Chapter 7.

Title : My Ice cream Doctor.?

Author : Rilakkumaa_94

Cast : Oh Sehun.

Xi Luhan.

Park Chanyeol.

Do Kyungsoo.

Pairing : HUNHAN ( SEHUN X LUHAN)

Genre : Drama, Romance, Friendship, Comedy (gaje) dll.

Rating : T

Playing : K-will – Please don't…..

Rilakkumaa_94

Present

.

.

.

" Apa dia sudah menikah?"

" Seharusnya kau menolak."

" Lebih baik kau bermain saja sekarang daripada sok sibuk seperti ini."

.

.

.

.

.

.

Luhan ternganga dihadapan gedung besar yang berdiri kokoh, bak orang bodoh. Sel sel dalam tubuhnya yang menjalankan perintah dari otak dan otot ototnya terasa beku dan mati semua. Dia tidak menyadari bahwa lima detik setelah Luhan keluar dari mobilnya dia akan berada ditempat yang indah.

Luhan melirik sekilas kearah ibunya yang cantik itu disebelahnya, ibu nya memandang Luhan dan tersenyum tak berdosa.

" Apa ini?" Tanya Luhan heran, dia tidak mengerti apa maksud ibunya membawanya ketempat ini.

Kang Soyou bukanya menjawab dia malah menarik Luhan untuk masuk.

" Ayo" Ajaknya sembari menarik tangan Luhan berjalan masuk.

Luhan diam saja dan mengikuti ibunya masuk.

Dia merasa dibohongi, sungguh.

.

.

Gedung dengan luas 1 hektar lebih itu cukup untuk menampung orang banyak. Gedung megah nan kokoh itu menjadi saksi bisu apa saja yang terjadi disana.

" Ada apa dengan wajahmu, Lu.?" Tanya Soyou saat mendapati raut masam putrinya.

" Ibu berbohong padaku." Ucap Luhan kesal.

Soyou tersenyum sejenak lalu kembali melanjutkan kegiatanya.

" Wah cantik sekali putrimu." Puji seorang wanita paruh baya dihadapan Luhan.

Luhan hanya membalas tersenyum manis.

" Berapa umurnya."

" 24 tahun." Jawab ibu Soyou sembari meminum tehnya.

Ya! Luhan dan Soyou sekarang tengah berada disebuah café disebuah pusat perbelanjaan, bukan di rumah neneknya.

Kang Soyou bohong soal berkunjung kerumah nenek, dia malah membuat Luhan terdampar di tengah tengah ibu ibu yang sedang berkumpul.

Luhan mengutuk dalam hati, ibunya benar benar. Luhan merasa dibohongi sungguh.

" Apa dia sudah menikah?" Tanya seorang wanita lagi.

Luhan hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan itu.

Kang Soyou menatap sekilas putrinya, lalu beralih menghadap teman temanya.

" Dia belum pernah berkencan sama sekali." Bisik Soyou pelan sembari mengarahkan tanganya disamping mulutnya.

Sedetik setelah kata laknat itu keluar, Soyou dan teman temanya tertawa pelan sembari menggoda Luhan.

" Anak jaman sekarang memang sibuk bekerja." Wanita lainya berkomentar.

Kang Soyou membenarkan.

" Annakku juga seperti itu, dia sangat dingin dan kaku." Lanjut wanita tadi sembari meletakkan cangkir tehnya kembali ke meja.

" Anakmu pasti sangat tampan sekarang." Kang Soyou berkomentar.

Wanita itu tersenyum cantik.

" Dia sangat tampan, tapi sikapnya tak seindah wajahnya. Dia terlampau dingin dan kaku." Keluhnya.

Kang Soyou dan wanita lainya menertawakan.

" Tapi dia tampan dan juga pintar, anakmu pasti memiliki banyak fans." Soyou memuji anak wanita temanya.

Sang wanita tadi tersenyum membenarkan.

" Tapi dia selalu mengabaikan mereka. Aku saja ingin mendaftarkanya disitus cari jodoh supaya dia cepat cepat menikah." Curhatnya lagi.

Kang Soyou, dan wanita lainya menertawakan omongan Jin Hee.

" Setampan apa anakmu itu." Wanita lainya bertanya.

" Dia sangat tampan ." Soyou yang menjawab setelah menghentikan tawanya.

" Apa kau tidak mengingatnya?" Soyou bertanya pada Luhan.

Luhan kebingungan " Itu Oh Sehun temanmu dulu." Wanita tadi mengingatkan – Oh Jin Hee.

Luhan hanya menggeleng. Dia tidak ingat memiliki teman bernama Oh Sehun.

Soyou berdecak sebal " Kau tidak ingat, dia anak laki laki yang menangis karena pernah kau pukul pakai sendok." Ingat Soyou sambil tertawa.

Jin Hee menambahi " Kau sering bermain denganya sewaktu kau berkunjung kerumah nenekmu, Ingat?"

Luhan mengingat ingat. Sementara Soyou, Jin Hee dan yang lainya menggosipkan berita lain.

" Dia sekarang bekerja dimana."

Jin Hee langsung menjawab semangat. " Di Hansin Medical Center."

Ibu lainya langsung bersorak kagum.

" Kau juga bekerja disana kan?" Tanya Jin Hee pada Luhan.

Soyou yang menjawab iya.

" Aku dan Sehun berteman?"pikirnya, masih tidak percaya.

" Apa dia sehun.?"

