Chapter 5.
Title : My Ice cream Doctor.?
Author : Rilakkumaa_94
Cast : Oh Sehun.
Xi Luhan.
Park Chanyeol.
Do Kyungsoo.
Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)
Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.
Rating : T
Playing : 2ne1 – I Don't Care.
Rilakkumaa_94
Present
.
.
.
" Aku tidak suka disentuh."
" Banyak orang yang kesusahan , dan kau malah bersenang senang. Apa kau tak berpikir dengan waras, Luhan."
" Saya tidak peduli, saya hanya memikirkan kondisi pasien. Luhan tidaklah layak menjadi dokter."
.
.
.
.
Flashback.
.
" Aku duluan." Pamit Kyungsoo pada Luhan dan Eun Ha.
Ketiga gadis itu baru saja menyelesaikkan makan siangnya. Kyungsoo mendapat panggilan dan bergegas pergi.
" Kau mau apa Luhan.?" Tanya Eun Ha sembari berjalan santai bersama Luhan disampingnya.
Luhan berfikir " Aku akan melakukan apapun agar bisa menonton konser…" Ucapnya berapi api.
" Aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini." Lanjutnya masih dengan nada semangat.
" Bukankah dokter Oh tidak mengizinkanmu mengambil cuti." Eun Ha mengingatkan.
Tadi Luhan sempat bercerita tentang Sehun yang menghambat jalanya meminta izin cuti, dan mengetahui dirinya berbohong.
" Aku tidak akan kalah dengan dokter itu,"
" Aku pasti bisa melihat suamiku.." Lanjutnya berteriak.
Eun Ha bahkan sampai ikut ikutan mengepalkan tanganya mengikuti Luhan yang berapi api.
" Fighting."Teriak Eun Ha.
" Fighting."Teriak Luhan lagi.
.
.
.
.
.
4 jam sebelum konser.
.
.
Luhan melakukan pekerjaannya membantu Sehun dengan Soobin.
Gadis itu sesekali mencatat dan menatap Sehun bergantian. Gadis itu tengah merencanakan sesuatu.
Sehun mengantongi kembali stetoskop yang digunakanya untuk memeriksa kondisi jantung Jiyeon. Ngomong ngomong Jiyeon sudah dioperasi beberapa hari lalu, dan sekarang dia sudah sadar.
Sehun menanyakan kondisi Jiyeon.
" Aku tidak bisa bernafas, kadang kadang ." Keluhnya.
Sehun mengerti lalu dia menghadap kearah Soobin dan Luhan yang tengah mencatat.
" Pakaikan dia selang oksigen." Perintahnya.
Luhan mengangguk dan berucap cepat " Baik.." mendahului Soobin yang akan membuka mulut.
Soobin menatap Luhan heran, tidak biasanya dia bersikap baik dan menurut saat Sehun meminta mereka berdua melakukan sesuatu.
Luhan memakaikan Jiyeon selang oksigen. Dan anak itu bisa bernafas dengan normal.
Sehun berbicara dengan Soobin.
" Berikan dia vitamin." Ucapnya untuk Soobin, Soobin mengangguk dan Sehun pergi meninggalkan mereka berdua.
Soobin menghampiri Luhan.
" Kau sakit ya.?" Tuduhnya saat dia pas didepan Luhan.
Luhan menggeleng.
" Kau berbeda dari biasanya." Lanjut Soobin heran.
Luhan hanya mengedikan bahu acuh " Aku memang seperti ini dari awal."
Lalu setelah selesai dengan Jiyeon kedua gadis itu pergi meninggalkan ruang inap Jiyeon.
.
.
.
3 Jam sebelum konser.
.
.
Luhan berada didepan ruangan Sehun, menenteng kaca ditanganya sembari memoleskan bedak kewajahnya tebal tebal. Luhan sengaja menghapus lipstick pink yang gadis itu gunakan. . Melihat penampilanya sebentar, mengetuk pintu ruangan Sehun dan masuk kedalam.
" Dokter Oh.." Ucapnya pelan sembari berjalan dengan lambat menuju hadapan Sehun.
Sehun tidak menggubris, lelaki dingin itu tetap focus pada computer yang ia operasikan.
" Dokter oh.. uhukk.." Ucap Luhan sembari terbatuk dan memegang tenggorokanya.
Sehun mengalihkan tatapanya memandang Luhan.
Gadis itu, seperti.. ? Sehun tidak bisa mendeskripsikanya.
Luhan dihadapanya sekarang menggunakan sweeter tebal berwarna biru tua dibalik snelli dokternya. Ini musim panas, apakah gadis itu tidak kepanasan.?
Tak Lupa wajahnya pucat, bibirnya pun pucat. Matanya sayu seperti habis menangis dan rautnya yang seolah olah kedinginan.
" Ada apa.?" Tanya Sehun datar. -_-
Luhan terbatuk sekali lagi lalu mengatakan " Apa saya boleh pulang.? Saya merasa sedang tidak enak badan karena dimuntahi Sena tadi dan mendadak pusing. Uhukkk.. " Ucapnya susah payah, sembari memegang kepalanya dan diakhiri batuk diujung kalimat.
Sehun menahan tawanya, dia tahu Luhan sedang berbohong, lagi.
" Tidak boleh, jika kau sakit istirahatlah di sini." Ucapnya datar.
" Tapii… uhukk hukk saya lebih suka dirumah." Belanya lagi, menampilkan raut memelas.
