Chapter 6.
Title : My Ice cream Doctor.?
Author : Rilakkumaa_94
Cast : Oh Sehun.
Xi Luhan.
Park Chanyeol.
Do Kyungsoo.
Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)
Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.
Rating : T
Playing : Bigbang – Let's not fall in love.
Rilakkumaa_94
Present
.
.
.
" Saya tahu, Luhan memang tidak suka menjadi dokter."
" Apa di Rumah Sakit ada yang kau sukai.?"
" Lalu diberikan nafas buatan kkkkkekekeke.."
.
.
.
.
Pikiran Sehun penuh, otaknya terus terusan menyinggung Luhan. Gadis itu benar benar membuatnya pusing sendiri, terlebih saat direktur yang dia hormati memintanya untuk membawa Luhan kembali. Sehun tidak akan merubah keputusanya apapun yang terjadi. Sehun berjalan kembali keruanganya, dia langsung masuk saja tanpa tahu siapa yang ada didalam. Sehun kaget, tapi rautnya masih datar. Disana, diruanganya tepatnya di sofa ada dua orang wanita. Yang satu tersenyum dengan lebar dan yang satunya menatap datar kearah Sehun.
.
.
Soobin yang menatap datar Sehun langsung menghampiri dokter muda itu yang diam didepan pintu.
" Dokter.." Panggil Soobin pelan, sembari memegang lengan Sehun.
Sehun diam saja, telinganya mendengar ucapan Soobin. " Disana ada ibunya Luhan." Bisik Soobin pelan lalu menghadap ibu Luhan dan tersenyum.
Sehun menghadap kearah Soobin. " Keluarlah, aku akan berbicara denganya." Ucapnya pada Soobin, dan diangguki mengerti oleh Soobin.
Soobin keluar, Sehun memandang kearah Kang Soyou yang tersenyum padanya. Dia membalas dengan senyuman tipis lalu berjalan menghampiri Soyou.
" Silahkan duduk." Sehun mempersilahkan.
Kang Soyou duduk kemudian disusul Sehun yang duduk disofa satunya.
Soyou menatap dokter dihadapanya sebentar.
" Dia masih muda dan tampan." Pikirnya, mengagumi sosok dihadapanya.
Sehun tersenyum lalu bertanya " Ada apa anda kemari."
Soyou berdehem pelan, memecah kegugupanya " Aku ingin meminta bantuan anda."
Sehun diam, tidak bereaksi apapun. Dia menanti kelanjutan kata kata Ibu Luhan dihadapanya.
" Aku meminta anda untuk membawa Luhan kembali." Kalimat itu lolos dengan lancar dari mulut Soyou.
Sehun berdecak pelan, sudah dia duga ibu Luhan datang menemuinya hanya untuk membicarakan masalah ini.
" Annakku Luhan, saya tau bahwa dia bodoh, sering membuat anda kesal, dan dia selalu berkata kasar ataupun sinis. Saya minta maaf akan hal itu." Ucap Soyou sedih, wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik diumurnya yang sekarang itu mengatakanya hampir menangis dan menyesal.
Sehun mengucapkan tidak apa apa.
" Saya tahu, Luhan memang tidak suka menjadi dokter."
Sehun menatap heran ibu Luhan, menanti kelanjutan ceritanya.
" Kami memang egois karena memaksakan kehendak kami padanya. Tapi… tapi kami hanya ingin Luhan bisa menjadi anak yang berguna dan membanggakan untuk kami."
Soyou menarik nafasnya, wanita itu sudah menangis " Setelah kepergian adiknya, kami menyerahkan semuanya pada Luhan termasuk cita cita adiknya. Kami selalu memaksanya untuk jadi dokter yang hebat. Daripada diaa..—"
Soyou menarik nafasnya kembali, mencoba mengumpulkan keberanian melanjutkan ceritanya.
" Daripada dia melakukan hal hal bodoh dan masa depanya tidak tentu. Kami hanya ingin yang terbaik untuk anak kami."
Sehun menenangkan Soyou yang menangis dihadapanya.
Soyou menatap Sehun " Jadi bisakah anda membawa Luhan kembali, dan mengajarkanya untuk menjadi dokter yang hebat.?" Pintanya.