Dia mengingat sekali lagi. Salahkan kemampuan otak Luhan yang tidak bisa mengingat saat dibutuhkan.

" Sehun kupukul pakai sendok lalu menangis."

" Apa itu si Sehun menyebalkan itu?"

Luhan tertawa, dia baru saja mendengar sesuatu yang lucu. Dia masih tidak percaya bahwa dia pernah melakukan itu pada Sehun. Seharusnya dia harus memukul Sehun lagi agar lelaki dingin itu menangis dan memohon ampun pada Luhan sekali lagi.

.

.

.

.

.

Sehun sudah sampai diruanganya, dia meletakkan kembali jas hitamnya ke gantungan. Dengan cekatan memakai snelli dokter kebanggaanya lalu membenarkanya dengan rapi.

Dia tersenyum sekarang, ada sedikit rasa bahagia yang hinggap ditubuhnya. Entah karena apa.?

Baru dia akan duduk dikursinya, pintunya diketuk dari luar.

Tok Tok Tok

" Masuk."

Pintu terbuka lalu muncul sosok wanita keruanganya. Sehun memandang sosok yang datang.

Dokter Seohyun tersenyum melihat Sehun yang melihatnya juga.

Dokter itu, bersama dokter Kim, dan Soobin datang keruanganya.

" Silahkan duduk." Sehun mempersilahkan.

Seohyun, dokter Kim dan Soobin duduk disofa diruangan Sehun. Sehun bangkit dari duduknya lalu menyusul duduk disofa lainya.

Soobin membagikan foto copy an yang dibawanya.

" Terima kasih." Ucap Seohyun saat menerima dari Soobin. Soobin membalas tersenyum lalu duduk disamping Sehun.

Mereka yang disana meneliti dan membaca kertas tadi.

" Jadi sekarang bagaimana kondisinya?" Dokter Kim bersuara, sembari memandang kearah yang lainya.

" Dia baik baik saja." Balas dokter Seohyun.

Dokter Kim mengangguk. " Aku tidak percaya bisa satu tim dengan kalian." Ucapnya bangga.

Sehun dan Seohyun hanya tersenyum.

" Saya juga tidak menyangka bisa melakukan operasi gabungan bersama dokter Oh." Ucap Seohyun senang sembari menatap Sehun.

Soobin yang melihatnya hanya berdecak sebal. " Dasar genit." Rutuknya dalam hati.

.

.

.

.

Luhan sudah pulang. Dia sudah sampai dirumahnya dengan selamat. Gadis itu terlihat sedang memikirkan sesuatu yang menganggu pikiranya.

" Istirahatlah."

Tanpa mempedulikan ucapan ibunya Luhan bergegas menuju kamarnya. Soyou hanya menggeleng melihat putrinya sedang kesal.

Drtt drtt drtt.

Ponsel Soyou bergetar, ada satu panggilan masuk. Buru buru wanita itu mengangkatnya dan pergi menjauh.

.

.

Luhan masuk kedalam kamarnya, gadis itu langsung membaringkan tubuhnya tanpa berganti baju terlebih dahulu.

Pikiranya menyinggung perkataan Jin Hee dan ibunya tadi siang.

" Kau dan Sehun berteman."

Bayangan Jin Hee mengatakan itu terlintas lagi.

Luhan memeluk boneka mickey mouse kesayanganya. Dia belum bisa tidur.

" Aku" Tunjuknya pada dirinya sendiri.

" Dan Sehun berteman." Ucapnya lagi.

Dia mengingat lagi, tentang masa lalunya. Mencoba membenarkan atau mencari petunjuk apa yang dikatakan wanita tadi itu benar. Luhan memang mengingat bibi Jin Hee dan suaminya, tapi kenpa dengan Sehun dia lupa.

" Apa dia si pendiam itu ya." Luhan mengingat lagi.

Dia teringat tentang anak kecil yang tinggal beberapa rumah disamping rumah neneknya. Anak laki laki itu begitu diam dan irit bicara.

" Apa anak itu si dokter es krim itu."

" Aku tidak percaya dia berubah menjadi tampan, dan menyebalkan seperti itu." Ucapnya lagi.

" Hahaha " Luhan tertawa entah karena apa. Dia terlihat senang sekali, sepertinya dia mengingat sesuatu.

Flashback.

.

Rumah ini bergaya klasik, masih menggunakan kayu sebagai perabotan dan pintu masuknya juga terbuat dari kayu yang diukir berbagai rupa.

Rumah dilingkungan ini terhitung sangat rapi dan tertata. Banyak pepohonan hijau, dan bunga bunga ditaman milik warga sekitar. Udara begitu sejuk dan masih terjamin kesegaranya.

Sekarang musim panen, nenek Luhan adalah seorang petani sayuran. Dan sekarang adalah musim panenya untuk memetik sayuran. Setiap tahun didesa ini selalu mengadakan pesta jika musim panennya berhasil dan menghasilkan untung banyak. Jadi wajar saja jika sekarang di halaman rumah neenk Luhan banyak sekali orang orang yang berpesta.

Luhan, gadis kecil itu bermain pasir dengan anak laki laki dihadapanya.

Mereka berdua berhadap hadapan, saling membuat bentuk bentuk aneh menggunakan pasir.

" Aku suka ini." Ucap Luhan sembari menujuk bentuk segitiga pada pasir dibawahnya.

Si anak lelaki tersenyum lalu mulai membuat bentuk segitiga lebih banyak.