Sehun berjalan menghampiri Luhan, tepat dihadapan Luhan dia mengulurkan tanganya ke dahi gadis itu. Sebelum tanganya sukses mendarat, Luhan melangkah mundur kebelakang, menghindar.
Sehun menatap Luhan heran.
" Aku tidak suka disentuh." cicit Luhan lirih.
" Apa aku boleh pulang.?" Tanyanya lagi sembari memelas.
Sehun tidak berekspresi apapun -_-
Luhan tetap terbatuk dan memegang tenggorokanya.
Sehun berdecak, lalu berjalan selangkah mendekat, mendekatkan wajahnya disamping gadis itu " Bukankah sudah kukatakan, jangan berbohong lagi." Desisnya tajam. Dia mengatakanya dengan pelan dan suaranya yang tajam. Seolah olah menguliti Luhan hidup hidup.
Luhan menegang, suara Sehun mengerikan. Dia menarik nafasnya lalu menghadap Sehun sinis.
" Aku tidak ber…berbohong." Bantahnya.
Ck! Padahal jelas sekali kalau dia berbohong.
Sehun tidak bereaksi apapun, masih memandang Luhan tajam sekali lagi.
" Kenapa kau tidak mengizinkanku pulang.?" Tanyanya kesal, menghentikan acting sakitnya sedari tadi.
Sehun kembali ke tempat duduknya, lalu memandang Luhan datar.
" Aku tahu kau hanya mencari alasan kan.?" Ucapnya menggantung.
Luhan penasaran akan kalimat selanjutnya.
" Kau meminta izin, dan melakukan hal hal tidak berguna seperti tadi hanya untuk bisa melihat konser, benar?" Ucapnya dingin.
Luhan tertohok, ucapan Sehun terlampau benar. Dia kebingungan bagaimana Sehun bisa tahu. Seakan akan mengerti kebingungan gadis itu, Sehun melanjutkan kata katanya.
" Aku mendengar percakapan mu dengan perawat Min kemarin."
Sehun menatap Luhan lagi, lalu beralih menatap computernya " Sekarang kembali bekerja." Titahnya mutlak tak dapat dibantah.
Luhan menggeram kesal, dia mengumpat Oh Sehun dengan umpatan paling kotor dibenaknya.
Dia menatap Sehun dengan kilatan kemarahan yang ketara, gadis itu kemudian menendang meja Sehun keras.
" Ahhh, shit.!" Umpatnya, sambil memegang kakinya yang sakit.
Sehun memperingatkan " Jangan mengumpat disini."
Peringatan Sehun yang merambat masuk ketelinganya bagaikan sebuah permintaan dan dengan senang hati Luhan menurutinya.
" Shit Shit Shit.." Ucapnya keras keras, lalu berbalik menuju pintu.
" Apa aku kabur saja ya." Ide itu terbesit dipikiran Luhan sembari menyeringai.
Tinggal tiga langkah Luhan dari pintu Sehun bersuara " Jangan coba coba untuk kabur." nadanya memerintah.
Seperti dihantam palu besar, tubuh Luhan mematung dia kaget. Sehun mengetahui niatan Luhan untuk kabur. Gadis itu berdecak sebal lalu menutup pintu dengan keras.
.
.
Setelah Luhan keluar, Sehun mengeluarkan tawa tertahanya sedari tadi. Gadis itu benar benar! Pikirnya.
Sehun berdehem pelan, menghentikan tawanya. Perutnya hampir sakit karena tertawa.
" Bodoh."
Sehun menggelengkan kepalanya, lalu beralih menatap kertas yang sempat ditinggalkanya tadi.
.
.
.
.
Setelah menutu pintu Oh Sehun, gadis itu tidak bisa memikirkan apapun. Sesuatu dalam dirinya menyarankan untuk kabur saja, tapi sesuatu dalam dirinya memperingatkan.
" Apa aku kabur saja ya?" Ucapnya menimang nimang keputusanya.
" Kau kabur saja, ini kesempatanmu melihat suamimu." Suara itu muncul.
Si peri jahat berwarna merah dan ada tanduk dikepalanya muncul disamping kiri, wujudnya seperti Luhan. Luhan melihat kesisi kiri. Lalu mengangguk membenarkan.
" Jangan." Suara yang berbeda muncul juga.
Luhan menoleh menghadap kanan. Si peri baik, berbaju putih muncul disamping kanan Luhan .
" Jangan dengarkan dia, daripada nanti kau menyesal tidak bisa melihat Chanyeol.." Si peri warna merah kembali bersuara. Mempengaruhi Luhan, dan tentu saja itu berhasil.
" Pikirkan ibu dan ayahmu yang mengingkanmu jadi dokter." Si peri baik berucap lagi.
Luhan terdiam, benar juga pikirnya.
" Jangan pedulikan orang tuamu, mereka saja tidak pernah menghargai keinginanmu." Peri warna merah memanas manasi Luhan.
Luhan membenarkan. " Kau benar."
" Jadi kabur saja, pergi lihatlah konser Chanyeol oppamu."
Siperi putih menatap tajam si peri merah. Lalu meaatap Luhan yang mulai terpengaruh.
" Jangan dengarkan dia.—"
" Oh Sehun itu kejam, dia bisa melakukan apa saja, dia bahkan memukul tanganmu. Jika nanti kau sampai kabur, bayangkan apa yang akan terjadi." Si peri baik hati bersuara lagi, masih memperingatkan Luhan.
