Chapter 4.
Title : My Ice cream Doctor.?
Author : Rilakkumaa_94
Cast : Oh Sehun.
Xi Luhan.
Park Chanyeol.
Do Kyungsoo.
Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)
Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.
Rating : T
Playing :EXO – Tender Love.
Rilakkumaa_94
Present
.
.
.
" Untuk apa, aku bahkan tidak ingat pernah bertemu denganmu."
" Park Chanyeol….. Park Chanyeol… Park Chanyeol…."
" Kena kau.."
.
.
.
.
Flashback.
.
Sekarang pukul 11.30 pm. Luhan baru saja keluar dari kamar mandi, masih menggunakan handuk yang membalut rambutnya yang masih itu menggunakan baju tidur lengan panjang berwarna biru muda.. Dia baru 15 menit yang lalu sampai dirumahnya, terhitung sudah tiga hari dia tidak bercumbu dengan kasur empuknya Luhan memutuskan untuk pulang.
Luhan duduk didepan kaca besarnya, berniat mengeringkan rambutnya. Gadis itu focus menatap kaca, sembari bersenandung ria.
" Jangan mencari masalah denganya Luhan, kau bisa saja tidak diluluskan olehnya." Ucapan Kyungsoo kembali tergiang lagi.
Luhan mengehentikan aktivitasnya, lalu tersenyum evil.
" Sebaiknya kau potong kukumu. Dan bersikap baik padanya" Ucapan Eun Ha lewat dipikiranya lagi.
Luhan meninggkalkan kaca besarnya, lalu mulai berjalan kearah meja belajar. Duduk disana, sambil mengambil buku dan menulis sesuatu disana.
Dia menuliskan sambil tertawa dan kelihatan senang.
Luhan tertawa lagi menatap kertas ditanganya. Kali ini lebih keras, entah apa yang ditulisnya.
" Lihat saja, dokter sialan. Aku akan menunjukanmu siapa Luhan sebenarnya." Luhan mengatakan itu penuh percaya diri.
" Jangan main main denganku." Ucapnya sinis.
.
Flashback end.
.
Luhan memutar bola matanya malas, tanpa mengucapkan kata apapun Luhan pergi begitu saja dari hadapan Yeri dan Sehun.
Setelah menutup pintu ruang inap Yeri, Luhan tersenyum miring.
" Rencanaku berhasil." Serunya dalam hati.
Luhan terlihat senang karena berhasil membuat Sehun marah. Setelah ini Sehun pasti akan memberikannya hukuman, atau lebih parahnya Sehun tidak akan meluluskanya dan menyuruhnya berhenti jadi dokter.
Opsi terakhir jauh lebih menggiurkan.
Luhan memilih meninggalkan tempat itu dan berniat mencari Minseok untuk diajak menggosipkan Chanyeol.
" Jangan menangis.." Sehun menenangkan Yeri. Yeri memang anak yang manja dan mudah menangis, Yeri tidak suka benda tajam dan terluka.
Yeri yang sesenggukan mulai tenang.
" Dokter tadi hiks nenek hiks sihir." Adunya pada Sehun.
Sehun tersenyum tipis " Bukan cuma kau yang mengatakannya mirip nenek sihir." Ucapnya.
Mengingat sudah banyak korban Luhan yang mengatai gadis itu nenek sihir, Sehun pun mulai mempunyai pikiran yang sama dengan anak anak itu.
Sehun mengobati lagi luka Yeri yang dperbuat oleh Luhan.
" Jangan menangis." Ucap Sehun lagi.
Yeri mengentikan tangisnya, dan menatap Sehun.
.
.
Luhan berjalan santai melewati lorong lorong Rumah Sakit menuju ruang administrasi. Setelah mencari kesana kemari, matanya menangkap sosok Minseok diujung sana. Dengan gembira Luhan menghampiri dan menyapa Minseok.
" Oh Luhanie, ada apa kesini.?" Tanya Minseok sopan.
Luhan menjawab " Aku mencarimu."
Minseok tersenyum dan mengajak Luhan untuk duduk dikursi panjang.
" Apa kau jadi melihat konser Chanyeol oppa besok.?" Tanya Minseok setelah mereka berdua duduk.
Luhan mengangguk semangat " Tentu saja, ini kesempatan emasku bisa melihatnya dari dekat."
" Lalu kau sudah meminta izin cuti.?" Tanya Minseok Lagi.
" Aku akan memintanya nanti."
Minseok terdiam sejenak lalu bersuara " Besok hari minggu, mungkin di Rumah Sakit akan sibuk. Dokter Oh pasti tidak mengizinkanmu mengambil cuti."