" Kau suka?" Tanyanya lagi, meperlihatkan bentuk selain segitiga pada Luhan.

Luhan berseru senang, dan sang anak laki laki juga ikut tersenyum lebar.

" Apa itu Luhan.?" Wanita muda yang menggandeng tangan anaknya bertanya saat melihat Luhan dari kejauhan.

Soyou mengangguk. " Dia sudah besar."

" Dia baru masuk SD tahun kemarin." Ucap Soyou.

Jin Hee melirik Soyou sekilas. " Lalu dimana Nayeon."

Soyou tersenyum lalu menunjuk seorang anak perempuan yang juga cantik yang duduk bersama dengan tuan xi.

" Wah dia juga sangat cantik." Pujinya lagi.

Soyou tersenyum sembari menatap putra digandengan Jin Hee.

" Apa ini Sehun. Aigoo kau sangat tampan." Soyou berkomentar melihat putra Jin Hee yang kelihatan tampan.

Sehun mengangguk, ekspresinya tetap datar.

" Dia tidak pandai berekspresi." Jin Hee berucap pelan, Soyou mengangguk mengerti.

" Apa kau mau bermain dengan luhan.?" Tanya Soyou lagi.

Sehun diam saja. " akan bibi panggilkan anak manis."

" Luhan." Soyou memanggil anaknya.

Luhan menoleh, begitupun Jongdae disampingnya.

" Kemari nak." Soyou mengayun ayunkan tanganya.

Luhan berdiri lalu mengibas ibaskan roknya yang tertempel pasir.

Luhan menghadap Jongdae. " Ayo" Ajaknya.

Jongdae ikut berdiri lalu menghampiri ibu Luhan disana.

Luhan sampai dihadapan mereka.

" Ucapkan salam pada bibi Jin Hee." Ucapnya untuk Luhan dan Jongdae yang menatapnya datar.

" Annyeonghaseyo bibi." Jongdae dan Luhan berucap bebarengan sembari membungkukkan badanya.

Jin Hee tersenyum, Luhan berdiri dengan benar lalu menatap seorang anak lelaki disamping bibi Jin Hee.

" Dia Oh Sehun, anak bibi." Jelas Jin Hee pada Luhan.

Luhan mengulurkan tanganya. " Namaku Luhan."

Sehun menatap Luhan sebentar, lalu mengahdap Ibunya.

" Berkenalan denganya."

Sehun mengangguk lalu menjabat tangan Luhan. " Sehun." Balasnya.

Setelah acara perkenalan mereka semua duduk dimeja makan untuk menikmati pesta barbeque.

Luhan, Jongdae dan Sehun duduk bersama. Mereka sudah akrab, ah tidak maksudku Jongdae dan Luhan yang lebih mendominasi. Sehun daritadi diam saja, dan tidak banayk bicara seperti Luhan dan Jongdae.

" Nyam nyam.." Jongdae mengunyah daging dimulutnya.

Luhan juga " Ini enak," Pujinya dengan raut takjub.

Sehun ikut makan tapi dia diam saja.

Luhan melirik Sehun. " Apa tidak enak?" Tanyanya penasaraan yang melihat Sehun tidak bereaksi apapun saat dia mengunyah daging sapi itu.

Sehun menatap Luhan lalu mengangguk dan melanjutkan makanya lagi.

Luhan mendengus sebal, Sehun sangat pendiam.

Jongdae menatap luhan sebentar dan tersenyum aneh.

Mereka melanjutkan makan dengan lahap dan saling bercanda satu sama lain.

1 jam setelah itu.

Luhan Jongdae dan Sehun bermain pasir, mereka menggunakan sendok yang dicuri Luhan dari dapur untuk dibuat bermain.

Sehun hanya melihat tidak ikut ikutan menyentuh pasir.

" Ini, lalu seperti ini." Luhan membuat bola besar, sembari menempelkan beberapa daun diatasnya.

" Itu bagus." Puji Jongdae melihat hasil kerja Luhan.

Sehun mendengus, bagus apanya. Itu jauh dari kata seni. Yang dibuat Luhan hanya tumpukan pasir bulat dan ada hiasan dua daun diatasnya.

Luhan menyendokkan pasir lagi lalu menaruhnya dibawah bulatan itu. Melakukanya berulang ulang. Dia dan Jongdae bekerja keras membuat istana pasir, meskipun ini bukan dipantai.

" Ini akan bagus." Luhan memberi bunga diatasnya.

Jongdae berseru gembira. Luhan dan Jongdae sangat senang melihat hasil istana pasir mereka. Mereka melirik Sehun sebentar yang diam saja dari tadi.

" Kau tidak suka bermain dengan kami ya?" Selidik Luhan melihat Sehun yang mendengus kesal.

" Kenapa dari tadi kau diam saja." Jongdae ikut ikutan.

Sehun diam tidak membalas, dia lebih suka mengabaikan dua anak berisik itu.

Luhan menghampiri Sehun.

Ctakk Ctaakk

" Hueee…" Luhan memukul kepala Sehun menggunakan sendok.

Jin Hee yang mendengar tangisan Sehun lalu menghampiri mereka. " Ada apa?" Tanyanya sembari mengelus kepala Sehun. Sehun yang menangis menunjuk Luhan yang berdiri dihadapanya.

Soyou juga ikut menghampiri lalu menatap Luhan yang memegang sendok. " Kau memukulnya ya.?"