Luhan terpengaruh lagi " benar juga oh sehun itu kejam." Pikirnya.
Si peri jahat menyeringai lalu berkata " Bukankah itu bagus jika dia jahat." Ucapnya.
" Dia bisa memberhentikan mu jadi dokter jika kau menentangnya." Lanjutnya diakhiri dengan senyuman miring.
Luhan mengangguk " Benar juga."
Dan seketika peri peri itu menghilang.
Setelah mendapat pencerahan, tanpa pikir panjang Luhan langsung berlari menuju ruang istirahat. Membukanya asal lalu melepas snelli dokternya, mengambil tas kecilnya dan bergegas pergi.
.
.
.
1 jam semenjak kepergian Luhan.
.
.
Hari konser Chanyeol bertepatan dengan hari libur, biasanya hari libur banyak sekali terdapat kecelakaan. Biasanya kecelakaan terjadi dijalanan yang ramai, pusat perbelanjaan dan tempat hiburan.
Seperti sekarang di UGD sedang kedatangan tamu korban kecelakaan bus pariwisata anak anak SMP, banyak sekali yang menjadi korban. Anak anak SMP itu sedang melakukan study tur kesalah satu tempat wisata di daerah Busan.
" Sebelah sana." Perawat Song menujukkan jalan.
Suasana di UGD seperti biasanya, riuh, sesak dan menegangkan. Semua orang terlihat sibuk membawa ini dan itu, menempelkan ini dan itu. Saling berlarian dan tidak sabaran.
Dikarenakan pasien yang terlampau banyak jumlahnya, tenaga medis di UGD kekurangan dokter.
Soobin mengikuti langkah panjang Sehun menuju UGD.
" Ada satu anak mempunyai luka serius dibagian leher." Ucapnya untuk Sehun.
Sehun menerima laporan hasil CT Scan anak itu. Melihatnya sebentar dan mengomentari.
" Dimana dia.?" Tanyanya.
Soobin menunjukkan dan Sehun menghampirinya.
Sehun dan Soobin diminta membantu di UGD menangani pasien yang terlampau banyak.
Selesai dengan anak itu, Sehun bergegas ke anak selanjutnya.
Anak lelaki terbaring disana, dia terlihat kesakitan.
" Apa yang sakit?" Tanyanya untuk anak itu.
Anak itu mengatakan tanganya sangat sakit.
Sehun memegangnya dan anak itu berteriak kesakitan.
" Apa sakit sekali." Tanyanya. Anak kecil itu mengangguk.
Sehun meraba lengan anak tadi, dan mengobati lukanya.
Soobin juga begitu, ini pasien ketiganya. Dia menangani luka luka kecil, seperti memar dan lainya.
Sehun menghampiri Soobin dan bertanya " Dimana Luhan."
Soobin menatap Sehun " Saya tidak tahu, dokter." Balasnya, lalu kembali melanjutkan memperban luka gadis dihadapannya.
Sehun berdecak, dia kesal. Disaat seperti ini, Luhan malah tidak ada dan tidak membantu.
Sehun mengeluarkan poselnya dan menghubungi nomor Luhan.
" Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan…."
Sehun mencoba kembali tapi tetap saja sama.
". Silahkan tinggalkan pesan setelah terdengar bunyi beep."
Soobin yang memperhatikan Sehun " Saya akan mencarinya diruang istirahat." Tawarnya, Sehun mengangguk.
Soobin juga ikut menghubungi Luhan dan bertanya kepada Kyungsoo yang ditemuinya.
" Kau tahu dimana Luhan?" Tanyanya saat bertemu Kyungsoo. Kyungsoo menggeleng lalu melanjutkan jalanya.
Soobin kembali lagi dihadapan Sehun " Dia tidak ada disana." Ucap Soobin.
Sehun menghembuskan nafasnya kasar.
" Dokter Oh, disini.." Perawat Jang memanggilnya.
" Ya.." Balasnya.
Sehun mengetikkan pesan untuk Luhan. Menekan cepat lalu menekan tombol send.
Kemudian lelaki dingin itu menghampiri perawat Jang yang memanggilnya.
.
.
Luhan membuka salah satu pesan dari Sehun.
" Cepat kembali kerumah sakit sekarang, atau aku tidak akan meluluskanmu.?" Pesan itu berupa ancaman, dan entah kenapa membuat senyum miring dibibir Luhan terukir.
" Kena kau.." Ucapnya dengan bangga.
.
.
Flashback end.
.
.
.
.
Setelah membayar taksi yang mengantarkanya kerumah sakit. Luhan masuk kegedung besar itu, berjalan dengan raut senang. Hari sudah larut , jam menunjukkan pukul 11 malam.
Luhan memasukki gedung itu dengan santainya, menuju kesalah satu ruangan yang sudah dia hapal letaknya.
Setelah sampai didepan pintu, Luhan diam sebentar. Gadis itu belajar berekspresi, setelah dirasa siap. Gadis itu mengetuk pintu, dan masuk kedalamnya.
Luhan menutup pintu, lalu berjalan dihadapan Sehun yang menatapnya tajam.
Luhan menunjukkan raut bersalahnya.
" Darimana saja kau?" suara itu bertanya tajam.
Luhan diam sebentar, lalu menjawab " Aku tadi ada urusan.."
Sehun berdecih sinis " Urusan apa." Tanyanya dingin.
Luhan diam, " Urusan yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan." Bohongnya.
Sehun bangkit, berjalan mendekat kearah Luhan.