Luhan tersenyum " Tenang saja aku akan memikirkan alasanya." Luhan menggantungkan kalimatnya.
" Berbohong pun tak masalah yang penting aku bisa melihat Chanyeol oppa.." Lanjutnya gembira.
.
.
Sehun
.
Selesai dengan masalah yang ditimbulkan oleh Luhan pada Yeri. Sehun mengucapkan selamat tinggal dan menyuruh Yeri istirahat.
" Istirahatlah." Perintahnya sembari membenarkan letak selimut gadis itu.
Yeri mengangguk lalu menutup matanya.
Sehun menutup kembali pintu ruang inap Yeri. Dia mendesah pelan, pikiranya terus terusan menyinggung Luhan.
Sehun tidak habis pikir dengan kelakuan gadis itu. Sebelumnya dokter Kim memberitahunya tentang sifat Luhan yang tidak suka menjadi dokter dan asal asalan. Sehun tidak peduli, yang penting dia sudah mengajarkan yang dia bisa untuk Luhan, mengubah seseorang itu bukan hal mudah.
Lalu dokter dingin itu memutuskan mencari Luhan. Dia berjalan santai, melewati lorong lorong Rumah Sakit.
Tujuan pertamanya adalah meja administrasi, setahunya Luhan senang sekali berkunjung kesitu karena ada Minseok.
Ternyata dugaan Sehun benar, Luhan dan Minseok duduk dikursi panjang. Mereka terlihat membicarakan sesuatu, Sehun menghampiri mereka. Berjarak kurang lebih delapan langkah dibelakang Luhan, Sehun sayup sayup mendengar pembicaraan mereka.
" Lalu kau sudah meminta izin cuti.?" Minseok bertanya pada Luhan.
" Aku akan memintanya nanti." Luhan mengatakanya dengan santai.
Minseok terdiam " Besok hari minggu, mungkin di Rumah Sakit akan sibuk. Dokter Oh pasti tidak mengizinkanmu mengambil cuti."
" Kenapa mereka menyebut namaku." Ucap Sehun dalam hati. Dia kembali menguping pembicaraan Luhan dan Minseok.
Luhan tersenyum " Tenang saja aku akan memikirkan alasanya." Luhan menggantungkan kalimatnya.
" Berbohong pun tak masalah yang penting aku bisa melihat Chanyeol oppa.." Lanjutnya gembira.
" Luhan." Panggil Sehun.
Luhan menoleh kebelakang mendapati Sehun berdiri delapan langkah dibelakangnya. Luhan menghadap Minseok kembali lalu mengucapkan selamat tinggal. Luhan bangkit dan berjalan pergi menghampiri Sehun. " Fighting Luhan-ah." Seru Minseok sembari mengepalkan tanganya didepan dada dan mengarahkanya pada Luhan.
Luhan mengangguk dan tersenyum.
" Ada apa?" Tanyanya sesaat setelah sampai dihadapan Sehun.
Sehun tidak menjawab malah berjalan pergi. Luhan mendesah kasar, Sehun begitu menyebalkan.
Luhan mengikuti langkah jenjang Sehun keruanganya tidak ada percakapan diantara mereka berdua, Luhan maupun Sehun larut dalam pikiran masing masing. Sehun masuk duluan lalu disusul Luhan yang menutup pintu.
"Sit down there." Titahnya untuk Luhan. Luhan menurut, ia duduk disalah satu sofa panjang dengan tenang. Menunggu Sehun memarahinya, dia sudah siap dengan kemungkinan diberhentikan jadi dokter.
Sedangkan yang dilakukan Sehun adalah, lelaki dingin itu mencari cari sesuatu dilaci meja kerjanya. Setelah menemukan apa yang dicarinya dia berjalan menghampiri Sehun mengeluarkan barang yang dicarinya tadi dan melemparkanya pada Luhan.
Luhan refleks menangkap barang yang dilemparkan Sehun, sebuah pemotong kuku ada digenggamanya sekarang.
" Potong kukumu sekarang." Ucapnya memerintah.
Luhan sontak membalas " Tidak mau-."
" Potong sekarang—" Potong Sehun cepat, masih dengan wajah datar -_-
Luhan mendesah " Aku akan memotongnya disalon." Tawarnya, sambil menatap Sehun.
Sehun tidak peduli, dia masih memandang dingin gadis itu. " Aku tidak bisa memotong kuku, nanti akan terlihat jelek dan tidak rapi." Lanjut Luhan mempertahankan kuku cantiknya.
