berjarak tiga langkah Goblin menatap Eun Tak yang menatapnya juga.
" Ayo kita pulang kerumah." Ajaknya.
" Aku tidak punya rumah." Jawab Eun Tak datar.
" Tempat yang kuanggap rumahku, ternyata juga bukan rumahku." Lanjut Eun Tak.
Ji Eun Tak mengungkapkan kisahnya, tentang bibinya yang ingin uang asuransinya. Ji Eun Tak merasa bahwa semua orang yang didekatnya hanya ingin maunya saja.
"… dan orang lain yang mendekatiku karena dia ingin mati.." Ucapnya sedih.
Luhan menghayati dramanya dengan sungguh sungguh.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah Luhan yang terus melihat drama, tanpa tahu jam sekarang tengah sibuk sibuknya dirumah sakit terutama UGD. Luhan jika sudah didepan laptop, menonton drama sambil ngemil. Dia bisa lupa segalanya.
.
.
.
Sekarang lewat tengah malam, Soobin baru saja keluar dari UGD. Dengan wajah kelelahan gadis itu berjalan dengan menggerakkan kepalanya yang terasa kaku. Dia diminta membantu pasien kecelakaan beruntun tadi di UGD. Pasiennya sangat banyak dan pihak UGD meminta pada dokter yang lainya membantu.
" Sebaiknya anda beristirahat." Saran perawat Jang yang berjalan bersamanya.
Soobin mengangguk lalu mengucapkan permisi.
" Hati hati dokter Soo." Ucap perawat Jang yang melihat Soobin hampir menabrak tembok.
Soobin berjalan dengaan pelan sembari memgang kepalanya yang sakit. Gadis itu terlihat lelah, dan lemas setelah menangani banyak pasien, terlebih dia belum memakan apapun sejak tadi siang. Soobin berjalan menuju ketempat istirahat. Dia langsung masuk dan mendapati Luhan disalah satu kursi disana dengan memandang serius kearah layar laptop didepanya.
" Kau disini." Tanyanya malas pada Luhan.
Luhan hanya bergumam tak tertarik, dan selanjutnya tanpa mempertanyakan alasan Luhan lagi. Soobin langsung menuju tempat tidur dan berbaring dengan damai diatasnya.
.
.
.
.
.
Ruangan ini sangat lebar dan luas, banyak sekali perabotan mahal yang mendominasi. Ruang TV ini begitu nyaman dan tenang.
Dua orang laki laki dan perempuan duduk berdampingan disana. Terlihat nyaman dengan acara TV yang ditontonya. Menampilkan acara pencarian bakat menyanyi.
" Suaranya bagus sekali." Yang perempuan berkomentar sembari memakan camilan di toples.
Sang lelaki memandang sebentar ke arah TV lalu berkomentar dalam hati.
Sang wanita melirik suaminya, " Sayang."
" Ya.!"
" Apa kita terlalu keras pada Luhan?" Soyou bertanya.
" Itu demi kebaikanya."
Soyou menghela nafas, seperti tidak puas akan jawaban suaminya itu.
" Tapi bukankah kita terlalu memaksakan keinginan kita padanya.?"
Tuan Xi menatap istrinya. " Aku hanya tidak tega melihatnya, dia seperti tidak ingin menjadi dokter." Lanjut Soyou.
" Lalu harus bagaimana lagi, ibu ingin dia menjadi dokter." Tuan Xi membalas.
Soyou mengangguk. " Andai saja adiknya masih hidup, Luhan pasti tidak akan kesulitan seperti sekarang."
" Jangan mengingatnya lagi, dia sudah tenang sekarang."
Soyoun cemberut, Tuan Xi memeluk istrinya menenangkan.
" Luhan pasti mengerti. Kau tenang saja! " Tuan Xi berucap, Soyou membalas pelukan suaminya.
.
.
.
.
.
Pagi harinya, tepat hari Selasa. Hari ini bukan weekend atau hari libur Nasional. Para pegawai, dokter dan perawat di Hansin Medical center masih melakukan pekerjaanya seperti biasa. Sangat sibuk dan masih banyak pasien yang perlu ditolong.
Luhan sudah berada didepan ruangan Sehun bersama Soobin. Gadis itu tampak cantik dengan rambut yang dikuncir sengaja dibuat tinggi tinggi.
" Kau baik." Tanyanya untuk Soobin disampingnya yang terlihat pucat.
Soobin mengangguk, dan mengatakan bahwa dia baik baik saja.
" Tapi kau kelihatan sakit.?"
" Serius aku tidak apa apa, Luhan." Soobin mengucapkanya dengan nada kesal.