Luhan diam ditempat dan menunduk. " Urusan menonton konser.?" Tembaknya langsung.
Luhan menatap Sehun, lalu mengangguk tak berdosa.
" Seberapa penting konsermu daripada orang yang butuh pertolonganmu disini. Kau tahu tadi banyak pasien kecelakaan di UGD." Bentak Sehun marah.
" Banyak orang yang kesusahan , dan kau malah bersenang senang. Apa kau tak berpikir dengan waras, Luhan." Lanjutnya membentak Luhan.
" Aku tidak peduli." Balas Luhan tak kalah keras.
" Mereka bukan urusanku, dan aku tidak peduli. Siapa suruh mereka memaksaku melakukan hal yang tak kusuka." Belanya, Luhan mengatakan itu dengan emosi yang meluap luap.
Sehun menahan nafasnya. " Kau sengaja melakukan ini ya.?" Selidiknya.
" Untuk apa.?" Lanjutnya bertanya.
Luhan menatap Sehun " Karena aku tidak ingin menjadi dokter." Ucapnya keras.
" Mereka selalu memaksaku untuk menjadi dokter, aku bilang aku tidak mau tapi mereka tetap memaksa." Ada kilatan kemarahan di matanya, Luhan ingin menangis karena marah.
Luhan mengatur nafasnya yang memburu " Mereka selalu memarahiku, begitupun kau jika aku melakukan kesalahan. Padahal aku melakukanya, agar mereka tahu bahwa aku tak suka dipaksa menjadi dokter." Ceritanya sembari akan menangis, nadanya tetap kesal.
Sehun berdecak sebal " Kau tidak pantas menjadi dokter.- "
" Memang." Potong Luhan cepat. Luhan menatap menantang pada Sehun.
Sehun kaget, gadis ini benar benar.
" Kalau begitu keluar dan jangan pernah kembali lagi. Rumah Sakit ini tidak butuh dokter sepertimu." Desisnya tajam, sembari menunjuk pintu keluar.
"Ya,!" Ucapnya, mengucapkan salam perpisahan dengan sinis.
" Dan juga terima kasih selama ini sudah bermurah hati padaku." Lanjutnya sinis, berniat mencemooh Sehun lalu berjalan keluar.
.
.
.
.
.
Luhan membanting dengan keras pintu kamarnya lagi, sudah berulang kali dia mendapat marahan ayahnya selama sehari ini. Tak henti hentinya si tua yang menjadi ayahnya itu mengatakan dirinya anak tidak berguna dan bodoh. Ayah dan Ibunya sudah tau bahwa Luhan diberhentikan jadi dokter, dan itu membuat keduanya marah. Bahkan ibunya sempat pingsan karena kaget mendengar alasan Luhan dikeluarkan.
" Luhan meninggalkan tugasnya dan lebih memilih menonton konser." Dokter kim memaparkan alasan Luhan kenapa dia dipecat.
" Luhan juga sering memainkan ponselnya dan berlaku semena mena."
" Dan juga sering membuat dokter pembimbingnya marah."
" Luhan pernah membentak anak kecil yang menjadi pasienya."
" Luhan tidak mau belajar."
Dan banyak lagi.
" Aishh… " Luhan berdecak sebal.
Ayahnya bahkan merobek poster poster kesayangan Luhan. Tapi untung bukan semuanya. Masih banyak poster Chanyeol dan EXO yang berhasil terselamatkan.
Luhan memandangi photo Chanyeol ditanganya.
" Mereka semua tidak mengerti oppa.." Ucapnya pelan.
" Aku tidak ingin menjadi dokter tapi kenapa masih dipaksa, kau tahu aku tidak suka dipaksa kan.?" Rengeknya lagi.
Luhan mengelus elus photo Chanyeol lalu memeluknya.
" Mungkin cuma kau yang mengerti diriku."
Kemudian gadis itu membaringkan tubuhnya dan tidur dibawah selimutnya.
.
.
.
Ruangan ini mirip seperti ruang kerja para pengusaha kaya raya. Banyak tumpukan buku buku tentang bisnis dan lainya, ruangan yang didominasi perabotan kayu itu terlihat mewah. Terlebih cara penataanya yang terkesan rapid an bersih. Diujung sana tepat di hadapan jedela, ada kursi kayu yang ditempati lelaki tua diatasnya. Lelaki itu didapingi istri disebelahnya berbicara dengan seseorang lewat telephone dengan raut serius.
" Apa kau tidak bisa membantu.?" Tanya pria tua itu kepada seseorang disebrang sana.
" Maafkan aku, itu bukan tanggung jawabku." Suara disana berucap menyesal.
Tuan Xi menghembuskan nafasnya frustasi.
" Tapi kau bisa meminta bantuan direktur." Suara disebrang menyarankan.
Tuan Xi menghadap istri disampingnya, istrinya mengangguk.
" Baiklah aku akan menemuinya, besok."
" Mintalah baik baik." Suara disebrang berkata lagi
" Iya, istriku juga akan menemui dokter pembimbing Luhan."
" Iya, temuilah Oh Sehun dan minta dia memikirkanya lagi. Aku juga akan mencoba bicara padanya." Suara disebrang sana menawarkan.
Setelah mengucapkan itu, keduanya bisa bernafas lega.
" Terima kasih." Ucapnya lalu memutuskan sambungan telephone mereka.
.
.
.
.