Sehun berdecak pelan, pria dingin itu duduk dihadapan Luhan kemudian dan mengambil pemotong kuku ditangan gadis itu.
" Kemarikan tanganmu." Ucapnya memerintah, mengulurkan tanganya menyambut jari jari Luhan.
Sehun memandang horror Luhan yang menatapnya dengan pandangan memohon- " Jangan rusak kuku cantikku."-
Sehun memaksa Luhan, dia tidak suka diajak tawar menawar lagi mulai sekarang.
Dengan berat hati Luhan menyerahkan tanganya pada Sehun. Sehun menarik tangan Luhan cepat lalu mulai memotong kukunya.
Sehun memotong kukunya dengan asal asalan dan tidak rapi, yang penting pendek.
"Kau merusak kuku mahalku.." Kesal Luhan pada Sehun, gadis itu mau menangis melihat kukunya yang terbaring dilantai menjadi korban kekejaman Oh Sehun.
Asal Sehun tahu memanjangkan kuku Luhan butuh waktu yang lama, dia bahkan sangat menyukai kuku kukunya terbukti dari Luhan merawatnya dan mewarnainya dengan warna warni.
" Kau jahat sekali sih.?" Rengek Luhan.
Sehun tidak menjawab dia focus memotong motong kuku Luhan.
" Kau punya dendam padaku ya?" Tebaknya asal. Luhan mulai mencurigai Oh Sehun.
" Untuk apa, aku bahkan tidak ingat pernah bertemu denganmu." Jawabnya sarkastik.
" Bukankah kau marah karena aku mengiramu dokter magang sama seperti ku.?" Tebaknya lagi, Luhan mengutarakan apa yang dipikirkanya. Tiba tiba dia teringat dengan pertemuanya dengan Sehun dimesin minuman. Sehun masih diam, tidak menjawab pertanyaan tidak penting Luhan.
" Satunya." Selesai dengan tangan kanan Luhan. Sehun meminta tangan kiri Luhan, Luhan menyerahkanya pada Sehun.
" Atau kau masih kesal padaku karena aku merebut minumanmu.?" Selidiknya lagi, masih menginterogasi Sehun.
" Iyakan-" Lanjutnya.
Sehun diam. " Kau kekanakan sekali." Ejek Luhan mencemooh si dokter menyebalkan Oh Sehun.
Luhan tertawa sinis, perubahan sikapnya cepat sekali " Aku akan menggantinya dokter Oh." Ucapnya sembari menepuk punggung Oh Sehun dari samping.
Sehun menghempaskan tangan kiri Luhan yang selesai dipotong kukunya, dan itu membuat badan Luhan berjengit kaget.
Kemudian Sehun memandang Luhan dingin. " Jangan memanjangkan kuku lagi, atau akan kupotong tanganmu sekalian." Ancamnya jahat.
Luhan memberengut kesal, berbicara dengan Oh Sehun tidak seindah memandang wajahnya yang tampan. " Untung tampan." Gerutunya dalam hati.
Lalu sedetik kemudian dia memandang jari tanganya.
Dia kemudian menatap Sehun " Selain menjadi dokter, kau juga pantas menjadi tukang salon." Ejek Luhan, mencemooh Sehun secara terang terangan.
What the hell?Wajah Sehun berubahjadi lebih dingin dari sebelumnya, dia tersinggung.
Apakah menurut Luhan Sehun sama seperti banci salon? Yang suka mengecat rambutnya warna warni.? Dan bersolek dihadapan laki laki tampan?
Luhan tertawa mengejek melihat Sehun, dia tidak akan kalah soal mencemooh orang, Luhan paling berbakat dalam hal itu. Kemudian masih diliputi tawa bahagianya bisa membalas Oh Sehun Luhan pergi begitu saja dari hadapan Sehun meninggalkan Sehun yang tengah membunuh Luhan dalam fikiranya.
.
.
.
Setelah menutup pintu ruangan Oh Sehun, baru selangkah berjalan dia berpapasan dengan Soobin yang bertanya padanya.
" Ada apa dengan wajahmu." Tanya Soobin yang sudah sembuh dari sakitnya.
Luhan menggeleng lalu berjalan pergi lagi, meninggalkan Soobin yang menatapnya heran.
Soobin mengedikan bahunya acuh, lalu masuk keruangan Oh Sehun tak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Soobin berjalan mendekati Sehun yang masih duduk disofa.
Soobin menyapa Sehun " Kau sudah baik baik saja" Tanyanya pada Soobin, Sehun menyuruh gadis itu duduk.