Sehun merasa iba, dia tak tega melihat seorang wanita menangis terlebih wanita dihadapanya ini sudah tidak dalam usia yang muda lagi " Maaf..-"
" Tolong, pikirkan kembali keputusan anda dokter.." Potong Soyou cepat sebelum Sehun melanjutkan kalimatnya.
Sehun terdiam dan berfikir sejenak, menjernihkan pikiranya. Dia mencari kata yang tepat untuk dikatakan.
" Tolong buat Luhan kami berubah menjadi dokter yang baik." Pintanya sembari memgang tangan Sehun.
Sehen mendesah pelan.
" Saya akan memikirkanya." Kata itu yang diucapkanya setlah memikirkan banyak kata yang lain..
Soyou tersenyum disela tangisanya, dia mengenggam tangan Sehun semakin erat lalu mengucapkan terima kasih. Sehun mengatakan sama sama, dan meminta agar Soyou jangan terlalu memikirkan agar tidak mempengaruhi kesehatanya.
.
.
Setelah kepergian Soyou beberapa menit lalu, Sehun duduk dikursinya. Lelaki itu mengehela nafas frustasi, pikiranya jauh kemana mana. Dia bingung harus melakukan apa, disatu sisi dia tidak ingin Luhan kembali dan menyusahkanya lagi, tapi disisi lain dia tidak tega menolak permintaan ibu Luhan.
Bagaimanapun dinginya seorang Oh Sehun, sebenarnya jauh didalam hatinya dia menyimpan sisi yang hangat. Sehun tidak tega melihat wanita menangis begitupun dengan anak anak. Maka dari itu kebanyakan pasien yang Sehun tangani adalah anak anak. Menurutnya anak anak itu polos dan masih belum mengerti apa apa.
Masa kanak kanak adalah masa yang paling membahagiakan menurutnya, dibelikan apapun, diperhatikan, diajak ketempat bermain dan sebagainya. Masih dekat dekatnya dengan orang tua, berbeda saat sudah dewasa, semuanya terasa begitu jauh, tidak ada lagi mainan baru, tidak ada waktu untuk bermain, bahkan waktu pun jadi sangat mahal untuk dihabiskan bersama keluarga.
Tok tok tok
Pintu ruangan Sehun diketuk.
" Masuk." Ucapnya.
Soobin masuk keruangan Sehun, mendekati mejanya lalu menyerahkan kopi ditanganya.
Sehun mentap Soobin " Saya lihat anda sedang banyak pikiran, mungkin dengan minum segelas kopi membuat perasaan anda lebih baik." Soobin menjelaskan dengan lembut dan tersenyum.
" Terima kasih." Balas Sehun seadanya, lalu mulai meminum kopinya.
Soobin memandang Sehun yang meminum kopinya dengan raut bahagia.
Sehun meletakkan kopinya, lalu menatap Soobin sebentar.
" Apa kau sudah memeriksa keadaan Jiyeon." Tanyanya.
Soobin mengangguk lalu berjalan menyerahkan map yang dibawanya.
Sehun menerima lalu membuka dan membaca isinya.
Sehun meneliti laporan yang dikerjakan Soobin.
" Perbaiki bagian ini. " Sehun menunjukkan. Soobin berjalan mendekat kearah Sehun.
" Kau harus menjelaskan dengan jelas disini, setelah itu buatlah kesimpulanya."
Soobin mengangguk dan memperhatikan Sehun yang menjelaskan.
" Tampan." Itu kesimpulan yang Soobin dapatkan saat berada dijarak dekat Sehun.
.
.
.
.
.
.
Hari sudah malam, Sehun baru saja keluar dari kamar salah satu pasienya yang sempat drop karena kelelahan. Terhitung dari dua jam yang lalu ia membujuk dan menasehati pasienya itu untuk tidak terlalu lelah bermain dan minum obat. Pasien yang Sehun tangani tadi adalah anak anak, memang tidak mudah untuk membujuk anak anak yang nakal dan rewel, tapi lelaki dingin itu mencoba mengerti, anak anak memang tidak suka dipaksa dan ingin maunya sendiri.