Suasana dirumah sakit seperti biasanya. Ramai dan padat pengunjung. Sehun dan Soobin kembali melanjutkan aktivitas seperti biasanya tanpa adanya Luhan.
Kyungsoo dan Eun Ha yang merasa kehilangan Luhan. Tapi mereka berdua mencoba menghargai keputusan Luhan.
" Aku merindukan Luhan." Keluh Eun Ha, saat mereka berdua makan bersama dicafetaria Rumah Sakit.
Kyungsoo mengangguk " Aku juga."
" Sedang apa dia sekarang, bersenang senang eh.?" Eun Ha menebak.
" Dia pasti sekarang sedang jatuh jatuhnya pada Chanyeol."
" Kudengar dia sedang syuting film." Eun Ha berkomentar, dan diangguki singkat oleh Kyungsoo.
" Iya film tentang seorang idola dan anti fans."
Kyungsoo menatap Eun Ha, " Kudengar akan ada kiss scene-nya.?"
Eun Ha melotot " Benarkah?" Dia berteriak kaget
" Luhan pasti akan terpuruk karena itu."
Kyungsoo mengangguk membenarkan. " Dan juga katanya aktris perempuanya model majalah dewasa"
Eun Ha memelotokan matanya lagi, dia terkejut " Wah,, aku tidak bisa membayangkan perasaan Luhan." Ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.
Kyungsoo ikut ikutan. " Kuharap dia tidak akan menjambak rambut si pemain wanitanya."
Eun Ha membenarakan ucapan Kyungsoo. Mereka berdua asyik bercerita sebelum melihat seseorang disana.
" Kyungsoo." Eun Ha menyenggol bahu Kyungsoo.
" Apa?"
" Lihat disana." Eun Ha menunjuk seseorang, Kyungsoo mengerti lalu mengangguk ikut berjalan menghampiri orang itu.
.
.
.
.
1 minggu semenjak keluar dari rumah sakit.
.
2 hari pertama, Luhan masih bersedih dimarahi ayahnya dan ibunya yang tidak mau bicara padanya.
Flashback
.
" Kau bodoh, anak tidak berguna." Tuan Xi memarahi Luhan yang berdiri kaku dihadapanya.
Mereka sekarang tengah berada di ruang kerja Tuan Xi.
" Ayah sudah mengeluarkan banyak uang untukkmu, tapi kau—" Marahnya sembari menunjuk Luhan. Dia menggantungkan kalimatnya, menatap Luhan marah lalu menghela nafasnya pelan.
" Tapi kau malah menyianyiakanya dan malah membuat ulah sampai diberhentikan jadi dokter seperti ini."
Luhan berdecih sinis. " Kan aku sudah bilang aku tidak ingin menjadi dokter ayah."Teriaknya kesal.
" Dasar tidak berguna, kau mengecewakan kami Luhan." Bentak ayahnya marah.
" Kalian saja yang terus memaksaku.?" Bantahnya sembari menangis, dia sudah tidak tahan disalah salahkan lagi.
" Jangan membantah Luhan." Tuan Xi membentak Luhan.
" Kau itu anak yang tidak bisa dibanggakan, kau seharusnya bisa menjadi seperti adikmu."
" Kenapa aku dan dia harus disamakan ayah, kami berbeda."
" Selama ini kalian memaksaku untuk menjadi dokter, itu karena keinginan Nayeon kan.?" Tanyanya sembari menangis.
" Aku hiks tidak mau, aku hanya ingin menggapai mimpiku, tapi.. tapii-" Luhan menarik nafasnya.
" Bersikaplah dewasa Luhan jangan kekanakan seperti ini."
" Kalian menyuruhku mewujudkan cita citanya hanya karena dia memintaku."
Tuan Xi menatap putrinya yang menangis, dia sebenarnya meraasa kasihan tapi itu semua demi kebaikkan Luhan.
" Kalian semua egois, hanya memikirkan perasaan Nayeon dan bukan aku."
Tuan Xi menarik nafasnya pelan, dia harus bisa menjadi ayah yang baik.
Tuan Xi marah, menghampiri Luhan didepanya.
" Benar, dia bisa membuat kami bangga dan kau tidak berguna." Tuan Xi meremehkan Luhan.
Luhan tertohok, ucapan ayahnya barusan menyakiti hatinya. Dia terdiam beberapa saat, tidak tahu harus mengatakan apa.
" Bela saja dia, dia sudah mati." Luhan berteriak kesal.
PLAKK
Tuan Xi marah lalu menampar pipi kanan Luhan. Luhan memegang pipinya yang terasa panas, dia menatap kearah ayahnya tajam. Itu menyakiti perasaanya, dia sungguh terluka.
" Ayah." Ucapnya pelan, sudah menangis.
Tuan Xi tidak mengatakan apapun, dia masih menatap Luhan tajam.
" Pergi.!"
Luhan tercengang, ayahnya sungguh jahat. Ini bukan seperti dirinya.
Tanpa kata apa apa lagi, Luhan langsung berlari keluar sembari menangis, perasaanya sungguh terluka.!
Luhan berlari menuju kamarnya, menutupnya dengan kasar. Berlari keranjangnya dan menangis disana semalaman.
Semenjak kepergian Luhan, Tuan Xi terdiam ditempat sembari memegang tangan yang dia gunakan untuk menampar Luhan.
" Maafkan ayah Luhan." Gumamnya pelan.
.
.
.
3 hari.