Soobin duduk disamping Sehun " Ada apa dengan Luhan, dia tadi terlihat senang?" Tanyanya penasaran.
" Tanyakan padanya." Sehun menjawab tanpa memandang Soobin.
Soobin yang dasarnya pintar, bertanya curiga.
" Apa dia membuat anda kesal." Tanyanya to the point.
Sehun terdiam sejenak " Kurasa dia sengaja melakukan itu dokter,-" Ucap Soobin serius.
" Dia berniat membuat anda kesal." Lanjutnya. Soobin sempat melihat Luhan yang bertingkah aneh dan senang saat dimarahi oleh Sehun.
Sehun menatap Soobin, menunggu kelajutan ceritanya. " Saya pernah melihat Luhan tersenyum senang saat anda menyuruhnya keluar dari ruangan Jiyeon dan Sena." Cerita Soobin panjang lebar.
Sehun menatap tidak tertarik, itu bukan urusanya lagipula. " Biarkan saja." Ucapnya diakhir.
.
.
.
.
.
.
.
Jam kerja Sehun dalam seminggu itu Senin – Jum'at. Biasanya lelaki dingin itu pulang keapartementnya malam hari, atau bahkan tidak pulang sama sekali.
Sehun memilih untuk menetap sendiri diapartemen di kawasan Gongbaek itu, dikarenakan jaraknya lebih dekat dari rumah sakit. Apartement sehun berada dilantaiteratas gedung ini. Apartement ini merupakan salah satu yang paling mahal, dilihat dari fasilitas yang ditawarkan, dan penjagaan kemanaan yang ketat.
Ckleek
Sehun membuka pintu apartementnya menggunakan sidik jari, ya! Sudah kukatakan apartemen Sehun canggih. Selain sidik jari bisa juga menggunakan password.
Sehun masuk kedalam apartementnya, ruanganya bersih dindingnya bercat putih gading. Perabotan didalam rumah Sehun juga merupakan barang yang mahal.
Pria dingin itu menuju kedapur, mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya sampai habis.
Kemudian berjalan kearah kamar yang ditempatinya lalu bergegas untuk mandi. Apartement Sehun sangat bersih, bukan karena sering dibersihkan, lebih tepatnya tidak pernah dikunjungi. Ruangan demi ruangan terlihat sangat rapi, diseberang sana terdapat banyak rak berisikan buku buku tentang medis, dan disamping kiri terdapat lemari kecil tempat Sehun menaruh piagam penghargaanya. Perlu diketahui, waktu SMA Sehun itu atlet renang, dia juga pandai berenang dan pernah memenangkan medaliemas dipertandingan tingkat nasional.
30 menit kemuudian.
Lelaki itu keluar dari kamar mandi bak kamar mandi hotel itu, mengenakan celana pendek dan baju putih tipis sehingga menampilkan badan Sehun yang mulai terbentuk. Tak lupa handuk kecil yang menggantung dilehernya. Wajahnya basah dan dia malah terlihat berkali lipat lebih tampan.
Lelaki dingin itu berjalan menuju ranjang king size nya. Merebahkan dirinya diranjang empuk itu, mengistirahtakn badan dan otot otonya yang kaku karena terlalu lama berkerja.
Sehun menutup matanya, sekarang sudah tengah malam tapi Sehun belum bisa tidur.
Pikiranya menyinggung Luhan dan omongan Soobin tadi.
" Kurasa dia sengaja melakukan itu dokter,-" Soobin mengucapkanya dengan raut serius.
" Dia berniat membuat anda kesal." Lanjutnya.
Sehun membuka matanya " Untuk apa dia melakukan itu?" pikirnya.
.
.
.
.
Dua orang lelaki duduk berhadapan, yang satu terlihat masih sangat muda dan yang satunya jauh lebih matang. Diumur yang mau memasukki kepala empat itu, dokter Kim penampilanya jauh terlihat sangat tua dan tidak tampan.
" Bagaimana operasimu.?" Tanya dokter Kim basa basi, pada dokter muda dihadapanya –Oh Sehun-
Sehun meletakkan kembali kopi ditanganya " Berjalan dengan sukses." Balasnya pelan.
Dokter kim mengangguk lalu mulai membahas topic lain. " Apa Luhan membuat masalah?"
Sehun menatap sebentar dokter Kim, lalu menjawab " Dia masih perlu banyak belajar."
" Ya aku tahu, maka dari itu aku menyerahkanya padamu." Ucap dokter kim.