Luhan mangut mangut, tidak mempedulikan Soobin lagi.
Setelah menunggu sekitar 10 menit lamanya, seseorang yang ditunggu muncul dibalik pintu.
Dia Sehun, hari ini sangat tampan. Dia menggunakan kemeja berwarna biru tua dibalik snelli dokternya, rambut cepaknya disisir keatas, tak lupa pomade yang ia gunakan membuatnya tampak rapi. Dan juga sepatu pantopfel yang mengkilat dan celana dasar berwarna hitam.
Luhan sempat terkesima sesaat memandang dokter dingin dihadapanya ini, dia masih bisa menyembunyikan raut keterkejutanya tidak seperti Soobin yang terang terangan menunjukkanya. Gadis pintar itu ternganga dihadapan Sehun, matanya berbinar tak lupa juga matanya yang tadi sayu sekarang melebar. *alay
Mendapat tatapan seperti itu Sehun hanya bersikap biasa saja. Dia tidak terlalu peduli dengan pandangan orang lain terhadap dirinya.
Sehun menatap Soobin yang menatapnya sembari menganga " Apa kau sakit." Tanya Sehun, mendapati wajah Soobin yang pucat, terlebih tidak ada polesan make up satupun diatasnya. Biasanya Soobin paling rajin berdandan agar tampak cantik. Berbeda dengan Luhan, gadis itu lebih suka make up natural dan menguncir rambutnya dengan kuncir kuda. Luhan bukan tomboy hanya saja tidak suka berdandan.
Soobin menggeleng dan menjawab dia baik baik saja. Soobin sempat memerah karena pertanyaan Sehun tadi, " Dokter Oh memperhatikanku." Pikirnya
" Ayo." Ajaknya pelan.
Luhan mengangguk lalu menarik Soobin berjalan.
.
.
Luhan, Sehun dan Soobin berada diruang salah satu pasien Sehun. Wanita berumur sekitar 37 an terbaring diranjang kecil rumah sakit itu.
Wanita tadi menyapa Sehun yang berjalan menghampirinya. Sehun memeriksa pasien wanita tadi lalu menanyakan keluhanya.
" Aku tidak apa apa. Kau merawatku dengan baik dokter." Puji wanita itu.
Sehun mengangguk dan tersenyum tipis.
" Kalau begitu istirahatlah, jangan terlalu lelah."
Wanita tadi mengangguk sembari tersenyum. Luhan dan Soobin juga ikut tersenyum membalas wanita itu.
Sehun mengucapkan kata pamit dan pergi keluar diikuti Luhan dan Soobin. Setelah mendapat jawaban wanita tadi dan pencerahan singkat dari Sehun , ia melanjutkan kembali memeriksa pasien yang lainya diikuti Luhan dan Soobin yang mencatat.
Setelah lima pasien Sehun selesai diperiksa, Soobin tiba tiba hampir terjatuh saat berjalan. Untung dengan cepat Luhan menariknya dan mendudukanya di kursi rumah sakit.
" Kau tidak apa apa?" Luhan bertanya sembari memegang tubuh Soobin dan menuntunya duduk dikursi.
Sehun menghentikkan langkahnya dan berjalan menghampiri mereka berdua. Luhan duduk sembari meletakkan kepala Soobin dipundaknya.
" Ada apa.?" Tanyanya untuk Luhan saat melihat Soobin. Sebelum Luhan menjawab Sehun sudah duduk disamping Soobin.
" Kau tidak apa apa?" Tanyanya datar untuk Soobin yang terkulai lemas.
Soobin tidak menjawab, kemudian Sehun mulai memeriksa dahi Soobin, mengecek suhu tubuhnya.
" Kau demam Soobin."
Soobin menatap Sehun dengan mata sayunya. Sehun menarik nafasnya pelan.
" Kau sudah makan.?" Tanyanya lagi.
Soobin menggeleng lemah.
" Kenapa kau belum makan.?"Giliran Luhan yang bertanya, dia merasa sedikit bersimpati pada Soobin.
" Aku tidak lapar."
Sehun menatap Soobin sebentar, ingin memarahi kecerobohan gadis ini. Tapi mengingat keadaan Soobin, Sehun urung melakukanya.
" Sebaiknya kau istirahat." Perintah Sehun setelah berfikir cukup lama.
" Aku tidak apa apa." Tolak Soobin mencoba ingin berdiri.
" Kau butuh istirahat Soobin." Ucap Sehun tegas.
" Tapi nanti tidak ada yang membantu dok—"
" Tidak apa apa." Potong Sehun cepat.