Luhan berniat keluar dari kamarnya, setelah terpuruk Luhan memutuskan untuk berjalan jalan. Dia belum mau berbicara pada siapapun, termasuk ibunya.
Luhan keluar dari kamarnya, menggunakan celana jeans warna hitam dan baju warna biru tua.
" Mau kemana Luhan.?" Tanya Soyou saat berpapasan dengan ibunya di ruang tamu.
Seakan menulikan pendengaranya, Luhan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan kata apa apa. Soyou menarik nafas pelan, anaknya bukan orang yang mudah memaafkan.
Luhan keluar dari rumahnya, menaiki taksi yang sudah dia pesan sebelumnya.
" Ke namsan tower pak." Ucapnya menyuruh sopir taksi.
Sang supir mengangguk lalu berjalan pergi.
Gadis itu memutuskan untuk pergi ketaman hiburan. Membeli barang barang Chanyeol terbaru dan berfoto foto disana.
Setelah lelah berkeliling Luhan duduk dibangku taman, dia meminum minuman yang dibelinya tadi.
" Ahhh.." Desahnya.
" Senangnya bisa hidup kembali." Dia bersuara dengan gembira.
Gadis itu memandang depan, disana terlihat banyak sekali pasangan yang sedang keluar bersama, berkencan lebih tepatnya.
Luhan memandang iri salah satu pasangan didepan, pasangan itu terlihat memakai atribut yang sama, mulai dari topi, baju, sepatu bahkan gelang pun sama.
" Anak anak jaman sekarang, membuat iri saja." Ucapnya.
Luhan memandang ke arah lain, disana terdapat pasangan yang saling menyuapkan makanan, lalu yang laki laki membersihkan sisa sisa makanan dimulut si wanita.
" Ughh, aku seperti menonton drama sekarang." Keluhnya sembari mempoudkan bibirnya lucu.
" Daripada aku mati karena iri, lebih baik pulang." Putusnya lalu beranjak pergi dari tempat itu.
.
.
Sehun.
.
Sehun dan Soobin masuk keruangan Jiyeon.
Gadis itu sudah tampak lebih sehat. Soobin menyapanya, dan disapa balik oleh Jiyeon.
Sehun menyuruh Jiyeon berbaring dan mulai memeriksanya.
Sehun menyuntikkan sesuatu kedalam infus gadis itu.
" Jangan terlalu lelah, kau bisa sakit lagi nanti." Perintahnya, lalu diangguki oleh Jiyeon.
Sehun mengucapkan selamat tinggal, begitupula Soobin.
" Annyeong Jiyeon-aah, cepatlah sembuh." Pamitnya pada Jiyeon sembari melambaikan tangan.
Soobin menutu pintu lalu mengikuti langkah Sehun.
Soobin berniat bertanya, tapi urung dilakukan. Dia ingin bertanya tentang Luhan, meskipun semua orang dirumah sakit juga tahu alasan Luhan diberhentikan tapi tetap saja gadis itu ingin mendengar langsung dari Sehun. Gadis pintar itu beranggapan bahwa biasanya orang orang suka mengubah, menambah dan mengurangi suatu gossip. Makanya kenapa gossip dikatakan gossip dan bukan fakta. Karena gossip belum tentu terbukti kebenaranya.
Soobin mengimbangi langkah Sehun dan berjalan disampingnya, melirik sekilas.
" Dokter.." Panggilnya pelan. Sehun tidak menjawab mungkin tidak kedengaran.
" Dokter oh.." Soobin mencoba lagi dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
Sehun bergumam " Ada apa?"
Soobin terdiam sejenak " Apa saya boleh bertanya.?" Mulainya pelan.
" Bertanyalah."
Soobin menyusun kata katanya " Ini tentang Luhan.. Kenapa andaa-."
" Jika ini tentang alasan saya memberhentikan Luhan, saya tidak akan menjawab." Potong Sehun cepat, lalu masuk keruanganya.
Soobin tidak mengikuti Sehun masuk, gadis itu berbalik dan tidak melanjutkan pertanyaannya.
.
Sehun menutup kembali pintu ruanganya, berjalan masuk melepas snelli dokternya lalu menggantungkanya. Dia terduduk dikursinya, menundukkan kepala sembari memijat pelan pelipisnya. Kenapa banyak sekali orang hari ini yang bertanya tentang Luhan padanya.
Tadi pagi dokter Kim memintanya memikirkan lagi soal Luhan, dan sekarang Soobin juga ikut ikutan.
.
" Apa kau tidak bisa memberi Luhan kesempatan sekali lagi.?" Ucap dokter kim, ada nada memohon disana.
" Tidak bisa."
Dokter Kim menarik nafasnya pelan, Oh Sehun memang bukan orang yang bisa dimintai tolong. Keputusan yang dia buat tidak akan bisa diubah siapapun.
" Apa kau tidak memikirkan orang tuanya? Mereka ingin Luhan bisa menjadi dokter."
Sehun berdecak pelan, " Untuk apa? Jika Luhan tidak berniat, mereka sama saja buang buang uang." Sehun mengucapkanya dengan nada datar.
" Kau benar, Luhan memang tidak berniat. Tapi pikirkanlah Sehun-ah, ini bukan untuk Luhan tapi untuk ibunya."
" Kau tahu ibu, dan ayahnya menginginkan Luhan menjadi dokter. Seharusnya kau bisa membantu mewujudkan impian mereka. " Lanjut dokter Kim lembut.