Sehun tidak menjawab dia tidak terlalu peduli dengan Luhan " Kau hanya harus lebih sabar menghadapi sikapnya." Lanjut dokter Kim.
" Ya." Sehun membalas singkat.
" Orang tuanya menginginkan dia menjadi dokter." Dokter Kim bercerita, tanpa diminta Sehun.
" Tapi Luhan tidak mau, lagipula jika dia membuat ulah, bersikap keraslah padanya." Saranya.
" Kenapa anda sangat perhatian pada Luhan.?" Tanya Sehun pada akhirnya. Dia sedikit penasaran kenapa dokter Kim bisa bersikap baik pada Luhan.
" Ayahnya memintaku menjaganya." Jelas dokter Kim.
Sehun mengangguk perlahan lalu meminum kopinya kembali.
" Kau harus membuatnya berubah Sehun." Dokter Kim mengucapkanya dengan serius.
Sehun meletakkan kopinya lalu menaikkan satu alisnya.
" Kenapa harus aku.?" Tanyanya heran.
" Kupikir hanya kau yang bisa membuatnya berubah lebih baik."
" Aku minta tolong padamu, bisa kau berjanji?" Dokter Kim meminta lagi.
Sehun bingung, dia tidak tahu harus apa. Dia mengangguk sebagai jawaban.
" Terima kasih."
" Tapi aku tidak berjanji, jika dia tidak bisa berubah." Dokter Kim mengannguk, lalu kembali melanjutkan pembicaraanya dengan Sehun.
.
.
.
.
Hari ini tepat 10 jam sebelum konser Chanyeol dimulai. Luhan bekerja dirumah sakit seperti biasa, dia berniat bekerja setengah hari dan mengambil cuti sampai besok. Mengingat biasanya gadis itu setelah menonton konser Chanyeol akan begadang semalaman karena tidak bisa tidur.
Luhan mengetuk pelan pintu ruangan Sehun, setelah mendapat sahutan dari dalam. Gadis itu masuk dan menutup pintunya kembali secara perlahan. Dia melangkahkan kakinya kemeja Sehun dengan senyum yang mengembang.
" Ini." Luhan menyerahkan sebuah map berwarna coklat dihadapan Sehun.
" Taruh disana." Balas Sehun tanpa memandang Luhan, lelaki itu sibuk mengerjakan beberapa laporan penting.
Luhan menaruhnya disamping kiri meja Sehun. Luhan tadi sempat menawarkan dirinya untuk mengambil catatan medis salah satu pasienya Sehun hitung hitung berbuat baik.
Luhan menatap Sehun sebentar, dia berniat mengatakanya sekarang mumpung Sehun sepertinya lagi berbaik hati.
" Ada apa?" Tanya Sehun heran merasa diperhatikan oleh Luhan sembari tersenyum.
Luhan berdehem pelan, mengatur suaranya semanis mungkin.
" Saya ingin mengambil cuti nanti siang sampai besok." Ucapnya sembari tersenyum.
" Tidak boleh,-" Potong Sehun cepat, belum mengalihkan pandanganya untuk menatap Luhan.
Luhan mendesah " Kenapa?"
" Rumah sakit sedang sibuk sekarang, tidak ada yang boleh meminta izin jika bukan urusan yang penting." Ucapnya dengan tegas.
Luhan berdecak sebal, tanpa mengucapkan salam dan membungkuk hormat gadis itu keluar dari ruangan Oh Sehun.
.
.
30 menit setelah kepergian Luhan.
Sehun.
Lelaki dingin itu masih betah berkutat didepan komputernya. Mengerjakan beberapa laporan medis pasien pasienya. Sehun melirik jam ditangan nya sebentar, masih 11.45 am.
Sehun menyandarkan tubuhnya dikursi, lelaki itu diam dan lurus menatap kedepan. Melirik ruanganya sebentar lalu beralih melirik ponselnya yang tergeletak diatas meja.
Sehun menggeser ponsel itu, ada 5 panggilan tak terjawab.
" Ibu.." Sehun bergumam, saat mengetahui siapa yang menelponya.
Sehun berniat menelpon kembali nomor ibunya, siapa tahu itu hal yang penting. Sehun menekan tombol hijau dilayar ponselnya.
Tutt tutttt tuttt
" Halo.." Suara disana menjawab.
Sehun menempelkan ponsel ketelinganya.
" Ibu kenapa menelpon.?" Tanyanya.
" Oh ibu akan berkunjung ketempat kerjamu."