Luhan memandang ibunya, dia mengangguk, tapi merasa tidak bersalah. " Kenapa kau lakukan itu.?" Soyou bertanya lagi sembari menarik Luhan kearahnya.

" Dia diam saja daritadi, aku hanya ingin mendengar suaranya." Bela Luhan.

Jongdae ikut mengangguk membela Luhan. " Benar, bibi."

" Dia memang pendiam. Luhan." Soyou terlihat kesal.

Jin Hee menenangkan Sehun lalu menatap Luhan sebentar. " Sudah tidak apa apa, dia memang pelit bicara."

Luhan mengangguk, " Minta maaf," Soyou menyuruhnya.

Luhan dan Jongdae menatap Sehun. " Maafkan aku." Ucapnya.

Dan Sehun hanya mengangguk mengerti, lalu mereka bermain kembali lagi tapi tidak dengan Sehun. Soyou dan Jin Hee geleng geleng kepala melihat tingkah anak anak itu.

.

Flashback end.

.

.

Keesokan harinya.

.

" Luhan.. bangun…" Kang Soyou membangunkan Luhan pagi pagi.

" Eunghhh…" Erang Luhan sambil masih bergumul dalam selimutnya.

Kang Soyou mencoba sekali lagi.

" Banguun nak.."

Luhan masih belum membuka matanya. Soyou bahkan harus menarik putrinya untuk bangun.

" Ah baik baik aku bangun." Teriaknya kesal, lalu sejurus kemudian duduk.

Menatap ibunya sinis. " Apa." Ucapnya kesal, sembari menutup mulutnya, menguap.

" Bangun dan mandi, kita pergi kesuatu tempat." Perintah Soyou.

Luhan akan menidurkan tubuhnya lagi, tapi dicegah oleh Soyou.

" Mandi Luhan, nanti kita telat." Teriak Soyou marah.

" IYA.." teriak Luhan tak kalah keras lalu pergi menuju kamar mandi.

.

1 jam kemudian.

.

Luhan sengaja berlama lama dikamar mandi, sengaja mandi susu serta luluran agar terlihat cantik. Siapa tahu ibunya mengajaknya pergi menemui temanya lagi, Luhan harus tampil cantik setidaknya.?

Luhan memakai baju berwarna biru tua, celana jeans berwarna navy. Tak lupa gadis itu memoleskan bedak tebal tebal, memakai lipstick warna cerah agar terlihat cantik. Dia melihat pantulan dirinya dicermin besar itu, memutar mutar badanya kesamping kanan dan kiri. Setelah dirasa cantik dan rapi dia turun kebawah, lalu langsung saja menuju mobil.

" Kau sudah disini rupanya." Ucap Soyou kaget mendapati putrinya sudah duduk manis di mobil.

Luhan hanya bergumam, tidak perlu repot repot memandang ibunya. Dia terlalu sibuk memainkan ponselnya.

Soyou tersenyum " Jalan pak." Ucapnya memerintah supir.

Disepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun, semuanya sibuk dengan pikiran masing masing. Sebenarnya Luhan paling terlihat sibuk sendiri, dia tak henti hentinya menngoceh sendiri sembari matanya tidak lepas dari layar ponselnya.

" Si jalang itu kenapa dekat dekat dengan Chanyeol oppa sih.?" Ucap Luhan kesal.

Soyou melirik Luhan sebentar. " Dasar genit, Ya! Jangan sentuh oppaku, brengsek." Umpatnya.

Entah apa yang dilihat Luhan, gadis cantik itu tak henti hentinya mengeluarkan berbagai sumpah serapah dan kata kata kotor.

" Kau itu mencari kesempatan dalam kesempitan. Awas kalau ketemu, kupatahkan tanganmu." Ucapnya kesal sendiri.

Soyou menggeleng melihat tingkah putrinya, lalu dia memandang kembali kedepan.

Jalanan di Seoul memang saat jam kantor itu padat dan tidak kondusif. Untuk itu Soyou mengajak Luhan berangkat lebih pagi ketempat tujuan.

Setelah menempuh 1 jam perjalanan, mobil itu berhenti tepat didepan gedung yang berdiri kokoh.

Soyou melirik putrinya yang masih sibuk berkutat dengan ponselnya.

" Ayo turun." Ajak Soyou membuyarkan khayalan Luhan.

Luhan melirik ibunya " Sudah sampai." Ulangnya.

Soyou mengangguk lalu menyuruh Luhan untuk turun.

Tanpa basa basi Luhan mendaratkan kakinya kelantai lalu menutup pintu.

Dia menatap kedepan lalu terlonjak kaget. Lalu menatap kesal ibunya.

Ibunya malah tersenyum. Luhan tidak bisa berkata apa apa lagi, dia bahkan tidak tahu harus mengatakan kata apa terlebih dahulu.

Kata kata itu terlampau banyak.

" Ibu gila ya, untuk apa membawaku kemari."

" Ibu lupa ya.?"

" Atau ibu sakit ya?"

" Maksud ibu apa sebenarnya.?"

Luhan berteriak kesal sekaligus tak mengerti.

Soyou tidak membalas, dia mengajak Luhan masuk. Tapi Luhan menghempaskan tangan Soyou.

" Ayo kita pulang." Luhan berbalik ingin pergi.

Soyou menarik lengan putrinya.

" Apa lagi.?" Bentak Luhan kesal.

Soyou mencoba tersenyum " Kau kembali bekerja disini." Soyou berucap dengan lembut, menatap mata Luhan lembut.