Menyinggung tentang tidak suka dipaksa dan ingin maunya sendiri, pikiran Sehun terarah pada Luhan. Dia mengingat sekilas bayangan Luhan yang terlihat kesal padanya,
" Kau merusak kuku mahalku." Ucap Luhan cemberut, sembari ingin menangis.
" Aku tidak suka anak anak, mereka merepotkan."
" Aku curiga padamu, jangan jangan kekasihmu juga anak anak ya, terus dibawah umur.?" Tuduh Luhan sembari menunjuk Sehun.
Sehun juga ingat wajah bodoh Luhan yang pura pura sakit.
" Dokter Oh uhukkk.." Luhan terbatuk.
" Saya merasa tidak enak badan dan pusing karena dimuntahi Sena tadi." Ucap Luhan pelan, sembari memegang kepalanya.
" Kau jahat sekali sih.?"
Sehun juga masih ingat bagaimana gadis itu mengejeknya.
" Dasar pedofil." Luhan mencemooh Sehun dengan wajah sinisnya.
" Dokter Oh Sialan.." Teriak Luhan kesal dihadapan Sehun.
" Selain menjadi dokter kau juga pantas menjadi tukang salon." Ucap Luhan mencemooh Sehun sembari tertawa sekeras kerasnya.
Sehun menggelengkan kepalanya, untuk apa dia memikirkan gadis menyebalkan itu. Dia melirik sekilas kearah jam tangan Givenchy yang melingkar ditangan kirinya.
18.45 pm.
Lalu Sehun melanjutkan kembali langkahnya yang terhenti, menuju ruanganya dan berniat untuk pulang.
.
.
.
Sehun memarkirkan mobilnya dihalaman yang luas. Dia berjalan santai menuju pintu kokoh rumah megah tersebut. Setelah pulang dari rumah sakit, Sehun berencana mengunjungi ibunya.
Sehun disambut oleh beberapa pembantu dirumahnya dan menuntunya masuk menemui si pemilik rumah.
" Oh anakku.." Ucap Jin Hee saat melihat kedatangan putranya.
Jin Hee menghampiri lalu memeluk putranya itu. Menyalurkan rasa rindunya, Sehun membalas pelukan sang ibu.
" Apa kau sudah makan?" Tanyanya.
Sehun menggeleng, lalu dengan sigap Jin Hee menyuruh para pelayan membawakan Sehun makanan.
Jin Hee menuntun putranya kemeja makan, lalu menyuruh Sehun duduk. Jin Hee menyusul duduk disebelah Sehun dikursi lainya.
Para pelayan berdatangan menyerahkan lauk serta nasi untuk Sehun.
Jin Hee dengan cekatan menyiapkan makanan Sehun, menyendokkan beberapa lauk didalam piring Sehun.
" Makanlah yang banyak." Ucapnya sembari menyerahkan pada Sehun.
Sehun mengangguk dan mulai makan.
Jin Hee mengamati putranya yang makan dengan lahap sambil tersenyum.
" Kenapa ibu?"
Jin Hee menggeleng lalu mengatakan " Apa pekerjaan di Rumah Sakit sangat melelahkan.?"
" Tidak juga." Balas Sehun seadanya.
" Apa menjadi dokter menyenangkan.?"
Sehun masih makan, " Biasa saja."
Jin Hee berdecak kesal menanggapi sikap dingin Sehun.
" Apa di Rumah Sakit ada yang kau sukai.?"
Sehun menghentikkan makanya sejenak, lalu mulai berfikir. " Ada."
Jin Hee tersenyum senang, dia merasa bahwa Sehun menemukan wanita yang membuatnya tertarik.
" Siapa.?" Tanya Jin Hee penasaran.
" Anak anak." Jawab Sehun datar, seketika wajah bahagia Jin Hee tergantikan dengan raut masamnya.
" Kau suka anak anak kan?"
" Iya."
" Kalau begitu, sempatkan lah waktu untuk berkencan Sehun-ah." Jin Hee mengucapkanya dengan kesal.
" Apa hubunganya ibu.?"
Jin He mendengus kesal. " Kau suka anak anak, kalau begitu cepatlah menikah. Dan buat anakmu sendiri."
Sehun berdecak, tapi masih melanjutkan makanya. Dia benar benar lapar sekarang, terserah ibunya mau bicara apa.