" Masih ada Luhan yang akan membantu." Sehun mengatakanya sembari mentap kerah Luhan.
Luhan yang ditatap merasa mengerti dan berucap " Sebaiknya kau istirahat saja."
Soobin menatap Sehun sebentar lalu mengangguk pasrah.
Kemudian Luhan dan Sehun mengantar Soobin ke UGD untuk bersitirahat disana. Sehun membantu membopong Soobin dengan Luhan.
DI UGD.
Soobin sudah ditidurkan diranjang rumah sakit, Sehun menyuntikkan sesuatu ke lengan kanan Soobin, gadis itu sudah tidur telentang diranjang. Luhan hanya memandang ngeri saat jarum yang dipegang Sehun menusuk jahat kulit putih Soobin.
" Kenapa kau bisa sampai kelelahan, Soobin-ssi.?" Tanya Sehun kepada Soobin yang menatapnya, masih tertidur.
Sehun berdiri disisi kanan ranjang Soobin.
Soobin mengigit bibir bawahnya ragu, bingung mengatakannya atau tidak.
" Semalam saya membantu menangani pasien kecelakaan di UGD dokter." Soobin memutuskan mengatakan yang sebenarnya pada Sehun.
" Seharusnya kau jangan lupa makan." Ingatnya, wajahnya masih datar.
Luhan yang berdiri disamping Sehun juga mengangguk menyetujui ucapan Sehun. Soobin mengangguk membenarkan ucapan dokter dingin itu, untuk kedua kalinya Soobin merasa diperhatikan.
" Dokter Soo kemarin bekerja sangat keras sendirian." Ucap perawat Song tiba tiba.
Dia berdiri berhadapan dengan Luhan.
Sehun menatapnya datar, menunggu kelanjutan ceritanya.
" Dokter Luhan tidak membantunya." Adu perawat Song pada Sehun.
Ekspresi Luhan berubah kaget saat Perawat Song membawa namanya.
Sehun mengernyitkan dahinya, lalu menatap Luhan tajam.
Luhan menatap Sehun juga, berniat melayangkan pembelaan. Tapi melihat Sehun yang tampak marah, suara Luhan tak kunjung keluar.
" Apa itu benar,?" Tanyanya datar, masih dengan raut dingin.
" Tidak ada yang mengatakan seperti itu padaku jika mereka memintaku membantu di UGD." Belanya.
Perawat Song yang menjawab " Dokter Soo telah menelpon anda berulang kali, tapi anda tidak mengangkatnya."
Luhan menelan ludahnya kasar " Aku menon-aktifkan ponselku." Jawabnya keras. Lalu dia melihat Sehun yang menatapnya dingin.
" Jadi, kau benar tidak membantunya?" Tanya Sehun sekali lagi.
Melihat Sehun seperti itu, terbesit ide jahat dipikiran Luhan untuk melancarkan aksi nya. Dia pikir ini waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan.
" Iya.." Jawabnya santai, tidak merasa bersalah.
Sehun menatap Luhan dengan pandangan tak bisa dibacanya, gadis dihadapanya ini bodoh atau dungu sih. Gadis bernama Luhan ini tidak ada satupun peri yang mencerminkan sisi kemanusiaan tertanam padanya. Dia tidak merasa bersalah sedikitpun melihat Soobin yang sedang sakit.
.
.
.
.
Mereka berdua tidak lagi di UGD. Sehun dan Luhan, hanya mereka berdua Soobin sedang istirahat di UGD.
Setelah insiden tadi Sehun tampak tenang tenang saja, tidak mempedulikan apapun. Luhan pikir dengan cara yang tadi dia bisa membuat Oh Sehun marah dan berniat tidak meluluskanya.
Dia bahkan tadi tidak mengatakan apapun saat Luhan mengakui bahwa dirinya kemarin sedang menonton drama di ruang istirahat dan Luhan juga mengakui dia tidak membantu Soobin di UGD. Tapi Sehun tenang tenang saja, tidak berubah marah seperti dipikiranya.
Normalnya seseorang yang menghadapi sikap seenaknya Luhan akan marah bahkan sampai membencinya, tapi si dokter dingin ini tidak.
Luhan sempat berfikir sifatnya Oh Sehun memang dingin dan cuek, atau memang ini caranya membuat Luhan berubah, dan pria itu sedang merencanakan sesuatu , atau bisa juga Sehun adalah makhluk astral yang tercipta dari es mengingat betapa dinginya pria itu.
Luhan mencoret opsi terakhir, berhadapan dengan Oh Sehun membuatnya pusing sendiri.