Luhan kaget, dia bahkan sempat berfikir bahwa ini hanya halusinasinya.

Bagaimana bisa?

" Ibu kemarin meminta dokter oh untuk membawa mu kembali, dan dia setuju." Cerita Soyou sendiri tanpa diminta.

" Aa.. apaa.?" Ucapnya terbata kaget sekaligus tak percaya.

Dia merasa seperti orang bodoh sekarang, dipermainkan oleh ibunya dan Sehun.

Dokter dungu itu benar benar. Bukankah Luhan sudah memakinya habis habisan, kenapa dia masih ingin membawa Luhan kembali.?

" Gunakan kesempatan keduamu sebaik mungkin."

Soyou menarik lengan putrinya lagi. " Aku tidak mau ibu." Teriak Luhan kesal sekaligus marah, kenapa ibu nya tidak mengerti juga sih.

" Kenapa ibu tidak mengerti sih."

" Aku itu tidak suka menjadi dokter, tahu.?" Bentak Luhan marah, menatap ibunya sinis.

Soyou menegang, dia tidak pernah dibentak Luhan sekeras itu.

" Ibu hanya ingin membantumu nak."

Luhan berdecak " Aku membencimu bu." Teriaknya lalu pergi.

BRAKK

Belum tiga langkah ia berjalan, dia dikejutkan dengan suara itu. Dia menoleh kebelakang, Luhan terkejut mendapati ibunya tergeletak dilantai. Segera saja dia berlari dan duduk disebelah ibunya yang pingsan.

" Ibu bangun.." Ucapnya sembari mengoncangkan tubuh ibunya.

" Bangun buu.." Luhan mencoba sekali lagi, tapi hasilnya nihil. Ibunya tetap tak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

Luhan berjalan kesana kemari, pikiranya kalut. Dia bingung harus melakukan apa, otaknya seperti tidak mau diajak berkerja sama, bahkan jantungnya pun berdetak sangat cepat karena khawatir.

Setelah Soyou pingsan dia membawa ibunya masuk kerumah sakit. Untungnya jaraknya tidak jauh, jadi ibunya bisa ditolong secepatnya.

Luhan menangkupkan tanganya, mulutnya tak henti hentinya mengumamkan sesuatu. Dia khawatir sekaligus panic, dia takut ibunya kenapa napa.

Pintu UGD terbuka, Luhan langsung saja menoleh.

Luhan menghampiri Sehun dan langsung melontarkan pertanyaan secara bertubi tubi " Bagaimana ibuku."

" Apa dia baik baik saja?"

" Tidak ada yang serius kan."

" Ibuku tidak apa apa kan.?"

" Kenapa kau diam saja sih.?" Teriaknya.

Sehun mau membuka mulutnya tapi urung dilakukan, Luhan memotongnya terlebih dahulu. " Hal buruk tidak terjadi pada ibuku, kan?" Tanyanya lirih, menatap Sehun masih menangis.

Sehun berdecak, dia menepuk punggung Luhan " Ibumu tidak apa apa." Jelasnya.

Luhan mendongak menatap Sehun, rautnya berubah lebih cerah, tidak seperti sebelumnya.

" Dia hanya shock dan kelelahan." Lanjut Sehun datar, tapi entah kenapa suara Sehun bisa membuatnya tenang.

" Apa aku boleh melihatnya."

Sehun mengangguk, lalu mengikuti Luhan masuk kedalam.

" Ibu.." Panggilnya pelan.

Mata Soyou mengerjap kecil, lalu terbuka sempurna.

" Ibu." Ulang Luhan lagi.

" Ibu tidak apa apa, apa yang sakit." Tanya Luhan sembari mengenggam tangan Soyou.

Soyou menggeleng lalu seperti ingin mengatakan sesuatu.

Luhan mengerti, lalu mendekatkan dirinya.

" Jadilah dokter yang baik nak." Ucap Soyou pelan.

Luhan terdiam, dia tidak sanggup menolaknya sekarang.

" Ibu ingin kau bisa jadi dokter yang hebat, kau mau mengabulkan permintaan ibu kan.?" Lanjut Soyou lagi.

Luhan masih terdiam, dia menatap Soyou lama. Meneliti kedalam mata ibunya, manik mata itu.? disana terpancar keinginan yang sangat besar. Luhan bisa dengan jelas melihat, bahwa ibunya benar benar serius dengan perkataanya.

Tanpa aba aba kepala Luhan mengangguk, otaknya sempat mengirimkan perintah untuk menggeleng dan menolak keinginan ibunya, tapi sepertinya sel sel dan otot dalam tubuhnya mengkhianati perintah otak Luhan.

Melihat itu Soyou tersenyum lalu memeluk Luhan.

" Terima kasih Luhan." Ucapnya tulus, Luhan hanya mengangguk pasrah.

.

.

.

Luhan.

.

Luhan kembali menjadi dokter di rumah sakit ini. Haruskah ia merasa senang, menangkupkan tanganya dan memanjatkan rasa syukur. Menyapa kembali semua orang dan berteriak keras keras " Aku menjadi dokter lagi, setelah sempat diberhentikan." Seperti itu? Tidak? Luhan lebih senang menghabiskan waktu untuk kegiatan tidak bergunanya daripada harus sok sibuk dirumah sakit.

Luhan melirik seseorang disampingnya, lalu mendengus kesal.