" Umurmu sudah cukup untuk menikah, lagipula ibu juga ingin segera menimang cucu." kata Jin Hee pelan, ada nada sedih dikalimatnya.
Sehun meminum airnya " Masih belum waktunya ibu."
Jin Hee menatap Sehun " Kapan itu Sehun-ah."
" Mungkin beberapa tahun lagi." Balas Sehun asal.
" Masih lama, setidaknya mulailah berkencan dari sekarang. Kau terlalu kaku untuk ukuran pria dewasa hun-ah , tapi masih tampan." Sehun tertawa pelan mendengar pujian ibunya.
" Apa diluaran sana tidak ada wanita cantik yang menaruh hati kepadamu.? Ibu yakin pasti banyak yang mengejarmu—" Jin Hee menggantungkan kalimatnya, menatap Sehun sebentar sembai memincingkan matanya.
" Tapi kau mengabaikanya, benar?" Tuduhnya.
Sehun hanya mengedikan bahu acuh, Jin Hee geram sendiri melihat putranya yang bersikap tidak peduli.
" Cepatlah mencari kekasih, atau ibu akan benar benar mendaftarkanmu disitus cari jodoh agar kau bisa punya kekasih." Ancamnya.
Sehun tertawa pelan " Terserah ibu."
Jin Hee tersenyum miring " Ibu akan benar benar melakukanya." Ancamnya sekali lagi.
Sehun tertawa lagi, dia tidak peduli. Sehun tau bahwa ibunya tidak akan melakukan itu.
.
.
.
.
.
Sehun melihat langit langit kamarnya, kamar yang sempat ia tiduri sangat lama sejak dia masih kecil. Suasana dikamar ini belum berubah sedikitpun, masih sama. Diujung sana terdapat mainan robot robotan Sehun, diujung kiri terdapat meja belajar beserta tumpukan buku, dan kamus miliknya.
Sehun merasa nyaman dikamar ini, suasana tenang yang sempat ia rindukan. Jauh dari kota, jauh dari polusi udara dan yang lebih penting udaranya masih bersih.
Sehun menarik nafas nya pelan , menghirup setiap partikel udara yang masuk melalui hidungnya. Dia merasakan sensasi ditubuhnya, tiap menit tiap detik. Tenang, nyaman dan damai. Setelah lelah seharian bekerja dirumah sakit, Sehun memilih untuk beristirahat dirumah masa kecilnya.
Sehun memejamkan matanya perlahan, lalu mulai tertidur. Tapi pikiranya kemana mana, dia ingat dengan omongan Kyungsoo kemarin siang.
Flashback.
.
Sehun berjalan santai sendirian, tidak ada Soobin dibelakangnya. Dia baru saja selesai memeriksa pasien pasienya dan berniat menuju ke ruanganya untuk beristirahat disana.
" Dokter." Sapa seorang anak kecil padanya.
Sehun diam sejenak lalu memandang anak itu, dan tersenyum.
" Dokter sangat tampan." Puji gadis kecil itu – Kim Dae Hyun-
Sehun tersenyum lalu berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan gadis itu.
" Apa yang kau lakukan disini."
Dae Hyun tersenyum. " Aku sedang bermain dokter."
Sehun mengangguk, sekarang memang waktunya makan siang, dan mungkin perawat yang menjaga Dae Hyun sedang makan siang.
" Kau sudah makan.?"
Daehyun mengangguk semangat. " Aku makan sangat banyak tadi." Ucapnya sembari merentangkan tanganya dan seperti membuat gunung saat mengucapkan kata banyak.
Sehun tersenyum, anak ini sangat manis. " Benarkah.?"
Daehyun mengangguk lagi. " Aku juga sudah meminum obatku." Ceritanya dengan bangga.
Sehun mengusak kepalanya lagi. Mereka berdua asyik bercerita.
" Dokter oh." Seseorang dibelakang memanggil Sehun.
Sehun berbalik menatapnya, dia melihat Kyungsoo dan Eun Ha yang berjalan menghampirinya.
Sehun menatap Daehyun lagi laluu mengusak kepalanya. " Kembalilah kekamar, sekarang kau harus tidur mengerti."