Sehun tidak peduli, dan tidak tertarik. Keputusanya sudah bulat, Luhan tidak pantas menjadi dokter.
" Maaf, saya tidak bisa." Putusnya cepat.
.
Bukankah keputusanya sudah benar? Rumah sakit ini tidak butuh dokter tidak kompeten seperti Luhan. Luhan itu asal asalan dan tidak pernah serius. Sehun hanya takut bukanya sembuh pasien pasien Luhan yang ditangani tidak ikhlas oleh gadis itu malah semakin parah kondisinya. Sehun tahu bahwa gadis itu pasti akan melontarkan kalimat sinis berikut pedas untuk pasien yang tidak mau menurutinya. Seharusnya mereka, dokter kim bisa menghargai keputusan Sehun.
Sehun menghembuskan nafasnya pelan, lalu beralih menatap berkas dimejanya. Mengalihkan fokusnya yang dari tadi menyinggung Luhan.
.
.
.
Hari kelima setelah diberhentikan jadi dokter.
.
.
Luhan menyalakan TV dikamarnya, menyetel music dengan volume penuh. Gadis itu memakai celana panjang dan baju lengan pendek, rambutnya diroll banyak banyak, sembari memegang sebuah botol ditanganya.
Di layar menampilkan sebuah lagu yang terkenal. Luhan ikut menyanyi dengan suaranya yang menggelegar.
" Naye dununel ga me amyeon tto eorenen gen nun dongja jakku gasemi sir yeosseo ijo jigil bareseo. Kuum iramyeon ije kaenasemyonn jeballllll.."
Teriaknya asal asalan.
" Aish suaraku jelek sekali.." Keluhnya, mengomentari suaranya sendiri.
Dilayar menampilkan bagian Chanyeol nge rapp.
" Kyaa oppaku, suaranyaaaa.." Seru Luhan berteriak histeris,
" Suaranya seksi sekali sih.." Ucapnya dilebih lebihkan.
" Stayyy with meee.." Nyanyinya sekali lagi..
Dan yang terjadi seterusnya Luhan masih berfangirl ria sembari menyanyikan lagu Chanyeol yang tadinya enak berubah menjadi jeritan yang memilukan jika dinyanyikan oleh Luhan.
.
.
Hari keenam setelah berhenti jadi dokter.
.
Luhan mengelap ingus yang keluar dari hidungnya, sembari tak henti hentinya mengunyah snack kentang ditanganya.
Luhan dikamarnya, kamarnya gelap lampu lampu dimatikan, layar TV dihidupkan, Luhan menyetelnya dengan volume penuh.
Dilayar menampilkan sosok Goblin yang tertusuk pedang dijantungnya, dan Ji Eun Tak dihadapanya.
Goblin yang tampak kesakitan menarik pedangnya susah payah, setelah berusaha akhirnya pedang itu terlepas dan ia gunakan untuk melawan sosok berbaju putih yang jahat.
Setelah berhasil mengalahkanya Goblin terduduk dilantai dingin itu. Perlahan lahan tubuhnya berubah menjadi debu.
" Jangan mati hiks, nanti Eun Tak jadi janda. " Ucap Luhan sembari menghapus air matanya.
Goblin tampak menjadi butiran debu, Ji Eun Tak memeluknya begitu erat.
Goblin mengatakan bahwa dia akan mati dan pergi, dan Ji Eun Tak harus hidup dengan baik.
" Aku tidak bisa." Ji Eun Tak menolak dengan raut memohonya.
Tapi Goblin tetap memaksa agar Eun Tak melupakanya dan hidup dengan baik.
Keduanya berpelukan lagi. Dan adegan selanjutnya Goblin benar benar menjadi debu dan diterbangkan oleh angin yang membawanya pergi.
Sedangkan Ji Eun Tak menangis tersedu sedu sembari berteriak frustasi.
" Kasihan sekali.." Komentar Luhan lalu mematikkan layar TV nya karena drama Goblin sudah bersambung.
" Aku tidak bisa membayangkan, jika Goblin benar benar ada dan aku jadi pengantinya." Ucapnya sembari membereskan tisu tisu yang tadi dia gunakan, lalu bergegas tidur.
Menyalakan lampu tidurnya, " Selamat malam, mimpi indah Chanyeol oppa.." Ucapnya sebelum menutup mata.
Sudah jadi kebiasaan Luhan mengatakan dan melakukan itu. Itu adalah hal yang wajib diucapkanya sebelum tidur.
.
.
.
.
.
.
.
Dua orang lelaki paruh baya duduk berhadap hadapan. Yang satu mengenkan snelli dokter dan yang satunya mengenakan pakaian formal dengan rapi.
" Silahkan duduk." Ucap si pria tua yang memakai snelli dokter. Dia Eun Jiwon – Direktur rumah sakit Hansin.-
Yang dipersilahkan menuruti, lelaki tua itu duduk disalah satu sofa panjang, sedangkan direktur Eun duduk disofa single.
" Ada apa anda kemari.." Tanya direktur kepada Tuan Xi, setelah berbasa basi terlebih dahulu.
Tuan Xi berdehem pelan " Aku ingin meminta bantuanmu." Ungkapnya.
Direktur Eun menaikkan satu alisnya, tidak mengerti.
" Anakku Luhan, salah satu dokter yang diberhentikan dari magangnya." Tuan Xi melanjutkan.
Dan dijawab gumaman oh oleh direktur Eun.
" Apa yang bisa kubantu." Tanya direktur Eun.