" Ibu ingin melihat ruanganmu, lagipula ibu mungkin akan menemukan wanita cantik disana, yang cocok denganmu." Lanjutnya bercanda.
Sehun terlonjak kaget, tapi rautnya masih datar.
" Tidak usah, ibu pulang saja."
" Kenapa, sebentar lagi ibu sampai."
Sehun berdecak sebal, ibunya memang selalu membuatnya pusing.
" Aku sedang sibuk ibu. Jadi tidak usah datang."
" Tidak bisa, ibu sudah sampai."
Sehun berdecak lalu berdiri, berniat menghampiri ibunya dan menyuruhnya pulang. Sehun berjalan cepat menuju depan Rumah Sakit.
" Ibu dimana?" Tanyanya.
" Di lobby Rumah Sakit, ruanganmu dilantai berapa.?"
Sehun mempercepat langkahnya. " Tunggu disana, aku akan menyusul kesana." Ucapnya lalu mematikan sambungan teleponya.
.
.
7 jam sebelum konser Chanyeol.
.
Luhan kembali masuk keruangan Oh Sehun dengan ekspresi khawatir bercampur panic.
Dia mendorong pintu dengan kasar dan masuk tergesa gesa.
" Dokter oh." Ucapnya panic.
Sehun menaikkan sebelah alisnya, heran dengan Luhan.
Luhan mencoba tenang, dia menutup matanya sejenak, lalu menarik nafasnya pelan dan dihembuskan asal.
" Ibu saya jatuh dari tangga, saya harus pulang sekarang." Ungkapnyadalam satu tarikan nafas dengan raut panic
Sehun tidak bereaksi apapun, dia hanya menatap datar gadis dihadapanya.
" Saya harus pulang sekarang." Ucapnya lagi, masih menatap Sehun dengan raut panicdibuat buat..
" Tidak boleh." Putus Sehun cepat.
Luhan diam sejenak " Kenapa.?" Teriaknya.
" Ini ibu saya loh, jatuh dari tangga." Perjelasnya lagi, sembari tanganya mengisyaratkan berguling guling.
Sehun berdecih pelan, mengomentari kebodohan Luhan.
" Berhenti berbohong." Sehun berucap datar, ada sedikit nada mencemooh disana.
Semua orang juga tahu jika melihat Luhan saat ini, gadis itu sedang berbohong.
Seperti maling yang tertangkap basah, Luhan mengehentikan segala aktingnya tadi. Rautnya berubah sinis bercampur malu.
" Berbohong tidak akan membantumu, sekarang kembali bekerja." Perintahnya.
Luhan menatap Sehun kesal, menghentakkan kakinya pelan lalu berbalik keluar menuju pintu.
" Si dokter itu benar benar.." Rutuknya dalam hati.
.
.
.
6 jam sebelum konser Chanyeol.
.
Sena, gadis cantik itu hari ini marah pada semua orang dan tidak mau makan dan meminum obatnya. Ibu Sena pusing sekaligus khawatir melihat putrinya yang merajuk. Entah karena apa gadis kecil itu tiba tiba bersikap kurang menyenangkan pada semua orang.
" Makan ya?" Bujuk ibu Sena pada putri kecilnya yang tidur membelakanginya.
" Tidak mau." Bentaknya.
Sehun, Luhan dan Soobin yang berada diruangan itu menatap heran pada Sena. Biasanya gadis kecil itu selalu bersemangat dan bersikap manis pada semua orang.
Ibu Sena menghembuskan nafas frustasi. Lalu menghadap ketiga dokter itu, sebenarnya hanya menatap Sehun.
" Dia belum makan sejak tadi pagi." Ibu Sena mengadu pada Sehun.
" Biar saya yang membujuknya makan." Tawar Soobin baik hati.
Ibu Sena mengangguk dan menyerahkan mangkok yang dipegangnya tadi.
Soobin menghampiri Sena, lalu duduk disamping ranjang.
" Sena." Panggilnya lembut.
Sena bergeming, dia duduk ditempat tidurnya sekarang.
" Makan ya, nanti setelah itu kita bermain." Bujuknya sekali lagi sembari tersenyum manis.
" Nanti kita akan bermain dengan semua orang disini.?" Lanjutnya.
Sena tidak menjawab, dia malah menatap Luhan.
" benarkah?" Tanyanya.
Luhan mengangguk kikuk.
Sena tersenyum senang " Jadi makan okay.?"
" Aku ingin dokter melakukan aegyeo seperti dulu." Pinta nya untuk Soobin.
" Aku ingin nenek sihir yang menyuapiku." Lanjutnya menunjuk Luhan disamping Sehun.