" Kenapa kau memintaku kembali." Tanyanya sinis pada Sehun.

" Ibumu yang memintaku membawamu kembali." Sehun mengoreksi ucapan Luhan.

" Seharusnya kau menolak."

" Benar aku seharusnya menolak." Sehun menjawab datar.

Luhan berdecak sebal.

" Ibumu menangis dihadapanku, memintaku membawamu kembali aku jadi tidak tega melihatnya menangis seperti itu." Balas Sehun kalem. Sejahat jahatnya dia dipikiran gadis itu, setidaknya utuk ibu Luhan dia tidak akan bersikap seperti itu.

Luhan berdecih sinis " Kenapa kau berubah menjadi pangeran baik hati seperti itu,"

Sehun diam saja, tidak menjawab Luhan. Lelaki dingin itu mengacuhkan Luhan yang terlihat kesal.

" Kau itu kejam, bahkan saat aku menangis dihadapanmu pun kau tidak peduli." Lanjutnya seperti sedang memprotes Sehun.

Sehun tersenyum miring " Kau tidak pantas dikasihani." Ucapnya sinis.

Luhan tertohok, dokter sialan ini berani beraninya menghina Luhan.

" Dasar sialan, " Umpatnya sembari memberengut kesal.

.

.

.

.

.

Soyou mengenggam tangan Sehun erat erat, mengucapkan rasa terima kasihnya. Kemarin malam, pria itu menelpon dirinya dan mengatakan bahwa Luhan bisa kembali bekerja di Rumah Sakit. Hal itu tentu saja membuat Soyou senang bukan main, tadi pagi dia bahkan sempat menyuruh pembantunya mengirimkan makanan ke rumah ibu Sehun. Jin Hee merupakan teman Soyou saat kecil. Rumah Jin Hee yang dulu dekat sekali dengan rumah nenek Luhan, jadi tidak heran kenapa Luhan dan Sehun berteman saat kecil. Tapi saat Sehun mulai masuk Sekolah Menengah Pertama keluarga Oh pindah ketempat lain. Dan Luhan, gadis itu tidak pernah mengunjungi neneknya sesering dulu, saat dirinya sibuk dengan sekolahnya.

" Terima kasih.." Ucap Soyou sekali lagi, dia tidak henti hentinya mengucapkan terima kasih untuk Sehun.

Pria itu menjawab sama sama.

Soyou sekali lagi mengucapkan terima kasih dan meminta Sehun menjaga Luhan.

" Tolong bimbing anakku menjadi dokter yang baik."

" Ibu apa apaan sih.?" Luhan yang berada disamping Soyou berkomentar tidak suka.

Sehun menatap Luhan sebentar. " Saya akan berusaha." Dipandang Sehun, Luhan memalingkan mukanya.

Soyou tersenyum " Jika dia membuat ulah atau tidak mau menurut, pukul saja dia.."

" Ibuu.." Teriak Luhan kesal, Soyou menenangkan Luhan.

" Dia itu jahat, tanpa ibu suruhpun dia pernah memukul tanganku." Adu Luhan, menatap Sehun sinis.

Sehun meringis, lalu menatap Soyou minta maaf.

Bukanya membela Luhan , Soyou malah membenarkan tindakan Sehun.

" Saya akan membimbingnya lagi." Janji Sehun pada Soyou.

Luhan berdecak sinis, Soyou tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.

" Tidak usah berterima kasih padanya, ayo pulang." Ucap Luhan sinis sembari menyeret ibunya.

Soyou mengucapkan pamit pada Sehun, dan dibalas oleh Sehun.

" Hati hati dijalan." Sapanya sembari membungkuk.

" Ibuu ayoo.." Luhan menarik Soyou yang menghadap kearah Sehun. Luhan menatap Sehun sinis, lalu memalingkan mukanya kesal.

Sehun mengehela nafas pelan, lalu berjalan kembali melakukan kegiatanya.

.

.

.

Keesokan Harinya.

.

Luhan berjalan malas melewati lobby Rumah Sakit. Dia sengaja berangkat sangat siang, dia sangat malas dan tidak semangat untuk hari ini. Baru saja dia merasakan kebebasan, merdeka setelah dijajah oleh Sehun dan si tua dokter Kim, tapi hak kebebasanya sekarang dicabut lagi oleh si dokter dungu itu.

Ayahnya kemarin yang melihat Luhan kesal dirumah, mengiming iming dirinya untuk dibelikan barang yang sama dengan Chanyeol. Ayahnya juga mengiming iming dirinya sepatu Christian Loubottin limited edition, dan ayahnya berjanji membelikan sepatu yang sama seperti punya Chanyeol, dan tentu saja itu membuat Luhan goyah. Dia sungguh tak tahan dengan apapun yang berbau Chanyeol. Sedang marah, sedih atau apapun keadaan perasaanya, nama Chanyeol selalu bisa membuatnya merasa lebih baik.

.

.

" Kau harus bersikap lebih baik lagi, janji.?" Ucapan ayahnya kembali tergiang.

" Kau tidak boleh mengecewakan ayah dan ibu lagi."

" Patuhi dokter oh dan bersikap baiklah padanya."

Luhan hanya menggumamkan kata iya, tak tertarik.

" Kau harus bisa jadi dokter yang hebat. Jika kau membuat ulah lagi, ayah akan membakar semua koleksi Chanseolmu itu."

Luhan menatap tajam ayahnya.

" Ayah.." Teriaknya.