Tuan Xi menatap serius " Bisakah kau membuat Luhan magang kembali kesini." Pintanya dengan suara memohon, tapi tidak mengurangi sedikitpun sisi ketegasan dalam nada bicara Tuan Xi.
Direktur Eun tampak berfikir " Aku akan membicarakanya dengan dokter pembimbingnya dulu."
Tuan Xi tampak senang. " Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa, jika dia tidak mau mengubah keputusanya." Lanjut direktur Eun menyesal.
" Siapa namanya.?" Lanjut Direktur Eun bertanya.
" Kalau tidak salah Oh Sehun." Tuan Xi membalas.
" Oh Sehun, dokter muda itu." Direktur Eun mengingat ingat. Tuan Xi mengangguk.
" Aku berharap padamu." Pintanya lagi.
" Baiklah akan kucoba."
Direktur Eun mengangguk dan bilang bahwa Tuan Xi tidak perlu khawatir. Direktur Eun akan membantu.
Perlu diketahui, ayah Luhan merupakan pemilik saham terbesar kedua di Rumah Sakit ini, makanya tidak susah membuat kepala Rumah Sakit mengabulkan keinginan Tuan Xi.
.
.
.
Setelah menyelesaikan makan siangnya Oh Sehun mendapat panggilan dari direktur Rumah Sakit yang menyuruh dirinya menemuinya. Sehun mengenakan kembali snelli dokter yang digantungnya dengan rapi, lalu berjalan keluar.
Dia perlu naik lift untuk sampai diatas, ruangan direktur terletak dilantai teratas gedung ini.
Sehun sampai didepan pintu kayu, dia mengetuk pintu lalu masuk kedalam.
Setelah kemunculan Sehun dibalik pintu disambut ramah oleh direktur Eun. Sehun merupakan dokter yang cukup berpengaruh dan pandai dirumah sakit ini.
Direktur mempersilahkan Sehun untuk duduk, dan meminta pada sekretarisnya untuk menyiapkan teh.
" Ada apa anda memanggil saya." Tanya Sehun langsung, setelah sekretaris itu menghidangkan teh panas didepanya.
Direktur Eun tersenyum " Minumlah dulu." Katanya sembari meminum pelan teh nya.
Sehun tidak meminum, dia diam saja. Setelah meletakkan kembali cangkir tehnya, direktur Eun bersuara.
" Aku ingin, kau mengembalikkan Luhan kerumah sakit." Ucapnya tegas.
Sehun menatap direktur datar. Pikiranya tidak percaya, sehebat apa keluarga Luhan sampai sampai semua orang menyuruh Sehun membawa Luhan kembali.
" Maaf saya tidak bisa." Ucapnya cepat.
Direktur Eun mendesah pelan, berbicara dengan Oh Sehun memang tidak mudah.
" Kenapa?" Tanyanya.
" Rumah Sakit kita tidak butuh dokter seperti dia." Jelas Sehun.
" Tadi ayahnya datang kepadaku, dia memintaku untuk membawa Luhan kembali." Ucap direktur bercerita.
" Dan aku tidak bisa untuk menolak permintaanya. Kau tahu dia salah satu pemegang saham terbesar di Rumah Sakit kita. Kau mengerti maksudku kan?" Lanjutnya. Ada nada mengancam diakhir kalimatnya.
Sehun hanya menatap tidak tertarik dokter dihadapanya. Ditatap seperti itu, direktur Kim mendesah pelan.
" Saya tidak peduli, saya hanya memikirkan kondisi pasien. Luhan tidaklah layak menjadi dokter." Ucap Sehun dingin.
Direktur berdecak " Pikirkan kembali keputusanmu dokter Oh Sehun." Ingatnya.
" Maaf saya tidak akan mengubah keputusan saya." Ucapnya lalu bangkit berdiri.
Membungkuk dengan hormat dan mengucapkan kata pamit.
.
.
Pikiran Sehun penuh, otaknya terus terusan menyinggung Luhan. Gadis itu benar benar membuatnya pusing sendiri, terlebih saat direktur yang dia hormati memintanya untuk membawa Luhan kembali. Sehun tidak akan merubah keputusanya apapun yang terjadi. Sehun berjalan kembali keruanganya, dia langsung masuk saja tanpa tahu siapa yang ada didalam. Sehun kaget, tapi rautnya masih datar. Disana, diruanganya tepatnya di sofa ada dua orang wanita. Yang satu tersenyum dengan lebar dan yang satunya menatap datar kearah Sehun.
.
.
TBC?
.
.
Drama banget ya, maapin deh.
BIG THANKS : Arifahohse - pinkeury - Freez MingTaem - nisaramaidah28 - winwin16 - Hannie222 - leelfeelhr714 - LittleOoh - Seravin509 -JunaOh - candyhun - Khskaika - Hunhan41220 - Adella520 - Hunhan794 - Hurry up please - xiHan.a-oh - Phe19920110 - banana oppa - RahmaWu97Oh - gitaaorgee - misslah - hellenfaringga - HUNNIEHAN794 - rizypau16 - 88 - sarada15 - 21hana - KimaHunhan - knightwalker314 - Filu22hunhun - Hunhan41220 - Khskaika- Oh yunhi - rini kim - kiki amel - Park RinHyun-Uchiha - - xiHan.a-oh - hehe - Loyh - Manggocillo -joohyunkies - OhXiSeLu- tctbcxx
Semoga gk bosen and keep review yeth..