Daehyun mengangguk, lalu berpamitan pergi.
" Hati hati sayang." Eun Ha mengatakanya untuk Daehyun yang berpapasan denganya.
Sehun berdiri kemudian lalu mengahadap dua dokter muda dihadapanya.
" Ada apa?" Tanyanya datar.
Kyungsoo dan Eun Ha saling bertatapan, Sehun menatapnya heran.
Eun Ha berdehem pelan, memecah kegugupanya.
Seaan mengerti kecanggungan itu Sehun bertanya sekali lagi. " Katakan saja."
" Sebelumnya maafkan kami yang mengatakan ini, tapi—" Eun Ha menggantungkan kalimatnya, mengumpulkan keberanianya.
Sehun menantikan kalimat selanjutnya, dia mengerti arah pembicaraan ini. Mereka pasti menyinggung Luhan.
" Tapi kami hanya ingin tahu alasan anda memberhentikan Luhan?"
Sehun tidak bereaksi apapun. Dua wanita dihadapanya memandangnya meminta penjelasan.
" Kenapa kalian menanyakan itu."
" Kami temanya."
Sehun bergumam pelan.
" Bukankah Luhan bekerja dengan baik selama ini."
" Kenapa anda memberhentikanya jadi dokter.?" Lanjut Eun Ha seperti menuntut Sehun.
" Itu karena dia memang tidak layak menjadi dokter." Balasnya datar.
" Tapi anda tidak bisa berbuat seperti itu."
Sehun menaikkan satu alisnya mendengar kata kata Eun Ha. Heran denganya yang sepertinya menyalahkan keputusanya.
" Anda seharusnya menghargai usaha Luhan untuk bisa menjadi dokter sampai saat ini."
" Usaha seperti apa?" Tembaknya dengan suara datar.
Eun Ha terdiam, dia tidak tahu akan mengatakan apa.
" Usaha dia sampai sekarang. "
" Dia belajar mati matian agar bisa menjadi dokter seperti keinginan orang tuanya,"
" Dan juga apa anda tidak bisa memaafkan kesalahanya.?"
" Kupikir itu bukan masalah yang serius." Eun Ha mengatakanya dengan ragu ragu.
Sehun berdecak. " Dia meninggalkan tugas dan lebih memilih menonton konser, apa itu bukan kesalahan yang serius?."
Eun Ha diam, ucapan Sehun benar. Luhan sudah keterlaluan, tapi tetap saja Luhan itu temanya.
" Tapi setidaknya anda menghargai Luhan."
Sehun menaikkan satu alisnya. " Menghargai.?" Tanyanya lagi.
" Ya! Dia bekerja keras untuk bisa magang dirumah sakit ini, seharusnya anda bisa membantunya."
" Jadi bisakah anda memikirkanya lagi?" Eun Ha meminta.
Sehun berdecak pelan. " Untuk apa, Luhan tidak pantas menjadi dokter."
Kyungsoo yang mendengar sebenarnya membenarkan ucapan Sehun.
" Tapi anda pembimbingnya.?"
" Setidaknya bantulah dia menjadi lebih baik." Eun Ha mencoba lagi.
" Tapi sekarang tidak, dia bukan tanggung jawabku,"
Eun Ha mengutuk Sehun dalam hati, berbicara denganya membuatnya murka. Benar kata orang, semua orang yang terlihat baik didepan pasti menyembunyikan sisi gelap dalam dirinya.
" Anda sangat jahat, tidak berperasaan." Ejeknya.
Sehun menatap Eun Ha, gadis ini berani mencemoohnya.
" Berhentilah membela dirinya, dia bahkan tidak ingin menjadi dokter tapi kalian membelanya sampai seperti ini." Ucapnya datar.
Sehun menatap Eun ha dan Kyungsoo bergantian.
Eun Ha terlihat kesal, dan Kyungsoo diam saja.
" Benar kata anda dia memang tidak pantas dan tidak berniat menjadi dokter." Kyungsoo membenarkan ucapan Sehun tadi.
" YA!" Eun Ha berteriak pada Kyungsoo, Kyungsoo hanya menatap datar Eun Ha.
" Apa yang kau lakukan, seharusnya kau membelaku."