Soobin mengangguk dan menyerahkan mangkoknya pada Luhan. Luhan menerimanya dan duduk disamping Soobin.
Luhan mengarahkan bubur itu kemulut Soobin, Sehun memeriksa Sena dan Soobin yang melakukan aegyeo.
" Dokter sangat imut." Pujinya sembari tertawa.
Soobin tersenyum senang, Sehun juga tersenyum pada Soobin.
Soobin masih melakukan aegyeo nya, Luhan menyuapi Sena yang tertawa terbahak bahak karena wajah lucu Soobin.
Hoekk hoeekkk
Sena memuntahkan makananya di tangan Luhan.
Luhan menegang kaget, Sena memegang tanganya dan muntah disana.
Tangan, muntah, bau? Pikiranya linglung seketika.
Luhan orang tidak suka hal menjijikan.
Sehun sontak memeriksa Sena dibantu Soobin. Sedangkan Luhan diam kaku sembari menengadahkan tanganya menampung muntahan Sena.
Setelah menemukan kesadaranya gadis berparas cantik itu langsung berlari dengan kecepatan cahaya menuju kamar mandi. Membersihkan tanganya dan menyabunya berulang kali.
.
.
.
.
.
.
.
Jam makan siang, Luhan bahkan tidak menyentuh sedikitpun makanan dihadapanya yang terlihat lezat.
Kyungsoo dan Eun Ha memakan dengan porsi cukup besar, persetan dengan diet dan badan kurus berikut seksi serta embel embelnya.
Yang dibutuhkan kedua dokter muda itu adalah makanan yang banyak agar bisa mengembalikan energy mereka yang terbuang setelah bekerja.
" Kenapa kau tidak makan.?" Tanya Eun Ha pada Luhan dengan mulut penuh.
Luhan yang menopang dagunya dengan satu tangan itu menggeleng malas.
" Aku tidak berselera makan." Ucapnya malas.
" Kau baik baik saja.?" Giliran Kyungsoo yang bertanya, tidak biasanya Luhan tidak makan.
Luhan menutup tanganya dan seolah olah bersikap akan muntah.
" Aku tidak nafsu makan setelah dimuntahi setan kecil tadi." Kesalnya mengklaim Sena sebagai setan kecil yang berwujud anak manis.
Eun Ha dan Kyungsoo menghentikan makanya sejenak.
" Kau dimuntahi.?" Kyungsoo bertanya.
" Bagaimana bisa?" Eun Ha melanjutkan dengan raut terkejut.
Luhan menarik nafasnya kasar " Dia begitu saja muntah ditanganku, dan itu menjijikan sekali." Rengeknya kesal.
Kyungsoo dan Eun Ha menenangkan Luhan.
" Sudah tidak apa apa." Kyungsoo berkata lembut.
" Sekarang cepatlah makan, nanti kau bisa sakit."
Kyungsoo menepuk punggung Luhan pelan.
" Benar, setelah ini kita akan bekerja keras lagi." Eun Ha menambahkan.
Luhan menggeleng dia tidak nafsu makan karena masih teringat muntahan Sena tadi, seakan akan itu masih menempel ditangan dan bajunya.
.
.
.
1 setengah jam sebelum konser.
.
.
Gedung besar yang terletak di jantung kota Seoul itu adalah tempat yang akan digunakan sang maha bintang menggelar konsernya.
Gedung yang memiliki 5 lantai itu terlihat penuh dan sesak dibagian depan, bahkan halaman dan aula yang disediakan tidak cukup dan mampu menampung jutaan manusia yang bergerumul seperti semut itu.
Penggemar Chanyeol dan EXO didominasi oleh gadis gadis SMA. Mereka bahkan sampai rela hadir masih menggunakan seragam sekolahnya. Seakan akan waktu hari itu sangatlah beharga untuk dibuang hanya untuk mengganti baju.
Luhan datang kesana tepat waktu, masih ada satu jam sebelum konser dimulai. Dia sudah tidak peduli dengan penampilanya yang berantakan dan belum mandi itu, yang terpenting dia bisa melihat Chanyeol.
Luhan masuk kegedung besar itu, menunjukkan tiketnya dan melakukan test keamanan. Baru dia diperbolehkan masuk.
Luhan menghela nafas lega setelah mengambil tas kecilnya. " Akhirnya," Ucapnya bahagia.
Hari konser.
Lampu lampu dimatikan,semua penonton berteriak histeris. Musik dihidupkan dengan volume penuh, layar diatas panggung menampilkan sosok sosok yang sangat tampan.