Ayahnya tertawa, ancaman itu selalu berhasil membuat Luhan menurut.

" Kau bisa janji pada ayah kan.?" Ulang Tuan Xi sekali lagi.

Dan Luhan hanya mengangguk pasrah, lebih baik mengikuti perintah dokter dungu itu daripada harus melihat Chanyeol kesayangnya berada ditengah kobaran api. Luhan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanya, itu pasti akan sakit sekali dan membuat hatinya tercabik cabik.

.

.

" Luhan.." Seseorang memanggil namanya keras.

Luhan berhenti berjalan, menghadap kedepan.

Disana dia melihat Kyungsoo dan Eun Ha yang sedang melambaikan tangan kearahnya. Luhan hanya membalas tersenyum tipis.

Kyungsoo dan Eun Ha berlari menghampiri Luhan.

" Kami senang kau kembali." Eun Ha dan Kyungsoo langsung memeluk Luhan.

Mereka berdua memeluk Luhan sangat erat.

" Kami merindukanmu." Kyungsoo bersuara, masih memeluk Luhan.

Luhan hanya bergumam, dia tidak bisa bicara banyak. Pelukan kedua sahabatnya membuatnya tercekik.

" Le..pass..kan pelukkan.. kalian." Ucapnya susah payah.

Eun Ha dan Kyungsoo sadar, kemudian melepaskan pelukanya. Menatap Luhan.

" Selamat datang kembali." Seru Kyungsoo senang.

Luhan memutar bola matanya malas " Aku berharap tak akan pernah kembali kesini."

Kyungsoo dan Eun Ha berdecih " Tapi sekarang kau ada disini." Eun Ha mengingatkan.

" Itu karena ibuku."

Eun Ha dan Kyungsoo menatap tidak mengerti, menanti kelanjutan ceritanya.

" Ibuku meminta pada dokter dungu itu untuk membawaku kembali, ibu bahkan menangis segala." Cerita Luhan kesal.

Eun Ha dan Kyungsoo menepuk bahu Luhan, menyuruhnya untuk bersabar. Luhan mengangguk, dia sudah pasrah sekarang.

" Lebih baik kita bekerja sekarang." Eun Ha menyarankan.

Luhan dan Kyungsoo mengangguk, lalu mereka bertiga kembali ke tugas masing masing.

.

.

.

.

Selalu ada hikmah dari setiap kesulitan, benar.? Itu yang sedang Luhan tanamkan dalam dirinya, sejak hanya dia-Tuhan-tahu-kapan. Saat ini dia merasa bahwa ini kesulitan yang harus ia hadapi, agar bisa bahagia dimasa depan. Bisa saja Tuhan menuliskan takdirnya seperti ini, siapa tahu dengan Luhan menjadi dokter dia bisa bertemu dengan Chanyeol.

Bukankah pertemuan dengan jodoh itu selalu tak disengaja.? Luhan ingat itu, kata kata neneknya yang diceritakanya pada Luhan saat masih kecil. Nenek Luhan bercerita bahwa nenek bertemu dengan kakeknya secara tak sengaja. Dan Luhan mencoba memahami itu.

Siapa tahu suatu hari nanti saat Chanyeol terluka dan dibawa kerumah sakit, ia bertemu dengan Luhan yang sedang bertugas. Luhan mengobati Chanyeol, dan Chanyeol merasa berhutang budi pada Luhan. Dimata Chanyeol, Luhan seolah olah malaikat baik hati yang turun dari langit untuk mengobati luka Chanyeol. Bisa saja kan.? Dengan pertemuan tak sengaja itu, Chanyeol dan Luhan berjodoh.

Luhan menyukai kesimpulan yang terakhir.

Memang pikiran Luhan itu tidak rasional dan realistis, hidupnya bahkan jauh dari peradaban. Dia selalu percaya bahwa ada makhluk lain selain manusia yang hidup di planet ini, Luhan bahkan juga percaya dengan sihir dan ilmu ilmu semacam itu.

Jika dia diberi kesempatan sekali saja, dia ingin bisa bertemu dengan nenek sihir. Memintanya untuk membuat ramuan pengubah bentuk. Rasa rasanya Luhan ingin sekali meracuni lelaki dihadapanya dengan ramuan dari nenek sihir. Mengubah wujud lelaki seperti pangeran tampan dihadapanya ini menjadi sesosok tikus. Jelek, kotor dan tak diinginkan.

" Hahahahaah.." Luhan tertawa bahagia dalam hati hanya dengan memikirkanya. Jika itu berhasil, maka dia bisa mendapatkan kembali kemerdekaanya.

Saat ini Luhan tengah berdiri dihadapan Sehun, dia sudah diruangan lelaki dingin itu.

Entah apa yang diinginkanya, lelaki dingin itu bahkan mengabaikan kehadiranya. Dia sudah berdiri sekitar satu jam lebih dihadapan Sehun yang tak kunjung berkata apa apa, lelaki itu hanya diam sembari sibuk berkutat dengan kertas kertas ditanganya. Membolak balik, mencoret, menulis itu yang dilakukanya sedari tadi. Luhan tadinya meminta duduk tapi tidak diperbolehkan oleh si Oh Sialan itu.

Luhan dibuat jengah dengan sikap Sehun, dokter itu flat sekali. Dia terlampau dingin dan menyebalkan. Luhan juga dokter tapi tidak seperti Sehun, dia bahkan masih bisa bersenang senang, tapi Sehun tidak hidupnya datar datar saja, tidak ada satupun kesenangan dalam hidupnya selain memiliki wajah yang tampan bak dewa Yunani itu.