Kyungsoo memberikan isyarat untuk Eun Ha diam dan percaya padanya.
" Anda benar, Luhan memang tidak pantas menjadi dokter." Ulangnya lagi, sembari menatap kearah Sehun.
Sehun menatap heran Kyungsoo, bukankah seharusnya wanita ini membela Luhan.
" Lalu.?" Sehun bertanya lagi.
Kyungsoo menarik nafasnya kasar. " Inii bukan untuk Luhan, tapi tolong pikirkan orang tua mereka."
" Mereka ingin Luhan bisa menjadi dokter, apa anda tidak tahu soal itu." Kyungsoo bertanya.
Sehun diam saja. Itu bukan urusanya pikirnya.
" Aku tidak tahu dan itu bukan urusanku." Jawabnya cuek.
Kyungsoo menatap Sehun, berbicara denganya sungguh membuat dirinya harus belajar bersabar. Melihat Kyungsoo terdiam, Sehun berniat mengakhiri percakapan mereka.
" Kalian berdua berhentilah mengurusi Luhan, sebaiknya kalian bekerja saja dengan benar." Nasehatnya.
Setelah mengatakan itu, Sehun berjalan menjauhi kedua wanita itu. Dia mengomentari sikap dua teman Luhan dalam hati.
" Mereka sama saja." Ucapnya dalam hati.
Beberapa langkah dia berjalan, seseorang berteriak padanya.
" Dokter Oh bukankah itu tugas anda sebagai pembimbingnya untuk bisa membuatnya berubah."Kyungsoo berteriak.
Sehun mendengar tapi masih lanjut berjalan.
" Itu salah anda jika Luhan tidak bisa berubah." Eun Ha ikut ikutan.
Sehun terdiam, tidak berjalan lagi. Ucapan Eun Ha barusan menohok hatinya.
Eun Ha dan Kyungsoo tersenyum miring melihat Sehun berhenti.
" Jadi pikirkanlah lagi keputusan anda." Eun Ha berteriak lagi.
" Jika luhan melakukan kesalahan, itu juga salah anda yang tidak bisa menjaganya." Kyungsoo berteriak juga.
Sehun berdecak mendengar hal itu, mengglengkan kepalanya lalu melanjutkan jalanya lagi. Dengan berbagai pikiran diotaknya yang menyinggung Luhan dan ucapan dua temanya tadi.
Luhan bukan siapa siapa untuk Sehun? Jadi kenapa dia harus peduli? Kenapa harus dia yang bersalah atas sikap Luhan.? Bukankah mengubah perilaku seseorang bukanlah hal mudah, benar? Pikiran Sehun mengatakan itu, dia tidak seharusnya peduli. Tapi kenapa ada yang salah dengan dirinya, dia tidak tenang sungguh.
Luhan benar benar membuatnya pusing belum lagi orang orang yang membelanya juga. Semua orang ibarat menyalahkan keputusanya, tapi yang dilakukan Sehun juga tidak salah pikirnya.? Luhan harus mendapat pelajaran untuk dirinya, gadis itu harus menerima hukuman dari kesalahan yang dia perbuat benar?
.
Flashback end.
.
.
.
.
Luhan
.
.
Gadis itu bangun lebih pagi, entah untuk apa ibu kesayanganya yang sangat baik hati itu menyuruhnya untuk bersiap siap. Kang Soyou bilang mereka akan mengunjungi rumah nenek mereka.
Luhan memoleskan bedak berikut make up yang dia punya untuk kelihatan lebih cantik. Gadis itu membenarkan rambut panjangnya yang diikat.
" Luhann.." Teriak ibunya dari arah bawah.
" YA!" Teriaknya balik.
Setelah dirasa rapi dan cantik, gadis itu pergi kebawah.
Diruang tamu Kang Soyou sudah menunggunya. Kang Soyou menghampiri putrinya lalu meneliti penampilanya.
" Sudah cantik,"
Luhan hanya memutar matanya malas, semua orang juga tahu kalau dia cantik.
Soyou menarik putrinya untuk masuk kemobil, diantar oleh Han ajhussi untuk ketempat tujuan.