" Kyaaaa opppaaaaa.." Teriak Luhan histeris sembari mengayunkan lightstick yang dipegangnya.
Konser dimulai..
Lagu pertama dimainkan, berikut lagu selanjutnya.
" Chan….yeoll…oppaaa…sarang….hae…" Ucap para fans itu bebarengan, saat diatas panggung menampilkan sosok Chanyeol yang sedang bernyanyi solo.
" Oppa ku sangat tampan." Ucap Luhan histeris, dia bahkan sempat menitikan air mata, menahan haru bisa melihat Chanyeolnya sedekat itu.
" Stay…. Stay…. Stay …. With….. Me…. " Para fans ikut serta bernyanyi bersama Chanyeol, setelah itu digantikan teriakan histeris saat Chanyeol mulai nge-rapp dengan suaranya yang terdengar seksi.
" Park Chanyeol.."
" Park Chanyeol….. Park Chanyeol… Park Chanyeol…."
" Ughh…. Chanyeol…Nikahi aku.." Teriak Luhan bak orang bodoh.
Setelah selesai bernyanyi, teriakkan dan tepuk tangan bergemuruh.
Dan konser berjalan seperti pada umumnya.
.
.
2 setengah jam sesudah konser.
.
.
Luhan dan para fans lainya pergi meninggalkan venue, Luhan tersenyum senang sembari memegang sebuah penjepit rambut dan poster bertanda tangan Chanyeol diatasnya.
Saat dikonser, Luhan menangkap bola yang dilemparkan member EXO dan mereka bilang yang mendapatkan bola itu bisa menukarkanya dengan hadiah kepada para staff dibagian depan.
Luhan menukarkanya dan memilih hadiah. Pilihanya jatuh pada sebuah penjepit rambut yang cantik berbentuk pita dan ada hiasan pernak pernik diatasnya.
Luhan mengaktifkan ponselnya kembali, 12 panggilan tak terjawab dan 7 pesan belum dibaca. Luhan membuka nya, rata rata yang memenuhi panggilan di ponselnya adalah Soobin dan Sehun yang menanyakan keberadaan Luhan.
Luhan membuka salah satu pesan dari Sehun.
" Cepat kembali kerumah sakit sekarang, atau aku tidak akan meluluskanmu.?"Pesan itu berupa ancaman, dan entah kenapa membuat senyum miring dibibir Luhan terukir.
" Kena kau.." Ucapnya dengan bangga.
.
.
.
.
TBC?
.
.
.
Mau bacot sebentar. Sebenernya yah chapter 1 sama 2 itu udah aku edit. Udah aku kasih jarak tapi gatau jadinya malah kecampur kayak gitu dan bikin kalian pusing sendiri bacanya. Oh iya dan aku mau ngucapin terima kasih yang udah kasih saran buat pake titik titik itu ya, makasih loh. Trus juga mau cerita sebentar ini emang alurnya dibuat lambat yah, karena disini tuh sehun sama Luhan kalau saling suka itu harus ada alasanya, nanti kalau dibuat langsung jatuh cinta kan gk enak. Kek pandangan pertama langsung jatuh cinta, itu kek ftv menurut aku. Bukanya apa apa ya? Ini pendapat aku sendiri. Jatuh cinta gak secepat itu, bener gak? Kalau jatuh cinta cepet, Sehun bisa aja suka sama soobin, kan soobin kayaknya baik trus idaman laki laki banget.
Aku pernah baca ff dan authornya bilang kalau cinta itu mahal, jadi disini harus menjawab kenapa yang dicinta sehun itu Luhan, dan bukan Soobin?
Udah itu aja yg mau aku sampain, semoga kalian gk bosen sama cerita abal abal ini, dan aku paling cepet bisa updatenya 1 minggu sekali.
Anggep aja member EXO masih sama jumlahnya 12 ya *janbaper ibaratin aja namanya juga sama semua.
Buat kalian yang udah mengapresiasi ff ini, makasih banyak.
hellenfaringga : Makasih yang udah mau baca, iya nanti dipikirin siapa yang jatuh cinta duluan.
OhXiSelu : Anggep aja marganya gak usah diganti, jadi biarin kek gitu ya.
xiHan.a-oh : sudah saya kabulkan permintaan saudara.? chapter depan pasti moment hunhan lebih banyak.
ohjasminxiaolu : Liat aja chapter depan, sehun marah atau enggak.
Jangan lupa review man teman. Wassalam. ^-^ :v 3 3