Luhan dan Sehun masuk kesalah satu ruangan. Luhan berdiri disamping Sehun, arah pandangnya menuju ke depan.
" Shit! Anak anak lagi." Umpatnya dalam hati.
Sehun berjalan menghampiri seorang anak kecil berusia 9 tahunan disana.
" Kau itu dokter ahli bedah jantung apa dokter anak anak sih?" Tanya Luhan kesal.
Sehun tidak membalas pertanyaan kesal Luhan, dia lebih memilih mengabaikan.
" Kau suka anak anak ya?" tanyanya bodoh, sehun hanya bergumam pelan.
" Aku curiga kekasihmu jangan jangan anak anak juga, trus dibawah umur.?" Lanjutnya asal mencemooh Sehun.
Sehun tidak menjawab, Luhan kembali bersuara " Dasar pedofil." Tuduhnya. Sengaja mendekatkan dirinya saat mengatakan kata pedofil.
" Terserah.." Balas Sehun singkat.
Luhan mengikuti Sehun dari belakang. Sehun menanyakan kabarnya, dan dijawab manis oleh pasien itu – Yeri-
Sehun mulai memeriksa Yeri, mulai detak jantung, dll.
" Kenapa kau melepas infusmu." Tanyanya dingin saat mendapati infus Yeri yang tidak menancap dilenganya, sontak saja membuat Yeri menegang takut.
" Tadi tertarik saat aku terjatuh." Jelasnya takut takut. Sehun mengangguk lalu memeriksa bagian tubuh Yeri yang lebam akibat terjatuh.
Sehun duduk dikursi, lalu mengoobati luka Yeri di dengkulnya. Dengan telaten Sehun mengoleskan obat merah dan memperban luka itu. Luhan berdiri disamping Sehun masih mencatat sesuatu.
" Infus dia.." Ucap sehun datar kepada Luhan setelah selesai mengobati memar didengkul Yeri.
Luhan menatap Sehun sebentar " Kenapa bukan kau saja?" tanyanya kebingungan.
Sehun tidak menjawab, malah menyerahkan jarum infusnya pada Luhan. Mau tak mau dengan berat hati Luhan menerimanya.
" Tidak bisakkah aku tidak usah diinfus lagi -." Yeri memohon.
" Tidak bisa.—" Potong Sehun cepat.
Luhan menghembuskan nafas pelan lalu meraih lengan Yeri, Yeri ketakutan saat melihat jarumnya.
" Pelan pelan.." Pintanya, Luhan mengangguk malas.
Luhan mencari pembuluh darahnya lalu akan mulai menusuk. Sebelum jarum itu menusuk sempurna, Yeri menarik tanganya.
Luhan memegangnya cepat, Yeri masih berusaha melepaskan pegangan Luhan ditanganya.
" Aku tidak mau.." Teriaknya, Luhan memegang erat lengan gadis itu, sementara Sehun menenangkan.
Luhan menarik tangan Yeri dan menusukkan jarumnya cepat, Yeri bergerak kembali tapi tidak sengaja Luhan mengores lengan Yeri dengan kukunya. Sontak membuat Yeri terkejut dan menangis.
Luhan membenarkan infusnya dulu dan menatap luka baru dilengan Yeri yang disebabkan oleh kukunya.
Sehun memandang Luhan lagi. " Kau belum memotong kukumu ya?" Tuduhnya langsung.
Luhan menggeleng acuh lalu mengangkat jari tanganya.
" Aku sudah memotongnya, ini.." Tunjuk Luhan pada Sehun. Mengangkat kedua tanganya dihadapan Sehun.
Menggerak gerakkan jari telunjuknya yang pendek dan tidak ada kuku panjangnya. Sedangkan keempat jari lainya kukunya masih panjang.
" Kau melihatnya kan?" Tanya Luhan lagi, masih menggerakkan telunjuknya.
Sehun menggeram menahan marah. Dia menatap Luhan tidak percaya.
" Temui aku nanti Xi Luhan.." Desisnya tajam.
.
.
.
TBC?
.
.
.
Anggep aja disini Luhan tuh kayak fangirl alay kayak kita. Yang suka banget sama Chanyeol dan rela ngelakuin apapun buat dia. Dan juga kalian ngerti maksudnya yang kuku? Maksudnya kuku yang dipotong sama Luhan itu cuma telunjuknya aja, yang lainya enggak. Jadi selain jari telunjuk yang lainya masih panjang kuku kukunya. Makasih yang udah mau baca ff abal abal ini, semoga reader-nim gak bosen sama ff buatan aku. Big thanks buat kalian semuaaa.