Luhan tidak memperhatikan jalanan, dia sibuk menggeser dan menekan ponselnya. Menstalking Chanyeol lagi.
Seminggu ini yang dilakukan Luhan hanya sibuk dengan Chanyeol dan tete bengeknya.
" Ugh Chanyeol oppa.." Pekiknya pelan.
Dia menstalk instagram Chanyeol, disana terdapat foto foto Chanyeol yang sedang berlibur.
Luhan tak henti hentinya menggumamkan berbagai kalimat takjub beserta kagumnya untuk seorang Chanyeol. Gadis itu sedang jatuh jatuhnya pada Chanyeol.
Kang Soyou disampingnya hanya mengomentari dalam hati, beruntung Luhan sedang tidak memperhatikan.
Wanita paruh baya itu senang sekaligus tertawa dalam hati.
.
.
.
.
Hansin Medical Center masih ramai seperti biasanya. Meskipun terhitung sekarang masih pagi, tapi keadaan dirumah sakit mulai banyak orang.
.
Sehun.
.
Dokter dingin itu baru saja melangkahkan kakinya di lobby rumah sakit. Menggunakan kemeja berwarna putih dan celana dasar hitam membuat dia kelihatan bak orang kantoran yang rapi. Lelaki dingin itu sesekali melirik ke jam tangan yang melingkar ditangan kirinya sembari berjalan santai dengan menenteng tas tangan hitam kulit, dan jas yang tersampir dilengan kirinya.
Siapapun yang melihat Sehun sekarang, mereka lebih percaya bahwa dirinya adalah sosok pangeran yang hidup dari negri dongeng dan mendarat dibumi, daripada seorang lelaki biasa murni berdarah manusia.
" Aku tidak bisa bernafas." Keluh perawat Yoon saat Sehun melewati mereka.
Perawat Jang memukul pelan perawat Yoon.
" Dia sangat tampan." Perawat Yoon bergumam takjub.
Perawat Jang mengangguk " Aku seperti melihat model pria yang berjalan diatas catwalk saat melihat caranya berjalan tadi. Dia sangat seksi ya tuhaann.." Ucapnya dilebih lebihkan.
" Kau benar, aku rela pura pura pingsan agar ditolong olehnya." Perawat Yoon berkata pelan, masih melihat punggung Sehun yang menjauh.
" Lalu diberikan nafas buatan kkkkkekekeke.." Perawat Jang melanjutkan khayalan sinting perawat Yoon disampingnya.
Dan yang terjadi selanjutnya kedua perawat itu tertawa bersama, dan melanjutkan khayalan khayalan indah mereka bersama dokter Oh.
.
.
.
Sehun sudah sampai diruanganya, dia meletakkan kembali jas hitamnya ke gantungan. Dengan cekatan memakai snelli dokter kebanggaanya lalu membenarkanya dengan rapi.
Dia tersenyum sekarang, ada sedikit rasa bahagia yang hinggap ditubuhnya. Entah karena apa.?
Baru dia akan duduk dikursinya, pintunya diketuk dari luar.
Tok Tok Tok
" Masuk."
Pintu terbuka lalu muncul sosok wanita keruanganya. Sehun memandang datar sosok yang datang itu. Ekspresinya tidak berubah sama sekali, dia terlihat biasa saja.
.
.
TBC.?
.
.
.
Akhirnya bisa update jugaa, :v maaf ya gk bisa bales riview kalian satu satu aku lagi sibuk banget soalnya, author punya dedek baru. Trus juga buat yang bingung mau manggil aku apa? Kalian bisa panggil aku intan atau kuma juga terserah.!
Dan juga makasih yang udah follow sama favorit ff ini, gk nyangka udah 50 holang. Terhura akutuh, gk ngira banyak yg udah baca ff ini. Awalnya pesimis, serius? Soalnya ff receh kayak gini gak nyangka banyak yang suka dan banyak yang ngeriview. Trus riview dari kalian aku gak berhenti senyum senyum sendiri kalo baca. Ah udah kebanyakan bacot, udah sampai sini aja dan yang terakhir jaga kesehatan kalian, puasa udah sebentar lagi.. Semoga konsumsi ff NC nya dikurangi, dosa loh.? Udah itu aja bye bye.. *tebardolar