Luhan bahkan sempat tertarik pada ketampananya, dia mirip seperti pendeskripsian Eun Ha, lelaki dingin, tak tersentuh dan maha menggiurkan.

Luhan ingin mempunyai suami tampan sepertinya jika Chanyeol menolak menjadi suaminya. Awalnya dia bahkan berniat menggoda Sehun dan bersikap baik, lembut nan penyayang dihadapanya jika tak mengingat seberapa kejam dan menyebalkan Oh Sehun.

Kaki Luhan mulai pegal, gadis itu bahkan bergerak kesana kemari karena tak nyaman, dia lelah sungguh.?

" Sampai kapan aku harus berdiri seperti ini.?" Tanyanya kesal pada Sehun.

Bukanya menjawab, Sehun malah mengabaikanya dan melanjutkan kegiatanya.

Luhan berdecih, dia sudah tak tahan sekarang untuk bertanya " Kau sebenarnya kenapa sih.?"

" Tidak suka padaku ya, membenciku ya?"

Sehun tetap tidak membalas ocehan Luhan.

" Lalu kenapa kau membawaku kembali kesini.?" Luhan masih melanjutkan ocehanya.

" Kau punya dendam padaku ya.?" Selidiknya, tapi Sehun tetap tidak merasa tertarik untuk membalas.

" Dan sekarang kau balas dendam padaku ya.?"

Luhan berdecih sekali lagi, memalingkan mukanya mencemooh sifat kekanakan Oh Sehun.

" Kau masih marah karena aku merebut minumanmu ya.?"

" Aku kan sudah bilang akan menggantinya."

" Akan ku belikan yang banyak serta mesin nya sekaligus kalau perlu."

Luhan mengatakanya seolah olah mengiming iming anak kecil yang merajuk. Tetapi Sehun diam saja, lelaki itu mengacuhkan Luhan, lagi.

" Kau lebih mirip anak anak jika seperti itu."

" Lebih baik kau bermain saja sekarang daripada sok sibuk seperti ini." Luhan mencemooh Sehun.

Sehun berdecak, dia menghentikan aktivitasnya. Meletakkan kembali pulpenya lalu menatap Luhan datar.

" Apa, kau marah.?" Luhan bertanya kesal.

Sehun tidak membalas, dia hanya menatap Luhan dingin.

Luhan menatap Sehun juga " Tadi pagi kau sarapan lem ya, kenapa tidak bersuara." Luhan bertanya heran.

" Aku bahkan menghinamu, seharusnya kau membalasku." Teriaknya kesal, menghadapi Oh Sehun membuat kepala Luhan pusing sendiri. Sehun tidak membalas, dan malah menatap Luhan datar.

" Jangan menatapku seperti itu, kau membuatku merasa tidak nyaman."

Sehun menarik nafasnya pelan " Sudah selesai bicaranya." Akhirnya Sehun bersuara, nadanya datar.

Luhan mengangguk.

Sehun menatap Luhan lagi, " Kenapa terlambat.?"

" Aku memang sengaja datang terlambat." Balasnya tak berdosa.

Sehun berdecak pelan " Itu hukumanmu karena kau terlambat."

Luhan mencemooh Sehun dalam hati, dokter dihadapanya ini tak punya perasaan.

" Jahat.-" Luhan bersuara pelan.

" Memang." Potong pria itu cepat.

Sehun melirik jam tangan yang melingkar ditangan kirinya.

" Berdiri disana sampai jam istirahat makan siang."

Luhan ternganga, yang benar saja " Itu masih satu jam setengah lagi." Teriaknya.

Sehun mengedikkan bahu acuh lalu beralih menatap kertas yang sempat ia tinggalkan.

" Kau jahat, dasar setan." Umpat Luhan.

Sehun berdecih sinis " Menghinaku sekali lagi, berdiri sampai aku memaafkanmu."

Dan yang terjadi setelah itu adalah Luhan yang meminta maaf dan meminta Sehun membatalkan niatnya itu. Tapi Sehun tidak peduli dan mengabaikan Luhan yang menatapnya kesal.

.

.

.

TBC.?

.

.

.

Maapkeun ceritanya makin 4L4Y. Dan juga sebenernya ya Soobin itu orangnya baik loh dia bukan tipe penjilat, kalo versi aku dia lebih mirip pengen jadi orang baik dihadapan Sehun , Soobin disini ceritanya dia lagi berusaha buat Sehun tertarik gitu. Makanya kalo Soobin bahas Luhan atau tanya apapun ke Sehun itu niatnya dia pengen ngajak Sehun bicara, udah itu aja.

Dan soal Nayeon dia sebenernya adik Luhan cuma beda 3 tahun tapi dia udah meninggal pas Luhan baru lulus SMA. Dan si Nayeon ini kepengen jadi dokter dan pas detik detik terakhir pas mau meninggal si Nayeon minta Luhan buat nerusin cita citanya, dan orang tua Luhan menyanggupi. Jadi sejak saat itu si Luhan dipaksa sama orang tuanya buat jadi dokter padahal cita cita Luhan pengen jadi artis.

Kayaknya di chap ini menjelaskan semuanya, gimana awal Sehun sama Luhan ketemu. Dan juga HAPPY TAO DAY, Mantan ultah..